Indonesia Statistics

Indonesia
78,572
Confirmed
Updated on 15/07/2020 3:14 am
Indonesia
37,636
Recovered
Updated on 15/07/2020 3:14 am
Indonesia
3,710
Deaths
Updated on 15/07/2020 3:14 am

Indonesia Statistics

Indonesia
78,572
Confirmed
Updated on 15/07/2020 3:14 am
Indonesia
37,636
Recovered
Updated on 15/07/2020 3:14 am
Indonesia
3,710
Deaths
Updated on 15/07/2020 3:14 am

Jihad Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk Membungkam Gerakan Kemurtadan

Dr. Zakir Naik Mendapat 2 Pertanyaan dari Pria Mualaf

Seorang pria muallaf yang baru saja masuk Islam bertanya kepada Dr. Zakir Naik ketika beliau berceramah di Tokyo pada tanggal 7 Oktober 2015. Pria...

Kenapa Allah Tidak Membuat Semua Manusia Menjadi Muslim? Dr. Zakir Naik Menjawab

Melanjutkan pertanyaan Yoko kepada Dr. Zakir Naik yang telah ditulis pada artikel sebelumnya (baca: Apakah Perjalanan Isra' Mi'raj Adalah Kisah Bohong?), wanita Jepang ateis...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Charles Darwin dan Teori Evolusi

Seorang mahasiswa Jepang bernama Takuya Nishikawa, berumur 20 tahun, dan berasal dari Tokyo, bertanya kepada Dr. Zakir Naik tentang apakah manusia benar-benar berevolusi dari...

Kenapa Manusia Sering Ditimpa Masalah dalam Hidupnya? | Dr. Zakir Naik Menjawab

Seorang gadis ateis asal Jepang bertanya kepada Dr. Zakir tentang kenapa Tuhan memberikan kesulitan-kesulitan hidup kepada manusia di dunia ini? Lalu bagaimana pandangan seorang...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Konfusianisme

Seorang pemuda Korea yang bekerja pada biro perjalanan bertanya kepada Dr. Zakir Naik. Nama pemuda Korea itu adalah Kim. Sebagai seorang penganut Konfusianisme, dia...

Definisi Murtad Secara Terminologi dan Beberapa Ayat yang Melarang dan Memperingatkan Terhadap Perbuatan Murtad

Pengertian murtad secara terminologi

Imam An-Nawawi mendefinisikan perbuatan murtad seperti berikut, “Memutus Islam dengan niat, kata-kata kufur atau perbuatan, baik kata-kata itu diucapkan karena melecehkan, mencemooh, dan mengolok-olok, atau karena sikap angkuh dan keras kepala, atau keyakinan. Maka, barang siapa menafikan Sang Pencipta atau para rasul, atau mendustakan seorang rasul, atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan berdasarkan Ijma’ seperti zina misalnya, atau sebaliknya yaitu mengharamkan sesuatu yang halal berdasarkan Ijma’, atau menafikan sesuatu yang wajib hukumnya berdasarkan Ijma’ atau sebaliknya, atau berazam untuk kafir, atau ragu-ragu untuk kafir atau tidak, maka orang itu kafir.

Sementara itu, ‘Ulaisy Al-Maliki mendefinisikan kemurtadan seperti berikut, yaitu kekafiran seorang Muslim dengan perkataan yang eksplisit, atau kata-kata yang menghendaki atau menunjukkan pengertian dan konotasi kekafiran, atau dengan perbuatan yang mengandung kekafiran.

Ibnu Hazm Azh-Zhahiri mendefinisikan orang murtad seperti berikut, yaitu setiap orang yang sebelumnya secara sah sebagai seorang Muslim yang berlepas diri dari semua agama selain Islam, kemudian terbukti ia murtad dan keluar dari Islam beralih kepada agama Kitabi atau agama non Kitabi atau kepada tanpa agama.

Sementara itu, Utsman Al-Hambali mendefinisikan orang murtad seperti berikut, bahwa kata “al-Murtad” secara etimologi artinya adalah orang yang kembali. Allah berfirman dalam ayat 21 surah Al-Ma`idah, “wa la tartaddu ’ala adbarikum” (dan janganlah kamu kembali lari ke belakang). Sedangkan secara syara’, orang murtad adalah orang yang melakukan sesuatu yang mengakibatkan kekafiran setelah keislamannya.

Ini artinya bahwa orang murtad adalah setiap orang yang mengingkari sesuatu yang sudah sangat maklum dan menjadi pengetahuan umum dalam agama (amrun ma’lumun min din Al-Islam bi adh-Dharurah), semisal shalat, zakat, kenabian dan ber-muwalah (loyal, berpatron) kepada orang-orang Mukmin, atau mengucapkan kata-kata atau melakukan suatu perbuatan yang tidak mengandung interpretasi lain selain kekafiran.

Beberapa ayat yang mengisyaratkan tentang orang murtad

Allah menyebut orang yang murtad dari agamanya dengan berbagai bentuk sebutan dan ungkapan yang mengisyaratkan tentang kondisi kekambuhan infeksi yang justru mereka pilih. Di antaranya adalah dengan ungkapan, “ar-Riddah ’ala al-A’qab.” “ar-Riddah ’ala al-Adbar” (kembali mundur ke belakang), “al-Inqilab bi al-Khusran” (kembali dengan membawa kerugian), “thams al-Wujuh.” “radd al-Aidi fi al-Afwah.” “al-Irtiyab.” “at-Taraddud.” “iswidad al-Wujuh.” Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 149).

Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.” (An-Nisa`: 47).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, kata, “an-Nathmis wujuhan” dalam ayat ini maksudnya adalah dibutakan. Kalimat, “fa naruddaha ‘ala adbariha” maksudnya adalah, Kami memutar wajahnya ke belakang, sehingga wajahnya berubah menjadi di tengkuk. Hal ini mengandung unsur hukuman dan pembalasan yang jauh lebih keras. Ini adalah perumpamaan, tamsilan dan ilustrasi yang Allah buat untuk mengilustrasikan kondisi mereka yang terpalingkan dari kebenaran dan kembali kepada kebathilan, berpaling dari jalan yang terang menuju ke jalan kesesatan, sedang mereka berjalan mundur ke belakang.

Allah berfirman,

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” (Ali Imran: 106).

Al-Qurthubi mengutip sejumlah pendapat menyangkut ayat ini. Di antaranya adalah pendapat Qatadah yang menyatakan bahwa ayat ini menyangkut masalah kemurtadan. Al-Qurthubi juga mengutip sebuah hadits Abu Hurairah dan Al-Qurthubi mengatakan bahwa hadits tersebut mungkin bisa dijadikan sebagai dalil penguat bahwa ayat tersebut memang menyangkut masalah kemurtadan. Hadits tersebut adalah,

Kelak pada Hari Kiamat, ada beberapa orang dari sahabatku mendatangi telaga, lalu mereka diusir dari telaga itu. Lalu aku berkata, “Ya Rabbi, itu adalah para sahabatku.” Lalu Allah berfirman, “Kamu tidak tahu tentang apa yang telah mereka perbuat setelahmu, sesungguhnya mereka kembali mundur ke belakang.”

Dalam versi riwayat lain untuk hadits ini dari Abdullah bin Abbas disebutkan, ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Pada Hari Kiamat, ada sejumlah orang dari umatku yang digiring ke arah kiri. Lalu aku berkata, “Ya Rabbi, itu adalah para sahabatku.” Lalu dikatakan kepadaku, “Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka ada-adakan setelahmu.” Lalu aku pun mengucapkan perkataan seperti yang diucapkan oleh seorang hamba shaleh, “Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau meninggalkan aku, Engkaulah Yang mengawasi mereka.” Lalu dikatakan kepadaku, “Sesungguhnya mereka itu selalu kembali ke belakang semenjak kamu tinggalkan mereka.”

Sebab-sebab Kemurtadan dan Klasifikasinya

Sesungguhnya kemurtadan yang dilakukan oleh kabilah-kabilah Arab setelah meninggalnya Rasulullah memiliki sejumlah sebab. Di antaranya adalah, kondisi terpukul oleh kematian Rasulullah, tipisnya keagamaan dan keliru dalam memahami nash-nash agama, kerinduan kepada kejahiliyahan dan tradisi-tradisinya yang menyimpang, keinginan untuk melepaskan diri dari sistem dan tatanan serta membelot terhadap kekuasaan dan otoritas syariat, fanatisme kesukuan dan ambisi terhadap kekuasaan, memanfaatkan agama untuk mencari keuntungan materiil dan sikap kikir, kebencian, kedengkian dan perasaan iri, pengaruh-pengaruh asing seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Kami akan membincangkan lebih jauh seputar sebab-sebab tersebut insya Allah.

Adapun klasifikasi orang murtad, maka di antara mereka ada yang meninggalkan Islam secara keseluruhan dan total, kembali kepada paganisme dan penyembahan kepada berhala. Di antara mereka ada yang mengklaim kenabian. Di antara mereka ada yang mengajak-ajak untuk meninggalkan shalat. Di antaranya lagi ada yang masih tetap mengakui Islam dan menegakkan shalat, tetapi mereka menolak untuk membayar zakat. Di antaranya lagi ada yang senang dengan kematian Rasulullah dan kembali melakukan kebiasaan-kebiasaan Jahiliyahnya. Di antaranya lagi ada yang mengambil sikap plin-plan, oportunis dan inkonsisten, memihak kepada pihak yang menang dan menguntungkan dirinya. Semua itu telah dijelaskan oleh ulama fikih dan sirah.

Al-Khathabi menuturkan, sesungguhnya orang murtad bisa diklasifikasikan menjadi dua golongan. Pertama, golongan yang murtad dari agama Islam secara total dan kembali kepada kekafiran. Golongan pertama ini bisa diklasifikasikan lagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok Musailamah dari Bani Hanifah dan yang lainnya yang membenarkan dan mempercayai dirinya atas klaim kenabiannya, kelompok Al-Aswad Al-’Unsi dan orang-orang yang mau bergabung dengannya dari penduduk Yaman dan yang lainnya.

Kelompok pertama ini, semuanya mengingkari dan menolak kenabian Nabi Muhammad, dan sebaliknya mereka mengakui kenabian nabi-nabi palsu. Kedua, kelompok yang murtad dari agama Islam, mengingkari ajaran-ajaran syariat, meninggalkan shalat, zakat, dan urusan-urusan agama lainnya, serta kembali kepada kejahiliyahan mereka seperti dulu. Kelompok yang kedua inilah kelompok yang membedakan antara kewajiban shalat dan kewajiban zakat, mereka mengakui kewajiban shalat namun mengingkari kewajiban membayar zakat dan kewajiban menyerahkan zakat kepada imam.

Di antara pihak yang menolak membayar zakat tersebut ada sebagiannya yang sebenarnya masih bersedia untuk membayar zakat, hanya saja para pemimpin mereka menghalang-halangi dan melarang mereka membayar zakat.

Klasifikasi orang murtad ini hampir mirip dengan klasifikasi yang diberikan oleh Al-Qadhi Iyadh, hanya saja ia mengklasifikasikan orang murtad menjadi tiga golongan. Pertama, golongan yang kembali menyembah berhala. Kedua, golongan para pengikut Musailamah dan Al-Aswad Al-‘Unsi yang keduanya sama-sama mengklaim dirinya sebagai nabi. Ketiga, golongan yang masih tetap Islam akan tetapi mereka mengingkari kewajiban zakat, dan dalam hal ini mereka memiliki interpretasi bahwa kewajiban membayar zakat hanya wajib khusus pada masa Nabi Muhammad saja.

Sementara itu, Dr. Abdurrahman bin Shalih Al-Mahmud mengklasifikasikan orang murtad menjadi empat golongan: Pertama, golongan yang kembali kepada penyembahan kepada berhala dan arca. Kedua, golongan yang menjadi pengikut pihak-pihak yang mengklaim dan mengaku-ngaku sebagai nabi, yaitu Al-Aswad Al-‘Unsi, Musailamah dan Sajah. Ketiga, golongan yang mengingkari dan menolak kewajiban membayar zakat. Keempat, golongan yang tidak mengingkari kewajiban membayar zakat, akan tetapi mereka menolak menyerahkannya kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Gerakan Kemurtadan pada Masa-masa Akhir Kenabian

Gerakan kemurtadan ini mulai muncul sejak tahun kesembilan hijriyah yang dikenal dengan nama ’Am Al-Wufud (tahun delegasi), yaitu tahun di mana jazirah Arab menyerahkan tampuk kepemimpinannya ke tangan Rasulullah, yang itu direpresentasikan dengan langkah para pemimpin kabilah-kabilah Arab yang ada di berbagai penjuru jazirah Arab berdatangan untuk menghadap Rasulullah.

Riak-riak gerakan kemurtadan pada masa tersebut belum sampai muncul secara terbuka dan terang-terangan secara masif hingga tahun kesepuluh hijriyah. Baru pada masa-masa akhir tahun kesepuluh hijriyah, yaitu tahun di mana Rasulullah menunaikan haji wada’ hingga beliau mulai jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia, dan berita itu pun mulai sampai ke telinga masyarakat Arab secara luas, maka sejak itulah bara api kemurtadan mulai sedikit demi sedikit muncul ke permukaan dari bawah abu, ular-ular kemurtadan mulai menampakkan kepalanya dari dalam lubang-lubang persembunyiannya, orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit mulai berani tampil keluar.

Lalu Al-Aswad Al-’Unsi pun mulai bergeliat dan meloncat di Yaman, Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah, dan Thulaihan Al-Asadi di negeri kaumnya.

Ketika muncul gerakan pembelotan yang paling serius ancamannya terhadap Islam, yaitu gerakan pembelotan Al-Aswad Al-’Unsi dan Musilimah, bahwa mereka berdua begitu konsisten dan tetap bersikukuh pada jalur kemurtadan mereka berdua tanpa sedikit pun memiliki pikiran untuk kembali mundur dan mencabut kembali sikap mereka berdua tersebut, bahwa mereka berdua didukung oleh kekuatan yang cukup besar, potensi dan kemampuan yang cukup memadahi, maka Allah pun memberitahu Rasulullah tentang urusan kedua orang tersebut melalui sebuah mimpi yang mengisyaratkan kehancuran kedua orang tersebut yang itu membuat hati Rasulullah bergembira dan tenang, begitu pula dengan hati umat beliau. Pada suatu hari, Rasulullah menyampaikan khutbah dari atas mimbar beliau, “Wahai kalian semua, sesungguhnya waktu kapan persisnya lailatul qadar datang pernah diperlihatkan dan diberitahukan kepadaku, namun kemudian aku dijadikan lupa terhadapnya, dan sesungguhnya aku bermimpi di lengan tanganku bagian atas terdapat dua siwar (gelang yang dikenakan di lengan tangan bagian atas) dari emas, lalu aku membenci dan tidak menyukainya hingga akhirnya aku meniupnya lalu kedua siwar itu pun terbang menghilang. Lalu aku mentakbirkan bahwa kedua siwar itu adalah dua orang pembohong itu, yaitu pemimpin Yaman (Al-Aswad Al-’Unsi) dan pemimpin Yamamah (Musailamah Al-Kadzdzab).”

Para ulama menafsiri mimpi tersebut dengan gambaran seperti itu, yaitu bahwa peniupan Rasulullah terhadap kedua siwar tersebut mengisyaratkan bahwa mereka berdua Al-Aswad Al-’Unsi dan Musailamah) terbunuh dengan “angin” beliau, karena beliau memang bukanlah orang yang memerangi sendiri mereka berdua.

Rasulullah mendeskripsikan kedua siwar tersebut sebagai siwar yang terbuat dari emas mengisyaratkan kebohongan mereka berdua, karena mereka berdua adalah orang yang pandai mengemas kebohongan hingga nampak indah dan menarik. Sedangkan siwar itu sendiri mengisyaratkan bahwa mereka berdua adalah dua pemimpin dan raja di negeri masing-masing karena al-Asawirah (bentuk jamak al-Iswar) adalah para raja. Siwar yang merupakan gelang yang melingkar ketat di lengan tangan bagian atas mengisyaratkan bahwa perkara mereka berdua untuk sesaat mampu memberikan semacam tekanan terhadap kaum muslimin.

Sementara itu, Dr. Ali Al-’Ulum mentakbirkan mimpi tersebut seperti berikut, bahwa kedua siwar tersebut terbang menghilang dengan tiupan Rasulullah mengisyaratkan bahwa tipu daya dan tindakan makar mereka berdua sebesar apa pun itu adalah sangat lemah, seolah-olah seperti buih yang pasti akan segera lenyap menghilang selagi tipu daya itu didapat dari setan, maka itu pasti sangat lemah dan pasti segera lenyap. Karena satu kali serangan di jalan Allah yang difokuskan dan ringan saja sudah bisa melenyapkan mereka berdua tanpa tersisa. Kedua siwar tersebut dari emas mengisyaratkan bahwa maksud dan tujuan dari aksi mereka berdua itu tidak lain hanyalah menginginkan dunia, karena emas adalah simbol harta duniawi yang selalu dikejar-kejar oleh orang-orang yang teperdaya oleh dunia. Kedua siwar tersebut juga mengisyaratkan tentang upaya dan usaha mereka berdua untuk menghancurkan eksistensi dan entitas kaum muslimin dengan cara mengepung kaum muslimin dari setiap penjuru persis seperti posisi siwar yang melingkar di lengan tangan bagian atas.

Sikap Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Terhadap Orang-orang Murtad

Ketika muncul gelombang kemurtadan, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri menyampaikan pidato. Setelah memanjatkan puja-puji kepada Allah, maka selanjutnya ia pun berkata, “Segala puji bagi Allah Yang telah menunjuki lalu mencukupi dan menjamin, Yang memberi lalu menjadikan cukup. Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad, sedang waktu itu ilmu seakan-akan seperti gelandangan tiada memiliki tempat tinggal, Islam adalah sesuatu yang asing dan terusir, talinya lapuk, bajunya kusut dan compang-camping, orang-orangnya tersesat darinya.

Allah murka dan membenci Ahli Kitab, maka Dia pun tidak memberi mereka kebaikan karena suatu kebaikan yang ada pada mereka dan Dia tiada pula menghalau keburukan dari mereka karena suatu keburukan yang ada pada mereka. Mereka telah mengubah, mendistorsi, dan memanipulasi Kitab mereka, memasukkan ke dalamnya apa yang tidak merupakan bagian darinya.

Orang-orang Arab yang aman mengira bahwa mereka sama dan terlindungi dari Allah, tidak mau menyembah-Nya dan tidak mau berdoa kepada-Nya, maka Allah pun menjadikan hidup mereka susah dan berat serta menaungi mereka dengan utang di bumi yang keras dan tandus meskipun ada awan mendung. Lalu Allah memungkasi mereka dengan Muhammad dan menjadikan mereka umat yang tengah-tengah, menolong mereka dengan orang-orang yang mengikuti mereka dan menolong mereka atas orang-orang yang tidak mau mengikuti mereka, hingga Allah meninggalkan Nabi-Nya, lalu setan pun mulai menaiki kendaraannya yang sebelumnya ia telah diturunkan Allah darinya, memegang tangan mereka dan orang-orang bejat mereka pun melakukan perbuatan aniaya dan melampaui batas,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia meninggal atau dibunuh, maka kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144).

Sesungguhnya orang-orang Arab yang ada di sekitar kalian telah menolak untuk membayar zakat kambing dan unta mereka, sedang mereka tidaklah lebih zuhud (berpaling, benci, memandang sebelah mata, meremehkan) terhadap agama mereka -jika memang mereka kembali kepadanya- dari keadaan mereka hari ini, dan kalian tidaklah lebih kuat dalam agama kalian dari keadaan kalian hari ini atas apa yang telah  lalu berupa keberkahan Nabi kalian, dan beliau telah menyerahkan kalian kepada Dzat Yang Maha Mencukupi yang mendapati beliau sebagai orang yang bingung lalu Dia menunjuki beliau dan mendapati beliau sebagai orang yang kekurangan lalu Dia menjadikannya berkecukupan,

“Dan kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.” (Ali Imran: 103).

Sungguh demi Allah, aku tidak akan meninggalkan peperangan atas perintah Allah hingga Dia merealisasikan janji-Nya, memenuhi janji-Nya kepada kami, mematikan di antara para penghuni Surga yang terbunuh sebagai syahid di antara kami, dan masih membiarkan hidup orang yang masih hidup dari para penghuni surga di antara kami sebagai khalifah-Nya dan pewaris-Nya di bumi-Nya. Ketetapan Allah yang pasti benar, firman dan janji-Nya yang tidak akan disalahi,

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (An-Nur: 55).

Ada sebagian sahabat yang memberikan pandangan dan masukan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk tidak menghadapi pihak-pihak yang menolak membayar zakat dengan cara-cara pendekatan kekerasan dan represif dan tidak perlu memerangi mereka, tetapi lebih baik mereka dihadapi dengan cara-cara pendekatan persuasif hingga keimanan benar-benar kokoh dalam hati mereka, kemudian setelah itu mereka tentu sadar dan kembali mau membayar zakat. Namun Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menolak usulan dan masukan tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Rasulullah meninggal dunia, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun resmi diangkat sebagai khalifah dan banyak orang-orang Arab yang kembali kafir, maka Umar bin Al-Khathab berkata kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Bagaimana Anda akan memerangi orang-orang itu, padahal Rasulullah telah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang hingga mereka mengucapkan, Tiada Tuhan selain Allah. Maka barang siapa yang mengucapkannya, maka harta dan jiwanya mendapatkan jaminan keamanan kecuali dengan hak Islam, dan selanjutnya hisabnya sudah jadi urusan Allah.” Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Demi Allah, sungguh aku benar-benar akan memerangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta.

Sungguh demi Allah, seandainya mereka menolak untuk menyerahkan ’inaq (anak kambing betina) yang sebelumnya mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka atas sikapnya itu.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan dengan redaksi, “Seandainya mereka menolak untuk menyerahkan ’iqal (tali yang digunakan untuk mengikat unta) yang sebelumnya mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka atas sikap mereka itu.”

Kemudian setelah itu, Umar bin Al-Khathab berkata, “Sungguh Allah benar-benar telah membuka hati dan melapangkan dada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (untuk teguh pada pendiriannya itu dan memberinya ilham bahwa pendiriannya itulah yang memang benar), sehingga aku pun akhirnya tahu bahwa apa yang dinyatakan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq itu adalah benar.”

Setelah itu, Umar bin Al-Khathab berkata, “Sungguh demi Allah, keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih kuat dan unggul daripada keimanan umat ini semuanya dalam langkah memerangi orang-orang murtad.

Dengan begitu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah mengungkap kepada Umar bin Al-Khathab -ketika ia berdebat dengannya- tentang sebuah sisi fikih yang sangat penting yang ia jelaskan kepada Umar yang sebelumnya itu belum mampu ditangkap oleh Umar. Yaitu, bahwa kalimat dalam hadits yang diutarakan oleh Umar sebagai landasan argumentasinya itulah sebenarnya dalil yang menunjukkan kewajiban memerangi orang yang membangkang untuk membayar zakat hingga sekalipun ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Kalimat tersebut adalah, “maka, jika mereka mengucapkannya (kalimat syahadat), maka darah dan harta benda mereka terjamin keamanannya kecuali dengan haknya.”

Benar, pendapat Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memerangi orang-orang murtad adalah sebuah pendapat yang diilhamkan. Itu adalah pendapat yang didiktekan kepadanya oleh karakteristik sikap tersebut untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. Sikap apa pun selain itu, maka yang akan terjadi adalah kegagalan, ketersia-siaan, kekalahan, dan kembali mundur ke belakang menuju kepada keJahiliyahan.

Seandainya bukan karena Allah kemudian keputusan yang tegas dan final dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut, niscaya yang terjadi adalah wajah sejarah berubah, arah perjalanannya akan berbelok arah dan arah jarum jam akan bergerak kembali ke belakang, juga kejahiliyahan akan kembali menebarkan kerusakan di muka bumi.

Pemahaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mendalam dan cermat terhadap Islam, ghirah, dan sense of honor terhadap agama ini dan terhadap kemurniannya seperti keadaannya semula sebagaimana pada masa Nabi Muhammad yang begitu besar yang ia miliki, termanifestasikan dengan sangat jelas dalam kalimat yang keluar dari mulut dan hatinya, yaitu sebuah kalimat yang nilai dan kualitasnya menyamai sebuah pidato panjang yang fasih dan sebuah buku yang sangat tebal dan berbobot. Yaitu kalimat yang ia ucapkan ketika banyak dari kabilah-kabilah Arab menolak untuk menyerahkan zakat ke Baitul Mal atau membangkang untuk membayar zakat secara total dan mengingkari kewajibannya, “Wahyu telah terputus dan agama telah sempurna, maka apakah aku akan membiarkan agama itu berkurang sedang aku masih hidup?” Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, Umar bin Al-Khathab berkata, “Aku berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, bersikaplah lembut dan halus kepada orang-orang, hadapilah mereka dengan cara-cara persuasif.” Lalu ia berkata kepadaku, “Ketika masih Jahiliyah, Anda adalah sosok orang yang keras, maka apakah Anda menjadi sosok orang yang melempem dalam Islam?! Wahyu telah terputus dan agama telah sempurna, maka apakah aku rela agama itu berkurang sedang aku masih hidup?”

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah mendengar berbagai pendapat dan sudut pandang para sahabat menyangkut persoalan memerangi orang-orang murtad. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak mengambil keputusan tegas dan final untuk memerangi kaum murtad melainkan setelah ia mendengar semua pendapat dan sudut pandang dengan jelas. Namun ia adalah sosok pemimpin yang tegas dan cepat mengambil keputusan. Setelah kebenaran terbuka dengan jelas, maka ia tidak akan pernah ragu dan bimbang sedikit pun untuk langsung melangkah dan mengambil keputusan.

Sikap tegas, sigap, responsif, tidak bimbang, dan ragu-ragu adalah salah satu tipikal Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sangat menonjol dalam seluruh kehidupannya. Akhirnya kaum muslimin pun meyakini kebenaran pendapat Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut, menerimanya dan menilainya tepat.

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling jauh pandangannya, paling dalam pemahamannya, paling kuat dan tegar hatinya dalam menghadapi bencana besar dan incident tak terduga yang sangat mengagetkan tersebut. Dari itu, Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling mendalam ilmu dan pemahamannya serta paling tepat, cermat, dan akurat pandangan dan pendapatnya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling cermat dan tajam pandangannya di antara semua orang yang ada di sekitarnya. Karena ia memahami dengan keimanannya yang mengungguli keimanan mereka semua bahwa zakat tidak bisa terpisahkan dari dua kalimat syahadat. Karena barang siapa yang mengikrarkan keesaan Allah, maka ia juga mesti mengikrarkan dan mengikuti hal yang Dia tetapkan dalam hartanya yang pada hakikatnya itu adalah harta Allah, bahwa kalimat tiada Tuhan selain Allah jika tanpa dibarengi dengan pengakuan tentang kewajiban zakat adalah tiada memiliki nilai dan arti apa-apa dalam kehidupan bangsa dan umat, bahwa “pedang” diisyaratkan untuk membela dan menjamin zakat tersebut ditunaikan secara sempurna sebagaimana “pedang” disyariatkan untuk membela “la ilaha illa Allah.

Inilah Islam, adapun selain itu, maka itu bukan bagian dari Islam. Allah telah mengancam mereka orang-orang yang beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kafir terhadap sebagian yang lain,

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 85).

Sikap dan pendirian Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tiada kenal kata kendur, kompromi, dan tawar menawar itu adalah sebuah sikap yang diilhamkan kepadanya dari Allah. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang memiliki jasa paling besar -setelah Allah- atas keselamatan agama ini serta terjaganya kemurnian dan keorisinilannya. Semua pihak mengakui dan sejarah pun menjadi saksi bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq telah mengambil sikap dalam menghadapi gerakan kemurtadan dan upaya-upaya mengurai tali Islam sedikit demi sedikit seperti sikap para nabi dan rasul pada masa-masa mereka.

Abu Bakar Ash-Shiddiq telah menunaikan hak kekhilafahan ini dan menjalankannya sebagaimana mestinya, dan atas hal itu ia berhak mendapatkan pujian, sanjungan, dan doa dari kaum muslimin hingga Allah mewarisi bumi ini berikut para penghuninya.

Perencanaan dan Garis Kebijakan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk Melindungi Madinah.

Para delegasi yang mewakili kabilah-kabilah penentang zakat pergi meninggalkan Madinah setelah mereka melihat kekukuhan dan keteguhan sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tidak bisa digoyang lagi. Mereka kembali pulang dengan membawa dua kesimpulan,

  1. Bahwa persoalan pembangkangan membayar zakat tidak bisa lagi ditawar-tawar dan dinegosiasikan lagi, bahwa hukum dan keputusan Islam dalam persoalan itu sudah jelas dan gamblang. Dari itu, sudah tidak ada sedikit pun harapan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mau mencabut sikap dan ketetapannya tersebut, terlebih lagi setelah semua kaum muslimin mendukungnya dan menerima pendapat dan pandangannya secara penuh setelah tampak jelas kebenarannya dan dalilnya.
  2. Bahwa mereka harus memanfaatkan momentum kelemahan kaum muslimin -menurut persangkaan mereka- dan minimnya jumlah mereka, sebagai kesempatan untuk melakukan serbuan besar-besaran terhadap Madinah untuk meruntuhkan pemerintahan Islam di sana dan melenyapkan agama ini.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun membaca gelagat tidak baik pada muka-muka mereka, gelagat penuh tipu daya, konspirasi, kecurangan, dan kelicikan. Maka dari itu, ia pun berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya negeri-negeri itu adalah negeri kafir, dan para delegasi mereka telah melihat bahwa kalian saat ini berjumlah sedikit. Dan kalian tidak tahu apakah pada malam hari kalian akan diserbu ataukah pada siang hari. Negeri mereka yang terdekat dengan kalian adalah berjarak satu barid.

Kaum tersebut sebelumnya memiliki harapan dan ekspektasi bahwa kita akan menerima apologi dan dalih mereka serta mau berdamai dengan mereka. Dan kita telah menolak semua apologi dan dalih mereka, menolak semua permintaan mereka dan menolak perjanjian mereka. Dari itu, bersiap-siaplah kalian dan siapkanlah semuanya untuk menghadapi mereka.”

Kaum tersebut sebelumnya memiliki harapan dan ekspektasi bahwa kita akan menerima apologi dan dalih mereka serta mau berdamai dengan mereka. Dan kita telah menolak semua apologi dan dalih mereka, menolak semua permintaan mereka dan menolak perjanjian mereka. Dari itu, bersiap-siaplah kalian dan siapkanlah semuanya untuk menghadapi mereka.”

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun membuat rencana dan strategi seperti berikut:

  1. Mengharuskan penduduk Madinah untuk selalu tinggal di masjid, sehingga mereka bisa berada dalam kondisi siap siaga yang optimal untuk melakukan perlawanan.
  2. Menugaskan dan mengorganisir penjaga-penjaga yang selalu siap siaga di sudut-sudut pintu masuk Madinah, hingga mereka bisa menghalau setiap serbuan yang datang.
  3. Menunjuk sejumlah orang sebagai pimpinan pasukan-pasukan penjaga, yaitu Ali bin Abu Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abu Waqqash, Abdurrahman bin Auf, dan Abdullah bin Mas’ud.
  4. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirimkan utusan untuk menemui kabilah-kabilah di sekitarnya yang masih komitmen, setia, dan konsisten kepada Islam, yaitu kabilah Aslam, Ghifar, Muzainah, Asyja’, Juhainah dan Ka’ab, dan memerintahkan mereka untuk ikut berjuang melawan kelompok-kelompok murtad. Lalu mereka pun mematuhi perintah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut dan mereka pun berdatangan ke Madinah, hingga Madinah penuh dengan mereka.

Mereka datang dengan membawa kuda dan unta yang mereka pasrahkan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Di antara bukti yang menunjukkan banyaknya jumlah anggota kabilah-kabilah tersebut yang ikut berjihad melawan gerakan kemurtadan dan besarnya dukungan mereka kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah, bahwa Juhainah saja datang ke Madinah membawa empat ratus personel sambil membawa unta dan kuda. ’Amr bin Murrah Al-Juhani waktu itu membawa seratus ekor unta untuk membantu kaum muslimin Madinah, lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun membagi-bagikannya kepada orang-orang.

  • Adapun kelompok-kelompok murtad yang wilayahnya jauh dari Madinah dan ancamannya pun tentu lambat, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi mereka dengan menggunakan surat yang ia kirimkan kepada para wali atau gubernur dan pejabat daerah yang Muslim yang wilayahnya terjadi gerakan kemurtadan, sebagaimana yang pernah dipraktikkan oleh Rasulullah. Dalam surat tersebut, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menginstruksikan kepada mereka untuk segera bangkit melawan orang-orang murtad, juga menginstruksikan kepada masyarakat untuk membantu mereka melaksanakan misi tersebut.

Di antara contohnya adalah, surat Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada penduduk Yaman di mana gerakan kelompok murtad muncul di sana di bawah pimpinan Al-Aswad Al-’Unsi. Dalam surat tersebut, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menuliskan, “Amma ba’du, bantu dan dukunglah putra-putra untuk menghadapi orang-orang yang melawan mereka, dengarlah dari Fairuz dan berjuanglah bersamanya, karena sesungguhnya aku telah mengangkatnya sebagai pemimpin.”

Surat tersebut pun akhirnya membuahkan hasil, kaum muslimin dari putra-putra Persia di bawah komando Fairuz dan dibantu oleh saudara-saudara mereka dari bangsa Arab pun melancarkan serangan hebat terhadap para pembangkang dan pembelot hingga Allah pun menjadikan mereka hancur. Lalu negeri Yaman pun secara berangsur-angsur kembali kepada trek yang benar.

  • Adapun kelompok-kelompok murtad yang daerahnya dekat dari Madinah dan mengandung ancaman yang sangat serius seperti Bani ‘Abs dan Dzibyan, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak memiliki pilihan lain kecuali harus memerangi mereka meskipun Madinah saat itu baru mengalami situasi dan kondisi yang berat dan keras. Waktu itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengambil langkah untuk mengamankan kaum perempuan dan anak-anak ke tempat-tempat persembunyiannya yang aman supaya terhindar dari upaya serangan orang-orang murtad yang tidak terduga. Sementara dia sendiri bersiap-siap untuk terjun langsung bersama-sama para pasukan yang lain untuk menghadapi ancaman serangan yang datang.

Kegagalan Kelompok-kelompok Murtad dalam Menyerbu Madinah

Tiga hari setelah kembalinya para delegasi kelompok-kelompok murtad, ada sebagian kabilah Asad, Ghathafan, ’Abs, Dzibyan dan Bakar mencoba menerobos masuk ke Madinah pada malam hari dan mereka menempatkan sebagian kawan mereka di Dzu Husa supaya bisa menjadi kekuatan penopang bagi mereka.

Para pasukan Muslim yang bertugas menjaga pintu-pintu masuk kota Madinah pun kaget, lalu mereka pun langsung menyampaikan informasi kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang apa yang sedang terjadi. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menginstruksikan kepada mereka agar tetap di tempat. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun keluar bersama para pasukan yang ada di masjid dengan naik unta. Lalu musuh pun bubar dan lari, lalu kaum muslimin pun mengejar dan mengikuti mereka hingga ke Dzu Husa. Ketika sampai di Dzu Husa, kawanan musuh yang sebelumnya  memang sudah bersiap di sana pun langsung keluar dengan menggunakan alat yang berfungsi untuk menakut-nakuti unta. Alat itu adalah sejumlah qirbah (kantong kulit tempat menyimpan air) yang telah mereka tiup dan mereka ikatkan dengan tali, lalu mereka menendang-nendang dengan kaki di depan unta hingga mengeluarkan suara gemuruh dan bising.

Unta-unta yang dinaiki kaum muslimin pun ketakutan dan berlarian dengan kencang tanpa bisa dikendalikan hingga mereka masuk kembali ke Madinah, karena memang unta paling takut dengan alat seperti itu, namun waktu itu tidak ada satu pasukan Muslim pun yang jatuh dan terluka.

Abdullah Al-Laitsi -Bani ‘Abd Manah termasuk kabilah yang murtad, mereka adalah Bani Dzubyan- mensenandungkan tentang hal tersebut di Dzu Al-Qishshah dan di Dzu Husa,

Kami dulu menaati Rasulullah selama beliau berada di antara kami. Maka, wahai para hamba Allah, apa urusan Abu Bakar.

Maka, mengapakah kalian tidak menolak delegasi kami ketika itu, dan tiadakah kalian takut akan suara rintihan anak unta (kemalangan dan kesialan).

Dan sesungguhnya apa yang mereka minta dari kalian, lalu kalian menolak untuk memberikannya kepada mereka, adalah seperti kurma atau lebih manis bagiku dari pada kurma.

Lalu pihak musuh pun mengira bahwa kaum muslimin sedang dalam kondisi lemah dan mereka pun mengirimkan informasi tentang hal itu kepada penduduk Dzu Al-Qishshah. Lalu mereka pun datang bergabung dengan mereka karena mempercayai informasi tersebut, sedang mereka tidak menyadari urusan Allah yang dikehendaki-Nya dan Dia ingin menimpakannya kepada mereka.

Malam itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun terus dalam posisi siaga, lalu ia pun menyiapkan dan memobilisasi para pasukan. Kemudian setelah itu, ia pun keluar di penghujung akhir malam dengan penuh kesiap-siagaan dengan berjalan, di sebelah kanannya ada An-Nu’man bin Muqarrin dan di sebelah kirinya ada Abdullah bin Muqarrin, sedangkan di bagian belakang ada Suwaid bin Muqarrin bersama sejumlah pasukan. Ketika fajar mulai terbit, mereka dan musuh pun sudah berada di satu tempat, maka pertempuran pun langsung terjadi dan ketika matahari belum sampai terbit, musuh pun kalah dan kabur kalang kabut, dan waktu itu Hubal -saudara Thulaihah Al-Asadi- terbunuh.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mengikuti dan mengejar mereka hingga sampai ke Dzu Al-Qishshah. Di sana, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menempatkan An-Nu’man bin Al-Muqarrin bersama sejumlah pasukan, sementara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali ke Madinah. Melihat hal itu, Bani Dzubyan dan ’Abs pun memanfaatkan kondisi tersebut dengan langsung menyerang mereka dan berhasil mengalahkan mereka serta membunuh banyak di antara mereka. Kaum muslimin pun merasa sangat terpukul akan kejadian tersebut, dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berjanji akan membalas semua kejadian tersebut dan berjanji akan membunuh di setiap kabilah dalam jumlah yang lebih banyak lagi dari jumlah kaum muslimin yang mereka bunuh.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun bertekad untuk melakukan pembalasan untuk para syuhada yang terbunuh tersebut serta memberi pelajaran kepada orang-orang yang dengki tersebut. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun merealisasikan janjinya, kaum muslimin yang ada di kabilah-kabilah lain semakin persisten dalam meneguhi agama mereka, orang-orang musyrik semakin bertambah hina, lemah, dan tiada berdaya.

Zakat dari kabilah-kabilah pun mulai berdatangan ke Madinah, dan Madinah pun didatangi oleh kiriman zakat sejumlah orang pada malam hari, yaitu Shafwan pada awal malam, kemudian Az-Zabarqan pada tengah malam, kemudian Adiy di akhir malam. Hanya dalam satu malam, Madinah dipenuhi dengan harta zakat dari enam klan Arab. Setiap kali seorang petugas pemungut zakat datang ke Madinah, maka orang-orang berkata, “Nadzir” (pembawa peringatan), lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Tidak, tapi basyir (pembawa berita gembira).”

Ketika ada seseorang datang membawa sejumlah harta zakat kaumnya, maka orang-orang berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Anda sering menyampaikan berita gembira kepada kami dengan kebaikan.”

Di tengah-tengah suasana tersebut, Usamah bin Zaid pun tiba kembali di Madinah bersama pasukannya dengan membawa kemenangan. Usamah pun telah melaksanakan semua apa yang sebelumnya diperintahkan Rasulullah kepadanya dan apa yang diwasiatkan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada dirinya. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjuk Usamah untuk menggantikan dirinya sementara memimpin Madinah.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Usamah dan pasukannya, “Beristirahatlah kalian dan istirahatkanlah binatang kendaraan kalian.” Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq beserta pasukannya berangkat ke Dzu Al-Qishshah. Melihat hal itu, kaum muslimin pun berkata kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Wahai Khalifah Rasulullah, sungguh kami tidak setuju jika Anda pergi dan membahayakan keselamatan diri Anda. Karena jika terjadi apa-apa terhadap diri Anda, maka orang-orang tidak lagi memiliki tatanan dan aturan. Keberadaan Anda tetap di Madinah jauh lebih keras pengaruhnya terhadap musuh. Maka dari itu, tunjuklah orang lain saja, lalu jika terjadi apa-apa terhadap orang itu, maka Anda bisa menunjuk orang yang lain lagi.” Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Tidak, sungguh demi Allah, aku tidak akan melakukan usulan kalian itu, dan sungguh aku akan menghibur kalian dengan diriku.”

Dalam peristiwa terjadinya gelombang kemurtadan, karakteristik alamiah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sangat berharga terlihat sangat jelas sebagai sosok pemimpin Mukmin yang rela berkorban demi kaum dan bangsanya. Seorang pemimpin dalam pemahaman kaum muslimin adalah teladan dan panutan dalam segenap perbuatan dan tindakannya.

Di antara buah hasil politik dan langkah kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah kaum muslimin menjadi semakin kuat dan tangguh, semakin berani dan tidak gentar untuk berperang melawan musuh mereka, merespon untuk mengaplikasikan dan mengimplementasikan perintah-perintah dan instruksi-instruksi yang dikeluarkan kepada mereka dari sang pemimpin.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pergi bersama pasukan yang ia rekrut dan mobilisasi menuju ke Dzu Husa dan Dzu Al-Qishshah bersama dengan An-Nu’man, Abdullah dan Suwaid. Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun melakukan penyerangan terhadap penduduk Ar-Rabdzah di Al-Abraq, lalu berhasil mengalahkan mereka. Al-Harits dan Auf melarikan diri, sementara Al-Huthai`ah berhasil ditangkap dan menjadi tawanan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sementara ’Abs dan Bani Bakar melarikan diri.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tinggal di Al-Abraq selama beberapa hari. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berhasil mengalahkan Bani Dzubyan dan menguasai negeri-negeri yang ada. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Haram bagi Dzubyan untuk memiliki negeri ini ketika Allah telah memberikannya kepada kami sebagai ghanimah dan mengusir mereka.”

Lalu, ketika kelompok-kelompok murtad sudah kalah dan mereka masuk melalui pintu yang menjadi tempat mereka keluar sebelumnya, dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memberikan toleransi kepada orang-orang, maka datanglah Bani Tsa’labah ke negeri tersebut yang sebelumnya adalah tempat tinggal mereka, untuk kembali menempatinya. Namun mereka dilarang masuk dan tinggal di sana. Lalu mereka pun pergi ke Madinah untuk menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mereka berkata kepadanya, “Atas dasar apa kami dilarang kembali menempati negeri kami?!” Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Kalian bohong, negeri itu bukanlah negeri kalian, akan tetapi negeri itu adalah negeri yang dianugerahkan kepadaku dan yang aku selamatkan dari tangan musuh.”

Waktu itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak mencerca dan membeberkan kesalahan-kesalahan mereka.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menetapkan negeri Al-Abraq sebagai tempat khusus untuk merawat dan menggembalakan kuda-kuda kaum muslimin, sementara negeri Ar-Rabadzah yang lain digunakan untuk tempat menggembala masyarakat umum. Kemudian akhirnya Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menetapkan semua negeri tersebut untuk tempat khusus merawat dan menggembalakan zakat ternak kaum muslimin. Hal itu dikarenakan terjadinya perang antara orang-orang dan para pemungut zakat.

Ziyad bin Hanzhalah mengungkapkan kejadian Al-Abraq dalam bait syair berikut,

Kami benar-benar telah ikut berperang di Al-Abraq melawan Dzubyan dengan perang yang begitu berkobar-kobar.

Kami mendatangi mereka dengan malapetaka tak terperikan, bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika ia tidak mencerca dan membeberkan kesalahan-kesalahan mereka.

Demikianlah, kaum muslimin belajar dari sirah Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwa ia adalah sosok pemimpin yang anti mengorbankan para pengikut dan bawahannya demi urusan-urusan keduniawian apa pun. Terjadinya instabilitas urusan-urusan kaum muslimin sejak beberapa dekade ini, tidak lain dikarenakan mereka memandang kepemimpinan sebagai sarana dan media meraih kehormatan dan kedudukan, sebagai pintu untuk meraup keuntungan duniawi dan mengelak dari berbagai tuntutan kewajiban dan tugas, dijadikan sebagai alasan untuk duduk manis dan cukup hanya dengan mengeluarkan statemen-statemen yang disiarkan dari balik perangkat mass media atau dari kantor-kantor dinas, tanpa mau terjun langsung dan berpartisipasi aktif dan nyata dalam berbagai persoalan umat yang komplek dan bermacam-macam.

Partisipasi langsung Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam misi jihad sebanyak tiga kali berturut-turut, merupakan sebuah pengorbanan yang sungguh luar biasa. Kaum muslimin mendesak dirinya untuk tetap tinggal di Madinah dan menunjuk orang lain untuk memimpin pasukan, namun ia menolak semua itu, bahkan ia berkata, “Tidak, sungguh demi Allah, aku tidak akan melakukan apa yang kalian minta itu, dan sungguh aku akan menghibur kalian dengan diriku.”

Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut menunjukkan ketawadhuan dan kerendahan hatinya yang luar biasa, perhatiannya yang luar biasa terhadap kemashlahatan umat, bersih dan steril dari kepentingan dan keuntungan pribadi. Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut menjadikan dirinya sosok panutan dan teladan yang baik bagi orang lain. Sungguh tidak diragukan lagi, bahwa sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berpartisipasi dan ikut terjun langsung di barisan terdepan dalam misi jihad sebanyak tiga kali berturut-turut, padahal ia sudah berusia enam puluh tahun, benar-benar telah memberikan motivasi, stimulasi, pancingan, rangsangan, dan amunisi yang sangat kuat kepada para sahabat yang lain untuk semakin giat, gigih, aktif, energik, dan penuh vitalitas.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, bahwa ketika Dhirar bin Al-Azwar menyampaikan informasi kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa Thulaihah Al-Asadi melakukan persiapan dan mobilisasi kekuatan, ia (Dhirar bin Al-Azwar) berkata, “Ketika itu, aku belum pernah melihat seorang pun -selain Rasulullah- yang lebih antusias dan bergairah untuk melakukan perang besar daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika kami menyampaikan informasi tersebut, seakan-akan kami menginformasikan kepadanya sesuatu yang sangat menguntungkan bagi dirinya, bukan sesuatu yang memberatkan dirinya.”

Itu adalah sebuah pendiskripsian yang sangat kuat tentang apa yang ada pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq berupa keyakinan yang tertanam kokoh dan kepercayaan penuh kepada janji Allah kepada para kekasihnya untuk memberi mereka pertolongan dan kemenangan atas para musuh serta meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak mengungguli para sahabat yang lain dengan sebuah amal, perbuatan dan prestasi besar, tetapi ia mengungguli mereka dengan memiliki derajat dan tingkatan tertinggi keyakinan.

Diceritakan bahwa ketika dikatakan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Sungguh Anda telah mengalami sesuatu yang seandainya sesuatu itu menimpa gunung-gunung, niscaya gunung-gunung itu akan hancur karenanya, dan seandainya sesuatu itu menimpa lautan, niscaya surutlah airnya, namun kami melihat Anda sama sekali tidak menjadi lemah.” Lalu ia pun berkata, “Rasa takut dan gentar tidak lagi pernah masuk ke dalam hatiku setelah malam yang aku lalui di gua bersama Rasulullah. Karena ketika beliau melihat kesedihanku, maka beliau berkata kepadaku, “Tenang, tidak apa-apa wahai Abu Bakar, karena sesungguhnya Allah telah menjamin urusan ini sempurna.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq, di samping memiliki keberanian alamiah, juga memiliki keberanian religi, kekuatan keyakinan kepada Allah dan kepercayaan penuh bahwa Allah pasti akan menolong dirinya dan kaum Mukminin. Keberanian ini tidak dapat diperoleh kecuali oleh orang yang kuat hatinya, keberanian itu semakin bertambah dengan bertambahnya keimanan dan akan berkurang dan susut dengan berkurangnya keimanan. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling kuat hatinya dari para sahabat yang lain dan tidak ada satu orang pun di antara mereka yang bisa menandinginya.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat

Kehidupan Umar dan Masanya

Sesungguhnya pembicaraan tentang kehidupan Umar dan masanya lebih luas untuk dikaji dalam satu disertasi, terlebih dalam sub kajian dalam pasal pengantar seperti...

Pasukan Usamah

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Rencana Pengiriman Misi Militer yang Dipimpin Oleh Usamah Negara Romawi adalah salah satu dari dua...

Artikel Terkait

Rezeki

Kewajiban Mencari Harta Halal Setiap orang tentu ingin kehidupan di dunia berjalan normal. Setidaknya ia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya...

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...