Rezeki

Kewajiban Mencari Harta Halal

Setiap orang tentu ingin kehidupan di dunia berjalan normal. Setidaknya ia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya supaya hidupnya tenang. Kebutuhan dasar manusia menurut teori ekonomi terdiri dari makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Seseorang atau keluarga yang tidak mampu memenuhi kriteria tersebut termasuk dalam kategori miskin.

Dalam Islam, kewajiban untuk mendapatkan kebutuhan dasar itu harus dilakukan dengan cara yang halal. Kemiskinan bukan alasan menghalalkan segala cara. Apalagi bagi mereka yang sudah punya banyak harta lebih dilarang melakukannya.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perbuatan yang salah akan berakibat pada keadaan yang lebih buruk. Mereka yang sengaja mencari rezeki yang tidak halal akan berhadapan dengan hukum manusia di dunia dan di akhirat menerima balasan yang pedih, kecuali ia bertaubat dan melakukan banyak kebaikan.

Rezeki yang haram akan menyebabkan banyak mudharat bagi yang memakannya. Orang yang senang memakan makanan haram, hati dan perilakunya akan sulit diajak berbuat baik. Kalaupun mereka beribadah maka ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash berkata kepada Nabi SAW yang artinya:

Ibnu Abbas ra menuturkan bahwa ketika ayat ini dibacakan di sisi Rasulullah SAW, (ayat tersebut adalah Ya ayyuhan naas kuluu mimma fil ardhi halalal thayyiban), maka Sa’ad bin Abi Waqqash ra berdiri seraya berkata: “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dengan komentar: Tidak ada yang meriwayatkan hadist ini bersumber dari Ibnu Juraij kecuali dengan sanad ini)

Dalam al-Qur’an surah Yunus ayat 59 disebutkan yang artinya:

“Katakanlah: terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus: 59)

Berdasarkan keterangan tersebut dapat ditegaskan bahwa berhati-hati terhadap makanan yang haram merupakan salah satu perintah agama, sebagaimana kisah berikut:

“Dari Zaid bin Arqam menuturkan: ‘Aku pernah di sisi Abu Bakar radhiyallahu anhu, lantas budaknya menghidangkan makanan, lantas Abu Bakar radhiyallahu anhu menjulurkan tangannya ke hidangan tersebut dan memakannya, kemudian ia bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Dari mana engkau mendapatkan makanan ini?’, Ia menjawab: ‘Aku dahulu di masa jahiliah menjadi tukang tilik lantas mereka menjanjikan untukku dan mereka memberiku makanan pada hari ini’, lantas Abu Bakar radhiyallahu anhu menimpalinya: ‘Menurutku engkau tidak memberikan makanan kepadaku kecuali bersumber dari yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, Abu Bakar radhiyallahu anhu lantas memasukkan jarinya ke dalam mulut dan memuntahkan (makanannya). Kemudian beliau berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa badan yang tumbuh subur dengan makanan yang haram pasti tempat kembalinya di neraka.” (HR. al-Baihaqi).

Islam baru membolehkan perbuatan haram tersebut jika dalam keadaan terdesak dan darurat. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ada seseorang yang mengadukan tetangganya karena mencuri barang miliknya. Setelah diinterogasi, orang yang diadukan itu mengaku terpaksa mencuri karena ia dan anak istrinya sudah tiga hari tidak makan, padahal ia sudah berusaha mencari pekerjaan dan meminta pertolongan tetangganya, termasuk kepada si pengadu tersebut, namun tak satu pun ada yang menolong. Mendengar penjelasan tersebut, Khalifah Umar memakluminya.

Islam merupakan agama yang memerintahkan kepada umatnya agar selalu mencari rezeki dari sumber yang halal. Dalam surah an-Nahl ayat 114, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (QS. an-Nahl: 114)

Ayat ini menjelaskan bahwa rezeki itu pemberian Allah SWT. Orang yang beriman harus meyakini bahwa Allah SWT telah menjamin rezekinya dan memberikannya sesuai dengan kadar yang telah ditentukan-Nya. Manusia hanya berusaha, bekerja dan mencari rezeki yang halal, sedang kadarnya adalah ketentuan dari-Nya.

Mencari rezeki yang halal itu hukumnya wajib bagi setiap muslim sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya,

“Mencari rezeki yang halal adalah wajib bagi semua orang Islam.” (HR. Thabrani dan al-Baihaqi, namun dalam sanadnya ada rowie bernama Abbad bin Katsier al-Tsaqafi, ia seorang rowi yang tertuduh berdusta (matruk) sebagaimana yang disampaikan oleh al-Haitsami)

Orang yang berusaha mencari harta dengan cara halal juga mendapat kemuliaan kelak di akhirat. Ini dijelaskan Rasulullah yang diriwayatkan Abu Hurairah:

Barangsiapa mencari dunia secara halal dengan tujuan menjaga kehormatan diri untuk keluarganya dari meminta-minta sekaligus berlemah lembut terhadap tetangganya, maka pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya dengan wajah berbinar layak rembulan bulan purnama, sebaliknya siapa saja mencari dunia dengan cara halal bertujuan untuk memperbanyak dan berbangga-bangga (sombong) maka ia bertemu dengan Allah dan Allah Ta’ala murka kepadanya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Uuliya dan Ishaq bin Rahuyah, Abdun bin Humaid serta al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman).

Karena itu Ali bin Abi Thalib RA sangat memuji orang yang mencari rezeki dengan halal. Beliau berkata bahwa orang yang meninggal ketika mencari rezeki dengan halal, akan mendapat ridha Allah SWT.

Islam melarang mencari rezeki dengan cara yang haram karena sama sekali tidak membawa berkah. Sebaliknya, rezeki yang halal banyak membawa berkah. Karena itu Rasulullah SAW mengajarkan satu doa sebelum makan:

Dari Ibnu A’bad rahimahullah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bertanya kepadanya: ‘Wahai Ibn A’bad, apakah engkau mengetahui apa hak makanan darimu?’, Aku bertanya balik: ‘Apa haknya (wahai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menjawab: ‘Engkau membaca Allahumma baarik lana fiema razaqtana’ Ya Allah berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami ini), lantas Ali bin Abi Thalib bertanya lagi: ‘Apa yang engkau ketahui perihal syukurnya jika engkau telah usai makan?’, aku balik bertanya lagi: ‘Apa syukurnya?’, Ali radhiyallahu anhu menjawab: ‘Alhamdulillahilladzi ath’amana wa saqaana artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kami makanan dan telah memberi kami minuman’. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi al-Dunya, Abu Nu’aim, dan al-Baihaqi serta at-Thabrani).

Allah SWT juga sangat menyukai hamba-Nya yang beraktivitas sungguh-sungguh secara halal, seperti disabdakan Rasulullah SAW yang artinya:

“Dan (siapapun) yang keluar rumah (untuk mencari nafkah) untuk mencukupi dirinya dan menjaga kehormatan dirinya maka sungguh ia berada di jalan Allah.” (HR. at-Thabrani bersumber dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu anhu).

Terdapat hadist yang memberikan motivasi bagi yang mencari nafkah:

“Siapa saja yang motivasi utama mencari dunia maka Allah Ta’ala akan cerai beraikan urusannya dan menjadikan kefaqiran di depan matanya, dan dunia tidak akan sampai kepadanya kecuali yang telah Allah tetapkan untuknya, (akan tetapi) siapa saja yang motivasi utamanya adalah akhirat maka Allah Ta’ala akan padukan seluruh urusannya dan menjadikan kecukupan itu pada hatinya serta dunia diberikan kepadanya padahal dia tidak begitu menyukainya.” (HR. Ibnu Majah dan al-Haitsami menyatakan perowinya orang-orang kepercayaan dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sebaliknya, Islam sangat tidak senang dengan orang yang malas bekerja namun suka meminta-minta. Abu Hurairah ra meriwayatkan, Nabi bersabda yang artinya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Demi Allah, seseorang di antara kalian membawa seutas tali lantas digunakan untuk mencari kayu bakar, setelah itu dipanggul dengan punggungnya kemudian memakan dari hasilnya atau ia sedekahkan itu lebih baik baginya daripada mendatangi seseorang yang telah Allah berikan kecukupan kepadanya lantas meminta kepadanya, (yang diminta) memberinya atau menolaknya, (kenapa demikian?) karena tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah).” (HR. Ahmad).

Hadist di atas menjelaskan bahwa bekerja mencari rezeki yang halal lebih baik dari meminta-minta. Setiap Muslim juga harus yakin bahwa memakan atau mencari rezeki yang halal membuat doanya selalu didengar Allah SWT. Rasulullah bersabda yang artinya:

“Perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya.” (HR. Thabrani).

Tentu saja ini merupakan kenikmatan tersendiri jika doa-doa kita selalu didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT karena kita menjaga makanan yang masuk dalam perut kita.

Semoga kita diberi pertolongan oleh Allah SWT untuk mendapatkan rezeki yang halal. Aamiin.

Menjemput Rezeki Halal

Perkembangan zaman yang berubah begitu cepat, menyebabkan cara-cara orang mencari nafkah juga semakin beragam. Berbagai model dan cara-cara orang mengais rezeki semakin berkembang, yang barangkali belum pernah ada pada zaman Nabi bahkan mungkin belum pernah terbayangkan pada masa itu. Sejak krisis ekonomi yang mendera negeri Indonesia pada tahun 1998, dan mengalami pasang surut pada masa-masa berikutnya, jumlah angka pengangguran semakin meningkat, kemiskinan semakin bertambah, dan kejahatan kian merajalela. Dalam situasi yang serba sulit, orang semakin tidak peduli akan kehalalan dan keberkahan dalam mencari rezeki. Jangankan yang halal, yang haram saja susah. Barangkali inilah yang telah diprediksi oleh Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya yang artinya:

“Akan datang suatu masa di mana seorang manusia tidak lagi peduli apa yang diambilnya, apakah dari harta yang halal ataukah yang haram.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan an-Nasa’ie)

Islam sebagai agama yang hanif mengajarkan kepada kita konsep tentang rezeki yang lebih cerah dan optimistik. Pertama, Islam mengajarkan bahwa setiap makhluk sudah mendapat garansi rezeki masing-masing. Oleh karena itu, tidak seyogyanya seorang Muslim merasa pesimis dengan masa depannya.

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Kedua, meski Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk, namun tidak berarti bahwa Islam mengajarkan paham fatalistik bahwa rezeki akan datang dengan sendirinya dan tugas makhluk hanyalah berpangku tangan menunggu turunnya rezeki dari langit. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa rezeki itu harus dijemput, diperjuangkan, dan digapai dengan kerja keras, doa, dan tawakkal. Kerja keras yang dimaksud di sini adalah al-akhdzu bi al-asbab mengikuti hukum kausalitas Allah SWT di muka bumi, dengan mencari sebab-sebab yang melebur dalam berbagai profesi dan pekerjaan, yang dengannya dapat diperoleh penghasilan. Namun bagi seorang Muslim, kerja keras saja tidak cukup, untuk menambahkan nilai keberkahan dalam rezeki yang diperoleh, maka ia juga harus menyertainya dengan doa, yang menunjukkan penghambaan seorang manusia kepada Tuhannya. Setelah melakukan dua hal tersebut, barulah ia bertawakkal, menyerahkan sepenuhnya hasil kerja kerasnya kepada keputusan Tuhan. Jika hasil positif yang didapat, maka ia akan bersyukur, dan sebaliknya jika hasil negatif yang diterima, maka ia akan bersabar, untuk kemudian bangkit kembali membuka pintu-pintu rezeki lainnya. Jika ketiga perilaku tersebut dijalankan dengan tujuan mengharap ridha Allah SWT, maka ia bernilai ibadah dalam pandangan Islam.

Ketiga, Islam mengajarkan bahwa dalam mencari sebab-sebab turunnya rezeki, setiap Muslim harus memegang prinsip kehalalan dan keberkahan dalam menjatuhkan pilihan terhadap cara-cara yang ditempuhnya. Untuk menjamin kehalalan rezeki yang kita peroleh, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi. Secara substansi, rezeki yang kita peroleh bukan termasuk hal-hal yang diharamkan (al-muharramat). Sebab prinsip yang berlaku dalam Islam adalah “Segala sesuatu itu diperbolehkan (halal) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.” Oleh karena itu, pengetahuan tentang apa saja yang diharamkan menjadi sangat penting bagi setiap muslim dalam membedakan antar keduanya. Mengenai ketentuan haram ini, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Maidah: 3)

Selain halal dari segi substansinya, prinsip kehalalan juga diterapkan dalam proses memperoleh rezeki. Untuk mendapatkan rezeki yang baik, hendaknya proses yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang halal pula. Sesuatu yang secara substansi halal, tetapi dalam perolehannya melalui proses yang haram, maka ia juga menjadi haram. Oleh karena itu, seyogyanya setiap Muslim memahami unsur-unsur apa saja yang membuat rezekinya menjadi haram. Dalam ajaran Islam, segala bentuk upaya mendapatkan rezeki menjadi haram jika di dalamnya terdapat unsur-unsur berikut ini:

Pertama, terdapat tindakan mendzalimi hak-hak orang lain. Di antara cara-cara yang dipandang zalim dalam al-Qur’an adalah mengambil keuntungan yang bersifat ribawi dari harta yang dipinjamkan kepada orang lain; atau mengambil harta orang lain melalui jalan apapun. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. al-Baqarah: 279)

Dalam QS. al-Baqarah ayat 188, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 188)

Kedua, terdapat unsur-unsur ribawi dalam proses memperolehnya. Dalam ajaran Islam ada sejumlah praktek transaksi yang dapat dikategorikan mengandung unsur riba, tetapi praktek yang paling lazim terjadi dalam masyarakat kita adalah riba ad-duyun, yaitu menetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Dalam pandangan Islam, perbuatan memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram. Allah SWT berfirman yang artinya:

“…padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. al-Baqarah: 275)

Praktek pemberian bunga atas pinjaman dalam lembaga keuangan non syariah menurut jumhur ulama adalah termasuk praktek riba yang diharamkan. Kesadaran akan masih adanya unsur-unsur riba dalam lembaga keuangan non syariah telah menyadarkan umat Islam di berbagai belahan dunia untuk mendirikan lembaga keuangan syariah yang menerapkan prinsip syariah. Oleh karena itu, sebagai bagian dari prinsip kehatian-hatian kita dalam mencari rezeki, mari kita beralih ke lembaga keuangan yang menerapkan sistem syariah agar supaya rezeki yang kita peroleh lebih terjaga kehalalannya. Mari kita tinggalkan praktek-praktek transaksi yang ribawi sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 278)

Ketiga, adanya unsur gharar. Gharar menurut bahasa berarti al-mukhatharah (spekulasi) dan al-jahalah (ketidakjelasan). Secara istilah jual beli gharar adalah jual beli atau transaksi yang mengandung unsur penipuan karena tidak adanya kejelasan atau kepastian suatu barang baik dari sisi harga, kualitas, kuantitas, maupun keberadaannya. Suatu transaksi disebut gharar apabila: (1) jual beli yang tidak ada barangnya, seperti menjual anak binatang yang masih dalam kandungan, dan susunya; (2) jual beli barang yang tidak bisa diserahterimakan, seperti budak yang lari dari tuannya; (3) jual beli barang yang tidak diketahui hakikatnya sama sekali atau bisa diketahui tapi tidak jelas jenisnya atau kadarnya. Mengenai praktek gharar, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa’: 29)

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW juga melarang praktek gharar dalam jual beli. Sabda beliau yang artinya:

“Rasulullah SAW melarang jual beli al-hashah (dengan melempar batu) dan jual beli gharar.” (HR. Ahmad, Muslim, al-Baihaqie, dan al-Bazzar)

Keempat, praktek risywah atau penyuapan. Risywah dalam bahasa Arab berasal dari kata rasya yarsyu risywatan yang berarti al-ju’l atau upah, hadiah, pemberian atau komisi. Dalam istilah para fuqaha, risywah diartikan sebagai tindakan memberikan harta dan semisalnya untuk membatalkan hak milik pihak lain atau mendapatkan atas hal milik pihak lain. Rasulullah SAW mewanti-wanti kita semua agar menjauhi praktek risywah ini yang artinya:

“Rasulullah SAW melaknat penyuap, penerima suap dan perantara, (yaitu orang yang menghubungkan keduanya).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, al-Baihaqi)

Salah satu tantangan kita saat ini adalah merebaknya praktek risywah dalam semua lini, terutama birokrasi, sehingga sangat sulit bagi kita untuk menghindari budaya suap ini. Namun tidak berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Setidaknya kita bisa mulai dari diri kita sendiri, untuk tidak memberi atau meminta risywah, atau menggunakan otoritas yang kita miliki, jika kita diberi amanah untuk memimpin institusi birokrasi atau bisnis, kita dapat memimpin gerakan berjamaah melawan segala macam bentuk risywah. Tanpa ada kesadaran bersama untuk menghilangkan praktek ini, maka kita juga yang akan menanggung dosa kolektif karena telah melakukan pembiaran.

Membuka Pintu Rezeki yang Berkah

Predikat iman dan taqwa inilah yang senantiasa kita syukuri, sebab iman dan taqwa itu adalah dua daun pintu bagi terbukanya pintu rezeki kita yang halal dan penuh berkah, bukan rezeki yang haram yang dilaknat Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah al-A’raf: 96 yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96)

Ibnu Katsir menjelaskan syarat-syarat iman dan takwa itu adalah hatinya beriman pada apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, membenarkan dan mengikutinya, bertaqwa dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan perbuatan keharaman.

Di antara buah-buah iman bagi kaum Mukminin antara lain adalah:

Pertama, taqwa itu sendiri, menjaga diri dari dosa, ancaman siksa, bahaya dan membuka pintu rezeki, karena Allah SWT berfirman (QS. ath-Thalaq: 2-3) yang artinya:

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar 3. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. at-Talaq: 2-3)

Kedua, iman juga membuahkan taubat dan istigfar, yang akan menebar rezeki untuk kita. Amiril Mukminin Umar dalam ber-istisqa’ atau memohon hujan, hanyalah dengan istighfar (Ruhul Maani, 29/72-73)

Rasulullah bersabda yang artinya:

“Barang siapa yang memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihan jalan keluar, untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Allah SWT menegaskan pula dalam (QS. Hud: 3) yang artinya:

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud: 3)

Itulah taubat! Menyesali dan menghentikan dosa dan maksiat, kemudian menggantikannya dengan amal saleh dan keridhaan sesama.

Ketiga: Iman membuahkan TAWAKKAL, yaitu berusaha dengan disertai sikap menyandarkan diri hanya kepada Allah yang memberikan kesehatan, rezeki, manfaat, bahaya, kekayaan, kemiskinan, hidup dan kematian serta segala yang ada, tawakkal ini akan membukakan rezeki dari Allah SWT.

Rasulullah SAW memberikan contoh tentang bertawakkal yang sesungguhnya dengan bersabda:

“Sungguh seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakal niscaya kalian akan diberikan rezeki sebagai-mana rezeki-rezeki burung-burung, mereka berangkat pergi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi No. 2344)

Keempat: Iman dan taqwa membuahkan taqarrub yang berupa rajin mengabdi bahkan sepenuhnya mengabdi beribadah kepada Allah lahir batin khusu’ dan khudhu’. Beribadah yang sepenuhnya akan dapat membuka rezeki Allah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Rabb kalian berkata: wahai anak Adam! Beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Jangan jauhi Aku, sehingga aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan.” (HR. al-Hakim: Silsilah al-Hadits Ash-Shahihah No. 1359).

Kelima: Iman dan taqwa membimbing hijrah fi-sabilillah. Perubahan sikap dari yang buruk kepada sikap kebaikan, atau hijrah dimaknai perpindahan dari negeri kafir menuju negeri kaum Muslimin, menolong mereka untuk mencapai keridhaan Allah (Tafsir Manar, 5: 39)

Hijrah ini membukakan pintu rezeki Allah dengan janji-Nya dalam surah an-Nisa’ ayat 100 yang artinya:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa’: 100)

Keenam: Iman dan Taqwa membuahkan gemar berinfaq: Yaitu infaq yang dianjurkan agama, seperti kepada fakir miskin, untuk agama Allah SWT. Infaq menjadikan pintu rezeki terbuka, Allah SWT berjanji dalam QS. Saba ayat 39 yang artinya:

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Meskipun sedikit, tetap diganti di dunia dan di akhirat (Tafsir Ibnu Katsir 3/595) jaminan Allah pasti lebih disukai orang yang beriman dari pada harta dunia yang pasti akan binasa (lihat at-Tafsir: al-Kabir, 25: 263) dan berinfak adalah sesuatu yang dicintai Allah (lihat tafsir Takrir wat Tanwir, 22:221).

Ketujuh, Iman dan Taqwa membuahkan pula gemar bersilaturahmi yaitu berbuat baik kepada segenap kerabat dari garis keturunan maupun perkawinan dengan lemah lembut, cinta kasih, dan saling melindungi (Muqatul Mafatih, 8/645)

Silaturahmi ini menjadi pintu pembuka rezeki adalah karena sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahmi.” (HR. Bukhari No. 5985)

Silaturahmi ini menyangkut pula kerabat yang belum Islam atau yang bermaksiat, dengan usaha menyadarkan mereka, bukan mendukung kemungkaran atau kemaksiatannya. Namun bila mereka semakin merajalela dengan cara silaturahmi ini maka menjauhi adalah yang terbaik, namun tetap kita mohonkan hidayah.

Kedelapan, melaksanakan ibadah haji dengan umrah, atau umrah dengan haji yang tulus hanya mengharap ridha Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat hilangkan kotoran besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan Surga.” (HR. Ahmad No. 3669, Tirmidzi No. 807, Nasa’i 5:115, Ibnu Khuzaimah No. 464, Ibnu Hibban No. 3693)

Terakhir marilah kita simpulkan agar kita senantiasa ingat apa yang menjamin kita untuk memperoleh rezeki Allah SWT yang berkah di dunia dan akhirat. Yaitu Taqwallah, Istighfar, Taubat, Tawakal, dan Taqarrub dengan ibadah berhijrah, berinfaq, silaturahmi, dan segera melaksanakan haji.

Rezeki Halal Memberikan Ketentraman Hidup

Setelah kita memuji dan mengagungkan Allah serta bershalawat kepada Rasulullah SAW, selanjutnya mari kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, karena puncak prestasi manusia di hadapan Allah adalah taqwa. Allah SWT berfirman dalam QS. al-Hujuraat ayat 13 yang artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13)

Dan Allah SWT hanya akan bersama dengan orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. an-Nahl ayat 128 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. an-Nahl: 128)

Kemudian janji Allah kepada orang yang bertaqwa termaktub dalam firman-Nya di surah at-Thalaq ayat 3 yang artinya:

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. at-Thalaq: 3)

Taqwa merupakan satu-satunya bekal yang akan kita bawa menghadap Allah SWT, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya yang artinya:

“Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. al-Baqarah: 197)

Itulah pentingnya taqwa dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah yang beriman.

Kemudian kita akan membahas “Indahnya Hidup dengan 3H (Halal memperoleh, Halal mengonsumsi, dan Halal memanfaatkan)”.

Memahami masalah halal dan haram dalam Islam termasuk kewajiban yang harus diketahui oleh setiap muslim. Rasulullah SAW sudah menegaskan dalam salah satu hadistnya, bahwa perkara yang halal itu sudah jelas, begitu pula dengan perkara yang haram. Maksud sudah jelas di sini adalah sudah adanya petunjuk atau dalil, baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah, yang menegaskan status hukum perkara tersebut.

Bagi umat Islam, mengetahui perkara yang halal dan yang haram termasuk fardhu ‘ain (kewajiban individu), karena berkaitan dengan status amaliah yang dilakukan oleh masing-masing. Apakah amal perbuatannya sudah sesuai dengan kehendak syar’i? Jika amaliahnya mengacu pada prinsip yang halal berarti perbuatan yang dilakukannya sesuai dengan syariah yang telah ditetapkan.

Sebaliknya, jika amaliahnya cenderung menjalankan yang diharamkan, berarti perbuatannya sudah melanggar ketentuan syar’i. Salah satu contohnya, Allah SWT memerintahkan agar umat manusia selalu mencari sesuatu di muka bumi dengan yang halal dan menjauhi sesuatu yang haram, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Baqarah ayat 168 yang artinya:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. al-Baqarah: 168)

Sebagaimana tema kita hari ini, Halal yang akan dijelaskan di sini adalah Halal dalam memperoleh, Halal dalam mengonsumsi dan Halal dalam memanfaatkan atau disebut dengan 3 H, mengapa hal ini perlu dijelaskan? Karena saat ini masih banyak orang yang terpaku pada Halal yang pertama yaitu Halal dalam memperoleh tetapi melupakan Halal mengonsumsi dan halal memanfaatkan. Oleh sebab itu betapa pentingnya hidup halal ini, maka Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencanangkan secara nasional gerakan 3 H ini.

Nah, kita lihat, halal yang pertama adalah Halal dalam memperoleh. Halal memperoleh adalah cara memperoleh barang atau rezeki dengan jalan yang halal. Ada beberapa cara dalam memperoleh yang halal.

Pertama, menumbuh suburkan praktek transaksi jual-beli. Sudah tidak diragukan lagi bahwa model jual-beli merupakan sesuatu yang dibolehkan dalam ajaran Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 275)

Di antara beberapa model transaksi jual-beli yang dipraktekkan adalah transaksi murabahah, yaitu akad transaksi menjual suatu barang dengan mengambil keuntungan tertentu dari harga beli semula.

Contoh: Bapa Rizqu membeli sepeda seharga Rp. 1 juta. Kemudian ia menjualnya kembali kepada Ibu Azka seharga Rp. 1,2 juta. Inilah yang disebut murabahah. Dalam bahasa Arab, keuntungan Rp. 200 ribu (1,2 juta – 1 juta) disebut ribhun (kelebihan). Makanya transaksi seperti demikian disebut Murabahah.

Atau jual-beli yang pembayarannya dilakukan dengan cara mencicil dengan waktu dan cicilan yang disepakati bersama. Contoh si A membeli mobil kepada si B seharga 120 juta rupiah, pembayarannya dengan dicicil selama 10 bulan dengan cicilan per-bulannya 12 juta rupiah, maka inilah yang disebut dengan jual-beli Murabahah.

Ada lagi model transaksi yang namanya wadi’ah (simpanan) atau yang dikenal dengan titipan/simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja bila si penitip menghendaki. Dan masih banyak transaksi-transaksi jual-beli lainnya yang dipratekkan di perbankan syari’ah, seperti ada yang namanya Ba’i bitsaman ajil, ada Ba’i salam, Musyarakah, Istishna, Ijarah, dan lain-lain.

Kedua, menghindari praktek bunga atau riba. Rasulullah SAW bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Hakim yang artinya:

“Sungguh satu dirham yang diperoleh oleh seseorang yang berasal dari riba disisi Allah lebih besar daripada tiga puluh tiga perzinaan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dalam Islam.” (Hadist ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman dan Ibnu Adie di dalam sanadnya ada Abu Mujahid Abdullah bin Kaisan al-Marzawi dari Tsabit, ia seorang yang munkarul hadist, diriwatkan juga al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabier yang menurut al-Haitsami di dalam sanadnya terdapat rowie Atha’ al-Khurasani, dan ia tidak pernah mendengar hadist dari Abdullah bin Sallaam, dengan demikian hadist ini dikategorikan hadist dhaif dan tidak bisa dijadikan dasar pijakan).

Ketiga, menghindari korupsi. Sama-sama kita ketahui bahwa korupsi di Indonesia telah menjadi budaya yang berlangsung selama puluhan tahun dan belum dapat di basmi, justru semakin subur dan semakin canggih agar tidak dapat dilacak oleh pihak yang berwenang menangani korupsi ini. Meskipun dengan korupsi kita akan semakin kaya dan kekayaan bertambah dengan cepat, tetapi hal itu dilarang dalam Islam, karena sama saja kita mencuri atau merampok dan sudah pasti itu bukan hak kita.

Keempat, menghindari menerima suap. Suap ini sama pertumbuhannya setali tiga uang dengan korupsi di Indonesia. Suap yang dipraktekkan biasanya akan disebut dengan insentif atau biaya-biaya lain yang sebenarnya mengarah ke (suap). Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Rasulullah SAW melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. al-Hakim, Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan at-Thahawi)

Praktek suap ini mengandung unsur mempengaruhi keputusan yang tidak seharusnya dan merugikan bagi pihak lain yang seharusnya mendapatkan haknya. Oleh karena itu, memperoleh rezeki atau harta dari menerima suap termasuk perilaku tidak halal dan diharamkan dalam ajaran Islam.

Kelima, menghindari rezeki dari hasil perjudian. Islam melarang segala macam bentuk perjudian. Apalagi saat ini, perjudian semakin canggih dan sudah mengarah ke arah legal (sah secara hukum), ini dapat kita lihat dengan sms berhadiah atau kuis-kuis berhadiah yang marak di televisi.

Halal yang kedua yaitu Halal dalam mengonsumsi. Harta yang sudah kita dapatkan secara halal dengan susah payah, tidak akan bermakna jika akhirnya dibelanjakan untuk sesuatu yang haram. Berbicara masalah konsumsi barang-barang haram akan sangat erat kaitannya dengan makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan yang berasal dari bahan-bahan haram dan najis. Karena hal itulah yang menyebabkan produk tersebut menjadi tidak halal.

Sebagai konsumen yang beragama Islam, kita harus berusaha semaksimal mungkin memilih makanan, obat-obatan dan kosmetika yang terjamin kehalalannya. Apalagi saat ini begitu banyak makanan yang beredar di tengah-tengah kita baik dari dalam dan luar negeri. Ketidak halalan itu bisa dilihat dari aspek bahan bakunya, bahan tambahannya, bahan pendukungnya, maupun cara pengolahannya yang tidak halal. Hal ini dipicu dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih.

Adapun yang dilarang oleh Allah untuk dikonsumsi adalah seperti bangkai, darah, dan babi yang dilarang seluruhnya baik itu, lemak, daging maupun bagian-bagian lainnya, yang disembelih atas nama selain Allah, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ma’idah: 3)

Begitu pula dengan khamr (alkohol) baik sedikit adalah haram. Makanan yang menggunakan khamr (alkohol) untuk menambah kelezatan juga haram. Allah SWT dalam firman-Nya surah al-Maidah (5): 90 menegaskan keharaman khamr (alkohol).

“Wahai orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Maidah: 90)

Halal yang ketiga yaitu halal dalam memanfaatkan. Harta yang kita peroleh secara halal, bagaimana caranya penggunaannya, perlu kita ingat bahwa rezeki yang kita peroleh adalah anugerah dan amanat dari Allah SWT. Maka sudah seyogyanyalah kita manfaatkan di jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Adapun jalan yang diridhai oleh Allah SWT di antaranya sebagai berikut:

  • Memberi nafkah untuk keluarga

Menjadi kewajiban bagi suami untuk memberikan nafkah kepada keluarganya. Nafkah ini diambil dari harta dan rezeki hasil usaha yang dikerjakannya. Diriwayatkan oleh Ali karramahullah wajhah, bahwa seseorang lelaki datang menemui Nabi SAW menanyakan tentang usaha yang lebih baik. Beliau SAW bersabda yang artinya:

“Seutama-utama dinar yang diinfaqkan seseorang adalah dinar yang diinfaqkan untuk keluarganya, dinar yang diinfaqkan untuk kendaraannya (kuda dan sejenisnya) di jalan Allah dan dinar yang diinfaqkan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah).” (HR. Ahmad dan Muslim)

  • Menunaikan kewajiban zakat

Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim karena merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima (5), sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. at-Taubah: 103)

  • Mengintensifkan infak dan sedekah

Memanfaatkan harta yang diperolehnya melalui kegiatan infak dan sedekah. Banyak sekali dalil yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak infak dan sedekah, di antaranya QS. al-Baqarah ayat 195 yang artinya:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Baqarah: 195)

  • Menginvestasikan sesuai dengan syariah Islam

Menginvestasikan sesuai dengan prinsip syariah Islam. Saat ini sudah banyak lembaga keuangan syariah (LKS) yang dapat dimanfaatkan untuk menginvestasikan harta yang dimiliki sesuainya dengan syariah. Seperti bank syariah, asuransi syariah dan lembaga lainnya yang mengacu dengan prinsip-prinsip syariah.

Artikel ini mengingatkan tentang pentingnya hidup halal, yaitu dengan menjalankan 3H (Halal memperoleh, Halal mengonsumsi, dan Halal memanfaatkan).

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk mengamalkan ketiga hal tersebut di atas, Aamiin.

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *