Indonesia Statistics

Indonesia
75,699
Confirmed
Updated on 12/07/2020 10:59 pm
Indonesia
35,638
Recovered
Updated on 12/07/2020 10:59 pm
Indonesia
3,606
Deaths
Updated on 12/07/2020 10:59 pm

Indonesia Statistics

Indonesia
75,699
Confirmed
Updated on 12/07/2020 10:59 pm
Indonesia
35,638
Recovered
Updated on 12/07/2020 10:59 pm
Indonesia
3,606
Deaths
Updated on 12/07/2020 10:59 pm

Baiat Umum dan Pengelolaan Urusan-urusan dalam Negeri

Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan Cerdas Pemuda Ateis

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Zakir Naik? Ulama perbandingan agama asal India ini lagi-lagi memukau penonton dengan pengetahuannya yang luar biasa tentang ilmu sains....

Dr. Zakir Naik Jelaskan Mengapa Daging Babi Haram Pada Dokter Jepang

Seorang gadis asal Jepang bernama Mamoko Suzuki yang berprofesi sebagai dokter bertanya kepada Dr. Zakir Naik mengenai alasan dibalik pengharaman daging babi dan meminta...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Charles Darwin dan Teori Evolusi

Seorang mahasiswa Jepang bernama Takuya Nishikawa, berumur 20 tahun, dan berasal dari Tokyo, bertanya kepada Dr. Zakir Naik tentang apakah manusia benar-benar berevolusi dari...

Kenapa Allah Tidak Membuat Semua Manusia Menjadi Muslim? Dr. Zakir Naik Menjawab

Melanjutkan pertanyaan Yoko kepada Dr. Zakir Naik yang telah ditulis pada artikel sebelumnya (baca: Apakah Perjalanan Isra' Mi'raj Adalah Kisah Bohong?), wanita Jepang ateis...

Dr. Zakir Naik Mendapat 2 Pertanyaan dari Pria Mualaf

Seorang pria muallaf yang baru saja masuk Islam bertanya kepada Dr. Zakir Naik ketika beliau berceramah di Tokyo pada tanggal 7 Oktober 2015. Pria...

Baiat Umum

Setelah pembaiatan terbatas kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq di Saqifah Bani Sa’idah, maka pada hari berikutnya Umar bin Al-Khathab tampil di depan publik untuk mendukung dan mempertegas penunjukan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah. Hal itu berlangsung pada hari berikutnya ketika segenap kaum muslimin berkumpul untuk melakukan baiat umum atau terbuka.

Anas bin Malik berkata, “Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq telah dibaiat di Saqifah Bani Sa’idah, maka keesokan harinya Abu Bakar Ash-Shiddiq duduk di atas mimbar. Lalu Umar bin Al-Khathab berdiri tampil untuk berbicara sebelum Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Setelah memanjatkan puja-puji kepada Allah, maka Umar bin Al-Khathab berkata, “Wahai kalian semua, kemarin aku telah mengatakan kepada kalian kata-kata yang itu tidak lain adalah pendapat dan pandanganku sendiri, tidak pula aku temukan dalam Kitabullah dan bukan pula sebuah pesan yang disampaikan Rasulullah kepadaku. Akan tetapi, sebelumnya aku memiliki asumsi bahwa Rasulullah akan mengatur urusan kita, hingga beliau adalah orang terakhir kita (di sini, Umar bin Al-Khathab menyinggung tentang kata-kata yang ia ucapkan ketika baru pertama kali mendengar berita meninggalnya Rasulullah seperti yang sudah pernah disebutkan di atas. Dan sesungguhnya Allah telah meninggalkan di tengah-tengah kalian Kitab-Nya yang dengan Kitab itu Dia menunjuki Rasul-Nya. Maka, jika kalian berpegang teguh kepada Kitabullah itu, maka Allah akan menunjuki kalian kepada apa yang Dia menunjuki Rasul-Nya kepadanya. Dan sesungguhnya Allah telah menyatukan urusan kalian di tangan orang terbaik kalian, yaitu seorang sahabat Rasulullah dan salah satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua. Maka, berdirilah kalian semua dan lakukanlah pembaiatan kepadanya.” Lalu orang-orang pun melakukan pembaiatan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah pembaiatan yang pertama di Saqifah Bani Sa’idah.

Kemudian setelah itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menyampaikan pidato perdananya sebagai khalifah. Setelah memanjatkan puja-puji kepada Allah, maka ia pun berkata, “Amma Ba’du, wahai kalian semua, sesungguhnya aku telah ditunjuk sebagai pemimpin kalian dan aku bukanlah orang terbaik kalian. Maka, jika aku melakukan langkah yang baik, maka bantu dan dukunglah aku, dan jika aku melakukan langkah jelek dan keliru, maka luruskanlah aku. Kejujuran dan kebenaran adalah amanat, dan kebohongan adalah khianat. Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat bagiku hingga aku mengembalikan kepadanya haknya insya Allah. Dan orang kuat di antara kalian adalah lemah bagiku hingga aku mengambil hak darinya insya Allah. Tiada suatu kaum yang meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan meliputi mereka dengan kehinaan. Tidak ada perbuatan keji yang menyebar di tengah-tengah suatu kaum kecuali Allah akan menimpakan bala` yang meliputi mereka semua. Patuhilah aku selama aku patuh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jika aku berbuat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tiada kepatuhan kepadaku atas kalian. Berdirilah kalian semua untuk menunaikan shalat, semoga Allah merahmati kalian.”

Ketika itu, Umar bin Al-Khathab berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Silahkan Anda naik ke mimbar.” Secara langsung berulang-ulang, hingga akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq pun naik ke atas mimbar, lalu orang-orang pun semuanya melakukan pembaiatan kepadanya.

Khutbah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang luar biasa bagus tersebut dinilai sebagai salah satu khutbah Islam yang terbaik meskipun singkat. Dalam khutbahnya tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengukuhkan kaidah-kaidah keadilan dan semangat kasih sayang dalam interaksi antara seorang pemimpin dan rakyat. Di dalamnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan fokus dan penggaris bawahan bahwa kepatuhan kepada waliyul amri adalah tergantung kepada syarat ketaatan waliyul amri kepada Allah dan Rasul-Nya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan titik berat pada masalah jihad di jalan Allah, karena signifikansinya dalam membangun umat yang kuat, luhur, dan disegani. Juga pada masalah menjauhi perbuatan keji, karena signifikansinya dalam melindungi umat dari keruntuhan dan kerusakan.

Dari khutbah tersebut dan kejadian-kejadian yang berlangsung pasca meninggalnya Rasulullah, seorang pengkaji bisa menarik sejumlah kesimpulan tentang aspek-aspek sistem pemerintahan pada permulaan masa kekhilafahan. Di antaranya yang terpenting adalah:

A. Konsepsi dan pengertian Baiat

Ulama mendefinisikan baiat dengan sejumlah definisi yang beragam. Di antaranya adalah definisi yang diberikan oleh bin Khaldun, yaitu janji setia dan patuh kepada waliyul amri.

Ada sebagian ulama mendefinisikan baiat sebagai kesepakatan untuk saling berjanji untuk berkomitmen kepada Islam.

Ada juga yang mendefinisikannya sebagai membuat perjanjian, komitmen, dan fakta untuk menghidupkan apa yang dihidupkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah serta menegakkan apa yang ditegakkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Kaum muslimin, ketika mereka melakukan pembaiatan kepada seorang amir, maka mereka meletakkan tangan mereka di tangan si amir, sebagai bentuk memperkuat dan mempertegas janji setia dan loyalitas. Hal itu mirip dengan apa yang dilakukan antara seorang penjual dan pembeli, maka dari itu, disebut dengan al-Bai’ah.

Dari pembaiatan umat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, kita bisa belajar bahwa seorang pemimpin dalam Negara Islam ketika ia mencapai kepada tampuk pemerintahan melalui prosedur Ahlul Halli wal ’Aqdi, dan umat pun membaiatnya setelah semua syarat, kualifikasi, dan ketentuan terpenuhi pada dirinya, maka wajib bagi kaum muslimin semuanya untuk melakukan pembaiatan kepadanya, bersatu di bawah kepemimpinannya, membela dan mendukungnya dalam melawan pihak-pihak yang melakukan pembangkangan dan pemberontakan terhadapnya, dalam rangka untuk memelihara persatuan dan kesatuan umat dan soliditas bangunan umat di hadapan para musuh internal dan eksternal.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan lehernya tidak terikat baiat, maka ia mati dengan kematian jahiliyah.

Hadits ini berisikan perintah untuk memberikan baiat dan ancaman terhadap sikap meninggalkan baiat. Karena, barang siapa yang mati, sedang ia tidak melakukan pembaiatan, maka ia hidup di atas kesesatan dan mati di atas kesesatan.

Rasulullan bersabda, “Barang siapa melakukan pembaiatan kepada imam, lalu masing-masing dari keduanya saling meletakkan tangannya di tangan yang lain dengan penuh ketulusan, maka hendaklah ia mematuhi si imam tersebut sebisa mungkin. Lalu jika datang orang lain yang ingin merebut dan menantang (menggulingkan imam yang pertama), maka lawan dan bunuhlah orang itu.”

Dalam hadits ini, Asy-Syari’ yang bijaksana (Rasulullah) memerintahkan untuk melawan dan membunuh pihak yang melakukan pemberontakan terhadap imam. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan makar dan pemberontakan adalah haram.

Orang yang mengambil baiat dalam tataran negara adalah khalifah. Adapun pada tataran wilayah, maka mungkin bisa diambil langsung oleh imam atau bisa juga diambil oleh wakilnya, sebagaimana yang terjadi pada pembaiatan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika itu, baiat penduduk Makkah dan Tha`if diambil oleh para wakil khalifah.

Pihak yang wajib melakukan baiat secara langsung kepada imam adalah Ahlul Halli wal ’Aqdi, para ulama, ilmuan, dan tokoh masyarakat yang menjadi anggota pemilihan, orang-orang yang menjadi anggota majelis syura dan para amir daerah. Adapun masyarakat umum yang lain, maka sudah cukup terwakili oleh pihak-pihak tersebut, namun bisa saja masyarakat umum juga melakukan baiat setelah baiat yang dilakukan oleh pihak-pihak tersebut.

Ada sementara ulama yang berpendapat, bahwa baiat umum yang dilakukan oleh semua lapisan masyarakat menjadi sebuah keharusan. Karena Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menjalankan tugas-tugasnya sebagai khalifah umat Islam melainkan setelah ia melakukan baiat umum yang diikuti oleh semua lapisan umat.

Baiat dengan pengertian khusus ini yang diperoleh Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak bisa diberikan kecuali hanya kepada imam a’zham (pemimpin tertinggi) di Daulah Islamiyah, tidak boleh diberikan kepada individu-individu yang lain selain imam a’zham, baik di dalam Daulah Islamiyah maupun ketika tidak ada Daulah Islamiyah. Karena baiat dengan pengertian khusus tersebut berkonsekuensi pada sejumlah hukum.

Kesimpulannya adalah, bahwa baiat dengan makna dan pengertian khusus adalah memberikan loyalitas, ketaatan, dan kepatuhan kepada khalifah sebagai bandingan pelaksanaan pemerintah dan hukum berdasarkan apa yang diturunkan Allah, bahwa esensi dan inti baiat tersebut adalah kontrak, kesepakatan, dan fakta antara dua pihak, imam dari satu pihak dan umat dari pihak lain. Imam melakukan baiat yang memuat janji dan komitmen menjalankan hukum berdasarkan Kitabullah dan As-Sunnah serta ketundukan secara total kepada syariat Islam, baik pada aspek akidah, syariat, maupun sistem dan tatanan kehidupan, sementara umat melakukan baiat yang memuat janji untuk setia, patuh, dan loyak kepada imam dalam batasan dan koridor-koridor syariat.

Baiat adalah salah satu ciri khas sistem pemerintahan dalam Islam yang membedakannya dari sistem-sistem lain, baik pada masa lalu maupun pada masa modern. Konsepsi dan pengertian baiat tersebut adalah bahwa imam dan umat kedua-duanya sama-sama terikat dengan apa yang dibawa oleh Islam berupa hukum-hukum syariat. Salah satu pihak, baik pihak pemimpin maupun pihak rakyat yang direpresentasikan oleh Ahlul Halli wal ’Aqdi, tidak memiliki hak dan tidak boleh melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat atau membuat hukum dan aturan yang berbenturan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah atau dengan prinsip dan kaidah-kaidah umum dalam syariat. Tindakan seperti itu dianggap sebagai tindakan menentang Islam, bahkan sebagai bentuk deklarasi perang terhadap sistem umum Daulah Islamiyah.

Bahkan lebih dari itu, kita mendapati dalam Al-Qur`an keterangan yang menafikan sifat keimanan dari orang yang melakukan tindakan tersebut,

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa`: 65).

Itulah pengertian dan konsepsi baiat yang bisa disimpulkan dan kajian tentang periode kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

B. Sumber Legislasi atau Hukum dalam Negara Pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata dalam pidatonya, “Patuhilah aku selama aku mematuhi dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Jika aku berbuat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban patuh kepadaku atas kalian.” Maka, sumber legislasi bagi Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah:

  • Al-Qur`an.

Allah berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (An-Nisa`: 105).

Al-Qur`an adalah sumber pertama dan utama yang memuat semua hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan urusan-urusan kehidupan, sebagaimana pula juga berisikan prinsip-prinsip dasar dan hukum-hukum yang pasti untuk memperbaiki setiap segi dan aspek kehidupan. Sebagaimana pula Al-Qur`an telah menjelaskan kepada kaum muslimin tentang setiap hal yang mereka butuhkan berupa sejumlah asas yang menjadi landasan negara mereka.

  • As-Sunnah.

As-Sunnah adalah sumber kedua yang menjadi bahan untuk menggali pokok-pokok dan dasar-dasar konstitusi Islam. Dari As-Sunnah, bisa digali dan diketahui rumusan-rumusan, formula, dan bentuk-bentuk realisasi dan aplikasi hukum-hukum Al-Qur`an.

Sesungguhnya negara pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq tunduk sepenuhnya kepada syariat. Supremasi syariat Islam dalam negara pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq berada di atas semua hukum dan di atas semua undang-undang. Negara pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan kepada kita sebuah gambaran cemerlang bahwa Daulah Islamiyah adalah Daulah syariat, tunduk dengan segenap perangkat, institusi, lembaga, dan aparaturnya kepada hukum-hukum syariat ini.

Seorang yang menjadi pemimpin dalam Daulah Islamiyah terikat dengan hukum-hukum syariat Islam, tidak boleh lepas sedikit pun darinya.

Dalam negara pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan dalam masyarakat sahabat, syariat adalah di atas segalanya. Pemimpin dan rakyat semuanya sama-sama tunduk kepada syariat. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq, menegaskan bahwa ketaatan kepada dirinya yang ia minta dari umat adalah dengan syarat ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena Rasulullah bersabda, “Tidak ada kepatuhan dalam kemaksiatan, sesungguhnya kepatuhan tidak lain hanya dalam kebajikan.”

C. Hak Umat untuk Mengawasi, Mengkritisi, Mengontrol, dan Mengoreksi Pemimpin

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Maka, jika aku melakukan langkah yang baik, maka dukung dan bantulah aku. Namun jika aku melakukan langkah yang salah dan keliru, maka koreksi dan luruskan aku.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengakui hak umat dan para individunya untuk mengawasi, mengkritisi, dan mengoreksi kerja-kerjanya, bahkan hak untuk melawannya untuk mencegah setiap kemungkaran yang ia lakukan dan memaksa dirinya untuk kembali kepada apa yang mereka nilai sebagai jalan yang benar dan langkah yang legal, sah, dan konstitusional.

Pada pidato perdananya kepada umat, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengakui setiap pemimpin berpotensi melakukan kekeliruan dan menjadi sasaran kritikan dan koreksi, bahwa ia tidak mendapatkan kekuasaan dan otoritasnya dari suatu keistimewaan personal apa pun yang bisa membuat dirinya memiliki preferensi atas yang lain, karena periode risalah dan para rasul yang ma’shum telah berakhir dan Sang Rasul terakhir yang menerima wahyu telah berpulang ke sisi Tuhannya. Beliau memiliki kekuasaan dan otoritas keagamaan yang beliau peroleh dari kemakshuman beliau sebagai seorang Rasul yang mendapatkan arahan, tuntunan, dan bimbingan langsung dari langit.

Akan tetapi kemakshuman tersebut telah berakhir bersama dengan meninggalnya Rasulullah. Dan setelah meninggalnya beliau, maka kekuasaan dan otoritas didapatkan dari akad baiat dan pemandatan umat kepadanya.

Sesungguhnya umat dalam pemahaman Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki manajemen kontrol yang aktif dan energik yang memiliki kemampuan untuk bersinergi saling menolong, membantu, mendukung, menasihati, mengawasi, mencermati, mengawal, mengoreksi, dan meluruskan. Maka, menjadi kewajiban rakyat untuk membantu dan mendukung pemimpin yang menjalankan pemerintahannya berdasarkan apa yang diturunkan Allah, bersinergi dengannya dalam urusan-urusan agama dan jihad.

Dan termasuk bagian dari bentuk mendukung dan membantu seorang imam adalah, ia tidak dihinakan dan dilecehkan, ia dihormati dan dimuliakan. Kepemimpinan seorang imam atas umat untuk meluhurkan kalimat Allah, menuntut untuk mengagungkan, menghormati, dan memuliakannya, sebagai bentuk mengagungkan, memuliakan, dan menghormati syariat Allah yang ia bela dan tegakkan. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang sepuh Muslim, orang yang hafal Al-Qur`an yang tidak melampaui batas dan tidak mengabaikan Al-Qur`an, serta memuliakan penguasa yang adil.”

Umat berkewajiban untuk memberikan nasihat (ketulusan dan menginginkan kebaikan) kepada para pemimpinnya. Rasulullah bersabda, “Agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.”

Telah tertanam kuat dalam pemahaman dan konsepsi para sahabat bahwa persistensi umat di atas kelurusan dan keistiqamahan sangat bergantung kepada keistiqamahan dan kelurusan para pemimpinnya.

Dari itu, menjadi salah satu kewajiban rakyat terhadap para pemimpin mereka adalah menasihati, mengoreksi, mengawal, dan meluruskan mereka. Negara modern saat ini mengambil politik dan kebijakan pioner Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut, dan menerjemahkannya dalam bentuk komisi-komisi khusus dan majelis-majelis syura yang menyediakan sejumlah perencanaan dan rancangan kepada kepala pemerintahan, membekalinya dengan berbagai informasi, memberikan masukan kepadanya tentang apa yang baik dan tepat untuk ia putuskan dan tetapkan.

Namun yang menyedihkan dan ironis, ternyata banyak negara-negara Islam yang justru berpaling dari sistem yang prudent ini, sehingga negara-negara Islam tersebut terkungkung dalam bencana besar yang tergambar pada sikap para penguasa dan kepala negara tiran, totaliter, otoriter, bertangan besi, diktator, dan despotism. Kondisi terbelakang dan tertinggal yang dialami oleh sebagian besar negara-negara Islam saat ini tidak lain adalah akibat dari sikap otoriter dan kediktatoran yang terkutuk yang mematikan ruh dan semangat saling menasihati dan jiwa keberanian dalam tubuh umat, menabur, dan menanam benih-benih jiwa penakut dan pengecut dalam tubuh umat kecuali orang yang dirahmati Tuhannya.

Adapun umat atau bangsa yang aktif menjalankan peran dan fungsinya dalam mengawal, mengawasi, dan menasihati pemimpin, mengambil langkah-langkah usaha yang diperlukan dalam menciptakan kekuatan dan kedaulatan di muka bumi, maka umat atau bangsa tersebut meloncat tinggi menuju cakrawala dunia menyampaikan dakwah Allah.

D. Pengukuhan Prinsip Keadilan dan Persamaan di Antara Manusia

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Orang lemah di antara kalian bagiku adalah orang kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya insya Allah, dan orang kuat di antara kalian bagiku adalah orang lemah hingga aku mengambil kembali hak dari tangannya insya Allah.”

Sesungguhnya di antara visi dan tujuan pemerintahan Islam adalah menegakkan prinsip-prinsip sistem dan tatanan Islam yang memiliki kontribusi penting dalam membangun masyarakat Muslim.

Di antara prinsip-prinsip tersebut yang paling penting adalah, prinsip syura dan keadilan, persamaan, dan kebebasan. Dalam pidatonya kepada umat, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengukuhkan prinsip-prinsip tersebut. Prinsip syura termanifestasikan pada prosedur pemilihan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah, pembaiatannya, dan pada pidatonya di masjid di hadapan kaum muslimin. Adapun prinsip keadilan, maka itu terlihat jelas dalam teks pidato Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Tidak diragukan lagi, bahwa keadilan dalam pikiran Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah keadilan Islam yang merupakan pilar utama dalam membangun sebuah masyarakat Islam dan pemerintahan Islam. Maka, Islam tidak ada dalam sebuah masyarakat yang didominasi oleh kezhaliman dan tidak mengenal keadilan.

Sesungguhnya menegakkan keadilan di antara manusia baik itu pada tataran individu, golongan maupun negara, bukan sesuatu yang bersifat derma dan suka rela yang diserahkan begitu saja kepada suasana kejiwaan dan hawa nafsu seorang pemimpin.

Tetapi, menegakkan keadilan di antara manusia dalam agama Islam adalah termasuk salah satu kewajiban yang paling sakral dan paling penting. Uma bersepakat bahwa adil adalah wajib hukumnya. Al-Fakhr Ar-Razi menuturkan, “Mereka semua bersepakat bahwa barang siapa menjadi hakim atau pemimpin, maka wajib atas dirinya untuk menjalankan hukum atau kepemimpinannya dengan adil.”

Hukum ini dikuatkan oleh nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Sesungguhnya salah satu visi dan misi negara Islam adalah membangun masyarakat Islam yang penuh dengan nuansa nilai-nilai keadilan, persamaan, menghilangkan dan memberantas kezhaliman dengan segala bentuk dan macamnya. Negara Islam harus membuka ruang yang seluas-luasnya dan menyediakan segenap sarana dan prasarana dan fasilitas bagi setiap orang yang mencari haknya untuk bisa mendapatkan haknya itu dengan cara yang semudah dan secepat mungkin tanpa harus bersusah payah dan tanpa terbebani oleh biaya. Negara Islam berkeharusan untuk melenyapkan setiap apa pun yang berpotensi menghalangi atau menghambat pemilik hak dari mendapatkan haknya.

Islam telah mewajibkan atas para pemimpin dan para penegak keadilan untuk menegakkan keadilan di antara manusia tanpa pandang bulu, tanpa melihat bahasa, asal-usul, atau status sosialnya. Seorang pemimpin atau hakim harus berlaku adil di antara dua pihak yang berperkara dan memberikan putusan dengan benar tanpa mempedulikan apakah pihak yang berperkara itu kawan atau lawan, kaya atau miskin, buruh atau penguasa. Allah berfirman yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maa`idah: 8).

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sosok yang menjadi contoh dan teladan dalam keadilannya yang begitu menawan hati, mempesonakan, dan memukau akal pikiran. Keadilan dalam pandangan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sebuah dakwah praktis yang bisa menjadi media yang efektif untuk membuka hati manusia untuk beriman.

Abu Bakar Ash-Shiddiq benar-benar mempraktikkan keadilan di antara manusia dalam hal pemberian, meminta mereka supaya membantu dan mendukung dirinya dalam menegakkan keadilan, serta menawarkan dirinya untuk diqishash (dihukum dengan perbuatan yang sama seperti yang diperbuat terhadap korban) dalam sebuah kasus yang hal ini menunjukkan sikap adil dan rasa takut kepada Allah.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-’Ash, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq pada suatu hari Jum’at berdiri lalu berkata, “Jika kita memasuki waktu pagi, maka tolong bawa ke sini zakat unta, kami akan membaginya, dan tidak boleh ada satu orang pun yang masuk menemui kami kecuali harus dengan izin.” Lalu ada seorang perempuan berkata kepada suaminya, “Ambil dan bawalah khitham (tali untuk mengikat dan mengendalikan unta) ini, barangkali semoga Allah SWT memberi kita seekor unta.” Lalu si suami pun datang, lalu ia mendapati Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab telah masuk ke tempat unta. Lalu ia pun ikut masuk bersama beliau berdua.

Melihat hal itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung menoleh dan berkata, “Kenapa kamu ikut masuk?” Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq mengambil tali yang dibawa orang itu lalu memukulnya. Setelah selesai membagi zakat unta, maka ia pun memanggil orang tersebut dan mengembalikan kepadanya tali tersebut, dan berkata kepadanya, “Silahkan balaslah aku, karena tadi aku telah memukulmu.” Lalu Umar bin Al-Khathab berkata, “Sungguh demi Allah, orang itu tidak boleh membalas dan jangan Anda jadikan hal itu sebagai kebiasaan yang diikuti.” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Maka siapakah yang akan menyelamatkanku dari pembalasan Allah pada Hari Kiamat?” Umar bin Al-Khathab berkata, “Buat hatinya ridha dan senang.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan kepada pembantunya agar menemui orang itu sambil membawa seekor unta berikut pelana dan kain penutupnya serta uang sebanyak lima dinar, sehingga hati orang itu pun ridha dan senang.

Adapun prinsip persamaan yang dikukuhkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pidatonya yang disampaikan kepada umat, maka itu memang menjadi salah satu prinsip umum yang dikukuhkan oleh Islam. Prinsip persamaan ini adalah salah satu prinsip yang bisa memberikan kontribusi aktif dalam membangun sebuah masyarakat Muslim. Dalam prinsio yang satu ini, Islam adalah pelopor yang mendahului hukum-hukum dan undang-undang masa modern sekarang ini. Di antara keterangan dalam arti ayat Al-Qur`an yang menegaskan prinsip persamaan ini adalah:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13).

Dalam pandangan Islam, manusia semuanya adalah sama, pemimpin dan rakyat, atasan dan bawahan, laki-laki dan perempuan, Arab dan non Arab, putih dan hitam. Islam menghapus dan tidak mengakui perbedaan di antara manusia dengan berdasarkan jenis, warna kulit, nasab, atau kelas sosial. Para pemimpin dan rakyat semuanya adalah sama dalam pandangan syara’.

Praktik prinsip persamaan yang dilaksanakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah bukti terbaik tentang hal itu. Dalam hal ini, Abu Bakar As-Shiddiq berkata, “Aku telah ditunjuk sebagai pemimpin kalian. Maka, jika aku melakukan langkah-langkah yang baik dan benar, maka dukunglah aku, dan jika aku melakukan langkah-langkah yang keliru dan tidak baik, maka koreksi dan luruskan aku. Orang yang kuat di antara kalian bagiku adalah orang lemah hingga aku mengambil kembali hal dari tangannya, dan orang yang lemah di antara kalian bagiku adalah orang yang kuat hingga aku memberikan haknya kepadanya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menggunakan sebagian dari Baitul Mal (kas negara) untuk diberikan kepada rakyatnya secara sama. Ibnu Sa’ad dan yang lainnya meriwayatkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki sebuah Baitul Mal di As-Sunh yang sudah terkenal tanpa ada yang menjaganya. Lalu ditanyakan kepadanya, “Kenapa Anda tidak menugaskan seseorang untuk menjaga Baitul Mal?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Baitul Mal itu aman dan tidak ada kekhawatiran terhadapnya.” Dikatakan kepadanya, “Kenapa?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Sudah ada “gemboknya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan semua harta yang ada di dalam Baitul Mal itu hingga tidak ada yang tersisa. Kemudian ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq pindah ke Madinah, maka ia juga memindahkan Baitul Mal tersebut di perumahan tempat tinggalnya. Lalu datang kiriman harta dari hasil tambang Juhainah dalam jumlah yang besar. Pada masa kekhilafahannya, pertambangan Bani Sulaim juga terbuka dan mulai dieksploitasi dan zakatnya pun dikirimkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan ia meletakkannya di Baitul Mal. Lalu ia membagi-bagikannya kepada rakyat secara sama antara orang merdeka dan budak, laki-laki dan perempuan, kecil dan besar, semuanya mendapatkan dalam jumlah yang sama.

Aisyah berkata, “Pada tahun pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq membagi-bagikannya, setiap kepala mendapatkan sepuluh, baik orang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, semuanya mendapatkan sepuluh. Kemudian pada tahun kedua, setiap kepala mendapatkan dua puluh. Lalu ada beberapa orang dari kaum muslimin datang dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, Anda membagi-bagikan harta ini secara sama rata di antara orang-orang. Sementara ada sebagian orang yang merupakan orang-orang yang memiliki keutamaan, jasa besar, dan terdahulu masuk Islam.

Maka, seandainya Anda memberi orang-orang itu dalam jumlah yang lebih banyak.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Adapun apa yang kalian utarakan itu berupa keterdahuluan masuk Islam, jasa besar, dan keutamaan, maka aku sangat mengetahui hal itu. Tetapi semua itu tidak lain adalah sesuatu yang pahalanya menjadi tanggungan Allah, sementara ini adalah masalah penghidupan. Maka, dalam hal ini memperlakukan sama adalah lebih baik daripada membeda-bedakan dan memberikan preferensi kepada sebagian yang lain.”

Distribusi dan pembagian ’atha` (pemberian oleh negara kepada rakyat) pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah dilakukan secara sama rata di antara semua orang. Langkah Abu Bakar Ash-Shiddiq ini pernah dikritisi oleh Umar bin Al-Khathab, ia berkata kepadanya, “Apakah Anda menyamakan antara orang yang hijrah dua kali dan shalat kedua kiblat dengan orang yang baru masuk Islam pada kejadian fathu Makkah?” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Mereka itu beramal karena Allah dan ganjaran mereka menjadi tanggungan-Nya, akan tetapi dunia ini adalah bekal untuk mencukupi kebutuhan hidup.”

Meskipun Umar bin Al-Khathab mengubah pola kebijakan pembagian tersebut dengan memberikan preferensi berdasarkan keterdahuluan masuk Islam dan peran jihad, namun pada masa akhir kekhilafahannya, ia berkata, “Seandainya dulu pada awalnya aku mengetahui apa yang baru aku ketahui sekarang, niscaya aku mengikuti pola kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut dan membaginya secara sama rata di antara semua orang.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq membeli unta, kuda, dan persenjataan (alutsista) untuk dipergunakan berjihad di jalan Allah. Pada suatu tahun, Abu Bakar Ash-Shiddiq membeli kain selimut hasil kerajinan masyarakat pedalaman, lalu ia bagi-bagikan kepada janda-janda Madinah pada musim dingin.

Semasa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, pendapatan kas Negara mencapai dua ratus ribu dan semuanya dialokasikan untuk bidang-bidang kebaikan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengikuti manhaj Rabbani dalam menerapkan keadilan dan persamaan di antara manusia, serta memperhatikan hak-hak kaum lemah. Maka, ia pun melihat untuk meletakkan dirinya di pihak kaum lemah yang tidak memiliki daya itu, lalu mengawal dan memperhatikan mereka dengan pendengaran dan penglihatan yang tajam serta kemauan yang kuat dan sensitif tanpa mau dikalahkan dan didikte oleh faktor-faktor kekuatan pihak manapun selain kekuatan langit.

Itu adalah Islam dalam pemahaman salah satu tokoh negarawan Islam yang brilian dan mulia yang meletakkan arogansi dan otoriterian di bawah kaki rakyatnya serta menjadikan kepala mereka bisa terangkat tegak dengan keadilan. Sehingga keadilan itu, ia menjaga eksistensi negaranya dan menjamin perannya dalam menjaga agama dan umat.

Sejak detik awal, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung mengimplementasikan prinsip-prinsip yang luhur tersebut. Ia menyadari betul, bahwa keadilan adalah sumber kekuatan dan kemuliaan bagi pemimpin dan rakyat. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq meletakkan garis kebijakan dan politiknya tersebut pada ranah realisasi sambil terus mengucapkan ayat,

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90).

Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin menjamin kaum muslimin bisa tenang menjalankan agama mereka dan kebebasan berdakwah mengajak kepada agama mereka, dan itu tidak bisa terwujud melainkan jika pemimpin mereka menjalankan keadilan absolut yang steril dari hawa nafsu.

Pemerintahan berdasarkan asas  ini menuntut seorang pemimpin harus berada di atas semua bentuk pertimbangan pribadi atau subjektif, bahwa keadilan dan belas kasih harus berkumpul dan terkombinasikan. Teori Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam mengemban amanat mengurus urusan-urusan Negara berlandaskan pada pengorbanan kepentingan diri sendiri, pengabaian diri sendiri, dan sama sekali tidak ada kata mementingkan diri sendiri dalam kamusnya, akan tetapi ia mendedikasikan dirinya secara penuh dan total hanya untuk Allah, sehingga hal itu menjadikannya pemimpin yang sensitif, merasakan kelemahan orang lemah, dan sangat peka akan kebutuhan masyarakat, meletakkan keadilan di atas segala bentuk ambisi dan hawa nafsu, melupakan dirinya sendiri, anak-anak, dan keluarganya, kemudian mendedikasikan diri dan segenap perhatiannya untuk menjalankan urusan-urusan Negara, baik yang besar maupun yang sepele dengan segenap ketelitian, keseksamaan, kejelian, dan kehati-hatian yang dikaruniakan Allah kepada dirinya.

Berdasarkan semua itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berhasil menjadikan keadilan mengibarkan panji-panjinya di tengah masyarakat. Orang yang lemah merasa bahwa haknya aman dan pasti ia dapatkan. Semua orang yang lemah yakin dan percaya bahwa kelemahannya hilang jika keadilan adalah menjadi panglima. Dengan keadilan, orang yang lemah menjadi kuat yang tidak akan terhalang memperoleh haknya dan tidak akan tersia-siakan haknya.

Sedangkan orang kuat, ketika ia melakukan kezhaliman, maka ia pasti akan diadili dengan benar dan adil, hak yang dirampasnya pasti akan diambil kembali dari tangannya dan dikembalikan kepada pemiliknya yang sah. Sehingga ia tidak bisa berlindung di balik kedudukan, jabatan, kekuasaan, atau kerabat yang memiliki kedudukan dan jabatan. Itu adalah bentuk kemuliaan yang tinggi kokoh dan kekuasaan yang sempurna di muka bumi.

Ibnu Taimiyah memiliki sebuah statemen yang sangat bagus, “Sesungguhnya Allah menolong negara yang adil meskipun kafir, dan tidak menolong negara yang zhalim meskipun Islam. Dengan keadilan, manusia menjadi baik dan harta menjadi melimpah.”

E. Kejujuran adalah Asas Hubungan antara Pemimpin dan Rakyat

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Kejujuran adalah amanat dan kebohongan adalah khianat.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq memproklamirkan sebuah prinsip dasar yang menjadi landasan garis kebijakannya dalam memimpin umat, yaitu bahwa kejujuran dan keterbukaan antara pemimpin dan rakyat adalah asas hubungan di antara keduanya. Prinsip dasar yang prudent ini memiliki kontribusi dan pengaruh yang sangat penting bagi kekuatan dan soliditas umat, karena telah tertancap kuat jembatan kepercayaan antara umat dan pemimpinnya. Ini adalah sebuah moral atau etika politik yang bertolak dari seruan Islam kepada kejujuran dan kebenaran. Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119).

Dan dari larangan Islam terhadap kebohongan dan kedustaan, seperti sabda Rasulullah dalam hadits, “Ada tiga kriteria orang yang kelak pada Hari Kiamat Allah tidak berkenan berbicara kepada mereka, tidak berkenan mensucikan mereka dan tidak berkenan melihar mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Ketiga orang itu adalah, orang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.”

Kata-kata Abu Bakar Ash-Shiddiq di atas, “Kejujuran adalah amanat” penuh dengan makna dan arti, seakan-akan kalimat ini memiliki ruh yang menjadikannya mondar-mandir di tengah-tengah orang, membangkitkan semangat dan menciptakan harapan. “Bohong adalah khianat.” Demikianlah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak ingin basa-basi, tetapi langsung menyentuh isi dan substansi, menyebut sesuatu langsung dengan namanya.

Pemimpin pendusta tidak lain adalah seorang wakil yang berkhianat dan curang yang memakan roti umat kemudian menipu dan mengelabuhinya. Betapa celaka dan menyedihkannya seorang pemimpin yang melakukan kebohongan, kemudian menyebutnya dengan selain namanya. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyebut orang seperti itu sebagai pengkhianat dan musuh utama umat, dan apakah ada musuh yang lebih besar dari pengkhianatan?!

Sungguh, Abu Bakar Ash-Shiddiq meneropong dunia dari sikapnya ini, maka ia pun mengangkat beberapa kaum dan menjatuhkan beberapa kaum yang lain. Membangun dan melahirkan manusia-manusia unggul adalah seni kepemimpinan tertinggi. Karena mereka adalah instrumen, perlengkapan, dan stok utama umat yang ia gunakan untuk membentengi dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan, tantangan, dan ancaman.

Tidak disangsikan lagi bahwa barang siapa mencermati dan merenungi kata-kata Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut, maka ia pasti akan mendapatkan bahwa dia adalah memang benar-benar sosok yang pioner dalam seni yang sangat tinggi, karena ia memang benar-benar meniti jejak dan jalan Nabi yang mulia.

Sesungguhnya bangsa-bangsa dunia saat ini sangat membutuhkan manhaj Rabbani ini dalam membangun hubungan, interaksi, dan komunikasi antara pemimpin dan rakyat, supaya bisa menghadapi dan memberantas pola-pola pemalsuan dan kecurangan dalam pemilihan umum, memutar balikkan dan merekayasa tuduhan-tuduhan, memanfaatkan media massa sebagai alat untuk menyebarkan dan mempropaganda tuduhan-tuduhan batil dan palsu terhadap pihak-pihak yang mengambil sikap sebagai oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa atau pihak-pihak yang melancarkan kritikan terhadapnya.

Sudah menjadi sebuah keharusan adanya pengawasan, pengawalan, dan kontrol umat untuk memastikan para pemimpin berkomitmen pada kejujuran, kebenaran, dan sikap amanah. Hal itu dilakukan melalui lembaga-lembaga umat yang bisa membantunya untuk mengawal, mengontrol, meluruskan, mengkritisi, dan mengoreksi para pemimpin ketika mulai melenceng dan menyimpang, sehingga bisa mencegah mereka dari upaya mencuri kehendak, kehormatan, harga diri, kebebasan, dan harta kekayaan umat.

F. Memproklamirkan Konsistensi dan Komitmen Jihad dan Mempersiapkan Umat untuk Melaksanakannya

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sesuatu kaum tidak meninggalkan jihad di jalan Allah melainkan Allah akan menghinakan mereka.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapatkan tarbiyah jihad secara langsung dari sang Nabi dan pemimpinnya yang agung. Nabi Muhammad, dalam bentuk tarbiyah yang energik dan aktif dalam berbagai medan konflik antara kesyirikan dan keimanan, kesesatan dan petunjuk, keburukan, dan kebaikan.

Di atas telah disinggung tentang peranan dan sepak terjang Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam berbagai peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah. Abu Bakar mendengar sabda Rasulullah, “Jika kalian melakukan transaksi jual beli dengan cara al-’Inah, memegangi ekor lembu (kinayah tentang pekerjaan menggarap sawah) dan kalian senang dan puas dengan bercocok tanam, sementara pada waktu yang sama kalian meninggalkan jihad yang pada saat itu hukumnya adalah wajib, maka Allah akan menjadikan kalian dikuasai oleh kehinaan yang tidak akan Dia cabut hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Dari hadits tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq memahami bahwa umat akan tertimpa kehinaan dan subordinan ketika mereka meninggalkan jihad. Maka dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq meletakkan jihad dalam daftar prioritas kerja pemerintahannya. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq memobilisasi segenap potensi dan energi umat untuk jihad, dalam rangka untuk menghapus kezhaliman dari pihak-pihak yang terzhalimi, menghilangkan kabut kesewenang-wenangan dari pihak-pihak yang tertindas, mengembalikan kebebasan kepada pihak-pihak yang terampas kebebasannya, menerbangkan dakwah Allah ke segenap penjuru bumi dan menyingkirkan setiap hal yang merintangi dan menghambatnya.

G. Memproklamirkan Perang Melawan Perbuatan-perbuatan Keji

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Perbuatan keji tidak tersebar di tengah-tengah suatu kaum kecuali Allah akan menimpakan bala` terhadap mereka secara masif.” Di sini, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengingatkan umat kepada sabda Rasulullah, “Suatu perbuatan keji tidak muncul di tengah-tengah suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali, kecuali akan menyebar di tengah-tengah mereka bencana tha’un dan berbagai wabah penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu mereka yang telah lalu.”

Sesungguhnya perbuatan keji adalah penyakit kronis masyarakat yang tidak ada obatnya. Perbuatan keji adalah penyebab kemerosotan, dekadensi dan kelemahan masyarakat, di mana sudah tidak ada lagi yang namanya kesucian bagi apa pun dalam kamusnya, tidak ada lagi apa yang namanya tabu baginya. Masyarakat yang rusak moralnya tidak mengenal apa yang namanya sense of honor, menyukai dan menerima hal-hal yang hina serta melihatnya sebagai sesuatu yang biasa. Masyarakat yang seperti itu adalah masyarakat lemah, hina, dan penuh dengan wabah penyakit. Fakta kondisi manusia menjadi saksi dan bukti paling kuat akan hal itu.

Abu Bakar Ash-Shiddiq benar-benar serius dalam menjaga norma, nilai-nilai dan moral umat. Dalam kebijakan politiknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat serius mempertahankan kesucian dan kebersihan umat, steril, dan perbuatan-perbuatan keji, bejat, dan amoral baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan karena ia menginginkan sebuah umat yang kuat yang tidak disibukkan oleh syahwat dan tidak disesatkan oleh setan, supaya umat bisa hidup sebagai umat yang produktif, menghasilkan kebaikan, dan mempersembahkan keutamaan kepada semua manusia.

Sesungguhnya hubungan moral dengan berdirinya negara dan lahirnya peradaban adalah hubungan yang sangat jelas. Jika moral rusak dan hati nurani mati, maka lenyap, rusak, dan hancurlah umat. Setiap orang yang mempelajari kehidupan umat-umat terdahulu dan peradaban-peradaban masa lampau dengan penuh seksama, maka ia akan memahami bagaimana peradaban-peradaban tersebut terbangun di atas landasan akhlak mulia dan agama yang benar seperti peradaban yang lahir pada masa nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, peradaban yang lahir pada masa Dzul Qarnain dan banyak umat-umat lainnya yang komitmen dengan nilai-nilai dan akhlak.

Selama mereka menjaga nilai-nilai dan akhlak, maka selama itu pula mereka akan tetap kuat dan jaya. Namun ketika perbuatan-perbuatan keji mulai menyusup ke dalam tubuh umat-umat dan bangsa-bangsa tersebut, maka ketika itu pula mereka mulai menyerah kepada setan-setan, menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan umatnya ke dalam lembah kebinasaan. Sehingga kekuatannya pun mulai lenyap dan peradabannya pun mulai meredup dan runtuh.

Sesungguhnya Abu Bakar Ash-Shiddiq memahami betul sunnatullah atau ketentuan baku Allah yang berlaku pada semua komunitas masyarakat serta dalam konteks berdiri dan lenyaplah negara. Ia pun memahami bahwa hilang dan runtuhnya suatu negara adalah disebabkan oleh kemewahan hidup, sikap bermewah-mewahan, royal, sikap-sikap korup, dekadensi moral, tenggelam dalam kubangan perbuatan-perbuatan keji dan bejat serta dosa-dosa besar. Allah berfirman yang artinya,

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra`: 16).

Yakni, kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah itu untuk menjalankan syariat dan amal-amal ketaatan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat, namun mereka justru durhaka dan fasik, sehingga berlaku atas mereka ketetapan adzab dan penghancuran sebagai balasan kefasikan dan kedurhakaan mereka. Ada versi qira`at yang membaca, “ammarna” dengan huruf mim dibaca tasydid, sehingga artinya adalah, “Kami menjadikan orang-orang yang hidup mewah itu sebagai para amir dan pemimpin.”

Kemewahan, meskipun melimpahnya harta dan kekuasaan adalah salah satu sebabnya, namun kemewahan adalah identik dengan perilaku negatif, yaitu suatu kondisi kejiwaan yang menolak untuk istiqamah, lurus, dan teguh di atas manhaj dan rel aturan Allah, dan tidak setiap kekayaan adalah kemewahan.

Sesungguhnya politik dan langkah kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi perbuatan-perbuatan keji sudah sepantasnya ditiru dan diteladani oleh para pemimpin kaum muslimin. Seorang pemimpin yang bertakwa, shaleh, bersih, cerdas, dan adil-lah yang mendidik umatnya di atas landasan akhlak yang lurus. Karena ketika itu, ia memimpin sebuah bangsa yang telah memiliki kesadaran tentang perikemanusiaan dan mengalir dalam tubuhnya darah humanisme. Adapun jika seorang pemimpin kehilangan kecerdasan dan akal yang waras serta menjadi salah satu orang tolol, maka yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan menebarkan perbuatan keji di tengah-tengah kaumnya, begitu gigih melindungi dan mempertahankan kekejian itu dengan segenap kekuatan, otoritas, aturan-aturan dan undang-undang, memerangi nilai-nilai dan akhlak yang terpuji, serta menggiring kaumnya menuju ke kubangan-kubangan perbuatan tercela, sehingga mereka berubah menjadi seperti binatang tersesat dan sekumpulan hewan yang mengembara tidak karuan tak tentu arah, dibenaknya yang ada hanyalah kenikmatan dan kesenangan yang semu dan menipu.

Sehingga pada gilirannya, mereka akhirnya menjadi orang-orang kerdil yang telah menanggalkan kejantanan dan kesatriaan, dan mereka pun mengalami nasib seperti yang digambarkan dalam arti firman Allah berikut,

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (An-Nahl: 112).

Demikianlah beberapa catatan yang diilhamkan dibukakan oleh Allah kepada penulis atas statemen yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pidato perdananya kepada umat dalam kapasitasnya sebagai khalifah.

Dalam statemennya tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjelaskan garis kebijakan politik negara. Di dalamnya, ia mendefinisikan tanggung jawab seorang pemimpin dan seberapa jauh hubungan antara pemimpin dan rakyatnya, serta sejumlah kaidah penting dalam membangun negara dan memimpin rakyat.

Demikianlah kekhilafah Islam berdiri, mendefinisikan konsep dan pengertian pemerintahan dengan definisi praktis. Langkah bulat umat dalam mewujudkan jabatan kekhilafahan dan pemilihan khalifah dalam bentuk seperti ini serta sikap umat yang langsung menyetujui dan merestui, semua itu menjadi bukti yang menunjukkan bahwa mereka sepakat bahwa sistem yang diciptakan oleh Rasulullah harus tetap survive, bahwa Rasulullah meskipun telah meninggal dunia namun beliau telah meninggalkan sebuah agama dan Kitab yang menjadi pedoman dan petunjuk mereka dalam melangkah.

Persetujuan dan restu umat pada waktu itu adalah mengekspresikan dan mengungkapkan tentang sebuah keinginan terus berada dalam sistem yang diciptakan dan dibangun oleh Nabi Muhammad.

Pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dinikmati oleh kaum muslimin dalam waktu yang tidak lama. Dalam masa pemerintahannya yang tidak lama tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq telah mendefinisikan kekuasaan dan otoritas tertinggi dengan sebuah pidato yang brilian tersebut pada standar sistem-sistem pemerintahan pada masa itu dan pada masa sekarang.

Sebuah pemerintahan permusyawaratan yang para pencari kebebasan dan keadilan di setiap masa sangat langka bisa menemukan politik memimpin dan memerintah bangsa yang lebih baik dari pemerintahan tersebut yang dipimpin oleh seorang murid yang paling brilian, paling cerdas, paling alim, dan paling besar keimanannya dari sang maha guru Nabi Muhammad, yaitu murid yang bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Imam Malik menyatakan bahwa seseorang tidak bisa menjadi seorang pemimpin kecuali harus dengan syarat tersebut, yaitu sejumlah statemen agung yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pidato politiknya yang pertama.

Pengelolaan Urusan-urusan dalam Negeri

Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin merealisasikan politik dan kebijakan negara yang telah ia gariskan dan menunjuk sejumlah sahabat sebagai para pembantu dalam melaksanakan hal tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjuk Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai bendahara umat ini (menteri keuangan) yang diserahi mandat untuk mengelola urusan-urusan Baitul Mal.

Sementara Umar bin Al-Khathab memegang jabatan peradilan (kementerian atau departemen kehakiman) yang juga dijalankan langsung oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq sendiri. Sedangkan Zaid bin Tsabit menjabat sebagai sekretaris (menteri pos dan komunikasi). Terkadang tugas ini juga dilakukan oleh sahabat yang ada seperti Ali bin Abu Thalib atau Utsman bin Affan.

Kaum muslimin memberikan julukan khalifah Rasulullah kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai panggilan resminya. Para sahabat melihat perlunya membuat agar bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq bisa sepenuhnya fokus menjalankan kekhilafahan tanpa dibebani urusan kebutuhan hidup. Sebelumnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang saudagar yang setiap hari pergi ke pasar untuk menjual barang sekaligus kulakan barang. Lalu ketika ia resmi diangkat sebagai khalifah, maka pada suatu pagi ia pergi ke pasar sambil membawa sejumlah pakaian untuk diperdagangkan. Lalu ia bertemu Umar bin Al-Khathab dan Abu Ubaidah, lalu mereka berdua berkata kepadanya, “Hendak pergi ke manakah Anda wahai Khalifah Rasulullah?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ke pasar.” Mereka berdua berkata, “Apa yang akan Anda lakukan, sedang Anda telah diangkat sebagai pemimpin kaum muslimin?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Dari mana aku memberi makan keluargaku?” Mereka berdua berkata, “Kalau begitu, mari pergi bersama kami untuk kami beri gaji tetap.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun pergi bersama mereka berdua, dan mereka pun memberikan gaji tetap kepadanya, yaitu separuh kambing setiap harinya.”

Dalam kitab, “Ar-Riyadh An-Nadhrah” disebutkan bahwa gaji Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah dua ratus lima puluh dinar setahun dan kambing yang diambil dari perut, kepala, dan kaki-kakinya. Namun itu tidak mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Para sahabat mengatakan, Abu Bakar Ash-Shiddiq memasukkan setiap dinar dan dirham yang ia miliki ke dalam Baitul Mal, lalu ia pergi ke Baqi’ dan melakukan transaksi di sana. Lalu Umar bin Al-Khathab datang dan mendapati sejumlah perempuan yang sedang duduk menunggu. Lalu Umar bin Al-Khathab berkata kepada mereka, “Apa urusan kalian?” Mereka menjawab, “Kami ingin bertemu Khalifah untuk mengadukan sejumlah perkara hukum kepadanya.” Lalu Umar bin Al-Khathab pun pergi mencari Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan ia mendapatinya di pasar. Lalu Umar bin Al-Khathab pun memegang tangannya dan berkata, “Mari ke sini.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Aku tidak membutuhkan kekuasaan kalian. Kalian memberiku gaji yang tidak mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan keluargaku.”

Lalu Umar bin Al-Khathab berkata, “Kami akan menaikkan gaji Anda.” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Tiga ratus dinar dan kambing penuh.” Umar bin Al-Khathab berkata, “Jika dalam jumlah seperti itu, aku tidak setuju.” Lalu datanglah Ali bin Abu Thalib, sedang mereka berdua masih dalam keadaan seperti itu, yaitu bernegosiasi membicarakan masalah gaji Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu Ali bin Abu Thalib berkata, “Penuhi saja.” Umar bin Al-Khathab berkata kepada Ali, “Anda setuju?” Ali bin Abu Thalib menjawab, “Ya.” Umar bin Al-Khathab pun berkata, “Baiklah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq pun kembali pulang, lalu naik ke atas mimbar dan orang-orang pun mulai berkumpul. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Wahai kalian semua, sesungguhnya gajiku sebelumnya adalah dua ratus lima puluh dinar dan kambing yang diambil dari perut, kepala, dan kakinya. Sesungguhnya Umar bin Al-Khathab dan Ali bin Abu Thalib menggenapkan gajiku menjadi tiga ratus dan kambing penuh, apakah kalian setuju?” Kaum Muhajirin pun menjawab, “Ya, kami setuju.”

Demikianlah, para sahabat berdasarkan pemahaman mereka yang tinggi tentang otoritas dalam bidang keagamaan dan amanat pemerintahan, mereka memberi pemimpin mereka gaji yang mencukupi baginya hingga tidak perlu lagi disibukkan oleh perniagaan, setelah ia menjadi pelayan umat yang menyita segenap waktu, tenaga, dan pikiran. Dengan begitu, mereka menetapkan sebuah konsep yang sangat baik dalam Islam yang memisahkan otoritas keuangan umat dari otoritas pemimpin.

Konsep ini tidak dikenal oleh bangsa Barat kecuali pada masa-masa sekarang ini. Karena sebelumnya, slogan “Apa yang untuk kaisar adalah hak kaisar” masih menjadi undang-undang yang mendominasi yang mereka rela berperang untuk membelanya dalam kurun waktu yang sangat lama. Ungkapan paling tepat yang membuktikan kepada kita tentang konsep mereka yang memasukkan otoritas keuangan Negara sepenuhnya ke dalam otoritas pemimpin adalah pernyataan raja Louis kelima belas, “Aku adalah Negara dan Negara adalah aku.” Ia adalah seorang bandar terkenal yang memperdagangkan kebutuhan pokok rakyatnya yang kelaparan, namun tidak ada satu orang pun yang melihat hal itu sebagai hal yang tabu dan tercela. Bukankah ia adalah pokok sedangkan bangsanya adalah cabang darinya?!

Di manakah posisi umat manusia hari ini dari para sahabat yang mulia tersebut? Setelah periode sahabat, keuangan dan kas Negara berubah menjadi berada di tangan segelintir orang yang mempergunakan keuangan Negara tersebut semaunya sendiri dan membelanjakannya seenaknya sendiri, sebagaimana mereka juga mendapatkan berbagai tunjangan dan fasilitas terselubung yang tiada terhitung. Lebih dari itu, mereka memiliki simpanan kekayaan yang bertumpuk-tumpuk di bank-bank asing di luar negeri, hingga negara-negara asing bisa meraup untuk yang luar biasa banyak dari kekayaan tersebut yang mayoritas dimiliki oleh para pemimpin bangsa-bangsa yang tertindas. Padahal, kekayaan tersebut sebesar apa pun jumlahnya, properti-properti tersebut berapa pun banyaknya, sesungguhnya semua itu tidak akan memberikan arti apa pun dan tidak akan memberikan kegunaan sedikit pun kepada pemiliknya.

Coba lihatlah Syah Iran, berapa besar kekayaan yang dimilikinya, namun di dunia ini akhirnya ia tidak menemukan tanah yang bisa menjadi tempatnya berpijak dan berlindung, sedangkan di akhirat maka kondisinya jauh lebih berat dan hisabnya sangat luar biasa mengerikan.

Maka dari itu, para pemimpin kaum muslimin mesti berkaca kepada sosok sahabat mulia ini yang mengelola Negara Islam pasca meninggalnya Rasulullah. Betapa indahnya pernyataannya berikut ini, “Sungguh kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan keluargaku, dan aku sekarang disibukkan dengan urusan kaum muslimin, maka keluarga Abu Bakar akan makan dari harta ini sementara ia bekerja untuk kepentingan kaum muslimin.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menegaskan sejumlah makna yang luar biasa bagus. Jabatan sebagai pemimpin agama dan pemerintahan itu sendiri sejatinya bukanlah sumber pemasukan. Adapun gaji yang ditetapkan untuknya itu, maka itu tidak lain adalah karena seorang pemimpin disibukkan oleh urusan umat hingga dirinya tidak memiliki waktu untuk urusan kebutuhan dan usaha bagi dirinya sendiri.

Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat telah menorehkan tinta emas di dahi zaman, hingga umat manusia berusaha untuk naik dan naik ke tangga-tangga perkembangan dan kemajuan, namun ternyata mereka tetap berada di tempat.

Abu Bakar Ash-Shiddiq meniti jalan dalam membangun Negara Islam dengan sungguh-sungguh, aktif, progresif dan energik, memperhatikan bangunan internal dengan tidak membiarkan ada celah sedikit pun yang berpotensi mempengaruhi bangunan yang besar, kokoh, dan menjulang tinggi yang diwariskan oleh Rasulullah. Hal itu salah satunya dengan cara memberikan perhatian yang sangat besar kepada rakyat, dan dalam hal ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki catatan dan sepak terjang yang sangat mengesankan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga memberikan porsi perhatian yang khusus kepada dunia peradilan dan penegakan hukum, terus memantau dan mengawal para pejabat negara, dan senantiasa meniti manhaj Nabawi dalam setiap langkahnya. Berikut ini sedikit uraian seputar langkah-langkah politik Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut:

A. Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam masyarakat

Abu Bakar Ash-Shiddiq hidup di tengah-tengah kaum muslimin sebagai khalifah Rasulullah. Ia tidak membiarkan ada kesempatan lewat melainkan selalu ia manfaatkan untuk mengajari rakyat, amar makruf dan nahi munkar. Langkah dan sepak terjang Abu Bakar Ash-Shiddiq memancarkan petunjuk, keimanan, dan akhlak kepada semua orang yang ada di sekelilingnya. Di antaranya adalah:

  • Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq memerah susu kambing, kisahnya dengan seorang nenek-nenek buta, dan kisahnya mengunjungi Ummu Aiman.

Sebelum menjabat kekhilafahan, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerah susu kambing untuk kepentingan warga klan. Kemudian ketika ia resmi dilantik sebagai khalifah, ada seorang perempuan dari warga klan berkata, “Sekarang dia (Abu Bakar Ash-Shiddiq) sudah tidak akan lagi memerah susu kambing untuk kita.” Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mendengar perkataan perempuan tersebut, lalu ia berkata, “Sungguh, aku akan tetap memerahkan susu untuk kalian, dan aku berharap posisi dan statusku saat ini tidak mengubahku dari kebiasaan yang sebelumnya aku lakukan.” Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun tetap memerahkan susu kambing mereka. Ketika para perempuan warga klan datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka ia berkata kepada mereka, “Apakah aku memerahnya dengan cara supaya ada buihnya ataukah tidak?” Demikianlah, Abu Bakar Ash-Shiddiq tinggal di As-Sunh dengan melakukan aktivitas tersebut selama enam bulan, kemudian ia turun ke Madinah.

Dalam riwayat di atas, tergambar sebagian dari akhlak Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut adalah sebuah sikap tawadhu’ yang besar dari sosok yang besar, besar usianya, kedudukannya dan kehormatannya, hal mana ia adalah khalifah kaum muslimin.

Abu Bakar Ash-Shiddiq berusaha agar kekhilafahan yang ada tidak mengubah apa pun dari interaksi dan komunikasi sosialnya dengan orang lain, meskipun itu akan menyita waktu yang sebenarnya sangat ia butuhkan. Sebagaimana perbuatan tersebut menunjukkan kita tentang seberapa tingginya para sahabat menilai, memandang dan menghargai amal-amal kebajikan dan amal-amal sosial, sekalipun itu menyita banyak tenaga dan waktu.

Itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq, dengan niat dan keinginan yang tulus dan jujur, keteguhan dan ketegaran tekadnya yang luar biasa, ia mampu mengalahkan jazirah Arab dan menundukkannya kepada agama Allah. Kemudian ia memobilisasi jazirah Arab di bawah panji-panjinya untuk melawan dan menghadapi dua negara besar dan adi daya yang ada di muka bumi waktu itu, dan akhirnya ia berhasil menang dan mengalahkannya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia memerahkan susu kambing para kaum perempuan warga klan dan berkata, “Aku berharap semoga posisi dan status yang aku masuki saat ini tidak mengubah apa pun yang sebelumnya biasa aku lakukan.” Padahal posisi dan status yang ia masuki bukanlah sesuatu yang sepele, tetapi itu adalah khilafah Rasulullah, memimpin bangsa Arab dan mengepalai pasukan militer yang bergerak untuk mencerabut hegemoni kediktatoran Persia dan arogansi Romawi, lalu menggantinya dengan menara keadilan, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Kemudian ia mengharap semua itu tidak mengubah apa pun yang ada pada dirinya dan tidak menghalangi dirinya dari memerahkan susu kambing-kambing warga klan.

Sesungguhnya di antara buah hasil keimanan kepada Allah adalah akhlak yang terpuji. Di antaranya adalah akhlak tawadhu dan rendah hati yang menjelma dalam kepribadian Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kisah tersebut dan kisah-kisah yang lain.

Jika tali kendali untanya terjatuh, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq turun dan mengambilnya sendiri. Lalu dikatakan kepadanya, “Seandainya Anda menyuruh kami untuk mengambilkan tali kendali itu.” Lalu apa jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Rasulullah memerintahkan kita untuk tidak meminta sesuatu kepada manusia.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq telah meninggalkan untuk kita sebuah contoh hidup tentang pemahaman dan implementasi akhlak tawadhu’ dan rendah hati yang terilhami dari firman Allah yang artinya,

“Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim.” (Al-Qashash: 39-40).

Dan dari sabda Rasulullah, “Shadaqah tidak mengurangi sedikit pun harta, Allah tidak menjadikan seorang hamba dengan sikapnya yang mau memaafkan melainkan semakin mulia, dan seseorang tidak bersikap tawadhu’ karena Allah melainkan Allah semakin mengangkatnya.

Akhlak yang satu ini telah mendorong Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk senantiasa mengabdi dan melayani kaum muslimin terutama orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang lemah. Diriwayatkan oleh Abu Shalih Al-Ghifari, bahwasanya Umar bin Al-Khathab dulu malam-malam biasa menjenguk seorang nenek-nenek renta yang buta yang tinggal di pinggiran Madinah dengan maksud untuk membantunya mengambil kebutuhan air dan berbagai keperluannya yang lain. Namun jika ia datang, maka ternyata ada saja orang lain yang telah mendahului dirinya membantu berbagai keperluan si nenek renta itu. Maka, Umar bin Al-Khathab pun tidak hanya sekali datang supaya tidak ada orang yang mendahuluinya, lalu ia mencoba mengintip siapa orang yang selalu mendahuluinya itu, dan ternyata orang itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, padahal waktu itu Abu Bakar Ash-Shiddiq sudah menjadi khalifah.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ia berkata, “Setelah meninggalnya Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Umar bin Al-Khathab, “Wahai Umar, mari kita pergi mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah.” Lalu ketika beliau berdua sampai di rumah Ummu Aiman, maka ia pun menangis. Melihat hal itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar berkata kepadanya, “Apa yang membuat Anda menangis? Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasulullah.” Ummu Aiman berkata, “Aku menangis bukan karena aku tidak tahu kalau apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi Rasulullah, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.” Jawaban Ummu Aiman itu menyentuh dan mengharukan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar, hingga keduanya ikut menangis.”

  • Nasihat Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada seorang perempuan yang bernadzar tidak akan berbicara kepada siapa pun.

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa melarang perbuatan-perbuatan Jahiliyah dan kebid’ahan dalam agama, senantiasa menyeru kepada amal-amal perbuatan Islam dan memegang teguh As-Sunnah. Diriwayatkan oleh Qais bin Abu Hazim, “Suatu ketika, Abu Bakar Ash-Shiddiq menemui seorang perempuan dari Ahmas bernama Zainab. Abu Bakar Ash-Shiddiq melihatnya tidak berbicara sepatah kata pun. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Kenapa perempuan ini tidak mau berbicara sepatah kata pun?” Orang-orang menjawab, “Ia berniat haji bisu.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Bicaralah, karena apa yang kamu lakukan itu (yaitu nadzar untuk membisu) tidak boleh, dan itu termasuk perbuatan dan tradisi jahiliyah.” Lalu perempuan itu pun akhirnya berbicara, lalu berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Siapakah Anda?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Aku dari kaum Muhajirin.” Si perempuan kembali bertanya, “Muhajirin yang mana?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Dari Quraisy?” Si perempuan kembali bertanya, “Dari Quraisy mana Anda?” Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Kamu ini orang yang banyak tanya, aku Abu Bakar.” Si perempuan itu berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, sampai kapan kita berada dalam suasana yang shaleh ini yang didatangkan Allah setelah Jahiliyah?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Selama para imam kalian istiqamah, lurus, komitmen, dan konsisten meneguhinya.” Si perempuan kembali bertanya, “Siapakah para imam itu?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Bukankah kaummu memiliki para pemimpin, tokoh, pemuka, dan tetua yang dipatuhi perintahnya?” Si perempuan berkata, “Benar.” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Maka, mereka itulah para imam milik orang-orang.”

Al-Khathabi menuturkan, di antara ritual Jahiliyah adalah membisu. Biasanya ada salah seorang dari mereka beriktikaf sehari semalam sambil membisu. Lalu mereka pun dilarang dari kebiasaan tersebut dan diperintahkan untuk berbicara mengucapkan kata-kata yang baik. Perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq di atas dijadikan sebagai landasan dalil ulama yang mengatakan bahwa barang siapa bersumpah untuk tidak berbicara, maka dianjurkan kepadanya untuk berbicara dan tidak melaksanakan sumpahnya itu, dan tidak ada kafarat sumpah atas dirinya.

Karena dalam riwayat di atas, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak memerintahkan si perempuan untuk membayar kafarat. Analoginya adalah barang siapa yang bernadzar untuk tidak bicara, maka nadzarnya itu tidak jadi. Karena Abu Bakar Ash-Shiddiq menyebut perbuatan seperti itu adalah tidak halal dan bahwa itu termasuk perbuatan Jahiliyah, bahwa Islam telah meruntuhkan hal itu, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak mengatakan seperti itu melainkan berdasarkan suatu pengetahuan dari Rasulullah, sehingga perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut memiliki status hadits marfu’.

Ibnu Hajar menuturkan, adapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang diam dan keutamaannya, maka tidak ada pertentangan di antara keduanya, karena pengertian yang dimaksudkan berbeda. Diam yang dianjurkan adalah, meninggalkan perkataan-perkataan bathil, juga perkataan mubah jika berpotensi menyeret kepada perkataan bathil. Sedangkan diam yang dilarang adalah, tidak mau berbicara dalam kebenaran bagi orang yang mampu melakukannya, begitu juga dalam hal yang murni mubah yang tidak berpotensi menyeret kepada hal yang bathil. Wallahu A’lam.

  • Perhatian Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap amar makruf nahi munkar.

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa menjalankan amar makruf nahi munkar, menjelaskan kepada orang-orang tentang hal-hal yang masih kabur dan belum jelas bagi mereka. Diriwayatkan oleh Qais bin Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Abu Bakar Ash-Shiddiq membaca ayat 105 surah Al-Ma`idah, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kamu telah mendapat petunjuk.” Lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kaum ketika mereka melihat kemungkaran, lalu mereka tidak tanggap untuk mengubahnya, maka Allah akan menimpakan adzab yang massive terhadap mereka semua.”

Dalam sebuah versi riwayat lain disebutkan, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Wahai orang-orang, sesungguhnya kalian membaca ayat ini (ayat 105 surah Al-Ma`idah) dan meletakkannya tidak pada tempatnya, dan sesungguhnya kami mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang, ketika mereka melihat seseorang berbuat zhalim, lalu mereka tidak memegang tangannya (mencegahnya), maka Allah akan segera menimpakan adzab yang massive atas mereka semua.”

An-Nawawi menuturkan, “Adapun ayat 105 surah Al-Ma`idah, maka itu sama sekali tidak bertentangan dengan kewajiban amar makruf nahi munkar. Karena pendapat yang shahih menurut para ulama muhaqqiq tentang makna ayat ini adalah, bahwa jika kalian telah melaksanakan apa yang ditaklifkan kepada kalian, maka tindakan teledor orang lain yang tidak melaksanakan tidak mendatangkan madharat apa-apa terhadap kalian dan tidak membahayakan kalian, karena kalian telah melaksanakan kewajiban kalian dan seseorang tidak memikul beban dosa orang lain, setiap orang memikul dosanya sendiri-sendiri sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri).” (Al-An’am: 164).

Jika demikian, maka di antara hal yang ditaklifkan dan diwajibkan adalah amar makruf nahi munkar. Jika seseorang telah melaksanakannya, sementara ada orang lain yang tidak mau melaksanakannya, maka orang yang telah melaksanakannya tidak dipersalahkan, karena ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa mendorong orang-orang untuk konsisten pada kebenaran. Diriwayatkan oleh Maimun bin Mahran, bahwasanya ada seorang laki-laki mengucapkan salam kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “As-Salamu ‘alaika wahai Khalifah Rasulullah (dengan menggunakan bentuk kata orang kedua tunggal, yaitu ’alaika).” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Apakah kamu mengucapkan salam hanya kepadaku saja di antara semua orang itu?”

Abu Bakar Ash-Shiddiq terkadang meninggalkan amalan sunnah karena khawatir muncul persepsi keliru yang mengira itu adalah amalan wajib atau fardhu. Diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Usaid, bahwasanya ia berkata, “Aku melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab, dan beliau berdua tidak mengerjakan shalat dhuha karena khawatir akan selalu ditiru dan diikuti (dikira wajib oleh orang yang tidak tahu).”

Abu Bakar Ash-Shiddiq berpesan kepada putranya yang bernama Abdurrahman untuk selalu berbuat baik kepada para tetangga. Pada suatu ketika, Abdurrahman sedang cekcok dengan tetangganya, lalu Abu bakar Ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Janganlah kamu bertengkar dengan tetanggamu, karena tetanggamu itu akan tetap ada bersamamu sementara orang lain pergi.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Ketika melaksanakan ibadah umrah pada bulan Rajab tahun dua belas hijriyah, Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk Makkah pada pagi hari, lalu ia pergi ke rumahnya, sedang waktu itu ayahnya, Abu Quhafah sedang duduk di pintu rumah ditemani beberapa anak muda. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah, “Itu putramu datang.” Lalu Quhafah pun langsung bangkit berdiri. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun bergegas menderumkan untanya dan langsung meloncat turun ketika untanya masih berdiri untuk menemui ayahnya dengan penuh bakti. Orang-orang pun berdatangan mengucapkan salam kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “wahai orang yang memerdekakan orang-orang itu lalu mempergauli mereka dengan baik.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Ayah, tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan izin dan kehendak Allah, itu semua adalah perkara besar yang diriku tiada memiliki kemampuan dan kuasa apa pun untuk melakukannya kecuali dengan izin dan taufik Allah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki perhatian khusus pada shalat dan kekhusyuannya serta menunaikan ibadah sebaik mungkin. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah menoleh ke sana ke mari ketika shalat. Penduduk Makkah menuturkan, Ibnu Juraij belajar tata cara shalat dari Atha`, sementara Atha` dari Ibnu Az-Zubair, sementara bin Az-Zubair dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq dari Rasulullah Abdur Razzaq mengatakan, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih baik shalatnya dari Ibnu Juraij.

Diriwayatkan oleh Anas, ia berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq mengimami shalat shubuh dan membaca surah Al-Baqarah di dua rakaatnya. Ketika selesai, Umar bin Al-Khathab berkata kepadanya, “Wahai Khalifah Rasulullah, Anda tidak selesai shalat melainkan kami melihat matahari sudah terbit.” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Seandainya matahari itu telah terbit, maka ia tidak mendapati kami orang-orang yang lalai.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa menganjurkan orang-orang untuk sabar dan tabah menghadapi berbagai musibah. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada orang yang sedang berduka karena meninggalnya seseorang, “Tidak ada yang namanya musibah beserta sikap sabar dan tabah, sikap tidak sabar dan tidak tabah adalah tidak ada faedahnya. Kematian lebih ringan dari sebelumnya dan lebih berat dari setelahnya. Ingatlah ketika kalian kehilangan Rasulullah, maka musibah kalian menjadi kecil dan sepele dan Allah memberi kalian pahala yang agung.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan kata-kata takziyah (penghibur supaya sabar) kepada Umar bin Al-Khathab ketika ia kehilangan anaknya yang masih kecil karena meninggal dunia, “Semoga Allah memberimu ganti sama seperti Dia memberinya ganti.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa memperingatkan dan mewanti-wanti kaum muslimin terhadap perbuatan zhalim, melanggar janji, dan tipu daya dan makar. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ada tiga perkara yang barang siapa ketiga perkara itu ada pada dirinya, maka ketiga perkara itu menjadi bencana bagi dirinya, yaitu perbuatan aniaya, melanggar janji dan perbuatan tipu daya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa memberikan mauizhah, nasihat, dan mengingatkan mereka kepada Allah. Di antara nasihat Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah, “Kegelapan ada lima dan pelita ada lima. Cinta dunia adalah kegelapan dan pelitanya adalah ketakwaan. Perbuatan dosa adalah kegelapan dan pelitanya adalah taubat. Kubur adalah kegelapan dan pelitanya adalah kalimat tauhid la ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah (tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah). Akhirat adalah kegelapan dan pelitanya adalah amal shaleh. Shirath adalah kegelapan dan pelitanya adalah keyakinan dan keimanan.”

Lewat mimbar Jum’at, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan sikap jujur dan malu, senantiasa sadar, mengambil pelajaran, dan bersiap-siap untuk menghadap Allah, serta memperingatkan terhadap sikap terperdaya dan lupa diri.

Diriwayatkan oleh Ausath bin Isma’il, ia berkata, “Aku mendengar Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan pidato satu tahun pasca meninggalnya Rasulullah, “Rasulullah berdiri di antara kami di tempat ini satu tahun yang lalu.”

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis hingga membuatnya tidak bisa berkata-kata, kemudian setelah itu ia berkata, “Wahai orang-orang, mintalah ’afiyah (kondisi yang baik) kepada Allah, karena tidak ada sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dari ’afiyah setelah keimanan dan keyakinan. Konsisten dan persisten lah kalian pada kebenaran dan kejujuran, karena kebenaran dan kejujuran adalah beserta ketaatan dan keshalehan, dan keduanya adalah di Surga. Jauhilah perbuatan bohong, karena perbuatan bohong beserta kebejatan, dan keduanya di neraka.

Janganlah kalian saling memutus hubungan, saling menjauhi, saling membenci, dan saling hasud. Jadilah kalian semua orang-orang yang bersaudara wahai hamba-hamba Allah.”

Az-Zubair bin Al-Awwam berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq berpidato, “Wahai kaum muslimin, malulah kalian kepada Allah, maka demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya setiap kali aku buang hajat, maka aku menutupi kepalaku dengan pakaianku karena malu kepada Tuhanku.”

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Hakim, ia berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq berpidato kepada kami.” Amma ba’du, aku berwasiat kepada kalian semua untuk senantiasa persisten dalam menjaga ketakwaan kepada Allah, memanjatkan puja-puji kepada-Nya, mengombinasikan antara harapan (raghbah) dan kecemasan (rahbah), dan ketika berdoa maka dibumbui dengan penuh kekhusyuan dan sungguh-sungguh. Karena Allah memuji nabi Zakariya dan keluarganya dalam firman-Nya yang artinya,

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya`: 90).

Kemudian ketahuilah wahai para hamba Allah, bahwa sesungguhnya Allah telah menerima penggadaian jiwa kalian dengan hak-Nya dan mengambil perjanjian kalian atas itu, maka Dia pun rela membeli sesuatu yang sedikit dan fana dengan harga berupa sesuatu yang banyak dan kekal.

Ini Kitabullah ada di tengah-tengah kalian, keajaiban-keajaibannya tidak akan pernah habis dan sinarnya tidak akan pernah padam. Maka, benarkanlah firman-Nya, jadikanlah Kitab-Nya sebagai penasihat dan sebagai sumber cahaya bagi kalian pada hari kegelapan. Sesungguhnya Allah menciptakan kalian tidak lain dan tidak bukan adalah untuk beribadah, menugaskan para malaikat penulis yang mengetahui apa yang kalian kerjakan. Kemudian ketahuilah wahai para hamba Allah, sesungguhnya kalian datang dan pergi dalam ajal (batas waktu) yang dirahasiakan pengetahuannya dari kalian. Maka, berusahalah kalian agar supaya ketika ajal berakhir, kalian sedang mengerjakan amal kebajikan karena Allah, dan kalian tidak akan bisa melakukan hal itu melainkan dengan izin dan taufik-Nya. Maka, berlomba-lombalah kalian dalam jangka waktu ajal kalian yang masih ada sebelum ajal kalian berakhir lalu mengembalikan kalian kepada seburuk-buruk amal kalian (sudah tidak bisa lagi beramal).

Karena sesungguhnya ada sejumlah kaum yang menjadikan ajal mereka untuk orang lain dan melupakan diri mereka sendiri, maka aku mencegah kalian jangan sampai seperti mereka. Bergegaslah, bergegaslah, cepat, cepat, karena di belakang kalian ada yang mengejar kalian yang langkahnya sangat cepat.”

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, “Di mana sekarang orang-orang yang kalian ketahui dan kenal dari saudara-saudara kalian dan sahabat-sahabat kalian?! Mereka telah sampai kepada apa yang sebelumnya mereka kerjakan, maka mereka memperoleh kesengsaraan dan kebahagiaan. Di manakah orang-orang yang sombong dan tiran yang telah membangun kota-kota dan mengelilinginya dengan tembok-tembok?! Mereka sekarang ini telah berada di bawah tanah, bebatuan, dan lubang-lubang galian. Di manakah orang-orang yang berwajah bersih dan elok yang bangga dengan kegagahan dan kemudaan mereka?! Di manakah para raja?! Di manakah orang-orang yang diberi kemenangan dan kejayaan di medan-medan pertempuran?!

Zaman telah meruntuhkan dan menghancurkan mereka, maka mereka pun berada dalam kegelapan-kegelapan liang kubur. Tiada nilai kebaikan apa pun pada perkataan yang tidak karena Allah, tiada nilai kebaikan apa pun pada harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah, tiada nilai kebaikan apa pun pada seseorang yang kejahilan dan sikap imprudentnya mengalahkan kesantunan dan sikap prudentnya, dan tiada nilai kebaikan apa pun pada orang yang takut kepada celaan orang yang mencela dalam menegakkan kebenaran. Sesungguhnya tidak ada kata “nepotisme” bagi Allah kepada siapa pun dari makhluknya yang karenanya Dia memberinya kebaikan dan menghalau kejelekan darinya melainkan dengan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya.

Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada suatu kebaikan yang setelahnya adalah Neraka, dan tidak ada keburukan pada suatu keburukan yang setelahnya Surga. Ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang kalian murnikan hanya untuk Allah, maka itu adalah ketaatan yang kalian kerjakan dan hak yang kalian peroleh akan menjadi persediaan kalian ketika kalian sedang membutuhkannya.

Aku berwasiat kepada kalian untuk senantiasa persisten di atas ketaatan kepada Allah, memanjatkan puja-puji kepada-Nya dengan apa yang memang menjadi hak-Nya dan pantas bagi-Nya, serta senantiasa beristighfar memohon ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Demikianlah apa yang aku sampaikan dan aku memohon maghfirah kepada Allah untuk diriku dan kalian semua.”

Demikianlah, Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki perhatian besar kepada masyarakat, menasihati mereka, mengajak mereka kepada kebaikan, menyuruh berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dan ini adalah keterangan tentang sekelumit dari jejak langkah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

B. Dunia Peradilan Pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Periode kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dinilai sebagai permulaan periode Al-Khulafa’urrasyidin yang signifikansinya tergambar jelas karena hubungan dan kedekatannya dengan periode kenabian. Periode Al-Khulafa’urrasyidin secara umum dan aspek dunia peradilan secara khusus adalah kelanjutan dan kepanjangan dari dunia peradilan pada periode kenabian dengan menjaga dan mempertahankan semua apa yang tertetapkan pada periode kenabian secara total, penuh dan utuh, mengimplementasikannya secara utuh dan merealisasikannya secara penuh dengan nash dan maknanya. Signifikansi periode Ar-Rasyidi (Al-Khulafa’urrasyidin) dalam dunia peradilan terlihat jelas dengan dua hal mendasar berikut ini,

Pertama, mempertahankan dan menjaga nash-nash periode kenabian dalam dunia peradilan, terikat penuh dengannya, berjalan dalam rel-relnya dan konsisten secara penuh terhadapnya.

Kedua, meletakkan sejumlah aturan dan regulasi peradilan baru untuk mengokohkan pilar-pilar Daulah Islamiyah yang luas dan menghadapi berbagai perkembangan terkini yang beragam.

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang langsung menangani peradilan dan menjadi hakim ketika ada kasus hukum dilaporkan kepadanya. Pada periode Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kekuasaan peradilan (yudikatif) tidak dipisahkan dari kekuasaan yang memerintah (eksekutif). Pada periode tersebut, peradilan belum memiliki bentuk kekuasaan yang berdiri sendiri, sama seperti yang berlangsung pada masa Rasulullah. Karena waktu itu kaum muslimin masih sangat dekat dari periode kenabian, masih memiliki konsistensi yang sangat tinggi terhadap petunjuk dan tuntunan Islam, serta kehidupan mereka masih berlandaskan pada syariat Islam dengan begitu kental. Sangat jarang sekali terjadi perselisihan dan kasus hukum yang serius di antara mereka.

Di Madinah, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjuk Umar bin Al-Khathab sebagai pembantunya dalam menjalankan fungsi peradilan dan kehakiman, supaya ia membantu khalifah dalam sejumlah kasus hukum. Namun itu tidak lantas berarti Umar bin Al-Khathab memegang kekuasaan peradilan yang independen dan berdiri sendiri. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq masih tetap mempertahankan sebagian besar qadhi (hakim) dan para pejabat pemerintah dalam berbagai bidang yang diangkat oleh Rasulullah sebelumnya dan mereka masih menjalankan tugas peradilan atau sebagai pejabat pemerintahan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Di bagian mendatang, kami akan menyinggung tentang para pejabat pemerintahan pada waktu itu dengan tugas-tugas mereka insya Allah.

Adapun sumber hukum peradilan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah, pertama, Al-Qur`an. Kedua, As-Sunnah An-Nabawiyah, termasuk putusan-putusan hukum Rasulullah. Ketiga, Ijma’ dengan cara bermusyawarah, konsultasi, meminta masukan, pandangan dan pendapat para ulama. Keempat, ijtihad, pertimbangan dan penilaian pribadi, ketika tidak ditemukan referensi dari Al-Qur`an, As-Sunnah atau Ijma’ yang bisa dijadikan dasar untuk memberikan putusan hukum.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika ada suatu kasus hukum, maka pertama kali ia akan merujuk kepada Al-Qur`an untuk mencari keterangan yang bisa menjadi dasar dalam memberikan putusan hukum. Jika tidak menemukan dalam Al-Qur`an, maka ia beralih kepada As-Sunnah An-Nabawiyah. Jika tetap tidak menemukan, maka ia akan bertanya kepada orang-orang, “Apakah kalian mengetahui ada putusan hukum yang pernah dikeluarkan Rasulullah dalam kasus seperti ini?” Ketika itu, terkadang ada sebagian orang yang tahu dan mengatakan bahwa dalam kasus seperti itu, Rasulullah pernah mengeluarkan putusan hukum begini dan begini. Ketika itu, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memberikan putusan seperti yang pernah dikeluarkan oleh Rasulullah tersebut, dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara kami orang yang mengingat dan menghafal dari Nabi kita.”

Jika Abu Bakar Ash-Shiddiq sudah bertanya kepada orang-orang, namun tidak ada yang tahu, maka ia akan memanggil para tokoh, pemuka dan ulama kaum muslimin untuk meminta masukan, pendapat dan pandangan mereka. Lalu ketika mereka sudah sampai kepada pendapat yang disepakati dengan suara bulat, maka selanjutnya Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menggunakannya untuk memberikan putusan hukum untuk kasus hukum yang ada.

Terlihat bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memandang bahwa syura atau hasil musyawarah yang disepakati dengan suara bulat oleh majelis syura adalah bersifat mengikat, karena imam atau pemimpin tidak boleh menentang hasil kesepakatan mereka.

Itu adalah keterangan tentang aspek peradilan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika ahli syura menyepakati satu pendapat dengan suara bulat, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq akan menggunakannya sebagai landasan dalam memberikan putusan hukum.

Dan hal ini pula yang Abu Bakar Ash-Shiddiq perintahkan kepada Amr Ibn Al-’Ash ketika ia mengirimkan Khalid bin Al-Walid kepadanya sebagai suplai pasukan bantuan, “Bermusyawarahlah kamu dengan mereka, mintalah masukan, pendapat dan pandangan dari mereka, dan janganlah kamu menentang mereka.”

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat berhati-hati dalam menerima informasi. Diriwayatkan oleh Qubaishah bin Dzu`aib, bahwasanya ada seorang nenek datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta agar ia mendapatkan bagian warisan. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta agar ia mendapatkan bagian warisan. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Aku tidak menemukan keterangan apa pun dalam Al-Qur`an yang menyebutkan kalau kamu mendapatkan bagian warisan, demikian pula aku tidak mengetahui Rasulullah menyebutkan bagian warisan untukmu.” Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya kepada orang-orang. Lalu Al-Mughirah berdiri dan berkata, “Aku menyaksikan Rasulullah memberi bagian seperenam kepada nenek.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Apakah ada orang lain selain kamu yang mengetahui hal itu?” Lalu bin Maslamah pun memberikan kesaksian yang sama. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menerapkannya untuk nenek, yaitu bahwa nenek mendapatkan bagian seperenam.

Abu Bakar Ash-Shiddiq melihat, bahwa seorang qadhi tidak boleh memberikan putusan hukum berdasarkan pengetahuan pribadinya, kecuali jika ada saksi lain selain dirinya yang menguatkan dan mengkonfirmasi pengetahuannya itu. Diriwayatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwasanya ia berkata, “Seandainya aku melihat seseorang melakukan suatu perbuatan yang diancam dengan hukuman hadd, maka aku tidak menghukumnya hingga ada bayyinah (saksi) atas dirinya, atau aku memiliki seorang saksi lain selain diriku.”

  • Kasus qishash.

Ali bin Majidah As-Sahmi berkata, “Aku bertengkar dengan seorang laki-laki, lalu aku berhasil memotong sebagian telinganya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dalam rangka untuk beribadah haji. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dalam rangka untuk beribadah haji. Lalu kasus kami tersebut dilaporkan kepadanya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Umar bin Al-Khathab, “Coba dilihat dan diselidiki, apakah luka yang terjadi sudah bisa menetapkan hukum qishash.” Umar bin Al-Khathab berkata, “Ya. Jika begitu, aku harus mencari tukang bekam.” Ketika disebutkan tukang bekam, Abu Bakar Ash-Shiddiq lantas berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Aku menghibahkan seorang budak laki-laki kepada bibiku, aku berharap semoga budak itu diberkahi untuk bibiku, dan aku melarang bibiku menjadikan budak laki-laki itu sebagai tukang bekam, atau tukang potong hewan, atau pekerja tangan.”

  • Nafkah orang tua menjadi kewajiban anak.

Diriwayatkan oleh Qais bin Hazim, ia berkata, “Aku berada bersama-sama Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu ada seorang laki-laki berkata kepadanya, “Wahai Khalifah Rasulullah, orang ini (maksudnya adalah ayahnya) ingin mengambil hartaku semuanya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada ayahnya, “Sesungguhnya apa yang boleh kamu ambil dari harta anakmu adalah secukupnya.” Lalu si ayah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, bukankah Rasulullah telah bersabda, “Kamu dan hartamu adalah untuk bapakmu.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ridha dan puaslah kamu dengan apa yang diridhai Allah.” Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Al-Mundzir bin Ziyad, dan di dalamnya ia berkata, “Yang ia maksudkan adalah nafkah.”

  • Pembelaan diri yang legal.

Diriwayatkan oleh Abu Mulaikah dari kakeknya, bahwasanya ada seorang laki-laki menggigit tangan laki-laki lain, lalu laki-laki yang digigit itu melepaskan tangannya hingga menyebabkan gigi si penggigit ada yang rontok. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq menyatakan bahwa rontoknya gigi tersebut adalah sia-sia (tidak ada qishash untuknya).

  • Hukuman dera.

Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’ bahwasanya Shafiyyah binti Abu Ubaid mengabarkan kepadanya, bahwasanya ada seorang laki-laki dihadapkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Laki-laki itu telah berbuat zina dengan seorang gadis perawan, hingga menyebabkan hamil. Kemudian laki-laki itu pun mengaku kalau dirinya memang telah berbuat zina. Laki-laki itu belum lah berstatus muhshan. Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memerintahkan agar laki-laki itu dihukum hadd dera, kemudian diasingkan ke wilayah Fadak.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menjatuhi hukuman dera atas si gadis dan tidak pula diasingkan, dengan alasan karena ia diperkosa. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq menikahkan si gadis itu dengan laki-laki tersebut.

  • Hak asuh anak adalah di tangan ibu selama ia belum menikah lagi.

Umar bin Al-Khathab menceraikan istrinya yang berasal dari Anshar, ia adalah ibu dari putranya yang bernama Ashim. Lalu Umar bin Al-Khathab melihat mantan istrinya itu di Muhassir bersama dengan si Ashim. Waktu itu si Ashim sudah disapih dan bisa berjalan. Lalu Umar bin Al-Khathab pun memegang tangan si Ashim untuk merebutnya dari tangan ibunya, hingga akhirnya terjadilah saling tarik menarik hingga menyebabkan si Ashim kesakitan dan menangis. Umar bin Al-Khathab berkata, “Aku lebih berhak terhadap anakku daripada kamu.” Lalu Umar pun mengadukan kasus tersebut kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memenangkan si ibu, yaitu bahwa si ibu lah yang lebih berhak untuk mengasuh si anak tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Bau si ibu, dekapan dan pelukannya, dan tempat tidurnya (pengasuhan dan perawatan si ibu) adalah lebih baik bagi si anak ini daripada kamu, hingga si anak menginjak remaja dan selanjutnya bisa memilih sendiri ingin ikut siapa.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Ia (si ibu) lebih halus, lebih lembut, lebih penyayang, dan ia lebih berhak terhadap anaknya selama ia belum menikah lagi.”

Itulah beberapa kasus dan putusan hukum yang terjadi pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Peradilan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki sejumlah karakteristik seperti berikut:

  1. Peradilan pada era Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan kepanjangan dari wajah peradilan pada periode kenabian (masa Rasulullah). Hal itu termanifestasikan dalam bentuk komitmen total terhadap peradilan pada masa Rasulullah, meniru manhajnya, semaraknya nuansa tarbiyah diniyah, keterikatan dengan iman dan akidah, lebih mengedepankan kontrol agama, proses pengajuan perkara yang sederhana dan simpel, prosedur peradilan yang singkat, serta minimnya kasus-kasus hukum.
  2. Putusan-putusan hukum peradilan yang ada pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi bahan kajian dan rujukan para peneliti, menjadi pusat perhatian fuqaha, menjadi sumber referensi hukum-hukum syara’, sumber berbagai ijtihad hukum peradilan serta sumber pendapat-pendapat fikih di berbagai masa.
  3. Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sebagian pejabat pemerintahannya waktu itu juga menangani berbagai kasus hukum dan persengketaan serta menjalankan fungsi yudikatif (hakim) di samping fungsi eksekutif.
  4. Periode pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkontribusi pada lahirnya sumber-sumber hukum peradilan baru pada masa Ar-Rasyidi selanjutnya, sehingga sumber-sumber hukum peradilan pada masa tersebut adalah, Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma’, qiyas, putusan-putusan hukum yang pernah ada sebelumnya, serta pendapat ijtihadi yang disertai dengan musyawarah dan konsultasi dengan pihak-pihak yang berkompeten.
  5. Etika, semangat dan norma-norma peradilan sangat diperhatikan dan dipertimbangkan, dalam melindungi orang lemah, membela orang yang dizhalimi, persamaan di antara pihak-pihak yang berperkara, menegakkan kebenaran dan hukum syara’ terhadap semua orang, meskipun pihak yang dijatuhi vonis hukum adalah khalifah, amir atau wali sekalipun.

Qadhi atau hakim biasanya adalah pihak yang langsung melaksanakan eksekusi putusan hukum, jika memang tidak dilakukan oleh pihak-pihak yang bersangkutan secara suka rela. Pelaksanaan eksekusi putusan hukum dilakukan langsung sesaat setelah keluarnya putusan hukum.

C. Kepemimpinan Daerah

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengangkat sejumlah wali (pemimpin daerah, pejabat pemerintahan daerah) di berbagai wilayah dan daerah yang beragam. Mereka diberi mandat sebagai pejabat yang memegang otoritas umum dalam pengelolaan pemerintahan daerah, imam shalat, mengumpulkan zakat dan berbagai otoritas lainnya. Dalam memilih para pejabat dan pemimpin daerah, Abu Bakar Ash-Shiddiq melihat dan memperhatikan cara dan bentuk pemilihan yang dilakukan oleh Rasulullah, lalu ia menerapkannya.

Dari itu, kita mendapati Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap mempertahankan semua pejabat yang diangkat Rasulullah yang ketika beliau meninggal dunia mereka masih menduduki jabatan tersebut. Tidak ada satu pun di antara mereka yang ia ganti, kecuali untuk ia tugaskan di tempat lain yang lebih penting dan signifikan dari tempatnya yang pertama, dan orang yang bersangkutan pun setuju. Hal itu seperti yang terjadi pada Amr bin Al-’Ash.

Tugas dan tanggung jawab para wali (pemimpin daerah dan para pejabat pemerintah daerah) pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah kepanjangan dan lanjutan dari wewenang dan yurisdiksi yang mereka pegang pada masa Rasulullah, terutama para wali yang telah ditunjuk sebelumnya pada masa Rasulullah.

Tugas, kompetensi dan tanggung jawab para wali pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bisa disimpulkan seperti berikut:

  • Menegakkan shalat dan menjadi imam shalat. Ini adalah tugas utama bagi para wali, mengingat shalat mengandung banyak makna keagamaan, duniawi, politik, dan sosial. Para wali bertugas menjadi imam shalat di wilayah dan daerah kekuasaannya, terutama shalat Jum’at. Dulu, para amir selalu menjadi imam shalat, baik apakah mereka itu adalah amir dalam artian sebagai gubernur atau kepala daerah, maupun amir dalam artian sebagai panglima pasukan.
  • Jihad. Tugas ini dilakukan oleh para amir pasukan (panglima) di negeri-negeri taklukan. Mereka mengelola berbagai urusan negeri tersebut berikut sejumlah tugas lainnya secara langsung, atau mereka menugaskan orang lain sebagai wakilnya dalam menjalankan beberapa tugas, seperti tugas membagi ghanimah, menjaga dan mengurus para tawanan dan lain sebagainya. Demikian pula hal-hal yang masih terkait dengan jihad, seperti melakukan negosiasi dengan pihak musuh, mengadakan perjanjian damai dan genjatan senjata dan lain sebagainya.

Para amir pasukan (panglima) di Syam dan Irak memiliki tugas-tugas dan tanggung jawab sama yang berkaitan dengan jihad. Demikian pula dengan para amir (gubernur, pemimpin daerah) yang ada di berbagai wilayah yang mengalami pergolakan gerakan kemurtadan seperti di Yaman, Bahrain, Amman dan Najd, atas dasar pertimbangan adanya kesamaan pada aspek operasi dan aksi jihad, meskipun sebabnya berbeda.

  • Mengelola dan mengatur urusan-urusan negeri yang ditaklukkan, menunjuk dan mengangkat para qadhi dan pejabat pemerintahan di negeri tersebut. Hal itu dilakukan langsung oleh para amir sendiri, atau berdasarkan persetujuan dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, atau penunjukan dan pengangkatan dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
  • Mengambil baiat kepada khalifah. Para wali (pemimpin daerah) di Yaman, Makkah, Tha`if dan daerah-daerah lainnya mengambil baiat kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dari para penduduk daerah yang mereka pimpin.
  • Ada urusan-urusan keuangan yang diserahkan kepada para wali atau kepada pejabat tertentu yang ditunjuk oleh khalifah atau wali untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya dan membagikannya kepada kaum fakir miskin, atau menarik jizyah dari masyarakat non Muslim dan mendistribusikannya kepada sasaran-sasaran yang ditentukan oleh syara’. Dan ini adalah kepanjangan dari apa yang dilakukan oleh para wali atau pejabat yang diangkat oleh Rasulullah dalam urusan ini.
  • Memperbarui perjanjian-perjanjian yang telah ada dari zaman Rasulullah, seperti yang dilakukan oleh wali Najran dalam memperbarui perjanjian yang sebelumnya pernah dilakukan antara penduduk Najran dengan Rasulullah, berdasarkan permintaan dari kaum Nashrani Najran.
  • Di antara tugas dan tanggung jawab terpenting para wali adalah menegakkan hukum dan mengamankan negeri. Dalam penegakan hukum, jika mereka tidak menemukan nash syar’i menyangkut satu perkara, maka mereka akan berijtihad. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Al-Muhajir bin Abu Umayyah terhadap dua orang perempuan yang menyanyikan sebuah lagu yang berisikan celaan terhadap Rasulullah dan ungkapan kebahagiaan mereka berdua atas meninggalnya Rasulullah. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut insya Allah dalam pembicaraan seputar tema jihad Abu Bakar Ash-Shiddiq melawan kelompok-kelompok murtad.
  • Para wali memegang peran penting dan utama dalam mengajari masyarakat tentang perkara agama mereka, dalam menyebarkan Islam di negeri-negeri yang mereka pimpin. Banyak di antara para wali tersebut membuat majelis taklim di masjid untuk mengajarkan Al-Qur`an dan hukum-hukum. Hal itu sebagai bentuk mempraktikkan Sunnah Rasulullah.

Tugas ini termasuk salah satu tugas paling besar dan agung dalam pandangan Rasulullah dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Aktivitas seperti ini cukup populer dilakukan oleh para wali Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ada salah satu seorang sejarahwan menceritakan tentang aktivitas Ziyad, yaitu wali negeri Hadhramaut pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Pada pagi hari, Ziyad mengajarkan Al-Qur`an kepada masyarakat, sebagaimana aktivitas itu memang sudah biasa ia lakukan sebelumnya.”

Seorang wali adalah yang bertanggung jawab secara langsung dalam mengelola dan menjalankan pemerintahan wilayah yang dipimpinnya. Jika ia bepergian, maka ia harus menunjuk seseorang sebagai pengganti atau wakil sementara dirinya untuk menjalankan tugas-tugasnya hingga ia kembali.

Di antara contohnya adalah, bahwa Al-Muhajir bin Abu Umayyah ditunjuk oleh Rasulullah sebagai wali negeri Kindah. Kemudian setelah meninggalnya Rasulullah, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap mempertahankan dirinya sebagai wali negeri Kindah. Namun Al-Muhajir tidak bisa pergi ke Yaman langsung dan agak tertunda karena sakit. Lalu ia pun mengirimkan pesan kepada Ziyad bin Labib supaya menggantikan dirinya sementara hingga ia sembuh dan sampai ke Kindah. Langkahnya itu dibenarkan dan disetujui oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Demikian pula dengan Khalid bin Al-Walid ketika ia menjadi wali negeri Irak, ia digantikan sementara oleh seseorang di Al-Hirah hingga kedatangannya kembali.

Sebelum memilih dan menunjuk seorang amir, baik amir wilayah maupun amir pasukan (panglima), Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bermusyawarah dan konsultasi lebih dulu dengan banyak sahabat. Di antara konsultan dan penasihat utama Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam masalah ini adalah Umar bin Al-Khathab, Ali bin Abu Thalib dan yang lainnya. Sebagaimana pula, sebelum menunjuk dan mengangkat, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga bermusyawarah dan berbicara terlebih dahulu dengan orang yang ingin ia tunjuk dan angkat, terutama ketika ia ingin memindah tugaskan orang yang bersangkutan dari satu jabatan atau dari satu daerah ke jabatan atau daerah lain. Seperti yang Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq lakukan ketika ingin memindah tugaskan Amr bin Al-’Ash dari jabatannya sebelumnya yang diserahkan kepadanya oleh Rasulullah ke jabatan sebagai panglima pasukan Palestina.

Waktu itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak mengeluarkan surat keputusannya kecuali setelah ia berbicara dan bermusyawarah dengan Amr bin Al-’Ash dan meminta persetujuan dan kesediaannya. Demikian pula halnya dengan Al-Muhajir bin Umayyah yang diminta memilih oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq antara negeri Yaman atau Hadhramaut, lalu ia pun memilih Yaman, lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mengangkatnya sebagai wali Yaman.

Di antara langkah dan kebijakan yang dijalankan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah, bahwa ia mengikut Sunnah Rasulullah dalam menunjuk sebagian orang sebagai pemimpin kaumnya jika memang di antara mereka ada orang yang memiliki kelayakan, kapabilitas, dan kompetensi, seperti wilayah Tha`if dan beberapa kabilah.

Jika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin mengangkat seseorang sebagai wali atau pejabat, maka ia akan mengirimkan surat kepada orang yang bersangkutan yang berisikan mandat kepadanya atas wilayah yang akan dipimpinnya. Sebagaimana pula, sering kali Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan arahan kepada orang yang bersangkutan tentang jalur jalan yang harus ia lewati menuju ke wilayah yang dimaksudkan berikut sejumlah tempat dan lokasi yang akan ia lewati, terutama jika pengangkatan tersebut terkait dengan kawasan yang belum tertaklukkan dan belum masuk di bawah otoritas negara Islam. Hal itu bisa terlihat pada misi-misi militer untuk menumpas gerakan kemurtadan, penaklukkan negeri Syam dan Irak.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq terkadang mengambil langkah aneksasi (penggabungan) sebagian wilayah kepada wilayah yang lain, terutama pasca berakhirnya operasi militer penumpasan gerakan kemurtadan, Abu Bakar Ash-Shiddiq menggabungkan otoritas wilayah Kindah ke tangan Ziyad bin Labid Al-Bayadhi yang waktu itu menjadi wali Hadhramaut, sehingga setelah itu, ia membawahi daerah Hadhramaut dan Kindah.

Hubungan antara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan para wali dan pejabat negara adalah hubungan yang penuh dengan semangat dan nuansa saling menghormati tanpa dikeruhkan oleh hal-hal yang negatif.

Adapun tentang komunikasi antara daerah dengan pemimpin pusat, yaitu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka hal itu berjalan dan berlangsung dengan sangat intensif. Komunikasi tersebut terutama menyangkut berbagai kemashlahatan dan kepentingan pemerintahan dan berbagai tugas kerja. Para wali dan pejabat sering membuat laporan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyangkut berbagai urusan serta meminta saran, masukan, petunjuk dan pandangan kepadanya. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mengirimkan surat balasan yang berisikan tanggapan atas berbagai laporan dan konsultasi yang mereka kirimkan, atau mengirimkan surat yang berisikan sejumlah instruksi.

Para kurir datang dengan membawa surat, berita, dan laporan dari para wali tersebut kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, baik informasi-informasi atau laporan tentang aktivitas jihad atau sebelumnya. Demikian pula, para wali juga mengirimkan informasi dan laporan-laporan atas inisiatif sendiri.

Para wali juga melakukan komunikasi antara satu dengan yang lain melalui kurir atau melalui berbagai pertemuan langsung. Pertemuan dan komunikasi yang terjalin di antara para wali tersebut terutama dilakukan oleh para wali Yaman dan Hadhramaut. Begitu juga dengan para wali Syam yang sering melakukan pertemuan untuk mempelajari berbagai persoalan dan masalah, terutama persoalan-persoalan militer.

Banyak surat yang dikirimkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada para wali berisikan nasihat dan dorongan untuk senantiasa menghiasi diri dengan sikap zuhud terhadap dunia dan mencari akhirat. Beberapa nasihat tersebut dikeluarkan dalam bentuk buku-buku umum resmi dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sendiri kepada para wali, pejabat, dan panglima.

Daulah Islamiyah pada periode Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq terbagi menjadi beberapa wilayah administratif. Berikut ini wilayah-wilayah tersebut berikut para wali dan pejabat yang memimpinnya:

  1. Madinah, sebagai ibu kota negara dan dipimpin langsung oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
  2. Makkah, amir atau gubernurnya adalah ’Attab bin Usaid. Ia adalah amir Makkah yang diangkat oleh Rasulullah kemudian tetap dipertahankan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
  3. Tha`if, amirnya adalah Utsman bin Abu Al-Ash Ats-Tsaqafi. Ia adalah amir Tha`if yang sebelumnya diangkat oleh Rasulullah kemudian tetap dipertahankan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
  4. Shan’a, amirnya adalah Al-Muhajir bin Abu Umayyah. Ia adalah panglima yang menaklukkan Shan’a` dan selanjutnya ia menjadi amir di sana pasca berakhirnya persoalan gerakan kemurtadan.
  5. Hadhramaut, walinya adalah Ziyah bin Labid.
  6. Zabid dan Zam’ah, walinya adalah Abu Musa Al-Asy’ari.
  7. Khaulan, walinya adalah Ya’la bin Abu Umayyah.
  8. Al-Jund, walinya adalah Mu’adz bin Jabal.
  9. Najran, walinya adalah Jarir bin Abdullah Al-Bajali.
  10. Jarsy, walinya adalah Abdullah bin Tsaur.
  11. Bahrain, walinya adalah Al-’Ala` bin Al-Hadhrami.
  12. Irak dan Syam, kepemimpinan pemerintahannya dipegang langsung oleh para panglima pasukan yang dikirim ke sana.
  13. Amman, walinya adalah Hudzaifah bin Mihshan.
  14. Yamamah, walinya adalah Salith bin Qais.

D. Sikap Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair Terhadap Kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Terdapat banyak informasi dan riwayat menyangkut keterlambatan Ali bin Abu Thalib dalam melakukan baiat kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, begitu juga halnya dengan Az-Zubair bin Al-Awwam. Mayoritas informasi dan riwayat-riwayat tersebut adalah tidak shahih, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Sesungguhnya Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam berikut sejumlah orang yang bersama keduanya, mereka berdiam diri di rumah Fathimah binti Rasulullah.”

Itu karena ada sejumlah orang dari kaum Muhajirin terutama Ali bin Abu Thalib yang waktu itu sibuk mengurus jenazah Rasulullah, memandikan dan mengafaninya. Hal ini semakin jelas pada apa yang diriwayatkan oleh Salim bin Ubaid, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada keluarga Rasulullah termasuk yang utama adalah Ali bin Abu Thalib, “Jenazah pemimpin keluarga kalian ada bersama kalian.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memerintahkan mereka untuk mengurus dan memandikan jenazah Rasulullah.

Az-Zubair bin Al-Awwam dan Ali bin Abu Thalib melakukan pembaiatan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pada hari berikutnya dari hari meninggalnya Rasulullah, yaitu hari Selasa, karena Rasulullah meninggal pada hari Senin. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq naik ke atas mimbar, maka ia pun memandang dan memperhatikan ke arah orang-orang, dan ternyata ia tidak melihat Az-Zubair bin Al-Awwam. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memanggilnya, kemudian Az-Zubair pun datang, lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Wahai putra bibi Rasulullah dan hawari beliau, apakah Anda ingin membuat perpecahan di tubuh kaum muslimin?” Az-Zubair bin Al-Awwam berkata, “Tidak ada cercaan atas Anda wahai khalifah Rasulullah.” Lalu Az-Zubair pun berdiri dan melakukan pembaiatan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali memandangi dan memperhatikan ke arah orang-orang dan ia tidak melihat Ali bin Abu Thalib. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memanggil Ali bin Abu Thalib, lalu ia pun datang. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Wahai putra paman Rasulullah dan suami dari putri beliau, apakah Anda ingin menimbulkan perpecahan di tubuh kaum muslimin?” Ali bin Abu Thalib pun berkata, “Tidak ada cercaan atas Anda wahai khalifah Rasulullah.” Lalu ia pun berdiri dan melakukan pembaiatan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Di antara hal yang menunjukkan signifikansi hadits Abu Sa’ide Al-Khudri di atas adalah, bahwa imam Muslim bin Al-Hajjaj penulis kitab, Al-Jami’ Ash-Shahih yang merupakan kitab hadits paling shahih setelah Shahih Al-Bukhari, pergi menemui gurunya, yaitu Imam Al-Hafizh Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah pemilik kitab, Shahih Ibni Khuzaimah lalu bertanya kepadanya tentang hadits tersebut. Lalu Imam bin Khuzaimah pun menuliskan hadits tersebut dan membacakannya kepada dirinya. Lalu Muslim bin Al-Hajjaj berkata kepadanya, “Hadits ini setara dengan seekor unta badanah.” Lalu bin Khuzaimah berkata, “Hadits ini tidak hanya setara dengan seekor unta badanah saja, tetapi setara dengan badrah (kantong uang berisikan seribu atau sepuluh ribu dinar).” Maksudnya adalah, bahwa hadits tersebut sangat bernilai sekali.

Ibnu Katsir memberikan catatan tentang hadits tersebut dan berkata, “Isnad hadits ini adalah shahih mahfuzh, dan mengandung faedah yang agung, yaitu pembaiatan yang dilakukan oleh Ali bin Abu Thalib kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, ada kemungkinan pada hari pertama atau hari kedua meninggalnya Rasulullah dan ini adalah sebuah kebenaran yang nyata, karena Ali bin Abu Thalib tidak pernah berpisah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan tidak pernah ikut shalat berjamaah di belakangnya.”

Dalam riwayat Habib bin Abu Tsabit disebutkan, bahwasanya ia berkata, “Waktu itu, Ali bin Abu Thalib berada di rumahnya. Lalu ada seorang laki-laki datang menemuinya dan berkata kepadanya, “Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah duduk untuk pembaiatan.” Lalu Ali bin Abu Thalib pun langsung bergegas pergi menuju ke masjid dengan hanya mengenakan gamis tanpa rida` dan tidak pula Izar karena begitu tergesa-gesa, karena khawatir terlambat melakukan pembaiatan. Lalu ia pun melakukan pembaiatan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian ia pun duduk. Lalu ia pun menyuruh orang untuk mengambilkan rida`nya, setelah diambilkan, maka ia pun mengenakannya.”

Amr bin Huraits bertanya kepada Sa’id bin Zaid, “Apakah Anda menyaksikan meninggalnya Rasulullah?” Sa’id bin Zaid menjawab, “Ya.” Amr bin Huraits bertanya, “Kapankah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dibaiat?” Sa’id bin Zaid menjawab, “Pada hari meninggalnya Rasulullah, kaum muslimin tidak ingin melalui sebagian hari saja tanpa mereka berada dalam jamaah di bawah seorang pemimpin.” Amr bin Huraits kembali bertanya, “Apakah waktu itu ada yang tidak setuju dengan pengangkatan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq?” Sa’id bin Zaid menjawab, “Tidak ada yang menentangnya kecuali orang murtad atau hampir murtad. Allah telah menyelamatkan kaum Anshar, menyatukan suara mereka untuk membaiatnya.” Amr bin Huraits kembali bertanya, “Apakah ada di antara kaum Muhajirin yang tidak ikut melakukan pembaiatan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq waktu itu?” Sa’id bin Zaid menjawab, “Tidak ada. Waktu itu, kaum Muhajirin semuanya secara bergantian melakukan pembaiatan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.”

Adapun Ali bin Abu Thalib, maka ia tidak pernah berpisah dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan tidak pernah absen dalam shalat berjamaah di belakangnya. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa melibatkan Ali bin Abu Thalib dalam musyawarah dan dalam mengatur urusan-urusan kaum muslimin.

Ibnu Katsir dan banyak ulama lainnya menuturkan, bahwa Ali bin Abu Thalib memperbarui baiatnya kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq enam bulan setelah baiat yang pertama, yakni setelah meninggalnya Fathimah. Terdapat sejumlah riwayat shahih menyangkut pembaiatan kedua tersebut.

Ali bin Abu Thalib dalam kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah koper nasihat dan ketulusan untuk Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, memprioritaskan kemashlahatan Islam dan kaum muslimin di atas segalanya. Di antara dalil dan bukti yang tak terbantahkan tentang ketulusan dan kesetiaan Ali bin Abu Thalib kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq serta sense of responsibility yang begitu tinggi terhadap kebaikan dan kemashlahatan Islam dan kaum muslimin, serta komitmennya mempertahankan kekhilafahan, persatuan dan kesatuan kaum muslimin adalah, keterangan tentang sikap Ali bin Abu Thalib ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq hendak bergerak pergi menuju ke Dzu Al-Qishshah (tempat berjarak beberapa marhalah dari Madinah), tekad bulatnya untuk memerangi kelompok-kelompok murtad dan memimpin langsung operasi-operasi militer untuk menghadapi kelompok-kelompok murtad tersebut berikut apa yang terdapat pada gerakan kelompok-kelompok murtad tersebut berupa ancaman terhadap eksistensi Islam.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, ia berkata, “Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mulai bergerak menuju ke Dzu Al-Qishshah dan berada di atas untanya, maka Ali bin Abu Thalib pun langsung memegang tali kendali unta Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut dan berkata, “Hendak ke mana wahai khalifah Rasulullah? Saya ingin mengucapkan kepada Anda ucapan yang pernah diucapkan Rasulullah pada Perang Uhud, “Satukan kembali pedang Anda, janganlah Anda membuat kami berduka karena kehilangan Anda, dan kembalilah ke Madinah. Karena sungguh demi Allah, jika kami berduka karena kehilangan Anda, maka Islam tidak lagi memiliki sistem. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun kembali ke Madinah.

Seandainya hati Ali bin Abu Thalib tidak suka dan tidak lapang dadanya kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ia melakukan pembaiatan kepadanya dengan perasaan terpaksa, maka kejadian itu tentunya adalah sebuah kesempatan emas yang akan langsung dimanfaatkan oleh Ali bin Abu Thalib dengan membiarkan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan urusannya sendiri melakukan apa yang ingin ia lakukan waktu itu, barangkali siapa tahu terjadi sebuah kejadian menimpa dirinya, sehingga Ali bin Abu Thalib bisa lega dan puas.

Lebih dari itu, jika seandainya memang Ali bin Abu Thalib begitu benci kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berupaya untuk menyingkirkannya, tentu ia mungkin akan memprovokasi seseorang untuk membunuh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para politikus terhadap musuh dan lawan-lawan politiknya.

E. “Kami Para Nabi tidak Diwarisi, Apa yang Kami Tinggalkan Adalah Berstatus Harta Shadaqah.”

Aisyah berkata, “Fathimah dan Al-Abbas menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan maksud untuk meminta bagian mereka berdua dari harta pusaka peninggalan Rasulullah. Waktu itu, mereka berdua meminta tanah mereka berdua yang ada di Fadak dan porsi bagian mereka berdua dari hasil Khaibar. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada keduanya, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah berstatus harta shadaqah. Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Tiada suatu apa pun yang dilaksanakan Rasulullah melainkan aku laksanakan. Karena aku khawatir menyimpang dan berpaling, jika aku meninggalkan sesuatu dari perintah beliau.”

Diriwayatkan oleh Aisyah, ia berkata, “Ketika Rasulullah meninggal dunia, para istri beliau bermaksud mengutus Utsman bin Affan untuk menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq guna menanyakan kepadanya tentang bagian warisan mereka.” Aisyah kembali bercerita, “Waktu itu aku berkata, “Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ahli warisku tidak membagi dinar, apa yang aku tinggalkan selain nafkah istri-istriku dan gaji pekerjaku, maka itu adalah shadaqah.

Itu adalah apa yang dijalankan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap Fathimah, sebagai implementasi sabda Rasulullah tersebut. Dari itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Fathimah, “Tiada suatu apa pun yang dilaksanakan Rasulullah melainkan aku laksanakan.” Ia juga berkata, “Sungguh demi Allah, aku tidak meninggalkan suatu apa pun yang aku melihat Rasulullah melakukannya melainkan aku lakukan.”

Fathimah pun akhirnya tidak membantah lagi ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan argumentasinya dengan hadits tersebut dan menerangkannya kepada Fathimah. Ini menunjukkan bahwa Fathimah menerima kebenaran tersebut dan mematuhi sabda Rasulullah tersebut.

Ibnu Qutaibah menuturkan, adapun sikap Fathimah yang berdebat dengan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyangkut harta pusaka peninggalan Rasulullah, maka sikapnya itu tidak bisa dipersalahkan, karena ia memang tidak mengetahui sabda Rasulullah tersebut dan mengira bahwa ia juga berhak mendapatkan warisan dari ayahandanya sebagaimana anak-anak yang lain mewarisi harta pusaka orang tuanya. Lalu ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memberitahu dirinya, maka ia pun akhirnya menerima.”

Al-Qadhi ‘Iyadh menuturkan, langkah Fathimah yang tidak lagi membantah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengutarakan argumentasi kepadanya dengan hadits tersebut, adalah sebuah sikap menerima Ijma’ atas suatu persoalan, bahwa ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan hadits tersebut kepada dirinya dan menjelaskan maksudnya, maka ia pun akhirnya meninggalkan pendapatnya yang sebelumnya ia coba pertahankan. Kemudian sejak saat itu, ia dan keturunannya tidak ada yang pernah meminta suatu hak waris. Kemudian ketika Ali bin Abu Thalib menjadi khalifah, maka ia sama sekali tidak mengubah apa pun dari apa yang dilaksanakan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab tersebut.

Hammad bin Ishaq menuturkan, “Keterangan yang disebutkan oleh riwayat-riwayat yang shahih menyangkut apa yang diminta oleh Al-Abbas, Fathimah, Ali bin Abu Thalib dan para istri Rasulullah dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah bahwa apa yang mereka minta adalah warisan, hingga Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat terkemuka memberitahukan kepada mereka bahwasanya Rasulullah telah bersabda, “Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah berstatus harta shadaqah.” Lalu mereka pun menerima hal itu dan mengetahui bahwa itu adalah kebenaran. Dan seandainya Rasulullah memang tidak mensabdakan hal tersebut, tentunya Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab memiliki bagian yang lumayan banyak dari hak waris Aisyah dan Hafshah. Maka, mereka pun lebih memenangkan perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, dan tidak memberikan apa pun kepada Aisyah, Hafshah dan yang lainnya dari harta pusaka peninggalan Rasulullah. Seandainya harta pusaka beliau diwaris, tentu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab sangat bangga karena kedua putri beliau berdua adalah pewaris Nabi Muhammad.

Adapun apa yang disebutkan oleh para perawi bahwa Fathimah marah kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menjauhinya hingga meninggal dunia, maka itu terlalu jauh dan tidak mungkin, karena sejumlah alasan dan dalil berikut ini:

  • Apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui jalur Asy-Sya’bi, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq datang untuk menjenguk Fathimah, lalu Ali bin Abu Thalib berkata kepada Fathimah, “Ini Abu Bakar Ash-Shiddiq minta izin masuk untuk menemuimu.” Lalu Fathimah berkata, “Apakah Anda ingin aku mengizinkannya masuk?” Ali bin Abu Thalib menjawab, “Ya, tentu.” Lalu Fathimah pun mengizinkan Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun masuk menemui Fathimah dan memohon agar Fathimah tidak marah lagi kepada dirinya, hingga akhirnya Fathimah pun tidak marah lagi kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dengan begitu, maka hilang sudah paradok pada keterangan bahwa Fathimah tetap marah kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mendiamkannya, bahwa itu adalah sama sekali tidak benar. Bagaimana tidak, sedang Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang berkata, “Sungguh demi Allah, kekerabatan Rasulullah jauh lebih aku senangi untuk aku sambung daripada kerabatku sendiri.” Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak melakukan melainkan mengikuti dan mematuhi perintah Rasulullah.

  • Fathimah sudah terlalu sibuk oleh kesedihannya karena kehilangan makhluk termulia hingga ia tidak lagi mempedulikan apa pun. Itu adalah sebuah musibah yang segala bentuk musibah yang lain menjadi begitu tiada artinya apa-apa. Di samping itu, ia juga sudah terlalu sibuk dengan sakit yang dialaminya yang membuatnya hanya bisa terbaring tidur, sehingga membuat dirinya tidak lagi memiliki waktu, kemampuan, dan kesempatan untuk ikut terlibat dalam suatu urusan apa pun, apalagi sampai menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sudah sangat sibuk sendiri di setiap waktu dengan urusan-urusan umat, perang melawan gerakan kemurtadan dan yang lainnya. Sebagaimana pula, Fathimah merasa bahwa tidak akan lama lagi dirinya akan menyusul ayahandanya. Karena Rasulullah pernah memberitahukan kepada dirinya bahwa di antara anggota keluarga beliau, ia adalah orang yang pertama kali akan menyusul beliau.

Orang yang dalam kondisi seperti yang dialami Fathimah tersebut, tentu sudah tidak terbesit di benaknya sedikit pun masalah urusan dunia. Betapa bagus perkataan Al-Muhallab yang dikutip oleh Al-’Aini, “Tidak ada satu orang pun yang meriwayatkan bahwa Fathimah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bertemu dan tidak mau saling mengucapkan salam. Akan tetapi, Fathimah waktu itu hanya diam di rumah selalu karena sakit, lalu hal itu diungkapkan oleh perawi sebagai sikap menjauhi dan memutus hubungan.”

Di antara hal yang sudah pasti secara historis adalah bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq selama masa kekhilafahannya senantiasa memberi Ahlul Bait hak mereka dari harta fai` Rasulullah di Madinah, dari harta Fadak dan seperlima hasil Khaibar. Hanya saja, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menerapkan hukum-hukum waris pada harta-harta tersebut, karena mengamalkan apa yang ia dengar dari Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ali bin Al-Husain yang dikenal dengan nama Muhammad Al-Baqir dan dari Zaid bin Ali bahwasanya mereka berdua berkata, “Sesungguhnya -menyangkut leluhur mereka berdua- tidak pernah ada suatu apa pun bentuk kezhaliman atau ketidakadilan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, atau apa yang mereka sangsikan berupa sikap menyimpang, tidak adil dan zhalim.”

Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah berdasarkan keterangan yang paling masyhur. Sebelumnya Rasulullah telah mengisyaratkan kepada Fathimah bahwa dirinya adalah keluarga beliau yang pertama kali akan menyusul beliau. Di samping itu, Rasulullah juga berkata kepadanya, “Tidakkah kamu senang dan puas menjadi pimpinan kaum perempuan penghuni Surga.”

Fathimah meninggal dunia pada hari Selasa tanggal tiga Ramadhan tahun sebelas hijriyah. Diriwayatkan oleh Malik dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya Ali bin Al-Husain, ia berkata, “Fathimah meninggal dunia antara Maghrib dan Isya`. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khathab, Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam dan Abdurrahman bin Auf pergi menjenguk dan melayat. Ketika jenazah Fathimah diletakkan untuk dishalatkan, Ali bin Abu Thalib berkata, “Silahkan Anda yang mengimami shalat jenazah wahai Abu Bakar.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Apakah aku yang harus mengimami shalat jenazah Fathimah sementara Anda sendiri hadir wahai Ali?” Ali bin Abu Thalib menjawab, “Ya, silahkan. Sungguh hanya Anda yang harus mengimami shalat jenazah Fathimah.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mengimami shalat jenazah Fathimah, dan jenazahnya pun dikebumikan pada malam hari saat itu juga.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq menshalati jenazah Fathimah binti Rasulullah dengan empat kali takbir. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, Ali Bin Abu Thalib menshalatkan jenazah istrinya Fathimah.

Hubungan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan anggota Ahlul Bait adalah hubungan yang sangat hangat, erat, penuh dengan nuansa cinta kasih, simpati, dan penuh penghormatan yang layak baginya dan bagi mereka. Hubungan antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ali bin Abu Thalib adalah hubungan saling menyayangi, saling mempercayai dan penuh dengan nuansa mutual understanding. Ali bin Abu Thalib menamai salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar.

Sepeninggal Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib mengasuh dan merawat salah satu putranya yang bernama Muhammad serta menjadikannya sebagai kandidat calon gubernur pada masa kekhilafahannya, hingga hal itu menyebabkan dirinya banyak dikritik dan dicerca banyak pihak.

Itulah sekelumit tentang sejumlah persoalan dalam negeri yang dihadapi dan ditangani oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Semua itu ia lakukan dengan penuh konsisten mengikuti jejak langkah Rasulullah dengan penuh seksama. Semoga Allah meridhai Abu Bakar Ash-Shiddiq dan semua sahabat yang mulia, baik, shaleh, dan sangat taat.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Penaklukan Irak

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Penaklukan Irak Tidak berselang lama setelah selesai perang terhadap orang-orang yang murtad dan...

Hijrah Abu Bakar Ash-Shiddiq ke Madinah Bersama Rasulullah

Kaum kafir Quraisy begitu keras dalam melancarkan teror, intimidasi, dan penindasan terhadap kaum muslimin. Maka, di antara mereka ada yang hijrah ke tanah Habasyah...

Baiat Umum dan Pengelolaan Urusan-urusan dalam Negeri

Baiat Umum Setelah pembaiatan terbatas kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq di Saqifah Bani Sa’idah, maka pada hari berikutnya Umar bin Al-Khathab...

Artikel Terkait

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...

Riba

Dosa yang Istimewa Dosa itu bernama riba. Mengenai haramnya riba ini, Allah SWT menyatakannya sendiri di dalam al-Qur’an surah al-Baqarah...