Indonesia Statistics

Indonesia
76,981
Confirmed
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
36,689
Recovered
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
3,656
Deaths
Updated on 14/07/2020 3:07 am

Indonesia Statistics

Indonesia
76,981
Confirmed
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
36,689
Recovered
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
3,656
Deaths
Updated on 14/07/2020 3:07 am

Apakah Agama Tuhan? (Bagian Pertama)

Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan Cerdas Pemuda Ateis

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Zakir Naik? Ulama perbandingan agama asal India ini lagi-lagi memukau penonton dengan pengetahuannya yang luar biasa tentang ilmu sains....

Kenapa Manusia Sering Ditimpa Masalah dalam Hidupnya? | Dr. Zakir Naik Menjawab

Seorang gadis ateis asal Jepang bertanya kepada Dr. Zakir tentang kenapa Tuhan memberikan kesulitan-kesulitan hidup kepada manusia di dunia ini? Lalu bagaimana pandangan seorang...

Apakah Kisah Isra’ Mi’raj Hanya Dongeng Belaka? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo pada bulan Oktober 2015, seorang wanita Jepang ateis bernama Yoko dengan berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu...

Apakah Al-Qur’an Melarang Penggunaan Senjata Nuklir? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada saat Dr. Zakir Naik berceramah di Jepang tanggal 8 November 2015 yang lalu, ada sebuah pertanyaan unik yang diajukan oleh seorang guru asal...

Kenapa Allah Tidak Membuat Semua Manusia Menjadi Muslim? Dr. Zakir Naik Menjawab

Melanjutkan pertanyaan Yoko kepada Dr. Zakir Naik yang telah ditulis pada artikel sebelumnya (baca: Apakah Perjalanan Isra' Mi'raj Adalah Kisah Bohong?), wanita Jepang ateis...

Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Ada hal menarik yang menjangkiti kalangan Islam liberal. Mereka suka dengan apapun yang ‘baru’. Apa pun yang terlihat baru, akan mereka anggap revolusioner. Padahal hanya TERLIHAT baru. Sesuatu yang terlihat baru bisa jadi sebenarnya sama sekali tidak baru, hanya saja kita belum pernah melihatnya. Orang memang akan mudah bingung jika tidak memahami persoalan secara konseptual.

@zuhairimisrawi: “Dulu saat kuliah di al-Azhar Kairo, seorang pastur bertanya kepada saya: apakah Tuhan beragama? Saya diam, sejak itu saya tercerahkan…”

Inilah contoh kasus kebingungan itu. Sebenarnya, ini sama sekali bukan hal baru. Entah sudah berapa kali saya mendengar retorika begini. Retorika ini membuat orang bingung semakin bingung. Mengapa harus beragama jika Tuhan saja tidak beragama? Ujung-ujungnya adalah pluralisme agama (mengatakan semua agama itu benar). “Kalau Tuhan tidak beragama, maka agama mana pun sama saja. Buat apa meyakini agama sendiri sebagai yangpaling benar? Toh, Tuhan pun tidak beragama!” Kurang lebihnya begitu. Ada juga yang bilang: “Saya menyembah Tuhan, bukan menyembah agama!” Ini konsep pluralismenya John Hick: “beralih dari ‘religion-centredness’ ke ‘God-centredness’!” Ini cuma sejengkal saja jaraknya dengan paham spiritualisme yang mengatakan: “spiritualism unites, religion divides (spiritualisme menyatukan, agama memecah-belah).”

Singkat cerita, pemikiran ini membawa orang dari keadaan KETIADAAN ‘IZZAH menuju KETIADAAN IMAN. Retorika-retorika semacam ini cukup berhasil dipropagandakan pada mereka yang tidak punya ‘izzah (kebanggaan) sebagai Muslim. Pada akhirnya, mereka tidak lagi beriman, atau keimanannya ambigu. Mengaku Muslim, tapi agama lain dibenarkan juga.

Pangkal persoalannya adalah minimnya pemahaman soal konsep agama itu sendiri. Kata “agama” memang bisa diartikan bermacam-macam, sebab bahasa Indonesia tidak punya ‘sistem akar kata’, berbeda dengan bahasa Arab, di mana setiap kata bisa ditelusuri maknanya dengan memahami akar katanya. Kita menggunakan kata diin dalam bahasa Arab yang bermakna “agama”. Prof. Naquib al-Attas menguraikan makna diin dalam banyak karyanya. Menurut beliau, ini penting sekali. Kata diin, jika dirunut akar katanya, memiliki makna seputar “hutang” dan “keberhutangan”. Singkat cerita, menurut al-Attas, perasaan berhutang itulah inti dari beragama. Orang yang sudah tidak merasa ‘berhutang’ lagi kepada Allah niscaya tidak bisa dipaksa untuk menjalankan ajaran agama. Pada hakikatnya, semua yang kita miliki adalah milik Allah. Semuanya akan kembali kepada Allah. Dengan demikian, apapun yang kita miliki adalah ‘hutang’ kepada Allah. Tentu saja, hutang kepada Allah tidak bisa kita lunasi, sebab semuanya milik Allah! Jika kita beramal shalih, maka segala yang kita gunakan untuk beramal shalih itu pun adalah milik Allah. Jika kita berbuat baik dan bersyukur, Allah malah akan menambah rahmat-Nya, maka ‘hutang’ kita bertambah lagi. Dari sinilah kita memahami interaksi cinta, takut, dan harap antara manusia dengan Allah s.w.t.

Dari uraian singkat di atas, tentu kita akan terheran-heran dengan orang yang bertanya: “Allah itu agamanya apa?” Allah berhutang kepada siapa? Jika pertanyaan ini dijawab, mudah saja melihat kontradiksi dari retorika di atas. Karena Allah tidak berhutang pada siapa pun, maka tentu tidak ada yang pernah mengatakan ‘Allah beragama.’ Ibadah adalah hal penting yang diajarkan oleh agama. Apakah Allah beribadah? Tentu tidak! Kalaupun ada istilah “Agama Allah” (misalnya dalam frase ‘membela Agama Allah’), maknanya tidak sama. Kenapa tidak sama? Ya, karena Allah tidak sama dengan manusia, atau dengan apa pun. Dalilnya sudah dihafal semua anak SD: “wa lam yakun lahuu kufuwan ahad!” Kalau dikatakan “membela agama Allah”, artinya membela agama yang diridhai Allah.

Mengapa ada orang kuliah jauh-jauh ke Universitas Al-Azhar, Kairo, tapi tidak paham masalah semudah ini? Wallaahu a’lam. Menurut saya, ini semua cuma masalah rendahnya harga diri, lemahnya kebanggaan sebagai Muslim. Kalau harga diri sudah rendah, apa pun yang dibawa orang akan dianggap hebat, dan ditiru mentah-mentah.

@zuhairimisrawi: “Tontonlah film PK, disitu dijelaskan bahwa Tuhan tidak beragama dan tidak pula bermazhab!

Bahkan dalam hal ini, mengambil konsep agama dari sebuah film. Bukalah mata, luaskan wawasan. Jangan pelihara perasaan rendah diri, karena kita adalah khalifah Allah di muka bumi. Tentu kita punya kelemahan, tapi kita pun punya kemampuan untuk belajar. Pada akhirnya kita akan bertanggung jawab kepada Allah. Semoga Allah s.w.t melindungi kita semua dari kejahilan yang menghinakan, aamiin…

Sumber: https://storify.com/malakmalakmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Jihad Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk Membungkam Gerakan Kemurtadan

Definisi Murtad Secara Terminologi dan Beberapa Ayat yang Melarang dan Memperingatkan Terhadap Perbuatan Murtad Pengertian murtad secara terminologi

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat

Pasukan Usamah

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Rencana Pengiriman Misi Militer yang Dipimpin Oleh Usamah Negara Romawi adalah salah satu dari dua...

Artikel Terkait

Rezeki

Kewajiban Mencari Harta Halal Setiap orang tentu ingin kehidupan di dunia berjalan normal. Setidaknya ia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya...

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...