Indonesia Statistics

Indonesia
75,699
Confirmed
Updated on 12/07/2020 8:59 pm
Indonesia
35,638
Recovered
Updated on 12/07/2020 8:59 pm
Indonesia
3,606
Deaths
Updated on 12/07/2020 8:59 pm

Indonesia Statistics

Indonesia
75,699
Confirmed
Updated on 12/07/2020 8:59 pm
Indonesia
35,638
Recovered
Updated on 12/07/2020 8:59 pm
Indonesia
3,606
Deaths
Updated on 12/07/2020 8:59 pm

Musailamah Al-Kadzdzab dan Bani Hanifah

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Charles Darwin dan Teori Evolusi

Seorang mahasiswa Jepang bernama Takuya Nishikawa, berumur 20 tahun, dan berasal dari Tokyo, bertanya kepada Dr. Zakir Naik tentang apakah manusia benar-benar berevolusi dari...

Dr. Zakir Naik Mendapat 2 Pertanyaan dari Pria Mualaf

Seorang pria muallaf yang baru saja masuk Islam bertanya kepada Dr. Zakir Naik ketika beliau berceramah di Tokyo pada tanggal 7 Oktober 2015. Pria...

Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan Cerdas Pemuda Ateis

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Zakir Naik? Ulama perbandingan agama asal India ini lagi-lagi memukau penonton dengan pengetahuannya yang luar biasa tentang ilmu sains....

Kenapa Manusia Sering Ditimpa Masalah dalam Hidupnya? | Dr. Zakir Naik Menjawab

Seorang gadis ateis asal Jepang bertanya kepada Dr. Zakir tentang kenapa Tuhan memberikan kesulitan-kesulitan hidup kepada manusia di dunia ini? Lalu bagaimana pandangan seorang...

Apakah Al-Qur’an Melarang Penggunaan Senjata Nuklir? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada saat Dr. Zakir Naik berceramah di Jepang tanggal 8 November 2015 yang lalu, ada sebuah pertanyaan unik yang diajukan oleh seorang guru asal...

Mengenal Musailamah

Dia adalah Musailamah bin Tsumamah bin Kabir bin Hubaib Al-Hanafi Abu Syamah. Dia adalah seorang yang mengaku nabi dan mempunyai umur panjang. Sehingga jika ada seorang pembohong dalam perumpamaan Arab disebutkan, “Dia lebih bohong daripada Musailamah.” Dalam hal ini Musailamah dijadikan sebagai ikon pembohong.

Dia lahir dan dibesarkan di daerah Yamamah, tepatnya di desa yang bernama Jabaliyah yang berlokasi dekat Ainah di lembah Hanifah di wilayah Nejed. Di zaman Jahiliyah, dia dijuluki sebagai Rahman atau sang pengasih dan dikenal dengan Rahman Al-Yamamah. Dia melanglang buana ke perkampungan-perkampungan Arab dan non Arab guna mempelajari ilmu-ilmu yang bisa menarik simpati orang kepadanya, sehingga akan berpihak kepadanya.

Dia pergi ke gunung Sadanah dan Hawwa`, berguru kepada para tukang peramal, dukun, tukang sihir, pentakwil pertanda burung dan pengikut bangsa Jin. Dalam perdukunannya, dia bisa menyambung sayap burung yang terpotong dan bisa memasukkan telur ke dalam botol.

Musailamah mengaku sebagai seorang nabi dan Rasulullah sedang berada di kota Makkah. Musailamah sering mengirim orang pergi ke Makkah untuk mendengarkan Al-Qur`an lalu membacakan di hadapannya, maka dia membacanya dan memperdengarkannya kepada orang lain, serta mengakui itu adalah ucapan dia.

Pada tahun 9 Hijriyah ketika Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab, kabilah Bani Hanifah mendatangi kota Madinah untuk menyatakan diri masuk Islam. Dan Musailamah ikut bersama mereka. Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Musailamah adalah termasuk dari kelompok Bani Hanifah yang menemui Rasulullah. Mereka mendatangi Nabi dan mereka menutupi muka Musailamah dengan pakaian. Nabi menemui dan menyapanya, yang mana pada waktu itu Nabi sedang memegang ranting pelepah kurma. Nabi bersabda, “Jika kamu meminta ranting ini, aku tidak akan memberikannya.” Pada waktu itu Musailamah meminta kepada Nabi bagian dari kenabian atau sebagai khalifah sesudah beliau.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Musailamah tidak termasuk dalam kelompok yang menemui Nabi itu, dia absen karena menjaga barang-barang rombongannya. Ketika Nabi membagikan hadiah, beliau memberinya bagian seperti bagian mereka. Dan Nabi bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya kedudukan Musailamah tidak seburuk kalian,” karena dia bertugas menjaga barang-barang mereka.

Dalam riwayat pertama kelihatan bahwa Musailamah adalah seorang yang mencurigakan sehingga mereka menutupi wajahnya dengan pakaian, seakan dia menyembunyikan sesuatu di balik raut wajahnya dan apa yang ada dalam dirinya. Dan benar, seperti itulah kehidupan Musailamah. Sabda Nabi “Kedudukan Musailamah tidaklah seburuk kalian” maksudnya bukan berarti dia adalah yang terbaik di antara mereka, akan tetapi mereka adalah buruk dan dia tidak lebih buruk dari mereka, bahkan dia adalah buruk seperti mereka.

Seiring dengan berjalannya waktu kenyataan membuktikan bahwa Bani Hanifah adalah mayoritas orang buruk dan Musailamah adalah dedengkotnya.

a. Kembalinya Rombongan Bani Hanifah

Ketika rombongan Bani Hanifah kembali ke Yamamah, tempat asal mereka, Musailamah memproklamirkan dirinya sebagai nabi dan mengaku telah mendapat bagian kenabian dari Rasulullah, berdasarkan sabda Nabi di atas “Kedudukan Musailamah tidaklah seburuk kalian.” Kemudian Musailamah mengumumkan kenabiannya di hadapan kaumnya sambil membacakan sajak-sajak, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu semaunya sendiri.

Di antara sajak-sajak karangannya yang dia anggap sebagai Al-Qur`an yang diwahyukan kepadanya adalah, “Sungguh Allah telah menganugerahkan atas orang hamil, Allah mengeluarkan darinya makhluk yang berjalan, dari antara kulit perut dan isinya, di antara mereka ada yang mati dan ditanam dalam tanah, di antara mereka ada yang hidup sampai ajal tiba, dan Allah mengetahui yang rahasia dan tersembunyi.”

Di antara sajaknya lagi adalah, “Wahai katak betina, anak dua katak, bersuaralah, bagian atasmu di air dan bawahmu di tanah, kamu tidak melarang orang minum dan tidak memperkeruh air.”

Musailamah telah berusaha mencuri gaya bahasa Al-Qur`an lalu makna-maknanya dialihkan sehingga menjadi nash yang cacat dan rancu, seperti ucapannya, “Maha Suci Allah, jika datang kehidupan bagaimana kamu akan hidup? Dan kepada raja langit kamu naik. Kalau seandainya ia adalah biji sawi maka akan disaksikan oleh dzat yang mengetahui apa yang ada di dalam dada, dan kebanyakan manusia di dalamnya akan celaka.”

Ucapan Musailamah yang ngawur ini sudah tidak asing lagi bagi orang-orang termasuk kaumnya sendiri. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Amr bin Al-’Ash -sebelum masuk Islam- pernah bertemu dengan Musailamah dan Amr ditanya, “Apakah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dari Al-Qur`an?” Amr menjawab, “Allah menurunkan surat Al-Ashr.” Maka Musailamah berkata, “Allah juga menurunkan kepadaku surat yang semisalnya yaitu, “Wahai kelinci, wahai kelinci, sesungguhnya kamu adalah dua telinga dan satu dada, semua yang menceker adalah mematuk.” Maka Amr mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya kamu tahu bahwa aku tahu kalau kamu adalah sedang berdusta.”

Ibnu Katsir mengomentari perkataan Amr ini dengan mengatakan, “Ini adalah Al-Qur`an Musailamah. Dia mengarang ucapan ngawurnya itu untuk menandingi Al-Qur`an dan ucapannya itu tidak laku di kalangan penyembah berhala sekali pun pada zaman itu.” Abu Bakar Al-Baqilani mengatakan, “Adapun ucapan Musailamah yang dia anggap sebagai Al-Qur`an itu adalah lebih hina untuk kita perhatikan dan kita pikirkan. Tetapi kita mengutipnya sebagai bahan lelucon agar pembaca keheranan dan peneliti agar berhati-hati, karena dia adalah menyesatkan dan gaya bahasanya ngawur. Dan medan kebodohan itu luas sekali.”

b. Surat Musailamah kepada Rasulullah dan Balasan Beliau Kepadanya

Pada tahun 10 Hijriyah ketika Rasulullah sakit, Musailamah berani menuliskan surat kepada Rasulullah untuk meminta bagian kenabian dari beliau. Surat itu ditulis oleh Amr bin Jarud Al-Hanafi dan dikirimkan melalui Ubbadah bin Al-Harits Al-Hanafi yang dijuluki Ibnu Nawwahah. Isi surat itu adalah sebagai berikut:

Dari Musailamah Rasulullah (mengaku Rasul) kepada Muhammad Rasulullah. Sesungguhnya kami memiliki separuh tanah dan kaum Quraisy memiliki separuhnya, akan tetapi kaum Quraisy tidak memberikannya.”

Maka Rasulullah menjawabnya dengan mengirimkan surat yang ditulis oleh Ubay bin Ka’ab yang isinya, “Dengan menyebut nama Allah Maha pengasih lagi Maha Penyayang, dari Nabi Muhammad kepada Musailamah, sesungguhnya tanah adalah milik Allah yang diwariskan kepada orang yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Dan keselamatan atas orang yang mau mengikuti petunjuk hidayah.” Musailamah mengirimkan suratnya kepada Nabi yang dibawa oleh dua orang yang salah satunya bernama Ibnu Nawwahah. Ketika Nabi membaca isi surat itu, Nabi meminta pendapat dua orang tersebut seraya bertanya, “Apa pendapatmu tentang apa yang dikatakan Musailamah,” mereka menjawab, “Pendapat kami seperti apa yang dikatakannya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Demi Allah, kalau seorang utusan itu dibolehkan untuk dibunuh, niscaya aku akan penggal batang leher kalian.”

c. Sikap Hubaib bin Zaid Al-Anshari Pembawa Surat Rasulullah Untuk Musailamah

Hubaib bin Zaid Al-Anshari bin Ummu Imarah binti Nusaibah binti Ka’ab Al-Maziniyah membawa surat Rasulullah kepada Musailamah Al-Kadzdzab. Ketika dia menyerahkan surat itu kepadanya. Musailamah bertanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Hubaib menjawab, “Ya,” lalu Musailamah bertanya lagi, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” Hubaib menjawab, “Aku bisu dan aku tidak mendengar.” Hubaib selalu menjawab demikian setiap kali ditanya oleh Musailamah. Dan setiap kali ditanya dan dijawab demikian, Musailamah memotong anggota badannya satu persatu, dan Hubaib terus bersabar setiap kali anggota badannya dipotong sehingga akhirnya dia gugur sebagai syahid di depan Musailamah.

Mari kita lihat bagaimana sirah (perjalanan hidup) Rasulullah, beliau tidak membunuh seorang utusan walaupun dia adalah musuh Allah dan bertindak kafir di hadapan beliau, selagi dia memiliki perlindungan hukum sebagai seorang utusan resmi. Adapun Musailamah, dia tidak menghormati perjanjian dan kesepakatan tentang utusan resmi, dia tidak hanya membunuh secara wajar melainkan membunuh utusan dengan memotong-motong anggota badannya.

Itulah perbedaan antara Islam yang menghormati perjanjian, hak asasi manusia dan berperang secara hormat dan jantan. Dan perilaku jahiliyah yang hanya mengenal berbuat kerusakan di muka bumi dan mengikuti hawa nafsu.

d. Ar-Rajjal bin Unfuwah Al-Hanafi

Posisi Musailamah yang mengaku nabi semakin mendapat tempat di mata kaumnya Bani Hanifah, tampaknya mereka telah siap untuk mendukung tipuan dan kepalsuan Musailamah. Bahkan seorang dari mereka yang bernama Ar-Rajjal pun ikut terkelabuhi oleh tipu muslihat Musailamah. Dia adalah seorang yang pernah berhijrah kepada nabi, masuk Islam, belajar Al-Qur`an dan hafal beberapa surat. Dia diutus Rasulullah untuk menyadarkan para pengikut Musailamah dan menjelaskan fitnah dan kepalsuannya. Akan tetapi ketika sampai di Bani Hanifah, dia berubah total dan beralih menjadi pendukung Musailamah, malah bersaksi bahwa Rasulullah telah memberikan kepada Musailamah bagian kenabian, maka berubahlah Ar-Rajjal ini menjadi fitnah yang lebih besar dari Musailamah sendiri.

Rasulullah telah mengisyaratkan keburukan Ar-Rajjal ini. Abu Hurairah meriwayatkan, “Aku pernah duduk bersama Rasulullah bersama sekelompok orang yang di dalamnya ada Ar-Rajjal bin Unfuwah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka kelak lebih besar dari pada gunung Uhud.” Orang-orang yang pernah bersama Rasulullah saat itu semua telah meninggal kecuali aku dan Ar-Rajjal, dan aku khawatir dengannya, sampai akhirnya dia keluar bersama Musailamah dan bersaksi atas kenabiannya. Maka musibah Ar-Rajjal ini lebih besar dari pada musibah Musailamah.”

Orang-orang yang Teguh dalam Islam dari Bani Hanifah

Berita kemurtadan Musailamah di Yamamah telah menutupi berita-berita tentang keteguhan iman sekelompok orang Islam di Yamamah secara umum dan khususnya orang Islam dari Bani Hanifah. Para penulis kontemporer tidak banyak yang membahas tentang orang-orang Islam yang teguh dan berani menghadapi fitnah Musailamah, serta mendukung khalifah untuk memberantas fitnah ini. Banyak ditemukan riwayat-riwayat yang menyoroti hakikat ini dan tidak diketahui oleh banyak orang.

Ibnu A’tsam menyebutkan di antara orang yang teguh dalam keislamannya di Yamamah adalah Tsumamah bin Utsal. Dia termasuk tokoh yang terkenal di kalangan Bani Hanifah. Ketika dia tahu pasukan Khalid bergerak menuju Yamamah, dia segera bergegas untuk menyambutnya. Dia adalah seorang yang punya akal dan pemahaman yang baik, dia selalu berseberangan dengan pendapat Musailamah dan kemurtadannya. Di antara perkataannya kepada para pengikut Musailamah adalah, “Celakalah kalian wahai Bani Hanifah, dengarkanlah perkataanku, niscaya kalian akan mendapat petunjuk, taatilah perintahku, niscaya kalian akan selamat. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Muhammad adalah nabi yang diutus dan tidak ada keraguan atas kenabiannya. Sedangkan Musailamah adalah seorang pendusta, janganlah kalian tertipu dengan ucapan dan kebohongannya, sesungguhnya kalian telah mendengarkan Al-Qur`an yang dibawa Muhammad dari Tuhannya, Allah berfirman,

Haa miim. Turunnya Al-Kitab ini dari Allah Yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui. Yang mengampuni segala bentuk dosa dan menerima taubat, namun amat keras hukuman-Nya.” (Ghafir: 1-3).

Bagaimana kalam Al-Qur`an ini dibanding dengan ucapan Musailamah? Lihatlah urusan-urusan kalian, jangan sampai kalian lalai, sesungguhnya aku keluar pada malam hari ini bertemu Khalid bin Walid meminta jaminan keamanan atas diri, harta, keluarga, dan anak-anakku.”

Maka jawaban orang-orang yang mendapat petunjuk dari kaumnya adalah, “Kami bersamamu wahai Tsumamah, dan ketahuilah itu.” Kemudian dia keluar pada tengah malam bersama beberapa orang dari Bani Hanifah sampai akhirnya bertemu Khalid bin Walid dan meminta jaminan keamanan. Dan mereka pun mendapatkan jaminan keamanan. Sedangkan dalam riwayat Al-Kula’i, Tsumamah mengatakan kepada mereka, “Bahwa tidak ada nabi bersama Nabi Muhammad dan sesudahnya, dan ingatlah lelucon dari Al-Qur`annya Musailamah yang menunjukkan kebodohannya. Tsumamah juga pernah melantunkan bait-bait syair yang isinya menentang Musailamah,

Wahai Musailamah, kembalilah jangan membangkang
Sungguh kamu dalam hal ini tidak syirik
Kamu mendustakan Allah dalam wahyu-Nya
Hawa nafsumu adalah hawa nafsu orang idiot
Kaummu ingin mencegahmu
Jika datang Khalid kepada mereka kamu akan ditinggal
Kamu tidak punya tangga naik ke langit
Kamu tidak punya jalan berjalan di bumi

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa peranan Tsumamah dalam perang menumpas Musailamah adalah dibantu oleh Ikrimah bin Abu Jahal dalam tugas mulia ini.

Tsumamah juga ikut berperan dalam membantu Ala` Al-Hadhrami memerangi orang-orang Murtad di Bahrain. Tsumamah dalam melawan Musailamah dibantu oleh orang-orang Islam dari Bani Hanifah, Bani Suhaim, dan penduduk desa lain di wilayah Bani Hanifah. Tsumamah adalah seorang pejuang yang gigih dalam memerangi orang-orang murtad bersama Ala` Al-Hadhrami. Di antara yang teguh dalam keislamannya di Yamamah adalah Ma’mar bin Kilab Ar-Rumani. Dia menasihati Musailamah dan para pengikutnya serta melarang mereka murtad dari agama Islam. Dia adalah tetangga Tsumamah dan juga ikut berperang bersama pasukan Khalid bin Walid. Di antara tokoh Yamamah lainnya yang menyembunyikan keislaman mereka adalah Ibnu Amr Al-Yasykari, kawan Ar-Rajjal bin Unfuwah. Dia pernah membuat bait syair yang kemudian terkenal di Yamamah. Dalam syairnya dia mengatakan,

Agamaku adalah agama Nabi
Dalam kaumku banyak orang mendapat petunjuk semisalku
Kaumku yang paling celaka adalah Muhkam bin Thufail
Juga Ar-Rajjal dan mereka itu bukanlah ksatria sejati
Jika matiku dalam fitrah Allah yang suci
Maka sungguh aku sudah tak peduli lagi

Syair itu sampai ke telinga Musailamah, Muhkam dan para pembesar Yamamah. Lalu mereka memanggil Ma’mar akan tetapi sudah terlambat karena dia sudah menyusul pasukan Khalid bin Walid dan mengabarkan mereka tentang kondisi penduduk Yamamah dan aib mereka.

Di antara yang teguh dalam keislamannya di Yamamah adalah Amir bin Maslamah dan kelompoknya. Khalifah Abu Bakar memberikan penghargaan kepada orang-orang dari Bani Hanifah yang teguh dalam keislamannya, khususnya dari para kerabat mereka. Seperti mengangkat Mutharrif bin Nu’man bin Maslamah keponakan Tsumamah bin Utsal dan Amir bin Maslamah yang gigih dalam menumpas kemurtadan, sebagai wali kota Yamamah.

Khalid bin Walid dan Pasukannya Bertemu Musailamah di Yamamah

Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid setelah selesai memerangi kaum Asad, Ghathfan dan Malik bin Nuwairah untuk segera menuju Yamamah. Syuraik Al-Fazari berkata, “Aku ikut hadir di perang Bazakhah, lalu aku mendatangi Abu Bakar, dan dia memerintahkanku untuk menemui Khalid kemudian menulis surat untuknya. Isi surat itu adalah “Aku telah membaca suratmu yang dibawa oleh utusanmu. Ingatlah akan kemenangan yang Allah berikan kepadamu atas penduduk Bazakhah, Asad dan Ghathfan. Kamu akan segera menuju Yamamah. Ini adalah ikrarku kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah Yang Maha esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan bersikaplah lembut dengan orang-orang Islam yang bersamamu. Jadilah kamu bagi mereka seperti orang tua dan jauhilah olehmu keangkuhan Bani Mughirah. Sesungguhnya aku telah melawan orang yang belum pernah kamu lawan. Lihatlah Bani Hanifah jika kamu bertemu mereka, karena kamu tidak akan menjumpai kaum yang menyerupai Bani Hanifah. Semua akan memerangimu dan wilayah mereka adalah luas. Apabila kamu sampai di sana, maka segera perintahlah dan jadikan seorang di sebelah kananmu dan seorang di sebelah kirimu dan seorang di atas kudamu, mintalah nasihat dari sahabat-sahabat nabi yang senior, kaum Muhajirin, Anshar, dan kenalilah keutamaan mereka. Jika kamu menjumpai mereka dan mereka dalam barisan perang maka panah untuk anak panah, tombak untuk tombak, pedang untuk pedang dan bawalah tawanan mereka di bawah pedang, bunuhlah mereka dengan kejam, bakarlah mereka. Dan janganlah kamu sekali-kali melanggar perintahku. Wassalamu alaik.

Setelah Khalid selesai membaca surat itu, dia berkata, “Kami mendengarkan dan kami menaati.” Khalid bergerak bersama pasukan Islam menuju Yamamah untuk memerangi Bani Hanifah. Pasukan Islam dari pihak kaum Anshar dipimpin oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Dia tidak menjumpai orang-orang yang murtad kecuali membunuhnya. Abu Bakar telah mempersiapkan pasukan besar yang dilengkapi dengan persenjataan baru untuk melindungi Khalid dari belakang agar terhindar dari tusukan belakang.

Dalam perjalanannya menuju Yamamah, dia menjumpai orang-orang Arab yang murtad, lalu dia memeranginya dan mengembalikan mereka kembali kepada agama Islam. Khalid juga menjumpai barisan belakang pasukan yang dipimpin Sajah dan berhasil menghancurkannya. Dan barulah setelah itu ia lantas bergerak menuju Yamamah.

Ketika Musailamah mendengar kabar kedatangan Khalid, dia segera membuat kamp militer di sebuah tempat yang bernama Aqraba` di ujung kota Yamamah. Dia menyerukan kepada orang-orang untuk menemui Khalid dan pasukannya. Para penduduk Yamamah pun mendatanginya lalu dia membuat dua sayap militer di bawah pimpinan Muhkam bin Thufail dan Ar-Rajjal bin Unfuwah. Khalid bertemu dengan Ikrimah dan Syurahbil lalu maju ke depan dan membuat barisan depan pasukan di bawah pimpinan Syurahbil bin Hasanah dan dua barisan samping dengan pimpinan Zaid bin Khattab dan Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah.

a. Majja’ah bin Mararah Jatuh dalam Tawanan Orang Islam

Barisan depan pasukan Khalid berhasil melewati empat puluh atau enam puluh pasukan berkuda musuh, di antara mereka ada Maja’ah bin Mararah Al-Hanafi. Dia pergi untuk membalaskan dendamnya kepada Bani Tamim dan Bani Amir. Dalam perjalanan baliknya mereka berhasil ditawan oleh pasukan Islam. Ketika mereka dibawa ke hadapan Khalid, mereka ditanya, “Apa yang kalian katakan wahai Bani Hanifah?” Mereka menjawab, “Kami mengatakan bahwa dari kami ada seorang nabi dan dari kalian ada seorang nabi,” sehingga mereka pun akhirnya dibunuh.

Dalam riwayat lain disebutkan, mereka ditanya oleh Khalid, “Kapan kalian merasa seperti kami?” Mereka menjawab, “Kami tidak merasa seperti kalian, kami hanya keluar untuk membalaskan dendam orang di sekitar kami terhadap bani Amir dan Tamim.” Khalid tidak mempercayai ucapan mereka, bahkan dia menahan mereka sebagai mata-mata Musailamah dan memerintahkan agar membunuh mereka semua. Mereka berkata kepada Khalid, “Jika kamu ingin keburukan atau kebaikan penduduk Yamamah besok, maka biarkan orang ini (sambil menunjuk ke pemimpin mereka Majja’ah), maka dibiarkanlah Maja’ah hidup dan lainnya dibunuh.

Majja’ah bin Mararah adalah seorang pemimpin Bani Yamamah yang terhormat dan dipatuhi. Setiap kali Khalid singgah di suatu tempat, dia selalu mendekatinya dan mengajaknya makan bersama dan berbincang bersama.

Pada suatu hari Khalid berkata kepadanya, “Kabarilah aku tentang sahabatmu -Musailamah-, apakah yang dia bacakan kepadamu? Apakah kamu menghafal sesuatu darinya?” Maja’ah menawab, “Ya,” kemudian dia menyebutkan sesuatu dari syair Musailamah. Lalu Khalid berdiri sambil menepuk tangannya dan berkata, “Wahai kaum muslimin, dengarkanlah musuh Allah bagaimana dia menandingi Al-Qur`an.” Khalid berkata, “Celakalah kau wahai Majja’ah, aku melihat kamu adalah seorang yang berakal dan terhormat, dengarkanlah ayat Allah lalu lihatlah bagaimana musuh Allah menandinginya.” Kemudian Khalid membaca firman Allah, “Sucikan nama Tuhanmu yang Maha Tinggi.” Maja’ah berkata, “Sesungguhnya ada seorang penulis dari Bahrain yang didekati oleh Musailamah, sampai tidak ada seorang pun yang paling dekat dari dia. Orang itu keluar menemui kita dan berkata, “Celakalah kalian wahai penduduk Yamamah, kawanmu (Musailamah) itu adalah seorang pembohong, dan aku kira kalian tidak mencurigaiku, kalian akan melihat kedudukan dan posisiku di sisinya. Demi Allah, dia membohongimu dan membaiat kalian dalam kebatilan. Khalid bertanya, “Apa yang kemudian dilakukan oleh orang dari Bahrain itu?” Dia menjawab, “Dia lari darinya, dia selalu mengatakan perkataannya itu sampai Musailamah mendengarnya, sehingga dia khawatir akan keselamatannya lalu melarikan diri ke Bahrain.” Khalid berkata, “Katakanlah kepada kami lagi tentang kebohongan si buruk Musailamah.” Kemudian Majja’ah menyebutkan perkataan syair Musailamah. Lalu Khalid bertanya lagi, “Apakah menurut kalian apa yang dikatakan Musailamah itu benar dan kalian mempercayainya?” Majja’ah menjawab, “Kalau tidak benar kami tidak akan menjumpai kalian besok dengan membawa sepuluh ribu pedang untuk memerangi kalian sampai mati.” Khalid berkata, “Allah akan melindungi kami dan memenangkan agama-Nya, dalam jalan-Nya lah mereka berperang dan dalam agama-Nya lah mereka menginginkan.”

Jawaban Khalid ini menunjukkan akan kebesaran iman dan kepercayaan dirinya terhadap Allah serta pertolongan-Nya. Dan itulah yang memicu segudang bakat kemiliteran dan kepemimpinan pada diri Khalid. Dia telah berperang melawan orang-orang Bazakhah dengan dua pedang ditangannya sampai kedua pedangnya patah, hatinya selalu dipenuhi iman, dan dia bangga dengan kebesaran Allah semata, sehingga itu cukup untuk menjatuhkan pamor musuhnya dan menyalakan pamornya di depan dalam musuhnya, dan ini adalah awal dari kemenangan telak terhadap musuhnya.

b. Perang Syaraf Sebelum Pecahnya Pertempuran

Khalid bin Walid mengatur taktik perangnya dengan menggunakan pedang syaraf terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan adu pedang. Khalid mengutus Ziyad bin Labid, kawan Muhkam bin Thufail, salah seorang pemimpin Yamamah, untuk mendekatinya. Khalid berkata kepada Ziyad, “Aku berharap kamu bisa menemui Muhkam dan mengalahkannya dengan sesuatu,” Lalu Ziyad menulis kepadanya bait syair,

Kecelakaan Yamamah, celaka yang tak bisa dihindari
Jika kuda itu berputar-putar di sana
Demi Allah jangan tanya aku tentang kalian
Sampai kalian binasa seperti kaum Tsamud dan ’Ad

Khalid juga menemui Umair bin Shalih Al-Yasykari, orang Yamamah yang masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya. Aqidah dan iman Umair sangat kuat. Khalid berkata kepadanya, “Temuilah kaummu,” lalu dia mendatangi mereka dan berkata, “Khalid telah menaungi kalian dengan orang-orang Muhajirin dan Anshar, aku telah melihat suatu kaum jika kalian melawan mereka dengan kesabaran, niscaya mereka akan mengalahkanmu dengan kemenangan, jika kalian melawan mereka dengan jumlah yang banyak, niscaya mereka akan mengalahkanmu dengan pertolongan Allah. Kalian dan mereka tidaklah sama, Islam akan maju dan kemusyrikan akan mundur, panutan mereka adalah Nabi sedangkan panutan kalian adalah pembohong. Kegembiraan menemani mereka dan kecongkakan menemani kalian. Dan sekarang pedang sudah ada di sarungnya, panah sudah ada di busurnya. Pikirkanlah sebelum pedang dihunus dan anak panah dilempar.

Khalid terjun langsung melaksanakan tugasnya bersama Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, berjalan menemui kaum Bani Hanifah mengajak mereka untuk menyerah dan mengendori semangat perang mereka. Khalid berkata, “Sesungguhnya tidak ada dua nabi berkumpul dalam satu urusan. Muhammad Saw. adalah tidak ada nabi lagi sesudahnya, dan tidak ada nabi yang diutus bersamanya. Khalifah Abu Bakar telah mengutus seorang yang tidak disebutkan namanya dan nama bapaknya. Dia dijuluki Saifullah atau pedang Allah, bersamanya pedang yang banyak, maka pikirkanlah urusan kalian.”

Khalid selalu menyusun strategi yang jitu dan tidak menganggap enteng kekuatan musuh. Ia selalu siap siaga dalam medan pertempuran karena khawatir akan diserang secara tiba-tiba dengan tipu daya.

Disebutkan bahwasanya Khalid tidak istirahat dan tidur malam kecuali dalam kesiagaan. Dia selalu tahu perihal dan kondisi musuhnya. Dalam pertempurannya melawan Musailamah -sebelum perang Aqraba`- Khalid mengangkat Maknaf bin Zaid sebagai pemimpin pasukan berkuda, dan saudaranya yang bernama Huraits sebagai pengumpul informasi-informasi perang.

Telah tiba saatnya menyusun strategi perang yang sangat membahayakan. Pembawa bendera dalam pertempuran ini adalah Abdullah bin Hafsh bin Ghanim, lalu berpindah kepada Salim bekas sahaya Abu Hudzaifah. Sebagaimana dimaklumi pasukan perang adalah bergantung pada pembawa benderanya -sebagaimana disebutkan dalam peribahasa Arab- jika pembawa bendera mati, maka pasukan akan kalah.

Khalid mengangkat Syurahbil bin Hasanah sebagai pemimpin pasukan terdepan, lalu membagi pasukan menjadi lima. Barisan depan dipimpin Khalid Al-Makhzumi, barisan kanan dipimpin Abu Hudzaifah, barisan kiri dipimpin Syuja’, barisan tengah dipimpin Zaid bin Al-Khathab, Usamah bin Zaid ditugasi untuk pasukan berkuda, barisan terakhir untuk peralatan dan kemah-kemah wanita. Strategi akhir ini disusun sebelum pertempuran pecah.

Pertempuran yang Menentukan

Ketika dua pasukan siap untuk bertemu, Musailamah berkata kepada pengikutnya, “Hari ini adalah hari kecemburuan, jika kalian kalah hari ini, maka wanita-wanita akan dinikahi sebagai tawanan dan mereka akan dinikahi tanpa ada keuntungan. Maka berperanglah kalian mempertahankan kehormatan dan membela wanita kalian.”

Khalid maju ke depan bersama pasukan Islam sampai mereka singgah di sebuah tempat dekat Yamamah, lalu pecahlah pertempuran antara pasukan Islam dan pasukan Kafir, Ini adalah putaran pertama dari pertempuran dan orang-orang Arab pun kalah, sehingga orang-orang Bani Hanifah masuk ke perkemahan Khalid bin Wali dan mereka bermaksud membunuh Ummu Tamim, tetapi diselamatkan oleh Majja’ah, yang berkata, “Sebaik-baik wanita adalah dia.” Pada putaran perang ini Ar-Rajjal bin Unfuwah tewas ditangan Zaid bin Al-Khathab.

Kemudian para sahabat nabi saling menyalahkan. Tsabit bin Qais bin Syammasy berkata, “Sungguh alangkah buruknya apa yang kalian lakukan dengan rekan-rekan kalian.” Lalu mereka menyeru dari arah samping, “Selamatkanlah kami wahai Khalid.” Maka banyak dari orang-orang Muhajirin dan Anshar yang menyelamatkan, melindungi, dan memerangi Bani Hanifah dengan peperangan sengit yang tidak ada misalnya. Lalu para sahabat saling berwasiat dan berkata, “Wahai para penghafal surat Al-Baqarah, hari ini sihir sudah batal.” Tsabit menggali tanah dan memendam kakinya sampai separuh betisnya, dia adalah pembawa bendera Anshar, yang tetap gigih dalam berperang sampai dia meninggal di sana.

Orang-orang Muhajirin berkata kepada Salim bekas sahaya Abu Hudzaifah, “Apakah kamu takut kami didatangi dari arahmu?” Dia menjawab, “Alangkah buruknya penghafal Al-Qur`an jika aku memang demikian.” Zaid bin Al-Khathab berkata, “Wahai manusia, gigitlah dengan gigi geraham kalian, pukullah musuh kalian dan majulah ke depan, demi Allah aku tidak akan bicara sampai Allah mengalahkan mereka atau aku akan berjumpa dan berbicara dengan hujjahku,” lalu dia mati syahid.

Abu Hudzaifah berseru, “Wahai para penghafal Al-Qur`an, hiasilah Al-Qur`an dengan amal perbuatan,” lalu dia dibawa dan dijauhkan dalam keadaan terluka. Kemudian datang Khalid bin Walid melewati mereka dan berjalan mendekati Musailamah untuk sampai kepadanya agar bisa membunuhnya. Kemudian dia mundur dan berdiri di antara dua barisan dan mengajak duel satu lawan satu, sambil berkata, “Aku adalah Ibnu Walid, kembalilah, aku adalah bin Amir dan Zaid. Lalu dia berseru sambil meneriakkan syiar orang Islam –Syiar mereka waktu itu adalah Ya Muhammadah– maka tidak ada seorang pun yang berani berduel dengannya kecuali Khalid berhasil membunuhnya, tidak ada yang mendekat kepadanya kecuali dia memangsanya. Khalid bisa membedakan antara orang Muhajirin dan Anshar dari orang-orang Arab. Setiap kabilah berperang di bawah benderanya masing-masing sampai orang-orang tahu dari mana mereka datang. Para sahabat nabi sabar dalam pertempuran ini dengan kesabaran yang tidak ada bandingnya, mereka terus maju ke depan sampai ke sarang musuh sampai Allah memberikan kemenangan dan musuh mundur ke belakang, lalu mereka mengikuti terus dan membunuh mereka semaunya, sampai akhirnya mereka terdesak mundur di sebuah taman maut, atas perintah Muhkam bin Thufail terlaknat. Di dalam taman itulah bersembunyi Musailamah terlaknat. Abdurrahman bin Abu Bakar mengejar Muhkam bin Thufail dan melemparnya dengan anak panah di lehernya ketika sedang berpidato dan berhasil membunuhnya. Bani Hanifah menutup taman itu dan para sahabat pun mengepungnya.

Patriotisme Sahabat yang Jarang Ditemukan

1. Al-Bara` bin Malik berkata,

“Wahai kaum muslimin, lemparkanlah aku kepada mereka di taman itu.” Kemudian mereka membawanya di atas perisai, mengangkatnya dengan tombak dan melemparkannya kepada musuh. Dia terus memerangi musuh dari arah pintu taman sampai dia berhasil membukanya. Kemudian pasukan Islam masuk ke taman sampai dia berhasil membukanya. Kemudian pasukan Islam masuk ke taman dari pintu gerbang yang dibuka oleh Al-Bara`. Selanjutnya mereka membuka pintu-pintu yang lain. Akhirnya orang-orang murtad terkepung dan menyadari bahwa kebinasaan telah tiba. Kebenaran telah datang dan kebatilan mereka telah binasa.

2. Tewasnya Musailamah Al-Kadzdzab

Orang-orang Islam menemukan Musailamah sedang berdiri di balik dinding dan menyelinap di balik dedaunan, dia bersandar dan tidak kuat menahan amarahnya. Jika dia dihinggapi oleh setannya, maka mulutnya akan mengeluarkan busa. Maka Wahsyi bin Harb pembantu Jubair bin Muth’im –pembunuh Hamzah paman Nabi sebelum ia masuk Islam- bergegas maju dan melemparkan tombaknya dan mengenai sasaran. Musailamah berusaha melarikan diri, akan tetapi dari arah samping muncul Abu Dujanah Simak bin Kharsya segera memukulnya dengan pedang yang membuatnya tersungkur jatuh. Lalu terdengarlah dari arah istana jeritan seorang wanita, “Wahai pangeran ketampanan yang telah dibunuh oleh budak hitam.”

Jumlah korban tewas di taman itu dan dalam medan pertempuran adalah 10.000 atau 21.000 tentara. Jumlah korban dari pasukan Islam sebanyak 600 atau 500 syuhada. Di antara mereka adalah para sahabat Nabi. Kemudian Khalid keluar dan diikuti oleh Majja’ah bin Mararah yang diikat dalam tali. Lalu Khalid memperlihatkan kepadanya para korban yang tewas untuk menemukan Musailamah. Ketika mereka melewati Ar-Rajjal bin Unfuwah, Khalid bertanya, “Apakah ini dia?” Majja’ah menjawab, “Demi Allah, bukan, ini lebih baik darinya, ini adalah Ar-Rajjal bin Unfuwah. Lalu mereka melewati seorang berkulit kuning dan berhidung pesek. Majja’ah berkata, “Ini dia Musailamah.” Khalid berkata, “Semoga Allah memperburuk pengikut-pengikut kalian ini.” Kemudian Khalid mengirimkan kuda di sekitar Yamamah untuk memuat harta benda dan para tawanan.

3. Abu Uqail: Abdurrahman bin Abdullah Al-Balwi Al-Anshari Al-Ausi

Abu Uqail adalah orang yang pertama kali terluka pada pertempuran Yamamah, dia terkena lemparan anak panah yang mengenai pundak dan ulu hatinya yang menyebabkannya mengalami luka berat. Dia berhasil mengeluarkan anak panah tersebut, akan tetapi tubuh bagian kirinya masih lemah, lalu ia dibawa ke perkemahan.

Ketika pertempuran mulai berlangsung sengit, orang-orang Islam mundur ke belakang, sedangkan Abu Uqail masih dalam kondisi lemah karena lukanya itu. Dia mendengar Ma’an bin Adi berteriak, “Wahai kaum Anshar, tiba saatnya kehancuran musuh kalian,” Kemudian Ma’an maju bersama pasukan dan Abu Uqail pun ikut bangkit menyusul pasukan. Ada sebagian orang yang menegurnya, “Wahai Abu Uqail, kamu tidak usah ikut perang,” dia malah menjawab, “Aku telah mendengar seruan itu mengajakku.” Orang-orang berkata, “Penyeru itu memanggil kaum Anshar, yang tidak sedang terluka.” Abu Uqail berkata, “Aku adalah dari kaum Anshar, aku memenuhi seruan itu walaupun dengan merangkak.” Kemudian dia mempersiapkan diri dan membawa pedangnya dengan tangan kanan dan berseru, “Wahai kaum Anshar ini adalah kesempatan seperti pada waktu perang Hunain,” kemudian mereka berkumpul dan maju dengan semangat membara, rela untuk mati syahid atau menang, sampai mereka mendesak musuh ke arah taman. Dalam serangan ini tangan Abu Uqail terputus dari pundaknya dan ditemukan ada empat belas luka yang mematikan. Ibnu Umar melihatnya dalam keadaan sekarat menghembuskan nafas terakhirnya dan bertanya, “Wahai Abu Uqail,” “Ya”, jawabnya dengan lisan yang berat, sambil bertanya, “Siapakah yang menang?” Ibnu Umar menjawab, “Bergembiralah, musuh Allah telah terbunuh,” lalu Abu Uqail mengangkat jari telunjuknya ke arah langit sambil berucap, “Alhamdulillah.” Umar berkata tentang dia, “Semoga Allah merahmati, dia senantiasa memperoleh mati syahid dan terus mencarinya, sesungguhnya dia termasuk sebaik-baik sahabat Nabi kita.”

4. Nusaibah binti Ka’ab Al-Maziniyah Al-Anshariyah

Nusaibah ikut bersama tentara Khalid pergi menuju Yamamah. Dia ikut terjun langsung ke medan perang dan bersumpah tidak akan meletakkan senjata sampai terbunuhnya Musailamah. Dan atas izin Allah dia menepati sumpahnya itu sampai tewasnya Musailamah. Kemudian dia kembali ke Madinah dengan dua belas luka di tubuhnya baik luka terkena anak panah atau sabetan pedang. Itu semua adalah sebagai tanda kehormatan bagi pejuang wanita ini yang telah menjadikan dirinya sebagai suri teladan bagi kaum hawa dalam membela agama dan akidah, meskipun butuh perjuangan berat yang tidak mudah dipikul oleh kaum wanita dan ibu rumah tangga.

Setelah usai pertempuran Yamamah, Khalid merawatnya. Nusaibah berkata, “Ketika pertempuran selesai, aku kembali ke rumahku. Maka datanglah Khalid bersama seorang dokter lalu mengobati lukaku dengan minyak mendidih, dan demi Allah itu lebih sakit bagiku dari pada dipotong. Khalid sering menjengukku, berbuat baik dengan kami, tahu hak-hak kami dan selalu menjaga wasiat Nabi kepada kami.”

Para Syuhada Perang Yamamah

a. Tsabit bin Qais bin Syammas yang Berwasiat Setelah Meninggal dan Dilaksanakan Wasiatnya oleh Abu Bakar

Dia adalah Abu Muhammad seorang orator dari kaum Anshar. Rasulullah pernah memberi kabar gembira bahwa dia akan mati syahid. Dia mati syahid pada pertempuran Yamamah.

Pada waktu itu dia memegang bendera kaum Anshar. Ada seorang yang melihat Tsabit dalam mimpinya berkata, “Sesungguhnya aku ketika berperang kemarin, aku melewati seorang Muslim, lalu ia merampas pakaian besi yang mahal dariku. Rumah orang itu ada diujung kamp pasukan, di kandangnya ada seekor kuda yang menunggu, pakaian besi itu tertumpahi priok dan di atasnya ada tandu, maka datangilah Khalid dan perintahlah dia mengambil pakaian besi itu. Jika kamu sampai di Madinah, maka temuilah Khalifah Abu Bakar dan katakan padanya, “Sesungguhnya aku punya hutang sekian dan sekian, si fulan dari budakku aku bebaskan, awas janganlah kamu berkata ini adalah mimpi lalu kamu akan menyia-nyiakannya.” Kemudian orang itu mendatangi Khalid dan menunjukkannya pada pakaian besi itu dan mendapatinya sebagaimana dalam mimpi itu. Kemudian dia menemui Abu Bakar dan menceritakan mimpinya. Lalu Abu Bakar melaksanakan wasiat Tabit yang sudah meninggal dan terlihat dalam mimpi itu. Tidak ada seorang pun yang berwasiat setelah ia mati kecuali Tsabit bin Qais bin Syammas.

b. Zaid bin Al-Khathab

Dia adalah saudara

seayah dengan Umar bin Al-Khathab. Dia lebih tua dari Umar. Dia masuk Islam pada periode awal Islam, ikut Perang Badar dan peperangan lain setelahnya. Rasulullah Saw. mempersaudarakannya dengan Ma’an bin Adi Al-Anshari, keduanya mati syahid di pertempuran Yamamah. Pada waktu itu bendera kaum Muhajirin ada di tangannya. Dia terus maju berperang sampai gugur dan benderanya terjatuh lalu diambil alih oleh Salim bekas sahaya atau pembantu Abu Hudzaifah. Pada saat itu Zaid berhasil membunuh Ar-Rajjal bin Unfuwah yang fitnahnya lebih berbahaya dari pada Musailamah. Sedangkan yang membunuh Zaid adalah seorang bernama Abu Maryam Al-Hanafi yang akhirnya setelah itu ia masuk Islam. Dia berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, Allah telah memuliakan Zaid lewat tanganku, dan Allah tidak menghinakanku lewat tangannya.” Ketika Umar mendengar berita kematian Zaid bin Al-Khathab, dia berkata, “Semoga Allah merahmati saudaraku Zaid, ia telah mendahuluiku dalam dua kebaikan, ia masuk Islam lebih dahulu dan mati syahid lebih dahulu.” Umar berkata kepada Mutammim bin Nuwairah yang sedang meratapi (sambil melantunkan syair) saudaranya Malik yang gugur, “Seandainya saudaraku seperti saudaramu, aku tidak akan bersedih,” Umar berkata, “Tidak ada seorang pun yang menghiburku seperti kamu,” meskipun demikian Umar selalu berkata, “Tidak ada angin yang bertiup kecuali mengingatkanku pada Zaid.”

c. Ma’an bin ’Adi Al-Balwi

Dia ikut hadir dalam baiat Aqabah, Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan semua peperangan lainnya. Rasulullah telah mempersaudarakannya dengan Zaid bin Al-Khathab dan keduanya mati syahid dalam pertempuran Yamamah. Ma’an adalah seorang yang punya sikap istimewa ketika Rasulullah wafat. Di saat orang-orang menangisi Rasulullah dan mereka berkata, “Demi Allah, kami rela mati sebelum Nabi dan kami takut terjadi fitnah setelah Nabi wafat.” Ma’an berkata, “Tetapi aku, demi Allah, tidak senang mati sebelum Rasulullah wafat, agar aku bisa membenarkannya dalam keadaan wafat sebagaimana aku membenarkannya dalam keadaan hidup.

d. Abdullah bin Suhail bin Amr

Dia masuk Islam sejak dini dan ikut berhijrah kemudian menjadi orang yang lemah di kota Makkah. Ketika terjadi Perang Badar dia keluar bersama orang Islam. Ketika mereka berhadapan, dia lari kepada orang-orang Islam dan ikut hadir bersama mereka. Dia mati syahid di pertempuran Yamamah. Ketika Abu Bakar pergi haji, dia menyampaikan belasungkawa kepada Ayahnya, Suhail. Ayahnya bertanya kepada Abu Bakar, “Aku mendapat kabar bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang mati syahid akan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” Dan aku berharap dia memberi syafaat mulai dari aku. Suhail juga punya jiwa besar di Makkah ketika Nabi wafat.

Pada saat itu kebanyakan penduduk Makkah bermaksud keluar dari agama Islam sampai wali kota Makkah Attab bin Usaid takut dan bersembunyi. Maka berdirilah Suhail bin Amr berpidato dengan memulai pujian kepada Allah dan menyebutkan wafatnya Rasul lalu berkata, “Sesungguhnya ini tidak akan menambah Islam kecuali semakin kuat, barang siapa yang meragukan kami, maka akan kami penggal lehernya.” Maka orang-orang pun mengurungkan niat mereka keluar dari Islam, dan keluarlah Attab bin Usaid. Kedudukan seperti inilah yang Rasulullah inginkan dalam sabdanya kepada Umar bin Al-Khathab –ketika dia mengisyaratkan mencabut gigi depannya ketika jatuh dalam tawanan Perang Badar— “Semoga dia berdiri dalam kedudukan yang kamu tidak akan mencelanya.”

e. Abu Dujanah Simak bin Kharsyah

Pada waktu Perang Badar dia kelompok merah. Dikatakan bahwa Rasulullah mempersaudarakannya dengan Utbah bin Ghazwan. Abu Dujanah gigih bertahan dalam Perang Uhud bersama nabi dan membaiatnya untuk siap mati. Dia termasuk yang ikut serta membunuh Musailamah dan akhirnya mati syahid pada waktu itu. Zaid bin Aslam berkata, “Abu Dujanah ditemui ketika dalam keadaan sakit dan wajahnya bersinar, lalu ia ditanya kenapa wajahnya seperti itu?” Ia menjawab, “Aku tak punya amal yang paling aku yakini kecuali dua hal; Aku tidak berbicara kecuali dalam hal yang bermanfaat dan hatiku selalu tulus kepada orang-orang Islam.” Abu Dujanah adalah seorang pahlawan Islam dalam pertempuran Yamamah. Dia melemparkan dirinya ke dalam taman sehingga kakinya patah, lalu dia gigih berperang dengan kaki yang patah sampai dia gugur sebagai syahid.

f. Abbad bin Bisyr

Dia adalah sahabat Nabi yang hidup selama empat puluh lima tahun. Dialah yang tongkatnya mengeluarkan cahaya ketika sampai di rumahnya sepulang dari pembicaraan di malam hari dengan Nabi. Abbad masuk Islam di bawah tangan Mus’ab bin Umair. Dia termasuk di antara orang yang membunuh Ka’ab Al-Asyraf. Nabi mengangkatnya sebagai pegawai mengurus zakatnya orang-orang Mazyanah dan Bani Sulam. Dan juga sebagai pengawal Nabi pada perang Tabuk.

Pada perang Yamamah Abbad gigih berjuang dan termasuk orang yang pemberani. Diceritakan dari Aisyah, ia berkata, “Ada tiga orang dari kaum Anshar yang mulia, mereka semua dari Bani Abdul Asyhal; Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Abbad bin Bisyr.” Ia juga berkata, “Rasulullah pernah shalat tahajud di rumahku, lalu beliau mendengar suara Abbad sedang shalat di masjid, Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, apakah ini suara Abbad?” Aku menjawab, “Ya,” kemudian Rasulullah berdoa, “Ya Allah, rahmatillah Abbad.” Abbad mati syahid dalam medan Perang Yamamah.

Abu Sa’id Al-Khudri bercerita tentang dia, “Saya pernah mendengarnya setelah selesai dari Perang Bazakhah berkata, “Wahai Abu Sa’id, malam ini aku bermimpi seakan langit terbelah dan menimpaku, Insya Allah ini adalah pertanda mati syahid.” Saya menjawab, “Demi Allah, mimpimu baik.”

Pada pertempuran Yamamah, Abbad berdiri di tanah yang tinggi dan berteriak keras, “Aku adalah Abbad bin Bisyr, wahai kaum Anshar, wahai kaum Anshar, kemarilah.” Maka orang-orang Anshar menuju kepadanya sambil menjawab, “Labbaik, kami penuhi panggilanmu,” Kemudian dia memecahkan sarung pedang dan melemparkannya, maka kaum Anshar juga memecahkan sarung pedang dan melemparkannya, lalu dia berkata, “Ikutilah aku,” kemudian dia keluar sampai mereka menggiring Bani Hanifah dalam kekalahan dan mendesak mereka mundur ke taman dan mengepung mereka di sana.

Ketika pasukan Islam berhasil menerobos taman, Abbad melemparkan pakaian besinya lalu masuk menyabetkan pedangnya kepada musuh sampai akhirnya dia mati syahid. Umur Abbad waktu itu adalah empat puluh lima tahun. Dan dia tidak bisa dikenali lagi kecuali dengan tanda di tubuhnya yang penuh dengan luka.

Keberanian Abbad di perang Yamamah ini sangat terkenal sehingga menjadi perumpamaan baik. Orang-orang Bani Hanifah selalu ingat dengan Abbad bin Bisyr, jika mereka melihat ada kawan mereka yang terluka, maka mereka akan mengatakan, “Ini adalah pukulan pedang Abbad bin Bisyr.” Orang-orang Anshar memang berjiwa besar dan memiliki keberanian yang tiada duanya dalam memerangi orang-orang Murtad, terutama di Yamamah. Keberanian dan kegigihan mereka ini pun diakui oleh Majja’ah bin Mararah Al-Hanafi di depan Khalifah Abu Bakar. Majja’ah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, aku tidak pernah melihat satu kaum pun paling sabar menghadapi pukulan pedang dan paling gigih dalam berperang dari orang-orang Anshar. Sungguh aku telah melihat sendiri ketika aku berkeliling bersama Khalid, aku melihat korban-korban dari Bani Hanifah dan aku melihat orang-orang Anshar menjemput maut,” Abu Bakar pun menangis dan air matanya sampai membasahi jenggotnya.

g. Thufail bin Amr Ad-Dausi Al-Azdi

Dia meninggal syahid pada pertempuran Yamamah. Dia adalah seorang mulia dan penyair yang pintar. Sebelum meninggal syahid dia bermimpi sebagaimana dia ceritakan, “Aku keluar bersama anakku yang bernama Amr, lalu aku melihat dalam mimpi, rambut kepalaku dicukur dan keluar dari mulutku seorang burung dan ada seorang wanita yang memasukkan aku ke rahimnya. Maka aku menafsirkan mimpi ini. “Rambutku yang dicukur berarti kepalaku akan terpotong, seekor burung adalah nyawaku, seorang wanita itu adalah bumi tempat aku di kubur.” Maka dia pun mati syahid dalam pertempuran Yamamah.

Banyak dari kaum Muhajirin dan Anshar yang meninggal syahid dalam pertempuran Yamamah yang menentukan ini. Kota Madinah meskipun menyambut gembira kemenangan pasukan Islam menumpas orang-orang murtad, tetapi masih terus bersedih menangisi para syuhadanya. Dalam pertempuran Yamamah saja jumlah syuhada pasukan Islam adalah 1200 orang. Kebanyakan mereka adalah para sahabat senior dan para penghafal Al-Qur`an, sekitar 40 Qari`. Kesedihan melanda jantung kota Madinah. Tetesan air mata melinangi senyuman kegembiraan karena kemenangan Islam. Gugurnya para syuhada membuat hati mereka terasa sedih, sementara kemenangan Islam telah menyinari kegelapan jiwa, memperkuat iman dan menanamkan kepercayaan diri dalam sanubari mereka.

Tipu Daya Majja’ah, Perkawinan Khalid dengan Putrinya, Korespondensi antara Khalid dan Khalifah Abu Bakar

a. Tipu Muslihat Majja’ah

Setelah kemenangan pasukan Islam di taman maut, Khalid mengirimkan kuda-kuda di sekitar Yamamah untuk mengambil harta benda dan tawanan di sekitar benteng musuh. Kemudian Khalid berniat untuk menyerang benteng yang di dalamnya hanya tersisa para kaum wanita, anak-anak, dan orang tua. Maka Majja’ah membuat tipu daya dan berkata, “Benteng itu masih penuh dengan para pejuang laki-laki, ke sinilah, mari kita damai saja.” Maka Khalid berdamai dengan Majja’ah setelah melihat pasukan Islam merasakan keletihan dalam berperang.

Khalid berkata, “Biarkanlah aku menemui mereka untuk minta persetujuan mereka berdamai.” Majja’ah berkata, “Pergilah.” Kemudian Majja’ah pergi ke benteng dan memerintahkan wanita-wanita untuk memakai pakaian perang dari besi dan menampakkan diri atas benteng. Khalid melihat ke arah benteng yang dipenuhi dengan kepala orang, sehingga dia mengira mereka adalah para pejuang lelaki seperti yang dikatakan Majja’ah. Perdamaian pun disepakati dan Khalid mengajak mereka masuk Islam, lalu mereka masuk Islam semua dan kembali kepada jalan kebenaran. Khalid kemudian mengembalikan sebagian tawanan dan sisanya dikirimkan ke Abu Bakar. Ali bin Abi Thalib dihadiahi wanita dari Bani Hanifah, dan akhirnya menjadi ibu dari anaknya yang diberi nama Muhammad, sehingga dijuluki Muhammad bin Al-Hanafiyah. Pertempuran Yamamah terjadi pada tahun 11 H, akan tetapi menurut Al-Waqidi dan lainnya terjadi pada tahun 12 H. Dua pendapat ini bisa diserasikan dengan mengatakan bahwa perang ini mulai terjadi tahun 11 Hijriyah dan selesai tahun 12 H.

b. Perkawinan Khalid dengan Putri Majja’ah dan Korespondensinya dengan Khalifah Abu Bakar

Khalid bin Walid meminta Majja’ah setelah selesai perdamaian agar mengawinkannya dengan putrinya. Majja’ah berkata, “Tunggu dulu, kamu baru saja selesai bertempur dan demikian pula kami.” Khalid berkata, “Wahai Majja’ah, kawinkanlah aku dengan putrimu,” maka dia pun mengawinkannya.

Khalifah Abu Bakar telah mengutus Salamah bin Waqasy kepada Khalid dan berpesan jika dia menang dalam pertempuran agar membunuh orang-orang Bani Hanifah yang sudah baligh. Tetapi utusan itu malah mendapati Khalid berdamai dengan mereka.

Abu Bakar Ash-Shiddiq selalu mencari kabar dari Yamamah dan menunggu utusan Khalid datang. Pada sore hari Abu Bakar keluar ke lapangan bersama beberapa orang dari kaum Muhajirin dan Anshar, dia bertemu dengan Abu Khaitsamah An-Najjari utusan Khalid, lalu bertanya kepadanya, “Wahai Abu Khaitsamah, berita apa yang kamu bawa?” dia menjawab, “Berita baik, wahai Khalifah Rasulullah, Allah telah menaklukkan Yamamah di tangan kita, ini adalah surat Khalid.” Kemudian Abu Bakar bersujud syukur kepada Allah, dan berkata, “Kabarilah aku tentang pertempuran itu bagaimana kejadiannya?” kemudian Abu Khaitsamah menceritakan apa yang dilakukan Khalid, bagaimana barisan perang para pasukannya, siapa saja yang mati syahid dari kalangan sahabat Nabi.

Selanjutnya ia berkata, “Wahai khalifah, kami datang dari arah orang-orang Arab, mereka kalah, mereka mengembalikan kami kepada semangat perang yang sebelumnya kami rasa belum berbuat maksimal.”

Ketika Khalifah Abu Bakar mendengar berita perkawinan Khalid, dia mengirimkan surat yang isinya, “Wahai anak ibu Khalid, sungguh kamu adalah penganggur, kamu mengawini wanita, sedangkan di halaman rumahmu darah 1200 orang Islam belum kering, kamu ditipu oleh Majja’ah, kamu berdamai dengan mereka padahal kamu sudah menang.”

Melihat kecaman keras khalifah kepada Khalid karena perdamaiannya dengan Majja’ah dan perkawinannya dengan putrinya, dia mengirim surat balasan yang dibawa oleh Abu Barzah Al-Aslami yang isinya pembelaan terhadap sikapnya dengan alasan dan logika yang kuat. Dalam suratnya itu Khalid berkata, “Demi umurku, aku tidak mengawini wanita, kecuali setelah aku merasa aman dan tenang dari musuh. Aku tidak kawin melainkan adalah urusanku sendiri, jika kamu melakukannya dengan meminangnya dari kota Madinah, maka aku tidak peduli. Biarkan aku meminangnya. Jika kamu tidak menyukaiku melakukan ini karena agama atau dunia, maka aku mencelamu. Adapun kesedihanku terhadap para syuhada Islam, demi Allah, seandainya kesedihan itu bisa mengekalkan yang hidup dan menghidupkan yang mati, niscaya kesedihanku akan mengekalkan yang hidup dan menghidupkan yang mati. Sungguh aku telah menerobos musuh sampai aku putus asa dan yakin akan mati. Adapun tipu daya Majja’ah kepadaku, sungguh aku tidak bersalah dalam pendapatku pada hari itu, karena aku tidak tahu hal-hal yang ghaib. Allah telah berbuat baik kepada orang-orang Islam, Allah mewariskan bumi kepada mereka, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ketika surat Khalid sampai kepada Abu Bakar, dia merasa belas kasihan kepadanya. Kemudian sekelompok orang dari kaum Quraisy, termasuk Abu Barzah Al-Aslami bangkit dan memaklumi sikap Khalid. Abu Barzah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, Khalid bukanlah penakut dan bukan pula pengkhianat, dia telah menerobos musuh untuk mati syahid sampai dia menang, dia tidak berdamai dengan mereka kecuali atas kerelaan orang-orang, dia tidak bersalah dengan perdamaian itu, karena dia tidak melihat wanita-wanita yang ada di benteng itu kecuali para pejuang lelaki.” Abu Bakar berkata, “Aku membenarkan ucapanmu, ini lebih baik dari pada alasan Khalid sebagaimana tertulis dalam suratnya kepadaku.” Kita perhatikan dalam surat Khalid kepada Abu Bakar beberapa poin tentang bagaimana dia membela dirinya sebagai berikut:

  1. Khalid tidak menikah kecuali setelah meraih kemenangan dalam perang dan situasi sudah aman dan tenang.
  2. Dia berbesanan dengan salah seorang pemimpin terhormat dari kaum Bani Hanifah.
  3. Dia mengeluarkan banyak biaya dalam perbesanan ini.
  4. Perkawinan ini tidak menyalahi aturan agama ataupun dunia.
  5. Tidak melaksanakan perkawinan ini dengan alasan bersedih atas para syuhada Islam adalah tindakan yang tidak berguna, karena kesedihan itu tidak akan mengembalikan lagi yang sudah mati.
  6. Tidak ada sesuatu pun yang mendahulukannya untuk maju berjihad, dia telah gigih berjuang dan rela mati dalam peperangan.
  7. Dalam perdamaiannya dengan Majja’ah, dia selalu berusaha berbuat untuk kebaikan kaum Muslimin. Jika Majja’ah tidak mengatakan hakikat sebenarnya siapa yang ada di benteng itu, ini bisa dimaklumi karena Khalid tidak tahu hal-hal yang ghaib. Dan apa pun yang terjadi kesudahan akhirnya adalah untuk maslahat kaum Muslimin. Mereka berhasil menguasai bumi Bani Hanifah, sehingga mereka semua masuk Islam tanpa pertumpahan darah lagi. Perkawinan Khalid dengan putri Majja’ah adalah sesuatu yang wajar baginya. Tidak benar bahwa perkawinan itu karena dia takjub dengan Majja’ah dan kedudukannya dalam kaumnya, maka dari itu Khalid berbesanan dengannya untuk memperkuat hubungan antara mereka berdua dan memperkuat ikatan tali agama dengan tali rumah tangga dan nasab, itu juga sebagaimana dikatakan oleh Abbas Al-Aqqad, karena Khalid tidak akan mendahulukan tali lain atas tali agama atau menggabungkannya dalam bergaul dengan orang lain.

Adapun gaya bahasa DR. Muhammad Husain Haikal dalam memaklumi sikap Khalid adalah tidak bisa diterima, karena ini bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Haikal berkata, “Siapakah putri Majja’ah dalam perayaan kemenangan yang harus dirayakan untuk Khalid? Putri itu tidak lebih dari korban yang dilemparkan di atas kaki sang jenius dan penakluk ini yang telah menyirami bumi Yamamah dengan darah, yang seharusnya dibersihkan dari kotoran semisal putri itu.”

Kata-kata Al-Aqqad ini seakan menggambarkan Khalid –sahabat Nabi yang mulia— seperti Achilles atau Hector atau Agamamnon panglima perang bangsa Trojan penyembah berhala, yang salah seorang dari mereka tidak akan berperang kecuali jika mendapat penghormatan atau penghargaan, karena ia berperang hanya untuk disanjung dan dihormati. Atau seakan-akan Khalid adalah patung orang-orang Arab yang disembelih untuknya korban-korban untuk mendekatkan diri dan tunduk padanya. Atau seakan-akan dia adalah dewa sungai Nil yang dipercaya orang Mesir tidak akan menganugerahkan kebaikan kecuali bila mereka melemparkan tumbal ke sungai Nil wanita Mesir paling cantik.

Tidak mungkin Khalid berjiwa seperti itu, dia adalah seorang yang mukmin pemeluk tauhid yang tidak akan berperang melainkan untuk menegakkan agama Allah dan tidak meminta balasan atau terima kasih dari makhluk Allah. Dan juga tidak bisa diterima apa yang dikatakan oleh Jenderal Akram dalam menyebutkan alasan celaan terhadap kisah perkawinan Khalid dalam perang menumpas orang-orang murtad, tindakan Khalid itu bisa mengembalikan ketangkasan badannya yang banyak menimbulkan masalah setelah melihat wanita-wanita cantik di jazirah Arab, sebagaimana anggapan Jenderal Akram. Seakan-akan Khalid berubah menjadi seorang penyuka wanita, padahal dia tidak menginginkan sesuatu kecuali jihad di jalan Allah. Ini adalah pemahaman salah yang menafsirkan sesuatu jauh dari kondisi, data, dan bukti dalam berita.

Khalid hanya berperang demi menegakkan agama dan mengharapkan pahala dari Allah. Dia berani menerobos pasukan musuh sendiri, bahkan dia diumpamakan memiliki ketangkasan kucing dan lompatan singa. Dia tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Dia selalu berada di barisan depan dalam setiap pertempuran. Dalam pertempuran Bazakhah Khalid gigih bertempur dan menerobos musuh dengan kudanya, orang-orang pun berkata, “Allah, Allah, kamu adalah pemimpin kaum, seharusnya kamu tidak maju,” Khalid berkata, “Demi Allah, aku mengerti apa yang kalian katakan, tetapi sudah tidak sabar dan aku mengkhawatirkan kekalahan pasukan Islam.

Dalam perang Yamamah, ketika pertempuran semakin sengit, Khalid terus gigih berperang dan membunuh musuh untuk bertanding satu lawan satu sambil berseru lantang mengucapkan syiar Ya Muhammadah, sampai tidak ada seorang pun yang berhadapan dengannya kecuali orang tersebut akan terbunuh. Khalid selalu ingin menang dalam pertempuran dan berharap untuk mati syahid. Khalid menceritakan tentang ronde pergulatannya dengan salah seorang pasukan Musailamah di taman maut, dia berkata, “Ketika itu aku di taman maut berhadapan dengan seorang musuh, dia sedang di atas kuda dan aku juga begitu , lalu kami jatuh dari kuda dan bergelut di atas tanah, aku dan dia saling tusuk menusuk dengan pedang sampai aku terluka sebanyak tujuh kali, dan aku juga melukainya sampai dia lemah di depanku, aku sudah tidak bisa bergerak lagi karena luka yang terus mengalirkan darah, dan Alhamdulillah musuh itu telah mati lebih dahulu.”

Khalid mengaku kekuatan dan kehebatan pasukan Bani Hanifah, dia berkata, “Aku melihat dua puluh pasukan bergerak, aku belum pernah melihat pasukan yang pandai memainkan pedang dan kuat bertahan seperti pasukan Bani Hanifah pada pertempuran Yamamah. Aku sudah tidak bisa bergerak lagi karena luka, dan sungguh aku terus menerobos musuh sampai aku putus asa dari hidup dan yakin akan mati.”

Usaha Pembunuhan Khalid bin Walid dan Kedatangan Delegasi Bani Hanifah kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq

a. Usaha Pembunuhan Khalid bin Walid

Meskipun perilaku jahiliyah adalah sudah jelas salah dan palsu, tetapi bagi mereka tidak mudah untuk meninggalkannya, karena itu adalah gaya hidup mereka yang sulit diubah. Maka dari itu ketika mereka telah berhadapan dengan hakikat sebenarnya, mereka malah mempertahankan sikap mereka dengan gigih, dan tidak mau meletakkan senjata dari tangannya kecuali setelah mereka benar-benar jatuh kalah. Setelah itu mereka berusaha untuk bertindak khianat selagi ada jalan di depannya.

Inilah salah seorang dari mereka yang bernama Salamah bin Umair Al-Hanafi, yang membuktikan perilaku buruk mereka, dia berusaha untuk membunuh Khalid setelah selesai kesepakatan perdamaian antara Khalid dan Bani Hanifah. Karena dendamnya terhadap orang Islam, Salamah merencanakan pembunuhan Khalid sebagai bagian dari politiknya untuk menolak kesepakatan damai. Ketika dia berhasil ditangkap dia berjanji di depan kaumnya dari Bani Hanifah tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Tetapi dia melanggar janjinya dan berhasil lepas dari ikatannya pada suatu malam. Kemudian dia bergegas menuju pasukan Khalid, akan tetapi ada seorang penjaga yang berteriak sehingga orang-orang Bani Hanifah kaget lalu mengikutinya dan berhasil menangkapnya di pinggiran taman. Dia mengacungkan pedangnya kepada mereka, lalu mereka melemparinya dengan batu dan dia pun bunuh diri dengan menusukkan pedangnya ke urat nadi di lehernya, lalu dia terjatuh di sumur dan tewas. Inilah tindakan keras kepala orang Jahiliyah dalam mempertahankan kebatilannya.

b. Kedatangan Delegasi Bani Hanifah kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ketika delegasi Bani Hanifah datang menemui Abu Bakar, dia berkata kepada mereka, “Sampaikan kepada kami sesuatu dari Al-Qur`an Musailamah.” Mereka berkata, “Apakah kamu akan memaafkan kami, wahai Khalifah Rasulullah?” Abu Bakar menjawab, “Itu adalah keharusan.” Mereka berkata, “Musailamah berkata dalam Qur`annya, “Wahai katak (betina) anak dua katak, berbunyilah, kamu akan berbunyi, kamu akan berbunyi, kamu tidak akan mengotori air dan tidak mencegah orang minum, kepalamu ada di air dan ekormu ada di tanah.” Dia juga berkata, “Demi Yang menyebarkan bebijian, Yang memanen hasil panen, Yang Menyebarkan gandung, Yang menumbuk tumbukan, Yang membuat roti, Yang membuat makanan enak, Yang menelan daging dan gajih.” Dia juga berkata, “Sesungguhnya Aku telah menganugerahimu lebih dari penduduk kampung dan belum pernah dirasakan penduduk kota, orang persawahanmu cegahlah, orang terlantarmu berilah tempat, orang sedihmu maka hiburlah.” Mereka menyebutkan beberapa khufarat Musailamah yang anak kecil saja yang sedang bermain akan merasa jijik mendengarnya.

Diceritakan bahwa Abu Bakar berkata kepada mereka, “Celakalah kalian, di manakah akal kalian? Sesungguhnya perkataannya ini sama sekali tidak keluar dari Tuhan atau orang baik-baik. Para sejarah wan menyebutkan bahwa Musailamah berusaha meniru dan menyerupai Nabi Saw. Dia mendengar bahwa Nabi Saw. pernah meludah ke dalam sebuah sumur lalu sumur itu kemudian penuh airnya. Musailamah pun meludah ke sebuah sumur kemudian sumur itu airnya tumpah semua, dan pada kesempatan lain sumur itu airnya berubah menjadi asin, kemudian dia berwudhu dan sisa air wudhunya yang digunakan untuk menyirami pohon kurma, maka kering dan matilah pohon kurma itu. Musailamah pernah didatangkan kepadanya dua anak untuk diminta berkah darinya, lalu dia mengusap kepala dua anak itu. Anak yang satu kepalanya menjadi botak, dan yang satu lidahnya menjadi kelu. Musailamah juga pernah diminta mengobati seorang yang sakit dua matanya, lalu dia mengusapnya dan mata orang itu malah menjadi buta.

Pembukuan Kitab Suci Al-Qur`an

Di antara para syuhada Islam dalam pertempuran Yamamah adalah para penghafal Al-Qur`an. Maka dari itu Khalifah Abu Bakar dengan usulan dari Umar bin Al-Khathab memerintahkan untuk membukukan Al-Qur`an. Maka dikumpulkanlah Al-Qur`an dari kulit hewan, tulang, pelepah kurma, dan hafalan orang-orang.

Khalifah Abu Bakar menunjuk sahabat Nabi yang bernama Zaid bin Tsabit untuk mengemban tugas besar ini. Zaid bin Tsabit berkata, “Abu Bakar memanggilku setelah pertempuran Yamamah. Umar bin Al-Khathab sudah berada di dekatnya. Abu Bakar berkata, “Umar telah mendatangiku dan berkata, “Banyak penghafal Al-Qur`an yang gugur dalam pertempuran Yamamah dan aku khawatir, mereka akan gugur semua dalam pertempuran di tempat lain, sehingga banyak dari Al-Qur`an yang hilang. Aku melihat hendaklah kamu memerintahkan pembukuan Al-Qur`an. Abu Bakar, “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?” Umar menjawab, “Demi Allah, ini adalah sesuatu yang baik.” Abu Bakar, “Umar terus menyampaikan usulannya itu sampai akhirnya Allah melapangkan dadaku sebagaimana Allah melapangkan dada Umar dan aku pun sependapat dengan pendapatnya.”

Abu Bakar berkata kepada Zaid, “Sesungguhnya kamu adalah seorang pemuda, berakal cerdas, kami tidak meragukanmu, sebelumnya kamu adalah penulis wahyu untuk Rasulullah, maka kumpulkanlah Al-Qur`an dalam satu buku.” Zaid berkata, “Demi Allah, seandainya mereka menugaskan aku untuk memindahkan gunung maka itu tidak lebih berat bagiku dari pada mereka menugaskanku untuk mengumpulkan Al-Qur`an. Maka aku kemudian mengumpulkan Al-Qur`an dari pelepah kurma, bebatuan, hafalan orang, potongan kulit hewan, dan tulang belulang. Sampai aku menemukan akhir surat At-Taubah hanya pada Abu Khuzaimah Al-Anshari. Allah berfirman,

“Sungguh telah datang kepada seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, dia orang yang sangat peduli dengan penderitaanmu dan peka, sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 128) sampai akhir surah Bara`ah.

Mushaf Al-Qur`an itu disimpan oleh Abu Bakar sampai meninggalnya lalu disimpan oleh Umar sampai meninggalnya kemudian disimpan oleh putrinya Hafshah binti Umar.

Al-Baghawi dalam mengomentari hadits ini berkata, “Dalam hadits ini terdapat penjelasan yang jelas, bahwasanya para sahabat Nabi membukukan Al-Qur`an dalam satu mushaf tanpa menambah atau mengurangi sedikit pun dari Al-Qur`an. Fakto yang mendorong mereka untuk melakukan itu adalah sebagaimana tersebut dalam hadits ini, bahwasanya Al-Qur`an sebelumnya terpencar-pencar dalam pelepah kurma, bebatuan dan dalam hafalan dada orang. Maka dari itu, mereka khawatir sebagian Al-Qur`an akan hilang dengan meninggalnya para penghafal Al-Qur`an, sehingga mereka melaporkan ini kepada Khalifah Abu Bakar dan memintanya untuk mengumpulkan dalam satu buku. Abu Bakar pun sependapat dengan mereka lalu memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur`an dalam satu tempat dengan kesepakatan dari semua pihak. Kemudian mereka menulis apa yang mereka dengar dari Rasulullah tanpa menambah atau mengurangi, atau mereka menertibkan yang tidak diambil dari Rasulullah. Rasulullah menyampaikan kepada para sahabatnya dan mengajarkan apa yang turun dari Al-Qur`an dengan urutan yang sekarang ini tertulis dalam mushaf-mushaf kita, dengan pemberitahuan dari malaikat Jibril setiap kali turun ayat bahwasanya ayat ini ditulis setelah ayat ini, dalam surat ini.

Demikianlah jelas bagi para pembaca bahwa di antara keistimewaan Abu Bakar adalah dia yang pertama kali memerintah pembukuan Al-Qur`an dalam satu mushaf. Sha’sha’ah bin Shauhan berkata, “Orang yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur`an antara dua sampul dan yang memberikan warisan kepada kalalah adalah Abu Bakar. Ali bin Abi Thalib berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, dia adalah orang yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur`an antara dua sampul.” Abu Bakar memilih Zaid bin Tsabit untuk melaksanakan tugas besar ini, karena dia melihat dalam diri Zaid terdapat potensi-potensi dasar untuk mengemban tugas ini yang di antaranya:

  1. Zaid adalah seorang pemuda, umurnya baru 21 tahun sehingga akan lebih giat dalam menjalankan tugas.
  2. Dia memiliki kemampuan lebih sehingga akan lebih tahu karena dikaruniai akal cerdas dan dimudahkan baginya jalan kebaikan.
  3. Dia adalah seorang yang dapat dipercaya dan tidak diragukan lagi, sehingga karyanya akan diterima dengan baik.
  4. Dia adalah salah seorang penulis wahyu, sehingga punya pengalaman banyak dalam hal ini dan telah mempraktikkannya. Maka tugas seperti ini sudah tidak aneh dan asing lagi baginya. Sifat-sifat istimewa pada diri Zaid inilah yang menjadikan Abu Bakar menugaskannya untuk mengumpulkan Al-Qur`an. Dan dia layak serta ahli dalam hal ini.
  5. Dia adalah salah satu dari empat orang yang menulis Al-Qur`an pada masa Rasulullah. Qatadah berkata, “Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik, siapa sajakah orang yang menulis Al-Qur`an pada masa Nabi?” Anas menjawab, “Ada empat orang semuanya dari kaum Anshar; Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.”

Adapun metode yang digunakan oleh Zaid dalam mengumpulkan Al-Qur`an adalah dia tidak menulis Al-Qur`an kecuali jika benar-benar pernah ditulis di hadapan Nabi dan dihafal oleh para sahabat. Dia tidak hanya mengandalkan hafalan saja tanpa tulisan, karena khawatir hafalan saja akan terjadi kesalahan dan kekeliruan. Dia juga tidak menerima tulisan Al-Qur`an dari seorang kecuali setelah membawa dua saksi yang bersaksi bahwa tulisan itu ditulis di hadapan Nabi dan termasuk bacaan-bacaan Al-Qur`an yang diturunkan. Dengan metode inilah Zaid melanjutkan pengumpulan Al-Qur`an dengan penuh hati-hati dan teliti. Zaid juga termasuk orang yang berjuang menyatukan mushaf-mushaf Al-Qur`an pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dan ini akan dibahas secara detail pada tempatnya Insya Allah.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Pasukan Usamah

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Rencana Pengiriman Misi Militer yang Dipimpin Oleh Usamah Negara Romawi adalah salah satu dari dua...

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat

Penaklukan Irak

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Penaklukan Irak Tidak berselang lama setelah selesai perang terhadap orang-orang yang murtad dan...

Artikel Terkait

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...

Riba

Dosa yang Istimewa Dosa itu bernama riba. Mengenai haramnya riba ini, Allah SWT menyatakannya sendiri di dalam al-Qur’an surah al-Baqarah...