Gaya Hidup Islami

Islam Sistem Hidup yang Universal

Islam sebagai ad-diin adalah agama Universal dan komprehensif yang di anugerahkan Allah SWT kepada umat manusia sampai akhir zaman, sebagai agama yang sempurna dan diridhai Allah SWT. Universal berarti bahwa Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi umat manusia di seluruh penjuru bumi ini dan dapat diimplementasikan oleh umat manusia sepanjang waktu dan tempat sampai akhir zaman.

Komprehensif artinya bahwa Islam itu memiliki ajaran yang lengkap dan sempurna (Syumuliyyah), kesempurnaan ini disebabkan bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia, tidak saja aspek ritual dan spiritual serta ibadah mahdhah, tetapi juga mengatur aspek mu’amalah, mu’asharoh bil ma’ruf, yang meliputi ekonomi, sosial, politik, hukum, budaya, dan lain sebagainya.

al-Qur’an secara tegas dan gamblang mendeklarasikan tentang kesempurnaan Islam dalam berbagai ayat di dalam al-Qur’an, salah satu diantaranya adalah surat al-Maidah ayat 3, yang artinya sebagai berikut:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Maidah: 3)

Selanjutnya Allah SWT berfirman di dalam surat an-Nahl ayat 89 yang artinya sebagai berikut:

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kamu datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS. an-Nahl: 89)

Kesempurnaan Islam itu tidak saja diakui oleh kalangan intelektual muslim yang memang sudah seharusnya dia meyakini kesempurnaan tersebut, tetapi para orientalis barat juga mengakui hal tersebut, di antaranya adalah H.A.R. Gibb yang mengatakan:

“Islam is much more than system in theology, it’s a complete civilization”.

Oleh karena itu, sungguh tidak relevan dan tidak sepantasnya apabila ada sebagian umat Islam yang mengatakan bahwa Islam itu hanya sebagai agama ritual saja, apalagi jika dituduh sebagai faktor penghambat kemajuan dan pembangunan, pandangan seperti ini bisa jadi muncul karena yang bersangkutan belum memahami Islam secara utuh dan komprehensif.

Sebagai agama yang memiliki ajaran yang komprehensif, Islam meliputi tiga pokok ajaran, yaitu aqidah, syariah, dan akhlak yang di antara ketiganya memiliki hubungan yang begitu erat dan terkait sehingga merupakan sebuah sistem yang komprehensif.

Akidah adalah ajaran yang berkaitan dengan keyakinan dan kepercayaan seseorang kepada Allah SWT, para malaikat, Rasul, kitab yang diturunkan oleh Allah SWT dan lain sebagainya yang terangkum di dalam rukun iman. Akhlak adalah ajaran Islam terkait dengan perilaku, baik dan buruk, etika, dan moralitas. Dua hal ini tidak mengalami perubahan sepanjang zaman dan tidak pula mengalami perubahan dengan perbedaan tempat tinggal dan domisili.

Sedangkan Syariat adalah ajaran Islam tentang hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang disampaikan melalui lisan para Nabi dan Rasul, dalam konteks ini syariah bisa berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan peradaban yang dihadapi para Nabi dan Rasul yang di utus oleh Allah SWT.

Syariah Islam terbagi menjadi dua hal, yaitu ibadah dan muamalah. Ibadah ini diperlukan oleh umat manusia untuk menjaga ketaatan dan ketundukan serta keharmonisan hubungan antara manusia sebagai Abdullah dengan Allah SWT sebagai Dzat Maha Pencipta (al-Khaliq), dan ibadah juga merupakan media untuk mengingatkan secara kontinyu tugas manusia sebagai Khalifatullah di muka bumi.

Sedangkan muamalat diturunkan oleh Allah SWT sebagai Rule of Law atau Rule of the Game untuk menjadi petunjuk aturan main bagi manusia dalam menapaki kehidupan sosial, ekonomi, politik, hukum, dan budaya dalam rangka mensejahterakan umat manusia.

Ciri khas aspek muamalah dalam syariah Islam adalah bersifat elastis dan dapat berkembang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman maupun kondisi dan tempat masyarakat hidup. Ajaran muamalah dalam perspektif ekonomi lebih tampak sifat universalnya karena tidak membedakan antara muslim dan non-muslim, hal ini tersirat dalam statement yang disampaikan oleh Sayyidina Ali: “Dalam hal muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita”.

Ajaran Islam tentang ekonomi (Muamalah Iqtishodiyah) banyak kita jumpai, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam as-Sunnah serta dalam keputusan ulama, ijma’, qiyas, dan ijtihad. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian Islam dalam urusan ekonomi sangatlah besar, ayat-ayat dalam al-Qur’an yang terpanjang juga membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan perekonomian, yakni arti Surat al-Baqarah ayat 282 yang menurut Ibnu Arabi mengandung 25 hukum dalam masalah ekonomi.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit-pun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. al-Baqarah: 282)

Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan bahwa ekonomi adalah pilar pembangunan dunia, dalam berbagai hadits beliau juga menyebutkan bahwa para pedagang atau pebisnis merupakan profesi terbaik bahkan menganjurkan umat Islam untuk menguasai sektor perdagangan ini, sebagaimana dalam sebuah riwayat yang artinya sebagai berikut:

“Sembilan puluh persen (sumber) rezeki ada pada perdagangan, sedang sisanya pada binatang ternak”. (HR. Abu Ubaid)

“Dari Saied bin al Musayyib rahimahullah, ia berkata: ‘Rasulullah SAW ditanya tentang usaha yang terbaik?’, Beliau menjawab: ‘Usaha seseorang dengan tangannya dan jual beli yang diridhai'”. (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Membangun Masyarakat Kreatif, Inovatif, dan Produktif

Ada sebuah fenomena sosial yang menarik untuk kita cermati terkait dengan banyaknya para pengemis yang kita sudah sering melihat antriannya, baik yang datang ke rumah-rumah, di tengah jalan ataupun yang sudah punya jadwal rutin, yaitu pada hari Jum’at, tatkala para jamaah selesai melaksanakan shalat Jum’at. Mereka berbondong-bondong mencegat setiap orang untuk dimintai sedekah. Anehnya hal ini bukan suatu yang tabu lagi bagi kalangan umat Islam, mungkin karena selalu mendapat santunan yang sudah dapat menutupi sebagian kebutuhan hidup mereka ditambah mudahnya mendapatkan pekerjaan ini sehingga profesi sebagai pengemis pun menjamur dimana-mana bahkan menjadi sumber mata pencaharian hidup. Bahkan lebih mengejutkan lagi adanya berita di media massa tentang seseorang yang kaya raya di desanya yang ternyata profesi sesungguhnya adalah menjadi pengemis di kota-kota besar.

Sesuatu yang paradoks seringkali terjadi dan menimbulkan salah paham terkait dengan adanya pernyataan “Jangan memberi sedekah kepada peminta-minta”. Kenapa kita dilarang memberikan sedekah kepada mereka, padahal agama selalu menganjurkan untuk selalu memberi sedekah, bahkan Allah SWT telah menggambarkan betapa besarnya pahala bagi orang yang suka bersedekah. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 261)

Islam adalah agama yang bersifat universal dan komprehensif, tidak saja berbicara masalah ritual dan spiritual tapi juga menyoroti segala permasalahan sosial yang selalu dihadapi umat manusia, salah satunya adalah masalah pengangguran dan pengemis atau peminta-minta yang sangat dicela oleh Islam dan hal ini merugikan masyarakat, sebab Islam mengajarkan pola hidup aktif, kreatif, inovatif, dan produktif.

Pertama, pengangguran dan pengemis menyebabkan tenaga manusia terbuang sia-sia, konsumtif, tidak produktif akibatnya mereka menjadi beban masyarakat, kedua, pengangguran dan pengemis adalah sumber kemiskinan, sedangkan kemiskinan merupakan wahana yang subur bagi tumbuh dan berjangkitnya berbagai macam kejahatan. Ketiga, pengangguran dan pengemis menjadikan manusia terjangkiti penyakit malas yang dilarang dalam Islam.

Karena itulah Islam sangat menentang pengangguran dan mencela orang-orang yang tidak mau bekerja padahal sebenarnya mereka mampu bekerja.

Islam adalah agama yang kedatangannya sebagai rahmatan lil alamin, selalu menganjurkan bagi setiap pengikutnya untuk memberikan sedekah. Islam sendiri mempunyai tujuan tertentu dalam bidang harta diantaranya adalah memberantas kemiskinan secara bertahap, melarang hidup dalam kehinaan, serta mendistribusikan keadilan secara merata.

Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu bersedekah dan memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukan tetapi Islam tidak mengajarkan pengikutnya menjadi peminta-minta atau pengemis, bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah menjelaskan bahwa orang yang membawa tambang pergi ke gunung mencari kayu lalu dijual untuk makan dan bersedekah lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang, sebagaimana sabdanya yang artinya:

“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya sungguh seseorang yang mengambil tali di antara kalian kemudian dia gunakan untuk mengangkat kayu di atas punggungnya lebih baik baginya daripada ia mendatangi orang kemudian ia meminta-minta kepadanya yang terkadang ia diberi dan terkadang ia tidak diberi olehnya”. (HR. al-Bukhari)

Dan Beliau juga memberikan uswah kepada kita agar jangan meminta pertolongan selama kita masih mampu untuk mengerjakannya. Bukan berarti kita ingin menghindari kewajiban kita sebagai muslim dan sebagai makhluk sosial, yang walau bagaimanapun di antara mereka yang meminta-minta tersebut memang pantas mendapatkan sedekah, tetapi kita hanya berhati-hati agar jangan sampai terjerumus dan terjebak pada orang-orang yang hanya menggunakan pekerjaan mengemis sebagai topeng dan menonjolkan kemiskinan. Terlebih lagi yang kita takutkan adanya anggapan bahwa Islam adalah agama bagi orang miskin dan terbelakang.

Oleh karena itu marilah kita perkuat Himmah atau cita-cita, dan azzam atau komitmen kita untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif, dan produktif dalam rangka untuk menjemput rezeki yang dianugerahkan Allah SWT untuk memenuhi kebutuhan kita. Hendaklah para dai atau pendakwah Islam tidak hanya membatasi dakwahnya dalam masalah ritual dan spiritual belaka, tapi Islam juga mengajarkan hubungan horizontal yaitu hubungan antara manusia, sehingga jika sistem keseimbangan yang diajarkan ini benar-benar diterapkan akan dapat menciptakan masyarakat yang baik atau baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

Dari keterangan-keterangan ini kita dapat mengambil konklusi bahwa Islam sangat mencela orang yang tak mau berusaha dan hanya bisa meminta-minta, apalagi dengan berdalih bahwa pekerjaan mengemis dan kemiskinan itu sudah ditakdirkan Allah SWT. Padahal Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, tentu Allah memberi rezeki kepadamu, seperti halnya Allah memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar, tetapi pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah sahih, dan al-Hakim dari Umat)

Kemudian bagi orang-orang kaya dan berkecukupan, jangan hanya bisa menumpuk harta dan berfoya-foya tanpa peduli bahwa di dalam harta mereka terdapat hak fakir miskin, dhuafa’, dan orang yang hidup di dalam kekurangan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh surah Adz-Dzariyat ayat 19 yang artinya:

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Bahkan kalau kita telaah kembali beberapa ayat al-Qur’an yang turun di Mekkah sangat mengecam arogansi orang-orang kaya Mekkah yang tidak peduli terhadap fakir, miskin, dan anak-anak yatim. Allah menegaskan dalam firman-Nya dalam surat al-Ma’un: 1-3 yang artinya:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. al-Ma’un: 1-3)

Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa orang yang mendustakan agama dan hari kiamat disejajarkan dengan orang yang mencampakkan anak yatim dan tidak menganjurkan orang lain untuk menyantuni fakir miskin. Betapa hinanya derajat orang yang seperti ini dan tak ada tempat yang lebih layak baginya selain kawah api Neraka yang membara.

Marilah kita melakukan langkah-langkah nyata dalam rangka meningkatkan produktivitas dengan bekerja, berkarya, beramal shaleh, berinfaq dan bersedekah, serta memelihara diri kita dari kemalasan yang menyebabkan tidak munculnya kreativitas, semoga Allah SWT memberikan Taufik, Hidayah, dan Inayah-Nya kepada kita sekalian.

Gaya Hidup Islami

Ada dua hal penting di dalam kehidupan umat manusia yang menjadi prioritas untuk diperoleh dalam hidup ini, pertama ialah kebaikan (al-khair), dan yang kedua ialah kebahagiaan (as-sa’adah). Hanya saja masing-masing orang mempunyai cara pandang dan perspektif yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya varian dan aneka macam ragam gaya hidup manusia.

Dalam pandangan Islam gaya hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, pertama gaya hidup Islami dan kedua gaya hidup jahili.

Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu tauhid. Inilah gaya hidup orang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan rapuh penuh dengan nuansa kesyirikan, inilah gaya hidup orang kafir.

Setiap individu muslim sudah menjadi keharusan baginya untuk memilih gaya hidup Islami dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT berikut ini yang artinya:

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Berdasarkan arti ayat tersebut, jelaslah bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib bagi setiap muslim, dan gaya hidup jahili adalah haram hukumnya. Hanya saja dalam kenyataan justru membuat kita sangat prihatin, sebab justru gaya hidup jahili yang diharamkan itulah yang mendominasi sebagian besar gaya hidup umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda:

“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ditanyakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”. (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah, shahih)

Dalam hadist lain dijelaskan:

“Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka. Kami bertanya, “Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” (HR. al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri, shahih)

Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan jati diri sebagai muslim karena jiwa mereka telah ter-shibghoh oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan jati diri yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup lain. Tidak ada kehilangan yang layak ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau jati diri tak lagi Islami malah justru mirip gaya hidup orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar yang berdampak pada bencana peradaban.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Al Thahawie dalam Musykil al Atsaar dari Abdullah bin Umar, Al Bazzaar dari Abu Hurairah).

Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi bagian dari mereka. Lalu dalam hal apakah tasyabbuh itu? Al-Munawi berkata: “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”.

Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode busana jahiliyyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana muslimah yang tidak memenuhi ketentuan syariat. Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana muslimah pada umumnya nyaris tak jauh beda dengan mode pakaian yang mengekspos aurat. Belum lagi kejahilan ini dilengkapi dengan tingkah laku yang jahiliyyah. Na’udzubillahi min dzalik.

Tasyabbuh yang lain adalah bagaimana perekonomian kaum muslimin mengikuti dan meniru sistem kapitalis ribawi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dua golongan ahli Neraka yang aku tidak melihat mereka yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataan-nya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tidak akan masuk Surga bahkan tidak mencium baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Ahmad, Muslim, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Al Baihaqi dan Al Thabrani dari Abu Hurairah).

Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporakporandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri tanpa peran. Sebab realita umat sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat ber-tasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili.

Allah SWT berfirman dalam surat at-Tahrim ayat 6 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).

Bahaya Perilaku Hedonis dan Materialistis

Tujuan Allah SWT menciptakan manusia adalah untuk beribadah, menyembah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Adz-Dzariyat ayat 57:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 57)

Dalam rangka untuk memenuhi kewajiban beribadah tersebut maka sudah barang tentu harus ada sarana dan prasarana yang melengkapinya. Sarana dan prasarana ini bisa terwujud jika ada dana. Dana bisa ada bila terdapat sistem ekonomi yang kokoh dan islami. Sayangnya sistem ekonomi di negara kita ini cenderung pada ekonomi kapitalisme, yang mengejar pada keuntungan belaka, yang menilai sesuatu hanya berdasar pada akal dan nafsu saja dan cenderung memisahkan diri dari aspek spiritual (nilai-nilai keimanan dan moralitas) yang merupakan kontrol kehidupan manusia di dunia, agar bisa mewujudkan fiddunya hasanah wafilahiroti hasanah.

Dengan rendahnya aspek spiritual yang dimiliki, serta semakin kokohnya sistem ekonomi kapitalisme maka akan menimbulkan terjadinya paham individualis, materialis, dan konsumtifis yang pada akhirnya terciptalah budaya “HEDONISME,” yaitu pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup.

Budaya hedonisme dan materialistis ini merupakan virus yang mematikan yang mampu membuat manusia kehilangan nalar sehatnya, tercabut dari kearifan budaya bangsanya, bahkan mampu mengubah jati diri dan keimanannya. Naudzubillah.

Seorang pejabat yang seharusnya amanah, karena virus hedonisme dan materialistis akhirnya menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, tidak malu mengkorupsi uang rakyat, karena virus hedonisme dan materialistis ini pula seorang pedagang (pelaku bisnis) tidak jujur dalam berbisnis, sehingga yang mendapatkan dampaknya adalah kita rakyat kecil, karena terjadi paceklik dan harga bahan kebutuhan pokok membumbung tinggi, tidak terjangkau untuk dibeli, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Imam al-Baihaqi yang artinya:

“Dan ketika mereka mengurangi takaran dan timbangan maka mereka akan ditimpa tahun-tahun paceklik, harga-harga kebutuhan sehari-hari membumbung tinggi dan dipimpin oleh pemimpin yang lalim.” (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi)

Karena budaya hedonis dan materialis ini pula generasi muda, calon pemimpin bangsa menjadi hancur masa depannya, miras dan narkoba menjadi kebutuhan hidup, pergaulan bebas, free sex dan dunia malam merupakan gaya hidup. Mau diarahkan kemana bangsa dan negara ini? Bukankah mereka para generasi muda aset yang paling berharga? Imam al-Mustafa al-Gholayyini dalam kitab Idhdhotun Nasyi’in mengatakan yang artinya:

“Pemuda dimasa sekarang adalah pemimpin dimasa yang akan datang.”

Karena paham hedonisme dan jiwa matre ini pula rumah tangga yang seharusnya mampu mewujudkan sakinah, mawaddah, wa rohmah, anak-anak yang shalih dan shalihah, hancur berantakan, suami bersenang-senang, istri menghilang, anak-anak menjadi liar dan meradang. Bukankah negara akan jaya bila rumah tangga juga jaya, negara akan makmur bila rumah tangga juga makmur.

Di sinilah pentingnya media dakwah yang efektif, praktis, dan tepat sasaran sehingga mampu membentengi masyarakat dari gaya hidup hedonisme dan materialistis. Sebagaimana perintah Allah SWT dalam arti surat ali-Imran ayat 104 agar kita selalu berdakwah, yaitu:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. ali-Imran: 104)

Untuk mengikis habis budaya hedonisme dan membendung paham materialisme tersebut harusnya dimulai dari diri kita sendiri kemudian baru melangkah ke orang lain. Agar hidup kita kembali ke jalan yang ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya, agar bangsa dan negara ini tidak terpuruk lagi, bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara lain bahkan selangkah lebih maju ke depan. Amin Allahumma amin.

Langkah-langkah yang harus kita lakukan dalam berdakwah untuk membendung budaya hedonisme dan materialisme tersebut adalah:

  1. Dekatkan diri kita kepada Allah SWT, lewat berdzikir, berpikir, koreksi diri, dan melaksanakan shalat yang kontinu dan berkualitas, karena dengan shalat yang berkualitas kita mampu membentengi diri kita dari hal-hal negatif yang akan mempengaruhi diri kita, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Ankabut ayat 45 yang artinya:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya  dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Ankabut: 45)

  • Jadikan diri kita hamba Allah yang bersyukur. Dengan mensyukuri apa yang ada serta semangat berikhtiar (berusaha) untuk mewujudkan segala cita, diakhiri dengan tawakal (pasrah) dan berdo’a, insya Allah kita dijauhkan dari berjiwa materialis dan dijauhkan dari sifat iri dan dengki kepada orang lain. Karena sifat iri tidak akan mendatangkan suka cita, tapi justru berujung duka nestapa. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya iri dan dengki akan memakan kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu kering.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan al-Baihaqi dalam syuab al-Iman dengan sanad yang dhaif)

  • Jadikan diri kita berpola hidup yang sederhana, tidak konsumtif. Kesederhanaan adalah awal kebahagiaan, karena hidup sederhana bukan berarti selalu kekurangan, melainkan sebuah cara hidup yang bertujuan untuk menjauhkan diri dari sikap tamak dan serakah. Sedangkan hidup konsumtif dan penghambur-hamburan uang merupakan awal kebangkrutan dan mendapatkan laknat Tuhan. Allah SWT berfirman dalam surah al-Isro’ ayat 26-27 yang artinya:

“26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros 27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. al-Isra’: 26-27)

  • Jadikan diri kita tidak selalu menuruti keinginan (hawa nafsu). Manusia bila akalnya mampu mengendalikan nafsunya maka bisa lebih mulia daripada malaikat, sebaliknya bila nafsunya mampu mengkerdilkan akalnya, maka bisa lebih rendah daripada binatang. Di sinilah pentingnya pengendalian hawa nafsu, agar kita tidak terjebak dalam gaya hidup hedonisme dan materialistis. Imam al-Busyairi dalam qasidah burdah mengatakan: “Nafsu itu bagaikan bayi, bila dibiarkan akan tetap menyusu ibunya walaupun sudah besar dan bila disapih maka pada usia dua tahun bayi itu tidak akan menyusu ibunya lagi.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan: pertama, sistem ekonomi kapitalisme akan mewujudkan gaya hidup hedonisme dan materialistis; kedua, gaya hidup hedonisme dan materialistis akan menjerumuskan pada jurang kemaksiatan dan kehancuran; ketiga, lewat meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, selalu bersyukur, tidak mengikuti hawa nafsu serta mengedepankan hidup sederhana kita akan dijauhkan dari perilaku hedonisme dan materialistis.

Anjuran Hidup Sederhana

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang Indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. al-A’raf: 31)

Salah satu penyebab maraknya korupsi di negeri kita ini adalah kegemaran sebagian orang terhadap kemewahan dan menggejalanya pola hidup konsumtif. Peluang untuk tampil lebih konsumtif sangatlah terbuka di sekitar kita. Peran media-media informasi baik elektronik maupun cetak, seperti tayangan televisi sering menjadikan standar hidup melampaui kemampuan finansial yang kita miliki. Iklan-iklan tidak semuanya menyajikan keinginan akan kebutuhan primer, tapi lebih sering menyajikan kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersier yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipenuhi. Kita tidak dilarang untuk memiliki barang-barang mewah yang sebenarnya kurang kita butuhkan, asal bukan untuk tujuan kemewahan.

Mengapa demikian? Karena kalau ada tujuan bermewah-mewah, kerugianlah yang akan kita dapatkan, minimal kecurigaan orang lain bahwa kita telah melakukan kecurangan. Siksaan yang sering kali menjadi bawaan kemewahan ini adalah keinginan untuk pamer yang tidak bisa dikendalikan, ingin diketahui orang lain, rasa takut yang berlebihan akan munculnya saingan, mudah iri dan dengki kepada siapa saja yang punya kelebihan, rasa cemas, takut terhadap barang-barangnya jika rusak, dicuri. Makin mahal barang yang dimiliki, maka kita akan semakin takut kehilangan.

Tampaknya, pola hidup sederhana harus dibudayakan kembali di masyarakat. Tak terkecuali di keluarga kita. Kalau orang tua memberikan contoh pada anak-anaknya tentang kesederhanaan, maka anak akan terjaga dari merasa dirinya lebih dari orang lain, tidak senang dengan kemewahan, dan mampu mengendalikan diri dari hidup bermewah-mewah.

Sederhana adalah suatu keindahan. Mengapa? Karena seseorang yang sederhana akan mudah melepaskan diri dari kesombongan dan lebih mudah merasakan penderitaan orang lain. Jadi, bagi orang yang merasa penampilannya kurang indah, perindahlah dengan kesederhanaan. Sederhana adalah buah dari kekuatan mengendalikan keinginan.

Dalam Islam, kaya itu bukan hal yang dilarang, bahkan dianjurkan. Perintah zakat bisa dipenuhi kalau kita punya harta, demikian pula perintah haji dan banyak kebaikan lainnya bergantung pada kekayaan. Yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan. Saya tidak mengajak untuk miskin, tapi mengajak agar kita berhati-hati dengan keinginan hidup mewah.

Satu hal yang penting, ternyata di negara manapun orang yang bersahaja itu lebih disegani, lebih dihormati daripada orang yang bergelimang kemewahan. Apalagi mewahnya tidak jelas asal-usulnya.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat sederhana. Walaupun harta beliau sangat banyak, rumah beliau sangatlah sederhana, tidak ada singgasana, tidak ada mahkota walaupun jika beliau mau hal itu akan sangatlah mudah beliau dapatkan. Lalu, untuk apa Rasulullah SAW memiliki harta? Beliau menggunakan harta tersebut untuk menyebarkan risalah Islam, berdakwah, membantu fakir miskin, dan memberdayakan orang-orang yang lemah.

Dari apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, kita harus kaya dan harus mendistribusikan kekayaan tersebut kepada orang lain sebanyak-banyaknya, terutama untuk orang terdekat. Maka, bila kita memiliki uang dan kebutuhan keluarga telah terpenuhi, bersihkan dari hak orang lain dengan berzakat. Kalau masih ada lebih, maka siapkan untuk kerabat yang membutuhkan. Kekayaan kita harus dapat dinikmati banyak orang. Sederhana dan tidak berlebihan akan menjadikan kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita beramal saleh menolong sesama.

Bukankah perilaku hemat dan hidup sederhana akan membantu dan meringankan kita di masa depan? Nah, jika sudah tahu akan pentingnya hidup hemat dan sederhana, langkah terbaik yang kita lakukan adalah segera menerapkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Para pemimpin, ulama, pemuka masyarakat, para guru, orang tua, dan semua lapisan masyarakat hendaknya mencontoh sikap hemat dan hidup sederhana karena Rasulullah SAW memberikan teladan agar kita menjalani hidup dalam kesederhanaan.

Dari Abu Dzar al-Ghifary radhiyallahu anhu, ia menuturkan: Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk diri mereka? Ia menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku hingga aku berjumpa dengan Engkau!”, Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kau kutunjukkan jalan yang lebih baik dari itu?”, aku menjawab: ‘Bersedia wahai Rasulullah’, beliau bersabda: Bersabarlah hingga kau menemuiku!” (HR. al-Bazzaar).

Abu Dzar akan selalu ingat wasiat Rasul ini. Ia tidak akan menggunakan ketajaman pedang terhadap para pembesar yang mengambil kekayaan dari harta rakyat sebagaimana ancamannya dulu. Namun ia juga tidak akan bungkam atau berdiam diri mengetahui kesesatan mereka.

Ketika kepemimpinan Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin telah berlalu, dan godaan harta mulai menjangkiti para pembesar dan penguasa Islam, Abu Dzar turun tangan. Ia pergi ke pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta, dengan lisannya yang tajam dan benar untuk mengubah sikap dan mental mereka satu per satu.

Dalam beberapa hari saja tak ubahnya ia telah menjadi panji-panji yang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja, bahkan sampai di negeri jauh yang penduduknya pun belum pernah melihatnya. Nama Abu Dzar bagaikan terbang ke sana, dan tak satupun daerah yang dilaluinya, bahkan walaupun baru namanya yang sampai ke sana, sudah menimbulkan rasa takut dan ngeri pihak penguasa dan golongan berharta yang berlaku curang.

Penggerak hidup sederhana ini selalu mengulang-ulang pesannya, dan bahkan diulang-ulang juga oleh para pengikutnya, seolah lagu perjuangan. “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat!”.

Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari segala kehidupan dunia. Ia menjadi guru dalam seni menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan.

Mari kita renungkan sejenak riwayat yang disampaikan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak berikut ini:

Dari Ummu Dzar radhiyallahu anha, ia menuturkan: ‘Ketika sakaratul maut menghampiri Abu Dzar radhiyallah anhu, aku menangis, maka Abu Dzar bertanya: ‘”Apa yang kau tangiskan?’” Istrinya menjawab: Bagaimana aku tidak menangis sedang engkau meninggal di padang pasir (jauh dari pemukiman warga, pent) sedang aku tidak mempunyai kain kafan yang cukup untuk membungkusmu, dan tidak ada seorang pun yang memberi pinjaman pasca wafatmu’. Abu Dzar berkata: ‘Bergembiralah dan jangan engkau menangis, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Tidaklah dua anak atau tiga anak meninggal di antara dua orang muslim, lantas keduanya bershabar dan mengharapkan balasan terbaik niscaya ia tidak akan melihat neraka selamanya’, Dan sungguh aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Aku ada di tengah sejumlah sahabat, pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, dan disaksikan oleh serombongan orang beriman, dan tidak ada seorang pun dari mereka kecuali telah meninggal di satu kampung  dan di satu komunitas, dan Insya Allah yang akan membenarkan sabda Nabi adalah diriku’ demi Allah aku tidak berdusta dan juga tidak berbohong, karena itulah lihat di jalan”. (HR. al-Hakim)

Ruhnya pun kembali ke hadirat Ilahi. Dan benarlah, ada rombongan kaum Muslimin yang lewat dipimpin oleh Ibnu Mas’ud. Sebelum sampai ke tujuan, Ibnu Mas’ud melihat sosok tubuh terbujur kaku, sedang di sisinya terdapat seorang wanita tua dan seorang anak kecil, kedua-duanya menangis. Ketika pandangan Ibnu Mas’ud jatuh ke mayat tersebut, tampaklah Abu Dzar al-Ghifari. Air matanya mengucur deras. Di hadapan jenazah itu, Ibnu Mas’ud berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah, Anda berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan kembali seorang diri!”.

Lima Pesan Abu Bakar tentang Zuhud

Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini. Pertama ialah kebaikan (al-khair). Kedua ialah kebahagiaan (as-sa’adah). Hanya saja masing-masing orang mempunyai pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.

Manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi, sebagai khalifah manusia tentu memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat. Bahkan hanya manusia saja yang menerima tugas dan tanggung jawab berat ini, sedangkan yang lainnya menolak. Dalam al-Qur’an ditegaskan bagaimana makhluk-makhluk selain manusia tidak sanggup untuk memikul tugas berat tersebut.

Firman Allah SWT dalam surat al-Ahzab ayat 72 yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab: 72)

Oleh karena itu Allah SWT menganugerahi manusia suatu kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu kemampuan berpikir (quwwah nadhariyah) di samping memberi kemampuan fisik (quwwah amaliyah) seperti yang diberikan kepada makhluk-makhluk Allah SWT yang lainnya. Hal itu sesungguhnya dimaksudkan untuk membantu manusia dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai khalifah di bumi.

Dengan kemampuan berpikirnya, manusia dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk. Demikian pula, dengan anugerah tersebut manusia dalam kesehariannya dapat mengambil yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, serta mampu mencegah sesuatu yang dapat berakibat buruk bagi dirinya juga orang lain. Sedangkan kemampuan fisik yang dimiliknya, manusia dapat berusaha dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tugas manusia sebagai khalifah adalah untuk beribadah, baik itu ibadah mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh, yang sifatnya individual maupun sosial. Dengan demikian semua tindakan yang dilakukannya, baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri ataupun orang lain, maka hanya diarahkan untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Selain itu, manusia juga mempunyai tanggung jawab untuk membangun bumi dan memeliharanya (imaratul-ardli), bukan sebaliknya, merusak bumi dan membakar hutan, yang menimbulkan kabut asap yang luar biasa, akibatnya menimbulkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) hanya untuk kepentingan duniawi dan menuruti keinginan hawa nafsu belaka.

Pada posisi lain, guna untuk memenuhi kebutuhan primernya, manusia membutuhkan makan, minum pakaian, dan tempat tinggal. Kenyataan seperti itulah yang menyebabkan manusia untuk bekerja dan berikhtiar dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Bekerja dan berikhtiar mencari biaya hidup bukan berarti mencerminkan sikap senang terhadap harta benda, tetapi hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Dengan aktivitas itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, yaitu beribadah, mengabdi, dan tunduk kepada Sang Pencipta Allah SWT.

Dalam konteks seperti ini, bekerja dan berikhtiar menjadi sesuatu yang wajib, karena beribadah adalah wajib. Sedangkan beribadah tanpa bekerja, pada umumnya manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini sesuai dengan kaidah:

“Sesuatu yang apabila kewajiban tidak bisa sempurna tanpanya, maka sesuatu tersebut wajib hukumnya.”

Ada lima jenis kegelapan yang menjadikan pekatnya kehidupan manusia. Namun lima kegelapan itu dapat disirnakan oleh lima macam cahaya.

Pertama, kegelapan terjadi akibat dari terlalu cintanya manusia kepada kehidupan dunia, dan cahaya yang dapat menghilangkannya adalah taqwa. Terlalu mencintai kehidupan dunia (hubbud dunya) akan menyebabkan seseorang menghampiri perkara-perkara syubhat, perkara yang tidak jelas kadar halal-haramnya. Kemudian hal yang syubhat itu akan menghantarkan kepada yang makruhat, yaitu perkara yang dibenci oleh syariat Islam.

Jika sudah demikian, jatuhlah ia di lembah muharramat, perkara yang dilarang oleh agama. Semua ini berawal dari semangat yang berlebihan pada cinta kehidupan dunia. Bukankah pejabat kita yang suka korupsi berawal dari goshob uang yang kecil? Kemudian mengarah suatu yang syubhat dan menjadi perkara yang haram. Oleh karena itu Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya:

“Terlalu mencintai dunia adalah pangkal semua keburukan.” (HR. al-Baihaqi)

Yang kemudian dijabarkan oleh al-Ghazali:

“maka membenci dunia adalah modal kebaikan”.

Kegelapan ini bisa sirna apabila diterangi oleh taqwa. Bagaimana taqwa dapat meneranginya, karena substansi taqwa adalah “takut”. Takut akan terjatuh pada larangan Allah SWT. Sehingga seseorang hanya akan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah SWT.

Kedua, kegelapan akibat dosa dan sinar yang akan menyirnakannya adalah taubat.

Sesungguhnya seorang hamba apabila ia berbuat kesalahan, maka dihatinya akan tertera setitik noda. Ketika ia telah beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat, maka hati itu akan kembali cemerlang dan bersih, dan apabila ia kembali melakukan kesalahan serupa, maka hati itulah yang telah tertutup. Seperti halnya firman Allah SWT dalam al-Muthafifin “Demikian sebenarnya apa yang mereka lakukan itu telah menutupi hati mereka”.

Ketiga, kegelapan di alam kubur, dan yang akan menyinarinya adalah kalimat tauhid la ilaha illallah. Nasihat ketiga ini didasarkan kepada hadist Rasulullah SAW bahwasannya Allah SWT mengharamkan atas api neraka bagi orang yang mengucapkan:

“Barang siapa yang bersaksi la ilaha illallah dan bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah, maka Allah mengharamkan masuk neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian orang-orang bertanya, bagaimana ikhlas itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab, “Ikhlas itu apabila kalian menghindarkan (menjauhkan) diri dari segala yang dilarang Allah SWT”.

“Ikhlas itu mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan.”

Keempat, kegelapan yang ada di akhirat sebagaimana keadaannya, hanya dapat disinari dengan amal kebaikan.

Selama masih ada kesempatan untuk melakukan dan mengumpulkan kebaikan, maka harus dilakukan, karena itu Allah SWT memberikan keringanan (rukhshah) agar manusia bisa mengumpulkan sebanyak mungkin kebaikan.

Begitu pentingnya posisi rukhshah dalam syariat Islam, hingga Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, ia menuturkan: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai (orang) yang mengerjakan rukhsah-rukhsah-Nya (keringanan-keringanan dari Allah) sebagaimana Allah mencintai orang-orang yang mengerjakan perintah-perintah-Nya’ (HARI. Abu Ya’ala al-Mushilie)

Hal ini perlu dipahami bahwa rukhshah yang diberikan oleh Allah SWT merupakan kesempatan dan peluang yang sebaiknya segera dikonversi menjadi amal shaleh. Karena amal shalehlah yang akan menolong kehidupan di akhirat nanti.

Kelima, bahwa titian atau jembatan di hari akhir nanti sangatlah gelap, dan yang akan menerangi perjalanan kita melewati jembatan itu adalah keyakinan atas petunjuk Allah SWT yang dapat menghilangkan berbagai macam keraguan.

Pada sisi lain, manusia diperintah untuk zuhud, meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan duniawi. Ini merupakan sebuah dilema. Di sisi lain manusia harus bekerja mencari harta guna menutupi kebutuhan sehari-harinya, namun dia diperintahkan untuk zuhud. Inilah yang menjadi bahan renungan bagi ulama-ulama salaf guna memberi solusi yang tepat dan akurat.

Pengertian zuhud menurut Sayyid Abu Bakar dalam Kifayah al-Atqiya’ sebenarnya tidak berbeda jauh dari gambaran di atas, yaitu:

“Menghilangkan ketergantungan hati terhadap harta benda (dunia), bukan berarti tidak punya harta.”

Al-Ghazali memberikan gambaran sebagai cerminan bagi zahid (orang yang zuhud).

Pertama, tidak ada bedanya antara memiliki harta dan tidak. Yaitu, tidak merasa senang dengan adanya harta, dan juga tidak merasa susah dengan tiadanya harta. Kedua, dipuji atau dicela orang lain, tidak ada pengaruh bagi dirinya. Ketiga, ketenteraman hatinya hanya bersandar kepada Allah SWT semata serta hatinya dipenuhi perasaan “nikmatnya berbakti” (ta’at) kepada Sang Khaliq (Allah SWT).

Dengan demikian zahid (orang yang zuhud) sebenarnya bukanlah seseorang yang tidak memiliki harta benda sama sekali melainkan dia punya harta benda, namun dia hanya bergantung kepada Allah SWT semata. Sebaliknya, walaupun seseorang tidak memiliki harta, akan tetapi hatinya masih bergantung pada selain Allah SWT, tidak dapat lepas dari dunia dan selalu mengharap pemberian orang lain, maka dia bukanlah seorang zahid.

Semua sepakat, bahwa zuhud merupakan suatu anjuran dan keutamaan, sesuai dengan sabda Nabi SAW yang artinya:

“Berzuhudlah dalam (urusan) dunia, niscaya kamu akan dicintai Allah. Dan berzuhudlah (jangan mengharap) dari apa-apa yang ada pada genggaman manusia, niscaya kamu akan disukai manusia.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya dengan sanad yang hasan dan al-Hakim dalam al-Mustadrak dengan sanad yang shahih)

Secara umum, kita semua memang membutuhkan harta benda untuk menjaga kelangsungan hidup. Namun hal itu jangan dijadikan alasan menghabiskan seluruh waktu hanya untuk bekerja dengan melupakan kewajiban-kewajiban sebagai makhluk Allah SWT. Tujuan hidup manusia bukan sekadar bekerja dan menumpuk harta benda, tetapi mencari kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adutuddaraini). Dunia hanyalah sebagai tempat menanam (mazra’ah) dengan melakukan amal shaleh sebanyak mungkin sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya.

Halal dan Thayyib dalam Makanan dan Minuman

Marilah kita bertaqwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, juga taqwa dengan menjauhkan diri dari makanan yang haram.

Ada 3 hal yang menyebabkan makanan itu menjadi haram, yakni:

  1. Riba;
  2. Najis;
  3. Karena mendatangkan mudharat pada diri kita.

Rasulullah SAW telah bersabda di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abdullah bin Salam RA yang artinya:

“Satu dirham yang dimiliki seseorang dari riba, lebih besar dosanya di sisi Allah dari pada 33 kali berbuat zina di dalam Islam.” (HR. al-Baihaqi, hadist ini dikategorikan hadist dhaif dan tidak bisa dijadikan dasar pijakan).

Dosa makanan haram itu berpengaruh juga pada jiwa seseorang seperti yang disebutkan oleh Syaikh Abdul Aziz di dalam kitabnya Iqhtinamul Auqat, bahwa salah satu yang menjadi penyebab Fuqdanu ladzdzatitto’at: hilangnya rasa kenikmatan beribadah adalah memakan makanan yang haram.

Selain itu, berpengaruh juga pada ibadah yang lain. Apabila kita beribadah tetapi mengkonsumsi makanan yang haram, maka ibadah kita rusak bagaikan tembok yang berdiri di atas ombak, sebagaimana disebut di dalam kitab Matan Zubad oleh Ibnu Rulsan yang artinya:

“Orang yang taat tetapi memakan makanan yang haram bagaikan tembok yang berdiri di atas ombak.”

Kesimpulannya, harta yang haram apabila disimpan tidak berkah, apabila dipakai bersedekah tidak mendapat pahala, dan jika dipakai menjadi biaya haji maka hajinya menjadi tidak mabrur, bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal hajinya menjadi tidak sah.

Apabila kita perhatikan firman Allah SWT di dalam beberapa ayat, bukan kehalalan saja yang menjadi penting, tetapi makanan tersebut harus bergizi atau yang disebut “Thayyiban”. Selain itu, yang tidak kalah penting pada makanan yang dikonsumsi adalah tentang jumlah makanan yang harus dibatasi sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, di mana beliau tidak makan kecuali pada waktunya dan berhenti sebelum kenyang, karena di dalam perut itu perlu diberikan tempat untuk tiga hal, yaitu makanan, minuman, dan udara.

Contoh terbaik cara makan dan minum adalah yang dicontohkan Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. an-Nahl: 114).

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.

One thought on “Gaya Hidup Islami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *