Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf

Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah masalah yang ada di hadapan kita sekarang ini dan kita membutuhkan instrumen-instrumen zakat dan wakaf.

Seperti kita tahu saat ini geliat zakat dan wakaf di Indonesia berkembang dengan pesat. Kesadaran masyarakat Indonesia untuk berzakat dan berwakaf baik melalui wakaf tunai maupun wakaf bentuk lain terus meningkat. Ini patut disyukuri mengingat kedua instrumen tersebut fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar yang pada faktanya belum semua elemen masyarakat menikmatinya.

Zakat adalah ajaran Islam yang penting terkait dengan distribusi kekayaan yang merata. Dengan zakat maka kekayaan akan mengalir dari orang kaya ke orang miskin. Dengan demikian tidak akan tercipta suatu keadaan di mana orang kaya akan kaya sekali dan orang miskin akan terus miskin. Itulah peranan penting zakat.

Sementara itu kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum menunjukkan sesuatu yang menggembirakan. Kenaikan harga bahan makanan pokok dan juga nilai tukar tentu berdampak pada masyarakat luas, lebih jauh lagi masyarakat miskin. Kestabilan harga ini yang harus kita jadikan perhatian kita semua karena yang paling terasa dampaknya atas ketidakstabilan harga adalah masyarakat ekonomi lemah yang banyak di antaranya tidak punya akses terhadap keuangan sehingga mereka tidak bisa bekerja. Oleh karena itu elemen masyarakat ini harus kita dorong agar mendapatkan pendanaan dari lembaga keuangan. Inti sub bab ini adalah membangun model sinergi antara ketiga sektor untuk dapat mendorong ekonomi lemah agar bisa mandiri, menciptakan lapangan kerja baru dan tidak berpangku tangan terhadap uluran tangan pihak lain.

Zakat adalah wajib bagi yang sudah memenuhi syarat yaitu nishab 85 gram emas yang setara dengan 50 juta setahun dan jumlah tersebut sudah melalui satu tahun. Peruntukkan zakatpun sudah secara eksplisit dijelaskan dalam al-Qur’an. Kita bisa lihat surah at-Taubah ayat 60 yang artinya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 60)

Selain perbankan syariah dengan berbagai instrumen yang bersifat bisnis dan zakat yang berorientasi sosial, Islam juga mengajarkan pada kita instrumen keuangan syariah yang mengombinasikan orientasi bisnis dan sosial, itulah wakaf. Beda wakaf dengan zakat adalah, apabila zakat wajib bagi yang sudah memenuhi syarat di atas yaitu minimal aset dan jangka waktu, tetapi wakaf terutama wakaf tunai tidaklah terdapat syarat-syarat seperti halnya zakat. Wakaf relatif lebih mudah untuk dikerjakan. Seseorang boleh mewakafkan tunai berapa pun juga.

Inti dari wakaf adalah bahwa pokok dari aset wakafnya tidak boleh berkurang. Aset yang telah diserahkan oleh wakaf atau pemberi wakaf kepada nazir atau pengelola wakaf haruslah benar-benar dipelihara oleh nazir. Nazir bertanggung jawab untuk membesarkan aset tersebut. Nazir harus bertanggung jawab ketika aset tersebut berkurang.

Orientasi bisnis dan sosial yang ada dalam wakaf adalah sebagai berikut, wakaf terutama wakaf tunai yang diterima oleh nazir haruslah diinvestasikan untuk mencari profit-profit sebesar-besarnya untuk kemudian diberikan kepada mauquf alaih atau penerima manfaat wakaf. Tujuan mencari alternatif bisnis yang menghasilkan laba adalah agar banyak mauquf alaih yang dibantu.

Fakta yang ada di lapangan adalah baik perbankan syariah, zakat dan wakaf, dalam operasinya berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing mempunyai institusi sendiri di mana kerja sama antar instrumen keuangan syariah belum terlihat dengan baik.

Sinergi dapat dianalogikan dengan 1+1 sama dengan lebih dari 2. Ini juga berlaku pada dunia keuangan syariah. Kerja sama di antara perbankan syariah, zakat dan wakaf tentunya akan menghasilkan efek pengganda yang sangat luar biasa.

Sebagai contoh, apabila terdapat pebisnis yang ingin mengajukan pembiayaan syariah di bank syariah untuk pertama kalinya, hal ini akan menyulitkan bank syariah itu sendiri karena memang bank syariah tidak punya data tentang karakter pebisnis tersebut. Sehingga resikonya besar apabila pembiayaan tersebut diberikan.

Tetapi lain halnya apabila pebisnis baru tersebut adalah hasil pemberdayaan dari lembaga zakat ataupun lembaga wakaf. Dua lembaga ini fungsi utamanya adalah pemberdayaan. Suatu elemen masyarakat yang tidak punya pengalaman bisnis, maka tugas dari 2 lembaga inilah yang harus memberikan asistensi dan juga permodalannya. Apabila sudah berhasil, maka statusnya bisa naik dari status usaha mikro ke status usaha kecil.

Apabila statusnya sudah usaha menengah, maka hal tersebut tidak mungkin dibiayai oleh lembaga zakat dan wakaf, sehingga pebisnis tersebut harus dibiayai oleh bank syariah. Dalam hal ini, bank syariah akan sangat diuntungkan apabila bank syariah sudah sebelumnya bekerja sama dengan 2 lembaga tersebut.

Dua lembaga tersebut akan menjadi referensi yang sangat valid atas keberadaan pebisnis tersebut. Hal ini sebagai alternatif Sistem Informasi Debitur atau SID yang ada di industri perbankan. Sebagai kesimpulan marilah kita lihat lagi surah ash-Shaff ayat 4 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. ash-Shaff: 4)

Di ayat tersebut telah dianalogikan bahwa kerja sama adalah seperti bangunan yang kokoh. Tentunya bangunan yang kokoh tersebut terdapat fondasi, tiang, dan atap yang punya peran berbeda tetapi tujuan akhirnya sama yaitu untuk melindungi orang di dalamnya.

Ayat tadi mengingatkan kepada kita bahwa kita tidak bisa bekerja sendirian. Industri perbankan sudah seyogyanya bekerja sama dengan zakat dan wakaf untuk mengurangi risiko gagal bayar. Zakat dan wakaf juga akan diuntungkan karena mereka berhasil melakukan pemberdayaan dari usaha mikro untuk dinaikkan sampai usaha menengah yang dikelola oleh bank syariah.

Mari kita dukung institusi-institusi keuangan syariah. Mari kita menabung dan meminjam dana dari bank syariah, marilah kita membayar zakat dan wakaf.

Manfaat Infaq dan Sedekah

Allah SWT menciptakan hidup dan mati sebagai ujian untuk mengetahui siapa di antara manusia yang paling baik perbuatannya. Kesempatan umat manusia untuk menikmati anugerah yang diberikan kepadanya merupakan salah satu bukti keadilan Allah SWT yang tiada taranya.

Ibadah di dalam Islam akan membuahkan hasil bagi kepentingan duniawi, sebelum hasil ukhrawi yang sekaligus mengandung aspek spiritual yang akan mengimbas kepada akhlak dan jiwa manusia. Hasil ibadah dalam agama, merupakan produk yang telah dilukiskan oleh Islam terhadap tujuan eksistensi manusia di dunia. Salah satu kenikmatan yang diberikan oleh Allah kenikmatan materiil untuk mendidik jiwa agar menjadi hamba yang memiliki rasa tanggung jawab sosial dan toleran kepada sesamanya. Oleh karena itu, Allah menganjurkan agar kenikmatan yang kita miliki hendaknya ikut dinikmati oleh orang lain. Harus direnungkan dan dicerna dengan sebaik-baiknya bahwa semua ajaran agama yang disyariatkan baik yang berbentuk vertikal maupun horizontal memiliki arti dan nilai-nilai tersendiri di sisi Allah SWT, tidak di dunia, akan tetapi di akhirat kenikmatan yang abadi akan dinikmati oleh hamba Allah yang bertakwa. Kenikmatan material tidak boleh dinikmati oleh kalangan terbatas, terlukis dalam firman Allah SWT yang artinya:

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. al-Hasyr: 7).

Melalui ibadah yang diperintahkan oleh Allah, seperti shalat, zakat, infaq, dan sedekah menitikberatkan sasaran ibadah-ibadah tersebut sebagai pusat pembinaan moral, mental, dan spiritual yang ditempuh melalui kesucian jasmani dan rohani yang mengandung arti pengabdian penuh kepada Allah SWT, karena dengan kesucian jasmani dan rohani inilah yang akan mampu membentuk ketulusan sikap melaksanakan perintah-perintah Allah.

Dalam masalah infaq dan sedekah misalnya, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 261).

Dari dua ayat tadi nampak jelas infaq dan sedekah merupakan benteng pengaman bagi kehidupan sosial kemanusiaan, baik terhadap dirinya dan terhadap harta yang dimiliki. Terhadap dirinya infaq dan sedekah akan membersihkan noda-noda jasmani dan noda sosial, dan terhadap hartanya akan suci dan berkembang penuh keberkahan.

Suatu rahasia keadilan, bahwa Allah SWT, menyamaratakan hak dan kewajiban kepada semua hamba-Nya, yang sekaligus merupakan satu segi dari faktor pendukung meningkatkan solidaritas dan integritas umat, yang satu sama lain saling dukung dan saling bantu membantu. Hamba Allah yang tergolong dalam kategori seperti inilah yang akan berhak mendapat kecintaan-Nya pada hari pembalasan kelak, sebagaimana firman Allah di dalam hadist Qudsi yang artinya:

“Kecintaan-Ku pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karena aku. Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang yang saling memberi karena-Ku. Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karena-Ku.” (HR. Ahmad, al-Bazzar, al-Hakim, Ibnu Hibban, al-Thahawi, dan Ibnu Abi Syaibah)

Di antara hadist-hadist baginda Rasulullah SAW yang dapat disimpulkan bahwa infaq dan sedekah sebagai benteng pengaman di dunia, baik pengaman bagi diri orang yang memberikan infaq dan sedekah maupun bagi harta yang dinafkahkan, dan sebagai hujjah atau pembela bagi pemberi infaq di hadapan Allah SWT kelak, di antaranya:

Dari Abu Malik al-Asy’ari r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Kesucian itu separuh keimanan, ucapan: ‘subhanallah walhamdulillah’ keduanya memenuhi atau: memenuhi antara langit dan bumi, shalat itu cahaya, sedekah itu bukti, kesabaran itu sorot sinar, al-Qur’an itu hujjah  yang menguntungkanmu atau merugikanmu dan semua orang memasuki pagi harinya lalu menjual dirinya, lalu ia membebaskannya atau membinasakannya”. (HR. Ahmad, Muslim, al-Baihaqi, ad-Darimi, dan Musnad Abu Awanah).

Intinya, bahwa para dhuafa yang menerima infaq dan sedekah atau pihak-pihak yang masuk dalam kategori “fi sabilillah” telah menyelamatkan si pemberi atau si kaya dari menahan hak orang lain. Untuk mengatasi gap sosial pun perlu digerakkan upaya-upaya solidaritas melalui bantuan material yang menjadi hak kalangan dhuafa di dalam harta orang yang kaya yang diwajibkan melalui pembayaran zakat, infaq, dan sedekah.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sembahlah Yang Maha Pengasih (Allah SWT) dan berilah makanan (kepada orang yang perlu diberi makan, yakni fuqara wal masakin atau dhu’afa’), dan sebarkanlah salam (kepada semua orang di dalam pergaulan kehidupan), niscaya kamu akan masuk surga dengan penuh keselamatan”. (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan al-Bukhari).

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW mengilustrasikan sedekah itu menjadi penghapus dosa sebagaimana air yang dapat memadamkan api:

“Sedekah itu akan memadamkan (menghapus) dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.” (HR. al-Baihaqi).

Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Jagalah harta kalian dengan zakat, obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan tolaklah bala’ dengan doa.”

Intinya, apa yang dipersembahkan oleh manusia untuk membahagiakan orang lain merupakan investasi yang akan dipetik sendiri oleh yang memberi, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Dan kebaikan apa saja yang engkau perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. al-Muzammil: 20)

Akan ada suatu masa yang perlu diwaspadai oleh orang-orang yang enggan menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT ialah masa di mana manusia tidak lagi memiliki kesempatan untuk membelanjakan hartanya karena tidak seorang pun yang mau menerimanya. Hal ini ditegaskan dalam hadist Rasulullah  SAW yang artinya:

“Hari kiamat tidak akan terjadi hingga harta umat Islam demikian melimpah dan berlebihan, hingga orang yang mempunyai harta kesulitan mencari orang yang mau menerima sedekahnya, dan jika ia ingin memberikan hartanya kepada seseorang, orang yang akan diberikan harta tersebut berkata, ‘Aku tidak ingin’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari beberapa ayat dan hadist tadi dapat disimpulkan manfaat dari infaq dan sedekah, di antaranya:

  1. Mencegah datangnya bala’ atau (kesulitan).
  2. Menjaga harta agar tetap suci dan bersih lahir batin.
  3. Menjaga harta agar tetap eksis dan berkembang sesuai dengan tujuan syariah dalam kepemilikan dan pengelolaan harta.
  4. Mengharap keberkahan harta yang dimiliki.

Inilah beberapa “hushnul muslim” benteng pengaman bagi seorang muslim yang menafkahkan harta dengan ikhlas karena Allah.

“133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. ali-‘Imran: 133-134).

Hikmah Zakat, Infaq, dan Sedekah

Islam datang dengan aturan (syariat) yang sempurna yang diturunkan demi kemaslahatan umat Islam secara menyeluruh. Oleh sebab itu penerapan syariat Islam baik dalam tataran individu maupun dalam skala masyarakat secara umum merupakan upaya Islam menjaga eksistensi dan keutuhan masyarakat. Artinya, penerapan syariah Islam mengandung beberapa hikmah yang sangat besar dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun secara kolektif. Hikmah secara etimologi sebagaimana pendapat para ulama, ialah ilmu yang disertai amal (perbuatan) atau perkataan yang logis dan bermanfaat. Sedangkan secara epistemologi, al-Hikmah bermakna keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu secara proporsional dan berimbang. Salah satu ibadah yang mengandung hikmah besar dalam pembentukan pribadi umat manusia ialah zakat, infaq, dan sedekah.

Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib ditunaikan dengan ketaatan mutlak. Ibadah zakat merupakan pusat dan training moment untuk melatih umat membentuk mental dan akhlakul karimah. Inilah dasarnya mengapa Abu Bakar as-Shiddiq dengan keputusan tegas memerangi kaum riddah dan pembangkang zakat setelah wafatnya Rasulullah SAW. Para sahabat yang berada di sekitar Abu Bakar as-Shiddiq ra termasuk Umar bin Khattab ra bertanya kepada Abu Bakar ra, kenapa memerangi orang yang telah membaca syahadat? Abu Bakar ra menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal tersebut, maka terjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan urusan mereka terserah kepada Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Setelah mendengar hadist tersebut Umar bin Khattab ra pun berkata yang artinya:

“Demi Allah, tidak lain kecuali Allah telah memberikan Abu Bakar petunjuk untuk memerangi para pembangkang tersebut dan akhirnya saya mengetahui bahwa keputusan Abu Bakar adalah benar.”

Kewajiban zakat juga akan berimplikasi kepada penyucian jiwa dan harta, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. at-Taubah: 103)

Di dalam al-Qur’an kata zakat disebut 30 kali, di antara artinya:

  1. An-Nama atau tumbuh dan berkembang. Artinya harta yang dikeluarkan zakatnya tidak akan berkurang, tetapi justru akan tumbuh dan berkembang.
  2. Ath-Thaharah atau suci, yakni harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi bersih dan membersihkan jiwa muzakki dari kotoran hasad, dengki, dan bakhil.

Adapun infak yang berasal dari akar kata: nafaqa yang bisa diartikan, mengeluarkan sesuatu harta untuk suatu kepentingan yang baik maupun kepentingan yang buruk. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 36)

Dalam pengertian epistemologi, infaq berarti mengeluarkan sebagian harta untuk sesuatu kepentingan yang diperintahkan oleh Allah SWT, seperti: menginfakkan harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan jalan-jalan kebajikan lainnya.

Secara terminologi infaq berarti mengeluarkan sebagian harta atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh Islam yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang yang beriman sesuai dengan kadar kemampuan dan keikhlasan mereka. Jika zakat harus diberikan kepada delapan mustahiq tertentu, maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya seseorang berinfaq kepada kedua orang tuanya, anak yatim, dan dhuafa, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. al-Baqarah: 215)

Sedangkan sedekah berarti sesuatu yang benar atau jujur. Sedekah juga bisa diartikan mengeluarkan harta di jalan Allah SWT, sebagai bukti kejujuran dan kebenaran iman seseorang. Dalam hadist Rasulullah SAW, sedekah dimaknai juga sebagai burhan atau bukti yang artinya:

“Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-As’ariy ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Suci adalah sebagian dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti iman, sabar adalah pelita dan al-Qur’an untuk berhujjah terhadap yang kamu sukai ataupun terhadap yang tidak kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya, kemudian ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR. Muslim)

Selain zakat, sedekah yang hukumnya sunnah adalah pemberian sebagian harta yang dimiliki kepada orang-orang miskin dan orang yang membutuhkan, tanpa imbalan. Demikian juga memberi nafkah pada keluarga adalah sedekah, amar ma’ruf nahi mungkar adalah sedekah, dan lain-lain. Dalam berinfaq dan bersedekah hendaknya memberikan sesuatu yang dicintai oleh orang yang bersedekah agar mereka meraih ridha Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT yang artinya:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. ali-Imran: 92)

Dalam ayat ini terdapat kaidah yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu manusia tidak akan mendapat kebahagiaan dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak, kecuali ia mau memberikan apa yang dicintainya demi kehidupan manusia lain. Inilah syarat bagi setiap manusia yang ingin mendapat kebaikan agar terlebih dahulu memberikan sesuatu yang dicintainya terhadap orang yang memerlukan. Karena dengan syarat itulah sedekah akan menjadi naungan pada hari kiamat kelak. Inilah yang diisyaratkan dalam hadist Rasulullah SAW dari Uqbah bin ‘Amir ra. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya pada hari kiamat sampai selesai perhitungan antara manusia.” (HR. Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

“Tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah SWT di bawah naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: orang yang mengeluarkan sedekah kemudian ia merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah SWT menegaskan bahwa harta benda yang menjadi titipan itu tidak boleh hanya beredar di kalangan segelintir orang-orang kaya saja, akan tetapi sebagian dari harta itu harus diberikan kepada yang mustahiq.

Terkait dengan hikmah zakat, Prof. Dr Wahbah az-Zuhaili dalam bukunya (Fikih Islam dan dalil-dalilnya) mencatat ada empat hikmah zakat:

  • Menjaga harta dari pandangan dan tangan-tangan jahat, dengan mengutip hadist Rasulullah SAW yang artinya:

“ Jagalah harta kalian dengan zakat, obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan tolaklah bala’ dengan doa.” (HR. Ahmad dan at-Thabrani).

  • Membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Diriwayatkan bahwa Allah SWT mewajibkan atas orang-orang kaya untuk membantu orang miskin sesai dengan kebutuhan mereka.
  • Membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakhil serta membiasakan orang mukmin dengan pengorbanan dan kedermawanan.
  • Mensyukuri nikmat Allah SWT berupa harta benda.

Intinya zakat, infaq, dan sedekah memiliki sejumlah hikmah, di antaranya:

  1. Menyucikan harta dan muzakki, yang berinfaq dan yang bersedekah.
  2. Orang yang berinfaq dengan sesuatu yang dicintai akan mendapat kebaikan di sisi Allah SWT.
  3. Sedekah akan menghapus dosa dan kesalahan.
  4. Sedekah sebagai ibadah yang akan menghindarkan manusia dari penyakit, Insya Allah.
  5. Sedekah akan menjadi naungan pada hari kiamat.
  6. Zakat, infaq, dan sedekah merupakan investasi sosial yang akan mempererat silaturahmi antar umat.
  7. Zakat, infaq, dan sedekah sebagai sarana pemersatu dan integritas manusia.

“133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. ali-Imran: 133-134).

Wakaf Produktif sebagai Media Pemberdayaan Ekonomi

Islam adalah agama yang lengkap, di mana tidak hanya mengatur masalah ibadah kepada Allah, tetapi juga mengatur bagaimana berkehidupan secara sosial ekonomi dan sebagainya. Salah satu bidang ekonomi yang dijelaskan dalam Islam adalah konsep wakaf.

Wakaf berarti menahan untuk kemudian diambil manfaatnya bagi kemaslahatan umat. Berbeda dengan sedekah di mana sedekah tersebut lebih bersifat konsumtif, yaitu ketika seseorang memberikan nasi bungkus kepada masyarakat miskin. Ini bukanlah wakaf, tetapi ini adalah jenis sedekah. Tetapi sedekah yang pokoknya tidak boleh berkurang, inilah yang disebut wakaf.

Proses wakaf dimulai ketika wakif (pemberi wakaf) mendonasikan asetnya, misalnya tanah sebagai wakaf. Maka wakif tersebut harus melaporkan keinginan tersebut di kantor urusan agama, di mana di dalamnya terdapat pejabat pembuat akta ikrar wakaf (PPAIW). Pejabat ini yang akan mengubah status dari aset milik individual menjadi wakaf yang berarti menjadi milik Allah SWT. Selain itu juga Wakif harus menjelaskan siapa nazir-nya (pengelola wakaf).

Ketika statusnya sudah menjadi wakaf, maka wakif tidak bisa menarik lagi untuk diubah kepemilikannya menjadi milik pribadi seperti semula. Ketika sudah menjadi milik Allah SWT, maka manfaatnya harus diberikan sebanyak-banyaknya kepada masyarakat.

Pada umumnya yang kita kenal, wakaf berbentuk tanah yang kemudian digunakan untuk pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, dan juga makam. Dalam arti, sebagian orang bisa mewakafkan tanahnya, sebagian orang lagi bisa memberikan wakaf tunai untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, masjid di atas tanah wakaf tersebut.

Wakaf bentuk tunai ini telah dikenal sejak zaman Turki Utsmani. Wakaf tunai ini sangat baik karena sebagian masyarakat umum tidak punya aset wakaf berupa tanah. Sehingga masyarakat tersebut bisa terakomodasi. Mengenai nominalnya besar wakaf tunai tidaklah dibatasi, dalam arti sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Perlu diingat bahwa Allah SWT sangat menganjurkan kita semua untuk bersedekah. Dalam surah al-Baqarah ayat 261 disebutkan pahala atas orang yang bersedekah, yaitu:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 261)

Ayat tersebut berarti bahwa 1 benih akan Allah SWT lipat gandakan menjadi 700 kali. Artinya kalau kita bersedekah sebanyak 1 juta maka kita akan mendapatkan 700 juta. Mari kita coba bandingkan dengan berapa yang kita bisa dapatkan kalau kita menabung satu juta di bank syariah. Dengan equivalen rate sebesar sekitar 6 persen maka setelah setahun kita akan mendapatkan 1.060.000. Sangat kecil. Artinya 700 kali dalam ayat 261 tersebut adalah 70.000 persen. Sangat besar bahkan di akhir ayat tersebut Allah menjanjikan untuk menambah lagi. Tentunya Allah SWT berhak untuk menentukan bentuk pahala yang diberikan. Bisa dalam bentuk kesehatan, anak yang shaleh, dan sebagainya.

Perlu diingat juga bahwa wakaf bisa juga dibuat produktif. Artinya seseorang yang ingin wakaf tunai, maka uang tersebut tidaklah langsung digunakan untuk pendidikan berupa sekolah, tetapi uang tersebut digunakan untuk proyek yang menguntungkan misalnya pembangunan apartemen di lokasi yang strategis. Pembangunan perkantoran yang disewakan di daerah bisnis dan sebagainya.

Keuntungan dari proyek wakaf inilah yang digunakan untuk pendidikan berupa sekolah, untuk kesehatan berupa rumah sakit, dan sebagainya. Keuntungan dari konsep ini adalah bahwa konsep ini sangat berkelanjutan karena risiko kecil dan keuntungannya besar.

Wakaf mempunyai peranan yang sangat besar terhadap menurunkan peran riba, misalnya, Indonesia dengan populasi 250 juta penduduk telah terbentuk jiwa sosialnya sehingga mereka mempunyai preferensi terhadap suatu sektor tertentu dalam pemberian donasi wakafnya. Contoh lainnya 1.000 orang terkaya di Indonesia mempunyai preferensi untuk donasi wakaf ke bidang kesehatan. Mereka melobi presiden supaya tidak mengeluarkan dana kesehatan untuk rakyatnya. Semua dana kesehatan akan ditanggung melalui donasi wakaf yang dilakukan oleh 1.000 orang tersebut. Mereka dapat membangun rumah sakit dan hotel atau apartemen sekaligus.

Argumennya, pasien opname biasanya tidak datang sendirian, tetapi ditemani oleh keluarganya. Hotel tersebut adalah untuk tempat tinggal keluarganya selama pasien dirawat. Dengan demikian, kita bisa harapkan tingkat okupasi hotel tersebut tinggi. Pendapatan dari hotel akan digunakan untuk membiayai operasional hotel dan sisanya untuk operasional rumah sakit. Apabila ini berhasil, pemerintah dalam hal ini tidak perlu mengeluarkan dana kesehatan karena memang sudah ditanggung oleh masyarakatnya.

Selain itu, 1.000 orang kaya yang lain sangat menyukai sektor pendidikan. Maka, mereka bisa menemui presiden untuk meminta agar biaya pendidikan tidak perlu dikeluarkan. Mereka adalah orang kaya yang bersedia untuk menyumbang wakaf untuk sekolah dan proyek bisnis yang nantinya digunakan untuk membiayai sekolah.

Tepat di sebelah sekolah didirikanlah gedung perkantoran yang disewakan. Keduanya didanai oleh wakaf. Keuntungan dari sewa kantor digunakan untuk membiayai operasional sekolah, misalnya, membayar gaji guru, listrik, air, dan peralatan sekolah yang diperlukan.

Seribu orang yang ketiga sangat fokus terhadap pembangunan infrastruktur. Mereka sanggup untuk memberikan donasi wakaf dengan membuat jalan tol dua arah dengan masing-masing delapan jalur yang bisa dilalui oleh mobil, truk, dan bus, sepeda motor, kereta api. Bahkan, mereka bisa membuat jalan tol tersebut mulai dari (misalnya) Sabang sampai dengan Papua. Selain jalan tol yang berbayar, sepanjang jalan tersebut dapat disewakan untuk restoran, pengisian bahan bakar, dan lain-lain. Keuntungan dari sewa tersebut untuk membiayai hal yang lain.

Dengan adanya 3.000 orang yang fokus pada tiga sektor, sudah barang tentu presiden akan mencoret pengeluaran pada sektor-sektor tersebut karena memang sudah tercover biayanya. Dengan demikian, anggaran bisa jadi berubah dari defisit menjadi surplus. Ataupun kalau masih ada defisit, tentunya berkurang drastis, sehingga Presiden tidak perlu lagi mengambil hutang luar negeri yang notabene berbasiskan riba. Inilah penjelasan bahwa wakaf bisa menurunkan secara signifikan peranan riba.

Oleh karena itu, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan para pembaca blog Lampu Islam untuk menjadikan wakaf sebagai hobi. Wakaf telah terbukti merupakan media pemberdayaan ekonomi yang tepat. Kita cukup datang ke bank syariah dan minta bank tersebut untuk mendebet rekening kita secara rutin tiap bulan sebagai wakaf kepada yayasan atau pengelola tertentu.

Dengan demikian maka kehidupan sosial ekonomi umat akan berlangsung dengan jauh lebih baik. Aamiin.

Berjihad dengan Harta

Dalam arti surah at-Taubah ayat 111 Allah SWT menyatakan:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111)

Dalam banyak ayat lain, Allah memerintahkan kita agar berjihad dengan jiwa dan harta, antara lain ayat berikut ini yang artinya:

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Hal itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. at-Taubah: 41)

Jihad dalam arti bahasa berarti upaya, kesungguhan, dan kesulitan. Menurut pengertian istilah, secara luas jihad adalah bersungguh-sungguh dalam merealisasikan kebaikan dan menolak keburukan untuk membela agama Allah, baik dalam konteks pribadi atau pun umat. Pada prinsipnya, ketika kata jihad diucapkan secara mutlak dan tanpa embel-embel kata lain maka yang dimaksudkan adalah perang bersenjata melawan musuh Islam untuk membela kaum muslimin. Tetapi jika kata jihad itu disebut dengan embel-embel kata lain semisal jihad dengan harta, sebagaimana dalam ayat 41 surat at-Taubah yang baru dibacakan, maka yang dimaksudkan adalah makna yang lain.

Yang dimaksud dengan jihad dengan harta adalah pendermaan harta yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh atau sebagian kaum muslim, atau bahkan seorang saja, dengan niat ibadah dan mengharap ridha Allah SWT. Bentuknya bisa beragam, seperti memberi makan orang yang lapar, membantu pengobatan orang yang sakit, membangun tempat ibadah, rumah sakit, lembaga pendidikan, dan sebagainya yang masuk dalam kategori agama.

Dalam al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan jihad dengan harta, baik dalam arti umum maupun dalam arti khusus. Antara lain arti ayat berikut ini:

“10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih. 11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihadlah di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. as-Shaff: 10-11)

Kesenangan akan harta merupakan hal yang fitri dalam diri setiap manusia. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatnag-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. ali-Imran: 14)

Sedemikian kuatnya daya tarik harta bagi manusia sehingga Allah menyebutnya dalam surah at-Taghabun ayat 15 sebagai ujian (fitnah). Sungguh pun demikian kecintaan pada harta tidak boleh dibiarkan tanpa kendali, apalagi lantas menganggap harta sebagai segala-galanya, karena hal itu sangat berpotensi untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu Islam mengajarkan bahwa kepemilikan manusia terhadap harta sifatnya hanya sementara, karena pemilik yang sebenarnya adalah Allah SWT.

Harta dalam konsep Islam hanyalah barang titipan Allah yang di dalamnya terdapat hak orang lain sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. adz-Dzariyat: 19)

Karena itu harta yang tidak didermakan di jalan Allah SWT menjadi kotor secara moral, karena di dalamnya bercampur antara unsur halal, yakni milik sendiri, dan unsur haram, yaitu hak orang lain. Di sinilah jihad dengan harta menjadi urgen. Harta menjadi bersih apabila diinfakkan sesuai peruntukkan yang telah ditentukan oleh Allah SWT, misalnya zakat, sedekah, hibah, wakaf, dan lain sebagainya. Banyaknya ayat-ayat al-Qur’an yang mengaitkan zakat atau infak dengan ibadah-ibadah lain mengandung isyarat betapa pentingnya jihad dengan harta. Perintah zakat digandeng dengan shalat tidak kurang dari 82 ayat.

Begitu pentingnya berinfak sehingga anjurannya tidak hanya khusus bagi orang kaya, tetapi juga bagi orang yang sedang dalam kesempitan. Allah berfirman yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. ali-Imran: 134)

Ada kalanya istilah jihad dengan harta itu digunakan dalam arti khusus, yaitu mendermakan harta untuk mendukung bidang-bidang yang terkait dengan jihad militer, seperti pembelian senjata, peralatan perang, pemberian tunjangan finansial bagi keluarga mujahidin, dan segala bentuk sumbangan yang digunakan untuk membangun kekuatan militer kaum Muslimin guna mempertahankan diri dan melawan musuh-musuh Islam.

Dalam kondisi di mana jihad militer wajib karena tuntutan keadaan, maka jihad dengan harta pun wajib pula hukumnya. Sebab, jihad militer tidak bisa lepas dari kebutuhan akan dana finansial. Di sini berlaku kaidah fiqh yang menyatakan:

“Sesuatu perkara yang menjadi prasyarat bagi sesuatu yang wajib maka hukumnya wajib pula.”

Itulah mengapa ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang jihad fisik (jihad bil-anfus) hampir semuanya disandingkan dengan jihad harta (jihad bil-amwal). Sebutlah sebagai contoh surah al-Hujurat ayat 15 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, nyawa dan lisan kalian.” (HR. Ahmad, an-Nasa’ie, al-Hakim, Abu Dawud, ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Abu Ya’la)

Menjelaskan tentang hadist ini Imam as-Shan`ani dalam Subul as-Salam syarh Bulugh al-Maram menulis bahwa hadist ini menunjukkan wajibnya berjihad dengan jiwa dengan cara berperang melawan orang-orang kafir, dan wajibnya berjihad dengan harta dengan cara mendermakan harta untuk membiayai aktivitas jihad, persenjataan, dan semisalnya.

Sumber: Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *