Keuangan Syariah

Keuangan Syariah Solusi Ekonomi Umat

Secara jujur harus kita akui bahwa sistem ekonomi ribawi yang ditandai dengan sistem bunga pada perbankan konvensional, ternyata tidak mampu meningkatkan perekonomian rakyat banyak, baik dalam skala makro maupun mikro. Bahkan sebaliknya, yang terjadi justru makin terburuk waktu ke waktu, dengan beberapa indikator ekonomi yang sangat nyata. Seperti pengangguran yang terus bertambah, nilai uang rupiah yang semakin menurun, kemiskinan yang semakin memprihatinkan, dll.

Apa yang kita lihat dan di rasakan dalam perekonomian kita saat ini merupakan bukti-bukti konkret tentang kegagalan sistem ekonomi ribawi dan praktek bunga dalam perbankan kita, utang pemerintah maupun swasta ke luar negeri semakin bertambah besar. Bahkan kian tak terkendali karena bunga, dan terus bunga-berbunga. Sementara anggaran pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara nyata, justru sangatlah kecil! Ini berarti, keringat dan darah rakyat diperas hanya untuk kesejahteraan kaum kapitalis yang memusuhi Islam, sungguh sangat ironis dan tragis.

Demikian pula dalam ekonomi rakyat. Betapa banyak usaha masyarakat yang menjadi bangkrut karena rongrongan keharusan membayar bunga atas pinjaman modal yang diperoleh dari perbankan non-syariah. Belum lagi usaha bisa maju, kewajiban membayar bunga sudah menunggu. Sehingga alih-alih usaha akan dapat berkembang, malah bunga pinjaman yang tidak terbayar, justru akan baik berlipat-lipat, bunga-berbunga, demikian seterusnya. Sehingga pada akhirnya usaha menjadi bangkrut tanpa dapat bernafas, modal amblas, bahkan aset yang dijaminkan pun dirampas! Sungguh sangat naas.

Mari kita semua meninggalkan praktek riba dan bunga yang dilarang agama, yang diterapkan di bank-bank dengan sistem ribawi, agar kita semua mendapat rahmah dan berkah dari Allah SWT.

“Apabila riba dan perzinaan telah muncul di suatu daerah, berarti mereka telah menghalalkan bagi dirinya adzab dan siksa (dari Allah).” (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi)

Mari kita sadari, boleh jadi berbagai musibah dan bencana alam maupun sosial seperti tawuran, kriminalitas, yang terjadi dan menimpa kita semakin mencemaskan, merupakan peringatan atau bahkan siksa dari Allah SWT. Karena banyak dari kita yang masih saja melanggar larangan Allah SWT yang sangat tegas ini.

Maka, agar terhindar dari nestaoa yang lebih berat lagi di kemudian hari, sebagaimana dimaksud dalam hadist tersebut di atas, juga agar selamat dari siksa neraka di hari akhir yang abadi nanti, mari kita bertaubat dengan meninggalkan semua praktek ribawi yang mungkin telah dilakoni selama ini. Dan mari pula kita bermunajat, semoga Allah SWT mengampuni dosa kita, memaafkan kesalahan kita, dan memberkati hidup kita, dunia akhirat. Aamiin ya Allah.

Ekonomi Syariah itu khususnya, sebagai solusi kehidupan kita, telah terbukti dalam aplikasi sejarah da’wah Islamiyah di masa-masa silam, karena memiliki beberapa kaidah dan tujuan, antara lain sebagai berikut:

Untuk membentuk dan meningkatkan ekonomi masyarakat secara nyata, dengan melarang atau mengharamkan riba, dalam kerangka norma dan moral agama yang shahih, dengan selalu menjaga kedekatan dan dzikir kepada Allah SWT (QS. al-Jum’ah: 10).

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Kehidupan ekonomi itu harus dijalani dengan cara yang halal, tapi tidak lantas menghalalkan segala cara, seperti yang banyak terjadi dalam sistem ekonomi kapitalistik yang menerapkan sistem ribawi, dan dilakukan oleh orang kafir, atau juga kaum sekularis yang mengaku beragama (Islam sekalipun). Sebab kalau tidak halal, berarti mengikuti jejak langkah setan yang dilaknat:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)

Praktek serta aktivitas kehidupan yang halal pada hakikatnya adalah untuk kemaslahatan universal yang dibutuhkan oleh semua umat manusia!

Ekonomi syariah mengajarkan sekaligus membentuk tegaknya nilai-nilai keadilan, kejujuran, transparansi, anti korupsi, dan eksploitasi. Artinya misi utama ekonomi syariah adalah tegaknya nilai-nilai akhlak, moral dalam aktivitas bisnis, baik individu, perusahaan ataupun negara. Dengan demikian, akan dapat terbentuk kehidupan masyarakat yang harmonis, dengan tatanan sosial yang berlandaskan keadilan dan kemanusiaan yang universal. Tak ada diskriminasi antara muslim dengan non-Muslim dalam aspek muamalah dan interaksi sosial

Salah satu pemimpin Islam yang sangat tersohor adalah khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. Dalam masa pemerintahannya yang sangat singkat, kurang dari tiga tahun, pemerintah daulah (negara) Islam mencapai masa keemasan. Rakyatnya hidup dengan tenteram, damai dan berkecukupan, sehingga mereka tidak layak dan tidak mau lagi menerima zakat.

Hal itu dapat terjadi dan terbentuk berkat sistem pemerintahannya yang bersih, adil dan bijaksana, mengaplikasikan ekonomi syariah yang berlandaskan iman dan taqwa secara konsisten dan penuh komitmen. Keadilan dari prinsip ekonomi syariah bukan hanya sebagai “lip service” yang diucapkan secara indah dalam pidato, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata, sehingga akan tercipta negeri yang gemah ripah loh jinawi), di mana Tuhan mengampuni dosa-dosa para penduduknya.

Krisis sebagai Dampak Abaikan Syariah

Sebagai bangsa Indonesia, kita pernah diuji oleh Allah dengan berbagai krisis. Krisis yang paling besar dampaknya bagi kita sebagai bangsa adalah krisis politik dan ekonomi. Dua macam krisis ini sering menjadi saudara kembar. Kemunculan salah satunya seringkali dibarengi yang lain. Dua krisis ini pula yang secara eksplisit disebut dalam beberapa ayat al-Qur’an sebagai ujian bagi manusia. Allah SWT berfirman dalam al-Baqarah: 155 yang artinya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Krisis politik biasanya menghadirkan rasa takut. Kita kehilangan rasa aman. Kekacauan sosial dan kerusuhan meluas di mana-mana. Begitu pula, krisis ekonomi biasanya menyebabkan meluasnya kemiskinan. Akibatnya, masyarakat tidak dapat memenuhi standar kehidupan dasarnya secara layak. Banyak orang mengalami kebangkrutan dan kelaparan. Di tengah situasi seperti itu, tidak ada solusi kejiwaan yang paling ampuh kecuali kesabaran. Untuk itulah, Allah SWT memberi kabar gembira berupa kesuksesan jangka panjang bagi orang-orang yang mampu mempertahankan kesabaran.

Ada banyak sekali sebab terjadinya krisis. Dua sebab utamanya adalah tindak kejahatan yang dilakukan manusia secara sengaja dan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya karena ketidaktahuan. Manusia memang unik. Selain berpotensi menjadi pelaku kebaikan, manusia sering juga secara sengaja melakukan kejahatan dalam meraih kekayaan dan kekuasaan. Banyak teori yang menjelaskan bahwa krisis ekonomi dan politik Indonesia tahun 1998 adalah akibat kejahatan ekonomi para pengusaha hitam dan para penguasa serakah. Terhadap kejahatan mereka, kita diminta selalu waspada. Bukan malah sebaliknya, kita biarkan dan bahkan mengikuti jejak mereka. Kita diingatkan Allah SWT melalui surah al-Anfal: 25 yang artinya:

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. al-Anfal: 25)

Di tengah-tengah kejahatan yang merajalela, kita sering tergoda untuk berlaku jahat. Dalam politik, ketika perilaku politik uang sudah lumrah dilakukan, kita menganggapnya sebagai kewajaran. Dalam ekonomi, ketika kolusi sudah lumrah terjadi, kita merasa rugi jika tidak berpartisipasi. Dalam kondisi ini, kita sebenarnya sedang menggali kubur bagi masa depan kita sendiri.

Penyebab kedua dari terjadinya krisis adalah kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh kebodohan dan ketidaktahuan. Banyak hal yang bermanfaat malah mendatangkan bahaya bagi yang tidak berpengalaman dan berpengetahuan. Sebagai contoh kecil: sebuah pisau multifungsi bisa sangat berbahaya bagi seorang anak-anak usia dini. Pada awalnya, pisau itu bisa melukainya tanpa ia sengaja. Namun demikian, seiring dengan bertambahnya usia dan pengetahuan, pisau itu dapat membantunya menyelesaikan banyak persoalan. Begitulah kiasan yang berlaku pula dalam kehidupan sosial manusia. Banyak sistem politik dan ekonomi yang pernah dipikirkan dan diujicobakan oleh manusia. Sebagiannya memberikan manfaat, sekalipun sebagian yang lain menyengsarakan. Demikianlah, kenyataan itu membuat kita lebih memahami pelajaran yang terkandung dalam al-Qur’an:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum: 41)

Kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan sistem politik dan ekonomi yang pernah dianut manusia dalam sejarah. Kita bisa belajar dari bahaya dan kerusakan akibat kesalahan sistem komunisme dan kapitalisme agar kita berbuat lebih baik dari keduanya.

Terdapat dua sikap yang benar dalam menghadapi krisis. Terhadap krisis yang diakibatkan oleh kesalahan akibat ketidaktahuan, kita harus bersedia belajar memperbaiki kesalahan. Kita harus bersikap terbuka dan selalu menemukan kreasi dan inovasi untuk mendapatkan solusi. Dalam bahasa agama Islam, inilah yang disebut dengan istighfar: menyesali kesalahan yang telah terjadi dan menutupinya dengan amalan yang baik untuk menghapus kesalahan tersebut. Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari al-Qur’an surah ali-‘Imran: 135 yang artinya:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali-Imran: 135)

Bila kita pernah menderita akibat kesalahan yang pernah kita perbuat, kita berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Namun demikian, kita juga tidak bisa berhenti dan berdiam diri. Kita harus segera bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi kebaikan pada masa kini untuk menciptakan masa depan yang lebih menjanjikan.

Adapun terhadap krisis yang diakibatkan oleh kejahatan manusia, kita harus sabar. Artinya, kita harus menerimanya dengan rendah hati bahwa itulah rencana Allah SWT untuk menguji kita dalam hidup ini. Sebagai orang yang beriman, kita diuji apakah kita tetap bertahan dalam ketaatan kepada Allah atau sebaliknya kita ikut-ikutan dalam arus kejahatan yang sedang terjadi. Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari peringatan Allah SWT melalui surah al-Baqarah: 155-156 yang artinya:

“155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS. al-Baqarah: 155-156)

Di dalam kondisi yang sulit dan susah tersebut, kita harus memiliki kesadaran bahwa pada hakikatnya hidup ini adalah ujian dari Allah SWT, agar dapat diketahui siapakah yang lulus dan yang gagal. Yang lulus akan bertahan dalam ketaatan kepada Allah SWT, dan yang gagal akan berpaling dari jalan Allah SWT.

Sabar dalam ketaatan maknanya adalah kita selalu berusaha menyesuaikan dengan syariat atau tuntunan Allah sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Syariat itulah yang harus menjadi pedoman hidup kita dalam segala aspek kehidupan: akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Itulah perintah Allah SWT sebagaimana yang ditegaskan kepada Nabi Muhammad SAW dalam surah al-Jatsiyah ayat 18 yang artinya:

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jatsiyah: 18)

Para ulama mendefinisikan syariat sebagai berikut:

“Hukum-hukum yang disyariatkan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang dibawa oleh seorang Nabi, baik yang berkaitan dengan cara mengerjakan amal, yang dinamai far’iyyah amaliyyah, yang untuknya disusun ilmu fiqih; maupun yang berkaitan dengan keyakinan, yang dinamai ashliyyah wa i’tiqadiyyah, yang untuknya disusun ilmu kalam. Dan syara’ itu dinamai pula dengan din dan millah.”

Ketentuan-ketentuan inilah yang menuntun umat Islam sepanjang sejarah, sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga sekarang ini. Ketentuan itu pulalah yang pernah mengantarkan umat Islam kepada kejayaan peradaban sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Kenyataan ini tidak hanya diakui oleh umat Islam sendiri, tetapi juga diakui oleh para ilmuan non-Muslim di negara-negara Barat, semisal Edward Lambert dan Rene David, keduanya guru besar Fakultas Hukum Universitas Paris, pernah menyatakan bahwa syariat Islam merupakan salah satu bentuk undang-undang yang termaju di dunia di antara undang-undang yang pernah mereka pelajari. Demikian juga menurut ahli hukum Italia yang ternama: D. De Santilana.

Marilah kembali kepada syariat Islam dalam menyelesaikan segala persoalan. Jangan sampai kita meninggalkan apa yang telah ditetapkan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Mujadilah ayat 5 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.” (QS. al-Mujadilah: 5)

Itulah bukti kesabaran kita dalam ketaatan kepada Allah SWT dalam segala bidang: ekonomi, politik, dll. Semoga Allah memberikan kekuatan dan pertolongan-Nya kepada kita semua agar kita mampu selalu berada dalam tuntunan syariat-Nya. Aamiin.

Mengapa Harus Keuangan Syariah?

Bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersyukurlah kepada-Nya yang telah menunjukkan kita kepada agama Islam serta memberi anugerah yang melimpah.

Islam datang sebagai agama yang sempurna dengan aturan yang lengkap untuk memperbaiki negara dan manusia, dalam mengatur segala urusan dunia dan akhirat. Islam sangat peduli terhadap upaya pelurusan akidah dan akhlak, serta perbaikan akhlak dan muamalah. Salah satu hal penting dalam bermuamalah adalah bertransaksi bisnis karena menyangkut hubungan timbal-balik dalam masalah harta benda.

Ikhwatal Islam! Agama Islam membangun aturan bisnis berlandaskan iman dan berazaskan akidah. Allah SWT menghalalkan manusia melakukan transaksi jual beli dan berdagang agar urusan mereka di dunia ini menjadi teratur, sesuai dengan ketentuan, kebijaksanaan, dan kasih sayanag-Nya. Hal ini dalam rangka menjaga prinsip-prinsip keimanan, norma-norma akhlak, dan kaidah-kaidah muamalah yang syar’i, menghindari kesewenang-wenangan, penindasan, perampasan hak orang lain, dan memakan harta secara haram. Seluruh harta yang ada sesungguhnya adalah milik Allah SWT yang diamanahkan kepada umat manusia untuk melihat apa yang mereka perbuat. Allah SWT juga memberi beragam rezeki sebagai ujian dan cobaan untuk mengukur ketaqwaan manusia kepada Allah SWT.

Sistem keuangan syariah dipandang sebagai sistem yang paling ideal di antara sistem keuangan kapitalis dan sosialis. Hal ini karena sistem tersebut dilandasi oleh iman, kaidah, dan norma yang selaras dengan tujuan Islam sebagai rahmatan lil alamin, antara lain wataknya sangat manusiawi dan bersahabat, orientasinya agamis dan syar’i, pandangannya realitas dan positif. Islam tidak memberikan jalan kepada individu untuk memperkaya diri, berjudi, berspekulasi, dan merugikan orang lain.

Salah satu ciri khas dan keistimewaan sistem keuangan syariah adalah diharamkannya riba karena memiliki banyak dampak negatif dan dapat merugikan kehidupan individu maupun masyarakat. Riba adalah salah satu dosa besar sebagaimana firman Allah SWT dalam surah an-Nisa ayat 161 yang artinya:

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah melarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. an-Nisa’: 161)

Dan ditugaskan dalam hadist Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu yang artinya:

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!”, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa tujuh hal yang membinasakan itu?”, Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah (syirik kepada Allah), sihir, membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah kecuali tanpa hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan peperangan, menuduh wanita mukminah yang menjaga kehormatan diri dengan tuduhan berbuat zina.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’ie, al-Baihaqi, al-Baghawie, Ibnu Hibban, Ibnu Awanah dan at-Thahawie)

Sistem Keuangan Syariah menawarkan solusi karena melarang adanya transaksi yang bersifat Maisir, Gharar, dan Riba. Tidak sedikit masyarakat umum bahkan kalangan intelektual terdidik masih menganggap bahwa keuangan syariah sama saja dengan keuangan konvensional. Mereka juga beranggapan bagi hasil dan margin keuntungan, sama saja dengan bunga, bahkan mengklaim bahwa bagi hasil dan margin hanyalah nama lain dari sistem bunga.

Karakteristik mendasar dari sistem keuangan syariah, yaitu yang pertama Harta yang dimiliki oleh manusia dipandang sebagai titipan atau amanah Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya harus sesuai prinsip syariah. Kedua, mendorong pengelolaan harta (simpanan) sesuai prinsip syariah. Ketiga, menempatkan sikap akhlaqul karimah sebagai dasar pengelolaan dan hubungan antara para pelaku. Keempat, adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip keadilan, prinsip kesederajatan dan prinsip ketentraman antara pemilik, pengelola, dan pengguna dana. Kelima, penentuan besarnya risiko bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan anugerah-Nya dan senantiasa membimbing langkah-langkah kita ke arah yang benar, menjadikan upaya yang kita lakukan dapat bermanfaat, dan mencukupi kebutuhan kita dengan rezeki yang halal. Sesungguhnya Dia-lah tempat meminta yang paling baik dan tempat menaruh harapan yang paling pemurah.

Jual-Beli dalam Islam

Islam adalah agama yang mengajarkan tidak hanya bagaimana kita bisa beribadah, tetapi juga mengatur tentang hal-hal yang non-ibadah ritual, termasuk di dalamnya adalah transaksi muamalah (misalnya jual beli).

Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam harus mengetahui hal-hal penting sehingga jual beli tersebut menjadi sah dalam pandangan Islam. Itulah yang akan kita bahas dalam waktu yang pendek ini.

Jual-beli menurut bahasa artinya menukar sesuatu dengan sesuatu, sedang menurut syara’, artinya menukar harta dengan harta menurut cara-cara tertentu (aqad).

Landasan Hukum Jual Beli

Jual beli disyariatkan berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’.

  1. Berdasarkan al-Qur’an di antaranya:

“…Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. al-Baqarah: 275)

“Dan janganlah kamu berikan hartamu itu kepada orang yang bodoh dan harta itu dijadikan Allah untukmu sebagai pokok penghidupan…” (QS. an-Nisa: 5)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa’: 29)

  • Berdasarkan Sunnah

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Dari Rifa’ah bin Rafi’ ra.: bahwasanya Nabi SAW ditanya: “pencarian apakah yang paling baik?” Beliau menjawab: “Ialah orang yang bekerja dengan tangannya dan tiap-tiap jual beli yang bersih.” (HR. al-Bazzar dan disahkan Hakim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka sama suka (saling meridhai).” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

  • Berdasarkan Ijma’

Ulama telah sepakat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain baik dalam bentuk barang dan jasa. Oleh karena itu, barang dan jasa yang diperjual belikan haruslah halal.

Membicarakan jual-beli tidak akan sempurna bilamana tidak dikaitkan dengan riba, sebagai lawan dari jual-beli, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 275 tersebut. Mengapa Allah SWT membahas jual beli sekaligus riba dalam ayat tersebut, karena banyak orang menyamakan jual-beli dengan riba. Padahal sebenarnya keduanya sama sekali berbeda.

Jual-beli adalah suatu kegiatan ekonomi yang memiliki underlying transaction/dasar transaksi pemindahan barang dengan cara pembelian. Sementara itu riba adalah tambahan dari pokok dana pinjaman yang diperjanjikan di awal.

Rukun jual beli dalam Islam adalah adanya penjual, pembeli, harga, barang, dan niat. Rukun-rukun tersebut harus ada jika kita ingin bertransaksi jual beli. Untuk yang terakhir tentang niat ini, niat tidak perlu diucapkan, karena memang akan menjadi tidak maslahah apabila di hypermarket pembeli selalu mengutarakan niat untuk setiap pembelian barang di kasir. Allah SWT menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sehingga ketika empat rukun yang lain secara lahiriah telah dilaksanakan, maka niat tentu saja mengikuti. Misalnya, ketika pembeli membawa barang yang akan dibeli di dalam troli, maka secara otomatis pembeli sudah punya niat untuk membeli (tanpa diutarakan secara lisan). Buat apa pembeli membawa barang tersebut dalam troli kalau memang tidak ingin dibeli. Itulah jual beli. Inilah yang dihalalkan oleh Allah SWT. Sedangkan yang diharamkan adalah riba. Tidak hanya agama Islam saja yang melarang riba.

Riba tidak hanya lahir dalam masa Islam, tetapi sudah ada sejak zaman sebelum Islam. Semua agama Samawi mengharamkan riba karena memang tidak ada kemaslahatan sedikitpun dalam kehidupan bermasyarakat. Allah SWT berfirman yang artinya:


“160. Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. 161. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. an-Nisa’: 160-161)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 275)

Dengan menghindari riba, Insya Allah bisnis kita akan diridhai oleh Allah SWT. Semoga Allah SWT selalu menguatkan iman kita untuk selalu menjalankan transaksi bisnis dan keuangan syariah dengan baik.

Ijarah dalam Islam

Definisi Ijarah

Salah satu kegiatan muamalah yang paling sering dilakukan umat selain jual-beli adalah transaksi sewa-menyewa, atau ijarah. Ijarah, secara bahasa berasal dari kata al-ajru, yang bermakna upah atau ganti. Sedangkan secara definitif, inti dari definisi yang dibuat oleh banyak ulama menyatakan bahwa yang dimaksud ijarah adalah transaksi terhadap suatu manfaat, muba, dan dengan imbalan tertentu. DSN-MUI sendiri memaknai ijarah sebagai akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

Pada dasarnya, ijarah dilakukan dengan tujuan-tujuan yang mulia: mengedepankan prinsip ta’awun (tolong menolong dalam kebaikan), serta menghindari ikhtinaz (menahan uang dan membiarkannya menganggur, tidak diputar untuk transaksi yang bermanfaat). Di sinilah tampak sisi ibadahnya. Tidak heran jika bahkan al-Qur’an sendiri yang mengarahkan pedoman ijarah ini, seperti yang tersebut dalam surah al-Baqarah ayat 233 yang artinya:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 233)

Dengan begitu, kita jadi tahu perbedaan mendasar antara jual-beli dengan ijarah. Pertama, obyek jual-beli adalah barang nyata, konkret, sedangkan dalam ijarah obyeknya hanya jasa atau manfaat dari barang saja. Kedua, dalam jual-beli tidak terdapat batasan waktu pemanfaatan atau kepemilikan, sedangkan dalam ijarah ada batas waktu kepemilikan dan pemanfaatan suatu barang. Kita beli mobil, mobil kita miliki dan kita pakai tanpa batas waktu, Kita menyewa mobil, mobil itu hanya bisa kita manfaatkan dalam batas waktu tertentu saja.

Kelebihan ijarah adalah mempunyai scoup yang lebih luas ketimbang jual-beli, karena asas manfaat yang menjadi dasar transaksi. Sebaliknya, ijarah terhalang untuk digunakan pada barang yang manfaatnya habis saat digunakan. Kita tentu tidak bisa menyewakan makanan untuk dimakan, karena secara otomatis dengan dimanfaatkan, barangnya juga ikut habis, tapi kita bisa membelinya.

Landasan Ijarah

Rasulullah SAW telah memberikan kita gambaran mengenai ijarah yang benar, ijarah yang mengutamakan prinsip ta’awun, bukan sekadar sewa-menyewa. Banyak hadist yang menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW melakukan ijarah, dengan memperbaiki tata cara ijarah yang dilakukan umat sebelum diutusnya beliau menjadi rasul.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW menekankan pentingnya balance, baik dari sisi waktu maupun kualitas dan kuantitas penyewaan, baik itu barang maupun jasa. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra yang artinya:

“Hadist dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas ra. dia berkata bahwa Nabi SAW pernah mengupah seorang tukang bekam kemudian membayar upahnya”. (HR. Bukhari)

Soal upah sewa, bahkan Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya on-time dan on-site, demi menghindari perselisihan, seperti sabda beliau SAW dalam hadist riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar yang artinya:

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).

Peran LKS

Saat ini, kita dihadapkan pada realita dunia yang merujuk pada sistem non-syariah, termasuk di dalamnya sistem sewa yang kembali mengadopsi gaya jahiliyyah dalam beberapa aspeknya. Beruntunglah belakangan muncul kembali embrio kesadaran untuk kembali kepada cara yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Mekarnya kesadaran ini ditunjukkan dengan semakin menjamurnya institusi berbasis syariah di seluruh Indonesia, juga inisiasi aturan baku muamalah yang digagas dan terus-menerus disempurnakan oleh lembaga yang berkepentingan seperti BI, OJK, maupun MUI dengan DSN-nya.

Hal ini sangat menguntungkan kita, orang yang masih awam dengan keilmuan syariah. Jika kita selama ini kesulitan untuk melakukan transaksi yang halal dan bersih, baik dari proses maupun komponen-komponen muamalahnya, seperti ijarah misalnya. Kini, kita tinggal memanfaatkan lembaga-lembaga berbasis muamalah yang sudah konsen kepada syariah, baik itu bank, koperasi, atau lembaga dan institusi lain yang sudah berlabel syariah.

Gharar dalam Jual Beli

Di antara karakter agama Islam adalah syumuliyah (universal) yang maknanya bahwa agama ini mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, baik yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan penciptanya yang sering disebut dengan ibadah, maupun berkaitan erat dengan hubungan antar sesama manusia yang sering disebut dengan muamalah, karena itu Islam memerangi segala upaya untuk memisahkan urusan dunia terlepas dari tuntunan agama, bahkan Allah SWT melarang kaum muslimin untuk melupakan dan melalaikan dunia hanya fokus untuk akhirat semata, sebagaimana firman Allah SWT di surah al-Qashash ayat 77 berikut ini yang artinya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash: 77)

Abu Hayyan al-Andalusi rahimahullah menjelaskan akan maksud ayat tadi dengan menyatakan: “Carilah akhiratmu dengan duniamu, karena hal itu merupakan bagian dari setiap mukmin dari dunia ini, karena dunia merupakan ladang (amal) untuk akhirat, di dunia kebaikan diupayakan dengan maksimal dan ditinggikan derajatnya.” (dalam al-Bahr al-Mukhit, karya Abu Hayyan al-Andalusi)

Dengan demikian ayat tadi memerintahkan kaum muslimin untuk berkarya, dan salah satu bentuk karya yang terbaik adalah dengan transaksi jual beli karena transaksi semacam inilah yang diisyaratkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya pada ayat 10 dari surah al-Jum’ah yang artinya:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jum’ah: 10)

Ibnu Katsir menjelaskan: “Ketika kaum muslimin dibatasi aktivitas mencari nafkah sesuai adzan pertama dan diperintahkan untuk berkumpul (ke masjid menunaikan shalat), seusai menunaikan shalat diizinkan untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia Allah Ta’ala.”

Transaksi jual beli merupakan sumber mencari nafkah yang telah dihalalkan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 275 yang artinya:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 275)

Agama Islam yang bersumber dari Allah SWT telah menghalalkan transaksi jual beli, namun dalam praktek di lapangan masih sering terjadi penyimpangan dalam aplikasi transaksi jual belinya. Oleh karena itu kami ingin menyampaikan rambu-rambu jual beli dalam Islam, adapun di antara rambu-rambu tersebut adalah tidak boleh ada unsur gharar-nya, sebagaimana hadist berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW telah melarang (kita) dari (melakukan) jual beli barang secara gharar.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, an-Nasa’i)

Adapun pengertian dari gharar yang disampaikan oleh para ulama adalah sebagai berikut:

  1. Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ al Fatawa berpendapat: “Gharar adalah konsekuensi yang tidak diketahui.”
  2. Ibn Qayyim berpendapat: “Gharar adalah sesuatu yang tidak diketahui hasilnya, atau dikenal hakikat dan ukurannya.”
  3. Abu Ya’la berpendapat: “Gharar adalah hal yang meragukan antara 2 perkara, dimana tidak ada yang lebih nampak/jelas.”
  4. Al-Jurjani dalam kitabnya at-Ta’rifaat berpendapat: “Gharar adalah sesuatu yang tidak diketahui hasilnya, apakah dapat terealisasi atau tidak?.”

Karena itulah al Imam an Nawawi rahimahullah berpendapat:

“Adapun larangan jual beli secara gharar, merupakan prinsip yang agung dari sekian prinsip yang terkandung dalam bab jual beli (al-buyu’), sehingga Imam Muslim menempatkan hadist gharar ini di bagian pertama (dalam Kitabul Buyu’), dan memasukkan ke dalamnya berbagai masalah yang tidak terhitung jumlahnya.”

Di antara bentuk-bentuk jual beli gharar adalah:

  1. Larangan jual beli mulamasah dan munabadzah sebagaimana dalam hadist berikut:

Dari Abu Sa’ad al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah telah melarang kita dari (melakukan) jual beli secara mulamasah dan munabadzah.” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’ie, Malik, al-Baihaqi, Ibnu Hibban dan Ibnu Asakir)

  • Mulamasah ialah seseorang meraba pakaian orang lain dengan tangannya, pada waktu malam atau siang hari, tetapi tanpa membalik-baliknya lalu melakukan transaksi jual beli, atau setiap orang dari pihak penjual dan pembeli meraba pakaian rekannya tanpa memperhatikannya lantas dilanjutkan transaksi jual beli tersebut.

Adapun jual beli munabadzah adalah masing-masing dari kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli melemparkan pakaiannya kepada rekannya, dan salah satu dari keduanya tidak memperhatikan pakaian rekannya atau seseorang melemparkan pakaiannya kepada orang lain dan orang lain itupun melemparkan pakaiannya kepada pelempar pertama yang berarti masing-masing telah membeli dari yang lainnya tanpa diteliti dan tanpa saling merelakan.

  • Jual beli dengan konsep hablul hablah, sebagaimana hadist yang bersumber dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berikut ini yang artinya:

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Adalah kaum jahiliyyah biasa melakukan jual beli daging unta sampai dengan lahirnya kandungan, kemudian unta yang dilahirkan itu buntung.” Dan ia menjelaskan bahwa hablul habalah yaitu unta yang dikandung itu lahir, kemudian unta yang dilahirkan itu bunting, oleh karena itu Nabi melarang yang demikian itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Praktek jual-beli Hablu al-hablah adalah jual-beli tempo hingga unta betina melahirkan, kemudian dari anak yang dilahirkan itu ditunggu hingga besar dan unta itu bunting kembali. Konsep jual beli bertempo semacam ini terdapat unsur gharar yang berpotensi menimbulkan perselisihan, dan agama Islam hadir dalam rangka mencegah timbulnya pertikaian dan perselisihan di belakang hari, karena itu konsep demikian termasuk yang diharamkan.

  • Jual beli dengan melempar batu (bai’al hasha).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah SAW melarang jual beli dengan lemparan batu kecil….” (HR. Ahmad, Muslim, al-Baihaqi, dan al-Bazzar)

Penjelasan ulama terkait jual beli dengan lemparan kerikil dengan beberapa penafsiran, di antaranya dengan perumpamaan: Seorang penjual berkata ke pembeli: “Saya menjual dari sebagian pakaian ini, yang terkena lempara kerikil ini,” atau “saya menjual kepadamu tanah dari batas ini sampai jatuhnya kerikil yang dilemparkan si penjual.” Konsep jual beli semacam ini diharamkan oleh Islam.

  • Menjual barang yang belum menjadi miliknya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist berikut ini:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membeli makanan, maka janganlah menjualnya hingga ia menerimanya.” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi)

Dalam hadist di atas menyebutkan bahwa menjual makanan yang belum menjadi hak miliknya termasuk jual beli yang tidak diperbolehkan oleh Nabi, namun bukan berarti bahwa yang terlarang hanya makanan saja, sebab kaidah yang telah disepakati oleh para ulama adalah penyebutan sebagian namun yang dimaksudkan adalah keseluruhannya’.

Jual beli termasuk salah satu sarana untuk mendapatkan harta dan yang paling menjamur di tengah tengah masyarakat muslim, namun masih sedikit yang paham akan konsep jual beli dalam Islam sehingga seringkali terjadi penyimpangan dalam transaksi jual beli, karena itu sangat tepat kebijakan khalifah Umar bin Khaththab ra saat itu untuk melarang melakukan transaksi jual beli kecuali orang yang benar-benar paham terhadap syariat Islam.

Penanaman Modal yang Dilarang dalam Islam

Banyak kalangan masih memahami bahwa syariat agama Islam itu hanya sebatas ibadah dalam arti mahdloh, seperti shalat, zakat, puasa, haji dsb. Peri kehidupan sehari-hari dalam mu’amalah, bertransaksi seolah hal itu diserahkan sepenuhnya kepada manusia, dalam arti tidak diatur oleh Islam. Dalam konsep fiqh, manusia diatur oleh Islam, mulai dari masalah Ibadah, Muamalah, dan Da’wah. Sehingga tak ada satupun perilaku manusia itu yang luput dari tatanan syariat Islam.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’: 107)

Kehadiran agama Islam di tengah-tengah masyarakat akan benar-benar terasa dampak dan manfaatnya yakni sebagai agama yang rahmatan lil’alamin, apabila Islam telah difahami dan dilaksanakan secara sempurna, yaitu komunikasi manusia dengan Allah yang disebut ibadah. Dan komunikasi antar sesama makhluk yang disebut Muamalah.

Al-Qur’an menjelaskan yang artinya:

“Andaikan kebenaran mengikuti keinginan mereka, niscaya langit, bumi, dan segala isinya akan binasa/rusak/hancur.” (QS. al-Mu’minun: 71)

Salah satu dari sekian banyak syariat yang berkenaan dengan muamalat yaitu Investasi (penanaman modal) yang dalam istilah hukum Islam disebut mudharabah adalah menyerahkan modal uang kepada orang yang berniaga sehingga ia mendapatkan persentase keuntungan. Bentuk usaha ini melibatkan dua pihak: pemilik modal namun tidak bisa berbisnis. Dan kedua, pelaku bisnis namun tidak memiliki modal. Melalui usaha ini, keduanya saling melengkapi.

Para ulama sepakat bahwa sistem penanaman modal ini dibolehkan. Dasar hukum dari sistem ini adalah “ijma” ulama yang membolehkannya.

Diriwayatkan dalam al-Muwaththa:

“Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya bahwa ia menceritakan, “Abdullah dan Ubaidullah bin Umar bin al-Khaththab pernah keluar dalam satu pasukan ke negeri Iraq. Ketika mereka kembali, mereka lewat di hadapan Abu Musa al-Asy’ari, yakni gubernur Bashrah. Beliau menyambut mereka berdua dan menerima mereka sebagai tamu dengan suka cita. Beliau berkata, “Kalau aku bisa melakukan sesuatu yang berguna buat kalian, pasti akan kulakukan.” Kemudian beliau melanjutkan, “Sepertinya aku bisa melakukannya. Ini ada uang dari Allah yang akan kukirimkan kepada Amirul Mukminin. Saya meminjamkannya kepada kalian untuk kalian belikan sesuatu di Iraq ini, kemudian kalian jual di kota Madinah. Kalian kembalikan modalnya kepada Amirul Mukminin, dan keuntungannya kalian ambil.” Mereka berkata, “Kami suka itu.” Maka beliau menyerahkan uang itu kepada mereka dan menulis surat untuk disampaikan kepada Umar bin al-Khaththab agar Amirul Mukminin itu mengambil dari mereka uang yang dia titipkan. Sesampainya di kota Madinah, mereka menjual barang itu dan mendapatkan keuntungan. Ketika mereka membayarkan uang itu kepada Umar. Umar lantas bertanya, “Apakah setiap anggota pasukan diberi pinjaman oleh Abu Musa seperti yang diberikan kepada kalian berdua?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Apakah karena kalian adalah anak-anak Amirul Mukminin sehingga ia memberi kalian pinjaman? Kembalikan uang itu beserta keuntungannya.” Adapun Abdullah, hanya membungkam saja. Sementara Ubaidullah langsung angkat bicara, “Tidak sepantasnya engkau berbuat demikian wahai Amirul Mukminin! Kalau uang ini berkurang atau habis, pasti kami akan bertanggung jawab.” Umar tetap berkata, “Berikan uang itu semuanya.” Abdullah tetap diam, sementara Ubaidullah tetap membantah. Tiba-tiba salah seorang di antara sahabat Umar berkata, “Bagaimana bila engkau menjadikannya sebagai investasi modal wahai Umar?” Umar menjawab, “Ya, Aku jadikan itu sebagai investasi modal.” Umar segera mengambil modal beserta setengah keuntungannya, sementara Abdullah dan Ubaidullah mengambil setengah keuntungan sisanya.”

Diriwayatkan juga dari al-Alla bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Utsman bin Affan memberinya uang sebagai modal usaha, dan keuntungannya dibagi dua.

Satu hal yang logis, bila pengembangan modal dan peningkatan nilainya merupakan salah satu tujuan yang disyariatkan. Sementara modal itu hanya bisa dikembangkan melalui pemutaran atau perdagangan. Sementara tidak setiap orang yang mempunyai harta mampu berjual-beli. Dan tidak setiap yang berkeahlian dagang mempunyai modal. Maka masing-masing kelebihan itu dibutuhkan oleh pihak lain. Oleh sebab itu bisnis penanaman modal ini disyariatkan oleh Allah demi kepentingan kedua belah pihak.

Namun demikian dalam hal investasi ini syariat Islam dibatasi sebagaimana transaksi yang lain yakni tidak dalam hal-hal yang dilarang syara’ seperti:

  1. Pelaku (investor dan pengelola modal)

Kedua pihak di sini adalah investor dan pengelola modal. Keduanya disyaratkan memiliki kompetensi beraktivitas. Yakni orang yang tidak dalam kondisi bangkrut terlilit hutang. Orang yang bangkrut terlilit hutang, anak kecil (belum baligh), orang gila, orang idiot, semuanya tidak boleh melaksanakan transaksi ini.

  • Akad perjanjian

Akad perjanjian ini merupakan titik awal terjadinya bisnis ini sekaligus sebagai dasar dari penentuan besaran persentase pembagian keuntungan. Maka dari itu dalam akad perjanjian ini harus dilaksanakan dalam keadaan sadar dan tidak ada unsur paksaan sehingga kedua pihak sama-sama ridha.

  • Objek transaksi

Objek transaksi dalam penanaman modal ini tidak lain adalah modal, usaha, dan keuntungan.

  1. Modal

Syarat modal yang bisa digunakan investasi adalah harus merupakan alat tukar, seperti emas, perak, atau uang secara umum. Modal ini tidak boleh berupa barang, kecuali bila disepakati untuk menetapkan nilai harga barang tersebut dengan uang. Sehingga nilainya itulah yang menjadi modal yang digunakan untuk memulai usaha.

Mengapa dilarang penanaman modal dengan menggunakan barang komoditi?

  • Usaha

Usaha pokok dalam penanaman modal adalah di bidang perniagaan atau bidang-bidang terkait lainnya. Di antara yang tidak termasuk perniagaan adalah bila pengelola modal mencari keuntungan melalui bidang perindustrian. Bidang perindustrian tidak bisa dijadikan lahan penanaman modal, karena itu adalah usaha berkarakter tertentu yang bisa disewakan. Kalau seseorang menanamkan modal untuk usaha perindustrian, maka penanaman modal itu tidak sah, seperti menanamkan modal pada usaha pemintalan benang yang kemudian ditenun dan dijual hasilnya. Atau untuk usaha penumbukan gandum, lalu setelah menjadi tepung diadoni dan dijual. Demikian seterusnya.

Pengelola modal tidak boleh bekerja sama dalam penjualan barang-barang haram, berdasarkan kesepakatan ulama, seperti: jual beli bangkai, darah, daging babi, minuman keras, dan jual beli riba atau yang sejenisnya.

  • Keuntungan

Keuntungan dalam bisnis ini adalah hak kedua belah pihak, yang pembagiannya harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh hukum Islam:

  1. Diketahui secara jelas pada saat transaksi.

Yang perlu diingat, persentase ini bukan dari modal tapi dari keuntungan.

  • Keuntungan dibagikan dengan persentase yang sifatnya merata. Selanjutnya, bila ternyata tidak ada keuntungan sama sekali atau bahkan rugi, maka pemilik modal saja yang menanggung kerugian. Pengelola modal hanya mengalami kerugian kehilangan tenaga.

Antara perkara yang dilarang dalam perniagaan/penanaman modal ialah usaha yang mengandung unsur-unsur:

  1. Riba

“278. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. 279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Surah al-Baqarah: 278-279)

  • Memeras dan mengambil harta dengan cara yang batil

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa: 29)

  • Menipu dan bersumpah palsu.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW telah melalui setimbunan makanan (yang dijual) seraya memasukkan tangannya ke dalam timbunan makanan tersebut dan mendapati jari-jemarinya basah. Rasulullah SAW bersabda, “apakah semua ini wahai pemilik makanan?” Lelaki itu menjawab; “makanan ini telah ditimpa hujan wahai Rasulullah SAW.” Seraya Rasulullah bersabda: “Kenapa tidak kamu jadikan yang basah itu disebelah atas makanan agar manusia dapat melihatnya, barang siapa yang menipu maka ia bukan dari agamaku (yang sempurna).” (HR. Muslim)

  • Rasuah/suap

Rasulullah SAW bersabda:

“Allah SWT melaknat pemberi rasuah dan penerima rasuah.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak dan al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman)

  • Memonopoli barangan (ihtikar)

Rasulullah SAW bersabda:

Dari Ma’mar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memonopoli barangan (ihtikar) maka ia telah melakukan kesalahan. Yakni ia telah tersasar jauh dari perkara yang sebenar dan keadilan.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Awanah, al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah)

  • Haram menjual najis

Telah berlaku Ijma’ di kalangan fuqaha tentang haramnya segala bentuk perniagaan barang yang najis pada zatnya, seperti arak, babi, anjing, bangkai, dan seumpamanya. Islam mengharamkan sebarang bentuk perniagaan barangan najis ini karena dia bisa mendatangkan mudarat dan kerusakan di muka bumi.

Dari Jabir bin Abdullah katanya, ia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada tahun pembukaan kota Makkah, “sesungguhnya Allah SWT dan Rasulnya telah mengharamkan jual beli babi, bangkai, arak, dan patung berhala…” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi)

Hutang-Piutang (Qardh) dalam Islam

Salah satu kegiatan muamalah yang kadang kita lakukan adalah hutang-piutang. Baik hutang-piutang yang dilakukan secara perseorangan maupun antara seseorang dengan lembaga. Secara individu seseorang boleh berhutang kepada orang lain, baik untuk usaha maupun untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Secara individu seseorang juga dapat berhutang kepada lembaga keuangan yang menyediakan dana, baik untuk memenuhi kebutuhan mendesak maupun untuk modal usaha.

Secara syar’i, hutang piutang boleh dilakukan oleh seorang muslim, baik antara muslim dengan muslim maupun muslim dengan non-Muslim. Dalam al-Qur’an arti surah al-Baqarah ayat 282 disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkan, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah: 282)

Ayat tadi memberikan suatu ketentuan bagaimana seorang muslim melakukan utang piutang. Kelanjutan ayat tersebut memberikan guidance (petunjuk) bagaimana utang-piutang itu harus dicatat, disaksikan orang lain, dan sebagainya, agar tidak ada yang lupa dan pada akhirnya tidak ada yang dirugikan. Persoalan muamalah yang dilakukan secara tidak tunai secara psikologis potensial memunculkan peluang terjadinya perubahan pemikiran dan pemutarbalikan fakta. Oleh karenanya, catatan utang-piutang menjadi dokumen penting yang dapat menghindarkan terjadinya perselisihan antar pihak yang terlibat dalam utang-piutang. Karena dengan adanya dokumen yang terpercaya, maka pihak-pihak terkait tidak akan lupa maupun menghindar dari tanggung jawab maupun mengubah perjanjian secara sepihak.

Selain keharusan untuk mengadministrasikan kegiatan utang-piutang, Islam juga menekankan kepada umatnya untuk senantiasa menepati janji. Dalam utang-piutang, sudah pasti, terjadi perjanjian, yakni seseorang yang berhutang memberikan janji tentang waktu pembayarannya kepada pihak yang memberikan hutang. Tentu, menepati janji tentang waktu pembayaran hutang termasuk dalam perintah untuk menepati janji. Dalam al-Qur’an dinyatakan yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu

[kepada Allah dan manusia]

…” (QS. al-Maidah: 1)

Terkait dengan hutang piutang, ayat tadi lebih fokus pada pihak yang berhutang agar tidak mengingkari janji. Meskipun demikian juga berlaku bagi pihak pemberi hutang, yakni agar tidak mengingkari perjanjian yang sudah dibuat dengan pihak yang berhutang. Sehingga ayat yang memerintahkan untuk memenuhi perjanjian berlaku secara umum, baik pihak yang berhutang maupun pihak yang memberi hutang, agar sama-sama memenuhi dan menepati janji yang sudah disepakati bersama.

Di sisi lain, jika ternyata pihak yang berhutang belum membayar dikarenakan memang tidak memiliki kemampuan untuk membayar, maka pihak pemberi hutang-pun harus memberikan kelonggaran. Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-Baqarah (2) ayat 280 menyebutkan sebagai berikut yang artinya:

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 280)

Pihak pemberi hutang harus memberikan waktu tangguh kepada pihak penghutang yang tidak memiliki kemampuan membayar tepat waktu. Bahkan jika perlu, mereka menyedekahkan harta yang dihutang jika si penghutang tidak mampu membayar. Perbuatan menyedekahkan hutang tersebut disebut oleh Allah sebagai perbuatan yang baik. Secara psikologis menyedekahkan harta yang dihutang orang lain merupakan amalan yang tidak mudah untuk dilakukan. Karena itulah maka perbuatan tersebut disebut oleh Allah sebagai perbuatan yang lebih baik menagih hutang kepada si penghutang yang tidak memiliki kemampuan.

Nabi SAW menyatakan:

“Siapa saja yang membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu dalam keperluannya, siapa saja yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat, dan siapa saja yang menutup aib saudaranya muslim maka Allah akan menutup aibnya kelak pada hari kiamat.” (HR. Muslim, Ahmad, dan an-Nasa’ie)

Mengacu pada hadist di atas, menyedekahkan harta yang dihutang orang lain (sesama muslim) yang tidak mampu membayar, dapat bermakna memberikan kemudahan atau membebaskan kesulitan orang lain. Karena itulah maka dijanjikan oleh Allah bahwa orang yang membebaskan kesulitan orang lain di dunia, ia akan dibebaskan dari kesulitan pada saat di akhirat.

Perbuatan menyedekahkan hutang tersebut, tentu, tidak berdiri sendiri. Artinya, Allah tidak hanya memberikan himbauan secara sepihak kepada orang yang memberikan hutang kepada orang lain. Tetapi Allah juga menegaskan kepada pihak yang berhutang agar berupaya keras untuk membayar hutangnya. Nabi SAW dalam suatu hadist menyatakan:

“Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang yang mampu adalah suatu kedzaliman.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ahmad, Malik, Ibnu Hibban, al-Bazzar, al-Darimie, dan al-Baihaqi)

Dalam hadist lain Nabi SAW mengapresiasi orang yang membayar hutang secara baik.

“Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang terbaik pembayaran hutangnya.” (HR. Ibnu Majah)

Dari ayat serta hadist-hadist di atas adalah bahwa dalam hal hutang-piutang, kebaikan diukur dari kesediaan seorang yang memiliki harta untuk memberikan pinjaman kepada orang yang sedang mengalami kesulitan. Jika pihak yang diberi hutang ternyata belum mampu membayar maka si pemberi hutang bersedia memberi waktu tangguh, dan bahkan menyedekahkan harta yang dihutangnya jika ternyata yang diberi hutang betul-betul tidak memiliki kemampuan untuk membayar. Di sisi lain, bagi pihak yang diberi hutang harus membayar sesuai janjinya. Mengingkari janji dalam hal pembayaran merupakan tindakan dzalim yang dibenci oleh Allah dan ketepatan pembayaran hutang menjadi salah satu indikator kebaikan seseorang.

Illat yang melatari agar seorang pemberi hutang memberi tangguh atau menyedekahkan hutang adalah ketidakmampuan si penghutang. Namun jika ternyata si penghutang memiliki kemampuan untuk membayar, maka ia wajib membayarnya. Islam tidak hanya menekan satu pihak, tetapi kedua belah pihak, sehingga aspek keadilan antara pemberi hutang dan penghutang sama-sama ditekankan. Dengan demikian, tidak akan ada yang dirugikan.

Aturan tentang hutang piutang dalam Islam tidak lepas dari misi saling tolong menolong. Bagaimana agar seorang yang dalam keadaan (terjepit) dalam pemenuhan kebutuhannya dapat ditolong oleh muslim lain yang memiliki harta dan dalam kondisi longgar. Sehingga keadaan sulit akan dapat diselesaikan berkat bantuan saudara muslim lainnya.

Dalam al-Qur’an disebutkan:

“ … Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 2)

Mengingat ayat dan hadist di atas, marilah kita bersama-sama berupaya untuk dapat memberikan pinjaman kepada saudara-saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Jika perlu, kita menyedekahkan harta kita untuk orang-orang yang betul-betul dalam kesulitan dan tidak memiliki kemampuan. Demikian juga ketika kita memiliki tanggungan hutang kepada orang lain, marilah segera kita tunaikan sesuai janji kita, karena pelanggaran janji adalah suatu perbuatan dzalim yang harus dihindari. Pemenuhan janji, khususnya dalam pembayaran hutang, adalah salah satu indikator kebaikan dan keshalehan kita.

Hijrah ke Bank Syariah

Fenomena sosial dan alam hari ini menunjukkan gejala-gejala yang mengkhawatirkan. Di mana-mana kita melihat dan menyaksikan beragam bencana alam, seperti kekeringan, banjir, kebakaran hutan, dan lain-lain. Di sisi lain kita juga menyaksikan berbagai bencana kemanusiaan seperti peperangan di timur tengah, tawuran antar kampung/desa, tindak kekerasan kepada perempuan dan anak, semua ini sudah sampai pada tahapan yang mengkhawatirkan. Semua peristiwa yang terjadi baik itu berkaitan dengan bencana alam dan maupun kemanusiaan yang terjadi ini adalah akibat dari tindakan manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum: 41)

Apabila semua kerusakan yang terjadi di dunia ini adalah sebagai akibat dari perbuatan manusia, maka satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan memperbaiki perilaku manusia yang menjadi penghuni bumi ini. Perbaikan perilaku manusia akan dapat dilakukan dengan mengupayakan revolusi mental melalui pendidikan agama/ajaran Islam (baca: Syariah). Syariah atau ajaran Islam adalah agama yang bertujuan memperbaiki karakter dari manusia yang merusak, menjadi memperbaiki, karakter penghancur menjadi pembangun, karakter tamak menjadi qana’ah, karakter bakhil menjadi pemurah, dari akhlak buruk menjadi berakhlak mulia. Karena itu solusi bagi berbagai macam kerusakan yang ada ini adalah kembali kepada syariah.

Kembali kepada syariah tidak hanya memiliki makna agar kita memperbaiki relasi dan hubungan kita dengan Allah SWT, tetapi juga relasi kita dengan sesama dan alam lingkungan. Harmonisasi hubungan dengan manusia dan alam sangat berpengaruh besar terhadap hubungan kita dengan Allah SWT. Karenanya, perbaikan sektor kehidupan kita tidak hanya melingkupi hal-hal yang terkait dengan ibadah ritual kita, tetapi juga harus menyentuh aspek-aspek sosial dan lingkungan. Bersyariah dengan menjalankan segala aturan Allah SWT bukan hanya tatkala kita berada di masjid, madrasah, tetapi taat kepada Allah SWT harus terus menjadi semangat kita termasuk ketika di pasar, di jalan-jalan, kantor, di hutan belantara, di lautan, dan lain-lain. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Bertaqwalah kamu di mana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan kebaikan, dan bergaullah dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, al-Hakim, at-Thabrani, al-Baihaqi, dan at-Tirmidzi)

Berdasarkan hadist di atas jelas sekali bagaimana agama Islam melalui syariahnya mengatur kita semua dalam berbagai aspek kehidupan; ibadah, berkeluarga, berbisnis, bernegara dan berbangsa semuanya tidak lepas dari syariah. Dan seluruh aturan-aturan yang ada dalam Islam sesungguhnya akan membawa keberuntungan bagi umat manusia, baik dalam kehidupan dunia dan akhiratnya kelak. Kemaslahatan ini dirumuskan dalam lima rumusan kemaslahatan yang meliputi agama, jiwa, akal, harta, kehormatan dan turunan. Kemaslahatan sejati adalah manakala lima hal ini terjaga dan terpenuhi semua kebutuhannya.

Berdasarkan hal di atas, maka berekonomi dan berbisnis yang membawa keberuntungan adalah apabila kita kembali kepada prinsip-prinsip syariah dalam menjalankan roda perekonomian kita. Hal ini karena sistem perekonomian syariah berbasis kepada sektor riil dan nyata dalam kehidupan, serta keuntungannya di dasarkan kepada besar kecilnya risiko dan amal-amal yang telah dilaksanakan. Berbeda dengan sistem konvensional yang berbasis kepada bunga dan besaran modal/capital sehingga hal ini akan menimbulkan ketidakadilan karena hanya akan menguntungkan orang kaya dan pemilik modal, sementara para pekerja akan terus-menerus mengalami ketergantungan dan tidak memiliki daya tawar yang tinggi dihadapan para pemodal. Prinsip syariah berdiri atas asas keadilan, persamaan, tolong-menolong, pemerataan dan lainnya. Sementara bisnis dan perekonomian konvensional hanya berorientasi kepada pencarian keuntungan duniawi semata dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan mempraktekkan sistem bunga yang tidak lain adalah saudara kembar dan identik dari riba yang diharamkan oleh Islam dan agama-agama samawi seperti Yahudi dan Nashrani, karena mendzalimi pihak-pihak yang lemah. Prinsip syariah adalah berkompetisi secara sehat dalam mencapai kesuksesan bersama dengan tetap mengulurkan bantuan bagi siapa pun yang membutuhkannya.

Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa (kepada Allah) niscaya kami bukakan atas mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka membohongkan (Allah), maka kami sanksi mereka atas apa yang mereka usahakan.

Dan siapa-siapa yang bertaqwa kepada Allah, akan dijadikan baginya jalan keluar (bagi masalah-masalahnya), dan akan diberikan rezeki dari yang dia tidak duga-duga.

Meraih Roh Bank Syariah

Orang beriman adalah manusia yang dijanjikan Allah SWT sebagai khalifah atau penguasa atau wakil Allah SWT di bumi. Janji Allah ini akan menjadi nyata, bila mereka teguh beriman dan tegar beramal saleh. Satu konsekuensi logis dari kedudukan sebagai wakil Allah SWT di bumi ialah, orang beriman harus menelaah, memilih, menjabarkan dan melaksanakan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai amanat Allah SWT di atas bumi.

Kewajiban ini tidak boleh ditawar-tawar atau diragukan; bila ditawar-tawar atau diragukan, berarti mereka maksiat kepada Allah SWT atau berkhianat terhadap amanat Allah, yang cepat atau lambat, mereka tidak dijamin lagi sebagai penguasa seperti yang semula dijanjikan Allah SWT.

Bila amanat Allah SWT itu terus dijalankan semaksimal mungkin, maka, Allah SWT akan menurunkan karunia kemashlahatan, di antaranya berupa keteguhan mengamalkan agama dan kebebasan dari berbagai rasa takut dan waswas, yakni bebas dari rasa takut terkena penyakit, takut miskin, takut kesusahan, penindasan, tipu-daya dan permusuhan. Singkatnya, bebas dari rasa takut dalam kesehatan, ekonomi, hukum, sosial dan apa saja. Artinya fungsi khalifah berbuah karunia fungsi mashlahah. Perhatikan tawaran janji Allah SWT berikut yang artinya:

“Dan Allah SWT telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nuur: 55)

Persoalan yang mesti dipikirkan dan diupayakan oleh orang yang beriman adalah, bagaimana supaya seluruh pikiran, tenaga, waktu, dan miliknya dikerahkan untuk melaksanakan Qur’an dan Sunnah yang diamanatkan Allah SWT.

Di sini terkandung tiga perkara secara berurut. Pertama, janji Allah SWT tentang manusia beriman sebagai wakil Allah SWT di bumi. Kedua, kewajiban manusia beriman untuk mengerahkan segala peluang dan kemampuan untuk memenuhi pelaksanaan pilihan sunnatullah atau amanat Allah SWT di muka bumi; perkara ini boleh disebut wilayah terbatas fungsi khalifah. Ketiga, balasan dari Allah SWT kepada manusia yang terus dan telah setia berkorban dalam rangka memikul amanat Allah SWT berupa karunia kemenangan dan kedamaian sejati; perkara ini boleh disebut wilayah tidak terbatas karena fungsi mashlahah di dunia hingga di akhirat.

Perkara pertama dan ketiga adalah wewenang atau urusan Allah SWT, maka manusia tidak berdaya apa-apa, termasuk tidak berdaya menciptakan kemenangan, kedamaian, dan kemakmuran. Yang jadi urusan manusia, atau yang harus dipikirkan dan diupayakan oleh manusia hanyalah bertumpu pada perkara kedua saja, yaitu bagaimana caranya agar pilihan sunnatullah atau amanat Allah SWT semampu manusia terjabarkan di muka bumi, atau terpenuhinya fungsi khalifah. Dan sesungguhnya mutu kemenangan, kedamaian, dan kemakmuran yang bakal dikaruniakan Allah SWT, atau karunia fungsi mashlahah, tergantung pada tingkat ketulusan pengorbanan manusia beriman dalam memikul pilihan amanat Allah SWT itu; ketika demikian, fungsi khalifah yang terbatas berbuah karunia fungsi mashlahah yang tidak terbatas.

Ilmu ekonomi-bisnis konon menyajikan kepada manusia langkah-langkah cerdas untuk menciptakan sebesar-besar kepuasan dan kemakmuran. Sunnatullah membukakan rahasianya kepada manusia, bahwa soal puas atau tidak puas, tenteram atau sejahtera, senang atau susah, perkara menang atau kalah, dan semacamnya, seluruhnya, adalah urusan Allah, yaitu sebagai akibat atau anugerah dan balasan dari Allah, atau karena fungsi mashlahah. Jangan harap manusia akan mendapatkan anugerah kepuasan dan kemakmuran, bila sebelumnya mereka tidak berminat berlomba melaksanakan pilihan sunnatullah, atau fungsi khalifah, di muka bumi.

Mustahil Allah SWT ingkar janji, mudah saja menganugerahkan kemenangan, kepuasan dan kemakmuran sejati kepada manusia yang enggan berikhtiar menjalankan amanat Allah SWT di atas bumi. Kalaupun ada kemenangan yang mereka peroleh, maka mereka bukan sebenar-benar kemenangan, melainkan kemenangan semu. Perhatikan firman Allah SWT yang artinya:

“196. Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. 197. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS. ali-‘Imran: 196-197)

Kalau Anda shalat, setelah takbir pembuka tentu Anda membaca di antaranya: inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbilaalamiin; bacaan ini artinya begini: sungguh-sungguh shalatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah SWT, Tuhan pengatur seluruh isi alam. Demikian itu janji atau sumpah kita, berulang-ulang selama hidup, semuanya ini karena dan untuk Allah SWT. Kalau kita taat pada janji tersebut, maka seluruh niat yang bersih dan segenap perbuatan yang baik harus ditujukan hanya untuk Allah SWT. Artinya, haram memiliki niat yang buruk dan haram melakukan perbuatan mungkar, karena hal itu maksiat kepada Allah SWT dan itu adalah tanda manusia ingkar janji dan mereka jadi pengkhianat.

Menurut al-Qur’an, hidup di dunia adalah ujian, bukan tujuan. Dalam pergaulan hidup dunia, memang sering beredar kenyataan, orang perlu jadi pengkhianat untuk mencari menang dan meraih untung; juga pada kenyataan, orang harus cerdik merancang akal bulus, tipu daya dan tipu muslihat untuk merebut duit dan kursi. Lantaran hidup dunia jadi tujuan.

Tetapi bukanlah sesungguhnya manusia memerlukan kebenaran, tidak tergiur semata-mata pada kenyataan? Bukankan memilah dan memilih di antara kebenaran dan kenyataan adalah pembeda antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, antara manusia dan binatang, pemisah antara pemikul amanat dan pelaku pengkhianat? Bukankah Allah SWT telah memastikan dalam firman-Nya yang artinya:

“37. Adapun orang yang melampaui batas 38. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia 39. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Nazi’at: 37-39)

Maka sekarang kita camkan bersama, jangan pernah kita mengeruk keuntungan dan kepuasan diri dengan jalan dusta, ingkar janji, dan khianat; jangan pernah Anda merebut duit dan kursi dengan cara akal bulus, tipu daya, dan tipu muslihat; jangan pernah Anda meraih ‘rezeki’ dengan cara-cara riba, kezhaliman, maysir, gharar, dan haram. Yang Anda peroleh itu bukan hasanah namanya, melainkan dalam istilah al-Qur’an disebut mataa’ul guruur, artinya kepuasan semu atau kesenangan yang menipu. Yang Anda dapat itu bukan rahmat, tetapi laknat, akhirnya bukan selamat, cepat atau lambat pasti kualat, lantaran manusia ingkar amanat dan bertukar jadi pengkhianat.

Karena itu, dalam suka dan duka, ketika senang atau susah, di saat sempat atau sempit sungguh manusia perlu sabar dan teguh memikul amanah menggapai kebenaran; itu juga berarti, sebuah perilaku usaha harus berpijak dari niat yang suci dan perilaku yang benar, sekaligus perilaku usaha juga harus menjadi bagian dari hidup atau ibadah yang ditujukan karena dan untuk Allah SWT. Di sini terkandung jihad mu’amalah sepenuhnya. Dan di sini pula kita akan menggapai roh-nya bank dan transaksi syariah.

Akhirnya, bila jihad mu’amalah telah dimulai, pasanglah niat, sikap dan perilaku usaha karena pilihan sunnatullah sebagai amanat Allah SWT diatas bumi, yaitu al-Qur’an dan sunnah. Artinya sikap dan perilaku sebagai bagian dari hidup atau ibadah, atau sebagai bukti pelaksanaan Allaahus-shamad, Allah SWT tumpuan harapan, atau Allah SWT tempat bergantung. Konsekuensi adalah para pelaku usaha mu’amalah hendaknya berupaya memahami agama, atau wajib belajar al-Qur’an dan berikhtiar menghayati tuntunan al-Qur’an; untuk itu hendaknya mereka sabar dan teguh menegakkan shalat dan rukun Islam lain, kemudian lewat hubungan usaha mu’amalah ini mereka menghindar dari rupa-rupa pikiran sesat dan perilaku durhaka, mereka jadi saksi pengamalan agama yang makin sempurna, untuk menggapai makna syahadat, asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah, akhirnya kita menjadi syuhada. Inilah yang terekam dalam firman-Nya yang artinya:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 143)

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menemai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. al-Hajj: 78)

Nah, bila tidak berpijak pada pertimbangan pilihan sunnatullah sebagai amanat Allah SWT, maka sebuah perilaku usaha hanya sekadar sandiwara, atau sekadar urusan menang-kalah, bukan urusan benar-salah, persis atau lebih buruk dari binatang. Perilaku usaha macam ini berbahaya, akhirnya menuju peri hidup ala-neraka. Dan syahadat kita tidak terbukti, cuma syahadat palsu. Na’udzubillaahi.

Jalan hidup kita mengandung hanya dua pilihan masalah. Pertama, masalah untung-rugi, atau masalah menang-kalah. Kedua, masalah benar-salah. Memilih yang pertama ataukah yang kedua, inilah pembeda antara syirik atau tauhid, pemilah antara kufur atau iman, dan pemisah antara pelaku pengkhianat atau pemikul amanat. Roh sejati bank syariah mesti diraih dan terpancar pada pilihan kedua, pola bisnis yang benar, mustahil dapat dihayati lewat sekadar jalan cari menang atau rebut untung. Mustahil Allah SWT keliru dan ingkar atas janji-Nya.

Alam ta’lam? Tidakkah Anda mau mengerti? Wallahu a’lam.

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.

Tinggalkan Komentar