Indonesia Statistics

Indonesia
27,549
Confirmed
Updated on 03/06/2020 1:22 pm
Indonesia
7,935
Recovered
Updated on 03/06/2020 1:22 pm
Indonesia
1,663
Deaths
Updated on 03/06/2020 1:22 pm

Indonesia Statistics

Indonesia
27,549
Confirmed
Updated on 03/06/2020 1:22 pm
Indonesia
7,935
Recovered
Updated on 03/06/2020 1:22 pm
Indonesia
1,663
Deaths
Updated on 03/06/2020 1:22 pm

Apakah Ad Hominem Bertentangan dengan Islam?

Tanggapan Dr. Zakir Naik Mengenai ISIS

Dalam sebuah sesi tanya-jawab ketika Dr. Zakir Naik berada di Tokyo, Jepang, ada sebuah pertanyaan menarik yang diajukan oleh seorang pemuda asal Jepang bernama...

Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan Cerdas Pemuda Ateis

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Zakir Naik? Ulama perbandingan agama asal India ini lagi-lagi memukau penonton dengan pengetahuannya yang luar biasa tentang ilmu sains....

Dr. Zakir Naik Jelaskan Mengapa Daging Babi Haram Pada Dokter Jepang

Seorang gadis asal Jepang bernama Mamoko Suzuki yang berprofesi sebagai dokter bertanya kepada Dr. Zakir Naik mengenai alasan dibalik pengharaman daging babi dan meminta...

Dr. Zakir Naik Mendapat 2 Pertanyaan dari Pria Mualaf

Seorang pria muallaf yang baru saja masuk Islam bertanya kepada Dr. Zakir Naik ketika beliau berceramah di Tokyo pada tanggal 7 Oktober 2015. Pria...

Apakah Kisah Isra’ Mi’raj Hanya Dongeng Belaka? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo pada bulan Oktober 2015, seorang wanita Jepang ateis bernama Yoko dengan berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu...

Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Kita hidup di masa ketika peradaban Islam sedang terpuruk. Harus kita akui, keterpurukan ini membuat banyak Muslim kehilangan orientasi. Mereka yang ‘kalah’ memandang ‘para pemenang’ dengan semacam ketakjuban. Saya memberi tanda kutip pada kata “kalah” dan frase “para pemenang” karena kalah dan menang memang kadang samar. Sebagai contoh, jika kita hidup di Eropa pada tahun 1942, mungkin kita akan menganggap Hitler sebagai pemenang. Tapi menang dan kalah toh dipergilirkan saja. Kita tidak semestinya menilai kemenangan dari materi belaka. Belanda pun pernah jadi ‘pemenang’ di negeri ini, setelah itu, kekuasaan dipergilirkan kembali. Mereka yang hidup di masa-masa penjajahan Belanda pun memiliki pandangan ambigu akibat keterpurukannya. Karena memandang Belanda sebagai ‘pemenang’, maka diam-diam mereka ingin menirunya. Apakah segala hal yang melekat pada kaum penjajah Belanda itu pantas ditiru? Ini kunci persoalannya.

Nah, meski negara ini sudah lama merdeka, namun jiwanya masih banyak yang terbelenggu. Dalam konteks peradaban Islam, dapat kita katakan bahwa umat Muslim di Indonesia masih banyak yang terjajah jiwanya. Oleh karena itu, mereka menganggap baik segala hal yang dibawa oleh ‘para pemenang’ di masa ini.

Nah, sekarang kita masuk pada bahasan ad hominem. Istilah ini singkatan dari “argumentum ad hominem”. Secara sederhana, ad hominem adalah argumen yang ditujukan kepada pribadi lawan debat, bukan isi argumennya. Bagi mereka yang belajar logika argumen ala Barat, ad hominem seolah menjadi hal yang tabu. Padahal, sesungguhnya ad hominemtidak selalu salah. Ia bisa digunakan untuk meruntuhkan otoritas. Barat pun mengakui hal ini. Misalnya, ada orang yang dimintakan fatwa agamanya. Padahal ia suka minum khamr. Fakta kebiasaannya minum khamr adalah argumen yang tepat untuk meruntuhkan otoritasnya dalam memberi fatwa.

Apakah menolak sepenuhnya ad hominemadalah ajaran Islam? Ini yang akan kita telusuri. Sebagian orang tidak menggunakan dalil ad hominem, tapi mengucapkan “undzur maa qaalaa wa laa tandzur man qaala.” Terjemahan bebasnya: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihatlah apa yang dikatakannya”. Konon, ini kata-kata ‘Ali r.a. Memang kata-kata ‘Ali r.a memiliki bobot. Akan tetapi, harus ditemukan pula konteksnya. Kata-kata ini bukan wahyu. Betapa pun kita mencintai ‘Ali r.a, tidak mungkin kata-kata beliau lebih ditinggikan daripada Al-Qur’an. Bahkan kita yakin ‘Ali r.a tidak mungkin memiliki maksud yang melangkahi Al-Qur’an.

Coba kita lihat Qs. Al-Hujuraat[49]:6. Bagaimana sikap Al-Qur’an? Ayat itu mengatakan, “…jika datang kepadamu ORANG-ORANG FASIQ dengan sebuah berita, maka periksalah dengan teliti…” Ayat ini tidak hanya menggarisbawahi tentang proses tabayyun, melainkan juga tentang identifikasi pembawa berita. Jika ada sebuah berita yang signifikan (yang digunakan adalah kata naba’), maka cek pembawa beritanya. Apakah pembawa beritanya itu orang fasiq? Jika ya, telitilah kebenarannya. Begitu urutan berpikirnya.

Jadi yang harus dicek pertama kali adalah signifikansi beritanya. Kalau cuma skor pertandingan sepakbola, terserahlah. Tapi kalau bicaranya soal Tuhan, Nabi, agama, tentu hal-hal tersebut kita kategorikan ‘sangat penting’. Nah, karena urusan Tuhan, Nabi, agama dan semacamnya itu penting, maka yang membicarakannya akan dinilai juga.

Apakah yang membicarakannya adalah orang-orang fasiq? Ini menjadi perhatian berikutnya. Ngomong-ngomong, fasiqitu apa sih? Secara bahasa, fasiqartinya “keluar”. Keluar dari perintah agama, kurang lebihnya. Dalam Qs. As-Sajdah [32]:18-20 kita melihat Al-Qur’an membedakan orang yang beriman dan yang fasiq. Bunyi ayatnya sebagai berikut:

“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (Qs. As-Sajdah [32]:18-20)

Dalam pengertian ini, yang dimaksud adalah kefasiqan yang besar, yaitu kekafiran. Kekafiran adalah lawan dari keberimanan. Dalam Qs. Al-Hujuraat [49]:7 berbunyi, “tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” Disini, Allah membedakan antara kekafiran, kefasiqan, dan, kedurhakaan. Menurut para ulama, kefasiqan di ayat ini adalah kefasiqan yang kecil, yaitu pelaku dosa besar. Dikenal juga kaidah di antara para ulama bahwa pelaku kefasiqan tidak diterima persaksiannya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa apa yang disebut sebagai ad hominem itu memang ada tempatnya dalam Islam. Jika seseorang dikenal sebagai orang fasiq, maka berita darinya harus diteliti. Akan tetapi, apakah prinsip ini bermaksud membuat kita repot dengan semua berita dari orang-orang fasiq yang harus diteliti? Jika ada seratus orang fasiq berbicara soal agama, apakah keseratus teori itu harus kita teliti lagi? Betapa sibuknya hidup kita jika semua kata-kata orang fasiq harus kita teliti kebenarannya! Di era informasi ini, kita merasakan betul fenomena ini. Begitu banyak orang, akun, dan situs yang membicarakan soal agama. Mana informasi yang benar? Apa SEMUANYA harus dibaca dan diteliti ulang? Benar, dalam urusan agama pun ada ikhtilaf-nya. Tapi apakah semua pendapat harus ditelusuri?

Jangankan sekarang, berabad-abad yang lampau pun masalah keshahihan berita ini sudah menjadi perhatian ulama. Dalam ilmu hadits ada prosedur jarh wa ta’dil. Ini adalah prosedur mengecek keburukan dan kebaikan periwayat hadits. Singkat cerita, kredibilitas seseorang menentukan apakah hadits yang diriwayatkannya dapat diterima atau tidak. Yang ‘fanatik’ pada prinsip ad hominem, mungkin akan menolak prosedur semacam ini.

Memang, dalam tradisi keilmuan di Barat, hal semacam ini tidak ada. Ini adalah ciri khas Islam. Hal ini juga menimbulkan keresahan bagi sebagian orang di Barat. Paul Johnson dalam buku “Intellectuals” mengkritik sebagian pemikir yang inkonsisten dengan kata-katanya. Jean-Jacques Rousseau, misalnya, adalah filsuf ternama yang banyak berbicara soal pendidikan anak. Apa dinyana, Rousseau ternyata pernah membuang anak-anaknya sendiri. Fakta ini membuat Rousseau dikritik banyak pihak.

Patutkah kita belajar mendidik anak dari orang yang membuang anak-anaknya sendiri? Oke, mungkin tidak semua yang ia katakan salah. Tapi perlukah kita membuang-buang waktu untuk melakukan pengecekan itu? Ataukah lebih praktis mengabaikan saja teori-teori dari pribadi yang rusak ini dan mencari ilmu dari orang-orang yang baik? Apakah orang-orang baik itu jumlahnya sangat sedikit sehingga kita harus belajar dari orang-orang yang bejat?

Terlebih lagi jika berbicara soal agama. Apa orang yang suka berkata-kata kotor perlu dijadikan referensi soal agama? Jika orang yang suka berkata-kata kotor itu mengatakan bahwa ia hafal kitab kuning, apakah kita mesti percaya? Ataukah kita harus menghabiskan waktu untuk mengecek setiap kata-katanya, memilah mana yang benar dan yang tidak?

Jelaslah bahwa tuntunan Islam sangat sempurna. Kita diajarkan untuk berpikir logis, rasional, dan juga praktis. Masih banyak orang-orang baik yang dapat dijadikan referensi soal agama. Masih banyak orang-orang shalih yang ucapannya tidak kontradiktif dengan perbuatannya. Mari menuntut ilmu dengan adab yang benar, salah satunya dengan mencari sumber ilmu yang benar. Jika mencari ilmu agama dari tempat yang salah, jangan heran jika semakin lama belajar malah semakin jauh dari agama.

Penolakan terhadap ad hominem banyak digunakan sebagai ‘senjata’ oleh mereka yang pribadinya bermasalah. Mereka tidak suka aibnya diungkap, dan karenanya, menganggap tabu ad hominem. Mereka silau dengan kemajuan Barat, dan meniru segalanya, termasuk kerusakan ilmunya. Mereka mengambil ilmu dari pribadi-pribadi yang tidak baik, maka ilmunya pun tidak membuahkan kebaikan. Semoga kita terhindar dari pemahaman yang menyesatkan. Aamiin…

Sumber: storify.com/malakmalakmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat

Serangan Massal Terhadap Kaum Murtad

Banyak macam sarana dan cara yang digunakan untuk melawan dan menghadapi kaum murtad. Kaum muslimin yang masih berpegang teguh pada Islam memiliki peranan besar...

Pasukan Usamah

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Rencana Pengiriman Misi Militer yang Dipimpin Oleh Usamah Negara Romawi adalah salah satu dari dua...

Artikel Terkait

Gaya Hidup Islami

Islam Sistem Hidup yang Universal Islam sebagai ad-diin adalah agama Universal dan komprehensif yang di anugerahkan Allah SWT kepada umat...

Penaklukan Irak

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Penaklukan Irak Tidak berselang lama setelah selesai perang terhadap orang-orang yang murtad dan...

Kehidupan Umar dan Masanya

Sesungguhnya pembicaraan tentang kehidupan Umar dan masanya lebih luas untuk dikaji dalam satu disertasi, terlebih dalam sub kajian dalam pasal pengantar seperti...