Hijrah Abu Bakar Ash-Shiddiq ke Madinah Bersama Rasulullah

0
46

Kaum kafir Quraisy begitu keras dalam melancarkan teror, intimidasi, dan penindasan terhadap kaum muslimin. Maka, di antara mereka ada yang hijrah ke tanah Habasyah sekali atau dua kali untuk menyelamatkan agama dan keimanannya. Kemudian pada akhirnya, tibalah momentum hijrah ke Madinah.

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah meminta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah. Lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Sabar sebentar, jangan terburu-buru, barangkali Allah menjadikan untukmu seorang teman.”

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah meminta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah. Lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Sabar sebentar, jangan terburu-buru, barangkali Allah menjadikan untukmu seorang teman.”

Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun sangat berharap bisa menemani Rasulullah. Aisyah menceritakan kepada kita tentang hijrah Rasulullah dan ayahnya. Ia berkata, “Rasulullah tidak pernah lupa untuk mengunjungi rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq setiap hari pada salah satu ujung siang, entah itu pada pagi hari atau sore hari. Hingga ketika tiba hari di mana Rasulullah diizinkan untuk berhijrah meninggalkan Makkah, maka beliau datang menemui kami pada waktu yang tidak seperti biasanya, yaitu pada tengah hari.”

Aisyah kembali melanjutkan ceritanya, “Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq melihat Rasulullah datang, ia berkata, “Rasulullah tidak datang pada waktu seperti ini melainkan karena ada suatu hal penting yang terjadi.” Ketika Rasulullah masuk, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq beranjak dari tempat duduknya untuk memberikan tempat duduk kepada Rasulullah. Waktu itu, yang ada di rumah selain Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah hanya aku dan saudara perempuanku Asma` binti Abu Bakar. Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, tolong minta semua orang yang ada bersamamu agar keluar.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, mereka berdua itu tidak lain adalah putriku sendiri. Sungguh, ada apa sebenarnya wahai Rasulullah?” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya telah diizinkan kepadaku untuk pergi dan berhijrah.”

Aisyah melanjutkan ceritanya, “Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Aku yang menemani Anda wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.” Sungguh demi Allah, aku belum pernah melihat seseorang menangis karena luapan kebahagiaan, hingga aku melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis pada waktu itu. Kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah, ini adalah dua ekor unta yang memang telah aku persiapkan untuk momen ini.” Lalu mereka berdua menyewa Abdullah bin Uraiqith sebagai guide atau penunjuk jalan. Ia adalah seorang laki-laki musyrik dari Bani ad-Dil bin Bakr dan ibunya berasal dari Bani Sahm bin Amr. Lalu mereka berdua menyerahkan kedua unta tersebut kepadanya untuk ia rawat sampai waktu keberangkatan tiba.

Dalam riwayat Al-Bukhari dari Aisyah dalam sebuah hadist panjang disebutkan uraian panjang dan detail yang cukup penting. Di antara isinya adalah, Aisyah berkata, “Syahdan, pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk di rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq di siang hari, tiba-tiba ada seseorang berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Ini Rasulullah datang dengan menutup kepala, dan beliau tidak biasanya datang kepada kami pada siang hari seperti ini.” Lalu Rasulullah berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Wahai Abu Bakar, tolong orang-orang yang ada bersama kamu minta untuk keluar.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Mereka ini adalah keluarga Anda sendiri.” Lalu Rasulullah berkata, “Sesungguhnya telah diizinkan kepadaku untuk pergi berhijrah meninggalkan Makkah.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Bolehkah saya menemani Anda wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Ya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, ambillah salah satu dari dua ekor untaku ini.” Rasulullah berkata, “Dengan harga” (maksudnya Rasulullah tidak mau kalau cuma-cuma, sehingga beliau pun membelinya).

Aisyah melanjutkan ceritanya, “Lalu kami pun menyiapkan kedua unta itu dengan sebaik-baiknya dan kami meletakkan perbekalan di dalam sebuah jirab (wadah dari kulit untuk tempat perbekalan). Lalu Asma` merobek kain ikat pinggangnya menjadi dua, lalu salah satunya ia gunakan untuk mengikat mulut jirab tersebut. Dari itu, Asma` dijuluki, “Dzat An-Nithaqain.” Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pergi menuju ke sebuah gua di bukit Tsur dan bersembunyi di dalamnya selama tiga malam.

Pada tiap malam, Abdullah bin Abu Bakar bermalam bersama mereka berdua. Ia adalah seorang pemuda yang cerdas, responsif, dan tahu apa yang dibutuhkan, sangat peka dalam menangkap dan memahami apa yang ia dengar. Ketika waktu sahur datang, maka ia kembali lagi ke Makkah, sehingga pada pagi harinya ia sudah berada di tengah-tengah kaum Quraisy seakan-akan ia semalam tidur di rumah dan tidak pergi ke mana-mana. Ia tidak mendengar suatu hal yang tidak baik yang mengancam keselamatan Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq melainkan ia tangkap, lalu ia sampaikan kepada beliau berdua ketika hari sudah gelap.

Waktu itu, Amir bin Fuhairah bertugas menggembalakan kambing minhah (kambing betina yang memiliki air susu yang dipinjamkan pemiliknya kepada seseorang untuk dimanfaatkan air susunya). Pada malam hari, ia membawa kambing-kambing itu kepada mereka berdua, sehingga mereka berdua semalaman memiliki bekal air susu segar. Kemudian pada akhir malam menjelang Fajar, Amir bin Fuhairah datang mengambil kambing-kambing itu. Ia melakukan hal itu setiap malam dari ketiga malam tersebut.

Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menyewa seorang laki-laki penunjuk jalan yang mahir dari Bani ad-Dil dari Bani Abd bin Adi. Ia ikut mengadakan perjanjian persekutuan dengan keluarga Al-Ash bin Wa`il As-Sahmi. Ia adalah orang musyrik. Lalu Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq mempercayainya, menyerahkan kedua unta tersebut kepadanya dan menyuruhnya untuk membawa kedua unta itu setelah tiga hari pada subuh hari ketiga.

Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berangkat ditemani dengan Amir bin Fuhairah dan si penunjuk jalan tersebut. Si penunjuk jalan mengambil jalur pesisir.

Ketika Rasulullah pergi, tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya kecuali Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tibalah waktu pertemuan yang telah ditentukan antara Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu mereka berdua pun pergi secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi melalui jendela loteng rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq, supaya tidak diendus oleh kaum kafir Quraisy. Karena jika mereka sampai mengendus kepergian beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka gagallah rencana mereka berdua untuk melakukan perjalanan yang diberkahi itu.

Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq telah membuat kesepakatan dengan Abdullah bin Uraiqith agar ia menemui beliau berdua di gua Tsur setelah tiga malam. Ketika keluar dari Makkah menuju Madinah, Rasulullah berdoa dan berhenti sejenak di Al-Hazurah di pasar Makkah, lalu berkata, “Demi Allah, sungguh kamu wahai Makkah adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi-Nya yang paling Dia cintai. Seandainya bukan karena aku diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar meninggalkanmu.”

Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mulai bergerak pergi, sedang orang-orang musyrik berusaha mengikuti jejak beliau berdua hingga ketika mereka sampai di bukit Tsur, maka mereka mulai kebingungan dan kehilangan jejak. Lalu mereka naik ke atas bukit melewati sebuah gua. Di pintu gua tersebut, mereka melihat rajutan sarang laba-laba, lalu mereka berkata, “Seandainya ada seseorang masuk ke dalam gua ini, tentu tidak ada lagi sarang laba-laba di pintunya.” Dan itu adalah salah satu pasukan Allah,

“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan  Dia sendiri.” (Al-Muddatstsir: 31).

Meskipun dengan segenap usaha dan cara yang ditempuh oleh Rasulullah, namun beliau sama sekali tidak lantas percaya dan bergantung kepada usaha dan cara yang ditempuh itu. Tetapi, beliau tetap percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Allah, sangat besar pengharapan beliau kepada pertolongan dan dukungan-Nya serta senantiasa memanjatkan doa yang diajarkan oleh Allah kepada beliau,

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Israa`: 80).

Dalam ayat ini terkandung bacaan doa yang diajarkan Allah kepada Nabi-Nya supaya beliau memanjatkan doa kepada-Nya dengan bacaan doa tersebut. Juga, supaya umat beliau belajar bagaimana berdoa kepada Allah dan bagaimana bermunajat kepada-Nya. Sebuah doa memohon supaya dimasukkan secara benar dan dikeluarkan secara benar.

Ini adalah kinayah tentang kebenaran perjalanan semuanya, mulai dari permulaan sampai penutupnya, mulai dari awal sampai akhirnya. Kebenaran di sini memiliki nilai tersendiri dalam konteks apa yang berupaya dilakukan oleh orang-orang musyrik berupa memalingkan beliau dari apa yang diturunkan Allah kepada beliau supaya beliau membuat-buat kebohongan atas nama Allah dengan mengada-adakan sesuatu selain apa yang diturunkan kepada beliau.

Kebenaran juga memiliki refleksi, yaitu keteguhan, ketenangan, keyakinan, kebersihan, kemurnian, keikhlasan, dan ketulusan. Ayat, “Dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” maksudnya adalah, kekuatan dan kewibawaan untuk menaklukkan kekuasaan bumi dan kekuatan orang-orang musyrik. Kalimat, “Dari sisi Engkau” menggambarkan kedekatan kepada Allah, senantiasa “terkoneksi” dengan-Nya, mengharap pertolongan secara langsung dari-Nya dan memohon perlindungan-Nya.

Seorang pemilik dakwah tidak mungkin mencari kekuasaan kecuali dari Allah, tidak mungkin disegani kecuali dengan kekuasaan-Nya, dan tidak mungkin mengharapkan naungan kepada seorang penguasa atau pemilik kedudukan selama orientasinya sebelum itu tidak tertuju kepada Allah.

Dakwah terkadang menguasai hati para pemilik kekuasaan, sehingga mereka menjadi pasukan dan pelayan dakwah, maka mereka pun beruntung. Akan tetapi, dakwah tidak akan berhasil jika yang terjadi justru sebaliknya, yaitu dakwah justru menjadi bagian dari pasukan, alat, dan pelayan kekuasaan. Karena dakwah adalah perintah Allah, dan dakwah lebih tinggi dan luhur dari para pemilik kekuasaan dan kedudukan.

Ketika orang-orang musyrik berada di sekeliling gua dan gua itu berada tepat di hadapan mata mereka, maka Rasulullah pun menenangkan hati Abu Bakar Ash-Shiddiq dan meyakinkan bahwa Allah beserta mereka berdua.

Diriwayatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah ketika berada dalam gua, “Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua kakinya, niscaya ia akan melihat kami.” Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu pikir tentang dua orang yang Allah adalah ketiganya?”

Hal itu direkam oleh Allah dalam ayat,

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah: 40).

Setelah tiga malam dari masuknya Rasulullah ke dalam gua, maka beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun keluar dari gua, sementara intensitas usaha pencarian dan pengejaran oleh orang-orang musyrik sudah mereda dan mereka sudah putus asa untuk menemukan Rasulullah.

Sebelumnya telah kami katakan, bahwa Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq menyewa seorang laki-laki penunjuk jalan berasal dari Bani Ad-Dil bernama Abdullah bin Uraiqith. Beliau berdua mempercayainya dan menyerahkan kepadanya dua ekor unta beliau berdua serta menyuruhnya membawa kedua unta itu. Abdullah bin Uraiqith pun benar-benar datang menemui beliau berdua pergi melalu jalur yang tidak biasanya supaya jejaknya tidak diendus oleh orang-orang kafir Quraisy yang ingin mengejar beliau berdua.

Di tengah jalan menuju Madinah, Rasulullah berpapasan dengan Ummu Ma’bad di daerah Qadid yang menjadi tempat pemukiman Khuza’ah. Ia adalah saudara perempuan Hubaisy bin Khalid Al-Khuza’i yang menceritakan tentang kisah saudara perempuannya itu. Kisah tersebut diriwayatkan oleh para perawi dan ulama sirah. Tentang kisah tersebut, Ibnu Katsir berkata, “Kisahnya adalah kisah yang masyhur dan diriwayatkan melalui sejumlah jalur yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.

Orang-orang Quraisy mengumumkan sayembara di tempat-tempat perkumpulan di Makkah, bahwa barang siapa yang bisa menangkap Nabi Muhammad hidup atau mati, maka baginya ada hadiah seratus ekor unta. Sayembara ini pun menyebar di tengah-tengah kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah pinggiran Makkah. Ada seorang laki-laki bernama Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang berambisi mendapatkan hadiah yang disediakan oleh orang Quraisy tersebut bagi siapa saja yang berhasil menangkap Nabi Muhammad. Lalu ia pun berusaha keras untuk bisa meraih hadiah tersebut. Akan tetapi Allah dengan kuasa-Nya yang tiada terkalahkan menjadikannya berbalik menjadi pembela Rasulullah setelah sebelumnya ia adalah orang yang berusaha keras untuk menangkap beliau.

Ketika kaum muslimin di Madinah mendengar kalau Rasulullah telah pergi meninggalkan Makkah, maka setiap pagi buta, mereka datang ke Al-Harrah menunggu-tunggu kedatangan Rasulullah hingga siang hari.

Pada suatu hari, setelah lama menunggu, mereka kembali pulang. Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Yahudi naik ke atas sebuah bangunan tinggi milik mereka, karena ia melihat sesuatu. Lalu di kejauhan ia melihat Rasulullah dan orang-orang yang menemani perjalanan beliau dengan mengenakan baju putih yang keberadaan mereka menjadikan bayangan fatamorgana hilang. Ketika itu, si Yahudi itu langsung berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai orang Arab, itu orang yang menjadi keberuntungan dan sesepuh kalian yang kalian tunggu-tunggu.” Lalu kaum muslimin pun langsung berlarian menyambut kedatangan Rasulullah di Al-Harrah. Lalu beliau pun berjalan bersama mereka ke arah kanan hingga beliau berhenti di Bani Auf. Hari itu bertepatan dengan hari senin bulan Rabi’ul Awal. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri dan menaungi Rasulullah dengan rida` nya, maka ketika itu, orang-orang pun mengetahui sosok Rasulullah yang sesungguhnya.

Hari kedatangan Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di Madinah menjadi hari bahagia dan suka cita yang Madinah tidak pernah menyaksikan hari yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang pun mengenakan baju mereka yang terbaik seakan-akan mereka berada di hari raya. Namun, sungguh hari itu memang hari raya, karena hari itu adalah hari di mana Islam memasuki babak baru perpindahan dari lingkup yang sempit dan terisolasi menuju ke lingkup yang terbuka luas dan bebas menyebar tanpa batas di tanah yang diberkahi, yaitu Madinah dan selanjutnya ke segenap penjuru bumi.

Penduduk Madinah merasakan dan menyadari karunia, anugerah dan kehormatan istimewa yang diberikan secara spesial oleh Allah kepada mereka. Karena negeri mereka menjadi tempat untuk bernaung bagi Rasulullah dan para sahabat Muhajirin, kemudian menjadi tempat untuk menolong dan membela Islam. Di samping itu, negeri mereka juga menjadi tempat yang bisa dikatakan sebagai pusat pemerintahan Islam dalam arti yang sesungguhnya dengan segenap elemen dan komponen-komponennya.

Dari itu, penduduk Madinah berbondong-bondong keluar bersorak-sorak dengan penuh luapan kegembiraan dan suka cita seraya mengucapkan yel-yel, “Ya Rasulullah, ya Muhammad Rasulullah.”

Setelah sambutan massal yang luar biasa besar tersebut yang belum pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan, maka Rasulullah pun berjalan hingga beliau berhenti di rumah Abu Ayyub Al-Anshari, sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq turun di rumah Kharijah bin Zaid Al-Khazraji Al-Anshari.

Perjalanan berat penuh kesulitan, tantangan, dan rintangan telah dimulai dan Rasulullah berhasil mengatasi semua itu untuk menuju kepada masa depan yang gemilang bagi umat Islam dan negara Islam yang berhasil menciptakan sebuah peradaban kemanusiaan yang luar biasa dengan berlandaskan pada fondasi keimanan, ketakwaan, ihsan, dan keadilan, setelah sebelumnya berhasil mengalahkan dua negara terkuat yang sebelumnya menguasai dunia, yaitu Persia dan Romawi.

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah tangan kanan Rasulullah sejak terbitnya fajar dakwah hingga meninggalnya. Abu Bakar Ash-Shiddiq secara mendalam menimba hikmah dan keimanan, keyakinan dan keteguhan, ketakwaan dan keikhlasan dari sumber-sumber mata air kenabian. Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ia habiskan bersama-sama dengan Rasulullah akhirnya membuahkan keshalehan dan keshiddiqiyyah-an, sensitifitas dan ketajaman, cinta dan ketulusan, keteguhan dan kesungguhan, keikhlasan dan pemahaman. Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memiliki berbagai sikap, rekam jejak, langkah dan sepak terjang yang sangat mengesankan pasca meninggalnya Rasulullah seperti di Saqifah bani Sa’idah dan yang lainnya, pengiriman pasukan Usamah dan perang melawan gerakan kemurtadan. Maka, ia pun memperbaiki kembali apa yang rusak, membangun kembali apa yang dihancurkan, menyatukan kembali apa yang tercerai berai dan meluruskan apa yang menyimpang.

Sesungguhnya momentum kehijrahan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersama Rasulullah memuat banyak pelajaran, ibrah, keteladanan dan faedah, yang di antaranya adalah:

Pertama:

Allah berfirman,

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah: 40).

Dalam ayat ini terdapat pengertian yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dari tujuh aspek:

  • Bahwa orang-orang kafir mengusirnya,

Orang-orang kafir mengeluarkan dan mengusir Rasulullah (salah seorang dari dua orang), maka itu berarti mereka mengeluarkan beliau berdua, dan ini adalah memang fakta yang terjadi.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu-satunya teman Rasulullah yang bersama beliau ketika Allah menolong beliau tatkala orang-orang kafir mengeluarkan beliau berdua, dan beliau adalah salah seorang dari dua orang dan Allah adalah ketiganya.

Kalimat, “tsaniya itsnaini” (salah seorang dari dua orang), maka di berbagai tempat, kejadian dan momentum di mana tidak ada dari para pembesar sahabat yang bersama Rasulullah kecuali hanya satu orang, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq lah orang tersebut. Seperti dalam perjalanan hijrah ke Madinah, keberadaan beliau dalam ’arisy (semacam tempat tinggi yang menjadi tempat panglima pasukan memantau dan memberi komando) pada kejadian Perang Badar yang hanya Abu Bakar Ash-Shiddiq lah orang yang berada bersama beliau di dalamnya. Juga seperti ketika Rasulullah pergi menemui kabilah-kabilah Arab untuk menyeru kepada mereka kepada Islam, di dalamnya Abu Bakar Ash-Shiddiq juga tidak ketinggalan ikut bersama beliau.

Semua ini adalah sebuah kebersamaan yang spesial dan istimewa yang tidak dimiliki oleh selain Abu Bakar Ash-Shiddiq berdasarkan kesepakatan para ulama yang mendalami sirah dan hal ihwal Rasulullah.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang menemani Rasulullah dalam gua.

Keutamaan ini sangat jelas dan gamblang berdasarkan nash Al-Qur’an. Al-Bukhari dalam Shahihnya dan Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari hadist Anas dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata, “Aku melihat kaki-kaki kaum musyrikin berada tepat di atas kepala kami sedang kami berada dalam gua. Lalu aku berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kedua kakinya, pastilah ia akan bisa melihat kami.” Lalu Rasulullah berkata, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu pikir tentang dua orang, Allah adalah ketiganya.”

Hadist ini, di samping statusnya yang shahih berdasarkan kesepakatan ulama tanpa ada perselisihan lagi, juga maknanya dikuatkan oleh Al-Qur’an.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat dan rekan Rasulullah yang senantiasa bersama beliau secara mutlak.

Kalimat, “idz yaqulu li shahibihi” (ketika ia berkata kepada sahabatnya), tidak hanya terbatas pada posisi Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika menemani Rasulullah dalam gua saja, tetapi ia adalah sahabat, rekan dan kawan Rasulullah yang senantiasa bersama dan menyertai beliau secara total, sebagaimana kelebihan ini tidak dimiliki oleh selain dirinya. Maka dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu-satunya sahabat yang paling sempurna persahabatan dan kebersamaannya dengan Rasulullah.

Hal ini sudah tidak diperselisihkan lagi oleh para ulama yang mendalami sirah dan hal ihwal Rasulullah. Karena itu, ada sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya keutamaan-keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah keistimewaan-keistimewaan spesial yang tidak dimiliki oleh orang lain.”

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang sangat sayang kepada Rasulullah.

Kalimat, “la tahzan” (janganlah kamu bersedih hati), menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat sayang dan cinta kepada Rasulullah, makanya ia bersedih hati. Karena seseorang tidak bersedih hati dan berduka cita melainkan ketika mengkhawatirkan keselamatan orang yang dicintainya. Kesedihan Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap Rasulullah adalah karena ia sangat mengkhawatirkan beliau, jangan sampai beliau terbunuh dan Islam pun lenyap.

Karena itu, selama dalam perjalanan hijrah, sesekali Abu Bakar Ash-Shiddiq berjalan di depan Rasulullah dan sesekali di belakang beliau. Melihat hal itu, Rasulullah bertanya tentang hal itu, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menjawab, “Saya teringat orang yang menyergap, maka saya pun berjalan di depan Anda, dan saya teringat orang yang mengejar, maka saya pun berjalan di belakang Anda.”

Dalam riwayat Imam Ahmad dalam kitab “Fadha `il Ash-Shahabah” disebutkan, “Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berjalan di belakang beliau dan di depan beliau secara bergantian. Melihat hal itu, Rasulullah bertanya, “Ada apa dengan kamu?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, ketika saya berjalan di depan Anda, maka saya khawatir ada orang yang menyerang Anda dari belakang, dan ketika saya berjalan di belakang Anda, maka saya khawatir ada orang yang menyerang Anda dari belakang, dan ketika saya berjalan di belakang Anda, maka saya khawatir ada orang yang menyerang Anda dari depan.” Ketika sampai di gua, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, Anda jangan masuk dulu, hingga saya periksa dan bersihkan dulu.” Lalu ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq melihat ada lubang di dalam gua, maka ia pun menutupnya dengan kakinya dan berkata, “Ya Rasulullah, jika ada sengatan atau gigitan hewan berbisa, maka biarlah saya yang terkena sengatan ini.”

Demikianlah, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak rela jika ia berjalan berdampingan dengan Rasulullah, tetapi ia haruslah yang berada di depan atau di belakang, agar keselamatan beliau terjamin, dan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan, maka biarlah dirinya yang terkena. Bahkan ia tidak rela jika Rasulullah terbunuh sementara dirinya hidup, bahkan ia lebih memilih untuk mengorbankan jiwa, keluarga, dan hartanya demi menyelamatkan Rasulullah. Ini sebenarnya menjadi sebuah kewajiban bagi setiap Mukmin, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling terdepan dalam melaksanakan dan mengimplementasikan kewajiban tersebut.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang ikut meraih keutamaan ma’iyyah (disertai Allah) yang khusus dan spesial bersama Rasulullah.

Kalimat, “innallaha ma’ana” (sesungguhnya Allah beserta kita) secara tegas dan eksplisit menyatakan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu-satunya orang yang ikut bersama Rasulullah meraih ma’iyyah tersebut.

Kalimat ini menunjukkan bahwa Allah menyertai mereka berdua dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan melawan musuh beliau berdua. Rasulullah telah menginformasikan, “Bahwa Allah menolongku dan menolong kamu wahai Abu Bakar, menolong kita menghadapi mereka sebagai bentuk penghormatan dan mahabbah.” Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat,

“Sesungguhnya Kami benar-benar menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (Hari Kiamat). (Ghafir: 51).

Ini merupakan sebuah puncak pujian bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena kalimat tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu orang yang Rasulullah memberikan testimoni tentang keimanannya yang menjadi sebab pertolongan Allah kepada dirinya beserta Rasul-Nya pada situasi yang sangat kritis seperti itu di mana tidak ada satu orang pun yang bisa selamat ketika dalam situasi seperti itu kecuali orang yang diberi pertolongan oleh Allah.

Dr. Abdul Karim Zaidan mengatakan tentang ma’iyyah dalam ayat di atas seperti berikut, “Ma’iyyah Rabbaniyyah ini yang ditunjukkan oleh kalimat, “innallaha ma’ana (sesungguhnya Allah beserta kita) adalah lebih tinggi dari ma’iyyah Allah untuk orang-orang muttaqin dan muhsinin yang disebutkan dalam ayat 128 surat An-Nahl, “Sesungguhnya beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.” Karena ma’iyyah yang disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 40 tersebut adalah untuk diri Rasulullah dan sahabat beliau, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq secara pribadi dan personal serta mutlak tanpa tergantung pada adanya syarat suatu kriteria amal tertentu seperti kriteria takwa dan ihsan misalnya. Tetapi ma’iyyah tersebut dijamin dengan dukungan dengan sejumlah ayat dan hal-hal supranatural.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah yang menyertai beliau ketika diturunkannya ketenangan dan pertolongan.

Ayat, “maka Allah pun menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan menguatkannya dengan pasukan yang tidak kalian lihat,” maka orang yang menyertai Rasulullah ketika dalam situasi yang mencekam dan kritis, maka dirinya pula lah yang memang sudah semestinya lebih utama dan lebih layak untuk menyertai beliau ketika hadirnya pertolongan dan dukungan. Maka dari itu, dalam kondisi ini, tidak perlu untuk menyebutkan posisi Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menyertai Rasulullah, karena sudah ditunjukkan oleh konteks yang ada. Dan jika telah diketahui bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah yang menemani Rasulullah dalam keadaan tersebut, maka bisa diketahui pula bahwa apa yang didapatkan oleh Rasulullah berupa penurunan ketenangan dan dukungan dengan pasukan yang tidak terlihat oleh manusia juga didapatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan kuantitas dan kualitas yang lebih besar dari apa yang diperoleh oleh orang lain. Ini adalah salah satu bentuk kebalaghahan dan kefasihan Al-Qur’an.

Pemahaman Mendalam Nabi Muhammad dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Membuat Rencana, Strategi, dan Langkah-langkah yang Mesti Ditempuh

Orang yang mencermati peristiwa hijrah, maka di dalamnya ia akan melihat sebuah rencana, strategi, dan langkah-langkah yang cermat dan akurat mulai dari awal permulaan, persiapan-persiapan pendahuluan sampai babak-babak berikutnya. Ia juga akan mengetahui bahwa rencana dan strategi yang tepat dengan berdasarkan petunjuk wahyu pada masa kehidupan Rasulullah adalah benar-benar nyata dan bahwa perencanaan adalah bagian dari Sunnah Nabawiyyah.

Perencanaan adalah bagian dari taklif Ilahi pada setiap hal yang diperintahkan kepada seorang Muslim, bahwa orang yang lebih cenderung paham spontanitas tanpa perencanaan lebih dahulu dengan dalih bahwa perencanaan dan persiapan yang matang bukanlah bagian dari As-Sunnah, maka orang-orang seperti itu telah keliru dan melakukan kejahatan terhadap diri sendiri dan kaum muslimin.

Maka, ketika hijrah Rasulullah telah tiba saat realisasinya, maka kita melihat hal-hal seperti berikut:

Sebuah perencanaan dan persiapan hijrah yang matang, cermat, dan akurat sehingga hijrah yang dilakukan bisa berhasil dan sukses meskipun banyak kesulitan dan rintangan yang melingkupinya. Itu karena setiap hal yang berkaitan dengan rencana hijrah benar-benar dipelajari secara mendalam dan komprehensif. Misalnya:

  1. Rasulullah datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq di tengah siang bolong di mana udara sedang panas-panasnya. Ini adalah waktu di mana tidak ada orang yang keluar rumah. Bahkan, tidak biasanya Rasulullah datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq pada waktu tersebut, kenapa, supaya tidak ada seorang pun yang melihat beliau.
  2. Ketika datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Rasulullah datang dengan penutup kepala untuk menyamarkan identitas beliau. Karena dengan menggunakan tutup kepala seperti itu, bisa meminimalisir kemungkinan ciri-ciri muka orang yang bersangkutan dapat dikenali.
  3. Rasulullah memerintahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq agar meminta semua orang yang ada dalam rumah untuk keluar. Dan ketika beliau menyampaikan pembicaraan, maka beliau tidak menjelaskan kecuali hanya perintah untuk berhijrah tanpa menyebutkan tempat tujuannya secara spesifik.
  4. Pada saat keluar, maka itu dilakukan pada malam hari dan melalui pintu belakang rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
  5. Langkah kehati-hatian dan antisipasi benar-benar dilakukan secara optimal. Hal ini salah satunya terefleksikan pada pemilihan “jalur tikus” yang tidak dikenal oleh orang-orang dengan bantuan seorang penunjuk jalan yang benar-benar ahli tentang jalur-jalur pedalaman dan jalur-jalur gurun sahara. Si penunjuk jalan tersebut adalah seorang musyrik, namun ia memiliki integritas dan reliabilitas. Di sini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah tidak segan untuk memanfaatkan dan menggunakan keahlian-keahlian dari mana pun sumbernya.

Syaikh Abdul Karim Zaidan menerangkan bahwa secara prinsip dan hukum asal adalah tidak boleh meminta bantuan dengan selain Muslim dalam urusan-urusan umum. Namun kaidah ini memiliki pengecualian yaitu boleh meminta bantuan kepada selain Muslim dengan syarat-syarat tertentu,

Pertama, kemashlahatan yang diinginkan benar-benar memang dijamin bisa terwujud atau paling tidak potensial untuk terwujud.

Kedua, tidak merugikan dakwah dan makna-maknanya.

Ketiga, orang yang bersangkutan harus benar-benar dipastikan bisa dipercaya, memiliki integritas dan reliabilitas.

Keempat, tidak memicu munculnya kesyubhatan dan salah paham bagi orang-orang Islam.

Kelima, benar-benar ada kebutuhan yang hakiki dan nyata untuk meminta bantuan dengan non Muslim tersebut sebagai bentuk kondisi pengecualian, jika tidak, maka tidak boleh.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajak anak-anaknya kepada Islam dan berkat karunia Allah ia sukses dalam menjalankan peran yang besar dan krusial ini. Tidak hanya itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga mengerahkan dan memberdayakan keluarganya untuk mengabdi kepada Islam dan menyukseskan hijrah Rasulullah. Maka ia pun membagikan tugas-tugas penting kepada mereka dalam mengeksekusi dan merealisasikan rencana hijrah yang diberkahi:

  • Peran Abdullah bin Abu Bakar.

Abdullah bin Abu Bakar memainkan peran sebagai intelijen yang jujur dan mengungkap pergerakan-pergerakan musuh. Abdullah bin Abu Bakar tumbuh dalam lingkungan yang membentuk kepribadiannya menjadi pribadi yang mencintai agamanya dan memiliki sense of responsibility untuk membela agamanya dengan pandangan, visi dan wawasan yang tajam, inteligensi yang sempurna dan kecerdasan yang cemerlang. Semua itu menunjukkan perhatian intensif yang dijalankan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam mendidik dan mengasuh Abdullah bin Abu Bakar.

Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan gambaran kepada Abdullah bin Abu Bakar tentang peran yang harus ia laksanakan dalam membantu kesuksesan hijrah, maka ia pun melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ia terus bergerak di antara majelis-majelis penduduk Makkah mendengarkan berita dan informasi-informasi mereka dan apa yang mereka bicarakan pada siang hari. Kemudian pada malam harinya, ia pergi ke gua dan menyampaikan kepada Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang apa saja yang ada dalam pikiran penduduk Makkah dan apa yang mereka rencanakan.

Abdullah bin Abu Bakar benar-benar melaksanakan tugas tersebut secara optimal dengan cara yang brilian, sehingga tidak ada satu orang pun dari penduduk Makkah yang menaruh curiga kepadanya. Semalaman ia tinggal di gua sebagai penjaga, hingga ketika menjelang pagi, maka ia kembali ke Makkah, tanpa ada satu orang pun yang menyadari hal itu.

  • Peran Aisyah dan Asma`.

Asma` dan Aisyah memiliki peran cukup besar yang itu merefleksikan faedah-faedah tarbiyah yang benar. Ketiak Rasulullah sampai di rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq pada malam hijrah, mereka berdua bertugas menyiapkan perbekalan untuk beliau berdua. Ummu Al-Mukminin Aisyah berkata, “Lalu kami pun mempersiapkan keberangkatan Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mempersiapkan perbekalan untuk beliau berdua yang kami letakkan dalam jirab (wadah dari kulit untuk tempat perbekalan perjalanan). Lalu Asma` menyobek kain ikat pinggangnya menjadi dua bagian dan salah satunya ia pergunakan untuk mengikat mulut jirab tersebut. Dari itu, Asma` dikenal dengan julukan Dzat An-Nithaqain.

  • Peran Asma` dalam menanggung penderitaan dan merahasiakan rahasia-rahasia kaum muslimin.

Asma` memperlihatkan peran seorang Muslimah yang memahami dan menghayati agamanya, menjaga rahasia-rahasia dakwah dan rela menanggung akibat-akibatnya berupa penderitaan, gangguan dan sikap-sikap tidak simpatik. Dalam hal ini, Asma` menceritakan sendiri kepada kita, ia berkata, “Ketika Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq telah pergi, maka ada sejumlah orang Quraisy mendatangi kami, termasuk di antaranya adalah Abu Jahal bin Hisyam. Mereka berdiri di pintu rumah, lalu aku pun keluar menemui mereka, lalu mereka bertanya, “Di mana ayahmu wahai puteri Abu Bakar?” Aku jawab, “Sungguh aku tidak tahu di mana ayahku.” Lalu Abu Jahal mengangkat tangannya ia adalah sosok yang buruk, kasar, dan bengis lalu menampar pipiku hingga anting-antingku jatuh. Kemudian mereka pun pergi.

Itu adalah sebuah pelajaran dari Asma` yang ia ajarkan kepada kaum perempuan Islam dari generasi ke generasi, bagaimana ia merahasiakan rahasia-rahasia kaum muslimin dari para musuh, dan bagaimana ia tetap berdiri dengan tegar tanpa sedikit pun gentar di hadapan kekuatan-kekuatan jahat dan zhalim.

  • Peran Asma` dalam menjaga situasi rumah agar tetap tenang dan tenteram.

Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berangkat pergi bersama Rasulullah dengan membawa semua harta bendanya, yaitu apa yang tersisa dari modal yang dimilikinya yang berjumlah lima ribu atau enam ribu dirham. Abu Quhafah yang waktu itu telah buta datang untuk memeriksa rumah putranya sekaligus untuk memastikan keadaan dan keselamatan cucu-cucunya. Ia berkata, “Sungguh, aku melihat Abu Bakar telah membuat kalian susah dengan membawa hartanya bersamanya.” Asma` berkata, “Tidak wahai kakek, coba letakkan tangan kakek di sini.” Lalu ia pun meletakkan tangannya seperti yang aku minta, lalu ia pun berkata, “Kalau begitu tidak apa-apa, jika memang Abu Bakar meninggalkan untuk kalian bekal ini, berarti ia telah berbuat baik. Bekal ini cukup untuk kalian.” Asma` kembali berkata, “Sungguh demi Allah, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak meninggalkan apa pun untuk kami. Aku melakukan hal itu hanya untuk menenangkan hati kakek.”

Dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sepeti itu, Asma` menjaga nama ayahnya dan sekaligus menenangkan hati kakeknya tanpa berbohong. Karena memang ayahnya meninggalkan bebatuan tersebut yang ia tumpuk-tumpuk supaya jiwa sang kakek tenang. Namun, sebenarnya Abu Bakar Ash-Shiddiq telah meninggalkan untuk mereka bekal berupa keimanan kepada Allah yang tiada akan bisa digoncangkan oleh gunung, tidak akan bisa digoyangkan oleh terpaan angin kencang dan tidak akan terpengaruh dengan sedikit atau banyaknya harta. Abu Bakar Ash-Shiddiq telah mewariskan kepada mereka keyakinan dan kepercayaan tanpa batas kepada Allah serta menanamkan pada jiwa mereka himmah yang hanya berorientasi pada hal-hal yang luhur tanpa sedikit pun menoleh kepada hal-hal yang remeh dan rendah. Maka, dengan mereka, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun telah memberikan contoh dan keteladanan bagi keluarga Muslim yang sangat langka bisa terulang dan sangat sedikit untuk bisa menemukan padanannya.

Dengan berbagai sikap, langkah, dan sepak terjang tersebut, Asma` benar-benar telah memberikan sebuah contoh keteladanan bagi kaum perempuan dan putri-putri Islam yang mereka sangat perlu untuk meniru dan meneladaninya. Untuk beberapa waktu, Asma` dan saudara-saudara perempuannya yang lain tetap berada di Makkah tanpa sedikit pun mengeluhkan kondisi ekonomi yang sempit dan tanpa sedikit pun memperlihatkan kondisi butuh. Hal itu berlangsung hingga akhirnya Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ untuk pergi ke Makkah dan membekali mereka berdua dengan dua ekor unta dan uang sebanyak lima ratus dirham untuk menjemput beberapa orang dan membawa mereka ke Madinah. Mereka itu adalah, kedua putri beliau yaitu Fathimah dan Ummu Kultsum, Saudah binti Zam’ah, Usamah bin Zaid, Barakah yang dikenal dengan nama Ummu Aiman. Waktu itu, Abdullah bin Abu Bakar juga ikut bersama mereka pergi ke Madinah sambil membawa keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq, hingga mereka semua pun akhirnya tiba di Madinah bersama-sama.

  • Peran Amir bin Fuhairah, maula Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Biasanya, banyak orang yang mengabaikan pembantunya dan tidak begitu mempedulikan urusannya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan juru dakwah Rabbani, mereka tidak akan melakukan sikap seperti itu, akan tetapi mereka berusaha keras untuk menunjuki dan membimbing orang-orang yang mereka temui. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq mendidik dan mengasuh maula-nya yang bernama Amir bin Fuhairah, sehingga ia pun terbentuk menjadi sosok pribadi yang siap berkorban untuk Islam dan mengabdi kepada agamanya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga memberikan gambaran kepada Amir bin Fuhairah tentang tugas dan perannya yang cukup penting dalam hijrah. Seperti biasanya, ia menggembalakan kambing bersama-sama dengan para penggembala lainnya di Makkah dengan sikap biasa tanpa melakukan tindakan-tindakan yang bisa menarik perhatian. Kemudian ketika malam tiba, maka ia menggiring kambing-kambingnya menuju ke gua di mana Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi, sehingga beliau berdua bisa memerah susu kambing-kambing tersebut dan memotong sebagiannya untuk dikonsumsi dagingnya. Pada pagi harinya, ia kembali ke Makkah, dan dalam perjalanan kembali ke Makkah tersebut, ia juga melaksanakan sebuah peran yang sangat penting lainnya yang melengkapi peran Abdullah bin Abu Bakar.

Peran dan tugas itu adalah, ia berjalan menggiring kambing-kambingnya mengikuti jejak-jejak kaki Abdullah bin Abu Bakar, dengan tujuan supaya jejak-jejak tersebut terhapus. Itu adalah sebuah langkah pintar dan cerdas dalam upaya menyiapkan kesuksesan hijrah.

Sebuah pelajaran yang besar yang bisa dipetik dari sikap dan langkah Abu Bakar Ash-Shiddiq, supaya kaum muslimin juga memperhatikan para pembantu dan pelayan mereka yang datang dari berbagai belahan bumi, yaitu memperlakukan mereka sebagai manusia, kemudian mengajarkan Islam kepada mereka.

Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq berupaya memberdayakan, merekrut, mengerahkan, mempersiapkan, dan memobilisasi keluarganya untuk mengabdi kepada sang pemilik dakwah; Muhammad SAW demi kelancaran dan kesuksesan hijrah beliau, menunjukkan sebuah perencanaan dan persiapan yang begitu cemerlang, langkah-langkah antisipasi dan mempertimbangkan situasi dan kondisi secara bijaksana, cermat dan akurat, meletakkan masing-masing orang yang terlibat pada posisinya yang sesuai, menutup semua celah-celah yang ada, dukungan yang cermat terhadap semua keperluan perjalanan, merekrut orang-orang yang terlibat dalam jumlah yang tepat dan sesuai dengan yang diperlukan saja tanpa berlebihan. Rasulullah benar-benar telah mengambil segenap langkah dan upaya ikhtiar yang logis dan rasional serta melaksanakannya secara sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Dari itu, inayah dan pertolongan Allah pun sudah bisa diekspektasikan.


Melakukan usaha dan langkah-langkah ikhtiar merupakan hal yang niscaya dan sebuah keharusan. Akan tetapi itu tidak lantas berarti selalu akan mendatangkan hasil, karena ini adalah sesuatu yang tergantung kepada titah dan kehendak Allah. Dari sini, sikap tawakkal adalah menjadi hal yang sangat penting dan menjadi sebuah keharusan, dan tawakkal adalah masuk kategori usaha menyempurnakan langkah-langkah ikhtiar.

Rasulullah melakukan semua langkah dan usaha, mempersiapkan segenap media dan menempuh segenap cara dan jalan yang harus ditempuh. Akan tetapi, pada waktu yang sama, beliau senantiasa beserta Allah, berdoa kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya supaya usaha dan langkah yang beliau jalankan membuahkan keberhasilan. Doa beliau pun diperkenankan dan usaha yang beliau lakukan pun akhirnya berbuah keberhasilan.

Keperwiraan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Tangisan Kebahagiannya

Buah hasil tarbiyah nabawiyyah termanifestasikan secara jelas pada keperwiraan dan heroisme Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika hendak berhijrah ke Madinah dan Rasulullah berkata kepadanya, “Sabar sebentar, jangan terburu-buru, barangkali Allah menjadikan untukmu seorang teman perjalanan,” maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mulai mengambil langkah-langkah persiapan dan perencanaan, seperti dengan membeli dua ekor unta dan merawatnya dengan baik, sebagai persiapan untuk itu.

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq merawat dan memberi makan dua ekor unta yang ada padanya dengan daun pohon samur selama empat bulan. Dengan ketajaman pandangannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tumbuh dan dididik untuk menjadi seorang pemimpin, mampu menangkap dan memahami bahwa momen hijrah adalah momen yang sulit dan kemungkinan datang secara tiba-tiba dan mendadak. Dari itu, ia pun sejak awal telah menyiapkan sarana dan prasarana hijrah, mengatur rangsum perbekalannya dan memberdayakan keluarganya untuk membantu Rasulullah.

Ketika Rasulullah datang dan mengabarkan kepadanya bahwa Allah telah mengizinkan beliau untuk pergi berhijrah, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menangis karena luapan kebahagiaan dan suka cita yang dirasakannya. Dalam hal ini, Aisyah berkata, “Maka sungguh demi Allah, sebelum hari itu, aku tidak pernah mengetahui seseorang menangis karena bahagia, hingga aku melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis ketika itu.”

Itu adalah puncak kebahagiaan manusia, kebahagiaan yang beralih kepada tangisan. Di antara yang dikatakan oleh penyair tentang hal ini adalah,

Telah datang surah dari sang kekasih, bahwa ia akan datang mengunjungiku, maka pelupuk mataku pun berlinang air mata.

Kebahagiaan dan suka cita menguasai diriku, hingga oleh karena kebahagiaan dan suka cita yang begitu besar, maka itu pun membuatku menangis.

Wahai mata, air mata bagimu sudah menjadi kebiasaan, kamu menangis karena bahagia dan karena kesedihan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq menyadari bahwa perjalanan menyertai Rasulullah berhijrah berarti bahwa dirinya akan menjadi satu-satunya orang yang sendirian menemani Rasulullah paling tidak minimal selama belasan hari dan ia adalah orang yang akan mempersembahkan hidupnya untuk pemimpin dan kekasih hatinya, yaitu Muhammad Rasulullah. Apakah ada di dunia ini keberuntungan melebihi keberuntungan yang diperoleh Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut, yaitu bahwa di antara semua penduduk bumi dan di antara semua sahabat lainnya, hanya dirinyalah satu-satunya orang yang menyertai dan menemani Rasulullah selama itu.

Esensi dan substansi cinta karena Allah terefeksikan pada kekhawatiran Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika ia berada di dalam gua bagaimana jika seandainya orang-orang musyrik tersebut melihat beliau berdua. Hal itu supaya Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi contoh keteladanan tentang sikap yang semestinya dimiliki oleh seorang personil dakwah yang tulus terhadap sang pemimpinnya yang terpercaya ketika ancaman marabahaya mengancam diri beliau, yaitu sikap takut dan khawatir terhadap keselamatan beliau.

Abu Bakar Ash-Shiddiq bukanlah orang yang takut mati. Seandainya waktu itu ia memang takut mati, tentu ia tidak akan bersedia menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah yang krusial dan gawat tersebut, sedang ia sadar betul bahwa harga yang harus dibayar paling tidak adalah nyawanya jika orang-orang musyrik berhasil menangkap dirinya bersama Rasulullah. Akan tetapi Abu Bakar Ash-Shiddiq hanya mengkhawatirkan keselamatan hidup Rasulullah dan masa depan Islam jika Rasulullah jatuh ke genggaman orang-orang musyrik.

Sense of security yang dimiliki oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika berhijrah bersama Rasulullah terefleksikan pada banyak kasus dan kejadian. Di antaranya adalah, ketika ada seseorang bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Siapakah laki-laki yang bersama Anda itu?” Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Orang ini adalah penunjuk jalan yang membimbing dan menunjukkan jalan kepadaku.” Si penanya pun mengira bahwa yang dimaksudkan adalah jalan yang menjadi jalur transportasi, padahal sebenarnya yang dimaksudkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah jalan kebaikan. Ini menunjukkan kemampuan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang cukup baik dalam mempergunakan kata-kata al-Ma’aridh (kiasan, kinayah, tauriyah, metonimi) demi menghindari dosa atau bohong.

Jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut memuat tauriyah sekaligus bentuk implementasi pendidikan sense of reliability yang ia dapatkan dari Rasulullah, karena hijrah yang dilakukan adalah rahasia, sehingga harus tetap dijaga kerahasiaannya, dan Rasulullah pun melegitimasi langkah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut.

Seni Memimpin dan Berinteraksi dengan Jiwa

Kecintaan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mendalam kepada Rasulullah terlihat jelas dalam hijrah, sebagaimana kecintaan segenap para sahabat lainnya terlihat jelas dalam sirah Nabi Muhammad. Cinta Rabbani ini benar-benar muncul dari hati dengan penuh ketulusan dan kemurnian, bukan cinta munafik, hipokrit atau muncul karena motif kepentingan duniawi, ambisi terhadap suatu keuntungan atau takut kepada suatu hal yang tidak diinginkan.

Di antara faktor-faktor kecintaan kepada Rasulullah tersebut adalah sifat-sifat kepemimpinan beliau yang bijaksana dan matang. Beliau terjaga supaya mereka bisa tidur, beliau bekerja keras supaya mereka bisa nyaman, beliau lapar supaya mereka kenyang. Beliau senang jika mereka senang, beliau lapar supaya mereka kenyang. Beliau senang jika mereka senang, dan beliau bersedih jika mereka sedih. Barang siapa yang meniti jejak dan sunnah-sunnah Rasulullah dan para sahabat, baik dalam kehidupan privat maupun kehidupan sosialnya, ikut bersama-sama dengan masyarakat merasakan kebahagiaan dan kesedihan mereka, kesenangan dan kesengsaraan mereka, dan ia bekerja hanya karena Allah, maka ia akan mendapatkan cinta seperti itu jika ia adalah seorang tokoh, pemimpin, atau seorang pemangku jabatan dalam umat Islam.

Benarlah adanya apa yang diutarakan oleh seorang penyair Libya bernama Ahmad Rafiq Al-Mahdawi,

Maka, jika batin seorang hamba mencintai Allah, maka nampak pada dirinya anugerah-anugerah Al-Fattah.

Dan jika niat seorang reformis tulus murni hanya karena Allah, maka ruh para hamba akan condong dan tertarik kepadanya.

Sesungguhnya kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan yang mampu memimpin ruh utamanya dan mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan jiwa sebelum yang lainnya. Kualitas pasukan sangat tergantung kepada kualitas kepemimpinannya, semakin baik kualitas kepemimpinan, maka semakin baik pula kualitas pasukan yang dipimpin. Kualitas dan kuantitas perasaan cinta para pasukan sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas kepemimpinan. Rasulullah adalah sosok yang sangat penyayang dan lembut kepada para pasukan dan pengikut beliau. Maka, beliau tidak berhijrah kecuali setelah mayoritas para sahabat sudah berhijrah terlebih dahulu, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang lemah serta beberapa orang yang memiliki misi dan peran khusus yang berkaitan dengan kehijrahan Rasulullah.

Hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah, bahwa kecintaan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Rasulullah adalah karena Allah. Di antara hal yang bisa mengidentifikasikan mana cinta yang karena Allah dan mana cinta yang karena selain Allah adalah, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq mencintai Rasulullah murni dan tulus hanya karena Allah, sementara paman beliau yaitu Abu Thalib mencintai, menolong, dan membela beliau karena hawa nafsunya bukan karena Allah. Allah pun menerima amal Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menurunkan sejumlah ayat menyangkut dirinya,

“Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu orang yang paling takwa, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Al-Lail: 17-21).

Adapun Abu Thalib, maka Allah tidak berkenan menerima amalnya itu, bahkan Dia memasukkannya ke neraka, karena ia adalah orang musyrik yang beramal karena selain Allah. Sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak meminta ganjarannya dari makhluk, tidak dari Nabi Muhammad dan tidak pula dari yang lain. Tetapi, ia beriman kepada Nabi Muhammad, mencintai beliau, menjaga dan merawat beliau serta menolong dan membantu beliau untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meminta ganjaran dari-Nya, dan ia menyampaikan perintah, larangan, janji, dan ancaman Allah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq Jatuh Sakit di Madinah Beberapa Saat Setelah Hijrah

Hijrah Nabi Muhammad dan para sahabat dari negeri yang aman Makkah, adalah sebuah pengorbanan yang besar yang diungkapkan oleh Rasulullah dengan sabda beliau, “Sungguh kamu wahai Makkah adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi-Nya yang paling Dia cintai. Seandainya bukan karena aku diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi meninggalkanmu.

Diriwayatkan oleh Aisyah, ia berkata, “Ketika Rasulullah telah sampai di Madinah, beliau sampai ke sana sementara Madinah adalah bumi Allah yang waktu itu sedang mengalami kasus luar biasa wabah demam dan lembahnya mengalirkan air ajin (payau, berubah warna, bau, dan rasanya), maka para sahabat pun jatuh sakit, sementara Allah menyelamatkan Rasul-Nya dari wabah tersebut.”

Aisyah kembali bercerita, “Abu Bakar Ash-Shiddiq, Amir bin Fuhairah dan Bilal tinggal dalam satu rumah, sehingga mereka bertiga sama-sama mengalami sakit demam. Lalu aku minta izin kepada Rasulullah untuk menjenguk mereka bertiga dan beliau pun mengizinkan. Lalu aku pun pergi menjenguk mereka. Hal itu berlangsung sebelum turunnya perintah hijab kepada kami. Waktu itu, mereka bertiga mengalami demam yang sangat parah dan hanya Allah Yang mengetahui seberapa parahnya. Lalu aku mendekati Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, “Ayah, bagaimana Anda mendapati keadaan diri Anda?” Lalu ia menjawab, setiap orang berada di tengah-tengah keluarganya, sedang kematian lebih dekat dari tali sendalnya.

Aisyah kembali bercerita, “Aku berkata, “Sungguh ayahku tidak tahu apa yang diucapkannya. Kemudian aku mendekati Amir bin Fuhairah dan berkata kepadanya, “Bagaimana Anda mendapati keadaan Anda wahai Amir?” Lalu ia berkata,

Sungguh aku telah mendapati kematian sebelum merasakannya. Sesungguhnya orang penakut, kebinasaan, dan kematiannya adalah dari atasnya.

Setiap orang berjuang dengan segenap potensi dan kemampuannya, seperti banteng melindungi kulitnya dengan tanduknya.

Aisyah kembali bercerita, “Aku berkata, “Sungguh Amir bin Fuhairah tidak sadar apa yang diucapkannya.” Aisyah kembali melanjutkan ceritanya, “Bilal, jika demamnya sudah sembuh, maka ia berbaring di teras rumah, kemudian berkata dengan suara keras,

Duhai seandainya aku tahu, apakah suatu malam aku berada di sebuah lembah, sedang di sekelilingku terdapat tumbuhan idzkhir dan jalil (tumbuhan yang memiliki aroma yang harum).

Dan apakah aku suatu hari mendatangi perairan Majannah (nama tempat berjarak beberapa mil dari Makkah), dan apakah Syamah dan Thafil (dua bukit di Majannah) nampak kepadaku.

Aisyah kembali bercerita, “Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah tentang apa yang terjadi. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah Madinah tempat yang kami cintai sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah atau lebih besar lagi. Ya Allah, jadikanlah Madinah tempat yang sehat, berkahilah untuk kami mudd dan sha’nya, dan pindahkanlah wabah demamnya dan jadikanlah wabah demamnya itu berpindah ke Juhfah.”

Allah pun memperkenankan doa Rasulullah tersebut, kaum muslimin di Madinah setelah itu sembuh dari wabah demam tersebut dan Madinah pun berubah menjadi tempat yang istimewa bagi setiap orang Islam yang berkunjung dan berhijrah ke sana dengan keragaman lingkungan dan negeri asal mereka.

Setelah menetap di Madinah, maka Rasulullah pun memulai langkah untuk mengokohkan pilar-pilar Daulah Islamiyyah. Maka, beliau pun mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, kemudian mendirikan masjid, mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi, dan gerakan pembentukan detasemen-detasemen militer pun dimulai. Rasulullah juga fokus membangun dunia ekonomi dan pendidikan dalam masyarakat baru Madinah tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah wazir atau pembantu yang berdedikasi bagi Rasulullah, senantiasa mendampingi beliau dalam semua kondisi, tidak pernah absen dalam satu momen pun, tidak pernah ragu untuk memberikan masukan, pandangan dan pendapat, dan tidak pernah ragu untuk memberikan dukungan finansial.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here