Indonesia Statistics

Indonesia
25,773
Confirmed
Updated on 31/05/2020 1:30 am
Indonesia
7,015
Recovered
Updated on 31/05/2020 1:30 am
Indonesia
1,573
Deaths
Updated on 31/05/2020 1:30 am

Indonesia Statistics

Indonesia
25,773
Confirmed
Updated on 31/05/2020 1:30 am
Indonesia
7,015
Recovered
Updated on 31/05/2020 1:30 am
Indonesia
1,573
Deaths
Updated on 31/05/2020 1:30 am

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Kenapa Allah Tidak Membuat Semua Manusia Menjadi Muslim? Dr. Zakir Naik Menjawab

Melanjutkan pertanyaan Yoko kepada Dr. Zakir Naik yang telah ditulis pada artikel sebelumnya (baca: Apakah Perjalanan Isra' Mi'raj Adalah Kisah Bohong?), wanita Jepang ateis...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Konfusianisme

Seorang pemuda Korea yang bekerja pada biro perjalanan bertanya kepada Dr. Zakir Naik. Nama pemuda Korea itu adalah Kim. Sebagai seorang penganut Konfusianisme, dia...

Tanggapan Dr. Zakir Naik Mengenai ISIS

Dalam sebuah sesi tanya-jawab ketika Dr. Zakir Naik berada di Tokyo, Jepang, ada sebuah pertanyaan menarik yang diajukan oleh seorang pemuda asal Jepang bernama...

Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan Cerdas Pemuda Ateis

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Zakir Naik? Ulama perbandingan agama asal India ini lagi-lagi memukau penonton dengan pengetahuannya yang luar biasa tentang ilmu sains....

Apakah Kisah Isra’ Mi’raj Hanya Dongeng Belaka? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo pada bulan Oktober 2015, seorang wanita Jepang ateis bernama Yoko dengan berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu...

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin

a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat

Pengangkatan sebagai khalifah di bumi, kejayaan bagi agama Allah dan digantinya rasa takut menjadi aman adalah janji Allah selagi umat Islam bisa memenuhi syaratnya. Al-Qur’an telah mengisyaratkan syarat-syarat kejayaan dan keberlangsungan umat. Allah berfirman,

Allah menjanjikan orang yang beriman dan beramal shaleh di antara kamu, akan diangkat sebagai khalifah-Nya dibumi sebagaimana mengangkat khalifah sebelumnya. Dan mengokohkan agama mereka yang diridhai-Nya. Dia mengganti rasa takut yang diderita degan rasa aman. Mereka menyembah kepada-Ku dan tidak berlaku syirik terhadap-Ku. Siapa pun yang kafir setelah itu, merekalah orang yang fasik. Karena itu dirikanlah shalat dan tunaikan zakat, taatilah kepada Rasul agar kalian mendapat rahmat.(An-Nur: 55-56)

Ayat-ayat ini telah menyinggung beberapa syarat kejayaan umat yaitu: Iman beserta seluruh makna dan rukun-rukunnya, amal shaleh dengan aneka ragamnya, konsisten dalam kebaikan dan kebajikan, realisasi ubudiyah kepada Allah, memerangi syirik dan macam-macamnya.

Adapun keharusan untuk terwujudnya kejayaan umat adalah dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat, menaati Rasulullah. Semua syarat-syarat ini telah terwujud pada masa Khalifah Abu Bakar dan khulafa` rasyidin setelahnya. Khalifah Abu Bakar telah mengingatkan umat Islam akan syarat-syarat ini. Maka dari itu, dia menolak permintaan orang-orang Arab untuk membatalkan zakat mereka, bersikeras untuk mengutus pasukan Usamah, menaati syariat Islam dengan sempurna. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sungguh kami setelah ditinggal wafat Rasulullah mengalami situasi di mana kami hampir binasa, seandainya Allah tidak menganugerahkan Abu Bakar kepada kami. Kami sepakat untuk tidak memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat atas anak betina unta, mencaplok kampung-kampung Arab, menyembah Allah sampai maut menjemput kami. Maka Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka, demi Allah, mereka tidak rela kecuali dengan rencana menghinakan dan perang yang mengusir.”

b. Mengambil Sebab-sebab Kejayaan

Allah berfirman,

Untuk menghadapi mereka siapkanlah segala kemampuan, dari pasukan kuda yang ditambat, dengannya kamu dapat menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu, serta kelompok lain yang tidak kamu ketahui, tetapi Allah mengetahui. Apa saja yang kamu belanjakan di jalan Allah, niscaya akan dibalas Allah secara sempurna sedang kamu tidak akan dirugikan.” (Al-Anfal: 60)

Persiapan Abu Bakar dalam hal ini meliputi materi dan maknawi. Dia mempersiapkan tentara dan pasukan Islam, mengangkat para pemegang bendera perang, mengangkat para panglima perang melawan orang-orang murtad, menyurati orang-orang murtad, memotivasi para sahabat untuk memerangi mereka, mengumpulkan senjata, kuda, unta, mempersiapkan para pejuang, memerangi bid’ah, kebodohan dan hawa nafsu, menerapkan hukum syariat, menjaga persatuan dan kesatuan umat, menghidupkan prinsip spesialisasi. Khalid diangkat sebagai panglima perang, Zaid bin Tsabit sebagai pengumpul Al-Qur’an, Abu Barzah Al-Aslami sebagai koresponden militer. Abu Bakar juga memperhatikan keamanan, media, dan faktor-faktor lainnya.

c. Pengaruh Penerapan Syariat Allah

Pengaruh dari penerapan syariat Allah pada masa pemerintahan Abu Bakar terlihat dalam keberhasilan para sahabat. Mereka konsisten dalam menerapkan syariat Allah dalam diri dan keluarga mereka, mereka tulus ikhlas dalam menerapkan syariat Allah. Maka Allah memperkuat mereka, menolong mereka dalam memerangi orang-orang murtad, menganugerahi mereka keamanan dan stabilitas.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan imannya tidak dicampur dengan kezhaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan petunjuk.(Al-An’am: 82) dan terwujudlah pada mereka sunnah Allah yang akan menolong orang yang menolong agama Allah, karena Allah telah menjamin bahwa orang yang istiqamah dalam menjalankan syariat Allah, niscaya Allah akan menolongnya dari musuh dengan kekuatan dan keperkasaan-Nya.

Allah berfirman, “Allah sungguh akan menolong orang yang menolong-Nya. Allah sungguh Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Ialah orang-orang yang bila Kami beri kekuasaan di bumi, mereka menunaikan shalat dan menunaikan zakat, mereka selalu menyuruh untuk berbuat baik dan melarang berbuat mungkar, hanya kepada Allah juga kembalinya segala urusan.” (Al-Hajj: 40-41)

Tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia bahwa sekelompok yang istiqamah dalam petunjuk Allah melainkan Allah menganugerahinya kekuatan, perlindungan dan kedaulatan pada akhirnya.

Kebaikan telah menyebar luas dan keburukan pun menghilang pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

d. Sifat-sifat Generasi yang Berjaya

Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan satu kelompok yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya. Mereka berlaku lemah lembut kepada orang mukmin tetapi tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tidak takut cercaan orang yang mencerca, itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang yang Dia kehendaki. Allah Maha luas dan Maha tahu.” (Al-Ma`idah: 54)

Sifat-sifat yang termaktub dalam ayat ini adalah yang diwujudkan oleh Abu Bakar dan tentaranya dari para sahabat Nabi yang memerangi orang-orang murtad. Allah telah memuji mereka dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang tinggi. Sifat-sifat ini adalah sebagai berikut:

  • Firman Allah, “Yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya.”

Para ulama salaf berpendapat bahwa yang dimaksud cinta yang dinisbatkan kepada Allah adalah cinta itu benar bagi Allah tanpa kita tahu bagaimana cara dan pentakwilannya. Tidak ada persamaan sama sekali antara sifat-sifat makhluk dengan sifat-sifat Allah. Allah telah mencintai generasi ini karena mereka telah rela berkorban untuk agama mereka, mereka rela melakukan perbuatan yang bukan wajib demi bertaqarrub kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya. Mereka melaksanakan perbuatan sunnah seakan itu adalah suatu kewajiban dan keharusan. Generasi ini memiliki sifat ihsan, takwa, dan sabar yang dicintai oleh Allah. Allah berfirman,

Mereka yang selalu menafkahkan harta, pada saat senang ataupun susah, mereka yang selalu berusaha menahan kemarahan dan memaafkan orang lain. Allah sangat cinta kepada orang yang berbuat kebaikan.(Ali Imran: 134)

Ya benar, siapa pun yang menepati janji dan bertakwa, sungguh Allah cinta kepada orang yang takwa.(Ali Imran: 76)

Para sahabat mencintai Allah dengan kecintaan yang besar, sampai mereka mendahulukannya di atas kecintaan terhadap segala sesuatu. Mereka membenci apa yang dibenci Allah, menolong siapa yang menolong agama Allah, dan memerangi siapa yang memerangi agama Allah. Mereka mengikuti Rasulullah dan mengikuti jejaknya. Para sahabat mencintai Tuhan mereka, yang menciptakan dan memberi rezeki. Karena jiwa adalah digariskan untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Perbuatan baik manakah yang lebih dari perbuatan baik Allah yang menciptakan, menentukan, mensyariatkan, memudahkan, menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, Allah menjanjikan orang yang menaati-Nya dengan Surga yang kekal.

  • Firman Allah, “Mereka berlaku lemah lembut kepada orang mukmin tetapi tegas terhadap orang-orang kafir.”

Ini adalah sifat orang-orang mukmin yang sempurna, yaitu salah seorang dari mereka selalu tawadhu’ dengan saudaranya dan selalu membantu serta menolongnya dalam menghadapi musuh. Maka dari itu Abu Bakar dan tentaranya selalu bekerja sama dan saling membantu sesama Muslim, bahkan Abu Bakar sendiri ikut berperang melawan orang-orang murtad dan mengibarkan sebelas bendera perang untuk menumpas kezhaliman terhadap orang mukmin dan menghancurkan kekuatan orang-orang murtad. Dia tidak rela orang mukmin yang lemah tertindas oleh orang-orang murtad di dalam negeri mereka, sehingga Abu Bakar mengembalikan hak-hak orang mukmin dan membalas tindakan semena mereka dengan balasan yang setimpal. Demikian pula apa yang dilakukan oleh para panglima pasukan Islam.

Abu Bakar selalu memperhatikan kondisi rakyat dan masyarakat Islam, dan dapat kita lihat bagaimana dia memperlakukan dengan baik para budak wanita, wanita-wanita tua dan orang-orang jompo. Sifat dan perilaku seperti inilah yang mendominasi dalam kehidupan umat Islam di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

  • Firman Allah, “Berjihad di jalan Allah dan tidak takut cercaan orang yang mencerca.”

Sifat suka berjihad melawan musuh Allah adalah tampak sekali pada masa Abu Bakar, terutama dalam memerangi orang-orang Murtad dan menghancurkan kekuatan mereka. Sifat ini juga tampak sekali pada masa ekspansi Islam yang akan kita bicarakan secara detail nantinya dengan izin Allah. Para sahabat telah berjihad melawan musuh-musuh mereka demi menegakkan agama Allah, mewujudkan ibadah hanya kepada-Nya, menerapkan hukum-hukum dan tatanan Islam di muka bumi. Membela umat Islam dari rongrongan kaum murtad, memberantas kezhaliman antara sesama manusia.

Dengan jihad di jalan Allah inilah terwujud pemuliaan orang Muslim dan penghinaan terhadap orang murtad, orang-orang kembali kepada agama Allah, dan kepemimpinan Islam di bawah komando Abu Bakar berhasil menjadikan jazirah Arab sebagai pangkalan untuk ekspansi agama Islam ke penjuru dunia, sehingga jazirah Arab menjadi mata air jernih yang memancarkan Islam dan menyirami penjuru bumi, berkat kegigihan para sahabat dalam hidup mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan sumbangsihnya dalam bidang pendidikan, pengajaran, jihad, menegakkan syariat Allah yang menyeluruh untuk membahagiakan anak manusia di mana pun berada.

Jihad melawan orang-orang Murtad yang dilakukan oleh generasi para sahabat merupakan manifestasi dari persiapan rabbani untuk ekspansi Islam, di mana saat itulah bermunculan potensi umat, kekuatan dan kepemimpinan. Para panglima menggunakan berbagai macam taktik militer dan strategi perang serta kedisiplinan dan ketaatan terhadap panglima, sehingga mereka tahu apa yang mereka perangi dan demi apa mereka berkorban. Maka dari itulah performa mereka dalam berperang sangat bagus dan sempurna.

Semenanjung jazirah Arab telah bersatu atas karunia Allah kemudian berkat jihad para sahabat bersama Abu Bakar di bawah bendera Islam untuk pertama kali dalam sejarahnya, ditandai dengan runtuhnya kota-kota besar atau menyerahnya mereka di bawah pasukan ekspansi Islam. Ibu kota Islam –Madinah- memperluas hegemoninya terhadap penjuru jazirah Arab, sehingga umat Islam berjalan dalam prinsip dan pemikiran yang satu. Maka kemenangan ini adalah kemenangan dakwah Islam dan persatuan umat atas usaha-usaha pemecah belahan dan paham tribalisme. Kemenangan ini juga merupakan bukti bahwa negara Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakar mampu mengatasi krisis-krisis besar yang terjadi dalam umat.

Demikianlah para sahabat berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan, perlawanan dan kritikan seorang pun, karena kegigihan mereka dalam agama dan karena mereka melakukan itu untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan.

  • Firman Allah, “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang yang Dia kehendaki.”

Apa yang telah diisyaratkan di atas mulai dari Allah mencintai mereka, mereka mencintai Allah, mereka tawadhu’ sesama mukmin, tegas kepada orang kafir, mereka gigih berjihad di jalan Allah tanpa peduli celaan orang, ini semua adalah karunia dari Allah yang dianugerahkan kepada para Auliya`-Nya. Allah menganugerahkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, yaitu orang yang dikehendaki Allah mendapat tambahan anugerah-Nya dari karunia Allah yang sangat luas, dan Allah adalah Maha Penganugerah lagi Maha Agung, serta Maha Mengetahui siapa hamba-Nya yang berhak mendapatkan anugerah yang luas dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya.

Karakteristik Masyarakat Muslim Pada Masa Abu Bakar

Ketika kita menelaah masyarakat Muslim pada masa Khalifah Abu Bakar, maka akan terangkum jelas sejumlah karakteristik sebagai berikut:

  1. Pada umumnya masyarakat muslim dalam artian Islam yang sempurna adalah Iman mereka yang dalam kepada Allah dan hari Akhir, menerapkan ajaran Islam secara sungguh dan jelas serta berdisiplin. Masyarakat yang minim sekali terjerumus dalam kemaksiatan adalah masyarakat yang yakin agama bagi mereka adalah kebutuhan primer dalam kehidupan. Agama bukan sesuatu yang sekunder, kadang dibutuhkan dan kadang ditinggalkan. Tetapi, agama adalah hidup dan ruh mereka, bukan hanya dalam ritual ibadah saja mereka konsisten menjalankan agama secara benar, akan tetapi dalam perilaku, persepsi, konsentrasi, nilai-nilai luhur, hubungan sosial, hubungan famili, hubungan tetangga, jual beli, bekerja mencari nafkah, amanah dalam bergaul, yang mampu membantu yang tidak mampu, amar ma’ruf nahi mungkar, mengontrol tindakan penguasa dan pemerintah. Ini bukan berarti secara otomatis setiap individu berperilaku demikian, karena seperti ini tidak akan pernah terwujud dalam kehidupan dunia atau dalam satu masyarakat pun. Dalam masyarakat Rasulullah saja –sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an- terdapat golongan munafik yang pura-pura masuk Islam, mereka adalah mata-mata yang dipasang musuh. Ada juga orang-orang yang lemah imannya, orang yang bermalas-malasan, orang yang berkhianat. Tapi orang-orang seperti ini tidak ada nilainya dalam masyarakat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena arus yang mengalir deras adalah arus orang-orang mukmin yang benar-benar beriman, berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta serta taat terhadap ajaran-ajaran agama.
  2. Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang terwujud di dalamnya tingkatan tertinggi dari makna Ummat. Ummat bukan hanya sekadar komunitas manusia yang terkumpul dalam satuan bahasa, tanah air, dan kepentingan. Ikatan-ikatan seperti ini hanyalah ada pada masa Jahiliyah. Jika ummat terbentuk atas dasar ini maka namanya adalah ummat jahiliyah. Adapun ummat yang memiliki makna rabbani adalah ummat yang diikat oleh tali akidah tanpa memandang bahasa, jenis, warna kulit, dan kepentingan bangsa dekat. Umat seperti ini belum pernah terwujud dalam sejarah kecuali dalam sejarah umat Islam. Umat Islam adalah umat yang telah merealisasikan makna hakiki umat, dan paling lama masanya di muka bumi. Umat yang tidak berdiri di atas fanatisme kebangsaan, jenis kelamin, warna kulit dan kepentingan bangsa. Tapi umat yang diikat oleh tali akidah yang mengikat antara orang Arab dan orang Ethopia, Romawi, dan Persia. Ikatan antara bangsa-bangsa yang ditaklukkan dan bangsa yang menaklukkan adalah ukhuwah yang sempurna dalam satu agama. Jika makna hakiki umat telah terwujud dalam umat Islam dan berlangsung paling lama zamannya, maka zaman permulaan Islam adalah zaman keemasan, di mana telah terwujud di dalamnya makna Islam seluruhnya termasuk makna hakiki umat yang belum pernah ada sebelumnya.
  3. Masyarakat Muslim adalah masyarakat berakhlak yang berdiri di atas landasan moral yang jelas yang bersumber dari perintah dan bimbingan agama. Landasan yang tidak mencakup hubungan antara dua lawan jenis saja, meskipun hubungan ini merupakan ciri yang dominan dalam masyarakat ini, tidak ada aurat yang terbuka dan percampuran dua lawan jenis, tidak ada ucapan dan perbuatan yang memalukan, tidak ada perbuatan keji kecuali sedikit sekali, karena tidak ada masyarakat yang bebas total dari perbuatan keji. Landasan moral ini lebih luas daripada sekadar dalam hal hubungan antara dua lawan jenis. Ia mencakup moral dalam politik, ekonomi, jual beli, sosial, pemikiran, dan berpendapat. Hukum berlandaskan pada moral Islam. Hubungan ekonomi seperti jual beli, dan tukar menukar harta benda juga berlandaskan pada moral Islam. Hubungan antar manusia dalam masyarakat berdasarkan pada moral kejujuran, dapat dipercaya, ikhlas, kerja sama, cinta kasih, dan tidak ada saling cela, caci maki, adu domba, dan saling tuduh menuduh terhadap kehormatan orang.
  4. Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang disibukkan dengan hal-hal yang berguna dan bukan hal-hal yang tak berarti. Keseriusan bukan berarti bermuka masam dan galak, tetapi keseriusan adalah ruh yang membangkitkan semangat manusia dan mendorong untuk giat bergerak dan beramal. Perhatian orang adalah perhatian yang lebih tinggi dan jauh dari realita rasa yang dekat, tidak ada di dalamnya sifat-sifat masyarakat yang kosong dan kendor yang hanya duduk-duduk di rumah dan di jalanan untuk mengisi waktu kosong.
  5. Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang terdidik secara militer untuk bekerja. Dalam semua bidang kamu dapati di dalamnya ada jiwa militer yang jelas, bukan berperang di jalan Allah saja, meskipun ini telah mengisi penuh ruang hidup masyarakat ini, tetap dalam berbagai bidang semua siap untuk terjun bekerja kapan pun diperlukan. Maka dari itu tidak perlu lagi mobilisasi militer atau sipil, karena sudah termobilisasi dari diri sendiri oleh motivasi akidah yang mendorongnya untuk giat dalam semua bidang.
  6. Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang ahli beribadah, ruh ibadah terlihat jelas dalam tindakan-tindakannya. Bukan hanya dalam menjalankan ibadah wajib dan sunnah demi mengharap ridha Allah, tetapi dalam melaksanakan pekerjaan. Bekerja dalam benaknya adalah suatu ibadah yang harus dilaksanakan dengan ruh ibadah. Penguasa mengatur rakyatnya dengan semangat ibadah, guru mengajarkan Al-Qur’an dan memintarkan orang dalam hal agama dengan semangat ibadah, pedagang yang menaati perintah Allah dalam jual beli berniaga dengan semangat ibadah, suami mengatur rumah tangga dengan semangat ibadah, istri menjaga rumah tangganya dengan semangat ibadah. Ini semua adalah realisasi dari petunjuk Rasulullah dalam sabdanya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan sikap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.”

Itulah sifat-sifat terpenting masyarakat Muslim pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang merupakan permulaan era Khulafa` urasyidin. Sifat-sifat inilah yang menjadikan masyarakat Muslim menempati cakrawala tertinggi, yang menjadikan masa ini sebagai masa ideal dalam sejarah Islam. Ia juga membantu menyebarnya agama Islam dalam jangka waktu yang sangat singkat. Ekspansi Islam pada masa itu adalah ekspansi paling cepat gerakannya dalam sejarah peradaban manusia. Di mana dalam jangka waktu kurang dari lima puluh tahun Islam merambah ke seluruh penjuru bumi yang membentang mulai samudra Pasifik di Barat sampai samudra Hindia di Timur. Ini adalah fenomena yang patut di rekam dan diperlihatkan. Demikian pula masuk Islamnya penduduk asli bangsa yang ditaklukkan tanpa melalui paksaan dan tekanan.

Sifat-sifat yang terwujud dalam masyarakat Muslim ini merupakan wujud hakiki dari fenomena tadi. Orang-orang mencintai Islam karena mereka melihat agama ini dipraktikkan dalam gambaran yang menakjubkan dan menyinari, maka mereka senang untuk menjadi salah satu di antara orang-orang yang memeluknya.

Kebijakan Abu Bakar dalam Memerangi Intervensi Asing

Gerakan ekspansi Islam yang memukul telak jazirah Arab menyebabkan banyak dari kabilah-kabilah yang berdekatan dengan bangsa Romawi dan Persia enggan untuk tunduk kepada negara Islam. Ketika mereka mendengar berita wafatnya Rasulullah, mereka segera melakukan pendekatan terhadap dua bangsa itu. Maka bangsa Romawi dan Persia pun mengambil kesempatan ini dengan mendesak, mendukung, mensubsidi mereka melawan negara Islam.

Kebijakan Ash-Shiddiq yang diambil dalam menghadapi dukungan luar ini adalah dengan mengirimkan pasukan Usamah bin Zaid ke negeri Syam setelah Rasulullah wafat. Ini merupakan jaminan agar kabilah-kabilah itu tidak melakukan serangan terhadap negara Islam. Abu Bakar mengirim Khalid bin Sa’ide Al-’Ash memimpin pasukan ke Hamqatain di dekat Syam. Amr bin Al-’Ash ke Tabuk dan Daumatul Jandal. Al-’Ala` bin Al-Hadhrami ke Bahrain (pantai teluk Arabia). Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani ke Irak selatan setelah menumpas orang-orang Murtad Bahrain dan mendesak Sajjah At-Tamimiyah, seorang wanita Arab yang memeluk agama Nasrani di Irak yang masih dalam kekuasaan Persia, kembali balik ke Irak ketika melihat kekuatan pasukan Islam.

Orang-orang Islam di bawah pimpinan Abu Bakar selalu siap siaga dan tanggung jawab, mereka menjaga perbatasan Utara dengan ketat. Dari Timur sampai Barat sepanjang perbatasan Utara yang berhadapan dengan bangsa Persia dan Romawi ada pasukan Al-’Ala` Al-Hadhrami, Khalid bin Walid ada di Nejed, Amr bin Al-Ash ada di Daumatul Jandal. Khalid bin Sa’id ada di dekat Syam dan juga pasukan Usamah.

Bangsa Persia selalu menanti-nanti kelengahan negara Islam, tetapi mereka bersembunyi seperti ular, apalagi setelah mereka melihat arus ekspansi Islam mengalir deras dari depannya menghantam bangsa-bangsa kerdil dan kekuatan-kekuatan jahat.

Setelah kesempatan tiba ditandai dengan keluarnya sebagian kabilah-kabilah Arab dari agama Islam, kabilah Bakar bin Wail menghadap Kaisar untuk menawarkannya menguasai negara Bahrain. Tawaran itu pun diterima dan mengirimkan bersama mereka Al-Mundzir bin An-Nu’man dengan kekuatan pasukan yang berjumlah 7000 orang pasukan berkuda dan pasukan infanteri serta seratus kuda untuk membantu mereka menghadapi pasukan Islam.

Mereka adalah serpihan kecil yang tidak membahayakan sebagaimana dikatakan oleh Al-Kula’i. Musailamah Al-Kadzdzab selalu diawasi oleh mata-mata istana bangsa Persia.

DR. Muhammad Husen Haikal menyebutkan bahwa Sajah tidak turun dari Irak Utara ke jazirah Arab yang diikuti oleh kelompoknya, kecuali atas dorongan dari Persia dan pegawainya di Irak, agar mereka semakin menambah panas pemberontakan bangsa-bangsa Arab.

Itulah peranan bangsa Persia, adapun peranan bangsa Romawi adalah lebih kelihatan dan membahayakan, karena sikap bangsa Romawi terhadap Islam dan negara Islam adalah lebih tegas dan sewenang-wenang. Mereka adalah bangsa yang memiliki pemikiran, akidah, tatanan, dan undang-undang yang maju, tentara dan perlengkapan logistik mereka tak pernah kurang, banyak bangsa yang menjadi sekutunya. Oleh karena itulah, hubungan antara negara Islam dan Romawi selalu panas dan tegang sejak awal. Orang-orang Romawi sejak dini setelah mereka mendapat surat dari Rasulullah, berusaha untuk konfrontasi dengan orang-orang Islam. Maka dari itulah pernah terjadi dua pertempuran antara mereka yaitu perang Mu`tah dan Tabuk yang keduanya membuktikan kepada mereka bahwa negara Islam secara materi bukan mudah untuk dicaplok atau dibeli. Dan juga membuktikan kepada orang-orang Islam loyalis orang-orang Arab yang masuk agama Nasrani dan kabilah-kabilah Syam kepada sesama pemeluk Nasrani dari bangsa Romawi. Meskipun telah terjadi kesepakatan antara Rasulullah dan raja-raja Syam pengikut bangsa Romawi setelah perang Tabuk, tetapi orang-orang Romawi tak henti-hentinya melakukan gangguan-gangguan terhadap negara Islam dan berusaha menumpasnya.

Abu Bakar menyadari akan tindakan mereka ini dengan baik. Ini diwujudkan dengan tetap bersikeras mengirim pasukan Usamah ke Syam. Suku-suku di sebelah Utara jazirah Arab mulai dari Lakhm, Ghassan, Judzam, Bala, Qudha’ah, Udzrah dan Kalb kembali berusaha untuk melanggar perjanjian yang mereka sepakati dengan Rasulullah, siapa lagi kalau bukan bangsa Romawi yang menyuplai mereka perlengkapan senjata, pasukan, harta benda, dan strategi?

Menghadapi rongrongan ini Abu Bakar seakan mengatakan kepada orang-orang Romawi, “Meskipun orang-orang Arab merongrong kami dari dalam negeri, maka itu tidak mengurangi dukungan kami orang-orang Islam, kami mampu menahan serangan internasional sebesar apa pun terhadap negara kami, meskipun itu berasal dari pihak kalian.”

Serangan orang-orang Arab dari dalam negeri terhadap negara Islam membangkitkan kembali harapan bangsa Persia dan Romawi, karena orang-orang Arab sendiri akan menghancurkan negara Islam. Maka bangsa Persia dan Romawi pun memberikan bantuan kepada para pemberontak pemerintah Islam dan memberikan suaka bagi mereka yang melarikan diri. Sehingga orang-orang Islam setelah baru selesai mengembalikan persatuannya, maka tibalah saatnya untuk bergerak ke arah utara jazirah untuk menghadapi dua musuh besar yang sedang menunggu kelengahan negara Islam.

Abu Bakar Ash-Shiddiq bergerak dari pangkalan amannya di kota Madinah Al-Munawwarah, mengirim dari sana pasukan dan membekalinya dengan perlengkapan yang akan membuat mereka mempunyai pamor di mata musuh. Abu Bakar telah mencurahkan kebaikan dari pangkalannya kepada semua penjuru jazirah Arab. Dia tidak akan bertolak untuk melancarkan serangan ekspansinya ke negara Syam dan Irak kecuali setelah mengamankan pangkalan utamanya yaitu jazirah Arab, mendukung dan mempersatukan Islam.

Keamanan pangkalan ini terlihat dalam tiga tingkatan yaitu: pertama, tekad khalifah untuk melanjutkan jihad, kepercayaannya yang kuat terhadap ide pemikirannya. Kedua, kesucian masyarakat kecilnya di kota Madinah yang terdiri dari para kaum muhajirin dan Anshar. Ketiga, membersihkan masyarakat besarnya yaitu masyarakat Arab dari kotoran syirik dan murtad.

Tiga hal ini telah menumbuhkan buahnya sehingga bangunan negara Islam semakin tinggi dan kokoh, serta mampu menyerang negeri Irak dan Syam dengan serangan yang bisa menggoyahkan eksistensi bangsa Romawi dan Persia. Itu semua disebabkan oleh pasukan Islam yang bertolak dari jazirah selalu menyatukan barisan, pikiran, bendera, dan terlindungi dari belakang serta aman dari segi logistiknya.

Hasil dari Peristiwa Kemurtadan

Perang melawan kemurtadan meninggalkan pengaruh dan hasil yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Tetapi meliputi generasi, masa, persepsi, pemikiran, perilaku, dan hukum-hukum yang senantiasa memberikan pelajaran bagi generasi setelahnya, di antara hasil-hasil itu adalah:

a. Keistimewaan Islam dari Agama Lain dalam Persepsi, Perilaku dan Pemikiran

Setelah wafatnya Rasulullah terjadi simpang siur dalam beberapa hal, sehingga orang-orang Arab bersegera untuk murtad dari agama Islam. Di antara mereka ada yang masih mualaf, munafik yang masuk Islam karena terpaksa atau masuk Islam dalam waktu-waktu terakhir, orang yang sama sekali bukan pemeluk Islam. Contoh dari dua golongan awal adalah keislaman ’Uyainah bin Hashan Al-Fazari yang masuk Islam tapi masih diliputi kabut tebal keraguan, maka dari itu sekali berhembus api fitnah, dia akan langsung mengikutinya dan menjual agamanya dengan dunia. Juga Thulaihah Al-Asadi ketika ditawan dan dikirim kepada Abu Bakar dalam ikatan belenggu, sehingga para pemuda Madinah setiap kali melewatinya selalu melemparinya dengan pelepah kurma sambil berkata, “Wahai musuh Allah, apakah kamu kafir setelah beriman?” Dia menjawab, “Demi Allah, aku sama sekali tidak beriman kepada Allah. Di antara mereka yang aslinya bukan pemeluk Islam adalah kabilah ‘Ans dari Yaman, yaitu kabilah Al-Aswad yang mengaku sebagai nabi dan berbuat keonaran serta menyiksa orang-orang Islam.

Di antara contoh pemahaman yang salah terhadap nash-nash agama Islam yang menyebabkan mereka kafir adalah sebagian mereka mengingkari kewajiban zakat dengan dalil dari firman Allah,

Pungutlah shadaqah dari harta mereka, yang dapat membersihkan dan menyucikan, doakanlah mereka itu karena doamu akan menentramkan hati. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103)

Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menjelaskan pemahaman mereka yang salah tentang ayat ini, dia berkata, “Sebagian dari orang-orang yang enggan membayar zakat dari orang Arab meyakini bahwa membayarnya kepada Imam itu hanya kepada Rasulullah, mereka berhujjah dengan firman Allah, “Pungutlah shadaqah dari harta mereka.” Penafsiran dan pemahaman yang salah ini telah ditolak Abu Bakar dan para sahabat Nabi. Bahkan mereka memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sampai mereka membayarnya sebagaimana sebelumnya mereka membayar kepada Rasulullah.

Fanatisme kesukuan muncul dan menguat, contohnya Musailamah yang mengatakan kepada kaumnya Bani Hanifah dan menghasut agar mereka mengikutinya dan mengingkari hak-hak kaum Quraisy dalam kenabian, “Aku ingin kalian mengatakan kepadaku dengan dalih apa kaum Quraisy lebih berhak mendapatkan kenabian dan kepemimpinan daripada kalian? Demi Allah, mereka tidak lebih banyak dan kuat dari kalian, sedang negeri kalian lebih luas dari mereka, harta kalian lebih banyak dari harta mereka.”

Contoh lain adalah Ar-Rajjal bin Unfuwah Al-Hanafi yang disesatkan oleh Allah, setelah dia membaca Al-Qur’an dan memahami agama, malah mengatakan tentang hakikat pembagian kenabian antara Rasulullah dan Musailamah, “Keduanya adalah seperti dua ekor domba yang bertarung dan yang paling kami senangi adalah domba kami sendiri.”

Inilah Thalhah An-Nimri yang mengatakan kepada Musailamah setelah dia tahu akan kebohongannya, “Aku bersaksi bahwa kamu adalah pembohong dan Muhammad adalah benar, akan tetapi bohongnya orang dari keturunan Rabi’ah (Musailamah) lebih aku sukai daripada kebenaran orang dari keturunan Mudhar (Muhammad).”

Bahkan Musailamah mengerti akan kebohongan dirinya, ketika pertempuran Yamamah berlangsung dan tampak pasukan Islam akan menang, para pengikut Musailamah bertanya kepadanya, “Di mana kemenangan dan tanda-tandanya seperti yang kamu janjikan kepada kami?” Dia menjawab, “Berperanglah kalian atas nama kehormatan kalian, adapun atas agama maka tidak ada agama.”

Persepsi, pemikiran, dan harapan-harapan telah kabur dalam diri orang-orang murtad, sehingga mereka berusaha untuk menghapuskan wujud agama Islam dan bersekongkollah kekuatan-kekuatan jahat dalam usaha ini. Tetapi usaha mereka menemui kegagalan karena persatuan umat Islam dan pijakan mereka di atas landasan kuat masyarakat Muslim sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah. Seolah menjadi sebuah kutub magnet besar yang memiliki daya tarik terhadap semua orang yang berpotensi masuk Islam. Persatuan ini telah memperlihatkan kekuatan Islam bukan terletak pada kuantitas pasukan dan perlengkapan perang, tetapi terletak pada kualitas persepsi, pemikiran, dan perilaku dalam landasan yang kuat. Dan masalah tanpa dihinggapi rasa ragu dan sanksi, sejelas kata-kata Abu Bakar kepada orang-orang Islam semua, “Barang siapa menyembah Muhammad, sesungguhnya beliau telah meninggal dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak mati.”

Di antara buah dari peristiwa kemurtadan ini adalah dijaganya persepsi Islam dari penyelewengan dan distorsi, bendera Islam bersih dari fanatisme jahiliyah dan loyalitas yang tercampur sehingga menjadi suci murni dari campuran apa pun. Persepsi Islam tidak akan pernah bisa ditawar dalam kondisi apa pun.

Kekuatan Islam tidak hanya bergantung pada kuantitas pasukan dan perlengkapan perang tetapi tergantung pada kualitas kekuatan iman dan semangat. Prinsipnya adalah mendakwahi mereka masuk Islam bukan memerangi mereka. Dakwah merupakan yang pertama dan menjaga kehormatan manusia adalah didahulukan daripada yang lainnya.

b. Urgensi Landasan Kuat dalam Masyarakat

Peristiwa kemurtadan ini telah memperlihatkan logam orisinil dan komponen-komponen kuat dalam landasan negara Islam. Umat Islam bukan sekadar individu yang bersebaran, akan tetapi mereka membentuk satu landasan dalam masyarakat dan negara Islam. Landasan ini tidak rapuh atau retak, akan tetapi kokoh dan kuat, tahu hakikat dirinya sendiri dan hakikat musuhnya serta mengerti dimensi-dimensi bahaya dari sekitarnya, selalu melakukan strategi baik guna menghadapi semua kesulitan. Di samping itu ia selalu terhubung dengan Allah Yang Maha Kuat lagi Perkasa. Maka dari itulah, ia selalu mendapatkan pertolongan dalam melawan musuh, menghadang semua hambatan. Landasan inilah yang tetap menjaga eksistensi Islam dan negara Islam, berperan dalam mengumpulkan pasukan untuk menumpas kekuatan gerakan kemurtadan, berusaha untuk menyatukan orang-orang di sekitarnya. Dan atas karunia Allah usaha landasan yang kuat ini telah berhasil menjaga eksistensi dan keberlangsungan umat serta pengembangannya.

c. Menyikapi Jazirah Arab Sebagai Landasan Ekspansi Islam

Setelah wafatnya Rasulullah, kelompok-kelompok mulai terpecah, banyak kabilah yang memberontak terhadap khalifah, sehingga Abu Bakar beserta para sahabat berjuang keras sampai mereka berhasil menundukkan kabilah-kabilah itu kembali kepada negara Islam.

Abu Bakar sendiri yang mengawasi pelaksanaan strategi pendidikan, pengajaran, kemiliteran, dan kepemerintahan. Dia meraih kesuksesan dengan bersatunya kembali kabilah-kabilah Arab ke dalam pangkuan negara Islam. Dan jazirah Arab dengan penduduknya kemudian menjadi pangkalan ekspansi Islam dan sumber terpancarnya agama Islam yang memancar ke berbagai penjuru dunia.

Jazirah Arab adalah pangkalan ekspansi Islam. Bagaimana ekspansi akan berjalan jika pangkalan dalam kondisi lemah dan tidak stabil. Adapun sekarang mobilisasi semua kekuatan di jazirah Arab adalah sangat memungkinkan untuk melakukan tindakan militer setelahnya.

d. Menyiapkan Kepemimpinan Bagi Gerakan Ekspansi Islam

Dari peristiwa kemurtadan yang telah membedakan barisan-barisan, menguji kekuatan, menyingkap lapisan yang menutupi logam umat, maka terlihatlah mana logam yang buruk. Dan kepemimpinan diberikan kepada logam mulia yang kuat dan terasah, untuk memegang kendali gerakan ekspansi Islam.

Sumber-sumber sejarah memberikan kita informasi-informasi tentang kepemimpinan yang bukan hanya terdiri dari kaum muhajirin, Anshar dan para sahabat, akan tetapi mereka telah terdidik dari kitabullah secara langsung, lalu diasah oleh peristiwa kemurtadan sehingga membedakan mereka dari lainnya. Ini dimaksudkan agar mereka menjadi pasukan-pasukan terdepan yang akan melakukan ekspansi, dan akan diakui oleh semua sebagai pasukan yang berpengalaman, bersungguh-sungguh dalam bertugas dan beriman yang benar.

Kepemimpinan pusat di Madinah dan medan perang adalah diatur oleh pemimpin-pemimpin yang saling memahami, bekerja sama, saling mencintai meskipun dipisahkan oleh jarah yang jauh. Akan tetapi, keseimbangan yang indah antara peranan masing-masing pemimpin pusat dan pemimpin medan perang adalah sangat jelas dan terang.

e. Menyiapkan Kepemimpinan Bagi Gerakan Ekspansi Islam

Dalam beberapa nash Al-Qur’an dan Hadits yang membicarakan tentang kemurtadan sebagai suatu kasus yang kadang dialami oleh manusia, semua nash-nash tentang itu senantiasa berputar dalam bingkai teori umum yang tetap dan belum pernah terjadi secara umum dalam dunia realita.

Ketika terjadi kemurtadan dan itu dialami oleh orang-orang Islam secara nyata, kemudian mereka melakukan istimbat hukum-hukum dari nash-nash tersebut, maka istimbat mereka itu telah menjadi contoh petunjuk bagi pemahaman nash-nash. Hal ini kelihatan jelas ketika terjadi diskusi antara para sahabat tentang sikap mereka terhadap orang-orang murtad. Maka mereka kembali kepada nash-nash menelaahnya, mendialogkannya sehingga mereka pun segera mengambil mufakat dalam satu hal baik dalam penilaian dan cara mengatasi masalah mereka.

Telaah ilmiah mereka terhadap peristiwa dan nash telah menghasilkan bab-bab permasalahan dalam buku-buku legislasi Islam yang memuat pembahasan detail legislasi tentang hukum-hukum kemurtadan. Maka karya para sahabat merupakan produk fiqih dahulu yang dipertimbangkan dalam istimbat, ijtihad, dan penerapan hukum setelahnya.

f. Firman Allah, “Semua Rencana Jahat Akan Menimpa Pembuatnya Sendiri.”

Apa pun usaha pemberontakan terhadap agama Islam baik oleh individu atau kelompok atau negara adalah usaha yang sia-sia dan akhirnya akan mendapat kegagalan. Karena pemberontakan ini adalah berarti memberontak perintah Allah yang tercermin dalam kitab-Nya yang telah dijamin akan dijaga sepanjang masa dan dijaga pula orang-orang yang mengitarinya dan mengamalkannya dalam diri dan realitanya.

Dengan adanya hukum Allah yang pasti bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang bertakwa dan pertolongan Allah bagi yang tertindas oleh orang zhalim, maka nasib orang-orang yang menipu agama Allah adalah kebinasaan di dunia dan akhirat. Seorang penyair mengatakan,

Laksana penanduk bebatuan pada suatu hari untuk memecahnya
Ia tak kuasa melakukannya sebab tanduknya adalah tanduk kijang

g. Kestabilan Pemerintahan di Jazirah Arab

Setelah kemenangan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi kemurtadan, maka pembagian pemerintahan dibagi dalam sistem perwilayahan, yaitu Makkah dengan wali kotanya Attab bin Usaid, Thaif wali kotanya Utsman bin Abi-‘Ash, Sana’a wali kotanya Al-Muhajir bin Umayyah, Hadhramaut wali kotanya Ziyad bin Labid, Khaulan wali kotanya Ya’la bin Umayyah, Zabid dan Raqa’ wali kotanya Abu Musa Al-Asy’ari. Adapun Janad di Yaman wali kotanya adalah Mu’adz bin Jabal, Najran wali kotanya Jarir bin Abdullah, Jarasy wali kotanya Abdullah bin Tsaur, Bahrain wali kotanya Al-Ala` bin Al-Hadhrami, Oman wali kotanya Hudzaifah Al-Ghalfani, dan Yamamah wali kotanya Sulaith bin Qais.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baiat Umum dan Pengelolaan Urusan-urusan dalam Negeri

Baiat Umum Setelah pembaiatan terbatas kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq di Saqifah Bani Sa’idah, maka pada hari berikutnya Umar bin Al-Khathab...

Abu Bakar Ash-Shiddiq di Medan Jihad

Para sejarahwan dan ilmuan sirah menuturkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq ikut bersama-sama Rasulullah dalam Perang Badar dan dalam berbagai pertempuran semuanya, tanpa pernah absen...

Artikel Terkait

Penaklukan Irak

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Penaklukan Irak Tidak berselang lama setelah selesai perang terhadap orang-orang yang murtad dan...

Kehidupan Umar dan Masanya

Sesungguhnya pembicaraan tentang kehidupan Umar dan masanya lebih luas untuk dikaji dalam satu disertasi, terlebih dalam sub kajian dalam pasal pengantar seperti...

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat