close
Bab Keikhlasan dan Menghadirkan Niat dalam Segala Amal Perbuatan dan Ucapan serta Berbagai Keadaan yang Jelas dan yang Samar

Bab Keikhlasan dan Menghadirkan Niat dalam Segala Amal Perbuatan dan Ucapan serta Berbagai Keadaan yang Jelas dan yang Samar

16/01/2018117Views
Penjelasan: Menjadi suatu kepastian untuk menyertakan niat dalam semua amal ibadah dan niat itu ada tiga macam:
  1. Niat ibadah
  2. Niat karena Allah
  3. Niat karena dia mengikuti perintah Allah

Ini merupakan niat yang paling sempurna dalam seluruh ibadah.

Allah swt berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah [98]: 5)

Allah swt berfirman pula:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. al-Hajj [22]: 37)

Allah swt berfirman pula:

“Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui’.” (QS. ali Imran [3]: 29)

1/1. Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib al-Quraisy al-‘Adawi ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Semua amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang itu tergantung pada apa yang telah dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu pun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang akan diperolehnya atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya pun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu’.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari: 1 dan Muslim: 1908).

Diriwayatkan oleh dua orang imam ahli hadist, yaitu Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi rahimahullah. Hadist tersebut tercantum dalam kedua kitab shahih milik keduanya yang merupakan kitab hadist paling shahih yang pernah ditulis.
Penjelasan: Harus diketahui bahwa semua kemaksiatan yang ada selain kafir tidak keluar dari iman. Selain itu, hijrah itu ada beberapa macam: hijrah tempat, hijrah amal, dan hijrah ‘amil (pelaku).

2/2. Ummul mukminin, Ummu ‘Abdullah, ‘Aisyah ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang (menghancurkan) Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang lalu mereka semuanya dibenamkan (ke dalam perut bumi) dari orang pertama sampai terakhir’.” Aisyah berkata, “Saya pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang ka’bah)?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka itu akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka’.” (Muttafaq ‘alaih. HR. al-Bukhari: 2118 dan Muslim: 8/2884. Dan lafalnya menurut al-Bukhari)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat pelajaran, bahwa barangsiapa yang ikut serta bersama orang batil, pembangkang, dan penentang maka dia digolongkan bersama mereka dalam hal hukuman (sanksi). Apakah dia orang yang shaleh atau jahat, hukuman itu berlaku secara umum dan tidak meninggalkan seseorang pun. Kemudian pada hari kiamat mereka dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing. Allah swt berfirman:

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaanNya.” (QS. al-Anfal [8]: 25)

3/3. ‘Aisyah ra berkata, Nabi saw bersabda, “Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah), tetapi yang ada jihad dan niat. Maka dari itu, apabila engkau semua diminta untuk keluar (oleh imam untuk berjihad), maka keluarlah (berangkatlah).” (Muttafaq ‘alaih. HR. al-Bukhari: 3900 dan Muslim: 1864)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa Mekkah tidak akan kembali menjadi negeri kafir. Bahkan, akan tetap menjadi negeri Islam sampai hari kiamat tiba, atau sampai Allah berkehendak.

4/4. Abu Abdillah Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiyallahu anhu berkata, “Kami bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam suatu peperangan (perang Tabuk) kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa lelaki yang engkau semua tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyebrangi suatu lembah, melainkan mereka itu akan ada bersama kalian. Mereka itu terhalang oleh sakit’.” Dalam suatu riwayat dijelaskan, “Melainkan mereka (yang terhalang sakit) akan ikut serta bersama kalian dalam (mencari) pahala.” (HR. Muslim: 1911)

Sedangkan dalam riwayat al-Bukhari, Anas radhiyallahu anhu berkata, “Kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ada beberapa kaum yang kita tinggalkan di Madinah. Tidaklah kita menempuh suatu lereng ataupun lembah, melainkan mereka itu bersama dengan kita, (namun) mereka itu terhalang oleh uzur (sakit)’.” (HR. al-Bukhari: 2839)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat isyarat bahwa orang yang keluar di jalan Allah dalam rangka untuk bertempur dan jihad, maka baginya pahala selama perjalanannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan lereng ataupun lembah, dan tidak pula menyebrangi suatu lembah tidak pula bukit, melainkan mereka itu akan ada bersama kalian.”

5/5. Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Akhnas (ia, ayahnya, dan kakeknya termasuk dalam golongan shahabat). Ia berkata, “Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar untuk ia sedekahkan. Dinar-dinar itu ia letakkan di sisi seseorang di dalam masjid. Kemudian aku datang dan mengambilnya, lantas memberikan kepadanya (ayahku). Maka (ayahku) berkata, ‘Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki (untuk sedekah itu).’

Maka hal tersebut pun aku adukan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau pun bersabda, ‘ Bagimu apa yang telah engkau niatkan wahai Yazid, sedangkan bagimu apa yang telah engkau ambil, wahai Ma’an’.” (HR. al-Bukhari: 1422)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat beberapa faedah, yaitu bolehnya bagi seorang ayah bersedekah pada anaknya, begitupun sebaliknya. Dan boleh juga bagi seorang ayah memberikan zakat pada anaknya dengan syarat bahwa itu tidak mnejadikannya terbebas dari kewajiban atasnya.

6/6. Abu Ishaq Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay al-Qurasyi az-Zuhri radhiyallahu anhu (ia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga) berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjengukku ketika haji Wada’, karena sakit keras. Aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana engkau lihat, sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan dua pertiga dari harta itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’ Saya bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau separuhnya?’ Beliau menjawab, ‘Tidak’. Saya bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau sepertiganya?’ Beliau menjawab, ‘Sepertiga itu banyak (cukup besar). Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Allah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa uang dimakan oleh istrimu.’
Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku akan segera berpisah dengan kawan-kawanku?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya kamu belum akan berpisah. Kamu masih akan menambah amal yang kamu niatkan untuk mencari ridha Allah, sehingga akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu, sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu. Ya Allah, mudah-mudahan shahabat-shahabatku dapat melanjutkan hijrah mereka dan janganlah engkau mengembalikan mereka ke tempat mereka semula. Namun, yang kasihan (merugi) adalah Sa’ad bin Khaulah.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menyayangkan ia meninggal di Makkah.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari: 1295 dan Muslim: 1628).

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat dalil bahwa apabila mayit meninggalkan harta untuk diwariskan, maka sungguh itu menjadi kebaikan baginya. Maka setiap orang harus menghadirkan niat karena mendekatkan diri kepada Allah dalam semua harta yang ia infakkan agar menjadi pahala baginya.

7/7. Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian, tidak pula kepada bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim: 2564).

Penjelasan: Sudah semestinya bagi setiap insan agar senantiasa mengobati hatinya untuk menyucikan hatinya karena Allah, sehingga setiap amalnya ikhlas karena Allah dan RasulNya. Sebab, Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan tubuh, tetapi Dia melihat pada hati.

8/8. Abu Musa ‘Abdullah bin Qais al-Asy’ari radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya perihal seseorang yang berperang dengan tujuan menunjukkan keberanian, ada lagi yang berperang dengan tujuan kesukuan, ada pula yang berperang dengan tujuan riya’. Dari semua itu manakah yang termasuk berperang di jalan Allah? Beliau pun menjawab, ‘Siapa saja yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah’.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari: 123 dan Muslim: 1904)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa setiap niat itu tidak memiliki batas, tetapi itulah barometer yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai barometer yang adil dan sempurna, yaitu, “Siapa saja yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah.”

9/9. Abu Bakrah Nufa’i bin Harits Ats-Tsaqafi radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila ada dua orang Islam yang bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada dalam neraka.” Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka, lantas bagaiman gerangan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari: 31 dan Muslim: 14/2888)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa semua amal itu tergantung dari niatnya, dan bahwa seorang muslim ketika ia berniat untuk membunuh sahabatnya, maka seolah-olah ia telah melakukan hal tersebut. Hadist ini juga sebagai dalil bahwa membunuh itu termasuk dosa besar dan sebagai salah satu penyebab masuk neraka dan kita memohon perlindungan kepada Allah.

10/10. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Shalat seseorang dengan berjamaah, lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, selisih dua puluh sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama menunggu dilaksanakannya. Para malaikan mendoakan, ‘Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya,’ (hal itu) selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadast.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari: 647 dan Muslim: 749. Dan lafal hadist ini menurut Muslim)

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam “Yanhazuhu,” artinya adalah mengeluarkannya dan menggerakkannya.

Penjelasan: Apabila seorang muslim keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat, maka sesungguhnya Allah menjadikan baginya dalam keadaan shalat selama dia berada di masjid. Selain itu para malaikat juga mendoakannya dan memohon ampunan baginya, selama ia tidak berhadast.

11/11. Dari Abil Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya yang Mahasuci dan Mahatinggi, “Sesungguhnya Allah telah mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian Allah menjelaskan hal tersebut. Oleh karena itu, barangsiapa yang bermaksud melaksanakan kebaikan lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi mencatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia bermaksud melakukannya lalu mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, dan dilipatgandakannya lagi.
Adapun jika ia bermaksud melakukan keburukan, lalu tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Sedangkan apabila ia bermaksud melakukan keburukan kemudian mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” (Mutafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari: 6491 dan Muslim: 131)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa gambaran niat itu ada dalam setiap amal, dan niat yang baik itu mengantarkannya pada kebaikan.

12/12. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin al-Khaththab berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu yang melakukan perjalanan, sehingga mereka terpaksa bermalam di sebuah gua. Kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung dan menutup mulut gua itu. Mereka pun berkata bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian semua dari batu besar ini melainkan jika kalian semua berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amalan shaleh kalian.

Maka seorang dari mereka pun berkata, ‘Ya Allah, saya mempunyai dua orang tua sudah lanjut usia dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga maupun budakku. Suatu hari, saya terlambat pulang karena mencari kayu lalu saya memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Namun, saya mendapati keduanya sudah tidur. Meskipun demikian, saya tidak memberikan susu itu kepada keluarga atau budakku sebelum keduanya minum. Aku tetap menunggunya (keduanya bangun)-sementara wadahnya (tempat susu) masih berada di tanganku-Dan saya tetap menunggunya hingga terbit fajar sementara putri saya yang masih kecil menangis minta susu sambil memegangi kakiku. Ketika keduanya bangun, kuberikan susu itu untuk diminum. Ya Allah, jika perbuatan itu saya lakukan karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Kemudian bergeserlah sedikit batu itu, tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu.

Orang kedua pun berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Saya sangat mencintainya sebagaimana seorang lelaki mencintai seorang perempuan. Saya selalu berhasrat terhadap dirinya (melakukan zina), tetapi ia selalu menolaknya. Beberapa tahun kemudian, ia tertimpa kesulitan (paceklik). Ia pun datang untuk meminta bantuanku, dan saya berikan kepadanya seratus dua puluh dinar dengan syarat menyerahkan dirinya kapan saja saya menginginkan.’ Pada riwayat yang lain, ‘Ketika saya berada di antara kedua kakinya, ia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah. Janganlah kamu melepas cincin ini (menyobek selaput daraku) melainkan dengan haknya. Maka saya pun berpaling darinya, padahal dia orang yang sangat saya cintai, dan saya juga telah merelakan emas yang kuberikan kepadanya. Ya Allah, jika perbuatan itu saya lakukan hanya mengharap ridhaMu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Kemudian bergeserlah batu itu, tetapi mereka masih belum bisa keluar dari gua itu.

Orang yang ketiga pun berkata, ‘Ya Allah, saya mempekerjakan beberapa karyawan dan digaji dengan sempurna, kecuali ada seorang yang meninggalkan saya dan belum mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa tahun, dia datang dan berkata, ‘Wahai hamba Allah, berikanlah gajiku.’ Saya berkata, ‘Semua yang kamu lihat baik unta, sapi, kambing, maupun budak yang menggembalakannya, semua adalah gajimu.’ Ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan aku.’ Saya menjawab, ‘Saya tidak mempermainkanmu.’ Kemudian dia mengambil semua itu dan tidak meninggalkannya sedikit pun. Ya Allah, jika perbuatan itu saya lakukan karena mengharapkan ridhaMu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Kemudian bergeserlah batu itu dan mereka pun bisa keluar dari dalam gua.” (Mutafaqun ‘alaihi. HR. al-Bukhari: 2272 dan Muslim: 100/2743)

Penjelasan: Hadist ini mengandung beberapa faedah, di antaranya keutamaan berbuat baik kepada kedua orang tua dan itu termasuk dalam kategori amalan shaleh yang Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap cobaan, dan keutamaan menjaga kesucian diri dari perbuatan zina walaupun ia mampu untuk melaksanakannya, keutamaan amanah, memperbaiki amalan untuk orang lain, dan bahwa ikhlas itu merupakan sebab dimudahkannya seseorang dalam menghadapi berbagai cobaan.

Bagaimana Cara Agar Hati Kita Terhubung dengan Allah?

Bab Taubat

Leave a Response