Bekerja

Mulia dengan Bekerja

Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (Riwayat al-Qudha’ie dari Jabir bin Abdillah al-Bajali).

Hadist ini seakan mengatakan ukuran kemuliaan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana nilai manfaat dirinya bagi orang lain. Semakin bermanfaat kepada orang lain berarti semakin tinggi kemuliaannya. Sebaliknya, derajat kemuliaan seseorang menurun kalau tidak punya nilai manfaat atau malah menjadi beban bagi lainnya. Karena itulah Islam menekankan agar setiap Muslim bekerja sehingga bisa menghidupi dirinya sendiri dan tidak menjadi beban orang lain.

Suatu hari Nabi Muhammad SAW melihat tangan sahabatnya, Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari, melepuh. Nabi SAW bertanya apa yang menyebabkannya. Dengan jujur Sa’ad menyatakan akibat kerja keras untuk menghidupi keluarganya. Mendengar jawaban Sa’ad itu, dengan spontan Rasulullah meraih tangan sahabatnya lalu menciumnya.

Sikap Rasulullah SAW ini menunjukkan kepada kita bahwa bekerja keras itu merupakan pekerjaan yang terhormat dan mulia. Terlebih bila kerja itu digunakan untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.

Islam dengan tegas menyatakan bekerja itu mendapatkan pahala karena ia merupakan kewajiban atau fardhu. Dalam kaidah fiqh, orang yang menjalankan kewajiban akan mendapatkan pahala, sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi dosa.

Tentang kewajiban bekerja, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dan sebagainya).” (Riwayat ath-Thabrani dan al-Baihaqi melemahkannya bersumber dari Abdullah bin Mas’ud ra, al-Haitsami menyatakan bahwa dalam sanadnya ada Abbad bin Katsir al Tsaqafi yang tertuduh berdusta (Matruk), Ibnu Thahir al-Maqdisi memasukkan dalam kitab Tadzkirah al-Maudhu’at halaman 85 dengan nomor 509).

Dalam Islam, bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Rasulullah SAW sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri sebagaimana yang dilakukan terhadap Sa’ad. Orang yang berusaha mendapatkan penghasilan dengan tangannya sendiri baik untuk membiayai kebutuhannya ataupun kebutuhan anak dan istri, dikategorikan jihad fi sabilillah.

Dalam hal ini yang harus tetap dijaga yaitu niatnya. Zubaid bin al-Harits al-Yami berkata, “Saya suka sekali bila mempunyai niat dalam segala hal, bahkan dalam makan, minum, dan tidur.” Apalagi dalam bekerja tentunya lebih baik daripada makan minum dan tidur dengan niat yang baik, yaitu untuk menafkahi keluarga bukan untuk supaya kaya.

Islam memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi mereka yang mau berusaha dengan sekuat tenaga dalam mencari nafkah. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang pekerjaan apa yang paling baik. Beliau menjawab, “Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian yang dianggap baik.” (Riwayat Ahmad dan Baihaqi).

Bahkan ketika seseorang merasa kelelahan atau capek setelah pulang bekerja, Allah SWT mengampuni dosa-dosanya saat itu juga. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Asakir).

Dengan bekerja, seseorang tidak akan tergantung kepada orang lain. Bahkan banyak orang yang bekerja keras kemudian bisa membantu orang lainnya. Orang seperti ini berarti mengamalkan sabda Rasulullah, “Tangan yang di atas, itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah tangan memberi dan tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta-minta.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad SAW serta para sahabat adalah pekerja keras.  Bahkan beberapa sahabat merupakan saudagar kaya yang kerap kali memberikan hartanya untuk membiayai pasukan Islam tatkala harus bertempur dengan musuh-musuh Islam.

Islam juga memandang bekerja mencari nafkah sebagai salah satu bentuk ibadah dan sekaligus rasa syukur kepada Allah SWT. Ini diterangkan dalam al-Qur’an yang artinya:

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih”. (QS. Saba’: 13)

Sebaliknya, orang yang tidak bekerja alias menganggur, selain kehilangan martabat dan harga diri di hadapan dirinya sendiri, juga di hadapan orang lain. Jatuhnya harkat dan harga diri akan menjerumuskan manusia pada perbuatan hina.

Tindakan mengemis, merupakan kehinaan, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. “Dari Abu Abdullah az-Zubair bin al-‘Awwam r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi ataupun tidak.” (Riwayat Bukhari)

Hadist di atas menuturkan bahwa orang yang pergi ke gunung dengan membawa seutas tali untuk mencari kayu bakar yang kemudian ia jual, apa yang dihasilkan dari menjual kayu bakar itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada sesama manusia.

Ini menunjukkan bahwa bekerja itu merupakan kewajiban, sehingga tak heran jika Umar bin Khattab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk di masjid, sementara sang mentari sudah terpancar bersinar. Khalifah Umar memaksa mereka bekerja karena begitu mulianya orang yang bekerja.

Menjadi Muslim Produktif

Telah kita maklumi dan kita yakini bahwa sebagai hamba Allah SWT manusia diturunkan di bumi ini semata-mata hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Allah SWT menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk manusia bersifat dinamis, dari awal menuju titik akhir, dari lemah menuju kekuatan tertentu yang terbatas, dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dan lain-lain, itu semua sebagai pelajaran, ujian menuju semakin mantap dan kuatnya keimanan serta keyakinannya kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS. an-Nahl ayat 78 yang artinya:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 78)

Firman Allah SWT di atas menegaskan betapa lemah dan tidak berdayanya anak manusia yang baru lahir, kemudian untuk mendukung dinamika kehidupannya Allah SWT memberikan modal potensi yang sangat penting bagi perjalanan kehidupannya di alam semesta.

Modal potensi yang penting itu adalah pendengaran, penglihatan dan hati, agar manusia bersyukur dengan menggunakan modal tersebut sebagai alat dan sarana dalam menjalani dinamika kehidupan untuk menghasilkan berbagai hal yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi kehidupan dari generasi mendatang hingga akhir zaman. Firman Allah SWT dalam QS. ar-Ro’du ayat 11 yang artinya:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. ar-Ra’du: 11)

Firman Allah SWT tadi mendorong dan memotivasi kita agar dalam menjalani dinamika kehidupan ini selalu melakukan berbagai upaya secara terus menerus dengan meneliti, mencoba, dan mencari terobosan sehingga mampu produktif dalam berbagai aspek kehidupan, baik pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas masyarakat, demi menuju kehidupan bermanfaat dan maslahah.

Dari uraian singkat di atas, untuk dapat menjadi muslim produktif, paling tidak kita dapat melakukan beberapa hal, di antaranya:

  • Mengamati, meneliti, dan mencoba secara terus menerus. Karena segala ciptaan dan kejadian di alam semesta tidak ada yang sia-sia.

Firman Allah SWT dalam QS. ali-Imran ayat 191 yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. ali-Imran: 191)

  • Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang dapat memacu kreativitas dan pengembangan menuju perbaikan kualitas, ketahanan, dan kekuatan fisik dan mental.

Firman Allah SWT dalam QS. al-Mujadilah: 11 yang artinya:

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah: 11)

  • Menciptakan terobosan-terobosan dengan pelatihan di berbagai aspek kehidupan yang mampu menghasilkan nilai tambah yang memiliki cakupan yang lebih luas manfaat dan maslahatnya.
  • Segala usaha dan upaya yang dilakukan tidak boleh bertentangan dengan syariat Agama. Jika sampai terjadi, maka usaha dan upaya yang dilakukan tidak akan membawa manfaat dan maslahat, justru akan menerima adzab dan kehancuran. Firman Allah SWT QS. Anbiya ayat 105 yang artinya:

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. al-Anbiya’: 105)

Firman Allah SWT QS. al-Qoshosh: 59 yang artinya:

“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. al-Qashash: 59)

Bekerja dan Berkarya Sesuai Tuntutan Syariah

Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin untuk bekerja sebagaimana tertuang dalam surah at-Taubah ayat 105 yang artinya:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Dalam ayat ini terdapat perintah untuk bekerja. ‘I’maluu’ artinya “bekerjalah kamu.” Dalam kaidah dinyatakan bahwa asal perintah itu adalah wajib, kecuali jika ada dalil yang memalingkannya. Karena itu bekerja untuk mencari nafkah menjadi kewajiban bagi seorang muslim. Bahkan Nabi SAW memuji orang yang berkarya sebagaimana dalam sabdanya:

“Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT.” (HR. at-Thabrani)

Bahkan dalam kesempatan lain, Nabi SAW menegaskan keutamaan bekerja mencari nafkah, yaitu mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala, sebagaimana dalam sabda berikut ini yang artinya:

“Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang giat bekerja.” (HR. at-Thabrani)

Jika kita merenungkan sejenak perihal kewajiban sebagai seorang muslim, niscaya kita jumpai dalam agama ini terdapat banyak sekali ibadah yang tidak mungkin dilakukan tanpa adanya biaya dan harta, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, haji dan umrah. Padahal biaya atau harta tidak mungkin diperoleh tanpa proses kerja. Oleh karena itu, bekerja untuk memperoleh harta dalam rangka ibadah kepada Allah menjadi wajib, sebagaimana arti kaidah fiqhiyah yang mengatakan:

“Suatu kewajiban yang tidak bisa dilakukan melainkan dengan pelaksanaan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib.”

Hal urgen yang harus kita tanyakan kepada diri masing-masing adalah: apakah pekerjaan yang kita lakukan akan mengantarkan kita ke surga atau justru menyeret kita ke lembah kehinaan dan kesengsaraan?

Subhanallah, ternyata agama Islam ini benar-benar telah mengatur agar kerja kita bernilai ibadah dan dapat mengantarkan kebahagiaan yang hakiki, menurut saya ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Niat ikhlas karena Allah SWT

Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan dalam hadist akan urgensi daripada niat, dengan sabdanya:

“Sesungguhnya seluruh amal ditentukan oleh niatnya dan hanya saja setiap orang bergantung pada niatnya.” (HR. Muttafaqun alaihi)

Artinya ketika bekerja, niatan utamanya adalah karena Allah SWT saja, sehingga konsekuensinya adalah muslim akan selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah, dan itu dimulai kala hendak berangkat beraktivitas setidaknya dengan membasahi lisannya dengan doa keluar rumah dan doa bepergian.

  • Unsur selanjutnya agar kerja kita selaras dengan petunjuk Allah dan menjadi wasilah ke arah kebahagiaan yang hakiki adalah ketika bekerja dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan profesional yang sering disebut dengan ‘itqan’. Adapun bentuknya adalah tuntas melaksanakan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya dan memiliki keahlian di bidangnya, sebagaimana dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya.” (HR. Abu Ya’ala, at-Thabrani, al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman dalam sanadnya terdapat rowie Mush’ab bin Tsabit yang dilemahkan oleh Ibnu Hibban namun sejumlah ulama mentautsiqkan)

  • Karakter berikutnya adalah bersikap jujur dan amanah, karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukan merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara duniawi dari Allah yang pada saatnya akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja di antaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, sebagaimana dalam satu riwayat yang maknanya:

“Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Ibnu Majah, al-Baihaqi, al-Hakim dalam al-Mustadrak namun di sanadnya terdapat rowie Kultsum bin Jautsan yang dilemahkan oleh Abu Hatim, at-Tirmidzi, al-Albani melemahkannya namun hadist yang semakna terdapat Shahih Kunuz as-Sunnah an-Nabawiyah).

  • Karakter selanjutnya adalah senantiasa menjaga etika sebagai Muslim, seperti etika berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa beretika baik merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mukmin, sebagaimana sabdanya yang artinya:

“Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

  • Point berikutnya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melanggar prinsip-prinsip syariah, dalam hal ini terbagi menjadi beberapa hal:

Pertama dari sisi substansi pekerjaannya, seperti tidak memproduksi barang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi), mengandung unsur riba, maysir, gharar, dan lain sebagainya.

Kedua dari sisi yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti risywah, membuat fitnah dalam persaingan, tidak menutup aurat, ikhtilat dengan bukan muhrim, dan sebagainya.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad, 47: 33).

Sebagai contoh istimewa dalam hal ini adalah upaya yang dilakukan oleh istri Imam Ahmad kala Imam Ahmad hendak berangkat bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya, istrinya selalu mengingatkan dengan pesannya: “Wahai abu Abdillah, sesungguhnya kami sangat tahan dan sabar menghadapi lapar akan tetapi kami tidak tahan dengan siksa neraka, karena itu jangan engkau beri kami makanan dari sumber yang haram.”

  • Prinsip terakhir adalah menghindarkan diri dari segala bentuk syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar, yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan tertentu. Atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kezaliman atau pelanggarannya terhadap syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal. Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam syubhat ini, sebagaimana dalam hadist Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Halal itu jelas dan haram itu jelas dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Yang terkadang tidak diketahui oleh mayoritas manusia, maka barang siapa yang menghindarkan diri dari perkara-perkara syubhat sungguh telah membebaskan untuk agama dan kehormatan dirinya, dan siapa saja terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kerja Keras, Cerdas, Ikhlas, dan Tuntas

Pada masa pra-Islam, penghargaan seseorang ditentukan oleh nasab (keturunan, geneologi), tetapi setelah Islam datang, penghargaan seseorang ditentukan oleh amal atau prestasi kerja. Karena itu Ibnu Taimiyyah menyatakan “Al-I’tibar fi Al-Jahiliyyati bi Al-Ansab, Wa-I’tibar fi Al-Islam bi Al-Amal,” dengan demikian Islam menegaskan bahwa penghargaan kepada seseorang selalu berorientasi pada prestise.

Al-Qur’an menjelaskan tentang hal ini dalam surah al-Baqarah ayat 124 yang artinya:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah: 124)

Firman Allah SWT tersebut mencakup kalimat-kalimat perlambang yang amat padat, menyimpulkan satu segi dari ajaran Islam yang fundamental, yaitu bahwa penghargaan Allah SWT kepada seorang hamba seperti diangkatnya orang itu menjadi pemimpin bukanlah karena pertimbangan faktor keturunan, tetapi faktor prestasi kerjanya, atau keberhasilannya melaksanakan, mewujudkan, atau mencapai sesuatu yang bermanfaat karena benar dan baik.

Islam mendorong pemeluknya untuk memiliki etos kerja yang tinggi, karena kerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidup seorang muslim. Yaitu memperoleh ridha atau perkenan Allah SWT. Dengan demikian Islam adalah agama amal atau kerja, karena seorang hamba berusaha mendekat kepada Allah SWT untuk memperoleh ridha-Nya melalui amal saleh dan ketundukan hanya kepada Allah semata. Allah berfirman dalam surah al-Kahfi ayat 110 yang artinya:

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. al-Kahfi: 110)

Di dalam ayat tadi tersirat, jika seseorang ingin bertemu dengan Tuhannya, ada dua hal fundamental yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Tauhid yang benar yang tidak dicampuri dengan kesyirikan. Dibutuhkan keikhlasan (ketulusan) semata-mata beribadah hanya ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada selain-Nya, seperti riya’, yakni beribadah untuk memperoleh pujian manusia.
  2. Kerja keras didasarkan atas keikhlasan semata-mata karena Allah SWT, sehingga semua aspek kerjanya bernilai ibadah.

Dalam perkembangannya, kualitas kerja semakin lama harus semakin baik, artinya prestasi kerja semakin hari harus semakin meningkat dan bukan sebaliknya. Menciptakan etos kerja yang tinggi itulah yang disyaratkan oleh Allah SWT seperti firman-Nya dalam surah al-Mulk ayat 2 yang artinya:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 2)

Untuk mencapai prestasi kerja lebih baik di masa depan dibutuhkan tauhid kokoh yang melahirkan keikhlasan, juga dibutuhkan intelektual berupa kecerdasan, hingga pada gilirannya semua pekerjaan yang menjadi tanggungannya akan terselesaikan dengan tuntas.

Untuk itu, pendidikan baik formal maupun non formal dalam rangka mencapai keahlian sesuai dengan bidangnya, merupakan sesuatu yang harus ditempuh disertai tekad yang kuat. Islam sangat anti kemalasan, sifat lemah, kegundahan, dan kesedihan hati, takut, dan bakhil. Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan kepada Allah:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan hati dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat takut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan orang.” (HR. al-Bukhari, an-Nasa’ie, al-Hakim, dan Ibnu Abi Syaibah)

Dari uraian sub bab di atas dapat disimpulkan bahwa kerja keras, cerdas, ikhlas, dan tuntas dalam setiap pekerjaan adalah sejalan dengan ajaran Islam yang harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan lahir dan batin oleh Allah SWT dalam mengemban amanah sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing. Aamiin.

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *