Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq, Dakwahnya, Ujian yang Dialaminya dan Hijrahnya yang Pertama

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq adalah hasil dari sebuah perjalanan imaniyah yang panjang dalam usaha mencari agama yang benar dan selaras dengan fitrah yang lurus dan mampu memenuhi dahaga dan hasrat spiritualnya, serta sesuai dengan akal yang waras dan cerdas serta daya pikir yang tajam.

Oleh karena pekerjaannya sebagai saudagar menjadikannya banyak melakukan perjalanan jauh melewati perbukitan, gunung-gunung, gurun sahara, kota-kota dan kampung-kampung di jazirah Arab, menjelajah dari Utara menuju Selatan dan dari Timur ke Barat semenanjung Arab, berinteraksi dan bergaul secara intensif dengan para penganut agama-agama yang beragam terutama agama Nasrani. Abu Bakar ash-Shiddiq juga banyak mendengarkan kalimat-kalimat dari sejumlah orang yang membawa bendera tauhid, bendera pencarian agama yang lurus.

Abu Bakar ash-Shiddiq bercerita tentang dirinya, “Suatu ketika, aku duduk-duduk di pelataran Ka’bah. Waktu itu, Zaid bin Amr bin Nufail sedang duduk. Lalu lewatlah Ibnu Abu Ash-Shalt dan berkata kepadanya, “Bagaimana kabar Anda wahai pencari kebaikan?” Ia pun menjawab, “Baik.” Ibnu Abu ash-Shalt kembali bertanya, “Apakah Anda telah menemukan?” Ia menjawab, “Belum.” Lalu ia berucap,

Setiap agama pada Hari Kiamat adalah binasa kecuali apa yang masih tetap pada jalur al-Hanifiyyah (tauhid).

Sungguh, nabi yang ditunggu-tunggu kedatangannya itu berasa dari kami atau dari kalian.”

Abu Bakar ash-Shiddiq melanjutkan ceritanya, “Sebelum itu, aku belum pernah mendengar tentang seorang nabi yang ditunggu-tunggu kedatangannya dan diutus. Lalu aku pun pergi untuk menemui Waraqah bin Naufal -ia adalah orang yang suka memandang ke langit dan sering bergumam dan komat-kamit- lalu aku pun meminta dirinya berhenti sejenak. Kemudian aku menceritakan kepadanya kejadian yang aku dengan tersebut. Lalu ia pun berkata, “Benar wahai keponakanku, kami adalah orang-orang yang ahli tentang kitab-kitab dan ilmu. Ketahuilah, sesungguhnya nabi yang ditunggu-tunggu itu termasuk orang Arab yang paling baik dan mulia nasabnya.” Dalam hati aku berkata, “Aku adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang nasab.” Lalu aku berkata, “Wahai pamanku, apa yang dikatakan oleh sang nabi itu?” Ia berkata, “Sang nabi itu mengatakan apa yang dikatakan kepadanya. Ketahuilah, tidak boleh ada kezhaliman dan saling membalas kezhaliman, tidak boleh menzhalimi, tidak boleh dizhalimi, dan tidak boleh saling membalas kezhaliman.”

Lalu ketika Rasulullah resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul, maka aku pun beriman, percaya, dan membenarkan beliau. Ia mendengar apa yang disenandungkan oleh Umayyah bin Abu ash-Shalt seperti dalam senandungnya berikut ini,

Tiadakah seorang nabi untuk kami yang berasal dari kami, lalu ia mengabarkan kepada kami tentang apa yang ada setelah ujung tujuan kami dari kehidupan kami. Aku berlindung kepada Dzat Yang menjadi maksud dan tujuan para jamaah haji yang berhaji dan orang-orang yang meninggikan pilar-pilar agama Allah.

Abu Bakar ash-Shiddiq menjalani hidup pada masa tersebut dengan daya pikir, pemahaman dan pandangan yang tajam, akal yang cerdas dan cemerlang, pikiran yang brilian, hati yang sensitif, kecerdasan yang tajam, dan kontemplasi yang kuat yang memenuhi segenap relung jiwanya. Dari itu, ia hafal banyak syair-syair dan berita-berita seperti itu.

Pada suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat dan Abu Bakar ash-Shiddiq adalah salah satu yang ikut hadir waktu itu, “Siapakah di antara kalian yang hafal perkataan Qais bin Sa’idah di pasar Ukazh?” Para sahabat pun terdiam, lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Aku hafal wahai Rasulullah. Kala itu, aku ikut hadir di pasar Ukazh, dan waktu itu Qais bin Sa’idah menyampaikan khutbah dari atas untanya yang berwarna kelabu, “Wahai orang-orang, dengarlah dan pahamilah, dan jika kalian paham, maka ambillah manfaat. Sesungguhnya orang yang hidup pasti akan mati, dan orang yang mati, maka ia sudah berlalu. Setiap yang akan datang pasti akan datang. Sesungguhnya di langit terdapat berita dan sesungguhnya di bumi terdapat banyak ibrah dan pelajaran, hamparan yang diletakkan (bumi), atap yang ditinggikan (langit), bintang-bintang yang datang dan pergi, lautan yang airnya tidak pernah mengering dan surut ke dalam tanah, malam gelap dan langit yang memiliki bintang-bintang!!” Qais bersumpah, “Sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih Dia sukai dari agama yang kalian anut saat ini. Aku melihat orang-orang pergi dan tidak kembali lagi (meninggal dunia), apakah mereka senang dan puas dengan tempat yang ada di sana sehingga mereka pun tinggal menetap di sana dan tidak mau kembali, ataukah mereka ditinggal lalu tidur.” Kemudian ia bersenandung,

Pada orang-orang terdahulu yang telah pergi terdapat banyak ibrah dan pelajaran bagi kita.

Ketika aku melihat tempat-tempat yang menjadi kolam kematian yang tidak memiliki sumber.

Dan aku melihat kaumku baik yang besar maupun yang kecil, yang tua maupun yang muda, pergi menuju ke kolam-kolam kematian itu.

Aku yakin bahwa aku pasti akan menuju ke tempat yang sama di mana kaumku menuju ke sana.

Dengan memori yang tajam dan kuat seperti itu, yaitu memori yang memuat makna-makna seperti itu, Abu Bakar ash-Shiddiq mengisahkan kepada Rasulullah dan para sahabat apa yang dikatakan oleh Qais bin Sa’idah.

Ketika sedang berada di Syam, Abu Bakar ash-Shiddiq mengalami sebuah mimpi. Lalu ia ceritakan mimpinya itu kepada rahib Buhaira. Lalu Buhaira berkata kepadanya, “Dari manakah Anda berasal?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, “Dari Makkah.” Buhaira kembali bertanya, “Dari suku mana?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, “Dari Quraisy.” Buhaira kembali bertanya, “Apa pekerjaan Anda?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, “Saudagar.” Lalu Buhaira berkata, “Jika Allah menjadikan mimpimu itu benar, maka akan ada seorang nabi yang diutus berasal dari kaummu yang kamu akan menjadi wazirnya ketika ia hidup dan kamu akan menjadi khalifahnya setelah ia meninggal dunia.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun menyimpan dan merahasiakan hal itu dan tidak ia beritahukannya kepada siapa pun.

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq terjadi setelah pencarian, pengamatan, penyelidikan, dan penantian sekian lama. Pengetahuan dan wawasan Abu Bakar ash-Shiddiq yang mendalam serta hubungannya yang sangat kuat dengan Nabi Muhammad adalah faktor signifikan yang memotivasi dirinya untuk langsung memenuhi dan menerima dakwah Islam. Pada saat wahyu turun kepada Nabi Muhammad dan beliau mulai berdakwah kepada individu-individu, maka pilihan pertama beliau jatuh kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Karena ia adalah sahabat karib beliau yang selama ini telah beliau kenal dengan baik sebagai sosok yang ramah, halus, santun, dan penuh kesopanan serta memiliki watak yang baik dan mulia. Demikian pula, Abu Bakar ash-Shiddiq telah mengenal beliau dengan baik sebagai sosok yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia yang menjadikan beliau tidak pernah melakukan kebohongan terhadap manusia, apa lagi terhadap Allah.

Maka, ketika Rasulullah menyampaikan dakwah kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan Nabi-Nya, Dia mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya, dan aku menyeru kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka demi Allah sungguh ini adalah kebenaran, aku menyeru kamu wahai Abu Bakar kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, janganlah kamu menyembah kepada selain Dia, dan aku mengajak kamu untuk senantiasa taat kepada-Nya. Maka, Abu Bakar ash-Shiddiq pun secara spontan langsung masuk Islam tanpa sedikit pun gagap dan langsung menerima tanpa menunda-nunda sedikit pun. Ia pun langsung membuat komitmen kepada Rasulullah untuk membantu, mendukung, dan menolong beliau. Ia pun benar-benar melaksanakan komitmennya itu. Dari itu, Rasulullah bersabda menyangkut diri Abu Bakar ash-Shiddiq, “Sesungguhnya Allah mengutus diriku kepada kalian, lalu kalian berkata kepadaku, “Anda bohong,” sementara Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Beliau benar,” dan ia mendukung diriku sepenuhnya dengan jiwa dan hartanya. Maka, tiadakah kalian membiarkan sahabatku ini dan tidak lagi menyakitinya?” Beliau mengucapkan kalimat terakhir ini sebanyak dua kali.”

Dengan begitu, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah laki-laki yang pertama kali masuk Islam dari kalangan orang merdeka. Ibrahim an-Nakha’i, Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Abbas dan Asma` binti Abu Bakar mengatakan, “Orang yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.”

Yusuf bin Ya’qub al-Majisyun berkata, “Aku hidup pada masa kehidupan ayahku dan guru-guru kami, yaitu Muhammad bin al-Munkadir, Rabi’ah bin Abdirrahman, Shalih bin Kaisan, Sa’ad bin Ibrahim dan Utsman bin Muhammad al-Akhnas, mereka semua tidak meragukan bahwa orang yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.”

Diceritakan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Orang yang pertama kali shalat adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.” Kemudian Abdullah bin Abbas mengutip sejumlah bait syair Hassan bin Tsabit,

Jika Anda mengingat kenangan mengharukan dari saudara orang yang memiliki kredibilitas dan reliabilitas, maka ingatlah saudaramu Abu Bakar ash-Shiddiq tentang apa yang telah dia kerjakan.

Ia adalah sebaik-baik manusia setelah Nabi, orang yang paling bertakwa, orang yang paling adil dan orang yang paling amanat dalam menunaikan apa yang ia tanggung.

Ia adalah orang kedua yang terpuji rekam jejaknya dan orang yang pertama kali membenarkan dan mengimani Rasul.

Ia adalah satu dari dua orang yang berada di gua yang tinggi, sedang musuh mengelilingi gua itu ketika naik ke atas bukit.

Dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq

Buah pertama hasil dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah, masuknya sekelompok orang pilihan ke dalam agama Islam. Mereka itu adalah, Az-Zubair bin al-Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abu Waqqash, Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abd al-Asad dan al-Arqam bin Abu al-Arqam. Abu Bakar ash-Shiddiq membawa para sahabat yang mulia tersebut satu persatu secara sendiri-sendiri, lalu masuk Islam di hadapan Rasulullah. Maka, mereka pun menjadi tiang dan pilar-pilar yang menjadi penyangga pertama dan utama menara dakwah. Mereka adalah tokoh-tokoh yang menjadi bekal pertama dan utama dalam menguatkan dan memperkokoh posisi Rasulullah, dan dengan mereka pula lah Allah mengokohkan dan menguatkan beliau.

Selanjutnya, orang-orang pun secara berturut-turut mulai berbondong-bondong masuk Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Masing-masing dari mereka itu juga sekaligus menjadi juru dakwah yang mengajak kepada Islam. Bersama mereka pula mulai berdatangan satu dua dan sekelompok kecil dari golongan orang yang selanjutnya masuk kategori orang-orang yang terdahulu masuk Islam. Mereka, meskipun berjumlah sedikit, namun mereka mempresentasikan batalion atau detasmen dakwah dan benteng pertahanan risalah yang dalam sejarah Islam tidak ada yang mengungguli mereka dan tidak ada pula yang bisa disamakan dengan mereka.

Abu Bakar ash-Shiddiq sudah barang tentu memiliki perhatian besar terhadap keluarganya. Maka, Asma`, Aisyah, Abdullah, Ummu Ruman dan pembantunya yang bernama Amir bin Fuhairah pun masuk Islam. Sifat-sifat terpuji, keutamaan-keutamaan yang agung dan akhlak yang mulia yang terjelma pada kepribadian Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi faktor efektif yang menjadikan orang-orang tertarik ketika mereka diajak kepada Islam.

Rekam jejak dan catatan akhlak Abu Bakar ash-Shiddiq begitu besar di tengah kaum dan klannya. Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok yang disukai dan dicintai kaumnya, familiar, bersahabat, mudah diterima, lembut, toleran, ramah, orang Quraisy yang paling pakar tentang nasab Quraisy, bahkan ia adalah pakar nasab yang tidak ada duanya pada zamannya. Ia adalah sosok pemimpin dan pemuka yang dihormati, dermawan, dan gemar membantu. Di Makkah, ia biasa menyediakan jamuan bagi para tamu dalam bentuk yang tidak ada seorang pun yang melakukannya. Di samping itu, ia adalah sosok yang memiliki lisan yang fasih.

Akhlak dan sifat-sifat yang terpuji seperti itu merupakan hal yang mesti dimiliki oleh para juru dakwah. Jika tidak, maka dakwah mereka hanya akan menjadi seperti teriakan di tengah lembah dan justru akan menjadi seperti meniup abu. Sirah Abu Bakar ash-Shiddiq yang menggambarkan dengan jelas kepada kita tentang pemahamannya tentang Islam dan bagaimana ia menghayatinya dalam kehidupannya, sudah sepatutnya para juru dakwah meniru dan meneladaninya dalam aktifitas dakwah yang mereka lakukan.

Ujian dan Cobaan yang Dialami oleh Abu Bakar ash-Shiddiq

Ujian dan cobaan sudah menjadi semacam sunnah, ketentuan atau hukum alam yang pasti dialami dan berlaku pada semua orang, baik pada skala individu, golongan, bangsa, umat maupun negara. Sunnah ini tidak terkecuali juga dialami dan berlaku pada para sahabat yang mulia. Mereka mengalami dan menghadapi ujian dan cobaan yang gunung-gunung tinggi, besar, dan kokoh pun begitu berat memikulnya. Mereka telah mengorbankan harta benda dan darah mereka di jalan Allah, mengerahkan segenap kemampuan, potensi, dedikasi, kerja keras, dan kesungguhan mereka.

Orang-orang terhormat dari kaum muslimin tidak terkecuali juga tidak lepas dari ujian dan cobaan. Abu Bakar ash-Shiddiq tidak terkecuali juga mengalami berbagai gangguan, kepalanya ditaburi debu dan dipukuli dengan sandal di al-Masjidil Haram, sampai-sampai seluruh mukanya kotor penuh dengan debu dan lebam-lebam hingga hampir tidak bisa dikenali lagi. Ia pun dibawa pulang ke rumahnya dalam keadaan antara hidup dan mati.

Aisyah meriwayatkan bahwa suatu ketika, tiga puluh delapan sahabat Rasulullah berkumpul. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun mendesak Rasulullah agar tampil terbuka di hadapan publik. Waktu itu, Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, jumlah kita saat ini sedikit.” Namun Abu Bakar ash-Shiddiq tetap mendesak, hingga akhirnya Rasulullah pun bersedia tampil terbuka. Waktu itu, orang-orang Islam pun berpencar di sudut-sudut masjid, tiap-tiap orang menyampaikan dakwah secara terbuka kepada keluarga besar dan klannya. Abu Bakar ash-Shiddiq pun berdiri menyampaikan khutbah kepada orang-orang, sedang waktu itu Rasulullah duduk. Dengan begitu, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang pertama yang menyampaikan khutbah menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya.

Melihat hal itu, orang-orang musyrik pun geger, gempar, dan menyerang Abu Bakar ash-Shiddiq dan kaum muslimin serta memukuli mereka di sudut-sudut masjid. Lalu ada seorang fasik bernama Utbah bin Rabi’ah mendekati Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu mulai memukulinya dengan dua sandal yang keras dan kasar dan berusaha diarahkan ke wajahnya, serta menginjak-injak perut Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga waktu itu wajahnya sulit dikenali lagi. Lalu Bani Taim pun datang berbondong-bondong dan berusaha menghalau orang-orang musyrik agar menjauhi Abu Bakar ash-Shiddiq. Bani Taim pun membawa Abu Bakar ash-Shiddiq pulang ke rumahnya dan waktu itu mereka berfikiran bahwa nyawa Abu Bakar ash-Shiddiq sepertinya sudah tidak bisa tertolong lagi. Kemudian Bani Taim kembali ke masjid dan berkata, “Jika Abu Bakar mati, maka sungguh kami benar-benar akan membunuh Utbah bin Rabi’ah.”

Bani Taim kembali lagi ke rumah Abu Bakar ash-Shiddiq. Ketika itu, ayah Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu Abu Quhafah dan Bani Taim berusaha mengajak bicara Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga akhirnya pada sore hari ia pun bisa berbicara, lalu berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah, apa yang terjadi pada diri beliau?” Lalu mereka pun mencela Abu Bakar ash-Shiddiq, dan berkata kepada ibundanya, “Coba Anda beri ia makan atau minum.” Lalu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq hanya ditemani oleh ibundanya, maka Abu Bakar ash-Shiddiq pun terus bertanya kepada ibundanya, “Bagaimana kabar Rasulullah, apa yang terjadi pada diri beliau?” Lalu ibundanya pun berkata, “Sungguh aku tidak tahu bagaimana kabar dan keadaan sahabatmu itu.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepada ibundanya, “Ibu, tolong pergi dan temui Ummu Jamil binti al-Khathab. Tanyakan kepadanya tentang keadaan Rasulullah.” Lalu ibundanya pun pergi untuk menemui Ummu Jamil. Setelah bertemu Ummu Jamil, ia pun bertanya kepadanya, “Abu Bakar bertanya kepada Anda tentang keadaan Muhammad bin Abdullah.” Lalu Ummu Jamil berkata, “Aku tidak mengenal Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin Abdullah. Bagaimana kalau saya pergi menemui putra Anda secara langsung.” Ia berkata, “Baiklah.”

Lalu keduanya pun pergi untuk menemui Abu Bakar ash-Shiddiq, dan ia pun mendapati Abu Bakar ash-Shiddiq terbaring sakit dengan kondisi yang mengenaskan. Lalu Ummu Jamil pun mendekat dan berteriak seraya berkata, “Sungguh orang-orang telah menganiaya Anda untuk kepentingan kaum fasik dan kafir. Sungguh aku berharap Allah membalas mereka.” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah, apa yang terjadi pada diri beliau?” Ummu Jamil berkata, “Ibu Anda ada di sini, ia bisa mendengar apa yang akan aku katakan.” Abu Bakar ash-Shiddiq pun berkata, “Tidak apa-apa, Anda tidak perlu khawatir.” Ummu Jamil pun berkata, “Beliau selamat dan baik-baik saja.” Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya, “Di manakah beliau sekarang?” Ummu Jamil berkata, “Di Dar al-Arqam.” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Sungguh aku tidak akan mencicipi makanan atau minuman, hingga aku datang menemui Rasulullah.” Lalu ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq dan Ummu Jamil pun mencoba menenangkan Abu Bakar ash-Shiddiq dan memintanya sabar sesaat hingga situasi dan suasana menjadi tenang dan reda dulu.

Setelah situasi dan kondisi yang ada reda dan tenang, maka mereka berdua pun memapah Abu Bakar ash-Shiddiq untuk pergi menemui Rasulullah. Ketika sampai, Rasulullah pun memeluk Abu Bakar ash-Shiddiq dan menciumnya, dan kaum muslimin pun ikut memeluknya. Rasulullah merasa sangat terharu kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Lalu ia berkata, “Sungguh wahai Rasulullah, aku tidak apa-apa kecuali apa yang dilakukan oleh si fasik terhadap wajahku. Ini ibuku yang sangat sayang dan begitu perhatian kepada anaknya, dan Anda adalah sosok yang diberkahi, maka serulah ibuku ini kepada Allah dan aku mohon Anda berkenan mendoakan ibuku semoga dengan Anda Allah berkenan menyelamatkannya dari neraka.”

Lalu Rasulullah pun mendoakannya dan menyerunya kepada Allah, lalu ia pun masuk Islam.

Kejadian agung tersebut, di dalamnya termuat sejumlah pelajaran dan ibrah bagi setiap Muslim yang bergairah dan memiliki antusiasme untuk meneladani para sahabat yang mulia. Dalam hal ini, kami akan berusaha untuk menyimpulkan sebagian dari pelajaran dan ibrah tersebut yang di antaranya adalah:

  • Hasrat dan ambisi Abu Bakar ash-Shiddiq yang begitu kuat untuk mempublikasikan dan memproklamirkan Islam secara terbuka di hadapan kaum kafir. Ini menunjukkan kekuatan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq dan keberaniannya. Ia tidak gentar sedikit pun dan rela menanggung penderitaan besar, sampai-sampai kaumnya berpikiran bahwa ia akan mati akibat penderitaan yang dialaminya itu.

Abu Bakar ash-Shiddiq telah menyirami hatinya dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dirinya. Setelah masuk Islam, ia tidak lagi mempedulikan apa pun selain bagaimana supaya panji tauhid berkibar tinggi dan bagaimana supaya seruan “Laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah” menggema dengan keras di segenap penjuru Makkah, meskipun seandainya itu harus ia bayar mahal dengan nyawanya. Dan memang benar, Abu Bakar ash-Shiddiq hampir saja menyerahkan hidupnya sebagai harga untuk membayar akidah dan keislamannya.

  • Sikap kukuh Abu Bakar ash-Shiddiq untuk mempublikasikan dakwah Islam secara terbuka di tengah kezhaliman Jahiliyah, karena ambisinya yang sangat kuat untuk mempublikasikan kepada manusia tentang agama tersebut yang pancaran keceriaannya meresap dan menyatu dalam hati, meskipun ia mengetahui dan menyadari betul penderitaan yang mungkin akan ia dan para sahabatnya alami. Hal itu tidak lain karena ia telah melepaskan kepentingan diri pribadinya dan tidak lagi mempedulikannya.
  • Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya telah meresap masuk ke dalam hatinya mengalahkan kecintaannya kepada diri sendiri. Buktinya adalah, meskipun ia sedang mengalami penderitaan yang luar biasa, namun apa yang ia tanyakan pertama kali adalah, “Bagaimana keadaan Rasulullah, apa yang terjadi pada diri beliau?” Sebelum ia sempat makan atau minum, bahkan ia bersumpah tidak akan makan dan minum hingga ia datang menemui Rasulullah. Seperti itulah semestinya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya bagi setiap Muslim, Allah dan Rasul-Nya semestinya lebih ia cintai dari segala sesuatu yang lain, bahkan meskipun ongkosnya adalah nyawa dan hartanya.
  • Fanatisme kesukuan pada masa itu memiliki peran dalam menentukan dan mengontrol arah kejadian-kejadian dan interaksi dengan individu-individu, bahkan meskipun ada perbedaan akidah. Lihatlah bagaimana klan atau kaum Abu Bakar ash-Shiddiq mengancam untuk membunuh Utbah bin Rabiah jika Abu Bakar ash-Shiddiq sampai meninggal dunia.
  • Terlihat sepak terjang luar biasa Ummu Jamil binti al-Khathab. Sepak terjangnya itu melukiskan kepada kita bagaimana ia tumbuh di atas pondasi kecintaan dan persistensi kepada dakwah serta melakukan pergerakan untuk agama ini. Maka, ketika ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya kepadanya tentang kabar berita Rasulullah, maka ia menjawab, “Aku tidak kenal Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin Abdullah.” Ini adalah sebuah langkah dan tindakan kewaspadaan, antisipasi dan kehati-hatian yang tepat. Karena Ummu al-Khair ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq waktu itu belum lagi masuk Islam dan ingin Ummu al-Khair mengetahui keislamannya. Pada waktu yang sama, ia ingin merahasiakan lokasi keberadaan Rasulullah karena khawatir Ummu al-Khair akan memberitahukan hal itu kepada Quraisy.

Pada waktu yang sama pula, Ummu Jamil sebenarnya ingin memastikan keselamatan Abu Bakar ash-Shiddiq. Dari itu, ia mengusulkan kepada Ummu al-Khair untuk menemaninya menemui putranya. Ketika sudah bertemu dengan Abu Bakar ash-Shiddiq, Ummu Jamil sangat berhati-hati dan waspada jangan sampai dari mulutnya keluar informasi apa pun tentang tempat keberadaan Rasulullah, dan ia pun menyampaikan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa Rasulullah selamat dan baik-baik saja. Sikap hati-hati, waspada, dan antisipasi terhadap kejahiliyahan yang selalu berupaya memalingkan orang-orang dari agama mereka itu nampak nyata pada keputusan mereka bertiga, bahwa mereka baru akan pergi menemui Rasulullah ketika suasana sudah tenang,  kegaduhan sudah mereda, dan kondisi mulai kembali kondusif.

  • Terlihat jelas bakti Abu Bakar ash-Shiddiq kepada ibundanya dan keinginannya yang kuat supaya ibundanya mendapatkan hidayah, pada perkataannya kepada Rasulullah, “Ini ibuku, ia adalah sosok ibu yang sangat dan perhatian kepada putranya, sedang Anda wahai Rasulullah adalah sosok yang diberkahi, maka serulah ia kepada Allah dan doakanlah dirinya semoga dengan perantaraan Anda Allah menyelamatkannya dari neraka.” Ini adalah sebuah gambaran rasa takut kepada adzab Allah dan hasrat yang tinggi kepada ridha dan surga-Nya.

Rasulullah pun mendoakan ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq semoga ia mendapatkan hidayah. Lalu Allah pun memperkenankan doa beliau itu, sehingga ibunda Abu Bakar ash-Shiddiq pun masuk Islam dan menjadi bagian dari jamaah kaum Mukminin yang diberkahi yang selalu bekerja keras untuk menyebarkan agama Allah.

Di sini, kita bisa merasakan rahmat dan kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Pada waktu yang sama, dari kejadian tersebut, kita bisa menemukan hukum habis gelap terbitlah terang, kelapangan setelah kesempitan, kebahagiaan setelah kesusahan dan anugerah setelah ujian dan cobaan.

  • Di antara para sahabat yang paling banyak mengalami penderitaan dan gangguan setelah Rasulullah adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Hal itu mengingat persahabatannya yang spesial dan sangat intim dengan beliau serta keberadaannya yang senantiasa bersama beliau di berbagai kesempatan di mana beliau mengalami berbagai gangguan dari kaum beliau. Ketika itu, Abu Bakar ash-Shiddiq dengan penuh keberanian langsung maju membela dan melindungi beliau, rela mengorbankan dirinya demi untuk menyelamatkan beliau. Sehingga ia pun menghadapi berbagai gangguan dan sikap tolol kaum Quraisy, padahal Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan salah satu pemuka Quraisy yang terkenal memiliki akal cerdas, kebijaksanaan, dan gemar berbuat kebajikan.

Pembelaan Abu Bakar ash-Shiddiq kepada Rasulullah

Di antara sifat Abu Bakar ash-Shiddiq yang menjadi kelebihan dan tipikalnya adalah keberanian. Ia adalah sosok yang tidak takut kepada siapa pun dalam kebenaran. Ia sama sekali tidak akan terganggu oleh celaan orang yang mencela dalam usaha membela agama Allah, bekerja untuk kepentingan agama-Nya dan dalam membela Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Urwah bin az-Zubair, ia berkata, “Aku meminta kepada Abdullah bin Amr bin al-Ash supaya ia memberitahukan kepadaku tentang hal paling keras yang diperbuat oleh orang-orang musyrik terhadap Nabi Muhammad, lalu ia berkata, “Pada suatu ketika, tatkala Rasulullah sedang shalat di sisi Ka’bah, tiba-tiba Uqbah bin Abu Mu’ith datang, lalu melilitkan bajunya di leher Rasulullah dan mencekik beliau dengan keras. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun datang dan memegangi pundak Uqbah bin Abu Mu’ith, lalu menariknya dan menjauhkannya dari Rasulullah dan berkata dengan menyitir ayat,

Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.” (Ghafir: 28).

Dalam riwayat Anas disebutkan, bahwasanya ia berkata, “Sungguh mereka pernah memukuli Rasulullah hingga menyebabkan beliau pingsan. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berdiri dan berteriak, “Celaka kalian, apakah kalian ingin membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.”

Dalam hadist Asma` disebutkan, “Lalu ada seseorang yang bergegas menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Cepat tolong sahabatmu.” Asma` melanjutkan ceritanya, “Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun bergegas pergi, sedang waktu itu rambutnya diikat menjadi empat ikatan, seraya berkata, “Celaka kalian, apakah kalian ingin membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.” Lalu mereka pun meninggalkan Rasulullah dan ganti berpaling ke arah Abu Bakar ash-Shiddiq dan memukulinya. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun kembali pulang kepada kami, maka ia tidak menyentuh suatu apa pun dari ikatan rambutnya itu melainkan ia kembali bersamanya.

Dalam hadist Ali bin Abu Thalib disebutkan, bahwa ia Ali bin Abu Thalib berdiri menyampaikan pidato, “Wahai orang-orang, siapakah orang yang paling berani?” Mereka menjawab, “Anda wahai Amirul Mukminin.” Lalu Ali bin Abu Thalib berkata, “Adapun aku, maka tidak ada satu orang pun yang menantang tanding denganku melainkan aku membalasnya. Akan tetapi, orang yang paling berani adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Kami membuat ’arisy (semacam anjang-anjang untuk tempat pemimpin perang mengamati dan memberikan komando) untuk Rasulullah. Lalu kami berkata, “Siapakah yang bersedia bersama-sama Rasulullah untuk menjaga beliau agar tidak ada seorang pun dari kaum Quraisy yang menyerang beliau?” Maka, demi Allah, sungguh tidak ada seorang pun yang coba mendekati Rasulullah melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq langsung menghunus pedangnya di atas kepala Rasulullah, tiada seorang pun yang coba menyerang Rasulullah melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq pasti akan menyerangnya. Inilah orang yang paling berani.”

Ali bin Abu Thalib kembali bercerita, “Aku melihat Rasulullah diserang oleh orang-orang Quraisy, orang ini mendorong-dorong dengan keras, yang itu menangkap dan yang itu menarik-narik, seraya mereka berkata, “Kamu menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja.”

Tiada satu orang pun yang coba mendekati Rasulullah melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq memukul dan melawan yang ini dan menarik-narik yang itu, seraya berkata, “Celaka kalian, apakah kalian ingin membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah.” Setelah bercerita, kemudian Ali bin Abu Thalib pun mengangkat burdah yang ia kenakan, lalu ia pun menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah oleh air mata. Kemudian ia berkata, “Aku mengingatkan kalian kepada Allah, apakah si laki-laki yang beriman dari keluarga Fir’aun itu adalah yang lebih baik ataukah Abu Bakar ash-Shiddiq?” Lalu orang-orang pun terdiam, lalu Ali bin Abu Thalib berkata, “Maka demi Allah, sungguh sesaat dari Abu Bakar ash-Shiddiq adalah lebih baik dari sepenuh bumi dari si laki-laki yang beriman dari keluarga Fir’aun itu. Ia menyembunyikan keimanannya, sementara laki-laki ini maksudnya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq- mempublikasikan dan memproklamirkan keimanannya secara terang-terangan.”

Itu adalah sebuah potret jelas yang menggambarkan tabiat konflik antara yang haq dan bathil, antara petunjuk dan kesesatan dan antara keimanan dan kekafiran. Juga menggambarkan penderitaan dan siksaan yang dialami Abu Bakar ash-Shiddiq di jalan Allah. Potret tersebut juga memberikan gambaran tentang ciri-ciri yang jelas tentang kepribadian Abu Bakar ash-Shiddiq yang tiada duanya dan keberaniannya yang langka yang diakui sendiri oleh Ali bin Abu Thalib dalam testimoninya pada masa kekhilafahannya, yakni setelah beberapa dekade. Ali bin Abu Thalib pun sangat terkesan dan terharu, hingga ia pun menangis tersedu-sedu dan membuat orang-orang juga ikut menangis.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali disakiti dan mengalami penderitaan setelah Rasulullah, orang yang pertama kali membela Rasulullah dan orang yang pertama kali berdakwah menyeru kepada Allah.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah tangan kanan Rasulullah, menyerahkan segenap dedikasinya untuk dakwah, senantiasa berada di samping Rasulullah dan membantu beliau dalam mendidik, mengajari, dan memuliakan orang-orang yang masuk Islam. Abu Dzarr mengisahkan kepada kita cerita tentang keislamannya. Di dalamnya ia mengatakan, “Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, izinkanlah malam ini aku yang menjamunya makan,” dan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq menjamu Abu Dzarr dengan makanan zabib (kismis) Tha`if.

Demikianlah, Abu Bakar ash-Shiddiq dalam dedikasinya mendukung Rasulullah menganggap enteng, remeh, dan sepele mara bahaya yang mengancam dirinya, namun ia sekali-kali tidak akan rela sedikit pun jika ada mara bahaya yang mengancam Rasulullah baik sedikit maupun banyak di mana pun dan kapan pun ia melihatnya dan dirinya mampu untuk membela beliau menghadapi orang-orang yang berbuat jahat terhadap beliau.

Abu Bakar ash-Shiddiq melihat kaum kafir menjambak kerah dan memegangi leher Rasulullah, maka ia pun langsung menghalau mereka seraya berteriak, “Celaka kamu, apakah kalian ingin membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, “Tuhanku ialah Allah?!” Lalu mereka pun berpaling dari Rasulullah dan ganti mengeroyok Abu Bakar ash-Shiddiq, memukulinya, dan menjambak-jambak rambutnya. Lalu mereka tidak meninggalkannya melainkan dalam keadaan bajunya sobek-sobek semuanya.

Abu Bakar ash-Shiddiq Membelanjakan Hartanya untuk Membebaskan Orang-orang yang Disiksa Karena Keimanan

Gangguan, intimidasi, teror dan kekerasan yang dilancarkan oleh orang-orang musyrik terhadap Rasulullah dan para sahabat semakin meningkat eskalasinya dan intensif hingga mencapai puncaknya, bersamaan dengan semakin tersebarnya dakwah Islam di tengah masyarakat Makkah jahili, terutama terhadap orang-orang Islam yang lemah dan tertindas.

Mereka diintimidasi, diteror, diperlakukan secara kasar dan disiksa untuk memalingkan mereka dari akidah dan keislaman mereka. Juga sekaligus supaya mereka bisa menjadi pelajaran dan contoh bagi yang lain, serta untuk meluapkan kebencian dan kemarahan dengan menimpakan berbagai bentuk siksaan kepada mereka sehingga kebencian dan amarah orang-orang musyrik itu terobati dan merasa terpuaskan.

Bilal misalnya, ia mengalami penyiksaan yang luar biasa, sementara ia tidak memiliki orang yang bisa menopangnya, tidak memiliki kaum atau klan yang bisa melindunginya dan tidak pula kekuatan dan pedang yang bisa membelanya. Orang seperti Bilal ini di tengah masyarakat Jahiliyah Makkah tidak memiliki nilai apa-apa, tidak memiliki peran dalam kehidupan melainkan hanya melayani, patuh, dan diperjual belikan tak ubahnya seperti binatang ternak. Jika orang seperti Bilal ternyata memiliki pendapat, pemikiran, dakwah atau posisi, maka dalam masyarakat jahili Makkah dianggap sebagai sebuah kejahatan extraordinary yang menggetarkan dan menggoncangkan pilar-pilar dan sendi-sendi tatanan masyarakat jahili Makkah.

Akan tetapi sebuah dakwah baru yang dengan cepat mendapatkan respon positif dan apresiasi yang luar biasa dari para generasi muda yang menantang tradisi dan adat para generasi tua mereka, telah mampu menyentuh hati seorang budak yang dicampakkan dan dilupakan itu yang bernama Bilal. Dakwah baru itu pun menjadikannya terlahir kembali sebagai seorang manusia baru dalam kehidupan. Makna-makna keimanan menyemburat dalam hatinya setelah ia beriman kepada agama ini dan bergabung dengan Nabi Muhammad dan para sahabat beliau di barisan parade keimanan yang agung.

Ketika majikannya yang bermana Umayyah bin Khalaf mengetahui hal itu, maka ia pun mulai mengambil langkah antara mengintimidasi dirinya dan terkadang membujuknya. Namun Umayyah bin Khalaf tidak mendapati dari diri Bilal melainkan keteguhan sikap dan pendirian serta tidak bersedia untuk kembali ke belakang kepada kekafiran, kejahiliyahan, dan kesesatan. Maka, Umayyah bin Khalaf pun terus melakukan berbagai bentuk intimidasi, teror, dan pengekangan terhadap Bilal dan bertekad untuk menyiksanya dengan siksaan yang keras.

Umayyah bin Khalaf pun membawa Bilal ke tengah gurun dan memanggangnya di bawah panasnya terik matahari siang hari setelah sebelumnya tidak diberi makan dan minum selama sehari semalam. Lalu Umayyah bin Khalaf menidurkan Bilal secara terlentang di atas pasir gurun yang panas terbakar. Kemudian ia menyuruh para budaknya yang lain untuk mengambil sebongkah batu besar, lalu meletakkannya di atas dada Bilal yang saat itu terikat kedua tangannya dalam keadaan dipentang. Kemudian Umayyah bin Khalaf berkata kepada Bilal, “Kamu akan tetap seperti ini hingga kamu mati atau hingga kamu mau kafir terhadap Muhammad dan kembali menyembah al-Lata dan al-Uzza.” Lalu Bilal pun menjawab dengan penuh ketabahan dan ketegaran, “Ahad, Ahad.”

Umayyah bin Khalaf selama beberapa waktu terus menyiksa Bilal dengan siksaan yang sangat kejam dan biadab seperti itu. Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq pun pergi ke lokasi penyiksaan dan melakukan negosiasi dengan Umayyah bin Khalaf. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah menyangkut si lemah yang tidak berdaya ini? Sampai kapan!” Umayyah bin Khalaf berkata, “Anda lah yang telah merusak orang ini, maka selamatkanlah ia dari apa yang kamu lihat ini.” Abu Bakar ash-Shiddiq pun berkata, “Baiklah, aku setuju.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun membeli si budak tersebut lalu memerdekakannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq membeli Bilal dengan harga tujuh uqiyyah atau empat puluh uqiyyah emas.

Sungguh luar biasa kesabaran, ketabahan dan ketegaran Bilal! Ia adalah sosok seorang Muslim yang benar-benar tulus dan sungguh-sungguh keislamannya dan berhati bersih. Dari itu, ia begitu tegar dan kukuh pendirian tanpa sedikit pun mengendur di hadapan berbagai tantangan, teror, intimidasi, dan siksaan. Kesabaran, ketabahan, dan ketegaran Bilal adalah salah satu hal yang menjadikan kaum musyrikin Makkah semakin marah, jengkel, dan geram, apalagi Bilal adalah satu-satunya orang Islam dari kelompok kaum lemah yang tetap teguh dan persisten dalam memegang keislamannya tanpa sedikit pun tunduk kepada apa yang diinginkan oleh kaum kafir, seraya terus mengucapkan kalimat tauhid dengan lantang dan menantang. Ia tidak lagi mempedulikan dirinya dalam memegang teguh keimanannya kepada Allah, dan dirinya pun dianggap tidak ada harganya bagi kaumnya.

Setiap habis cobaan pasti ada anugerah dan kebahagiaan, setiap habis gelap terbitlah terang. Maka, Bilal pun terbebas dari siksaan dan penindasan, terbebas dari perbudakan, dan ia pun menghabiskan sisa hidupnya bersama Rasulullah, senantiasa bersama-sama dengan beliau dan meninggal dunia dalam keadaan ridha dan diridhai.

Abu Bakar ash-Shiddiq terus melanjutkan politik dan strategi memerdekakan orang-orang Islam yang disiksa. Langkah ini akhirnya menjadi bagian dari kebijakan yang diadopsi kepemimpinan Islam dalam memerangi penyiksaan yang menimpa orang-orang lemah yang tertindas. Abu Bakar ash-Shiddiq pun menyokong dakwah dengan harta dan sumber daya manusia. Maka, ia pun terus membeli budak-budak mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Di antaranya adalah Amir bin Fuhairah yang merupakan salah satu personel pada Perang Badar dan Uhud, ia mati syahid pada perang Bi`r Ma’unah. Di antaranya lagi adalah, Ummu Ubais dan Zinnirah. Setelah dimerdekakan, Zinnirah menderita sakit mata yang menyebabkannya buta, lalu kaum kafir Quraisy berceletuk, “Matanya dibuat buta oleh al-Lata dan al-Uzza.” Lalu Zinnirah menanggapi celetukan mereka itu, ”Mereka bohong, demi Allah, sungguh al-Lata dan al-Uzza sekali-kali tiada bisa mendatangkan kemadharatan dan tidak pula kemanfaatan.” Lalu Allah pun menyembuhkan penglihatan Zinnirah dan menjadikannya kembali normal.

Di antaranya lagi adalah an-Nahdiyyah dan putrinya. Sebelumnya, mereka berdua adalah budak perempuan milik seorang perempuan dari Bani Abd ad-Dar. Suatu ketika, Abu Bakar ash-Shiddiq berpapasan dengan mereka berdua yang saat itu sedang disuruh oleh majikan mereka berdua untuk membawakan tepung miliknya. Si majikan berkata kepada mereka berdua, “Aku bersumpah, sungguh aku tidak akan memerdekakan kamu berdua.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Wahai Ummu Fulan, batalkanlah sumpahmu itu.” Lalu ia berkata, “Silahkan Anda yang membatalkannya, karena Anda lah yang telah merusak mereka berdua, karena itu, merdekakanlah mereka berdua.” Abu Bakar ash-Shiddiq pun berkata, “Berapa harga keduanya?” Ia pun menjawab, “Sekian sekian.” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Baiklah, aku beli mereka berdua dan mereka berdua merdeka.” Kembalikanlah tepungnya kepadanya.” Mereka berdua berkata, “Bolehkah kami menyelesaikannya terlebih dahulu, kemudian baru kami serahkan kepadanya?” Abu Bakar ash-Shiddiq pun berkata, “Itu terserah kamu berdua.”

Di sini ada sebuah poin penting perlu direnungkan yang memperlihatkan kepada kita bagaimana Islam menyamakan dan mensejajarkan antara Abu Bakar ash-Shiddiq dan kedua budak perempuan itu, sehingga mereka berdua bisa bicara kepada Abu Bakar ash-Shiddiq seperti berbicara dengan orang yang sepadan, bukan seperti bicaranya bawahan kepada majikannya. Abu Bakar ash-Shiddiq pun menerima hal itu dan sama sekali tidak mempermasalahkannya, sementara kita tahu sendiri ia adalah sosok yang terhormat dan disegani baik pada masa Jahiliyah maupun setelah Islam. Padahal Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang telah sangat berjasa kepada mereka berdua karena telah memerdekakan mereka berdua. Juga, memperlihatkan kepada kita bagaimana Islam mengasah kedua budak perempuan itu, hingga mereka berdua memiliki akhlak yang mulia seperti itu. Yaitu, setelah mereka berdua merdeka dan terbebas dari kezhaliman, sebenarnya mereka berdua bisa saja membiarkan begitu saja tepung milik mantan majikannya tersebut hilang dibawa angin atau dimakan binatang dan burung. Akan tetapi, mereka berdua sebagai bentuk kemurahan hati, tidak mau melakukan hal itu, tetapi lebih memilih untuk menyelesaikan semua tepung itu, baru setelah itu mereka berdua serahkan kepada mantan majikannya.

Pada suatu ketika, Abu Bakar ash-Shiddiq lewat di dekat seorang budak perempuan milik Bani Mu`ammal salah satu klan dari Bani ’Adi bin Ka’ab. Budak perempuan itu adalah seorang Muslimah. Waktu itu, Umar bin Khattab yang ketika itu masih musyrik, menyiksa dirinya dan memukulinya agar ia mau meninggalkan Islam. Hingga ketika Umar sudah bosan dan jemu, maka ia pun berkata, “Ketahuilah, bahwa aku tidak membiarkanmu melainkan karena aku sudah bosan memukulimu.” Lalu si budak perempuan itu pun menjawab, “Demikianlah, Allah berbuat terhadap kamu.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun membelinya, lalu memerdekakannya.

Demikianlah, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok pemberi kebebasan dan pemerdeka budak-budak, seorang Syaikh Islam yang bersahaja yang dikenal di tengah-tengah kaumnya sebagai orang yang gemar membantu orang yang tidak berpunya, menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang-orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan gemar membantu orang-orang yang sedang kesulitan, tertimpa musibah, dan kesusahan. Ia adalah sosok yang familiar, ramah, bersahabat, supel, dan disenangi. Hatinya penuh dengan kelembutan, belas kasih, dan sayang kepada orang-orang lemah dan para budak. Ia tidak segan-segan menginfakkan hartanya dalam jumlah yang cukup besar untuk membeli para budak, lalu memerdekakannya karena Allah dan demi Allah, dan hal itu dilakukan sebelum turunnya syariat-syariat Islam yang memotivasi dan memerintahkan untuk memerdekakan budak dan menjanjikannya mendapatkan pahala yang besar.

Masyarakat Makkah mencibir dan menertawakan Abu Bakar ash-Shiddiq yang mempergunakan hartanya untuk orang-orang lemah yang tertindas tersebut. Adapun dalam pandangan Abu Bakar ash-Shiddiq, mereka adalah saudara seagama dalam agama yang baru. Masing-masing dari mereka menurut Abu Bakar ash-Shiddiq jauh lebih berharga dan tidak sebanding dengan seluruh kaum musyrik dunia.

Dengan elemen-elemen tersebut dan yang lainnya, negara tauhid didirikan dan peradaban Islam yang spektakuler dibentuk.

Abu Bakar ash-Shiddiq melakukan semua itu sama sekali tidak memiliki maksud supaya mendapat pujian dan sanjungan, dan tidak pula kedudukan. Akan tetapi, semua itu ia lakukan tidak lain dan tidak bukan benar-benar tulus ikhlas hanya karena Allah semata. Pada suatu hari, ayahnya berkata kepadanya, “Anakku, aku lihat kamu memerdekakan budak-budak yang lemah. Bukankah lebih baik jika kamu memerdekakan budak-budak yang lemah. Bukankah lebih baik jika kamu memerdekakan budak-budak yang kuat dan memiliki fisik yang kokoh yang bisa menjaga, membela, dan melindungi dirimu?” Abu Bakar ash-Shiddiq pun menjawab, “Ayah, sesungguhnya aku melakukan apa yang ananda ingin lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah karena dan demi Allah semata.”

Karena itu, tidak aneh jika Allah menurunkan wahyu yang akan selalu dibaca hingga hari Kiamat menyangkut diri Abu Bakar ash-Shiddiq,

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kami lah akhirat dan dunia. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu orang yang paling takwa, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat (jasa baik) kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. al-Lail: 5-21).

Abu Bakar ash-Shiddiq termasuk orang yang paling besar sumbangsih dan kontribusinya dalam menginfakkan hartanya untuk apa yang mendatangkan ridha Allah dan Rasul-Nya.

Semangat solidaritas, senasib, dan sepenanggungan di antara individu-individu kaum muslimin generasi awal ini merupakan salah satu puncak kebaikan dan semangat memberi. Dengan Islam, para budak tersebut berubah menjadi para pemilik akidah, suara, pandangan, dan pemikiran yang dengannya mereka mampu mendebat, berani membela, dan berjuang demi mempertahankan akidah, pandangan, dan pemikiran tersebut.

Langkah Abu Bakar ash-Shiddiq yang begitu bersemangat membeli mereka kemudian memerdekakan mereka sekali lagi menjadi bukti keagungan agama ini dan seberapa dalam meresap ke dalam kejiwaan Abu Bakar ash-Shiddiq. Kaum muslimin pada masa sekarang sangat membutuhkan untuk menghidupkan contoh, keteladanan, nilai dan semangat yang luhur seperti ini serta sensibilitas yang luhur supaya tercipta semangat persatuan, sense of belonging serta semangat saling membantu, kerja sama dan tolong menolong di antara individu umat yang menghadapi ancaman pembasmian dari para musuh akidah dan agama.

Hijrah Abu Bakar ash-Shiddiq yang Pertama serta Sikap dan Tanggapan Ibnu ad-Daghinah Terhadapnya

Aisyah berkata, “Aku tidak mengetahui kedua orang tuaku melainkan keduanya memeluk agama ini, dan tiada hari yang kami lalui melainkan pasti Rasulullah mendatangi kami pada dua ujung siang, yaitu pada pagi hari dan pada sore hari. Lalu ketika kaum muslimin mengalami cobaan, intimidasi, teror dan penindasan, Abu Bakar ash-Shiddiq pergi berhijrah menuju ke tanah Habasyah. Kemudian ketika sampai di Bar kal-Ghimad, Abu Bakar ash-Shiddiq bertemu dengan Ibnu ad-Daghinah. Ia adalah pemimpin kabilah al-Qarah. Lalu Ibnu ad-Daghinah berkata kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, “Ke mana Anda hendak pergi wahai Abu Bakar?” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Kaumku telah mengusirku. Maka, aku ingin mengembara di muka bumi dan menyembah Tuhanku.” Ibnu ad-Daghinah berkata, “Sesungguhnya orang seperti Anda tidak sepatutnya pergi dan tidak pula diusir. Karena Anda adalah orang yang senantiasa membantu orang yang tidak berpunya, menyambung silaturahmi, menanggung hidup orang yang miskin, memuliakan tamu, dan memberikan bantuan ketika terjadi musibah dan kesulitan. Aku memberikan jaminan keamanan kepada Anda. Kembalilah pulang dan beribadahlah menyembah Tuhanmu di negerimu.”

Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq pun kembali pulang ditemani oleh Ibnu ad-Daghinah. Lalu pada sore hari, Ibnu ad-Daghinah berkeliling menemui para pemuka dan tokoh Quraisy, lalu berkata kepada mereka, “Orang seperti Abu Bakar tidak sepantasnya pergi meninggalkan negerinya dan tidak sepantasnya pula diusir. Apakah kalian ingin mengusir seseorang yang selalu membantu orang yang tidak berpunya, menyambung silaturahmi, menanggung hidup orang fakir, memuliakan tamu, dan memberikan bantuan ketika terjadi musibah dan kesulitan?!”

Mereka pun menerima jaminan keamanan Ibnu ad-Daghinah kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka berkata kepada Ibnu ad-Daghinah, “Persilahkan Abu Bakar beribadah kepada Tuhannya di dalam rumahnya. Ia boleh shalat dan membaca apa saja yang diinginkan, namun dengan syarat hal itu ia lakukan di dalam rumah, aktifitasnya itu tidak boleh sampai mengganggu kami dan ia tidak boleh melakukannya secara terbuka. Karena kami khawatir ia akan mempengaruhi kaum perempuan dan anak-anak kami.”

Lalu Ibnu ad-Daghinah pun menyampaikan hal itu kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Maka, Abu Bakar ash-Shiddiq pun beribadah kepada Tuhannya di dalam rumahnya. Ia tidak menampakkan shalatnya secara terbuka dan tidak membaca al-Qur’an melainkan di dalam rumah. Kemudian seiring berjalannya waktu, beberapa waktu setelah itu, Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki sebuah pemikiran untuk membangun tempat ibadah di halaman rumahnya. Lalu ia pun membangunnya dan menggunakannya untuk aktivitas shalat dan membaca al-Qur’an. Ketika itu, kaum perempuan musyrikin dan anak-anak mereka pun berdatangan ingin melihat aktivitas Abu Bakar ash-Shiddiq, sedang mereka merasa penasaran dan tertarik untuk melihatnya.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang berhati lembut, sensitif, mudah terharu, dan menangis. Ia tidak kuasa menahan air matanya setiap kali membaca al-Qur’an. Hal itu pun membuat para pemuka dan tokoh musyrikin Quraisy kaget. Mereka pun langsung mengirim utusan untuk memanggil Ibnu ad-Daghinah. Ketika Ibnu ad-Daghinah datang, maka mereka pun berkata kepadanya, “Sebelumnya kami menerima dan menyetujui suaka dan jaminan keamanan yang Anda berikan kepada Abu Bakar dengan syarat ia melakukan ibadah kepada Tuhannya di dalam rumah. Namun sekarang ia telah melanggarnya dengan membangun masjid di halaman rumahnya, melakukan shalat dan bacaan di dalamnya secara terbuka. Kami khawatir ia akan mempengaruhi kaum perempuan dan anak-anak kami. Maka dari itu, tolong Anda larang dia. Jika ia bersedia untuk beribadah kepada Tuhannya hanya di dalam rumahnya, maka silahkan. Namun jika ia menolak dan tetap melakukannya secara terbuka dan mempublikasikannya, maka mintalah dirinya untuk mengembalikan jaminan keamanan yang sebelumnya Anda berikan kepadanya. Karena kami tidak ingin melanggar janji kami kepada Anda dan pada waktu yang sama kami juga tidak terima atas tindakan Abu Bakar tersebut.”

Aisyah melanjutkan ceritanya, lalu Ibnu ad-Daghinah pun datang menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Anda telah mengetahui syarat jaminan keamanan yang saya berikan kepada Anda. Dari itu, Anda pilih antara mematuhi syarat tersebut atau Anda mengembalikan kepadaku jaminan keamanan yang sebelumnya aku berikan kepada Anda. Karena aku tidak ingin orang Arab mendengar perjanjian dan kesepakatanku dilanggar menyangkut seseorang yang aku beri jaminan keamanan.” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Baiklah, aku lebih memilih untuk mengembalikan kepada Anda jaminan keamanan yang sebelumnya Anda berikan, dan aku lebih memilih jaminan keamanan dari Allah.”

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq telah lepas dari jaminan keamanan Ibnu ad-Daghinah, pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang Quraisy yang tolol dan lancang, ketika sedang pergi menuju ke Ka’bah. Lalu al-Walid bin al-Mughirah atau al-’Ash bin Wa`il lewat, lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Lihatlah apa yang dilakukan oleh orang tolol dan lancang itu.” Al-Walid bin al-Mughirah pun menjawab, “Salah Anda sendiri, Anda sendiri yang menyebabkan diri Anda mengalami hal seperti itu.” Waktu itu, Abu Bakar ash-Shiddiq terus mengulang-ulang perkataan, “Ya Rabbi, Engkau adalah Maha Penyantun.”

Dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran dan ibrah, yang di antaranya adalah:

  • Sebelum Nabi Muhammad resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok yang sangat terhormat dan mulia di antara kaumnya. Lihatlah bagaimana Ibnu ad-Daghinah berkata kepadanya, “Wahai Abu Bakar, orang seperti Anda tidak sepatutnya pergi dan tidak sepatutnya pula diusir. Anda adalah orang yang gemar membantu orang yang tidak berpunya, menyambung silaturahmi, menanggung biaya hidup orang fakir, memuliakan tamu, dan memberikan bantuan dalam menghadapi bencana dan musibah.”

Abu Bakar ash-Shiddiq tidak masuk ke dalam agama Allah karena didorong motif mencari kedudukan atau kekuasaan, tetapi motifnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini pada gilirannya membuat dirinya mengalami berbagai cobaan, rintangan, dan gangguan. Yakni, Abu Bakar ash-Shiddiq tidak memiliki ambisi selain keridhaan Allah, ia rela berpisah dengan keluarga, tanah kelahiran, dan klan demi untuk beribadah kepada Tuhannya, karena di tanah kelahirannya ia dihalang-halangi dari melaksanakan hal itu.

  • Bekal Abu Bakar ash-Shiddiq dalam dakwahnya adalah al-Qur’an. Dari itu, ia mendedikasikan dirinya untuk menghafal al-Qur’an, memahaminya, mendalaminya, menghayatinya, dan mengamalkannya. Perhatiannya kepada al-Qur’an memberinya keahlian dan kemahiran dalam menyampaikan dakwah, keindahan, dan kefasihan bahasa, kedalaman pemikiran, kemampuan menyampaikan tema dakwah secara rapi, runtut, dan runut menurut alur logika, memperhatikan keadaan para pendengar, serta kemampuan mengutarakan dalil, bukti, argumentasi, dan penalaran dengan kuat.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok yang sangat sensitif, mudah tersentuh dan terharu oleh al-Qur’an, sehingga ia sering menangis setiap kali membaca al-Qur’an. Ini pada gilirannya menunjukkan keyakinannya yang tertanam kokoh serta kuatnya kekhusyuan hatinya kepada Allah dan kuatnya penghayatan hatinya terhadap makna-makna al-Qur’an yang dibaca. Tangisan muncul karena kuatnya pengaruh, sensitifitas dan ketersentuhan baik oleh kesedihan yang mendalam atau kebahagiaan yang meluap.

Seorang mukmin sejati senantiasa berada antara suasana kebahagiaan oleh karena hidayah Allah kepada jalan yang lurus dan suasana takut dan khawatir melenceng sedikit saja dari jalan yang lurus tersebut. Jika ia adalah orang yang memiliki sensitifitas yang hidup dan pikiran yang tajam seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu ketika al-Qur’an mengingatkan tentang kehidupan akhirat berikut apa yang ada di dalamnya berupa hisab, hukuman dan pahala, maka hal itu pada gilirannya akan menciptakan ekspresi kekhusyuan dan linangan air mata. Pemandangan seperti itu tentu memiliki pengaruh dan kesan yang besar terhadap orang yang menyaksikannya.

Dari itu, orang-orang musyrik merasa sangat gusar terhadap penampilan Abu Bakar ash-Shiddiq yang berkesan tersebut dan mereka pun sangat mengkhawatirkan kaum perempuan dan anak-anak mereka nantinya akan terpengaruh olehnya sehingga menyebabkan mereka masuk Islam.

Abu Bakar ash-Shiddiq tumbuh dan terdidik di tangan Rasulullah secara langsung, dalam lingkungan yang semarak penuh oleh penghafalan al-Qur’an, penghayatan dan pengamalan terhadapnya. Abu Bakar ash-Shiddiq senantiasa mempelajari, merenungkan, dan menghayati al-Qur’an. Abu Bakar ash-Shiddiq tidak mau berbicara tanpa ilmu. Maka dari itu, ketika ia ditanya tentang suatu ayat yang tidak ia ketahui dan pahami, maka ia menjawab, “Bumi mana yang akan menjadi tempatku berpijak atau langit mana yang menjadi atapku jika aku mengatakan tentang Kitabullah apa yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Allah.”

Di antara perkataan Abu Bakar ash-Shiddiq yang menunjukkan bagaimana ia begitu dalam melakukan tadabbur, perenungan dan penghayatan terhadap al-Qur’an adalah, “Sesungguhnya menyebutkan ahli surga, maka Allah menyebutkan mereka dengan amal-amal baik mereka dan mengampuni amal-amal jelek mereka. Di manakah posisiku dari mereka itu, aku takut jika aku tidak bisa seperti mereka, sepertinya aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka itu dan sepertinya aku bukanlah bagian dari mereka.” Padahal Abu Bakar ash-Shiddiq adalah pasti bagian dari ahli surga itu.

Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang masih janggal dan belum ia pahami, dengan penuh etika, sopan santun, dan penuh penghormatan. Ketika turun ayat 123 surah an-Nisa`, “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan atas kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah,” Maka Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Sungguh telah datang malapetaka, siapakah di antara kami yang tidak pernah melakukan perbuatan jelek?” Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, bukankah kamu mengalami kepayahan? Bukankah kamu mengalami kesedihan? Bukankah kamu mengalami kondisi sulit dan berat? Semua itu adalah bagian dari pembalasan terhadap kalian atas amal jelek kalian.”

Abu Bakar ash-Shiddiq juga menafsiri sejumlah ayat, seperti ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih;” dan bergembiralah kalian dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30).

Tentang ayat ini, Abu Bakar ash-Shiddiq menuturkan, maka mereka tidak menoleh dari-Nya ke kanan dan ke kiri, maka hati mereka tidak berpaling kepada selain-Nya, baik dalam hal mahabbah, rasa takut, pengharapan, permohonan, dan tawakkal. Bahkan mereka tidak mencintai melainkan Allah dan mereka tidak mencintai tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu di samping Allah. Mereka tidak mencintai melainkan hanya Allah semata, bukan karena menginginkan keuntungan dan tidak pula untuk menghalau kemudharatan. Mereka tidak takut kepada selain Allah, apa pun itu, tidak memohon kepada selain Dia, dan hati mereka tidak berhasrat kepada selain Dia.

Para juru dakwah haruslah senantiasa berserta al-Qur`an, membacanya, mentadabburinya, menggali perbendaharaan-perbendaharaan pengetahuan yang terkandung di dalamnya, mengungkap kemukjizatannya baik pada segi bahasa, keilmuan, dan hukum perundang-undangan, memaparkan apa yang terkandung di dalam al-Qur`an berupa langkah dan cara-cara menyelamatkan umat manusia yang tersiksa dari berbagai tragedi, konflik, dan peperangan yang menimpanya. Semua itu dilakukan dengan metode dan pendekatan yang sesuai dengan zaman dan sejalan dengan kemajuan yang diraih manusia dalam berbagai sarana dan media dakwah, publisitas dan propaganda. Abu Bakar ash-Shiddiq mampu menangkap dan memahami bagaimana aktivitas membaca al-Qur`an di masjid di tengah komunitas orang-orang Quraisy merupakan salah satu sarana atau media dakwah yang efektif.

Abu Bakar ash-Shiddiq di Antara Kabilah-kabilah Arab di Pasar-pasar

Kita telah mengetahui bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang master dalam bidang ilmu pernasaban. As-Suyuthi mengatakan, “Aku melihat dengan tulisan al-Hafizh adz-Dzahabi tentang orang-orang yang menjadi master pada masanya dalam bidangnya. Di antaranya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam bidang ilmu silsilah pernasaban.”

Dari itu, Abu Bakar ash-Shiddiq menggunakan ilmunya itu sebagai salah satu media dakwah, supaya setiap orang yang memiliki suatu keahlian mengetahui bagaimana sebenarnya ia bisa memanfaatkan dan mengeksploitasi keahlian yang dimilikinya untuk kepentingan di jalan Allah, dengan keragaman spesialisasi dan macam-macam pengetahuan, baik apakah ilmunya itu adalah ilmu teori maupun praktik, atau sebagai orang yang memiliki suatu profesi penting dalam kehidupan manusia.

Kita akan melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq menyertai Rasulullah ketika ia menampilkan diri di hadapan kabilah-kabilah Arab untuk menyampaikan dakwah kepada mereka, bagaimana ia memberdayakan ilmu dan keahliannya untuk berdakwah.

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang orator ulung yang memiliki kemampuan menyampaikan pikiran, gagasan, dan makna-makna dengan untaian kata-kata yang paling baik dan fasih. Abu Bakar ash-Shiddiq sering berpidato tentang Rasulullah baik ketika bersama beliau maupun tidak. Rasulullah ketika pergi keluar pada musim haji, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq terlebih dahulu tampil mengajak orang-orang untuk memperhatikan perkataannya.

Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq itu adalah sebagai pembukaan dan introduksi atau kata pengantar untuk apa yang akan disampaikan oleh Rasulullah, bukannya sikap lancang mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Keahlian dan ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq dalam bidang nasab dan asal-usul kabilah-kabilah sangat membantu dirinya dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan menjalin hubungan dengan mereka.

Diceritakan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Ketika Allah menginstruksikan kepada Nabi-Nya agar tampil terbuka di depan kabilah-kabilah Arab, maka beliau pun pergi untuk menemui kabilah-kabilah Arab, dan waktu itu aku ikut bersama beliau.”

Ali bin Abu Thalib kembali bercerita, “Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke majelis lain yang dipenuhi nuansa tenang dan berwibawa. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq tampil maju ke depan, mengucapkan salam, lalu berkata, “Siapakah Anda sekalian?” Mereka menjawab, “Kami dari Bani Syaiban bin Tsa’labah.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq menoleh ke arah Rasulullah dan berkata, “Sungguh wahai Rasulullah, mereka ini adalah orang-orang terhormat. Di antara mereka terdapat Mafruq bin Amr, Hani` bin Qabishah, al-Mutsanna bin Haritsah dan an-Nu’man bin Syarik.”

Di antara mereka, Mafruq bin Amr adalah orang yang paling fasih bahasanya dan paling ganteng. Ia memiliki dua kuncir yang menjuntai sampai dada. Waktu itu, Mafruq bin Amr duduk di bagian yang paling dekat dengan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Bagaimana jumlah kalian?” Mafruq menjawab, “Kami berjumlah tidak lebih dari seribu, dan jumlah seribu tidak akan bisa dikalahkan karena faktor jumlah, tetapi jika jumlah seribu bisa dikalahkan, maka itu karena faktor lain bukan karena faktor jumlah.”

Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Bagaimana kekuatan kalian?” Mafruq menjawab, “Kondisi di mana kami paling garang dan marah adalah ketika kami berhadapan dengan musuh, dan kondisi di mana kami menghadapi musuh dalam bentuk paling keras adalah ketika kami marah. Sungguh kami lebih memprioritaskan kuda daripada anak-anak dan memprioritaskan senjata daripada liqah (mengawinkan binatang). Kemenangan adalah dari Allah, terkadang Dia memberi kami kemenangan dan terkadang musuh kami yang diberi kemenangan.” Mafruq bertanya kepada Rasulullah, “Apakah Anda adalah saudara Quraisy?” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Jika memang telah sampai kepada kalian berita tentang Rasul Allah, maka inilah beliau.”

Mafruq berkata, “Kepada apakah Anda mengajak kami wahai saudara Quraisy?” Lalu Rasulullah berkata, “Aku mengajak kalian untuk bersaksi bahwasanya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Juga untuk ikut melindungiku, mendukungku, dan menolongku. Karena orang Quraisy telah berani menentang Allah dan mendustakan Rasul-Nya, lebih memilih yang bathil meninggalkan yang haq, dan Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Mafruq kembali berkata, “Kepada apa lagi Anda menyeru wahai saudara Quraisy? Karena sungguh demi Allah aku belum pernah mendengar perkataan yang lebih baik dari apa yang Anda sampaikan.” Lalu Rasulullah membacakan kepadanya ayat,

“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (al-An’am: 151).

Lalu Mafruq berkata, “Sungguh demi Allah, Anda menyeru kepada akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Sungguh telah membuat-buat kebohongan orang-orang yang mendustakan Anda dan menentang Anda.”

Kemudian Mafruq menyerahkan keputusannya kepada Hani` bin Qabishah dan berkata, “Ini adalah Hani`, ia adalah tetua kami dan pemimpin agama kami.” Lalu Hani` bin Qabishah pun berkata, “Kami telah mendengar perkataan Anda wahai saudara Quraisy, dan saya memiliki pandangan untuk meninggalkan agama kami dan mengikuti agama Anda. Namun lebih baik itu dilakukan di majelis pertemuan lain yang Anda adakan untuk kami, sehingga di majelis itu semua orang bisa mengutarakan pandangan dan melakukan pertimbangan. Sesungguhnya kekeliruan adalah beserta sikap tergesa-gesa, dan kami tidak ingin membuat suatu kesepakatan atas nama orang-orang yang ada di belakang kami. Akan tetapi, kami akan pulang dulu, menimbang, mencermati, dan merenungkan.”

Kemudian nampaknya Mafruq ingin mempersilahkan al-Mutsanna bin Haritsah untuk ikut bicara, maka ia pun berkata, “Ini adalah al-Mutsanna, ia adalah tetua kami dan pemimpin perang kami.” Lalu al-Mutsanna -ia setelah itu masuk Islam- berkata, “Kami telah mendengar apa yang Anda sampaikan wahai saudara Quraisy. Jawaban saya adalah sama dengan jawaban Hani` bin Qabishah, yaitu kami meninggalkan agama kami dan mengikuti agama Anda. Sesungguhnya kami tinggal di antara dua shir (wilayah yang ada airnya), yaitu al-Yamamah dan as-Samamah.” Lalu Rasulullah bertanya, “Apa dua shir itu?” al-Mutsanna berkata, “Adapun salah satunya adalah dataran rendah daratan dan tanah Arab. Sedangkan yang satunya lagi adalah tanah Persia dan sungai-sungai Kisra. Kami tinggal di sana berdasarkan sebuah kesepakatan dengan Kisra bahwa kami tidak membuat-buat hal baru dan kami tidak memberikan tempat kepada orang yang membuat-buat hal baru. Barangkali apa yang Anda menyeru kami kepadanya itu adalah salah satu hal yang tidak disukai oleh para raja. Adapun wilayah yang berdampingan dengan negeri Arab, maka dosa penghuninya diampuni dan apologi atau alasannya diterima. Adapun wilayah yang berada di samping negeri Persia, maka dosa penghuninya tidak diampuni dan alasannya tidak diterima. Maka, jika Anda ingin supaya kami menolong dan membantu Anda di wilayah yang berdampingan dengan negeri Arab, maka kami akan melakukannya.”

Lalu Rasulullah bersabda, “Kalian telah memberikan jawaban yang baik, karena kalian mengutarakan dengan jujur. Dan sesungguhnya agama Allah tidak ditolong kecuali oleh orang yang meliputinya dari semua sisinya. Bagaimana jika tidak terlalu lama lagi, Allah mewariskan kepada kalian tanah mereka, tempat-tempat tinggal mereka dan kaum perempuan mereka, apakah kalian mau bertasbih mensucikan Allah?” Lalu an-Nu`man bin Syarik berkata kepada beliau, “Jika memang itu benar, maka kami bersedia melakukannya.”

Dalam cerita ini, terdapat banyak pelajaran, ibrah dan faedah, yang di antaranya adalah:

  • Abu Bakar ash-Shiddiq senantiasa menyertai Rasulullah. Hal ini pada gilirannya menjadikan Abu Bakar ash-Shiddiq memahami Islam secara komprehensif. Allah menyiapkan Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menjadi sahabat yang paling alim tentang agama-Nya. Abu Bakar ash-Shiddiq belajar langsung dari Rasulullah tentang hakikat Islam dan berguru kepada beliau dalam memahami makna dan nilai-nilai Islam. Maka, Abu Bakar ash-Shiddiq pun mampu memahami karakteristik dakwah dan ikut mengalami langsung fase-fase dakwah.

Dari perjalanan hidupnya yang senantiasa menyertai Rasulullah, Abu Bakar ash-Shiddiq mendapatkan banyak faedah serta mampu menyerap dan memahami manhaj Rabbani, sehingga dirinya bisa mengenal Allah, mampu memahami karakteristik kehidupan, hakikat alam, rahasia eksistensi makhluk, apa yang terjadi setelah kematian, konsepsi qadha` qadar, kisah setan dengan Adam, hakikat perseteruan atau konflik antara yang haq dan yang bathil, antara petunjuk dan kesesatan, dan antara keimanan dan kekafiran.

Juga, hal itu menjadikan dirinya begitu senang serta memiliki hasrat dan antusiasme yang menggelora kepada ibadah seperti qiyamul lail, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Sehingga pada gilirannya hal itu membentuk dirinya menjadi sosok yang memiliki akhlak yang luhur, jiwanya menjadi bersih, dan ruhnya menjadi suci.

  • Abu Bakar ash-Shiddiq mendapatkan banyak faedah dari menyertai Rasulullah ketika beliau berdakwah mengajak kabilah-kabilah Arab kepada Islam. Maka, ia pun mengerti bahwa bantuan dan dukungan kepada dakwah beliau yang beliau minta dari para tokoh kabilah-kabilah tersebut adalah, mereka tidak terikat dengan perjanjian-perjanjian dengan negara atau kekuasaan yang perjanjian itu bertentangan dengan dakwah dan mereka tidak mampu melepaskan diri dari perjanjian tersebut. Itu karena jika mereka memberikan dukungan dan bantuan kepada dakwah, sementara kondisi yang ada seperti itu, maka hal itu akan membuat dakwah yang ada berpotensi menghadapi ancaman dari pihak kekuasaan atau negara yang bersangkutan tersebut yang melihat dakwah Islam mengandung ancaman terhadap kepentingan-kepentingannya.

Perlindungan dan dukungan yang disyaratkan atau hanya parsial yang ditawarkan oleh Bani Syaiban tersebut tidak bisa mewujudkan maksud dan tujuan yang diinginkan. Karena mereka tidak akan ikut terjun dalam peperangan melawan Kisra seandainya ia ingin menangkap Rasulullah. Mereka juga tidak akan ikut terjun dalam peperangan melawan Kisra seandainya ia ingin menyerang Rasulullah dan para pengikut beliau. Oleh karena itu, pembicaraan dan negosiasi tersebut gagal.

  • “Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa ditolong dan didukung kecuali oleh orang yang mampu melingkupinya dari segenap penjurunya,” ini adalah jawaban Rasulullah kepada al-Mutsanna bin Haritsah ketika ia menawarkan kepada beliau untuk melindungi di atas perairan Arab bukan perairan persia. Orang yang menyelami seluk beluk perpolitikan, maka ia akan melihat bagaimana Rasulullah memiliki pandangan dan visi yang jauh dan dalam yang tidak ada bandingannya.
  • Sikap Bani Syaibah tersebut merupakan tipikal sikap orang yang murah hati, beradab dan jantan, menghormati dan memuliakan Rasulullah, terus terang dan terbuka dalam mengutarakan pikiran dan isi hati, memberikan gambaran secara jelas dan definitif tentang tingkat kemampuan dan potensi melindungi yang mereka miliki. Mereka menjelaskan bahwa perkara dakwah tersebut merupakan salah satu hal yang dibenci oleh para raja.

Sepuluh tahun atau lebih setelah itu, Allah mentakdirkan Bani Syaiban mengambil peran sebagai kelompok yang siap menghadapi para raja setelah hati mereka bersinar dengan cahaya Islam. Al-Mutsanna bin Al-Haritsah Asy-Syaibani yang merupakan pimpinan perang dan pahlawan Bani Syaiban, adalah sosok pemberani yang menjadi bagian dari para panglima perang dalam gerakan futuhat pada masa kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Al-Mutsanna bin Al-Haritsah dan kaumnya setelah keislaman mereka, termasuk orang-orang Islam yang paling berani dalam berperang melawan Persia.

Padahal ketika masih dalam kejahiliyahan, mereka sangat takut kepada Persia dan tidak pernah berpikir untuk melancarkan perang terhadap Persia. Bahkan sebelumnya mereka menolak dakwah Rasulullah meskipun mereka telah tertarik kepada dakwah tersebut, karena ada kemungkinan dakwah tersebut berpotensi meletakkan mereka pada posisi dilematis yang mengharuskan mereka untuk berperang melawan Persia, sesuatu yang sebelumnya mereka tidak pernah berpikir sedikit pun untuk melakukannya.

Dengan semua itu, kita bisa mengetahui keagungan agama ini yang dengannya Allah mengangkat kaum muslimin di dunia dengan menjadikan mereka para penguasa bumi, di samping apa yang mereka tunggu-tunggu di akhirat berupa kesenangan dan kenikmatan abadi di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan dan kesenangan.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *