close

Bab Taubat

16/01/2018124Views
Penjelasan: Allah menjelaskan dalam kitab-Nya yang agung bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suka bersuci. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, setiap kali mereka berbuat kesalahan, mereka langsung bertaubat kepada Allah.
Para Ulama berkata, “Taubat itu hukumnya wajib dari segala macam dosa. Jika kemaksiatan itu terjadi antara seorang hamba dan Allah, yakni tidak ada kaitannya dengan hak manusia yang lain, maka untuk taubat itu ada tiga macam syarat, yaitu:
  • Pertama: hendaklah meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan
  • Kedua: menyesal atas apa yang telah dilakukan
  • Ketiga: berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selamanya.

Jika salah satu dari tiga syarat tersebut itu ada yang hilang, maka tidak sah taubatnya.

Apabila kemaksiatan itu ada hubungannya dengan sesama manusia, maka syarat-syaratnya itu ada empat macam, yaitu tiga syarat yang telah disebutkan di atas dan keempatnya ialah supaya melepaskan tanggungan itu dari hak kawannya. Oleh karena itu, jika tanggungan itu berupa harta atau yang semisalnya, maka kembalikanlah kepadanya. Jika berupa dakwaan zina atau yang semisal dengan itu, maka hendaklah mencabut dakwaan tadi dari orang yang didakwanya atau meminta maaf padanya. Dan jika merupakan ghibah, maka hendaklah meminta penghalalan yakni penerimaan maaf darinya. Ia juga diwajibkan untuk bertaubat dari segala dosa. Adapun bila orang yang bersangkutan itu bertaubat dari sebagian dosanya, maka taubatnya itu pun tetap sah dari dosa yang dimaksudkan itu. Namun, dosa-dosa yang lainnya masih tetap ada dan tersisa (yang belum bertaubat darinya).

Demikianlah pendapat para ulama.

Sudah sangat jelas dalil-dalil yang tercantum dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta ijmak seluruh umat perihal wajibnya mengerjakan taubat.

Allah berfirman:

“…Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)

Allah berfirman:
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya…” (QS. Hud [11]: 3)

Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya)…” (QS. At-Tahrim [66]: 8)

1/13. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar (memohon pengampunan) kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali’.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 6307)

2/14. Al-Agharr bin Yasar al-Muzanni radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mohonkanlah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim: 42/2702)

Penjelasan: Dua hadist di atas (13 dan 14) merupakan bukti bahwa Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wasallam orang yang paling giat beribadah kepada Allah. Dan sesungguhnya beliau adalah seorang guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, baik itu dengan lisan maupun dengan perbuatannya. Beliau senantiasa memohon ampun kepada Allah dan memerintahkan umatnya agar senantiasa beristighfar (memohon ampun), sehingga beliau menjadi figur yang sangat layak untuk diteladani.

3/15. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari radhiyallahu anhu (pelayan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Al-Bukhari: 6309 dan Muslim: 8,7/2747)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya (untanya) dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya padahal di atas hewan itu ada perbekalannya. Sehingga, ia pun mnejadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan hati yang telah putus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraanya itu tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.”

Penjelasan: Hadist ini merupakan dalil atas kegembiraan Allah ‘Azza wa Jalla atas taubat dari hamba-Nya, apabila ia bertaubat kepada-Nya. Hadist ini pula menganjurkan agar bertaubat karena sesungguhnya Allah sangat mencintainya dan itu merupakan kemaslahatan bagi hamba-Nya. Selain itu, bahwa seorang insan apabila melakukan kesalahan dalam ucapan walaupun itu berupa kekufuran karena kesalahan lisannya, maka itu tidak menjadi dosa baginya.

4/16. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim: 31/5759)

5/17. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim: 43/2703)

6/18. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya (sekarat).” (HR. At-Tirmidzi: 3537 dan Ahmad: 132/2. At-Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadist hasan. Sanadnya shahih)

Penjelasan: Faedah hadist di atas (16-17-18) bahwa sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sekalipun terlambat. Akan tetapi, menyegerakan taubat adalah wajib, karena seseorang tidak ada yang tahu datangnya kematian secara tiba-tiba, kemudian ia mati sebelum melakukan taubat. Dan apabila matahari terbit dari barat maka berakhirlah penerimaan taubat.

7/19. Zir bin Hubaisy berkata, “Saya mendatangi Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu anhu. Saya bertanya tentang mengusap dua sepatu khuf. Shafwan berkata, ‘Apakah yang menyebabkan engkau datang, wahai Zir?’ Saya menjawab, ‘Untuk mencari ilmu.’ Ia berkata lagi, ‘Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu, karena ridha dengan apa yang dicarinya.’ Maka saya berkata, ‘Sebenarnya sudah terlintas di hatiku untuk mengusap di atas dua sepatu khuf itu sehabis buang air besar atau kecil, sementara engkau termasuk salah seorang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka dari itu, saya datang untuk menanyakannya kepadamu. Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengannya?’ Shafwan menjawab, ‘Ya, pernah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami jika kami berpergian (sedang dalam perjalanan), supaya kami tidak melepaskan khuf kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami terkena janabah. Namun, kalau hanya karena buang air besar atau kecil atau karena sehabis tidur (boleh tidak dilepas).’

Saya berkata lagi, ‘Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah hawa nafsu (cinta)?’ Dia menjawab, ‘Ya pernah. Pada suatu ketika, kami bersama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan. Di kala kami berada di sisi beliau, tiba-tiba ada seorang Arab badui (pegunungan) memanggil beliau dengan suara yang sangat keras sekali. Ia berkata, ‘Hai Muhammad.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawabnya dengan suara yang sama kerasnya, ‘Mari ke mari.’

Saya pun berkata pada Arab badui tersebut, ‘Celaka engkau ini, perlahankanlah suaramu, sebab engkau ini benar-benar berada di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam sedangkan aku dilarang dari hal ini.’ Namun, Arab badui itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memperlahankan suaraku.’ Kemudian ia berkata kepada beliau, ‘Ada orang mencintai sesuatu golongan, tetapi ia tidak dapat bertemu (menyamai) mereka.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam pun menjawab, ‘Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.’ Tidak henti-hentinya beliau memberitahukan apa saja kepada kami, sehingga akhirnya menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu yang perjalanan luasnya jika ditempuh seseorang dengan berkendara, memakan waktu empat puluh atau tujuh puluh tahun perjalanan.”

Sufyan, salah seorang perawi hadist ini mengatakan, “Dari arah Syam, pintu itu dijadikan oleh Allah sejak hari Dia menciptakan seluruh langit dan bumi, akan senantiasa terbuka untuk taubat, tidak pernah ditutup sampai matahari terbit dari sana.” (HR. At-Tirmidzi: 3535 dan lainnya. At-Tirmidzi mengatakan, hadist ini hasan shahih)

8/20. Dari Abu Sa’id bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelummu telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertaubat? Pendeta itu menjawab, ‘Tidak bisa.’ Kemudian ia bunuh pendeta itu, maka dengan demikian genaplah menjadi seratus. Lalu ia bertanya lagi tentang orang paling alim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima taubatnya? Orang alim itu menjawab, ‘Ya, masih bisa. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu? Pergilah engkau ke tanah ini (satu wilayah), sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang menyembah Allah. Menyembahlah engkau kepada Allah bersama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu (tempat asalmu), sebab tanahmu adalah negeri yang buruk.’

Maka ia pun bergegas pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh dari perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian. Kemudian terjadilah perselisihana tentang orang tersebut anatara malaikat rahmat dan malaikat siksa. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini telah datang bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah.’ Malaikat siksa berkata, ‘Orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.’ Selanjutnya ada satu malaikat yang mendatangi mereka dalam wujud seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi-sebagai hakim-. Ia berkata, ‘Ukurlah antara dua tempat itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka ia adalah untuknya. Lalu para malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahwa orang tersebut lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki (yang dituju untuk taubat) sehingga ia dibawa oleh malaikat rahmat.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 3470 dan Muslim: 46/2766)

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan, “Orang tersebut lebih dekat sejengkal saja ke perkampungan yang baik itu (yang hendak didatangi), maka dijadikanlah ia termasuk golongan penduduknya.”

Dalam riwayat lain yang shahih pula disebutkan, “Allah Ta’ala lalu mewahyukan kepada tanah yang ini (tempat asalnya) supaya engkau menjauh dan kepada tanah yang ini (tempat yang hendak dituju) supaya engkau mendekat. Kemudian berfirman, ‘Ukurlah antara keduanya.’ Maka mereka (para malaikat) mendapati bahwa kepada yang dituju lebih dekat sejauh sejengkal jaraknya. Maka orang itu pun diampuni dosa-dosanya.”

Dalam riwayat lain lagi disebutkan, “Orang tersebut bergerak dengan membusungkan dadanya ke arah tempat yang dituju.”

Penjelasan: Hadist ini mengandung beberapa faedah, di antaranya bahwa seorang pembunuh itu memiliki kesempatan untuk bertaubat. Dalilnya ada dalam Kitabullah:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS. An-Nisa’ [4]: 116)

Selama itu bukan dosa syirik, Allah akan mengampuninya jika Dia berkehendak.

9/21. Dari ‘Abdullah bin Ka’ab bin Malik, ia yang sering menuntun ayahnya (Ka’ab) ketika telah buta. ‘Abdullah berkata, “Saya mendengar Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu bercerita tentang tertinggalnya (tidak bersama) dia bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Ka’ab bin Malik berkata, ‘Saya selalu bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar, tapi tak seorang pun dicela karena tidak ikut dalam perang tersebut. Sebab, waktu itu beliau bersama kaum muslimin keluar bertujuan untuk menghadang rombongan Quraisy lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh. Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam ‘Aqabah, ketika kami berjanji setia terhadap Islam. Saya tidak merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang Badar, tetapi tidak mengikuti malam ‘Aqabah, meskipun perang Badar lebih banyak (lebih masyhur) disebut-sebut di kalangan manusia daripada malam ‘Aqabah.

Adapun ceritaku tentang ketika tidak ikut perang Tabuk, waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat atau lebih mudah (mencari perlengkapan perang), ketika kau tertinggal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Demi Allah, saya belum pernah mengumpulkan dua buah kendaraan sebelum adanya peperangan Tabuk itu, sedangkan untuk persiapan peperangan ini sebenarnya saya dapat mengumpulkan keduanya. Belum pernah Rasulullah mengharapkan suatu peperangan, melainkan beliau berniat pula dengan peperangan yang berikutnya hingga sampai terjadinya perang Tabuk.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berangkat dalam peperangan Tabuk itu dalam cuaca yang sangat panas dan menghadapi suatu perjalanan yang jauh dan sulit. Selain itu juga menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka beliau merasa perlu memberitahukan kaum muslimin akan kesulita-kesulitan yang mungkin dihadapi, agar kaum muslimin melakukan persiapan yang cukup. Rasulullah juga menjelaskan tentang tujuan mereka. Waktu itu, kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama beliau cukup banyak, tetapi nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku-yang dimaksud Ka’ab adanya buku catatan, daftar mereka.’

Ka’ab berkata, ‘Sedikit sekali di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah tidak turun (mengabarkan). Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan sedang dalam masa panen dan kenyamanan berada di bawah naungannya. Karena itu, hatiku lebih condong kepadanya. Tatkala Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkat mempersiapkan segala sesuatunya, aku pun bergegas keluar guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, aku kembali tanpa menghasilkan apa-apa dan di dalam hati saya berkata, saya mampu mempersiapkannya jika saya menginginkanya.

Hal yang demikian itu berlangsung terus dan saya selalu menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang, sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya, di pagi hari Rasulullah beserta kaum muslimin berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan. Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian saya putuskan untuk berangkat dan menyusul mereka. Malangnya yang telah saya lakukan, ternyata itu belum ditakdirkan untukku. Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat sesudah berangkatnya Rasulullah, saya dihadapkan dengan keadaan bahwa saya dianggap sebagai orang munafik atau termasuk di antara orang-orang lemah yang mendapatkan uzur dari Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mencari saya, hingga sampai di Tabuk. Sesampainya di Tabuk, barulah beliau bertanya, ‘Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka’ab bin Malik?’ Salah seorang dari Bani Salimah menjawab, ‘Wahai Rasulullah, ia ditahan oleh pakaian dan selendangnya.’ Maka Mu’adz bin Jabal berkata, ‘Alangkah jeleknya apa yang engkau katakan itu. Demi Allah, Wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali kebaikan.’

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun diam. Pada saat itulah beliau melihat seorang lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan. Rasulullah bersabda, ‘Mudah-mudahan itu adalah Abu Khaitsamah.’ Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari. Dialah orang yang bersedekah segantang kurma, ketika diolok-olok oleh orang munafiq.’

Ka’ab meneruskan ceritanya, ‘Tatkala saya mendengar bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai mereka-reka alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari beliau. Saya juga meminta bantuan keluargaku untuk mencari alasan dan jalan keluar yang sangat baik. Namun, ketika mendengar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah dekat, hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan, hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat menyelamatkan dari beliau selamanya. Karena itu, saya mengatakan yang sebenarnya.

Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat lalu duduk bersama orang-orang. Maka ketika beliau demikian itu, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang (Tabuk) menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan kepada beliau disertai dengan sumpah. Mereka yang tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih. Rasulullah menerima alasan mereka, menerima bai’at merka, dan memohonkan ampunan bagi mereka. Sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada Allah Ta’ala.

Kemudian aku pun menghadap beliau. Ketika saya mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum sinis kemudian bersabda, ‘Kemarilah.’ Ka’ab berjalan mendekat dan duduk di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya, ‘Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, Demi Allah andaikan saya duduk di hadapan orang selain engkau dari penduduk dunia, saya yakin dapat bebas dari kemarahanmu dengan menggunakan berbagai alasan yang bisa diterima. Sungguh, saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan membuatmu ridha kepada saya, pasti Allah akan membuatmu murka kepada saya. Sebaliknya,  jika saya berkata benar yang membuatmu marah, maka saya sangat mengharapkan ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Demi Allah, aku tidak mempunyai uzur. Demi Allah, diriku benar-benar dalam kondisi kuat dan lebih mudah ketika aku tidak mengikutimu (ke perang Tabuk).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, ‘Adapun orang ini (Ka’ab bin Malik) telah berkata jujur. Berdirilah! Tunggulah keputusan Allah terhadap dirimu.’ Saya pun berdiri. Beberapa orang dari Bani Salimah berjalan menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya, ‘Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memintakan ampun untukmu.’

Ka’ab berkata, ‘Demi Allah, orang-orang Bani Salimah itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya saya kembali kepada beliau untuk meralat perkataanku. Tetapi, kemudian aku bertanya kepada orang-orang Bani Salimah itu, ‘Adakah orang lain yang mengalami seperti yang saya alami?’ Mereka menjawab, ‘Ya, memang ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti jawaban yang engkau terima.’ Saya bertanya, ‘Siapa mereka berdua?’ Mereka menjawab, ‘Murarah bin Rabi’ah Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.’ Mereka menyebutkan dua orang lelaki shaleh yang keduanya mengikuti perang Badar dan keduanya dapat dijadikan teladan. Maka saya terus berlalu ketika mereka menyebutkan nama keduanya kepadaku.’

Sejak saat itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula orang-orang menjauhi kami- atau ia berkata, ‘Mereka telah mengubah sikap kepada kami-, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah saya kenal. Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari. Dua orang temanku (Murarah dan Hilal) lebih memilih untuk menyembunyikan diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada henti-hentinya menangis.

Sedangkan saya adalah orang yang paling muda dan paling kuat dari mereka. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti shalat jamaah bersama kaum muslimin dan pergi ke pasar. Namun, tak seorang pun mau diajak bicara. Saya pergi menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk sekadar mengucapkan salam kepada beliau sesudah shalat. Akan tetapi, hati ini berkata, ‘Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan menggerakkan bibir beliau untuk menajwab salamku, atau tidak?’ Kemudian aku mengerjakan shalat berdekatan dengan beliau, sesekali aku melirik beliau. Apabila menghadap shalat, beliau memandangku, kalau aku menengok ke arah beliau, beliau berpaling dariku.

Hal ini terus terjadi sampai suatu hari aku berjalan-jalan, lalu memanjat dinding pekarangan abu Qatadah, Dia adalah saudara sepupu dan orang yang paling kusayangi. Kuucapkan salam kepadanya, maka demi Allah ia tidak menjawab salamku. Maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Qatadah, dengan nama Allah aku meminta kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?’ Abu Qatadah diam tak bergeming sehingga kuulangi pertanyaanku, tapi dia tetap diam. Sesudah aku ulangi pertanyaanku sekali lagi, barulah dia menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Seketika itu mengalirlah air mataku dan aku pun pulang.

Pada suatu hari, ketika aku sedang berjalan-jalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang petani asing dari negeri Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya, ‘Siapakah yang dapat menunjukkanku kepada Ka’ab bin Malik?’ Orang-orang pun memberikan isyarat ke arahku. Petani tadi mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku, dari Raja Ghassan. Setelah kubaca ternyata isinya sebagai berikut, ‘Amma ba’du. Sungguh kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam) mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Karena itu, datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.’

Aku pun berkata pada saat membacanya, ‘Ini juga merupakan cobaan.’ Kemudian aku menuju tungku lalu membakarnya. Selang empat puluh malam, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang kepadaku dan berkata, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.’ Ka’ab bertanya, ‘Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?’ Utusan itu menjawab, ‘Tidak, hindarilah dia, jangan dekat-dekat padanya.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengirimkan utusan kepada kedua orang temanku (Murarah dan Hilal), yang maksudnya sama dengan yang kuterima. Aku pun berkata kepada istriku, ‘Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah engkau di sana, sampai keputusan Allah datang.’

Suatu saat istri Hilal bin Umayyah menghadap kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memohon kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang sebatang kara dan tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, jangan sampai dia dekat-dekat padamu.’ Istri Hilal pun berkata, ‘Demi Allah, ia tidak bergerak sedikit pun. Demi Allah, ia masih terus menangis sejak perkara itu terjadi sampai sekarang.’
Sebagian keluarga berkata kepadaku, ‘Hai Ka’ab, kalau saja engkau meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk istrimu tentu itu lebih baik, sebagaimana istri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan beliau apabila aku meminta izin beliau, sedangkan aku seorang yang masih muda.’ Maka setelah itu saya tinggal selama sepuluh malam sampai genap lima puluh malam, dari sejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang (kaum muslimin) berbicara kepada kami.

Maka pada saat aku melaksanakan shalat Shubuh pada pagi selepas malam kelima puluh, ketika aku sedang berada di salah satu rumah kami, ketika aku sedang duduk dalam keadaan yang Allah sebutkan, ketika diriku merasa sempit dan bumi ini pun terasa sempit bagiku, aku mendengar suara yang berteriak di atas gunung Sala’ dengan suara yang paling tinggi, ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’ Maka aku tertunduk sujud dan aku tahu bahwa kelapangan telah datang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan penerimaan Allah terhadap taubat kami, ketika beliau melakukan shalat Shubuh.

Orang-orang pun pergi membiarkan kabar gembira kepada kami, dan ada juga yang pergi kepada dua orang sahabatku memberi kabar gembira kepada mereka. Seorang lelaki berkuda berlari menujuku, dan seseorang dari Aslam berlari kepadaku, lalu berdiri di atas gunung, dan suaranya itu datang kepadaku untuk memberiku kabar gembira, aku lekas melepaskan kedua pakaianku dan aku berikan kepadanya karena kabar gembira yang telah dibawanya. Demi Allah, aku tidak memiliki apa-apa selain kedua pakaian itu pada hari itu, dan aku meminjam dua pakaian lain lalu mengenakannya.
Setelah itu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sementara orang-orang menyambutku secara berbondong-bondong. Mereka semua memberiku selamat atas penerimaan taubatku. Mereka berkata, ‘Selamat atas penerimaan Allah atas taubatmu.’ Demikianlah, sampai aku memasuki masjid, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang duduk di tengah-tengah orang. Lalu berdirilah Thalhah bin ‘Ubaidillah menghampiriku sambil berlari kecil dan memberiku ucapan selamat. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang berdiri kecuali dia dan aku tidak pernah melupakan ucapan selamat Thalhah.

Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau pun berkata sambil tampak kegembiraan pada wajahnya, ‘Bergembiralah, karena hari ini merupakan hari paling baik bagimu, sejak kamu dilahirkan ibumu.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah datangnya dari engkau sendiri atau dari Allah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, berita ini dari Allah ‘Azza wa Jalla.’ Aku berkata, ‘Apakah ini datangnya dari engkau wahai Rasulullah, ataukah dari Allah?’ Rasulullah berkata, ‘Tidak, berita ini dari Allah.’

Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang gembira, wajahnya bersinar seperti bulan, dan kami bisa mengetahuinya dari (wajah) beliau. Ketika aku telah duduk di hadapannya, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara taubatku aku lepaskan (hak) hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan RasulNya.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, ‘Tahanlah untukmu sebagian hartamu, karena itu lebih baik untukmu.’ Aku menjawab, ‘Aku akan menahan bagianku yang ada di Khaibar.’

Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuran. Dan sesungguhnya di antara taubatku, aku hanya akan berbicara jujur selama sisa hidupku.’ Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang dari kaum muslimin yang diuji oleh Allah dengan kejujuran perkataan sejak aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lebih baik daripada yang apa yang diujikan kepadaku. Sejak aku menyebutkan itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai hari ini, aku tidak pernah berbohong. Dan aku berharap Allah menjagaku selama sisa hidupku.’

Ka’ab berkata, ‘Kemudian Allah  menurunkan ayat, ‘Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti jejak Nabi dalam masa kesulitan…’ sampai pada firman-Nya, ‘…Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. ‘Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka…’ sampai pada firman-Nya, ‘…Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.’ (QS. At-Taubah [9]: 117-119)

Ka’ab berkata, ‘Demi Allah, belum pernah Allah memberikan nikmat, sesudah Allah memberi aku petunjuk memeluk Islam, yang paling besar pada diri saya daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebab, andaikata aku berbohong kepada beliau, pastilah bencana menimpaku (rusak agamaku), sebagaimana binasannya orang-orang yang berdusta. Sungguh, Allah berfirman kepada orang-orang yang berdusta, ketika Allah menurunkan wahyu dan merupakan sejelek-jeleknya apa yang Allah katakan kepada seseorang. Allah berfirman, ‘Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam sebagai balasan atas apa yang  telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.’ (QS. At-Taubah [9]: 95-96)

Ka’ab berkata, ‘Dan kami telah tertinggal. Yaitu kami bertiga, dari urusan orang-orang yang diterima oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mereka bersumpah kepada beliau. Lalu, beliau membaiat mereka dan memintakan ampunan untuk mereka. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengakhirkan perkara kami sampai Allah memberi keputusan tentangnya. Allah berfirman, ‘Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.’ Dan bukanlah yang disebutkan itu apa-apa yang kami bertiga tertinggal dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafik yang bersumpah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyampaikan bermacam alasan yang kemudian diterima oleh beliau’.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 53/2769)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar pada waktu perang Tabuk pada hari Kamis dan memang sudah menjadi kesukaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis.” Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, “Biasanya beliau datang dari bepergian pada waktu Dhuha, dan bila beliau datang biasanya langsung ke masjid dan shalat dua rakaat kemudian duduk di dalamnya.”

10/22. Dari Abu Nujaid ‘Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i bahwa ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena perbuatan zina. Kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu perbuatan yang harus dikenakan had (hukuman), maka laksanakanlah had itu atas diriku.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil wali wanita itu lalu bersabda, “Berbuat baiklah kepada wanita ini dan apabila telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawanya).”

Wali tersebut pun melakukan apa yang diperintahkan. Kemudian, Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan agar wanita itu diikatkan pada pakainnya dengan erat, kemudian memerintahkan untuk merajamnya. Setelah itu, beliau menshalatkan jenazahnya. Maka ‘Umar berkata pada beliau, “Apakah engkau menshalatkan jenazahnya, wahai Rasulullah, sedangkan ia telah berzina?” Beliau bersabda, “Sungguh, ia telah benar-benar bertaubat. Seandainya taubatnya itu dibagikan kepada tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, pasti mencukupi mereka. Adakah pernah engkau menemukan seseorang yang lebih utama dari orang yang suka mengorbankan jiwanya semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla?” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 6438 dan Muslim: 1048-1049)

11/23. Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan memiliki dua lembah, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Al-Bukhari: 6438 dan Muslim: 1048/1049)

12/24. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla tertawa kepada dua orang yang seorang membunuh pada lainnya, kemudian keduanya dapat memasuki surga. Yang seorang itu berperang fisabilillah kemudian ia dibunuh, selanjutnya Allah menerima taubat atas orang yang membunuhnya tadi, kemudian ia masuk Islam lalu dibunuh sebagai seorang syahid.” (Muttafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari: 2826 dan Muslim: 1890)

Penjelasan: (Hadist: ke 23 dan 24): bahwa seorang hamba yang rakus akan harta itu tidak akan memperhatikan pada sesuatu yang diharamkan atau didapatkan dengan jalan haram. Adapun obat dari itu semua adalah dengan bertaubat kepada Allah. Selain itu, seorang kafir apabila ia bertaubat dari kekufurannya walaupun dia sudah membunuh seseorang dari kalangan muslimin, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya, karena Islam bisa melenyapkan (dosa) yang telah dilakukan sebelumnya (sebelum masuk Islam).

Bab Keikhlasan dan Menghadirkan Niat dalam Segala Amal Perbuatan dan Ucapan serta Berbagai Keadaan yang Jelas dan yang Samar

Bab Sabar

Leave a Response