1. Politik Luar Negeri Pada Masa Khalifah Abu Bakar

Masa kekhalifahan Abu Bakar telah meletakkan target-target Politik Luar Negeri Daulah Islamiyah. Di antara target yang paling penting adalah:

a. Menebarkan Kehebatan Negara di Mata Umat-Umat Lain

Khalifah Abu Bakar telah mewujudkan tujuan politik dalam bidang ini dengan berbagai macam cara, antara lain:

a. Menyebar berita kemenangan yang dicapai umat Islam dalam memerangi berbagai kelompok orang-orang Murtad.

Sampainya berita-berita kemenangan yang dicapai umat Islam dalam memerang kelompok-kelompok orang-orang Murtad dan meredam timbulnya fitnah termasuk upaya menciptakan stabilitas yang memperkuat eksistensi sendi-sendi pokok Daulah Islamiyah. Berita-berita semisal ini akan sampai ke negara-negara tetangga, terutama apabila negara itu mengikuti perkembangan di Daulah Islamiyah, dan terlebih lagi jika negara itu senantiasa mengawasi pergerakan Daulah Islamiyah dan melihatnya sebagai bahaya baru yang mengancamnya.

Persia dan Romawi, pada waktu itu mempunyai kekuatan untuk mengetahui peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian itu. Akan tetapi, tatkala mereka menerima berita tentang kaum Murtad dan kaum Muslimin tegar mempertahankan agama mereka, maka kedua negara ini melihat bahwa bangunan umat baru ini (Islam) menentang fenomena yang muncul dan umat Islam telah berhasil mengatasi ujian-ujian dan meredam gejolak-gejolak yang terjadi di dalam wilayahnya. Bagi Khalifah Abu Bakar, ini merupakan langkah untuk menyebar kehebatan Daulah Islamiyah.

b. Menyiapkan Pasukan Usamah.

Langkah berani Khalifah Abu Bakar menyiapkan Pasukan Usamah memiliki gaung luar biasa dalam menyebarkan kehebatan Daulah Islamiyah. Pihak Romawi bertanya-tanya perihal pasukan di bawah komandan Usamah bin Zaid yang menyerang mereka. Akan tetapi, karena pasukan Usamah ini mendulang kemenangan dan sukses kembali ke ibu kota negaranya, maka Heraklius, raja Romawi, menjadi tercengang namun dilanda kekhawatiran sampai dia mengumpulkan pasukannya puluhan ribu untuk ditempatkan di perbatasan.

Berita pengiriman pasukan Usamah berikut kemenangannya ini telah diliput oleh Raja Kisra, Persia, sedang manusia menjadikannya sebagai buah bibir di mana-mana. Sudah barang tentu, semua ini mempunyai pengaruh besar bagi Daulah Islamiyah di mata mereka.

b. Melanjutkan Jihad yang Diperintahkan Nabi

Khalifah Abu Bakar melanjutkan jihad untuk mengamankan proses dakwah dan penyebaran Islam supaya sampai kepada manusia. Maka dia menyiapkan pasukan dan memotivasi kaum Muslimin supaya keluar berjihad fi sabilillah untuk menyebarkan dakwah kebenaran dan menggusur thagut-thagut yang merintangi dakwah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai kepada manusia. Karena thagut-thagut ini akan senantiasa merancang langkah untuk menghalangi manusia dari menerima cahaya kebenaran.

Seruan dakwah Islam ini telah disambut manusia di bawah bendera para pemimpin pasukan perang Islam yang menghadapi badai perlawanan dalam jihad fi sabilillah semisal Khalid bin Al-Walid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, ‘Amr bin Al-‘Ash, Syurahbil bin Hasanah, dan Yazid bin Abu Sufyan. Khalifah Abu Bakar memilih mereka sebagai panglima perang karena (1) mereka telah teruji, (2) berpengalaman, (3) mempunyai insting pertempuran mengagumkan di mana pamornya meroket karena situasi dan kondisi yang meliputinya, dan (4) meskipun zaman-zaman yang mereka hadapi sangat berbahaya, namun mereka memandang kemaslahatan umat sangat cermat.

Sungguh, Khalifah Abu Bakar telah memilih panglima perangnya dengan tepat. Tidak itu saja, khalifah juga selalu mendukung gerakan mereka dengan memberikan pengarahan-pengarahan dan petunjuk-petunjuk; sehingga mereka mampu membuka Syam dan Irak dalam waktu yang relatif sangat singkat dan peralatan perang yang sederhana.

c. Memperlakukan Umat yang Daerahnya telah Dikuasai Islam dengan Adil dan Lemah Lembut

Politik Luar Negeri yang diterapkan Khalifah Abu Bakar adalah menegakkan bendera keadilan di atas daerah yang dikuasai Islam di samping menebarkan rasa aman dan tenang di warganya, supaya manusia merasakan perbedaan signifikan antara hidup di bawah Daulah Islamiyah dan negara lain. Sehingga tidak ada persepsi penguasa zalim hilang digantikan penguasa yang lebih kejam lagi atau setara dengan penguasa sebelumnya dalam hal kezaliman dan otoriternya.

Khalifah Abu Bakar telah membekali para komandan perang yang dikirimnya supaya berlaku ramah, kasih sayang, berbuat baik, dan adil kepada manusia. Karena orang kalah itu lebih membutuhkan toleransi ketimbang sesuatu yang membangkitkan antusiasme peperangan. Kaum Muslimin yang membuka wilayah Islam telah mempraktikkan unsur ini, baik di manusianya maupun di bangunan mereka, sehingga penduduk setempat dapat menemukan di perilaku umat Islam sesuatu yang baru, yaitu berjiwa luhur, humanisme tinggi dan jujur, sehingga mereka dapat menimbang perbedaannya dengan adil. Cahaya Islam cepat menyebar dan mengisi relung-relung kehampaan jiwa manusia, sehingga masyarakat berlomba-lomba memeluk agama baru ini dan hidup di bawah penerangan bendera Islam.

Prajurit non-Islam dari Romawi atau Persia ketika menginjakkan kakinya di bumi manapun, maka mereka meninggalkan roda, menebarkan kepanikan dan rasa cemas, dan melakukan perbuatan-perbuatan terlarang yang dicela dan dikutuk oleh rakyat. Kisah sepak terjang mereka yang membuat rakyat takut dan cemas ini telah diceritakan dari generasi ke generasi, dan dari kabilah ke kabilah lain.

Tatkala Islam datang dan pasukan Islam masuk ke pemukiman penduduk ini, maka tiba-tiba mereka menemukan sesuatu yang baru sama sekali. Mereka menemukan kembali keadilan membentang di depan mereka dan memanusiakan manusia kembali mereka peroleh setelah sekian lama hilang dilibas oleh kezaliman dan kesewenang-wenangan. Sesungguhnya Khalifah Abu Bakar telah memotivasi praktik politik ini dengan sangat gencar, dia senantiasa meluruskan sesuatu yang bengkok atau kesalahan yang terjadi.

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa orang-orang non-Arab, apabila mendapatkan kemenangan atas musuh mereka, maka mereka menghalalkan segala sesuatu dari raja atau komandan-komandan perang yang mereka kalahkan. Mereka membawa kepala-kepala manusia kepada raja-raja mereka sebagai tanda kemenangan dan simbol kebanggaan. Oleh karena itu, para komandan perang Islam dalam pertempuran-pertempuran dengan Romawi memperlakukan mereka dengan cara yang mereka gunakan. ‘Amr bin Al-Ash dan Syurahbil bin Hasanah mengirim kepala Bahan, salah satu komandan prajurit Romawi kepada Khalifah Abu Bakar bersama Uqbah bin ‘Amir. Tatkala Uqbah datang menemui Khalifah Abu Bakar dan khalifah mengingkari langkah yang demikian itu, maka Uqbah berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, sesungguhnya mereka memperlakukan kami seperti ini.”

Abu Bakar berkata, “Apakah kamu telah mempraktikkan sunnah Persia dan Romawi!? Jangan kamu bawa kepala manusia kepadaku, namun cukup kirimkan surat dan kabar saja.”

d. Menghilangkan Pemaksaan Kepada Umat-umat di Wilayah yang Dikuasai Islam

Di antara simbol politik luar negeri yang dibangun oleh Khalifah Abu Bakar adalah menghilangkan penindasan dari penduduk yang wilayahnya dikuasai oleh Islam. Khalifah tidak memaksa seseorang dari umat atau bangsa lain untuk mengikuti agamanya dengan kekerasan. Dalam konteks ini, dia merujuk ke firman Allah,

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?(Yunus: 99)

Kaum Muslimin menghendaki dari membuka wilayah Islam itu supaya thaghut-thaghut hilang dan membuka pintu di depan manusia supaya melihat cahaya Islam. Sebab, ketika mimpi buruk kezhaliman telah hilang, maka kaum Muslimin membiarkan manusia bebas dan tidak boleh dipaksa atas sesuatu sepanjang mereka memelihara perjanjian mereka dengan kaum Muslimin.

Adapun perjanjian itu mencakup materi:

  1. Wajib membayar jizyah secara langsung dan mereka adalah orang-orang kecil.
  2. Mereka tidak boleh menduduki jabatan di pos-pos tertentu, seperti militer.
  3. Mereka tidak boleh membentuk sesuatu yang mengarah kepada menentang Islam dalam syi’ar, ibadah, atau, syariatnya.
  4. Apabila di antara mereka ingin pindah agama dari agama sebelumnya, maka itu tidak diterima kecuali pindah ke Islam.

Daulah Islamiyah melakukan penafsiran Islam kepada mereka secara praktik maupun teori, sekiranya itu dapat membawa mereka meyakini Islam ini dengan mantap dan supaya mereka memeluk Islam jauh dari kebencian. Karena akidah tidak dapat ditegakkan dengan paksaan.

2. Strategi Perang Abu Bakar

Bagi mereka yang mencermati kemenangan-kemenangan Islam pada masa kekhalifahan Abu Bakar, maka mereka akan mampu mengambil kesimpulan strategi-strategi utama perang yang diterapkan dalam pertempuran.

Bagaimana Khalifah Abu Bakar mengimplementasikan sunnah dengan berusaha mengambil sebab-sebab?

Mengapa strategi yang biasa ini menjadi salah satu faktor dari turunnya pertolongan Allah dan kemenangan yang membuat kokoh kaum Muslimin?

Di antara strategi-strategi ini adalah:

1- Tidak merangsek ke negeri musuh sampai negeri tersebut benar-benar dekat bagi pasukan muslimin.

Abu Bakar adalah orang yang sangat memegang prinsip ‘tidak merangsek ke negeri musuh sampai negeri tersebut benar-benar dekat bagi pasukan Muslimin.’ Hal itu nampak jelas dalam pengiriman pasukannya untuk melakukan penaklukan Irak dan Syam.

Dalam peristiwa ekspansi ke kota Irak misalnya, Abu Bakar mengutus Khalid dan ‘Iyadh. Keduanya diberi tugas untuk menyerbu Irak dari bagian selatan dan utara. Dalam sebuah surat yang ditulis sendiri oleh Abu Bakar disebutkan, “Siapa di antara kalian yang lebih dahulu sampai di Hirah (Herat), maka dialah yang menjadi amir (putra mahkota/pemimpin) di Hirah. Oleh karena itu apabila kalian berdua berkumpul di Hirah -dan insyaAllah itu akan terjadi- dan kalian berdua telah menghancurkan semua gudang senjata yang ada di antara Arab dan Persia, dan kalian menganggap aman jikalau pasukan Muslimin datang dari arah belakang musuh, maka hendaklah salah seorang kalian berada di Hirah dan yang lainnya menghadapi musuh. Habisi mereka semuanya. Mintalah pertolongan kepada Allah, bertakwalah kepada-Nya, dahulukan urusan akhirat daripada urusan dunia manakala keduanya berkumpul, janganlah kalian mementingkan dunia, maka dunia dan akhirat tidak bisa kalian dapatkan. Berhati-hatilah dengan sesuatu yang Allah sendiri menyuruh untuk mewaspadainya dengan meninggalkan banyak maksiat dan segera bertaubat. Jauhilah keinginan berbuat maksiat dan menunda bertaubat.

Surat yang agung ini menunjukkan ide Abu Bakar yang cemerlang dan perencanaannya yang tepat, di samping juga karena memperoleh pertolongan dari Allah. Planning perang yang disusun Abu Bakar sangat sesuai dengan maslahat pasukan Islam pada saat pengaplikasiannya. Sebagai saksi mata atas kepiawaian perencanaan perang Abu Bakar adalah Khalid bin Al-Walid. Dikisahkan, ketika Khalid bin Al-Walid menerima mandat tugas supaya mengganti posisi ‘Iyadh dalam momentum penaklukan bagian utara kota Irak dan ia berdiam di Karbala, sedangkan kaum Muslimin banyak yang mengadukan kepada Khalid bin Al-Walid tentang banyaknya lalat yang menyerangnya, maka Khalid bin Al-Walid berkata kepada Abdullah bin Watsimah, “Bersabarlah, sesungguhnya aku di sini hanya ingin mengosongkan gudang senjata yang sebenarnya tugas ‘Iyadh. Lalu kami menempatkan orang-orang Arab di situ sehingga pasukan Muslimin bisa merasa nyaman datang dari arah belakang mereka. Selain itu orang-orang Arab biar datang kepada kami dengan aman dan tidak terbata-bata. Karena inilah Khalifah Abu Bakar memerintahkan kepadaku. Dan pendapatnya melebihi kecerdasan umat.”

Abu Bakar juga menerapkan garis kebijakan di Irak kepada Al-Mutsanna bin Haritsah. Ia berpesan, “Perangilah pasukan Persia di perbatasan daerah mereka, tepatnya di dekat perbatasan dari daerah Arab. Dan janganlah kalian menyerang mereka di kampung halaman mereka sendiri. Sebab jika Allah memberi kemenangan kepada pasukan Muslimin, maka pasukan Muslimin bisa mendapatkan segalanya dari mereka. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya (pasukan Muslimin menuai kekalahan), maka pasukan Muslimin akan mundur dan bergabung dengan kelompok lain (orang-orang Arab). Sehingga sebagai dampaknya, pihak pasukan Persia lebih mengetahui jalan yang ditempuh pasukan Muslimin dan akan menetap di bumi kaum Muslimin sampai Allah membalikkan serangan kepada Persia.”

Adapun dalam momentum penaklukan di negeri Syam, maka posisi padang tandus berada di belakang pasukan Muslimin sehingga bisa dijadikan benteng bagi mereka. Selain itu pasukan Muslimin sudah memastikan terlebih dahulu bahwa pihak musuh sudah merasa putus asa akibat dikejutkan dengan kedatangan pasukan Muslimin yang tiba-tiba datang dari arah belakang mereka. Ditambah lagi pasukan musuh meninggalkan kanan dan kiri kota serta negeri mereka. Pokoknya setiap celah tertutupi dengan penyerangan. Taktik seperti ini sangat diperhatikan Ash-Shiddiq.

2- Mobilisasi militer dan konsentrasi pada kekuatan

Ketika Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, maka ia langsung membuat beberapa rencana perang, di antaranya ialah mobilisasi militer dan konsentrasi pada kekuatan. Abu Bakar menyeru pasukan Muslimin untuk memerangi kaum yang Murtad. Setelah itu ia mengajak pasukan Muslimin untuk melakukan berbagai ekspansi. Abu Bakar juga mengirimkan surat kepada penduduk Yaman.

3- Menertibkan prosedur pemberian bantuan bagi pasukan

Ketika peperangan blok Timur menjadi berkembang dan kedua pemimpin blok -yaitu Khalid dan Al-Mutsanna- merasa butuh bantuan yang dikarenakan tidak ada lagi kekuatan bagi keduanya untuk melakukan peperangan, maka Khalid dan Al-Mutsanna menulis surat kepada Khalifah Abu Bakar guna meminta bantuan. Setelah itu Abu Bakar menjawab suratnya, “Pergilah kalian berdua untuk bergabung dengan pasukan yang menyerang kaum Murtad dan bergabunglah dengan orang-orang yang masih memeluk Islam sepeninggal Rasulullah. Dan janganlah salah seorang kalian menyerang orang yang Murtad sampai aku tunjukkan pendapatku.”

Khalifah Abu Bakar selalu memberikan bantuan saat momentum penyerangan ke Irak dan Syam sampai saat-saat terakhir masa hidupnya.

4- Pembatasan target dari suatu peperangan

Poin ini diterapkan dalam anggaran dasar perang Islam di berbagai peristiwa penaklukan. Hal ini dilakukan supaya menjadi acuan tujuan semua kaum Muslimin. Abu Bakar Ash-Shiddiq menerapkan kebijakannya dalam berbagai ekspansi dengan alasan supaya setiap pasukan mengerti bahwa tujuan dari beberapa penaklukan yang dilakukan pasukan Muslimin adalah menyebarkan Islam dan menyampaikannya kepada publik dengan cara memberantas orang-orang zalim yang melarang masyarakatnya untuk memeluk Islam. Para pemimpin Islam sebelum melakukan penyerangan selalu menawarkan tiga hal kepada para musuh yaitu: masuk Islam, atau membayar upeti, atau peperangan.

5- Memberikan prioritas pada beberapa operasi militer

Abu Bakar Ash-Shiddiq memimpin sendiri awal operasi militer melawan orang-orang Murtad. Ia sendiri pula yang menyusun pasukan untuk memerangi mereka. Namun demikian Abu Bakar tidak mengabaikan operasi militer yang lainnya. Oleh karena itu Abu Bakar menugaskan Usamah untuk menuju ke Syam dan Al-Mutsanna untuk menuju ke Irak.

Pada tahun pertama dalam kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia menghimpun segenap kemampuan dan kekuatan kaum Muslimin untuk menumpas orang-orang Murtad. Ketika proses pengembalian persatuan jazirah Arab selesai dilakukan dan memungkinkan untuk berangkat dari pondamen yang lebih kuat serta terpercaya, maka Abu Bakar mengarahkan beban operasi penyerangan kedua blok, yaitu blok Irak dan Syam. Di saat blok Syam membutuhkan bantuan, maka Abu Bakar mengambil alih poros penyerangan ke Syam serta menugaskan Khalid di situ dan meninggalkan Al-Mutsanna tetap berada di blok Irak.

6- Mencabut kepemimpinan pasukan dari medan pertempuran

Ketika Abu Bakar mulai siaga menyusun kekuatan guna menyerang Romawi dan Persia, maka ia mengutus Khalid bin Said ke Tabuk dengan mengemban misi menuju kawasan-kawasan umum dan pusat-pusat kemajuan. Abu Bakar menyuruh Khalid bin Said agar menjadi pembantu kaum Muslimin. Ketika Khalid bin Said gagal mengemban tugas ini, maka tugas dilanjutkan oleh Ikrimah bin Abu Jahal.

7- Perkembangan metode-metode penyerangan

Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika mendengar berita tentang datangnya pasukan Romawi dan bergabungnya penduduk Damaskus kepada mereka, maka ia menulis surat kepada Abu Ubaidah yang isinya, “Sebarkan kuda-kudamu di kota-kota dan desa-desa. Persempitlah perbekalan dan materi untuk mereka. Dan kalian janganlah mengepung beberapa medan sampai datang kepadamu perintahku.”

Di saat Abu Ubaidah ditopang dengan kekuatan yang cukup, maka Abu Bakar mengirim surat lagi kepadanya, “Jika para musuh melawanmu, maka bangkitlah untuk melawan mereka dan mintalah pertolongan kepada Allah. Sebab mereka tidak menerima bantuan melainkan aku akan memberimu bantuan seperti kekuatan yang ada pada mereka.”

8- Lancarnya koordinasi dan konsolidasi dengan para panglima

Koordinasi dan konsolidasi antara Ash-Shiddiq dan para panglima perang tersusun rapi. Korespondensi dari para panglima dalam kondisi lancar. Selain itu surat balasan dari Khalifah Abu Bakar sangat cepat diterima detasemen sehingga tidak memberikan ruang gerak sedikitpun bagi musuh untuk mengejutkan kaum Muslimin yang belum mereka prediksi sebelumnya.

Begitulah perencanaan perang bagi kaum Muslimin yang tepat dan akurat, sehingga menjadi faktor pendorong mundurnya para musuh dan mengalahkan mereka atas karunia Allah dalam pergerakan ekspansi.

9- Kecerdasan dan kepandaian khalifah

Perencanaan perang dalam dunia Islam di era awal-awal ekspansi mengalami kemajuan dengan adanya dalang seorang kreator yang cerdas, pandai, berbudi halus, dan ahli ilmu firasat. Dialah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar dengan pengetahuannya yang luas untuk membuat perencanaan perang selama menemani Nabi Shalallahu alaihi Wassalam. Ia telah menerima didikan dari pengajaran dan arahan Rasulullah. Oleh karena itu tidak heran jika ia mampu memperoleh banyak ilmu dan pengalaman yang bermacam-macam. Dan setelah kepergian Rasulullah, ia menduduki jabatan khalifah. Yaitu sebaik-baiknya jabatan dalam dunia Islam. Lalu Abu Bakar memegang jabatan dengan penuh keteladanan yang oriented dan membekali pasukan dengan nasihat-nasihat yang berharga.

Selain itu Abu Bakar juga mengirimkan bantuan di saat para mujahid dalam kondisi sempit dan memotivasi mereka dengan cita-cita luhur dan kemauan yang kuat seperti di masa lalu.

3. Hak-hak Allah, Hak-hak Para Panglima dan Hak-hak Para Pasukan yang Tersirat dari Beberapa Pesan Abu Bakar Ash-Shiddiq

a. Hak Allah

Di antara arahan-arahan khalifah yang ditujukan kepada para panglima dan para pasukan adalah adanya beberapa hak untuk Allah. Seperti bersabar atas musuh, ikhlas dalam memerangi mereka karena Allah, menunaikan amanat, serta tidak sepihak dan pengeblokan dalam menolong agama Allah.

a. Bersabar atas musuh

Ketika Abu Bakar melepas Ikrimah bin Abu Jahal untuk pergi ke Yaman, maka di antara pesan Abu Bakar adalah, “Bertakwalah kamu kepada Allah. Jika kamu bertemu musuh, maka bersabarlah.”

Seperti halnya yang dikatakan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Hasyim bin ‘Utbah bin Abu Waqqash saat melepasnya untuk diperbantukan di Syam, “Apabila kamu bertemu musuh, maka bersabarlah. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak melangkah dengan satu langkah pun, tidak bisa bersedekah dengan sedekah apa pun, tidak tertimpa dengan kehausan maupun kelaparan di jalan Allah kecuali Allah telah menuliskan untukmu dengan amal yang shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

b. Hendaknya memerangi musuh dengan niat menolong agama Allah

Surat Abu Bakar untuk Khalid bin Al-Walid ketika diperintahkan untuk pergi ke Syam menunjukkan makna poin ini. Abu Bakar menyebutkan agar Khalid bersungguh-sungguh dan memurnikan niatnya karena Allah semata. Abu Bakar meminta waspada kepada Khalid bin Al-Walid dari sifat ujub (membanggakan diri sendiri), berbuat batil, dan sombong. Itulah bagian kejiwaan yang bisa merusak pahala amal dari pelakunya dan menolak pahala amal yang dikerjakannya.

Seperti halnya juga Abu Bakar menyuruh Khalid agar waspada untuk menunjukkan suatu amal kepada Allah dengan (tujuan supaya Allah membalasnya). Sebab Allah yang berhak memberi anugerah atas amal. Karena pertolongan ada di tangan-Nya. Berikut ini sebagian isi surat dari Abu Bakar, “Sebaiknya ucapkanlah selamat kepada Abu Sulaiman dalam niat dan tingkah laku. Oleh sebab itu sempurnakanlah, maka Allah akan memberimu kesempurnaan. Jangan sampai ujub merasukimu, maka kamu merugi dan hina. Hindarilah memberi petunjuk kepada Allah dengan suatu amal. Sebab Allah-lah yang berhak memberikan anugerah dan Dialah yang memberi balasan.

c. Menunaikan amanat

Arahan-arahan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada para panglima dan pasukannya sangat jelas dalam hal kewajiban menunaikan amanat terhadap ghanimah yang diperoleh usai pereang. Ia tidak menzhalimi sedikitpun terhadap jatah mereka. Melainkan Abu Bakar mengumpulkan semua orang di tempat pengumpulan ghanimah untuk membagikan ghanimah di antara semua orang yang berhak menerimanya, yaitu orang-orang yang ikut berperang dan mereka yang menghadapi musuh dengan saling membantu. Seperti misalnya pesan yang disampaikan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Yazid bin Abu Sufyan mengenai larangan untuk berbuat zhalim. Itulah sebagian arahan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berkaitan dengan sebagian hak Allah kepada para panglima dan para pasukan.

b. Hak seorang panglima

Abu Bakar Ash-Shiddiq telah menjelaskan hak-hak para panglima terhadap pasukan dan rakyatnya. Seperti kewajiban patuh kepada panglima dan bergegas menuruti perintahnya, serta tidak melawannya dalam hal pembagian harta ghanimah dan lain sebagainya.

a. Kewajiban patuh kepada panglima

Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah, maka pidato perdana yang disampaikan kepadanya kaum Muslimin adalah bahwa ia akan berjalan sesuai metode Rasulullah. Dalam sambutan perdananya, Abu Bakar menuturkan bentuk ketaatan. Ia mengatakan, “Ketahuilah bahwasanya sesuatu yang kalian lakukan (dan akan mendapat ganti dari Allah) adalah bentuk ketaatan. Maka dari itu patuhlah kalian.”

Abu Bakar juga mengharuskan para panglimanya agar taat satu sama lainnya. Hal itu terbukti dari surat yang dikirimkan kepada Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani yang berbunyi, “Sesungguhnya aku telah mengutus Khalid bin Al-Walid kepadamu untuk menuju ke daerah Irak. Oleh karena itu sambutlah kedatangannya beserta orang-orang yang bersamamu, bantulah dia, tolonglah dia, dan rangkullah dia. Janganlah kalian mendurhakai perintahnya dan jangan pula membantah pendapatnya. Sebab Khalid bin Al-Walid termasuk orang-orang yang masuk dalam kategori firman Allah,

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud.” (Al-Fath: 29)

Pada saat mengirim pasukan untuk penaklukan ke Syam, Abu Bakar di era kekhalifahannya juga berpesan agar para tentara tunduk patuh atas perintah panglimanya. Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mengaruniai nikmat kepada kalian berupa agama Islam. Allah telah memuliakan kalian dengan jihad dan Dia telah menganugerahi kalian dengan agama ini (Islam) yang melebihi agama lainnya. Oleh karena itu bersiap-siaplah wahai para hamba Allah untuk menyerang Romawi di dataran Syam. Sebab sesungguhnya aku adalah orang yang diperintah untuk kalian sebagai pemimpin dan yang membuat perjanjian untuk kalian dengan suatu keutamaan. Maka dari itu taatlah kepada Tuhan kalian dan janganlah kalian berselisih dengan para pemimpin kalian. Hendaklah kalian memperbaiki niat, makanan, dan minuman kalian. Sebab sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.”

Para pasukan pun menjawab pesan yang disampaikan Abu Bakar, “Engkau adalah pemimpin kami dan kami adalah rakyatmu. Oleh karena itu darimu-lah perintah dan dari kami-lah ketaatan. Maka dari itu kami semua taat pada perintahmu dan sekiranya engkau mengarahkan kami, maka kesitulah kami menuju.”

Pada saat Abu Bakar Ash-Shiddiq melantik Khalid bin Al-Walid karena kecerdasan dan kepandaiannya di bidang perang, dan ketika Khalid bin Al-Walid sampai di Syam, maka Abu Bakar meminta Abu Ubaidah bin Al-Jarrah agar mengantar Khalid menemui para pembawa bendera dan menyuruh mereka agar patuh kepada Khalid. Lalu Abu Ubaidah memanggil Adh-Dhahak bin Qais dan memerintahkan kepadanya agar patuh pada Khalid. Kemudian Adh-Dhahak keluar berjalan untuk menemui para pasukan sambil meminta kepada mereka agar patuh kepada panglima baru bagi pasukan Syam yaitu Khalid bin Al-Walid terhadap semua perintahnya. Para pasukan pun memenuhi permintaan Adh-Dhahak dengan penuh tunduk dan patuh.

b. Menyerahkan semua urusan pasukan kepada pendapat pemimpinnya

Allah berfirman,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisaa`: 83)

Dalam ayat ini Allah menjadikan urusan rakyat jelata agar diserahkan kepada ulil amri (pemimpin) sebagai jalan untuk mendapat pengetahuan dan benarnya pendapat. Oleh karena itu apabila rakyat kecil melihat suatu kebenaran yang belum diketahui oleh seorang pemimpin, maka mereka menjelaskan kebenaran itu kepada pemimpin dan bermusyawarah dengannya. Maka dari itu Allah menganjurkan musyawarah supaya seorang pemimpin dapat kembali pada kebenaran.

Dalam kekhalifahan Ash-Shiddiq, kita melihat Abu Bakar menugasi para pemimpin dan para panglima pasukannya untuk menuju ke Syam dan ia menyerahkan urusan pasukan sepenuhnya kepada mereka. Abu Bakar berkata kepada para panglima, “Wahai Abu Ubaidah, wahai Mu’adz, wahai Syurahbil, wahai Yazid, kalian adalah termasuk para pemelihara agama ini. Sungguh aku menyerahkan semua urusan pasukan sepenuhnya kepada kalian. Maka dari itu bersungguh-sungguhlah dalam menghadapi urusan ini dan teguhkanlah hati kalian. Jadilah kalian bagaikan satu tangan (yang saling membantu) dalam menghadapi musuh kalian.”

Kemudian Abu Bakar memerintahkan para panglima untuk memperhatikan kondisi para pasukan, mendahulukan berbuat ikhlas dan persatuan sehingga tidak terjadi silang pendapat di antara mereka.

Ash-Shiddiq menambahkan, “Apabila kalian sudah tiba di suatu negeri dan kalian bertemu musuh serta kalian sedang berkecamuk dalam pertempuran, maka pemimpin kalian adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Dan jika tidak ada Abu Ubaidah, padahal perang masih berkecamuk, maka pemimpin kalian adalah Yazid bin Abu Sufyan.”

Begitulah Khalifah Abu Bakar menyerahkan managerial tentara sepenuhnya kepada pendapat salah satu panglimanya dan ia mewakilkan untuk mengaturnya sehingga tidak saling berbeda pendapat di antara mereka. Hal ini diperkuat pada saat Abu Bakar berkata kepada Amr bin Al-Ash, “Kamu adalah salah satu panglimaku di sana. Oleh karena itu apabila perang sedang berkecamuk, maka pemimpin kalian adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Demikian pula halnya pendapat Abu Bakar beserta para pemimpin di Irak, di mana ia mengatakan kepada Al-Mutsanna bin Haritsah, “Sesungguhnya aku telah mengutus Khalid bin Al-Walid kepadamu untuk menuju bumi Irak. Oleh karena itu siapa yang bermukim bersamamu, dialah pemimpin. Namun jika ia berangkat dari hadapanmu, maka kamulah yang memimpin dan keselamatan semoga tercurahkan kepadamu.”

c. Bergegas menuruti perintah pemimpin

Pada peristiwa pemberantasan terhadap kaum Murtad, Abu Bakar Ash-Shiddiq menulis surat kepada Khalid bin Al-Walid perihal persoalan Musailamah Al-Kadzdzab. Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid bin Al-Walid agar berangkat menumpas Musailamah. Lalu Khalid bin Al-Walid mengumpulkan para sahabatnya dan membacakan surat dari Abu Bakar kepada mereka. Khalid meminta pendapat dari para sahabatnya dan mereka pun menjawab, “Pendapat yang paling diperangi adalah pendapat Anda. Salah seorang dari kami tidak ada yang melawan perintah Anda.”

Begitu pula Abu Bakar Ash-Shiddiq juga mengirim surat kepada Khalid bin Al-Walid di saat ia bermukim di Irak agar keluar bersama sebagian orang untuk menuju ke Syam. Dan sebagian orang yang lainnya dipimpin oleh Al-Mutsanna bin Haritsah. Abu Bakar berkata kepada Khalid, “Janganlah kamu ambil posisi di kota Najd, melainkan kamu berikan Najd pada Al-Mutsanna.” Lalu Khalid pun menaati perintah dan membagi pasukan menjadi dua bagian.

Pada kesempatan yang lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirimkan surat kepada Amr bin Al-Ash agar berangkat dari Qudha’ah menuju Yarmuk. Amr bin Al-Ash pun menuruti perintah. Abu Bakar mengutus Abu Ubaidah dan Yazid serta memerintahkan keduanya agar melakukan pengepungan di negeri Syam, dan hendaknya semua pasukan tidak merangsek ke negeri Syam hingga dipastikan di belakang mereka tidak ada pihak musuh yang membuntuti. Para pemimpin dan pasukan tentara memenuhi arahan dan semua perintah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

d. Tidak menentang sedikitpun kepada pemimpin dalam hal pembagian ghanimah

Dalam masalah pembagian harta rampasan perang, Abu Bakar meniru metode yang diterapkan Rasulullah. Usai dari peperangan di Yamamah, Khalid bin Al-Walid menuliskan surat kepada Abu Bakar yang memberitakan berita gembira atas kemenangan pasukan Muslimin dalam peperangan itu dan membawa pulang banyak ghanimah. Kemudian Abu Bakar membalas surat Khalid bin Al-Walid yang isinya, “Kumpulkan semua ghanimah dan tawanan serta apa saja yang kamu peroleh dari harta Bani Hanifah. Keluarkan 1/5 dari hasil ghanimah dan berikan kepada kami supaya dibagikan kepada seluruh pasukan yang ikut berperang. Dan berikan hak masing-masing orang yang berhak menerimanya. Wassalam.”

Begitulah yang selalu diperbuat Abu Bakar terhadap semua panglima dalam mengurus pasukan tentang pembagian ghanimah. Tidak ada satupun pasukan yang menentang panglima dalam masalah pembagian ghanimah dan menyamaratakan pembagian di antara mereka.

c. Hak-hak tentara

Ash-Shiddiq telah menjelaskan hak-hak bagi seorang tentara dalam beberapa pesan dan suratnya. Seperti parade militer, meninjau kondisi para prajurit secara langsung, menemani perjalanan pasukan, mengikutsertakan orang-orang yang berpengalaman dan para pemimpin untuk bermukim bersama pasukan, memilih tempat-tempat persinggahan pasukan guna memerangi musuh, menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan pasukan, mencari tahu tentang berita musuh melalui mata-mata yang terpercaya demi keselamatan pasukan, memotivasi pasukan untuk semangat dalam berjihad, mengingatkan mereka atas pahala Allah dan keutamaan mati syahid, bermusyawarah dengan pasukan yang memiliki ide cemerlang, memenuhi hak-hak yang wajib diterima oleh para pasukan, melarang pasukan dari perkara yang menyibukkan untuk berjihad, misalnya berdagang, bertani, dan lain-lain. Berikut ini adalah rincian poin-poin yang dimaksud:

a. Melakukan parade militer dan meninjau kondisi mereka

Ketika orang-orang yang Murtad menginjakkan kaki di Madinah Al-Munawwarah, kita lihat Abu Bakar Ash-Shiddiq mengumpulkan para penduduk Madinah untuk berkumpul di masjid. Abu Bakar berkata kepada mereka, “Sesungguhnya bumi kota Madinah adalah gelap. Delegasi orang-orang Murtad telah memandang kalian sebagai kelompok yang kecil. Sesungguhnya kalian tidak mengerti apakah di waktu malam kalian akan didatangi atau di waktu siang dan kurir siapa dari mereka yang paling dekat dengan kalian.”

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq menjelaskan kepada para sahabat. Lalu ia menentukan sekelompok penjaga untuk menjaga para pemuka Madinah.

Ketika para pasukan ekspansi Syam telah berkumpul, Abu Bakar naik ke atas kendaraannya sehingga berada di tempat teratas di antara para pasukan. Lalu Abu Bakar melihat para pasukan dan mereka telah memadati kawasan itu. Wajah Abu Bakar Ash-Shiddiq nampak berseri-seri dan ia memberi pesan, motivasi, serta doa kepada para pasukan sebelum berangkat. Abu Bakar mengikat hati para pasukan dengan mengetengahkan keutamaan berjihad dan ia berjalan bersama pasukan sekitar dua mil.

b. Menemani perjalanan para pasukan

Abu Bakar telah berpesan kepada Khalid bin Al-Walid dalam menumpas orang-orang yang Murtad agar menemani orang-orang yang bersamanya dan hendaknya membawa penunjuk jalan dalam perjalanannya. Begitu pula halnya Abu Bakar juga berpesan seperti itu kepada para pemimpin penumpasan orang-orang Murtad.

Pada peristiwa penaklukan kota Irak, ketika Khalid bin Al-Walid mengikat perjanjian perdamaian dengan penduduk Ulais dan lainnya, maka di antara isi syarat perjanjian itu adalah penduduk Ulais harus mau menjaga keamanan untuk pasukan kaum Muslimin, serta menjadi penunjuk jalan dan penolong pasukan Muslimin dalam menghadapi pasukan Persia. Sebab penduduk Ulais-lah yang lebih tahu dan lebih paham tentang lorong-lorong jalan negeri mereka dibanding pasukan kaum Muslimin.

Ketika Abu Bakar menugasi Khalid bin Al-Walid agar berangkat dari Irak untuk menuju ke Syam karena memberi bantuan dan pertolongan kepada mereka, maka Khalid bin Al-Walid mengundang para penunjuk jalan dan bermusyawarah dengan mereka seputar perjalanan di padang sahara menuju Syam. Sebab jalur padang pasir itulah jalan yang paling cepat untuk ditempuh. Kemudian di antara para penunjuk jalan yang ikut berangkat bersama Khalid adalah Rafi’ bin ‘Amirah Ath-Tha`i.

Ash-Shiddiq berpesan kepada Yazid bin Abu Sufyan saat ditugasi untuk menuju ke Syam, “Apabila kamu melakukan perjalanan, maka janganlah kamu mempersempit diri sendiri, juga jangan mempersempit kawan-kawanmu dalam perjalanan.”

Ketika para pasukan sedang serius dalam perjalanannya, ada salah seorang pasukan yang mengingatkan Yazid perihal pesan Abu Bakar kepadanya agar ikut menemani perjalanan para pasukan dan memenuhi pesan itu.

Seperti halnya Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berpesan kepada Amr bin Al-‘Ash ketika ditugaskan untuk menuju Palestina. Berikut pesan Abu Bakar, “Jadilah kamu sebagai orang tua bagi orang-orang yang bersamamu, temanilah mereka dalam perjalanannya. Sebab di antara mereka ada orang yang lemah.”

Para panglima Abu Bakar Ash-Shiddiq benar-benar menjalankan perintahnya. Terbukti mau menemani para pasukan dalam perjalanan. Para panglima tidak melakukan perjalanan untuk menumpas para musuh kecuali bersama para penunjuk jalan yang bisa menunjukkan kepada pasukan Muslimin jalan yang paling mudah untuk ditempuh dan juga terpenuhi semua kebutuhan, seperti air dan makanan ternak, sehingga pasukan Muslimin bisa melakukan perjalanan untuk menyerang musuh dengan tanpa harus menyia-nyiakan sisa-sisa tenaga ataupun menghancurkan spirit mereka.

c. Membuat syiar atau sandi panggilan untuk setiap kelompok

Saat Abu Bakar mengutus pasukan Usamah untuk menyerang Romawi, maka syiar yang mereka teriakkan adalah, “Wahai Manshur, matilah kamu.”

Dalam penyerangan terhadap kaum yang Murtad saat perjalanan Khalid bin Al-Walid menuju Musailamah Al-Kadzdzab di negeri Yamamah, maka syiar yang didengungkan pasukan Muslimin saat itu adalah, “Ya Muhammadah -Wahai Muhammad, wahai Muhammad-.” Syiar yang didengungkan saat pembebasan negeri Irak adalah, “Wahai keluarga Abdullah.”

Dalam penaklukan negeri Syam di Yarmuk kita temukan bahwa setiap panglima dan kabilah memiliki syiar sendiri-sendiri yang membedakan antara satu dengan lainnya sebagai ciri khas masing-masing. Mereka meneriakkan syiar itu saat pertempuran berlangsung. Seperti halnya syiar Abu Ubaidah, “Matilah kamu, matilah kamu.” Syiar Khalid bin Al-Walid dan orang-orang yang bersamanya, “Wahai golongan Allah.” Syiar kabilah Abbas, “Wahai suku Abbas.” Syiar sekelompok orang di Yaman, “Wahai penolong Allah.” Syiar Humair, “Penaklukan.” Syiar Daram dan as-Sakasik, “Sabar sabar.” Syiar Bani Murad, “Hai pertolongan Allah, turunlah.” Itulah beberapa syiar yang paling nampak diteriakkan dalam peperangan di Yarmuk.

d. Memikirkan perjalanan para pasukan

Di antara pesan Abu Bakar kepada para panglimanya ketika diutus untuk memerangi kaum yang Murtad adalah melarang para sahabatnya untuk tergesa-gesa dan berbuat kerusakan, tidak menyisipkan seseorang ke dalam barisan pasukan hingga seorang panglima bisa mengenali dan mengetahui siapa semua yang ikut dalam barisan pasukan supaya tidak memasukkan orang-orang yang bukan pilihan dan juga supaya pasukan kaum Muslimin tidak datang terlambat sebelum kedatangan musuh. Seperti juga perintah Abu Bakar kepada para panglimanya agar tidak meminta bantuan dari kaum Murtad dalam memerangi musuh. Hal yang demikian ini demi menjaga keselamatan pasukan kaum Muslimin.

Selain itu Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berpesan kepada para panglima penaklukan ke Syam agar selalu waspada, hati-hati, dan berjaga, dan dari kurir para musuh sehingga para kurir itu tidak bisa mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi pada pasukan kaum Muslimin seperti beberapa celah dan lemahnya tempat persembunyian. Abu Bakar memerintahkan kepada para panglima agar para kurir musuh jangan sampai ikut berbaur dengan militer Muslimin dan jangan pula mereka berbicara dengan pasukan. Hal ini terbukti dari ucapan Abu Bakar kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Dan apabila para kurir musuh datang kepadamu, maka muliakanlah posisi mereka, berilah mereka berita secara ta`wil saja (tidak berterus terang), kurangilah menahan mereka supaya mereka dapat segera keluar dalam kondisi tidak tahu kondisimu, laranglah orang-orang yang ada di dekatmu untuk membicarai para kurir, kamu sajalah yang menjadi juru bicara pihak pasukan Muslimin, dan jangan kamu ungkap rahasiamu secara terang-terangan, maka yang demikian akan hancur rencanamu.”

e. Menjaga para pemimpin supaya tidak disandera musuh, baik di tempat tinggal maupun di perjalanan mereka

Hal itu nampak ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq melakukan penjagaan ketat terhadap para pemuka Madinah karena merasa khawatir sergapan sebagian kabilah yang Murtad. Pada saat Abu Bakar menginstruksikan kepada Khalid bin Al-Walid untuk memerangi kaum Murtad, maka Abu Bakar menyuruhnya berhati-hati agar tidak melakukan pengepungan di malam hari dan pengepungan di saat lengah. Abu Bakar berkata kepada Khalid bin Al-Walid, “Berjagalah dan jangan mengepung di malam hari. Sebab kabilah Arab terdapat para pemuka.”

Pada kesempatan lain, Abu Bakar berpesan kepada para pemimpin dan panglima penaklukan Syam agar selalu melakukan penjagaan terhadap para pasukan guna menjaga mereka dari serangan para musuh serta melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk meyakinkan apakah para prajurit sudah melaksanakan tugasnya ataukah belum. Hal ini tercermin dari ucapan Abu Bakar kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Perketat penjagaanmu, sering-seringlah melakukan inspeksi mendadak baik malam maupun siang.”

Abu Bakar berkata kepada Amr bin Al-Ash, “Perintahkan kepada sahabatmu untuk berjaga, tinggallah kamu di antara mereka, dan duduklah kamu bersama mereka.”

Dan para pemimpin pun mengikuti jejak Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam melaksanakan penjagaan terhadap pasukan baik di tempat tinggal maupun dalam perjalanan mereka.

f. Menyiapkan semua kebutuhan pasukan yang berupa bekal dan makanan ternak

Abu Bakar membeli unta, kuda, dan persenjataan hanya dijadikan untuk jihad di jalan Allah, di samping memperolehnya dari ghanimah dari para musuh oleh pasukan Muslimin.

Pada saat Abu Bakar Ash-Shiddiq menugasi Khalid bin Al-Walid untuk memerangi kaum Murtad, maka di antara pesan Abu Bakar yang disampaikan kepada Khalid adalah apabila ia masuk di kawasan musuh hendaknya tidak berjalan menuju ke sana kecuali mengingat bekal.

Para panglima Ash-Shiddiq manakala mengikat perjanjian damai dengan para musuh, maka mereka mensyaratkan para musuh agar memberi jamuan kepada kaum Muslimin yang lewat di kawasannya. Jamuan tersebut bisa berupa makanan maupun minuman.

Di tengah-tengah penyampaian pesan pada pasukan Syam, Abu Bakar memperkenankan apabila mereka menyembelih kambing atau unta untuk musuh, maka tidak menyembelihkannya kecuali untuk dimakan.

g. Menertibkan pasukan dalam barisan perang

Para panglima Ash-Shiddiq dalam beberapa peperangan yang mereka ikuti selalu memperhatikan model atau formasi barisan. Barisan-barisan itu bisa bertambah dan berkurang tergantung situasi serta medan pertempuran yang diamati seorang panglima.

Hanya saja dalam pertempuran di Yarmuk, Khalid bin Al-Walid menerapkan sistem berkelompok-kelompok. Maksudnya sekelompok pasukan berdiri dalam beberapa barisan. Barisan-barisan yang ada bersambung satu sama lain, namun berjarak saling berjauhan. Model ini dimaksudkan untuk mempermudah langkah gerak pasukan dan supaya cepat menyebar. Di antara ucapan Khalid kepada para pasukan saat diterapkan sistem berkelompok-kelompok ini adalah, “Sesungguhnya musuh kalian berjumlah banyak dan zalim. Tidak ada mobilisasi tentara yang paling banyak dalam pengamatan mata dibandingkan dengan berkelompok-kelompok.” Oleh sebab itu Khalid bin Al-Walid membuat sistem berkelompok-kelompok di daerah Al-Qalb dan mengangkat Abu Ubaidah. Di daerah Al-Maimanah juga dibuat berkelompok-kelompok dan mengangkat Amr bin Al-Ash serta Syurahbil bin Hasanah. Di daerah Al-Maisarah terdapat Yazid bin Abu Sufyan. Begitulah langkah yang diambil Khalid bin Al-Walid. Ia mengangkat satu orang sebagai ketua komando pada setiap 36 sampai 40 pasukan. Khalid bin Al-Walid juga mengangkat satu orang sebagai ketua komando pada setiap mobilisasi yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang Arab sebelumnya. Khalid bin Al-Walid membagi tugas managerial di antara para pemimpin.

Model barisan seperti itu diterapkan dalam sistem pertempuran Islam pasca terjadinya perang Yarmuk.

h. Memotivasi pasukan untuk berperang

Abu Bakar selalu memotivasi para pejuang dalam berperang. Ia memperkuat jiwa mereka dengan perolehan yang akan didapatkan dan mengingatkan kepada pasukan mengenai sebab-sebab perolehan kemenangan. Demikian ini dimaksudkan supaya musuh menjadi hina di mata para prajurit Islam sehingga mereka berani terhadap musuh. Dan dengan keberanian, perolehan kemenangan menjadi mudah. Oleh sebab itu Abu Bakar tidak henti-hentinya memberi semangat kepada Khalid bin Al-Walid untuk berperang. Abu Bakar mengatakan, “Bersemangatlah kamu untuk mati, maka kamu akan mendapatkan hidup.” Dan ketika Abu Bakar mengikat hati para pasukan Syam, maka Abu Bakar menyemangati mereka untuk berjihad di jalan Allah seraya berpesan kepada mereka dan mendoakan mereka agar mendapat kemenangan dalam menumpas para musuh.

i. Mengingatkan pasukan mengenai pahala dari Allah dan keutamaan mati syahid

Di antara perkataan yang diucapkan Abu Bakar kepada para tentara yang hendak menuju ke Syam adalah, “Ingatlah, sesungguhnya di dalam Kitabullah terdapat keterangan pahala atas sebab jihad di jalan Allah. Oleh karena itu sebaiknya setiap Muslim suka untuk berjihad yang diibaratkan dengan perniagaan. Yang mana dengan perniagaan itu setiap Muslim dapat selamat dari kehinaan dan akan mendapatkan kemuliaan saat di dunia dan di akhirat kelak.”

j. Bermusyawarah dengan para pasukan yang mempunyai ide cemerlang

Itulah yang dilakukan Ash-Shiddiq dalam memerangi kaum Murtad, melakukan beberapa ekspansi ke Syam, dan berbagai problem fikih serta beberapa perkembangan terbaru yang muncul di dalam masyarakat Muslim. Abu Bakar meminta para pimpinan agar saling menasihati dan saling bermusyawarah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq sendiri menjadi panutan dalam hal ini. Misalnya dalam kasus memerangi kaum Murtad, Abu Bakar memanggil Amr bin Al-Ash dan berkata kepadanya, “Wahai Umar, sesungguhnya kamu memiliki pandangan tentang kaum Quraisy dan kamu bisa memprediksi Thulaihah, bagaimana menurutmu?”

Abu Bakar Ash-Shiddiq bermusyawarah dengan Amr bin Al-Ash, kemudian ia juga menanyakan perihal pemilihan Khalid bin Al-Walid sebagai pemimpin pasukan. Kemudian Amr bin Al-Ash menjawab, “Ia memperindah jiwanya dengan peperangan, penuh kesabaran menghadapi kematian. Ia mempunyai kesabaran seperti kucing dan lompatan seperti singa.” Lalu Abu Bakar pun mengangkatnya (memilih Khalid sebagai pimpinan pasukan).

Khalid bin Al-Walid berjalan atas tugas yang diberikan Abu Bakar kepadanya. Ia meminta pendapat dari orang-orang yang bersamanya untuk mempersiapkan beberapa rancangan guna menumpas kaum yang Murtad. Khalid memberitahukan ide-ide para pasukan yang dipilihnya kepada pimpinan tinggi.

Di saat Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin memerangi Romawi dan menyiapkan pasukan untuk agenda penaklukan negeri Syam, maka ia bermusyawarah dengan sekelompok sahabat Rasulullah. Setelah mengambil pendapat dari para sahabat dan yang telah disepakati mereka, maka barulah Abu Bakar menginstruksikan para pasukan untuk bersiap-siap menuju arah yang telah diperintahkan oleh sekelompok sahabat Rasulullah tersebut.

Termasuk yang dipesankan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada para pimpinan dan panglima pasukan Syam adalah agar mereka tetap melakukan konsolidasi melalui musyawarah. Seperti yang diucapkan Abu Bakar kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Ada sosok laki-laki bernama Rabi’ah bin ‘Amir. Ia orang yang agung dan berwibawa. Kamu sudah tahu kekuatannya dan aku telah menggabungkan Rabi’ah dengan kamu. Dan aku telah memilihmu menjadi amir mengalahkan dia. Maka dari itu jadikanlah Rabi’ah ini berada di barisan paling depan, musyawarahlah dengannya dalam urusanmu dan janganlah kamu berselisih dengannya.” Lalu Yazid menjawab, “Dengan penuh kecintaan dan penghormatan.” Abu Bakar juga menambahkan, “Apabila kamu berjalan, maka janganlah kamu persempit jiwamu maupun para sahabatmu. Janganlah kamu marah kepada kaummu maupun para sahabatmu. Bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu persoalan dan ambillah sikap yang adil.”

Seperti pula ucapan Abu Bakar kepada Yazid, “Apabila kamu bermusyawarah, maka pastikan dahulu kebenaran berita, maka hasil musyawarah akan menjadi benar. Janganlah kamu menyimpan sesuatu yang akan dimintakan pendapat. Maka dari itu keluarkanlah seluruh isi hatimu.”

Selain itu ada juga beberapa ucapan Khalifah Abu Bakar lainnya yang ditujukan kepada Yazid bin Abu Sufyan seputar dasar-dasar dan kewajiban dalam bermusyawarah. Abu Bakar telah berpesan kepada para pemimpin pasukan Syam dengan pesan yang tidak keluar dari itu semua. Para panglima Ash-Shiddiq pun memenuhi apa yang diperintahkan kepada mereka, yaitu melakukan musyawarah.

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berkata kepada Amr bin Al-Ash, “Wahai Amr, banyak hari yang telah kusaksikan sendiri, di mana pada hari itu kaum Muslimin mendapat keberkahan atas pendapat dan keberadaanmu. Aku hanyalah seorang laki-laki dari golonganmu dan aku bukanlah -meski aku adalah pemimpin kalian- pemutus persoalan atas kalian. Oleh karena itu beritahukanlah kepadaku beberapa prediksimu setiap hari. Sebab aku tidak bisa lepas dari ide-idemu.”

Belum lagi permintaan Abu Bakar kepada para pimpinan di bumi pertempuran mengenai persoalan-persoalan managerial pasukan yang terasa sulit untuk tahap peletakan berbagai rancangan strategi perang, pelaksanaan, dan memperlakukan para tawanan.

k. Menanamkan perhatian ke dalam jiwa para pasukan atas hak-hak yang telah diwajibkan Allah

Abu Bakar pernah berpesan kepada para panglimanya seperti itu. Saat Amr bin Al-Ash diutus ke bumi Palestina, Abu Bakar berkata kepadanya, “Bertakwalah kamu kepada Allah dalam kondisi sunyi senyapmu. Sebab Allah melihat perbuatanmu. Sungguh kamu telah melihatku sendiri memilihmu mengalahkan orang-orang yang lebih dahulu darimu dan lebih dahulu mendapatkan kehormatan daripadamu. Oleh sebab itu jadilah kamu sebagai pekerja akhirat dan mendasarkan perbuatanmu karena Allah semata. Jadilah kamu sebagai orang tua bagi orang-orang yang bersamamu. Kerjakan shalat jika sudah tiba waktunya, serta kumandangkan adzan. Janganlah kamu shalat kecuali dengan mengumandangkan adzan terlebih dahulu yang bisa didengar para pasukan. Bertakwalah kamu kepada Allah apabila kamu berjumpa dengan musuh. Wajibkan kepada para sahabatmu untuk membaca Al-Qu`’an. Dan larang mereka dari mengingat masa Jahiliyah beserta pernak-perniknya. Sebab yang demikian itu bisa menyebabkan permusuhan di antara mereka. Berpalinglah kamu dari gemerlapnya dunia sampai kamu bisa bertemu dengan orang-orang sebelum kamu. Jadilah kamu para pemimpin yang dipuji dalam Al-Qur`an. Sebab Allah berfirman, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah.” (Al-Anbiya`: 73)

Demikianlah penjabaran terpenting mengenai hak-hak yang berkaitan dengan Allah, para pimpinan, dan pasukan yang termuat dalam beberapa pesan dan surat Abu Bakar kepada para panglimanya.

4. Rahasia di Balik Penyerbuan Kaum Muslimin Terhadap Kekuatan Persia dan Romawi

Bagi orang yang mau menganalisa semua pergerakan dalam dunia Islam guna kepentingan penaklukan, maka akan melihat betapa besarnya pertolongan Allah kepada para pasukan tentara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Para prajurit yang berhasil tersebut telah terjun langsung ke negeri Irak dan Syam serta mampu memecah kekuatan orang-orang Romawi dan Persia. Di mana daerah-daerah tersebut bisa ditaklukkan dalam waktu yang terukur sepanjang sejarah peperangan.

Adapun penyebab cepatnya perolehan kemenangan dalam penaklukan, adakalanya beberapa faktor yang terkait dengan kaum Muslimin sebagai penakluk dan ada pula beberapa faktor yang kembali pada beberapa daerah yang menjadi target penaklukan. Berikut dipaparkan di antara faktor yang terkait dengan kaum Muslimin sebagai penakluk adalah:

  1. Keimanan kaum Muslimin dengan yakin terhadap dampak dari berjihad.
  2. Keyakinan kaum Muslimin terhadap Tuhan dalam masalah rezeki, nyawa, qadha`, dan qadar.
  3. Mengakarnya beberapa sifat pertempuran di hati kaum Muslimin.
  4. Toleransi dan keadilan kaum Muslimin terhadap publik.
  5. Belas kasih kaum Muslimin dalam menaksir jizyah, pajak, dan memenuhi janji mereka.
  6. Kekayaan kaum Muslimin yang begitu luas, berupa para tokoh dan para pemimpin yang agung.
  7. Ketelitian rencana perang dalam Islam.

Sedangkan mengenai sebab-sebab yang terkait dengan daerah-daerah yang menjadi target penaklukan, yang paling penting adalah lemahnya pasukan Romawi dan Persia. Mereka menjadi lemah, kezaliman sudah menyebar di kalangan mereka, kerusakan sudah merata, buruknya moral sudah merasuki jiwa mereka, peradaban mereka sudah mengalami penuaan yang dipimpin oleh para pemimpin yang suka berlebih-lebihan, melenceng dari jalan Allah, beberapa perilaku mereka yang tidak mengenal belas kasih, basa-basi, dan selalu enjoy untuk berlalu.

Di sisi lain, kaum Muslimin sungguh telah dimuliakan oleh Allah atas sebab menempuh jalan-Nya, lalu mereka pun menempuhnya dan mengambil jalan-jalan yang memungkinkan serta merealisasikan syarat-syaratnya. Mereka berinteraksi dengan ketentuan-ketentuan Allah dalam sebuah masyarakat, membangun beberapa negeri, dan memperbaiki masyarakat.

Dari keterangan di atas bukan berarti bisa disimpulkan bahwa lemahnya Romawi dan Persia merupakan jalan mudah di hadapan kaum Muslimin secara garis besar. Namun meskipun lemahnya kedua negeri itu dikarenakan faktor-faktor yang sudah disebutkan di atas, hanya saja Romawi dan Persia tidak tinggal diam untuk melakukan persiapan yang besar guna menghadapi pasukan Muslimin. Romawi dan Persia telah menyiapkan beratus-ratus ribu pasukan handal dan terlatih yang melebihi kemampuan pasukan Muslimin, baik dari segi jumlah maupun perbekalan. Keduanya juga telah memamerkan berbagai persenjataan yang tidak diketahui pihak kaum Muslimin, seperti pasukan bergajah dan anjing pelacak yang mereka lepas dari belakang pos penjagaan untuk memburu kaum Muslimin yang berada di depan mereka.

Adapun sangkaan bahwa Romawi menganggap remeh kaum Muslimin dan mereka tidak melakukan persiapan apa pun, maka selain dijawab dengan keterangan di atas, juga dijawab dengan riwayat Ibnu ‘Asakir. Bahwa Heraklius mengumpulkan keluarganya dan ia di Himsh. Heraklius berkata kepada mereka, “Inilah yang aku waspadakan kepada kalian namun kalian tidak mau menerima hal itu dariku. Kaum Arab datang dengan perjalanan satu bulan, lalu mengubah kalian, kemudian keluar seketika namun tidak bicara.” Saudara Heraklius menjawab, “Kirimkan tali ke Balqa`.” Lalu Heraklius mengirim seutas tali dan menjalankan aksinya. Ia masih saja menjalankan aksinya sampai para pasukan tiba di Syam saat kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like