Bisnis dan Entrepreneurship

Pilar Kesuksesan Bisnis Khadijah

Salah satu contoh mereka yang berhasil sukses dunia karena melandasi setiap aktivitasnya dengan spiritualitas yang patut kita teladani adalah beliau, yang mulia, ummul mukminin, Sayyidah Khadijah ra. Kita pasti sangat mafhum dengan sejarah beliau semenjak sebelum hingga saat mendampingi Rasulullah SAW.

Kesuksesan beliau sebagai perempuan, sebagai istri, dan juga sebagai ibu, tidak akan lengkap jika kita tidak menyebut juga kesuksesan beliau sebagai saudagar besar. Di zamannya, di saat sebagian besar perempuan terkungkung dengan pekerjaan rumah tangga dan diremehkan oleh laki-laki, Sayyidah Khadijah ra tampil menjadi perempuan yang malang-melintang di dunia bisnis dan disegani oleh kaumnya.

Kita pasti akan heran sekaligus bertanya-tanya, apa gerangan rahasia beliau sehingga bisa sukses, baik sebagai perempuan maupun sebagai pebisnis. Tapi jika merunut sejarah secara teliti, maka kita akan menemukan setidaknya 6 hal yang menjadi kunci sukses Khadijah ra.

Pertama, Sayyidah Khadijah ra memiliki level keimanan yang kokoh serta tingkat spiritualitas yang mumpuni. Salah satu alasan kenapa Rasulullah SAW memilih beliau menjadi pendamping hidupnya adalah karena Rasulullah SAW tahu betul dengan kualitas keimanan Khadijah ra. Khadijah ra merupakan satu dari sedikit wanita yang masih memegang teguh ajaran nabiyullah Ibrahim as, sehingga di dalam dirinya telah terpatri kepercayaan akan keesaan Tuhan semesta alam.

Mereka yang kuat iman, memiliki keberanian menghadapi segala model kehidupan. Ia juga akan menaruh kepercayaan serta harapan 100% kepada Tuhan, sehingga tidak ada dalam kamus mereka kata putus asa. Keimanan juga akan mendorong tumbuhnya sikap percaya diri dalam setiap tindakan, karena tidak ada satu pun yang melenceng dari takdir yang telah digariskan oleh Allah SWT. Sikap simpatik, toleran, bersahabat, supel, tidak mudah tersinggung, hanya bisa dimunculkan oleh mereka yang kesehatan jiwanya baik, sedangkan kesehatan jiwa sangat bergantung pada tingkat kepercayaan diri yang dilandasi iman dan taqwa.

Dengan spiritualitas yang tinggi, seseorang akan mawas dengan harta duniawinya, karena pada dasarnya semuanya adalah milik dan titipan dari Allah SWT semata. Sikap mawas ini akan mendorong tumbuhnya jiwa aktris dan dermawan dalam diri seseorang, karena merasa apa yang diperoleh tidak semata untuk pribadi, namun juga terdapat hak-hak orang lain di dalamnya.

Kedua, Sayyidah Khadijah ra memiliki mental wirausaha yang ulet. Beliau juga mempunyai tipikal pebisnis yang pandai memanfaatkan lingkungannya sebagai bagian dari perkembangan bisnis. Beliau bukan tipe pebisnis yang asyik dengan kegiatan bisnisnya, perfeksionis, sehingga tidak bisa mempercayai hasil karya orang lain. Beliau juga bukan tipe pebisnis yang ultra-organisatoris, di mana segala hal harus dimatangkan dulu baru dikerjakan, sehingga sering kali bertele-tele dan berlarut-larut.

Beliau adalah tipikal pebisnis yang mampu melihat kemampuan orang lain dan memanfaatkannya. SDM yang direkrut tidak hanya ulet, tapi juga handal kemampuannya, termasuk di antaranya adalah Rasulullah SAW sendiri. Strategi bisnisnya dengan mampu mendelegasikan tugas kepada orang yang tepatlah yang membuat imperium bisnisnya berkembang pesat.

Ketiga, Sayyidah Khadijah ra punya modal dan mampu mengelolanya dengan baik. Seperti kita tahu, sebelum beliau menikah dengan Rasulullah SAW, beliau telah menjanda 2 kali. Suami pertamanya adalah Abu Halah at-Tamimi, dan setelah suami pertamanya meninggal beliau menikah dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi. Dari suami pertamanya itulah dia mendapatkan warisan besar, selain juga dari ayahnya yang juga pedagang yang disegani, yang digunakan sebagai modal untuk memulai bisnisnya.

Kemahirannya dalam memutar modal usaha sangat diakui di kalangannya. Bisnisnya tumbuh pesat karena beliau sangat mahir melihat peluang dan tidak ragu dalam mengambil keputusan yang dianggapnya tepat.

Keempat, Sayyidah Khadijah ra sangat jeli dalam merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) serta menjalin mitra bisnis. Mungkin justru karena perempuan, beliau sangat perhatian dengan karakter SDM dan mitra bisnis yang dipilihnya. Hal yang paling diutamakan dalam pemilihan SDM adalah seberapa jujur dan adil SDM tersebut. Tidaklah heran jika Rasulullah SAW adalah salah satu SDM favoritnya sehingga sering menjadi delegasi dagangnya keluar daerah. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAW sudah terkenal menjadi orang yang jujur dan adil sebelumnya. Beliau juga tidak melakukan bisnis dengan pebisnis yang sudah cacat secara karakter, sehingga bisnisnya jarang sekali mengalami gejolak akibat perseteruan dengan mitra bisnis.

Kelima, Sayyidah Khadijah ra merupakan sosok dermawan. Harta yang didapatnya tidak serta merta diakui dan dinikmati sendiri, tapi sebagian juga disebar dan didermakan kepada lingkungannya. Ini kunci yang menyebabkan beliau sangat dihormati dan disegani. Di sisi lain, derma ini juga akhirnya mendorong tumbuhnya rasa empati di lingkungan beliau. Mereka yang sering mendapatkan derma pada akhirnya menjadi konsumen potensial bagi bisnisnya. Hal ini sekaligus sebagai bukti kebenaran al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 261)

Yang keenam, Sayyidah Khadijah ra adalah sosok yang berani dalam mengambil keputusan serta membaca peluang bisnis. Insting beliau dalam mempercayai seseorang terbukti brilian dan jarang salah. Seperti halnya saat beliau mempercayai Rasulullah SAW untuk membawa dagangannya ke Negeri Syam (Syiria), padahal Rasulullah SAW hanya pernah sekali ke Syam, itu pun ikut dengan rombongan pamannya Abu Thalib. Tapi karena melihat karakter Rasulullah SAW, beliau tidak ragu untuk itu, dan terbukti benar bahwa ternyata Rasulullah SAW adalah juga tipikal pebisnis yang ulung.

Sebenarnya masih banyak lagi keunggulan Sayyidah Khadijah ra, baik dalam hal bisnis maupun personal. Namun cukup dari 6 kunci sukses bisnis Sayyidah Khadijah ra, kita dapat menyimpulkan bahwa berbakat saja dalam bisnis tidaklah cukup, karena untuk mendapatkan kebahagiaan spiritual, kita juga harus memupuk iman kepada Allah SWT, yang ditunjang dengan jiwa spiritual yang mumpuni, yang nampak dalam aktivitas-aktivitas keseharian kita.

Perencanaan Keuangan dari Kisah Nabi Yusuf as

Kisah tentang nabi Yusuf as merupakan cikal bakal salah satu praktek ekonomi Islam. Praktek ekonomi tersebut terangkum dalam QS. Yusuf ayat 43-49 yang artinya:

“Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”. Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi. Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu”. Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS. Yusuf: 43-49)

Diceritakan dalam al-Qur’an bahwa pada saat itu, seorang raja Mesir mendapat mimpi yang sangat unik dan mengganggu pikiran dan hatinya. Mimpinya yaitu ada 7 ekor sapi yang gemuk yang kemudian mati dimakan oleh 7 sapi yang kurus. Raja berpikir mimpi ini ada kaitannya dengan posisinya sebagai penguasa Mesir.

Mimpi itu tersebar dan banyak masyarakat yang bingung dengan mimpi sang raja. Namun salah seorang pelayan raja bahwa dia mengenal seorang pemuda yang bernama Yusuf AS yang mampu menafsirkan mimpi. Mereka saling mengenal ketika masih bersama di dalam penjara.

Nabi Yusuf kemudian menafsirkan mimpi raja. Arti mimpi tersebut adalah bahwa Mesir akan mengalami 7 tahun masa makmur dan 7 tahun kemudian mengalami masa yang paceklik. Raja sangat kagum dengan kemampuan nabi Yusuf AS dalam menafsirkan mimpinya. Raja akhirnya mengangkat nabi Yusuf as sebagai pejabat tinggi yang khusus menangani masalah pangan dan logistik di wilayah kerajaan Mesir.

Berdasarkan kisah nabi Yusuf as tersebut, menggambarkan contoh usaha manusia dalam membentuk sistem proteksi menghadapi kemungkinan yang buruk di masa depan. Hal ini sejalan dengan salah satu bentuk muamalah kontemporer yaitu asuransi. Dalam kehidupan ini tidak seorangpun yang menginginkan datangnya musibah atau bencana. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berdoa kepada Allah SWT dihindarkan dari musibah dan berbagai bencana itu. Walaupun pada kenyataannya musibah tidak bisa dihindarkan dari kehidupan manusia dan itu merupakan qadla dan qadar Allah SWT, kita hanya diminta membuat perencanaan untuk hari depan. Hal ini sebagaimana terangkum dalam QS. al-Hasyr ayat 18 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18)

Oleh karena itu, kita harus berikhtiar dan berusaha melakukan tindakan berjaga-jaga, memperkecil risiko yang ditimbulkan dari bencana dan musibah tersebut. Salah satu cara yang biasa dilakukan masyarakat untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana atau musibah adalah dengan menyimpan atau menabung uang. Namun, upaya ini seringkali tidak mencukupi. Hal ini disebabkan karena biaya yang harus ditanggung ternyata lebih besar dari yang diperkirakan. Untuk itulah eksistensi lembaga asuransi tidak bisa dielakkan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Praktek asuransi yang tentunya hanya bertujuan untuk memproteksi berbagai kemungkinan musibah yang terjadi, dan tentunya praktek asuransi tersebut diharapkan dalam bingkai syariah Islam.

Jujur: Prinsip Bisnis Rasulullah SAW

Diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal ra bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sungguh penghasilan yang terbaik ialah penghasilan para pedagang yang apabila berbicara, ia tidak bohong; apabila ia diberi amanah, tidak berkhianat; apabila ia berjanji, tidak mengingkarinya; apabila ia membeli, tidak mencela; apabila ia menjual, tidak berlebihan (dalam menaikkan harga); apabila ia berhutang, tidak menunda-nunda pelunasan; dan apabila ia menagih hutang, tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.” (HR. al-Baihaqy, al-Hakim, dan al-Dailami)

Tujuh etika bisnis yang diajarkan nabi SAW di atas bermuara pada satu sifat, yaitu kejujuran. Kejujuran menuntut apa adanya, kejelasan, keterbukaan, keberanian dan tanggung jawab. Semua integritas seseorang dalam manajemen diukur pertama kali dari sudut kejujuran. Dengan demikian, kejujuran berdampak pada kesuksesan, dan sebaliknya ketidakjujuran berdampak pada kejatuhan.

Sifat jujur dan amanah adalah sifat utama Nabi SAW. Kedua sifat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dua sifat ini tidak bisa dimiliki seseorang secara spontan, melainkan memerlukan pembiasaan panjang hingga menjadi tabiat. Nabi SAW pernah menjelaskan pengaruh kejujuran terhadap kebaikan dan pengaruh kebohongan terhadap kejahatan:

“Wajib atas kalian berbuat jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Sungguh jika seseorang senantiasa berlaku jujur maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Sungguh dusta itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sungguh kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Sungguh jika seseorang selalu berdusta maka ia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dan Muslim, Malik, al-Turmudzi, Ibnu Hibban, Ibnu Asakir dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu)

Dalam berbisnis, kejujuran semata tidaklah cukup, tapi memerlukan juga kecerdasan. Kejujuran terkait dengan kredibilitas, sedangkan kecerdasan terkait dengan kapabilitas. Dua aspek ini akan menghasilkan kepercayaan (trust) yang dibutuhkan dalam semua bisnis. Kepercayaan dapat berperan sebagai modal, strategi, maupun identitas. Nabi SAW mendapat identitas sebagai manusia terpercaya atau al-amin. Dengan identitas ini, masyarakat Mekah tidak mempersoalkan kekayaan Nabi ataupun garis keturunannya, melainkan pada identitas beliau sebagai al-amin tersebut. Identitas inilah yang membawa keberhasilan nabi ketika berbisnis ataupun ketika berdakwah. Subhanallah, jika orang sudah mengenal Anda dengan identitas al-amin, saya yakin seyakin-yakinnya Anda tidak akan mengalami kesulitan berbisnis dengan siapapun. Mereka justru mendapat kenikmatan berbisnis dengan Anda.

“Ada empat sifat yang jika semuanya ada pada dirimu, maka tidak akan (menjadi sebab) kesusahanmu apapun (harta dunia) yang telah lepas (dari genggamanmu), yaitu menjaga amanah, bicara jujur, berakhlak mulia, dan selalu menjaga kesucian diri.” (HR. Ahmad bin Hanbal, al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Thabrani, al-Kharaithi dalam Makarim al-Akhaq, al-Baihaqi dalam Syuab al-Imam dari Abdullah bin ‘Amr ra, Ibnu Adi, dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas)

Berdasar hadist di atas, maka siapapun yang memegang teguh amanah (kepercayaan), jujur, berinteraksi yang baik dengan sesama manusia, dan menjaga diri dari sifat-sifat yang mengotori hati, yaitu iri, dengki, dendam dan sebagainya, maka ia dipastikan hidup penuh kemudahan, termasuk dalam berbisnis. Sebaliknya, jika kita bertemu dengan orang yang hidupnya serba susah, maka berdasar hadist di atas, bisa jadi itu karena ia mengabaikan sifat-sifat mulia yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut.

Pebisnis yang jujur tidak hanya mendapat surga duniawi berupa banyaknya orang yang ingin bermitra bisnis dengannya, tapi juga surga akhirat, yaitu banyaknya para syuhada yang bersamanya dalam surga. Rasulullah SAW, mensejajarkan pebisnis yang jujur dengan kemuliaan para pejuang muslim yang mati sebagai syuhada. Luar biasa. Nabi SAW bersabda yang artinya:

“Pedagang yang amanah, jujur dan muslim kelak pada hari kiamat akan bersama para syuhada.” (HR. Ibnu Majah, al-Baihaqi, al-Hakim, dan al-Thabrani dari Ibnu akan tetapi derajat hadist ini dhaif).

Bisnis syariah hanya tumbuh dan berkah jika semua pelakunya mengedepankan kejujuran. Memang perjuangan pebisnis muslim untuk jujur dan terpercaya sangat berat, lebih-lebih di tengah masyarakat yang hanya bicara uang tanpa memperhatikan etika dan prinsip-prinsip syariah. Tapi, kita sebagai pengikut Rasulullah tidak boleh menyerah, sebab berbisnis syariah bukan sebuah pilihan melainkan keharusan.

Sebagai penutup, saya bacakan firman Allah SWT tentang perintah menjadikan Rasulullah SAW sebagai idola dan tauladan dalam segala hal, yaitu: amanah, kejujuran, semangat bekerja dan semangat berbagi serta tauladan dalam rukuk dan sujudnya kepada Allah SWT:

“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21).

Kiat Bisnis Rasulullah SAW

Sekalipun secara detail aktivitas bisnis Muhammad SAW sebelum menjadi rasul itu tidak terekam dalam sejarah Nabi, dan hal itu wajar karena dilakukan sebelum menjadi nabi, tetapi ada prinsip-prinsip moral yang harus dipegang teguh oleh setiap Muslim. Prinsip-prinsip itu terdapat khususnya dalam al-Qur’an. Oleh ‘Aisyah ra disebutkan bahwa akhlak Rasulullah SAW itu adalah al-Qur’an, kana khuluquhu al-Qur’an.

Dalam konteks itulah, kita bisa menyebut beberapa prinsip bisnis yang menjadi landasan moral, yang bahkan telah dilakukan Rasulullah SAW sejak sebelum menjadi rasul atau sebelum turunnya al-Qur’an.

Ayat-ayat al-Qur’an mengajarkan pentingnya kejujuran. Dalam surat al-Muthaffifin 1-3, Allah SWT berfirman yang artinya:

“1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang 2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi 3. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. al-Muthaffifin: 1-3)

Rasulullah SAW juga melarang umatnya yang sengaja merugikan dengan cara menyembunyikan barang-barang yang jelek agar tidak diketahui oleh pembelinya. Praktek itulah yang dikenal dengan bay’ul gharar, yang dilarang. Itu pulalah yang disaksikan oleh Maisarah, pembantu Khadijah ra, atas perilaku bisnis Muhammad, dan itulah yang membuatnya kagum. Katanya, jika barang dagangannya yang dijual jelek maka dikatakan jelek. Begitu pun sebaliknya, jika barang-barang itu baik dikatakan baik. Beliau tidak menyembunyikan barang-barang yang jelek di balik barang-barang yang baik.

Di samping kejujurannya dengan mitra dagangnya, Muhammad SAW juga dikenal sebagai orang yang memegang teguh amanah. Ketika dipercaya untuk mengelola barang dagangan, beliau melaksanakan sebaik-baiknya. Setelah menjadi rasul, beliau pernah bersabda:

“Janganlah engkau mengkhianati orang memberimu amanah meskipun kepada orang yang pernah mengkhianati engkau.” (Riwayat ini terdapat dalam Musnad Ali bin Abi Thalib, riwayat yang senada dalam diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman).

Betapa luhurnya akhlak Nabi Muhammad SAW. Dikisahkan bahwa beliau selalu menjual barang kepada pembeli dengan harga yang disepakati dengan Khadijah ra. Ia tidak mengambil untung di luar yang disepakati. Oleh karena itu, banyak pembeli yang terkesan dan tertarik dengan cara berdagang beliau. Keluhuran sifat beliau ini kemudian diceritakan oleh Maisarah kepada majikannya, Khadijah ra. Dan ia pun merasa kagum dan terkesan dengan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Hubungan perdagangan antara keduanya berlanjut ke jenjang perkawinan.

Kejujuran yang menjadi ciri utama bisnis ala Nabi Muhammad SAW itu ditopang oleh filosofi yang bersumber dari nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh Allah SWT. Nilai-nilai ada pada keyakinan bahwa bisnis yang dilakukan tidak terlepas dari pengawasan Tuhan. Sekecil apapun yang dilakukan oleh manusia pasti dilihat oleh Allah SWT:

“7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. 8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. al-Zalzalah: 7-8).

Kemudian, prinsip yang dipegang teguh adalah kesukarelaan. Orang tidak boleh dipaksa untuk membeli sesuatu. Jual beli haruslah berjalan dengan kerelaan, ‘an taradlin minkum.

Prinsip yang juga sangat penting ialah keadilan dan menjauhkan kezaliman. Larangan Allah dan Rasul-Nya atas riba menunjukkan bahwa berbisnis haruslah dengan prinsip keadilan, yakni tidak adanya eksploitasi. Makna larangan riba adalah terhapusnya hubungan eksploitatif, yakni mengejar keuntungan di atas kesulitan atau penderitaan orang lain. Eksploitasi akan bisa dihilangkan jika berbisnis didasari niat saling membantu atau saling menguntungkan,

“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. …” (QS. al-Maidah: 2).

Dengan kejujuran, keadilan, dan semangat tolong-menolong itu, Insya Allah akan memberikan barakah kepada kita semua. Allah SWT berjanji akan menurunkan barakah bagi masyarakat, umat, dan bangsa yang menjunjung tinggi ketaqwaan dalam berbisnis. Taqwa tidak boleh hanya difahami secara global, tetapi haruslah tercermin dalam setiap langkah kita, baik yang kecil maupun yang besar. Allah berfirman dalam surat al-A’raf ayat 96 yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).

Meneladani Sifat Khadijah sebagai Pebisnis

Rasulullah SAW seringkali mengkait-kaitkan semua hal yang beliau lakukan dengan keterlibatan Sayyidah Khadijah ra. Hal yang selalu sukses membuat istri-istri Rasul yang lain merasa hormat, segan, sekaligus cemburu, terutama Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar ra. Secara khusus bahkan Rasulullah SAW memuji Khadijah ra dalam ucapan beliau SAW yang artinya:

“Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik dari Khadijah. Ia telah beriman kepadaku saat orang lain kufur, ia mempercayaiku ketika yang lain mendustakanku. Ia memberikan hartanya padaku ketika tidak ada orang lain membantuku. Dan Allah SWT juga menganugerahiku anak-anak melalui rahimnya, sementara istri-istriku yang lain tidak memberiku anak.” (HR. Ahmad, al-Haitsami berpendapat bahwa sanad hadist ini berderajat hasan, dan Thabrani juga dengan sanad yang hasan).

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki pernah menggambarkan Sayyidah Khadijah ra dengan bahasa ta’dzim beliau:

“Nama Khadijah memang tidak dapat dilupakan dalam sejarah karena perjalanan hidupnya yang selalu dihiasi bunga-bunga keberuntungan dan kemuliaan, tidak akan dapat dipisahkan dari perjalanan hidup Muhammad. Tidak pernah disebut kisah tentang wahyu, tentang diutusnya Muhammad sebagai utusan Allah, melainkan nama Khadijah tertera dalam kisah itu.”

Secara tersirat, beliau menggambarkan keutamaan ummul mukminin pertama ini dengan bahasa yang lugas. Namun bila kita mau sedikit cermat dengan sejarah, kita setidaknya akan menemukan 5 keutamaan Sayyidah Khadijah ra sehingga beliau pantas dijuluki orang yang sukses dalam dua dimensi sekaligus: material (sebagai pebisnis) maupun spiritual (sebagai ummul mukminin).

Pertama, Sayyidah Khadijah ra adalah orang yang kuat iman serta salah satu yang paling dalam pemahamannya mengenai Islam. Jika merujuk pada kenyataan bahwa beliau adalah salah satu yang paling pertama memeluk Islam, hal ini kelihatan pantas-pantas saja. Namun yang istimewa adalah, bahkan sejak sebelum Rasulullah SAW secara resmi diangkat oleh Allah SWT menjadi rasul, atau sejak zaman Jahiliyyah, Sayyidah Khadijah ra ternyata adalah salah satu orang yang teguh memegang ajaran agama yang dibawa oleh Nabiyullah Ibrahim AS, agama yang Hanif, memegang teguh manhaj tauhid.

Beliau sama sekali tidak pernah tersentuh kotornya paganisme atau budaya Jahiliyyah yang lain. Salah satu alasan mengapa Rasulullah SAW memilih beliau, dan bukan wanita lain, adalah karena keimanannya yang teguh ini.

Kedua, Sayyidah Khadijah ra adalah wanita terbaik di dunia, perempuan terbaik yang menghuni surga, serta perempuan terbaik dari golongan Islam. Hal ini pernah disebutkan sendiri oleh Rasulullah SAW dalam statemen beliau yang artinya:

“Wanita terbaik di dunia, yaitu Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun,” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Abu Ya’la).

Hadist ini secara tegas menunjukkan kepada kita tentang ketinggian derajat beliau di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT. Bayangkan! Sebagai istri Rasulullah SAW, mau tidak mau secara otomatis beliau menjadi role-model muslimat di seantero jagad. Tapi meski menyandang beban itu, Sayyidah Khadijah ra sama sekali tidak berubah menjadi lebih tinggi hati atau justru minder, beliau justru terpacu untuk menguatkan diri ke dalam, inner beauty. Tidak heran, semenjak menjadi istri Rasul, beliau justru tampak semakin bersahaja, tetap optimis, semakin tegar, tangguh, dan bijaksana, meski konsekuensinya adalah kemerosotan finansial beliau yang didharma-bhaktikan sepenuhnya untuk perjuangan Rasulullah SAW untuk menegakkan panji tauhid. Di saat beliau berlebih secara finansial, beliau dihormati karena kedermawanan dan jiwa bisnisnya. Di saat beliau kurang secara finansial, beliau tetap harum namanya justru karena kebersahajaan dan kebijaksanaannya.

Ketiga, Sayyidah Khadijah ra adalah satu dari sedikit perempuan yang pernah mendapat salam dari Allah SWT dan berita gembira dengan sebuah rumah di surga. Rasulullah SAW sendiri yang mengabarkan kepada beliau tentang keistimewaan itu, seperti yang tersebut dalam sebuah hadist yang artinya:

“Al-Qasim bin Abi Buzzah radhiyallahu anhu menuturkan: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Gua Hira bersama dengan Jibril alaihissalam, tiba-tiba Jibril berkata kepadanya: “Wahai Muhammad ini Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu anha membawa makanan istimewa (kurma yang dihaluskan dan minyak samin) dan secawan air, maka sampaikan salam dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, kemudian sampaikan salamku kepadanya, “maka Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam tersanjung, dan tiba-tiba Khadijah radhiyallahu anha hadir, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘(wahai) Khadijah’, ia menjawab: ‘Aku penuhi panggilan engkau wahai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam’, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya: ‘Apakah engkau membawa cawan berisi khaisah (kurma yang dilembutkan dengan campuran minyak samin), ia menjawab: ‘Ya, sambil bertanya: ‘Siapa yang menyampaikan informasi ini pada baginda? Demi yang memilihmu dari seluruh manusia yang ada, tidak ada yang tahu kecuali Tuhan semesta alam’, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jibril alahis salam yang mengucapkan salam kepadamu dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, kemudian menitipkan salam kepadamu’, maka Khadijah radhiyallahu anha menjawab: “Sungguh Allah Ta’ala adalah Yang memberikan keselamatan dan salam teruntuk Jibril alaihis salam (Akhbar Makkah oleh Al Fakihi).

Pernahkah Anda membayangkan mendapatkan salam dari Presiden? Atau orang terkenal yang Anda idolakan lainnya? Tentu tak tergambarkan perasaan yang berkecamuk dalam dada kita, padahal yang memberi salam kepada kita baru sebatas manusia biasa. Sedangkan beliau Khadijah ra mendapat salam dari Tuhan semesta alam, serta kepala dari para malaikat. Lalu bagaimanakah perasaan Anda saat mendengar menjadi juara dari sebuah lomba yang sulit untuk dimenangkan? Yang bahkan untuk mencapai final saja tidak pernah terbayang sebelumnya? Hidup kita ini adalah perlombaan dengan finis surga atau neraka. Dengan kata lain, berhasil masuk ke dalam surga saja sudah merupakan kemenangan besar bagi kita. Lalu jika masuk saja sudah merupakan kebanggaan terbesar, terus apa jadinya jika kita ternyata mendapat hadiah tambahan berupa rumah di dalamnya? Kita tahu tidak banyak manusia yang secara eksplisit oleh Rasulullah SAW disebut sebagai ahli surga pada saat mereka masih hidup, dan dari sangat sedikit perempuan, Sayyidah Khadijah ra adalah pemimpin para perempuan ahli surga.

Keempat, Sayyidah Khadijah ra adalah pusat keberlangsungan keluarga Rasulullah SAW, karena hanya dari beliau-lah keturunan Rasulullah SAW bisa terus menjadi mutiara jagad hingga hari kiamat nanti.

Sebut saja: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Semuanya terlahir dari rahim beliau. Setiap orang yang masih bisa melihat garis darah Rasulullah SAW sudah selayaknya berterima kasih sebesar-besarnya kepada beliau ra.

Yang terakhir, Rasulullah SAW senantiasa menyebut kenangan cinta Khadijah ra serta terus menjaga hubungan baik dengan keluarga beliau.

Ada 2 hal penting yang bisa kita petik dari keutamaan ini. Satu, Rasulullah SAW begitu mencintai Sayyidah Khadijah ra, begitu juga sebaliknya. Chemistry yang terbangun di antara keduanya begitu kuat, hingga bahkan sepeninggal Sayyidah Khadijah ra, Rasulullah SAW tetap menyebut-nyebut beliau di banyak tempat seakan-akan beliau masih hidup. Yang perlu digarisbawahi, dicintai oleh Rasulullah SAW saja sudah merupakan anugerah tak ternilai bagi seorang manusia, apalagi jika dicintai sedalam itu hingga Rasulullah SAW sendiri selalu menyebut-nyebut namanya, tentu saja Allah SWT yang tahu ketinggian derajatnya. Dua, Rasulullah SAW memang memiliki pergaulan yang luas, namun hanya mereka yang berkualitas luar dan dalam sajalah yang benar-benar dijadikan sahabat oleh Rasulullah SAW. Dan jika Rasulullah SAW memutuskan untuk tetap menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat dan keluarga Sayyidah Khadijah ra, tentu kita akan mafhum sekali bahwa selain keluarga beliau jelas merupakan orang yang saleh luar dalam, juga menunjukkan bahwa meski Sayyidah Khadijah ra terkenal supel, tapi beliau tidak begitu saja bergaul dengan sembarang orang, hanya mereka yang juga sama-sama bersih hati dan bersih pikir saja yang beliau akrabi, hingga akhirnya sepeninggal beliau, Rasulullah SAW tidak begitu saja memutus silaturahmi dengan sahabat dan keluarga Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra.

Tentu masih banyak lagi keistimewaan dan kehebatan beliau, Sayyidah Khadijah ra, yang belum tersebutkan. Namun dari 5 itu saja kita bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa penghulu surga yang satu ini memang benar-benar wanita luar biasa. Beliau sukses sebagai perempuan, sukses sebagai istri, sukses sebagai pebisnis, dan juga sukses sebagai makhluk sosial.

Kiat Sukses Sahabat dalam Bisnis

Dalam kitab-kitab tarikh, tercatat bahwa jauh sebelum Islam datang, bangsa Arab sudah terkenal sebagai komunitas yang suka berbisnis. Bahkan Rasul SAW sendiri hidup dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga pebisnis.

Setelah Islam datang, para sahabat Nabi SAW masih tetap mempertahankan aktivitas mereka di bidang bisnis. Hanya saja aktivitas bisnis mereka tidak lagi berorientasi pada perolehan keuntungan semata, melainkan sudah didasari kesadaran akan pentingnya kualitas bisnis mereka agar kelak bisa dipertanggungjawabkan di akhirat. Kesadaran ini semakin mendalam terutama setelah Allah SWT menurunkan firman-Nya dalam surat as-Shaff ayat 10-11 yang artinya:

“10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih. 11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. as-Shaff: 10-11).

Menurut Imam Ahmad, seorang sahabat yang bernama Abdullah ibn Salam yang dahulu beragama Yahudi dan memegang tampuk perekonomian kota Madinah, menceritakan bahwa para pebisnis sahabat Nabi SAW, baik yang berasal dari kaum Muhajirin maupun kaum Anshar, pernah berunding untuk menghadap dan memohon petunjuk Nabi SAW terkait sikap apakah yang paling baik yang harus diambil untuk membina bisnis kaum Muslimin menghadapi dominasi bisnis Yahudi di kota Madinah saat itu.

Dalam riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah ibn Salam disebutkan: “kami berunding dan kami sependapat bahwa andaikata kami mengetahui langkah yang paling disukai Allah SWT, tentu langkah itu kami kerjakan.”

Ibnu Hatim dalam riwayat yang diterima dari Abdullah ibn Salam juga menceritakan bahwa:

“Sesungguhnya beberapa pebisnis dari sahabat Nabi SAW berunding dan berpendapat untuk mengirim utusan kepada Nabi SAW dalam rangka menanyakan usaha apakah yang paling disenangi oleh Allah. Namun tidak ada seorang-pun bersedia menghadap beliau SAW, karena besarnya wibawa Nabi SAW. Akhirnya Nabi SAW memanggil kami satu persatu, sehingga kami semua berkumpul di hadapan Nabi SAW. Lalu turunlah surat as-Shaff (terdiri dari 14 ayat), sebagai jawaban atas persoalan yang kami tanyakan.”

Ayat tersebut di atas, merupakan bagian akhir dari surat as-Shaff yang berarti “barisan”. Ini menegaskan bahwa untuk melawan dominasi ekonomi Yahudi, kaum Muslimin harus merapatkan barisan dalam arti bersatu dan bersinergi dalam semua bidang perekonomian, seperti halnya berjihad menegakkan kebenaran ajaran-Nya.

Jadi tidaklah heran bila sejaran mencatat bahwa kaum Quraisy di Makkah terkenal sebagai pelaku-pelaku bisnis yang sukses mengembangkan perdagangan bahkan dengan negara-negara di luar jazirah Arab. Rempah-rempah di Timur diekspor ke Barat. Jalur sutera yang sangat terkenal menjadi bukti akan pentingnya posisi jazirah Arab sebagai lalu lintas perdagangan yang menghubungkan Timur dan Barat. Surat al-Quraisy dalam al-Qur’an, secara eksplisit menggambarkan aktivitas para sahabat Nabi SAW dalam dunia bisnis.

Di samping itu, para pedagang Madinah yang memiliki wilayah yang subur mengekspor hasil pertanian mereka berupa kurma dan gandum ke Syria dan wilayah-wilayah kekuasaan Romawi bahkan ke Eropa. Seiring dengan perkembangan zaman, maka para sahabat Nabi SAW, baik di Makkah maupun Madinah, tidak lagi sekadar berdagang hasil pertanian, melainkan juga mengembangkan ke arah bermacam industri, baik kecil maupun besar.

Menurut Abul Hasan ibn Mas’ud al-Khuza’i al-Andalusy, sebagaimana dikutip Zainal Abidin Ahmad, tidak kurang dari 12 macam industri besar dan kecil yang diperdagangkan oleh komunitas Muslim pada saat itu, seperti: Pembuatan senjata dan barang-barang yang menggunakan material besi, perusahaan tenun, perusahaan kayu, dan sebagainya.

Dibanding dengan bangsa-bangsa lain, aktivitas bisnis komunitas Arab pasca Islam dapat dikatakan sudah sangat maju. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan ini berkat prinsip-prinsip ekonomi yang mereka praktekkan dalam setiap kegiatan bisnis mereka didasarkan atas wahyu Allah SWT antara lain seperti termaktub dalam surat as-Shaff tadi.

Dalam ayat 10 sampai 13 surat as-Shaff itu dapat disarikan dua hal penting yang harus dijadikan landasan dalam berbisnis, antara lain:

  1. Dimulai dengan niat yang bersih.

Hal ini hanya bisa terwujud bila aktivitas bisnis yang dilakukan didasarkan atas keimanan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan demikian, pelaku bisnis yang menempatkan nilai keimanannya sebagai landasan aktivitasnya, tidak semata-mata mencari keuntungan material, melainkan akan selalu memperhatikan proses semua bisnis yang dilakukannya dan perolehan keuntungan yang didapatnya. Sebaliknya, apabila menderita kerugian, ia tidak akan terlalu kecewa dan putus asa. Ia akan selalu optimis menjalankan usahanya.

  • Memiliki semangat jihad.

Semangat jihad, dalam arti bersungguh-sungguh dan serius ketika bisnisnya sedang berjalan dan pada saat keuntungan telah diperoleh. Dengan semangat ini, maka keuntungan yang diperolehnya akan mendorong yang bersangkutan memanfaatkan sebagian keuntungan yang diperolehnya untuk kegiatan-kegiatan sosial keagamaan. Bahkan dengan semangat jihad ini, iapun akan rela mengorbankan jiwanya untuk kegiatan-kegiatan “fi sabilillah”.

Dua prinsip itulah yang menjadi pedoman para sahabat Nabi SAW dalam melakukan transaksi bisnis mereka. Para sahabat Nabi SAW sangat memahami makna kata “itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya”.

Dengan dua prinsip itu, komunitas Muslim mulai bangkit dari tekanan ekonomi materialistik Yahudi menuju ekonomi Islami. Di kota Madinah, mulai didirikan pasar Madinah (Suq al-Madinah) yang didominasi oleh para sahabat Nabi SAW untuk menyaingi pasar Bani Qainuqa’ (Suq Bani Qainuqa’) yang didominasi oleh komunitas Yahudi. Semakin lama semakin kelihatan karakteristik kedua pasar tersebut.

Abdurrahman al-Syarqawi mencatat bahwa perang ekonomi mulai terjadi antara sifat-sifat pintar dan busuknya para rentenir Yahudi dengan para pedagang Muslim yang jujur dan santun. Al-Syarqawi selanjutnya menyatakan bahwa para pedagang dari luar kota Madinah, berduyun-duyun mendatangi Suq al-Madinah. Mereka bertransaksi dengan para saudagar Muslim dan merasakan manfaat kejujuran kaum Muslimin dalam melakukan transaksi bisnis mereka. Akibatnya seluruh pedagang itu bukan hanya sekadar memperoleh keuntungan material, tetapi juga mendapatkan pencerahan dari sikap pelaku bisnis Muslim yang jujur, sopan, dan santun. Sejarah kemudian mencatat, bahwa tidak sedikit dari para pelaku bisnis pendatang itu yang tertarik dengan ajaran Islam bahkan kemudian mereka berbondong-bondong menganut agama Islam.

Dengan demikian, perekonomian di Madinah dan jazirah Arab pada umumnya dapat berdiri tegak dan menjadi pesaing potensial bagi perekonomian Yahudi pada saat itu, karena dimotori oleh para sahabat Nabi SAW yang dengan teguh melaksanakan prinsip-prinsip ekonomi Islami. Wallahu A’lam bis Shawab.

Membuka Pintu Berkah dengan Bisnis Berbasis Syariah

Hampir semua orang di dunia ini senantiasa mendambakan rezeki yang berlimpah dan berkah. Dengan kata lain, kaya raya berlimpah harta dan diselimuti oleh ridha Allah SWT. Harta atau kekayaan memiliki peran penting dalam kehidupan duniawi dan jika dikelola dengan baik akan dapat membawa kepada kehidupan akhirat yang baik pula. Dengan harta manusia dapat memenuhi berbagai kebutuhannya yang terus berkembang seiring dengan perkembangan kehidupannya. Dengan harta pula seorang Muslim dapat memenuhi kewajibannya kepada Allah SWT seperti, zakat, infaq, shadaqah, berjihad di jalan Allah, berkurban, menunaikan ibadah haji dan berbagai ibadah lainnya.

Ketika muncul pertama kali di dunia manusia membutuhkan segala sesuatu yang dapat digunakan memelihara dan mempertahankan kehidupannya. Manakala kebutuhan untuk mempertahankan hidup telah terpenuhi, manusia membutuhkan barang dan jasa lainnya. Secara hierarkis berdasarkan skala prioritasnya, kebutuhan manusia terdiri dari: 1) Kebutuhan fisiologis (physiological needs). Kebutuhan ini mencakup kebutuhan dasar manusia, seperti makan dan minum. Jika belum terpenuhi, maka kebutuhan ini menjadi prioritas utama dan mengesampingkan yang lain. 2) Kebutuhan keamanan (safety needs) yang meliputi kebutuhan akan perlindungan dari gangguan fisik, kesehatan dan krisis ekonomi. 3) Kebutuhan sosial (sosial needs) yang mencakup kebutuhan akan cinta dan kasih sayang serta persahabatan. 4) Kebutuhan terhadap penghormatan dan pengakuan diri. 5) Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), mencakup kebutuhan untuk memberdayakan seluruh potensi dan kemampuan diri.

Jumlah dan keragaman kebutuhan manusia dipengaruhi, antara lain oleh: Perkembangan zaman, Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tingkat perekonomian, keadaan tempat, waktu pemenuhan, tingkat pendidikan, agama, atau kepercayaan. Dan faktor lainnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan budaya seseorang maka semakin banyak pula kebutuhan terhadap barang dan jasa, baik dari segi jenis maupun jumlahnya.

Oleh karena itu, Islam senantiasa mendorong umatnya untuk bekerja keras mencari rezeki. Pada QS. al-Jum’ah ayat 10 Allah SWT juga mengingatkan agar umat Islam tidak bersantai-santai setelah menunaikan ibadah mahdhoh melainkan segera bekerja mencari rezeki yang tersebar di muka bumi ini.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh at-Thabrani dan al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardhu”. (HR. al-Thabrani dan al-Baihaqi bersumber dari Abdullah bin Mas’ud ra, namun al-Baihaqi melemahkannya).

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh al-Baghawie, Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya:

“Tiada seorang yang makan makanan yang lebih baik dari makanan dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud, itupun makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. al-Baghawie dalam Syarh al-Sunnah)

Baik ayat al-Qur’an maupun hadist Nabi Muhammad SAW di atas jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras mencari rezeki, sekaligus memberikan motivasi yang begitu kuat bagi umat Islam untuk berupaya mencari kekayaan. Bekerja keras adalah langkah nyata yang dapat menghasilkan rezeki. Kendati demikian bukan berarti betapapun kerasnya usaha yang dilakukan, harus selalu dalam bingkai syariah Islamiyah. Kerja keras yang dilakukan keluar dari bingkai syariah Islamiyah akan menjadikan rezeki yang diperolehnya tidak membawa berkah.

Berkah sering diartikan sebagai tambahan kebaikan yang memberikan kebahagiaan pada manusia. Kekayaan yang berlimpah tetapi tidak berkah tidak akan dapat membawa pemiliknya kepada kebaikan dan kebahagiaan, sebaliknya, membawa kepada kesengsaraan. Kita tidak jarang menjumpai, orang memiliki harta yang berlimpah, tapi istrinya menyeleweng, atau anak-anaknya melakukan tindakan amoral, seperti memakai narkoba, berzina, dan kegiatan amoral lainnya. Hal demikian, bisa jadi karena harta yang dipakainya tidak berkah.

Berkah sepenuhnya hak Allah SWT. Maka jika kita menghendaki berkah, tidak ada pintu lain kecuali mendekatkan diri kepada Sang Pemberi berkah. Dalam al-Qur’an surat al-A’raf ayat 96 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96)

Dari ayat itu, tampak jelas bahwa syarat untuk meraih berkah dari Allah SWT adalah iman dan taqwa. Beriman secara literal dan teoritik meyakini keberadaan Allah yang Maha Kuasa dengan seluruh sifat yang melekat pada-Nya, dan bertaqwa merupakan manifestasi atau implementasi secara faktual dari perintah dan larangan-Nya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa syarat iman dan taqwa itu adalah hatinya beriman pada apa yang di bawa oleh Rasulullah, membenarkan dan mengikutinya, bertaqwa dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan perbuatan yang diharamkan.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam mengatur tidak hanya hubungan manusia sebagai ‘abd (hamba) kepada Allah Sang Khaliq, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan harta benda. Islam mengatur tidak hanya aspek aqidah, ibadah, akhlak, melainkan juga mengatur muamalah. Aturan Islam tidak hanya tentang syahadat, shalat, puasa, haji, dan ibadah ritual lainnya, tetapi juga harta dan cara mencarinya. Islam memiliki wawasan yang komprehensif tentang etika bisnis, mulai dari prinsip dasar, pokok-pokok perdagangan, faktor-faktor produksi, tenaga kerja, modal organisasi, distribusi kekayaan, masalah upah, barang dan jasa, kualifikasi dalam bisnis, sampai kepada etika sosio-ekonomik menyangkut hak milik dan hubungan sosial.

Aturan-aturan tersebut harus dipenuhi jika menghendaki bisnis yang dijalankan menghasilkan rezeki atau harta yang berkah. Diantara prinsip-prinsip tersebut antara lain:

Pertama, prinsip Halal. Artinya bisnis yang dilakukan dalam lingkup barang dan jasa yang diperbolehkan untuk diperdagangkan menurut Islam, baik berdasarkan al-Qur’an, Hadist, maupun pendapat ulama. Dengan kata lain bisnis tidak dilakukan pada barang dan jasa yang diharamkan, seperti narkoba, prostitusi, babi, dan barang barang haram lainnya. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 168 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)

Kedua, Bebas Unsur Judi. Judi diartikan sebagai suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya. Sesuatu dikatakan judi jika ada unsur pertaruhan sesuatu yang bernilai ekonomis, kegiatan bersifat permainan dan adanya tidak pastian hasil. Bisnis yang mengandung unsur perjudian adalah dilarang karena membawa kerugian bagi para pelakunya dan menyebabkan penyakit sosial. Dalam terjemah al-Qur’an surah al-Maidah ayat 90 dinyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maidah: 90)

Dalam ayat di atas, tampak jelas bahwa Allah SWT melarang segala bentuk perjudian dengan larangan yang sangat keras; Judi disifati sebagai sesuatu yang najis dan keji; Judi dimasukkan dalam perbuatan syaitan dan tentunya perbuatan hina; Allah SWT menggunakan perkataan ‘Jauhilah’ untuk menunjukkan pengharamannya; Judi tidak akan membawa keberuntungan.

Ketiga, Bebas Riba. Kata riba dari segi bahasa berarti “kelebihan”. Riba secara istilah berarti kelebihan atas pokok hutang yang dipungut bersama jumlah hutang. Dalam al-Qur’an ditemukan kata riba sebanyak delapan kali dalam empat surat, tiga di antaranya turun setelah Nabi SAW hijrah dan satu ayat lagi ketika beliau masih di Makkah. Di antara larangan riba adalah al-Baqarah ayat 275 yang artinya:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 275).

Dalam konsep riba, uang adalah barang komoditas dan kelebihan atas pokok dipandang sebagai harta yang harus dibayar oleh pembeli. Riba dapat mengakibatkan distribusi kekayaan secara tidak adil dan merata, karena kekayaan hanya terpusat pada mereka yang mampu membayar harga tinggi, sementara mereka yang lemah, tersingkir karena tidak mampu membayar harga tersebut. Hal ini akan mengakibatkan si lemah yang berdaya beli lemah pada akhirnya tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Orang yang memakan riba digambarkan sebagai orang yang kerasukan syaitan karena ia memiliki sifat syaitan yaitu sombong. Ia sombong atas kekayaannya dan tidak peduli pada si miskin.

Keempat, Bebas Unsur Zalim. Zalim berarti tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Zalim dalam kegiatan bisnis berarti tidak memberikan hak-hak kepada yang memilikinya, seperti berbuat curang, ingkar janji. Dengan demikian perbuatan zalim mengakibatkan kerugian pada salah satu pihak. Di antara perbuatan zalim mengakibatkan kerugian pada salah satu pihak. Di antara perbuatan zalim adalah batil yaitu tidak melakukan sesuatu dengan benar. Dalam al-Qur’an arti Surah al-Baqarah ayat 188 dinyatakan:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 188).

Etika Bisnis Berbasis Syariah

Beberapa etika bisnis syariah adalah sebagai berikut:

  1. Jujur dalam tindakan. Salah satu etika yang penting dalam berbisnis adalah masalah kejujuran. Bisnis tidak akan jalan apabila seseorang mengatakan tidak sebenarnya. Pebisnis tidak akan mau bermitra dengan pihak-pihak yang berkata bohong. Karena sudah pasti akan merugikan pihak-pihak lain. Allah SWT berfirman QS. al-Muthaffifin 1-2 yang artinya:

“1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang 2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. al-Muthaffifin: 1-2)

Ayat di atas diturunkan pada periode makkiyyah yang merupakan periode penanaman aqidah namun tetap tidak melupakan sisi ekonomi. Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang curang (tidak jujur) akan menimbulkan sifat egois yang akan berdampak buruk pada pihak lain.

Ayat itu telah menjelaskan bahwa ketika seseorang itu memihak pada dirinya, maka dia minta porsi lebih, tetapi apabila untuk keperluan orang lain, maka dia akan beri sedikit. Dengan kejadian ini, tidak tercipta keharmonisan yang diinginkan dalam Islam. Justru Islam menyarankan seseorang untuk mendahulukan orang lain. Orang lain harus mendapat porsi lebih banyak. Dalam konteks jual beli, maka penjual disarankan untuk memberi bonus kepada pembeli. Dengan demikian maka keharmonisan akan tercipta.

Allah SWT berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 70-71 yang artinya:

“70. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. 71. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. al-Ahzab: 70-71)

Ayat ini menjelaskan bahwa kita diminta untuk berkata jujur dalam segala hal. Dengan berkata yang sebenarnya maka Allah akan memperbaiki amalan-amalan kita dan juga akan mengampuni dosa-dosa kita. Intinya, kita dituntut untuk mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan demikian kita akan mendapatkan kemenangan yang besar.

  • Amanah. Etika kedua yang penting dalam berbisnis adalah dalam Amanah. Etika ini wajib dijalankan oleh pelaku bisnis. Seseorang yang menerima amanah harus menjalankan amanah tersebut sebaik-baiknya. Contoh, bank syariah mendapatkan amanah dari deposan untuk memutar dananya agar dapat menghasilkan laba untuk kemudian dibagikan sesuai dengan kesepakatan. Sungguh sangat tercela apabila bank syariah tidak bisa menjalankan amanah tersebut dengan baik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab ayat 72 yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72)

  • Menjual barang yang halal dan baik. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, baik dalam bentuk barang dan jasa. Oleh karena itu, barang dan jasa yang diperjual belikan haruslah halal, misalnya tidak mengandung alkohol dan babi. Barang dan jasa yang baik misalnya minuman yang menyehatkan bagi kesehatan. Dalam salah satu arti hadist, Nabi SAW menyatakan bahwa:

“Nabi SAW melarang menjual buah-buahan hingga jelas baiknya.” (HR. al-Bukhari, Abu Dawud, al-Darimi, al-Baihaqi, dan al-Baghawie).

  • Memberikan informasi yang lengkap tentang keadaan barang yang diperjualbelikan. Keberkahan akan terjadi apabila pembeli dan penjual sama-sama ridha. Keridhaan akan muncul ketika penjual menginformasikan semua hal atas barangnya. Biasanya penjual akan menginformasikan kualitas barang yang baik-baik saja, tetapi untuk kecacatan barang biasanya tidak diinformasikan. Ini yang tidak sejalan dalam Islam. Etika Islam menyarankan agar penjual menginformasikan juga ke pembeli tentang kecacatannya. Dalam hal ekonomi, harga yang terbentuk atas kecacatan yang tidak terinformasikan akan bias. Sebaliknya apabila kecacatan itu dilaporkan kepada pembeli maka harga yang terbentuk adalah harga yang sebenarnya. Ibnu Umar menurut riwayat Imam Bukhari, memberitakan bahwa seorang lelaki menceritakan kepada Nabi bahwa ia tertipu dalam jual beli. Sabda Nabi yang artinya:

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya, (karena itu) tidak dihalalkan bagi seorang muslim jika menjual sesuatu yang ada cacatnya dari saudaranya kecuali ia menjelaskan aibnya itu). (HR. al-Thabrani)

  • Jangan main sumpah. Ada kebiasaan pedagang untuk meyakinkan pembelinya dengan jalan main sumpah agar dagangannya laris. Dalam hal ini Rasulullah SAW memperingatkan:

“Jauhilah (olehmu) banyak sumpah dalam jual-beli, karena (hal) itu melariskan tapi menghilangkan berkah.” (HR. Ibnu Abi Awanah dalam musnadnya).

  • Longgar dan bermurah hati. Sabda Rasulullah SAW:

“Allah mengasihi orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli, dan waktu menagih hutang”. (HR. Abu Ya’la al Mushili, al-Haitsami)

Kemudian dalam hadist lain Abu Hurairah memberitakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Ada seorang pedagang yang mempiutangi orang banyak. Apabila dilihatnya orang yang ditagih itu dalam kesempitan, dia perintahkan kepada pembantu-pembantunya.” Berilah kelonggaran kepadanya, mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan kepada kita”. Maka Allah pun memberikan kelapangan kepadanya.” (HR. Bukhari).

  • Larangan riba. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:

“Allah menghapuskan riba dan menyempurnakan kebaikan shadaqah. Dan Allah tidak suka kepada orang yang tetap membangkang dalam bergelimang dosa”. (QS. al-Baqarah: 276).

  • Anjuran berzakat. Yakni menghitung dan mengeluarkan zakat barang dagangan setiap tahun sebanyak 2,5% sebagai salah satu cara untuk membersihkan harta yang diperoleh dari hasil usaha. Keuntungan dari bisnis tersebut haruslah dikeluarkan zakatnya agar bisnis kita menjadi berkah.
  • Toleransi dan keramahtamahan. Dalam berbisnis, keramahan harus ditunjukkan oleh kedua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli. Berbisnis tidak hanya masalah keuntungan saja, tetapi juga bagaimana bisnis bisa menjaga ukhuwah Islamiyah antara pihak-pihak terkait, Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

“Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwasanya Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleransi dalam menjual, membeli, dan menagih.” (HR. al-Bukhari dan at-Tirmidzi).

Bentuk-bentuk toleransi dan keramahtamahan yaitu tidak menarik keuntungan yang melampaui batas kewajaran, serta menerima kembali dalam batas tertentu barang yang dijualnya jika pembeli merasa tidak puas.

Ini adalah beberapa etika bisnis dalam Islam. Islam tidak hanya menjelaskan masalah akad saja tetapi juga etika bisnis yang tidak kalah penting. Marilah kita jalankan etika bisnis ini sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Allah SWT meridhai segala upaya kita.

Produktivitas adalah Kunci Sukses Pebisnis Muslim

Kita sadari atau tidak, bahwa pada tahun 2015 ini menjadi titik awal telah dimulainya kesepakatan perdagangan bebas antara negara ASEAN, atau yang disebut kesepatakan MEA. Dimana satu negara sama lainnya bebas masuk ke negara-negara yang tergabung dalam ASEAN tersebut untuk melebarkan sayap usahanya atau membuka usaha baru, dan memasarkannya kepada penduduk setempat. Tentu hal ini mendorong kita untuk selalu waspada dan segera bangkit, berikhtiar dan berdoa kepada Allah SWT disertai dengan usaha yang bersungguh-sungguh, dan bekerja keras. Tidak hanya duduk manis menjadi penonton atau budak di negeri sendiri. Bahkan bekerja keras saja tidak cukup, namun juga menuntut kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Inilah yang disebut produktivitas yang berkualitas.

Sebagai seorang muslim, kita dituntut menjadi orang yang selalu berkarya, berprestasi, ada output yang baik dari hari ke hari. Maka untuk itu, al-Qur’an menekankan untuk terjadinya kompetisi satu sama lain dalam hal kebaikan. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 148)

Hal ini juga diperjelas dengan arti mutiara hikmah dari al-Hasan bin Ali rahumahullah berikut ini:

“Orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka dia tergolong orang yang beruntung. Dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia tergolong orang yang rugi. Sedangkan orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia tergolong orang yang celaka.”

Menjadi seorang muslim yang produktif merupakan sesuatu yang urgen di saat ini. Produktivitas itu berarti kemampuan untuk menghasilkan sesuatu atau membuatnya memiliki nilai tambah. Islam sebagai pedoman hidup yang turun dari Sang Pencipta, sangat menghargai bahkan amat mendorong produktivitas. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Dari Ibnu ‘Umar ra dari Nabi saw, ia berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang beriman yang berkarya (produktif menghasilkan berbagai kebaikan -pen).” (HR. Thabrani, Ibnu Adi, dan al-Baihaqi).

Dalam hadist lain, Nabi juga bersabda:

Dari ‘Aisyah ra. Beliau berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang di senja harinya merasa letih karena bekerja (mencari nafkah) maka pada senja hari itu dia berada dalam ampunan Allah.” (HR. at-Thabrani).

Islam membenci pengangguran, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang sahabat Nabi saw, Ibnu Masud ra:

“Sesungguhnya aku benci kepada seseorang yang menganggur, tidak bekerja untuk kepentingan dunia juga tidak untuk keuntungan akhirat.” (HR. at-Thabrani).

Bahkan Rasulullah SAW menghargai seorang hamba yang sanggup mandiri, hidup dengan hasil kemampuannya sendiri:

“Makanan yang terbaik yang dimakan seseorang adalah dari hasil karya tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabi Dawud as pun makan dari hasil kerjanya sendiri.” (HR. al-Bukhari).

Dalam keterangan lain, beliau SAW menyebutkan bahwa sebaik-baik usaha adalah apa yang menjadi ekspresi dari keterampilan diri dan segenap tanggung jawab ekonomi yang dia berikan kepada keluarganya, dinilai sebagai sedekah yang terus menerus menghasilkan pahala. Sementara pekerjaan terbaik seseorang adalah apa yang dikerjakan berdasarkan keterampilannya, dan apapun yang dinafkahkan seseorang untuk dirinya, keluarganya, anaknya dan pembantunya adalah sedekah. (HR. Ibnu Majah).

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang beriman yang sekalipun lemah, tetapi ia produktif dan selalu menjaga harga dirinya (tidak mau meminta-minta) dan Allah membenci tukang peminta-minta yang pemaksa.” (Tafsir al-Qurthubi, Juz 11 hal 321).

Produktivitas itu tetap harus dipertahankan dalam segala situasi dan kondisi, dengan sebuah penggambaran yang ekstrim: bahkan sekalipun Anda tahu besok akan kiamat, tidak boleh membuat kita berhenti berkarya dan kehilangan produktivitas. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Andaipun besok kiamat, sedang di tangan salah seorang di antara kamu ada tunas pohon kurma, maka tanamlah ia!” (HR. al-Bukhari).

Sedemikian besarnya penghargaan Islam atas produktivitas, sampai-sampai disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa produktivitas juga erat kaitannya dengan jalan untuk memperoleh pengampunan dari dosa-dosa yang justru tidak akan bisa diampuni dengan cara yang lainnya.

“Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada beberapa dosa yang tidak akan terhapus dengan shalat, shaum, haji, dan umrah.” Para sahabat bertanya, “dengan apa menghapuskannya ya Rasulullah?” Jawab beliau: “dengan semangat dan bersungguh-sungguh mencari nafkah.” (HR. at-Thabrani).

Tentu ini disampaikan agar kita kaum muslimin tidak hanya terfokus pada rutinitas ritual semata, tetapi mereka diingatkan bahwa ada aktivitas lain yang juga harus mereka tekuni, jika mereka ingin agar dosa-dosa mereka diampuni. Bahwa mereka pun mesti memiliki semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan kepada kita bersama untuk menjadi seorang muslim yang selalu produktif, berkarya dan berprestasi, selalu berbuat baik hingga ajal menjemput kita dalam khusnul khatimah. Aamiin.

Rasulullah SAW Teladan bagi Entrepreneur

Nabi SAW adalah satu-satunya manusia yang mendapat pujian tertinggi dari Allah SWT sebagai manusia paling berbudi luhur, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Qalam ayat 4 yang artinya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

Berpijak dari ayat ini, saya akan menyampaikan tentang budi pekerti Rasulullah SAW. Kita sudah sering mendengar sejarah atau perjalanan hidup Nabi SAW, sebagai da’i teladan, panglima perang teladan, dan suami teladan. Pada khotbah siang ini, saya akan menjelaskan sejarah Nabi SAW dari sisi yang lain, yaitu sebagai entrepreneur teladan.

Nabi SAW berasal dari suku Quraisy, sebuah suku yang menguasai kawasan Makkah, yang tidak pernah sepi manusia, karena Ka’bah yang ada di wilayah ini benar-benar menjadi objek wisata religi penduduk Arab dari semua suku. Abdul Muthalib sebagai kepala suku yang juga kakek Nabi SAW memanfaatkan potensi ekonomi ini dengan membangun pasar-pasar dan kegiatan-kegiatan yang menarik pengunjung, antara lain festival budaya di tengah pasar ‘Ukazh. Keberhasilan meramaikan Makkah sebagai objek kunjungan wisata membuat suku Quraisy terkenal dan disegani. Hubungan dagang yang terjalin semakin memperkuat hubungan kekerabatan dan diplomatik, sehingga kota Makkah terlepas dari penjajahan Kerajaan Persia maupun Romawi.

Hampir semua kerabat Rasulullah SAW di Makkah adalah para pedagang. Ayahnya sendiri, Abdullah, juga bermitra dagang dengan para eksportir dan importir dari dan ke Makkah. Ketika Nabi SAW berada dalam kandungan ibunya, sang ayah wafat saat melakukan perjalanan berdagang. Jadi darah bisnis ayahanda mengalir ke Muhammad kecil. Aktivitas bisnis suku Quraisy di Makkah inilah yang digambarkan Allah SWT dalam surat al-Quraisy ayat 1-2 yang artinya:

“1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy 2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS. al-Quraisy: 1-2)

Sebagaimana kita ketahui, Nabi SAW lahir sebagai yatim. Inilah yang membuat Muhammad kecil berlatih mandiri. Kemandirian ini sangat diperlukan sebagai mental awal bagi setiap wirausahawan. Selama dua tahun ia berada dalam pengasuhan Halimah as-Sa’diyyah. Perempuan ini selalu menanamkan pada Muhammad kecil kecerdasan sosial, yaitu kemampuan menjalin pertemanan dan kecepatan beradaptasi dengan lingkungan. Kecerdasan sosial ini merupakan mental kedua yang wajib dimiliki oleh wirausahawan setelah mental kemandirian.

Suatu saat, Muhammad kecil tiba-tiba berani duduk di kursi istimewa kakeknya. Anak-anak seusianya tidak ada yang berani melakukannya. Ia sempat diusir oleh para kerabatnya, namun Abdul Muthalib, kakeknya membela dan menyayanginya. Sejak kecil Rasulullah menunjukkan sikap menyukai tantangan dan tidak suka mengeluh. Ummu Aiman, wanita yang juga pernah mengasuh Rasulullah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah mengeluh lapar maupun haus saat dewasa maupun masa kecilnya. Di pagi buta, ia pergi dengan minum seteguk air zam-zam. Tatkala kami menawarkan sarapan kepadanya, ia menjawab: “aku masih kenyang.” (Kitab Subulul Huda war Rosyad Vol II: 135). Hanya manusia tahan banting dan suka tantangan seperti beliau inilah yang bisa menjadi pebisnis sukses.

Di usia hampir remaja, Rasulullah SAW hidup dalam pengasuhan pamannya, Abu Thalib, yang tak berharta. Kondisi ini memaksa dirinya untuk bekerja sebagai pengembala hewan ternak milik hartawan Makkah. Profesi sebagai pengembala sekian tahun ternyata menjadi media pelatihan kepemimpinan untuk kelak bisa memimpin umat dengan sukses.

Oleh sebab itu bisa difahami jika hampir semua nabi pernah berprofesi sebagai pengembala hewan. Profesi ini menanamkan jiwa amanah atau jiwa menerima tanggung jawab dan kepercayaan. Tidak ada pengusaha yang bisa berkembang atau bertahan lama tanpa trust atau kepercayaan dari pihak lain. Subhanallah, benar sekali, sejak terkenal sebagai pegawai yang amanah, banyak pengusaha dan pemilik hewan ternak Makkah yang berebut untuk menjadikan Muhammad muda sebagai mitra usahanya.

Muhammad muda tidak pernah berhenti belajar. Ketika sang paman mengajaknya pergi berdagang ke luar Makkah, ia mempelajari seluk-beluk perdagangan dengan seksama. Inilah pelajaran magang seorang wirausaha, yaitu mampu menganalisis sirkulasi bisnis. Kecerdasan berbisnis yang diperoleh dari magang pada bisnis sang paman itulah yang membuatnya berani mengajukan proposal sebagai mitra dagang wanita kaya Makkah, Khadijah ra.

Apa yang terjadi selama bermitra dagang dengan Khadijah ra? Khadijah terheran-heran karena omzet perdagangannya melonjak tinggi sejak ditangani Muhammad muda nan tampan ini. Janda kaya raya ini sampai menunjuk Maisarah untuk meneliti apa saja yang telah dilakukan Muhammad muda dalam berbisnis. Utusan itu kemudian menyimpulkan, “Muhammad bekerja dengan orientasi kepuasan pelanggan melalui bisnis yang transparan.” Hingga saat ini, kepuasan pelanggan dijadikan sasaran bisnis para wirausaha, namun belum banyak dari mereka yang memperhatikan transparansi bisnis. Akhirnya, kekaguman Khadijah berbuah cinta. Melalui seorang perantara, Khadijah menyampaikan maksudnya untuk bersanding dengan Muhammad sebagai suami. Pernikahan ini sekaligus menguatkan posisi Muhammad SAW sebagai entrepreneur.

Setelah menjadi suami istri, harta Muhammad dan Khadijah ra dimerger hingga bisnisnya membesar. Tidak sedikit para wirausahawan melakukan merger bisnis dengan strategi pernikahan. Muhammad pun menjadi manajer sekaligus owner perusahaan dengan banyak mitra bisnis dan pelanggan. Untuk menjaga loyalitas mereka, Muhammad melakukan silaturrahim. Dari silaturrahim ini, terungkap ragam permasalahan para mitra, lalu Muhammad segera memberikan solusi kepada mereka.

Muhammad SAW selalu memberikan jamuan istimewa untuk setiap customer yang menemuinya. Ia sangat terkenal sebagai penyambut tamu yang terbaik dan paling peduli kepada orang-orang kecil atau masyarakat ekonomi lemah. Inilah yang menjadikan Khadijah berani memberikan jaminan bahwa Nabi SAW tidak akan menerima kesengsaraan apapun, sebab ia selalu berpihak kepada kaum kecil. Ketika Nabi SAW gelisah usai menerima wahyu pertama, Khadijah menghibur Nabi SAW sebagai berikut:

“Demi Allah, tidak akan terjadi apa-apa. Allah tidak akan membuatmu hina, karena engkau selalu menyambung sanak kerabat, menanggung beban orang lain, memberikan pekerjaan kepada pengangguran, menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah.” (HR. al-Bukhari).

Pertanggungjawaban sosial bisnis yang diterapkan Muhammad SAW di atas dapat dirasakan oleh masyarakat internal perusahaan (stockholders) maupun masyarakat eksternal (stakeholders). Menurut pengalaman Khadijah ra, kebajikan pengusaha berhubungan dengan kelangsungan bisnis. Semua yang pernah menikmati keuntungan bisnis akan ikut menjaga dan membelanya.

Puncak harapan kaum wirausahawan telah dicapai oleh Rasulullah SAW saat usia 40 tahun. Di waktu yang sama, Rasulullah SAW menerima wahyu untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, ia meninggalkan usaha bisnisnya dan fokus pada tugas kenabian, bahkan semua kekayaan beliau sedikit demi sedikit habis untuk pendanaan tugas-tugas kenabian. Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan sedikitpun warisan, karena para nabi dan rasul tidak meninggalkan warisan harta. Subhanallah.

Saya mengajak kaum muda untuk menjadi entrepreneur. Saatnya tidak lagi mencari pekerjaan dengan hanya mengandalkan ijazah dari perguruan tinggi, tapi membuka lapangan kerja untuk saudara-saudara kita. Dengan cara itu, kita mendapat dua pahala, yaitu pahala mencari rezeki dan pahala memberi sumber rezeki kepada orang lain. Yakinlah Anda pasti sukses selama Anda berbisnis secara syariah dengan etos kerja seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita dianjurkan untuk menjadi muslim kaya, sebab dengan kekayaan itulah kita bisa berbuat lebih banyak untuk percepatan pengembangan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Mewarisi Profesionalitas dan Entrepreneurship Rasulullah SAW

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. ali-‘Imran: 164)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah: 128)

Kalau ada sosok sempurna yang dapat diteladani dalam segala aspek kehidupan, maka sosok tersebut tidak lain adalah Nabi besar Muhammad SAW.

Dengan sumpah, Allah Yang Maha Agung sendiri menegaskan hal tersebut. Diri beliau SAW adalah teladan terbaik dalam segala hal, apalagi bagi orang-orang yang beriman dan selalu ingat Allah SWT. Beliaupun sosok yang berakhlak agung dan mulia, diutusnya beliau ditengah-tengah kita adalah anugerah Allah SWT yang sangat luar biasa dan rahmat buat totalitas alam semesta. Di antara rahmat beliau untuk umat ini adalah dikenalkannya ayat-ayat alam semesta yang membuktikan keberadaan Allah SWT Sang Maha Pencipta alam semesta, Penata, dan Pemeliharanya. Dengan mengenal rahasia-rahasia dibalik penciptaannya, telah beliau semaikan benih-benih ilmu pengetahuan yang akhirnya berkembang pesat menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Beliau pula yang memperkenalkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu mulai lahir sampai liang lahad (long life education). Beliau pula satu-satunya sosok manusia yang berani dengan lantang menyatakan:

“Keutamaan ilmu jauh di atas keutamaan ibadah.” (HR. al-Hakim & al-Baihaqi)

“Tinta yang dihabiskan para ilmuan untuk ilmu itu di hari kiamat nanti dinilai/ditimbang sama dengan darahnya para syuhada.” (al-Syirazie, al-Marhabie, al-Dailami, Ibnu Abdul Bar, dan Ibnu al-Jauzi)

Tentu benarlah sabda beliau SAW, sebuah ibadah justru dapat menyesatkan bila tidak dimulai dengan menguasai ilmu ibadah tersebut. Belum lagi dewasa, beliaupun menjadi orang kepercayaan penduduk Makkah dan digelari dengan al-Amin, yang berarti “orang terpercaya.” Di saat itu pula sudah mulai belajar memimpin dengan menggembala domba dan belajar berbisnis bersama pamannya Abu Thalib keluar negeri Mekkah, yaitu negeri Syam (saat ini menjadi Palestina, Yordania, Syiria, dan Lebanon). Tahun-tahun berikutnya sudah berbisnis secara mandiri keluar negeri dengan menjalankan amanat modal dari seorang wanita kaya dan terkemuka Khadijah binti Khuwailid yang selanjutnya menjadi istri beliau yang dermawan, penyandang dana hampir seluruh kebutuhan dakwah beliau. Inipun terjadi setelah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari bisnis yang dikelola oleh sosok yang amanah, terpercaya, yang dikenal dengan nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib.

Begitu dipilih dan diangkat sebagai Nabi dan Rasul, beliaupun memulai dakwahnya dengan prinsip keteladanan dan pelayanan, beliau SAW bersabda:

“Pemimpin sebuah bangsa adalah pelayannya dan teladannya.” (HR. Abu Nuaim)

Dakwahpun dilalui dengan tahapan-tahapan yang jelas dan terencana, dengan rahasia dan pendekatan man to man, keluarga, dan berlanjut secara terbuka kepada penduduk Makkah. Ketika dirasa Makkah semakin menutup pintunya untuk dakwah beliau, sementara umatpun semakin tertindas dan terancam, beliaupun mengalihkan sasaran dakwah kepada Raja Najasi di seberang Afrika yang terkenal jujur, adil, dan toleran. Kalangan bawah yang tertindas pun dihijrahkan kepada Raja tersebut, agar mendapat perlindungan dan jaminan keselamatan sambil berdakwah kepada Raja tersebut.

Selanjutnya dakwah pun diarahkan kepada penduduk Thaif, sekitar 100 km arah tenggara Makkah, penduduk yang sudah lama menjalin hubungan dengan Bani Hasyim di Makkah, nenek moyang beliau. Berikutnya kepada jamaah Haji yang datang dari segala penjuru Jazirah Arab. Di sinilah dakwah beliau disambut dengan antusias oleh penduduk Yatsrib (di kemudian hari menjadi kaum Anshar) yang membaiat beliau, siap membela beliau dan para sahabat seperti mereka membela keluarga mereka sendiri dan meminta beliau dan para sahabat agar berhijrah ke Yatsrib dan menjadikannya pusat dakwah Islam. Pada tahun 10 kenabian, terjadi peristiwa bersejarah: hijrah ke kota Yatsrib sebagai solusi dan kebuntuan dakwah di Makkah dan mendobrak status quo. Tentu ini setelah direncanakan dan dipersiapkan dengan mengirim dai Mush’ab bin Umair ke Yatsrib sebelumnya.

Hijrahpun dimulai dengan mendahulukan penyelamatan umat yang tertindas di Makkah, sementara beliau beserta Abu Bakar ra adalah orang terakhir yang meninggalkan Makkah berhijrah setelah umat terselamatkan.

Langkah awal di Yatsrib dalam rangka mewujudkan masyarakat Madani (berperadaban) dan Negara baru adalah membangun pusat peradaban dan komunikasi yang bernama masjid untuk menjalankan berbagai macam aktivitas.

Langkah kedua, konsolidasi internal umat Islam dengan mempersaudarakan antara imigran dari Makkah (muhajirin) dengan penduduk Yatsrib-Aus dan Khazraj (kaum Anshar), sampai tingkat waris mewarisi dan baru berakhir dengan turunnya ayat waris.

Langkah ketiga, konsolidasi seluruh penduduk Madinah (nama baru Yatsrib) baik Yahudi, Muslim, maupun Arab animisme (masyarakat heterogen) yang dituangkan dalam perjanjian HAM tertulis pertama di dunia yang disebut “Piagam Madinah”.

Piagam ini pula yang sangat menginspirasi piagam PBB saat ini, yang prinsip utamanya:

  1. Pengakuan atas eksistensi masing-masing kelompok dengan kebebasan hak politik, agama, maupun budaya.
  2. Jaminan kebebasan beragama dan menjalankan ajaran agama masing-masing.
  3. Bersatu padu dalam menghadapi musuh, baik eksternal maupun internal.
  4. Rasul sebagai kepala/pemimpin umum yang bertanggung menyelesaikan masalah-masalah besar yang menyangkut kepentingan bersama.

Harus kita akui pula bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok yang paling sukses menyiapkan dan mewujudkan generasi penerus yang unggul dalam hampir setiap aspek kehidupan: negarawan kaliber dunia, panglima dan tentara yang tangguh, penegak hukum yang handal, saudagar yang punya kepedulian sosial, bahkan juga masyarakat dan Negara Madani dan berperadaban.

Kita sudah barang tentu tidak bisa meremehkan profesionalitas beliau SAW sebagai entrepreneur yang handa. Masalahnya bukan “mampukah kita,” tapi maukah kita mewarisi dan meneladani beliau SAW? Sebab Allah SWT tidak membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatillah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. al-Baqarah: 286).

Abdurrahman bin Auf Sang Entrepreneur Sejati

Siapa Abdurrahman bin Auf itu? Beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi SAW yang tergolong generasi pertama pemeluk Islam. Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu al-Manaf bin Abdu al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri. Beliau lahir di Makkah pada tahun 581 M. Dan nasabnya bertemu dengan Nabi SAW pada “Kilab bin Murrah”. Ibunya bernama Asysyifa binti ‘Auf bin Abdu bin al-Harits bin Zuhrah. Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 31H, ketika berusia 75 tahun dan dimakamkan di pemakaman Baqi’, Madinah, Allahummaghfirlahu warhamhu, wa’afihi wa’fu ‘anhu.

Beliau ikut hijrah ke Madinah bersama para sahabat Rasulullah SAW lainnya, dengan meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya, sehingga sesampainya di Madinah beliau tidak memiliki harta sedikit pun dan bahkan beliau tidak memiliki istri.

Anas bin Malik meriwayatkan: Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu tiba di Madinah, lalu Rasulullah SAW mempersaudarakan antara dia dengan Sa’ad bin al-Rabi’ al-Anshari ra. Kemudian Sa’ad bin al-Rabi’ al-Anshari menawarkan kepada Abdurrahman bin Auf untuk membagi dua harta dan istrinya, Abdurrahman bin Auf ra berkata: “Semoga Allah memberkahi dirimu, keluargamu dan hartamu, cukup tunjukkanlah di mana letak pasarmu.” Lantas ia memperoleh sedikit keuntungan berupa keju dan samin, Rasulullah SAW pada suatu hari melihat ada bekas kekuning-kuningan, Nabi bersabda: “Apa yang terjadi pada dirimu wahai Abdurrahman bin Auf?,” Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang wanita dari kaum Anshar,” Rasulullah bertanya: “Mahar apa yang engkau berikan kepadanya?,” Ia menjawab: “seberat biji kurma berupa emas,” maka Nabi bersabda: “Adakanlah walimah meskipun dengan seekor kambing.” (HR. al-Bukhari dan al-Bazzaar)

Rasulullah sangat menghargai sikap, kemandirian, dan profesionalisme Abdurrahman bin Auf dalam masalah harta (ekonomi) sebagaimana arti hadist berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘ “Seorang yang mencari kayu bakar lalu memanggulnya (untuk dijual di pasar) hasilnya jauh lebih baik daripada orang yang mengemis yang kadangkala diberi atau ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian Abdurrahman bin Auf pun pergi ke pasar dan mengadakan survei serta mengamatinya secara cermat. Dari hasil pengamatannya beliau mengetahui, bahwa pasar itu menempati tanah milik seorang saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan di sana dengan sistem menyewa tanah tersebut, yang dalam perbankan Syariah disebut dengan istilah akad Ijarah.

Langkah selanjutnya beliau minta tolong saudara barunya, yakni Sa’ad bin al-Rabi’ al-Anshari untuk membeli tanah yang kurang terawat yang terletak di samping tanah pasar itu. Setelah tanah tersebut dibeli lalu dipetak-petak secara baik dan proporsional. Siapapun yang berminat untuk menempatinya, boleh berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Bila dari berdagang itu terdapat keuntungan, beliau menghimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang merasa senang dengan tawaran itu, karena mereka terbebas dari biaya operasional. Mereka berbondong-bondong pindah ke pasar baru yang dikembangkan Abdurrahman bin Auf dan beliau mendapat keuntungan (margin) dari bagi hasil itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Abdurrahman bin Auf keluar dari kemiskinan yang membelitnya. Keuletannya dan kegigihan dalam berdagang serta doa dari Rasulullah SAW, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang paling berada. Kegigihan dan keuletannya dalam berdagang juga seperti yang beliau ungkapkan sendiri: “Aku melihat diriku kalau seandainya aku mengangkat sebuah batu, aku mengharapkan mendapatkan emas atau perak.”

Dalam mengembangkan bisnisnya, Abdurrahman bin Auf selalu berpedoman pada panduan dan rambu-rambu yang diajarkan Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat dari sahabat Rifa’ah bahwa ia pernah bersama Rasulullah SAW menuju Baqi’ dalam suatu urusan. Di tengah perjalanan beliau berdua melewati pasar dengan banyak orang yang sedang bertransaksi jual beli. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai para pedagang.” Kemudian para pedagang menjawab: “labbaik, ya Rasulullah.” Lalu pandangannya tertuju kepada Rasulullah, lalu Rasulullah melanjutkan dengan sabdanya, “Sesungguhnya para pedagang kelak dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat dalam keadaan jahat (banyak dosa), kecuali pedagang yang memiliki sifat taqwa, berbuat baik dan jujur (illa manittaqa wa barra wa shodaqa).”

Bahwasanya Abdurrahman bin Auf adalah sosok sahabat Rasulullah SAW yang kaya dan berada. Keuntungan dari hasil bisnisnya yang semakin meningkat dari hari ke hari, tidaklah menyebabkan beliau lupa diri, menjadi manusia pelit dan kikir serta jauh dari jalan Allah SWT. Bahkan sebaliknya, beliau seorang yang rendah hati dan dermawan serta kekayaannya digunakan untuk sarana berjuang di jalan Allah SWT (jihad fi sabilillah).

Di antara sifat kedermawanan beliau adalah beliau penyandang dana Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) sepeninggal Nabi wafat, mendanai perang Tabuk, memerdekakan budak. Dalam sebuah riwayat dari Ja’far bin Burqan, beliau berkata: “Saya pernah mendengar bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan hamba sebanyak tiga puluh ribu (30.000) jiwa,” dan juga membantu orang-orang yang membutuhkan (fuqara’ dan masakin).

Bahwasanya pada diri Abdurrahman bin Auf memiliki banyak keistimewaan dan di antara keistimewaannya adalah sebagai berikut:

  1. Calon Penghuni Surga

Diriwayatkan dalam sebuah hadist shahih, bahwasanya Sa’id bin Zayd berkata yang artinya:

Rasulullah SAW bersabda: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di Surga, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. al-Hakim dan at-Tirmidzi).

  • Rendah hati (tawadhu’)

Beliau adalah sosok sahabat Nabi SAW yang berada (konglomerat), namun hidupnya tetap bersahaja dan salah satu sahabat yang mendapat doa dari Nabi untuk dimasukkan ke dalam syurga. Namun demikian beliau tetap rendah hati dan tidak lupa diri. Sebagaimana komentar Sa’id bin Jubair: “Abdurrahman bin Auf tidak dapat dibedakan di antara hamba sahayanya.”

  • Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Abdurrahman bin Auf

Bahwasanya Ummu Salamah RA. menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya yang akan menjaga kamu sekalian sepeninggalku adalah al-Shadiq al-Bar (Abdurrahman bin Auf), Ya Allah hidangkanlah minuman mata air syurga kepada Abdurrahman bin Auf.” (HR. Ahmad, at-Thabrani, al-Hakim, dan al-Ashbahani)

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda:

“Engkau adalah orang kepercayaan penduduk bumi dan engkau juga orang kepercayaan penduduk langit.” (HR. al-Hakim, Abu Nu’aim, dan Ibnu Abi Ashim)

  • Sifat dermawan yang dipuji Allah lewat firman-Nya

Tercatat kedermawanan Abdurrahman bin Auf, seperti hadist dari Anas bin Malik ra, beliau berkata yang artinya:

Ketika Aisyah ra di rumahnya, tiba-tiba ia mendengar suara yang menggemparkan Madinah, maka ia berkata: ‘Suara apa ini?’ Para sahabat menjawab: ‘Kafilah dagang Abdurrahman bin Auf ra dari Syam telah tiba, jumlah kafilah dagangnya sebanyak 700 unta. Maka Aisyah ra berkata: ‘Sungguh aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Aku melihat Abdurrahman bin Auf ra masuk surga dengan merangkak’. Informasi ini terdengar oleh Abdurrahman bin Auf ra, lantas ia mendatangi Aisyah ra sekaligus menanyakan perihal apa yang disampaikan Aisyah ra. Abdurrahman bin Auf berkata: ‘Sungguh aku saksikan di hadapan engkau bahwa seluruh kafilah dagang yang terangkut diinfaqkan di jalan Allah.” (HR. Ahmad, al-Hakim, dan al-Ashbahani)

Demikian pula ketika Rasulullah SAW mengadakan mobilisasi dana untuk menghadapi perang Tabuk, yaitu sebuah peperangan yang membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan Allah SWT. Maha benar firman Allah SWT yang memuji tindakan Abdurrahman bin Auf dan sahabat Nabi lainnya, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 262)

  • Menjadi Imam Shalat Rasulullah SAW

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa dalam satu peperangan Rasulullah SAW pernah menjadi makmum Abdurrahman bin Auf. Sahabat Amr bin Wahab menuturkan bahwa al-Mughirah bin Syu’bah menyebutkan bahwa menjelang shubuh Rasul mengajak al-Mughirah untuk menemaninya membuang hajat. Setelah buang hajat Rasul memintanya untuk mengambilkan air wudhu’, namun ternyata mereka sudah terlambat karena rombongan sedang menunaikan shalat yang diimami oleh Abdurrahman bin Auf. Ketika itu al-Mughirah berusaha untuk menghentikan shalat jemaah tersebut dengan kembali mengumandangkan adzan, namun Rasul melarangnya sehingga Rasulullah menjadi makmum yang diimami Abdurrahman bin Auf.

  • Pendapatnya menjadi rujukan Umar bin Khaththab

Sahabat Anas bin Malik menceritakan, bahwa hukuman bagi peminum khamar, Nabi SAW menjatuhkan hukuman jilid dengan pelepah kurma sebanyak empat puluh (40) kali dan demikian pula dilakukan oleh Abu Bakar. Seterusnya Anas menceritakan, ketika Umar bin Khaththab diangkat menjadi khalifah: “Sesungguhnya orang kampung telah datang ke kota, apa pendapat kalian tentang hukum peminum khamar?” Lalu Abdurrahman bin Auf berkata: “Kita menetapkan hukumannyadi bawah hukuman hudud,” maka Umar pun menetapkan hukuman sebanyak delapan puluh (80) kali jilid.

  • Keluasan keilmuannya

Sahabat Ibnu Abbas ra meriwayatkan, bahwa ketika Umar bin Khaththab menuju Syam dan manakala sampai di desa Sara’ beliau mendapat berita bahwa Syam telah dilanda oleh penyakit waba’ (penyakit menular). Kemudian Umar mengumpulkan semua sahabat Rasulullah SAW dan meminta pendapat, sehingga muncullah berbagai pendapat. Namun beliau menyetujui pendapat untuk kembali (agar tidak meneruskan perjalanan). Tiba-tiba muncullah Abdurrahman bin Auf ra karena buang hajat. Lalu beliau berkata: Sesunggunya saya sangat mengerti masalah ini, karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Apabila terjadi penyakit menular di suatu tempat, maka janganlah kamu masuk ke dalamnya dan apabila terjadi di suatu tempat, sedangkan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar darinya karena lari dari penyakit tersebut.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, Malik, dan Abdur Razzaq dalam al-Mushannaf).

Di samping keistimewaan yang dimiliki Abdurrahman bin Auf sebagaimana yang disebutkan di atas, masih banyak keistimewaan lain yang tidak kami sebutkan.

Abdurrahman bin Auf meninggal dunia di usia 75 tahun dan meninggalkan 28 (dua puluh delapan) anak lelaki dan 8 (delapan) anak perempuan. Hal yang sangat menarik bahwa walaupun Abdurrahman bin Auf sudah menyumbangkan hampir keseluruhan hartanya di jalan Allah SWT. Namun beliau masih meninggalkan harta warisan yang sangat banyak.

Dalam sebuah riwayat dari Muhammad, beliau menceritakan bahwa di antara harta peninggalan Abdurrahman bin Auf adalah emas murni sehingga tangan para tukang bagi (amil) merasa kewalahan untuk membagikannya dan empat orang istrinya masing-masing menerima harta warisan sebanyak 80.000 (delapan puluh ribu) dinar.

Abu Amr berkata: Abdurrahman bin Auf adalah seorang pedagang sukses dalam bidang perniagaan dan seorang entrepreneur sejati, sehingga mendapatkan laba yang sangat banyak dan meninggalkan sebanyak 1.000 unta, 300 kambing, dan 100 kuda perang yang digembalakan di daerah Naqi’ dan mempunyai lahan pertanian, sehingga kebutuhan keluarganya setahun dipasok dari hasil tanaman tersebut.

Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi umat Muslim, serta dapat mengambil hikmah dari kehidupannya dan mencontoh kepribadian beliau Sang Entrepreneur sejati dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini, Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Karakter Utama Entrepreneur Muslim

Islam memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kesejahteraan hidup umatnya. Islam tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk beribadah mahdah, tapi juga sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras meraih kesejahteraan hidup duniawi. Kendati demikian bukan berarti betapapun kerasnya usaha yang dilakukan, harus selalu dalam bingkai hukum Islam. Dalam QS. at-Taubah ayat 105 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Pada arti QS. al-Jumu’ah ayat 10 Allah SWT juga mengingatkan agar umat Islam tidak bersantai-santai setelah menunaikan ibadah mahdhoh melainkan segera bekerja mencari rezeki yang tersebar di muka bumi ini.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardhu.” (at-Thabrani dan al-Baihaqi)

Baik ayat al-Qur’an maupun hadist Nabi Muhammad SAW di atas jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup mandiri dan sekaligus memberikan motivasi yang begitu kuat bagi umat Islam untuk berwirausaha. Bekerja keras adalah langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki) dan merupakan esensi dari kewirausahaan yang didengung-dengungkan pemerintah saat ini.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bahwa beliau adalah seorang wirausahawan sejati yang menjalankan usahanya hingga ke mancanegara. Dalam kitab Musnad Imam Ahmad juz 4 dan The History of Islam diceritakan bahwa, pada saat usia 12 tahun, Nabi Muhammad SAW telah pergi ke Syiria, berdagang bersama pamannya Abu Thalib. Kemudian, ketika pamannya meninggal dunia, beliau tumbuh dan berkembang sebagai wirausahawan yang mandiri dengan melakukan perdagangan keliling di kota Makkah dengan rajin dan penuh dedikasi pada usahanya sampai akhirnya dipercaya oleh seorang janda kaya, pemilik modal terbesar ketika itu, yang bernama Khadijah ra. untuk menjalankan bisnisnya. Kecerdasan Muhammad SAW sebagai seorang wirausahawan telah mendatangkan keuntungan besar bagi Khadijah, karena tidak satupun jenis bisnis yang ditangani Nabi Muhammad SAW mengalami kerugian. Lebih kurang dua puluh tahun Nabi Muhammad berkiprah sebagai seorang wirausahawan, sehingga beliau sangat dikenal di Syiria, Yaman, Basrah (Iraq), Yordania, dan kota-kota perdagangan di jazirah Arab.

Keberhasilan Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnisnya tidak lepas dari karakter yang dimilikinya. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang. Karakter inilah yang menentukan respon atau tindakan seseorang terhadap suatu keadaan. Abraham Lincoln berkata, “Reputasi adalah bayangan dan karakter adalah pohonnya”. Karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu.

Karakter yang diajarkan Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnis dan harus dipegang teguh oleh para pengusaha Muslim antara lain sebagai berikut:

Pertama, Shiddiq yang berarti berkata benar atau jujur. Dalam kata lain, jujur adalah satunya kata dan perbuatan. Orang yang bersikap jujur berarti tidak ada kontradiksi dan pertentangan yang disengaja antara ucapan dan perbuatannya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan mengantarkan ke dalam surga. Dan seseorang senantiasa berlaku jujur, dan membiasakan diri dengan kejujuran, hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bentuk kejujuran dalam bisnis antara lain adalah pemberian informasi ataupun penjelasan yang benar kepada konsumen terkait keunggulan produk dan sekiranya terdapat cacat dan kelemahan maka disampaikan secara benar dan transparan. Dari Hakim bin Hizam, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Jika kedua orang yang melakukan transaksi jual beli, maka masing-masing dari keduanya boleh memilih selama mereka belum berpisah. Jika mereka berdua memilih atau salah satu dari keduanya memberikan pilihan (khiyar) pada lainnya, maka pilihan salah seorang dari keduanya lantas dilanjutkan jual beli maka transaksi jual beli menjadi wajib, jika keduanya berpisah setelah terjadi transaksi jual beli dan salah satu dari keduanya tidak meninggalkan jual belinya maka transaksi jual beli ini berlaku’. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengusaha yang jujur berpandangan bahwa harta tidak akan bertambah dengan berlaku curang sebagaimana juga tidak akan berkurang karena berlaku jujur. Triliunan rupiah yang diberkahi oleh Allah jauh lebih baik daripada satu rupiah yang dicela dan dijauhkan dari berkah yang barangkali menjadi sebab kehancuran bagi pemiliknya di dunia dan akhirat. Keuntungan akhirat adalah keuntungan hakiki nan abadi. Dan hal itu jauh lebih baik daripada keuntungan dunia dan seisinya. Keuntungan harta dunia hanya akan habis dengan habisnya umur manusia, sementara kezhaliman seseorang dan dosanya akan tetap abadi. Dan sumber kebaikan itu hanya ada pada keselamatan agama.

Kedua, Amanah artinya dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel. Lawan dari sikap amanah adalah khianat. Orang yang amanah memiliki komitmen untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan. Orang yang amanah senantiasa memberikan setiap hak kepada pemiliknya tanpa mengurangi sedikitpun, baik sedikit ataupun banyak, dan tidak mengambil bagian kecuali yang menjadi haknya. Perintah untuk bersikap amanah tertera jelas dalam al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 56, Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. an-Nisa’: 58)

Di antara bentuk manah dalam bisnis adalah tidak mengurangi takaran dan timbangan dari barang-barang dagangannya, sehingga tidak merugikan konsumen, selalu menepati janji baik kepada rekan bisnis, pelanggan atau pihak-pihak lain. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari kedua belah pihak yang berserikat selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati temannya. Jika salah satu dari keduanya telah mengkhianati temannya, Aku berlepas diri dari keduanya” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim).

Ketiga, Fathanah, artinya cerdas atau memiliki intelektualitas yang tinggi. Intelektualitas adalah anugerah istimewa dan termahal yang hanya diberikan pada manusia, tidak kepada makhluk-makhluk lainnya. Dengan intelektualitas manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan ide-ide kreatif inovatif yang sangat berguna bagi dalam menjalani kehidupan, juga berguna dalam memahami ayat-ayat kauniyah yang terbentang dimuka bumi sehingga meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Oleh karena itu dalam al-Qur’an, Allah SWT selalu mendorong manusia untuk menggunakan akalnya. Dalam al-Qur’an Allah SWT menyatakan yang artinya:

“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al-Ra’d: 3).

Implikasi fathanah dalam bisnis adalah segala sesuatu aktivitas didasari dengan pertimbangan yang matang, tidak asal-asalan dan dijalankan secara profesional. Intelektualitas juga melahirkan ide-ide inovatif yang bermanfaat dalam menciptakan nilai tambah untuk meraih keunggulan sehingga dapat memenangkan persaingan. Dengan intelektualitas, pebisnis juga dapat dengan cermat memprediksi situasi persaingan ke depan dengan kemajuan teknologi komunikasi yang demikian pesat, yang sudah tidak mengenal batas garis wilayah dan teritorial suatu negara.

Keempat, Tabligh, artinya komunikatif. Orang yang memiliki sifat tabligh, akan menyampaikan sesuatu gagasan dalam format yang sesuai dengan kondisi umat sehingga dapat dengan mudah dipahami. Allah SWT dalam al-Qur’an arti surah Ibrahim ayat 4 menyatakan:

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim: 4).

Pengertian “Berbicara dengan bahasa kaumnya” pada ayat tersebut memiliki makna yang luas. Bisa dalam lingkup wilayah, lingkup tingkat intelektual, maupun lingkup profesi. Pengertian dalam lingkup wilayah, misalnya orang-orang Cina hendaknya diajak bicara dengan bahasa Cina atau orang-orang Rusia harus menggunakan bahasa Rusia. Pada lingkup tingkat intelektualitas, ayat tersebut bermaksud bahwa orang-orang berpendidikan diajak berbicara dengan bahasa ilmiah, sedangkan orang-orang awam dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Pada lingkup jenis profesi bisnis, orang-orang bisnis diajak bicara dengan menggunakan bahasa bisnis.

Dalam dunia bisnis, wirausahawan haruslah menjadi komunikator yang mampu mengkomunikasikan visi dan misinya dengan benar kepada investor, mitra bisnis, karyawan dan stakeholder lainnya. Seorang pemasar harus mampu menyampaikan keunggulan-keunggulan produknya dengan jujur, benar dan tanpa menyinggung perasaan pelanggan.

Kelima, Toleran, yaitu sikap memberi kemudahan pihak-pihak terkait dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya dan berupaya menghilangkan kesempitan dan kesulitan yang dihadapi oleh saudaranya. Dalam al-Qur’an surah al-Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 2)

Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla senantiasa membantu hamba-Nya selama hamba-Nya membantu saudaranya, siapa yang meringankan kesulitan dari seorang mukmin atau mukminah karena Allah, maka Allah akan meringankan kesulitannya di dunia dan akhirat, dan siapa saja yang menutup aurat seorang mukmin atau mukminah, maka Allah Ta’ala akan menutup auratnya pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’ie, at-Thabrani, Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Baghawi, al-Baihaqi, dan Ibnu Hibban)

Implementasi toleran dalam bisnis antara lain pemberian hak kepada pembeli untuk memilih barang-barang yang dikehendaki, memberikan kelonggaran kepada mitra bisnis dalam menyelesaikan hutang-piutangnya baik mengenai perpanjangan waktu maupun pemberian keringanan lainnya.

Etos Kerja Entrepreneur Muslim

Jika kita mencermati data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik pada bulan Februari 2015 maka kita jumpai bahwa dampak dari lambatnya pertumbuhan ekonomi di negeri ini baik ekonomi makro ataupun ekonomi mikro sangat banyak, di antaranya adalah:

  1. Meningkatnya jumlah pengangguran yang mencapai 7,4 juta jiwa.
  2. Tindak kriminalitas dan kejahatan jalanan semakin meningkat, sebagaimana yang disampaikan oleh Kriminolog dari Universitas Indonesia.
  3. Semakin banyak PHK dan perampasan kendaraan bermotor di jalanan.

Sehubungan dengan hal di atas, marilah sejenak kita merenungkan firman Allah Ta’ala dalam surah al-Hajj ayat 77 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. al-Hajj: 77).

Seruan dalam ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang beriman, yang menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al Jaza’iri rahimahullah dalam muqaddimah di kitabnya Nida’aturrahmaan li ahli al imaan menyatakan: “Jika Allah Ta’ala memulai firman-Nya dengan seruan ya ayyuhal ladzina aamanuu maka dapat dipastikan bahwa di dalam ayat tersebut ada dua kemungkinan, kemungkinan yang pertama adalah ada perintah yang musti dikerjakan oleh setiap mukmin atau kemungkinan yang kedua adalah adanya larangan yang harus ditinggalkan oleh setiap mukmin.”

Jika kita amati dengan seksama maka pada ayat tersebut terdapat perintah yang harus dilakukan oleh setiap muslim, salah satu perintah-Nya adalah seruan untuk berkarya yang menjadi salah satu pilar untuk meraih kesuksesan, seruan ayat ini selaras dengan firman Allah Ta’ala dalam surah az-Zalzalah ayat 7 yang artinya:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)Nya.” (QS. az-Zalzalah: 7).

Dalam berkarya untuk meraih kesuksesan diperlukan etika sehingga etos kerja dan karya kita menjadi lebih bermakna dan memberikan efek positif. Pada kali ini, saya ingin menulis artikel mengenai kiat agar etos kerja kita lebih optimal dan menjadi lebih baik. Menurut saya ada empat prinsip yang harus menjadi perhatian dan fokus kita:

Yang pertama adalah kita harus menyadari bahwa ketika kita berkarya dan bekerja maka semangat yang harus tertanam dalam diri kita adalah bahwa berkarya dan bekerja ini sebagai bentuk dari syukur kita kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Saba’ ayat 13 yang artinya:

“… Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13).

Imam Ibnu Katsir memberikan catatan terhadap ayat ini dengan menyatakan: “Bahwa Dawud alaihis salaam ketika keluar rumah, beliau bertanya kepada seorang penunggang kuda perihal ibadahnya dan kepribadiannya, dan setiap beliau bertanya, tidak ada seorang pun kecuali semuanya memuji dan menyanjung ibadah dan kepribadiannya, (lantas Wahb ibn Munabbih) menyatakan: ‘Hingga akhirnya Allah Ta’ala mengutus malaikat yang menyamar dengan bentuk manusia, lantas Nabi Dawud bertanya kepadanya: ‘(malaikat tersebut) menjawab: ‘Dawud as adalah orang yang terbaik untuk dirinya dan umatnya, kecuali satu sikap yang jika satu sikap ini tidak ada padanya niscaya menjadi pribadi yang sempurna’, maka Dawud as bertanya: ‘Apakah hal tersebut?’, malaikat menjawab: ‘Dawud as makan dan memberikan makan keluarganya berasal dari harta yang bersumber dari baitul maal’, maka Dawud alaihis salaam akhirnya mengadu kepada Allah Ta’ala hingga akhirnya Allah karuniakan ilmu pandai besi hingga mahir membuat pedang dan baju besi dan karunia kedua adalah merdunya suara, dan kemerduan suaranya digunakan untuk menyenandungkan Zabur.”

Pada ayat di atas tersampaikan bahwa Nabi Dawud as menjadi sempurna kala ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, dan ketika berkarya sesungguhnya ia membuktikan syukurnya kepada Allah SWT karena telah dianugerahi kemahiran dalam membuat pedang dan baju. Inilah contoh istimewa dari Nabi Muhammad SAW yang bekerja sebagai penggembala kambing di saat usianya masih belia, ini semua menunjukkan bahwa Islam tidak menyukai pribadi peminta-minta.

Kisah Nabi SAW menggembalakan kambing termaktub dalam hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya bersumber dari Abu Hurairah ra yang artinya:

“Tidaklah Allah Ta’ala mengutus nabi kecuali ia pernah menggembalakan kambing”, maka para sahabatnya bertanya: “Engkau juga demikian?”, Beliau menjawab: “Ya, aku pernah menggembalakan kambing bagi penduduk Makkah dengan upah sepersekian dinar.” (HR. al-Bukhari).

Yang kedua adalah orientasi dan karyanya adalah hasil dari produktivitas yang unggul, kalau dalam lembaga keuangan syariah adalah laba rugi dan kualitas pembiayaan yang bagus. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT di surat al-Baqarah ayat 201 yang artinya:

“Di antara mereka ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, karuniakan untuk kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan kami dijauhkan dari api neraka.” (QS. al-Baqarah: 201).

Dalam hal ini Ibnu Katsir rahimahullah mengutip ungkapan al-Qasim bin Abdirrahman rahimahullah: “Siapa saja dikaruniai oleh Allah Ta’ala berupa hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan fisik yang prima maka sungguh ia telah dianugerahi kenikmatan dunia yang baik dan akhirat yang terbaik serta dijauhkan dari siksa Neraka.”

Yang ketiga adalah karakter yang bagus dengan indikasinya adalah pribadi yang jujur (intregrity), memiliki kekuatan fisik, dan mental yang meliputi sisi emosional, spiritual, dan intelektual yang sering disebut dengan reliability. Karakter ini sangat tampak pada sosok Nabi Musa as, sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah SWT dalam surat al-Qashash ayat 26 yang artinya:

“Salah satu dari kedua putrinya menyatakan: “Wahai ayahanda, jika engkau berkenan untuk mengangkat pembantu, maka sebaik baik pembantu adalah yang berkarakter kuat dan amanah.” (QS. al-Qashash: 26).

Dalam hal ini Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan: “Bahwa Musa as, ketika sampai di sumber mata air di Madyan, ia mendapati sekelompok penggembala kambing memberikan minum untuk seluruh gembalaannya’, ketika seluruh penggembala setelah usai, mereka menutup kembali sumber mata air dengan batu besar yang perkiraan beratnya hanya mampu diangkat oleh sepuluh orang lelaki, ketika itu Musa as melihat dua orang gadis menjauh dari rombongan penggembala, sehingga Musa as tertarik untuk bertanya kepada keduanya: ‘Apa yang terjadi pada kalian berdua?’, keduanya menuturkan problema yang dihadapinya, hingga akhirnya Musa as mengangkat batu besar tersebut dan memberikan minum hingga kenyang seluruhnya’. Setelah itu Musa as menepi dan berdoa kepada Allah Ta’ala.”

Yang keempat adalah kerja cerdas dengan memberdayakan segenap potensi yang ada, baik sumber daya insani maupun sumber daya alam. Kemampuan ini tercermin dalam kepribadian Nabiyullah Sulaiman as kala menerima amanah melanjutkan dakwah Nabiyullah Dawud as, sehingga mampu menunjukkan kinerja terbaik kala menjadi pemimpin bagi umat.

Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja, maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya, yaitu: meraih kehidupan yang terbaik di dunia dan akhirat. Jika etos kerja difahami dengan etika kerja, maka sekumpulan karakter, sikap, dan mentalitas, akan menunjukkan kesungguhan dalam bekerja.

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *