Indonesia Statistics

Indonesia
70,736
Confirmed
Updated on 10/07/2020 12:43 pm
Indonesia
32,651
Recovered
Updated on 10/07/2020 12:43 pm
Indonesia
3,417
Deaths
Updated on 10/07/2020 12:43 pm

Indonesia Statistics

Indonesia
70,736
Confirmed
Updated on 10/07/2020 12:43 pm
Indonesia
32,651
Recovered
Updated on 10/07/2020 12:43 pm
Indonesia
3,417
Deaths
Updated on 10/07/2020 12:43 pm

Kecintaan Rasulullah Terhadap Keluarganya

Dr. Zakir Naik Jelaskan Mengapa Daging Babi Haram Pada Dokter Jepang

Seorang gadis asal Jepang bernama Mamoko Suzuki yang berprofesi sebagai dokter bertanya kepada Dr. Zakir Naik mengenai alasan dibalik pengharaman daging babi dan meminta...

Kenapa Allah Tidak Membuat Semua Manusia Menjadi Muslim? Dr. Zakir Naik Menjawab

Melanjutkan pertanyaan Yoko kepada Dr. Zakir Naik yang telah ditulis pada artikel sebelumnya (baca: Apakah Perjalanan Isra' Mi'raj Adalah Kisah Bohong?), wanita Jepang ateis...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Charles Darwin dan Teori Evolusi

Seorang mahasiswa Jepang bernama Takuya Nishikawa, berumur 20 tahun, dan berasal dari Tokyo, bertanya kepada Dr. Zakir Naik tentang apakah manusia benar-benar berevolusi dari...

Apakah Al-Qur’an Melarang Penggunaan Senjata Nuklir? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada saat Dr. Zakir Naik berceramah di Jepang tanggal 8 November 2015 yang lalu, ada sebuah pertanyaan unik yang diajukan oleh seorang guru asal...

Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan Cerdas Pemuda Ateis

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Zakir Naik? Ulama perbandingan agama asal India ini lagi-lagi memukau penonton dengan pengetahuannya yang luar biasa tentang ilmu sains....

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dikenal sebagai sosok yang luar biasa dalam menyambung tali silaturahmi dan persaudaraan. Bahkan, sebagai orang yang paling sempurna dalam hal menyambung dan mempererat tali silaturahmi ini sampai-sampai kaum Quraisy memuji beliau dan memberikan gelar ash-Shadiq dan al-Amin sebelum beliau diangkat menjadi seorang rasul. Khadijah, istri beliau tercinta, menyebut Nabi Muhammad sebagai “orang yang menyambung kekeluargaan dan berkata dengan benar.”

Hal ini dapat kita lihat sejak dini di masa beliau ditinggal oleh ibu-bapaknya yang telah meninggal. Sejak kecil beliau sudah melaksanakan hak dan kewajiban sebagai anak, yaitu berziarah ke makam ibunya. Waktu itu beliau masih berumur tujuh tahun. Abu Hurairah berkata, “Pernah Rasulullah berziarah ke makam ibunya, lalu menangis dan membuat orang di sekelilingnya juga menangis karena tangisnya, kemudian beliau berkata,

‘Aku minta izin kepada Tuhan untuk meminta ampun atas ibuku, tapi tidak diberi izin. Kemudian aku minta izin untuk menziarahi makamnya, lalu aku diizinkan. Maka ziarahilah kuburan, karena itu akan mengingatkan kamu kepada kematian.” (H.R. Tirmidzi)

Betapa kecintaan beliau sangat dalam kepada kaum kerabat. Betapa beliau sangat antusias untuk mendakwahi mereka agar masuk Islam dan memberikan mereka jalan hidayah serta menyelamatkan mereka dari api neraka. Dan beliau rela menanggung segala risikonya, berupa cacian, dan siksaan secara fisik. Sungguh sebuah tantangan yang sangat berat.

Dari Abu Hurairah diceritakan, “Ketika turun ayat ‘Dan peringatkanlah olehmu kaum kerabatmu yang terdekat’ (asy-Syuara: 24), Rasulullah segera memanggil dan mengumpulkan kaum kerabatnya. Di tengah-tengah mereka, beliau berkata,

“Wahai Bani (keturunan) Abdi Syams, wahai Bani Ka’ab, Bani Lu’ay, selamatkan dirimu dari api neraka. Wahai Bani Abdi Manaf, selamatkan diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Abdul Muttalib, jagalah diri kalian dari siksa neraka! Wahai Fatimah anakku, selamatkan dirimu dari api neraka! Karena aku tidak bisa membela kalian kelak di hadapan Allah, walau kalian kaum kerabatku, kecuali aku akan meneteskan air-air kekeluargaan ini semampuku untuk menjaga hubungan dengan kalian di dunia.’” (H.R. Muslim)
Nabi Muhammad tidak pernah bosan dan jemu untuk mengajak orang yang paling dihormatinya, yaitu pamannya Abu Thalib, untuk memeluk Islam. Sampai detik-detik terakhir menjelang kematian Abu Thalib, Rasulullah masih mengulang ajakannya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ketika Abu Thalib di ambang kematian, di sekelilingnya ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, masuklah Rasulullah untuk mengulangi ajakannya,

“Wahai paman, katakanlah tiada tuhan selain Allah karena kalimat ini sebagai pembelaanku terhadap paman kelak di hadapan Allah.”

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah langsung menyela, “Abu Thalib, apakah engkau akan meninggalkan agama nenek moyangmu Abdul Muthalib?” Begitu terus berulang-ulang sampai akhirnya Abu Thalib terbawa ke dalam keyakinan mereka, dan meninggal dengan agama nenek moyang. Namun walaupun begitu, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Ahmad, Rasulullah masih memintakan ampun kepada Allah atas pamannya. Beliau tidak jemu beristighfar,

“Aku akan terus beristighfar untuk paman selama aku tidak dilarang oleh Allah.”

Maka turunlah ayat berikut, “Tidak boleh bagi seorang nabi dan orang-orang yang beriman, beristighfar untuk orang-orang musyrik, walaupun mereka adalah kerabat dekat, setelah diketahui bahwa mereka adalah penghuni neraka Jahannam.” (Qs. At-Taubah: 113) Juga turun ayat berikut ini, “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau sukai, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Qs. al-Qashash: 56) Maka berhentilah Rasulullah mendo’akan dan beristighfar untuk kaum kerabatnya.

Inilah sebagian dari ilustrasi agung, rahmat bagi umat, dan contoh yang pas bagi loyalitas, dan ketundukannya pada Allah walaupun musibah terjadi menimpa keluarganya sendiri. Dengarkanlah puisi yang indah tentang Nabi Muhammad berikut ini,

Seorang nabi yang datang kepada kita
setelah putus asa dan jeda waktu yang cukup lama
dari rasul-rasul sebelumnya
dan setelah berhala-berhala itu disembah di muka bumi.
Sebuah pelita terang petunjuk kebenaran sejati,
memancarkan sinar kemilau, bak kilatan cahaya pedang.
Memperingatkan kami akan api neraka dan
kabar gembira berupa surga.
Mengajar kami Islam dan kepada Allah kami bersyukur.

Saya menyarankan agar para membaca juga melihat artikel-artikel lainnya tentang Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih mengenal pribadi beliau sehingga tumbuhlah rasa cinta kepada beliau.

Referensi: Abdul Malik Ibnu M. al-Qasim (2000). Sehari di Rumah Rasulullah. Jakarta: Gema Insani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Serangan Massal Terhadap Kaum Murtad

Banyak macam sarana dan cara yang digunakan untuk melawan dan menghadapi kaum murtad. Kaum muslimin yang masih berpegang teguh pada Islam memiliki peranan besar...

Abu Bakar Ash-Shiddiq di Tengah Masyarakat Madinah, Beberapa Sifat dan Keutamaannya

Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam masyarakat Madinah penuh dengan nilai-nilai yang bisa menjadi pelajaran, ibrah, dan keteladanan. Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq di...

Baiat Umum dan Pengelolaan Urusan-urusan dalam Negeri

Baiat Umum Setelah pembaiatan terbatas kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq di Saqifah Bani Sa’idah, maka pada hari berikutnya Umar bin Al-Khathab...

Artikel Terkait

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...

Riba

Dosa yang Istimewa Dosa itu bernama riba. Mengenai haramnya riba ini, Allah SWT menyatakannya sendiri di dalam al-Qur’an surah al-Baqarah...