Indonesia Statistics

Indonesia
78,572
Confirmed
Updated on 15/07/2020 2:14 am
Indonesia
37,636
Recovered
Updated on 15/07/2020 2:14 am
Indonesia
3,710
Deaths
Updated on 15/07/2020 2:14 am

Indonesia Statistics

Indonesia
78,572
Confirmed
Updated on 15/07/2020 2:14 am
Indonesia
37,636
Recovered
Updated on 15/07/2020 2:14 am
Indonesia
3,710
Deaths
Updated on 15/07/2020 2:14 am

Kehidupan Umar dan Masanya

Dr. Zakir Naik Jelaskan Mengapa Daging Babi Haram Pada Dokter Jepang

Seorang gadis asal Jepang bernama Mamoko Suzuki yang berprofesi sebagai dokter bertanya kepada Dr. Zakir Naik mengenai alasan dibalik pengharaman daging babi dan meminta...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Charles Darwin dan Teori Evolusi

Seorang mahasiswa Jepang bernama Takuya Nishikawa, berumur 20 tahun, dan berasal dari Tokyo, bertanya kepada Dr. Zakir Naik tentang apakah manusia benar-benar berevolusi dari...

Kenapa Allah Tidak Membuat Semua Manusia Menjadi Muslim? Dr. Zakir Naik Menjawab

Melanjutkan pertanyaan Yoko kepada Dr. Zakir Naik yang telah ditulis pada artikel sebelumnya (baca: Apakah Perjalanan Isra' Mi'raj Adalah Kisah Bohong?), wanita Jepang ateis...

Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan Cerdas Pemuda Ateis

Siapa yang tidak kenal dengan Dr. Zakir Naik? Ulama perbandingan agama asal India ini lagi-lagi memukau penonton dengan pengetahuannya yang luar biasa tentang ilmu sains....

Dr. Zakir Naik Menjelaskan Cara Agar Umat Manusia Hidup Harmonis

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo Jepang tanggal 8 Oktober 2015, saat sesi tanya-jawab, ada seorang pengusaha Korea yang baru mengetahui tentang Islam....

Sesungguhnya pembicaraan tentang kehidupan Umar dan masanya lebih luas untuk dikaji dalam satu disertasi, terlebih dalam sub kajian dalam pasal pengantar seperti ini. Itu karena pembicaraan ini akan dibatasi pada sisi-sisi terpenting dalam kehidupan Umar dan masanya, yang akan dibagi dalam dua pokok kajian, yaitu Kehidupan Umar Radhiyallahu Anhu, dan Masa Umar Radhiyallahu Anhu.

Kehidupan Umar Radhiyallahu Anhu

Di antara sisi terpenting yang mungkin dikenali dari kehidupan Umar Radhiyallahu Anhu dalam sub kajian ini adalah sebagai berikut:

a. Nasabnya

Para sejarawan menyebutkan nasab Umar dari pihak ayahnya dan ibunya dengan mengatakan: Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib Al-Qurasyi Al-’Adawi. Sedangkan ibunya adalah, Hantamah binti Hasyim bin Mughirah, dari Bani Makhzumi, di mana Hantamah adalah saudara sepupu Abu Jahal.

Kun-yanya: Abu Hafash; dan laqab (gelar)nya: Al-Faruq. Dikatakan, bahwa dia digelari demikian itu dikarenakan terang-terangannya dan pengumandangannya secara terbuka terhadap keislamannya, ketika yang lain menyembunyikan keislaman mereka. Maka dia membedakan antara yang hak dan yang batil.

b. Kelahiran dan Pertumbuhannya

Umar dilahirkan 30 tahun sebelum masa kenabian, dan ada pula yang berpendapat selain itu. Ia hidup selama 65 tahun, separuh pertama -kurang lebih- dalam kekelaman jahiliyah. Ketika itu dia adalah orang yang tidak dikenal. Tidak memiliki nama dan keagungan. Sedangkan yang separuh keduanya dalam cahaya iman. Di mana dalam masa ini, namanya menjadi terkenal dan termasuk salah satu tokoh besar. Titik peralihan ini adalah saat dia mengucapkan: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.” Ketika itulah Umar benar-benar ‘dilahirkan’ dan hidupnya mulai berpengaruh dalam percaturan sejarah.

Umar menghabiskan masanya dalam jahiliyah selama 30 tahun, yang di dalamnya dia tidak dikenal kecuali pernah menjadi wakil utusan bagi kaum Quraisy. Sebab, jika terjadi perang di antara kaum Quraisy dan suku lain, maka mereka mengutus Umar sebagai utusan. Dan, jika terdapat orang yang membanggakan dan menjadikan hakim dalam suatu perselisihan, maka mereka rela bila Umar sebagai wakil mereka dalam hal tersebut.

Sesungguhnya Umar berkembang dalam asuhan bapaknya yang berwatak keras dan berhati kasar. Umar dibebani ayahnya menggembala unta dan kambing, diletihkannya jika bekerja, dan dipukulnya jika mengabaikannya. Umar ketika itu adalah orang yang biasa seperti halnya jutaan manusia lainnya, yang seseorang tidak merasakan keberadaan mereka, dan tidak menyedihkan kematian mereka. Tapi kemudian ketika masuk Islam, dia menjadi sosok yang luar biasa, yang pemaparan kisah-kisah indahnya dan berbagai keistimewaannya menyita perhatian para sejarawan.

c. Sifat-sifatnya

Berbagai referensi menggambarkan sosok Umar Radhiyallahu Anhu bahwa beliau berbadan tinggi lagi besar, lebat bulu badannya, terurai rambutnya dari kedua sisi kepalanya, berkulit putih kemerah-merahan -dan ada yang mengatakan coklat muda-, berjenggot lebat, berkumis tebal, dan menyemir ubannya dengan hana’.

Di samping sifat-sifat fisik tersebut, Umar juga memiliki sifat-sifat kejiwaan yang luhur, di antaranya: adil, penuh tanggung jawab, sangat keras pengawasannya terhadap para pejabat dan aparat negara, santun terhadap rakyat dan sangat antusias dalam merealisasikan kemaslahatan mereka, tegas dalam urusan agama, berwibawa, dan disegani manusia, tajam firasatnya, luas dalam keilmuannya, cerdas pemahamannya, dan sifat-sifat lain yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya dalam sub kajian ini.

Berikut ini keterangan singkat tentang sebagian sifat-sifat termasyhur Umar Radhiyallahu Anhu dan sangat dominan pada dirinya. Di mana hampir-hampir nama beliau tidak disebut melainkan sifat-sifat ini disebutkan bersamanya. Sifat-sifat terpenting tersebut adalah sebagai berikut:

Keras, yaitu lawan dari lemah lembut. Maksudnya, keras dalam menyelesaikan berbagai masalah dan menghadapinya dengan tegar dan penuh keteguhan.

Sifat ini menjadi ciri khas Umar Radhiyallahu Anhu pada masa jahiliyah dan juga menjadi bagian kisah indahnya dalam Islam. Sebab beliau menggunakan sifat ini dalam melayani agama dan menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai bukti hal itu adalah sabda Nabi,

Umatku yang paling sayang kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling keras dalam perkara (agama) Allah adalah Umar, yang paling benar dalam malu adalah Utsman, yang paling bagus bacaan Al-Qur’an adalah Ubay bin Ka’ab, yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit, dan yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Dan ketahuilah, bahwa dalam setiap umat terdapat orang yang amanat, dan orang yang amanat dalam umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Yang dimaksudkan keras dalam perkara (agama) Allah adalah melaksanakan perintah-Nya dalam segala makna, dan berpedoman kepadanya dengan penuh hati-hati dan sangat kuat.

Para sahabat sangat mengenal sikap keras Umar ini dan takut terhadap sifat tersebut. Oleh karena itu, ketika Abu Bakar mengangkat Umar sebagai khalifah setelahnya, maka seseorang di antara mereka berkata kepada Abu Bakar, “Apa yang kamu katakan terhadap Tuhanmu jika kamu mengangkat Umar sebagai khalifah bagi kami, sedangkan kamu mengetahui sikap kerasnya?” Maka Abu Bakar berkata, “Dudukkanlah aku! Apakah kalian menakut-nakutiku dengan Allah? Aku akan katakan, ‘Wahai Tuhanku, aku mengangkat khalifah terhadap mereka orang yang terbaik dalam agama-Mu.’”

Sesungguhnya Umar Radhiyallahu Anhu mengerti sifat tersebut pada dirinya. Akan tetapi dia mengeksplorasinya dalam menolong kebenaran dan menumpas kezhaliman. Sebagai bukti hal tersebut, bahwa ketika sampai kepada Umar kekhawatiran kaum muslimin terhadap sikap kerasnya, maka dia menjelaskan kepada mereka sebab-sebab sifat kerasnya dan dalam apa dipergunakannya. Dia berkata dalam khutbahnya setelah diangkat sebagai khalifah,

“Wahai manusia, sesungguhnya aku mengetahui bahwa kalian merasakan sifat keras pada diriku. Demikian itu adalah sejak aku bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan aku sebagai pelayannya. Sedangkan beliau adalah seperti yang disebutkan dalam firman Allah, ‘Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.’ Maka aku di hadapan beliau seperti pedang yang terhunus, kecuali jika beliau melarangku dari suatu perkara, maka aku pun menahan diri. Jika tidak, aku maju pun kepada manusia karena posisi ke lemah-lembutan beliau. Aku selalu demikian itu hingga beliau wafat, dan beliau ridha kepadaku, alhamdulillah, dan aku bahagia dengannya. Kemudian aku melakukan demikian itu bersama Abu Bakar, khalifah Rasulullah setelahnya. Dia, sebagaimana kalian ketahui, adalah orang yang memiliki kedermawanan dan kelemah-lembutan. Maka aku sebagai pelayannya seperti pedang di hadapannya. Aku padukan kekerasanku dengan kelembutannya, kecuali jika dia maju kepadaku, maka aku pun mengendalikan diri. Jika tidak, aku pun maju. Dan, aku selalu demikian itu hingga dia wafat, dan dia ridha kepadaku, alhamdulillah, dan aku bahagia dengannya.

Kemudian urusan kalian pada hari ini berada di tanganku, dan aku tahu akan ada orang yang mengatakan, ‘Saat orang lain berkuasa saja ia telah keras kepada kita, apalagi jika kekuasaan itu di tangannya?’ Ketahuilah, bahwa kalian tidak akan bertanya kepada seseorang tentang aku. Sebab kalian telah mengenalku dan berpengalaman hidup denganku. Maka ketahuilah, bahwa sifat kerasku yang kalian lihat akan semakin bertambah berlipat-lipat -karena kekuasaan telah berada padaku- terhadap orang yang zhalim dan orang yang melampaui batas; untuk membela orang yang lemah dari sikap orang yang kuat di antara mereka. Sesungguhnya aku setelah kekerasanku tersebut adalah orang yang akan meletakkan kedua pipiku di bumi terhadap orang-orang yang menghindari keburukan dan orang-orang yang menahan diri dari kejahatan di antara kalian.”

Sesungguhnya sifat keras Umar Radhiyallahu Anhu tidak berarti ia bengis dan tidak mengenal kasih sayang. Sebab beliau memiliki sifat lemah lembut dan kasih sayang terhadap rakyat. Beliau tidak pernah menyerahkan pekerjaan kepada orang yang memiliki sifat bengis dan keras hati. Sebab terdapat riwayat bahwa Umar menugaskan seseorang dalam suatu pekerjaan. Ketika orang tersebut masuk kepada Umar untuk memberikan salam kepadanya dan melihat Umar mencium salah satu putranya, dia berkata, “Engkau mencium anak ini, wahai Amirul Mukminin? Demi Allah, aku tidak pernah mencium anakku sama sekali!” Maka Umar berkata, “Maka kamu, demi Allah, terhadap anak-anak orang lain (maksudnya rakyatnya –Edt) akan lebih tidak sayang lagi. Janganlah kamu bekerja kepadaku selama-lamanya.” Lalu Umar membatalkan penugasannya.

Wibawa; maksudnya ditakuti yang disertai penghormatan dalam hati, dan sering pula disertai dengan rasa cinta dan pengenalan.

Sungguh Umar Radhiyallahu Anhu memiliki wibawa besar dan disegani setiap orang yang melihatnya. Bahkan setan pun takut dan lari darinya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengukuhkan sifat tersebut kepada Umar Radhiyallahu Anhu, seperti disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu, bahwa dia berkata, “Umar meminta izin untuk masuk kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara bersama beliau terdapat kaum perempuan Quraisy yang sedang berbicara banyak dengan beliau dan suara mereka keras melebihi suara beliau. Maka ketika Umar meminta izin masuk, mereka berdiri dan segera bersembunyi di balik tabir, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan kepadanya untuk masuk. Lalu dia masuk, dan Rasulullah tertawa. Maka dia berkata, ‘Engkau tertawa hingga terlihat gigimu, ya Rasulullah!’ Nabi berkata,

Aku heran terhadap kaum perempuan yang tadi berada di sisiku. Ketika mereka mendengar suaramu, maka mereka segera sembunyi di balik tabir.’

Umar berkata, ‘Engkau lebih berhak ditakuti mereka, ya Rasulullah?’ Kemudian Umar melanjutkan, ‘Wahai kaum yang memusuhi diri mereka sendiri, apakah kamu takut kepadaku dan tidak takut kepada Rasulullah?’ Mereka menjawab, ‘Ya, kamu lebih keras daripada Rasulullah.’ Lalu Rasulullah bersabda,

Demi Dzat yang diriku di Tangan-Nya; tidaklah setan bertemu kamu menempuh jalan yang mana pun, melainkan dia menempuh selain jalan kamu.”

Dan, Abu Salamah bin Abdurrahman menggambarkan kewibawaan Umar Radhiyallahu Anhu seraya mengatakan, “Cambuk Umar lebih ditakuti di dalam dada manusia daripada cambuk kalian ini.”

Sesungguhnya Umar Radhiyallahu Anhu mengerti pentingnya kewibawaan bagi seorang hakim (pemimpin) agar segala urusan menjadi stabil. Hal itu ditunjukkan, bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu ketika mendesak-desak manusia hingga dia sampai kepada Umar, dan saat itu Umar sedang membagikan harta di antara manusia, maka Umar mengingkari sikap Sa’ad tersebut dan dipukul dengan cambuknya seraya berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu menghadap dengan tidak takut terhadap sultan Allah di muka bumi, maka aku ingin mengajarkan kepadamu bahwa sultan Allah tidak akan takut kepadamu.” Dan, Umar berpendapat bahwa seyogianya kewibawaan merupakan sarana untuk penegakan kebenaran, dan tidak boleh dieksploitasi dalam menzhalimi rakyat. Itulah sebabnya ketika seseorang Quraisy bertemu dengannya lalu berkata kepadanya, “Bersikaplah lemah lembut kepadaku. Sebab hati kami telah penuh ketakutan.” Maka Umar berkata, “Apakah dalam sikap (kerasku) itu terdapat kezhaliman?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Itulah sebabnya maka Allah menambahkan di dalam dadamu rasa takut kepadaku.”

Di samping kewibawaannya tersebut, Umar adalah orang yang rendah hati, mudah kembali kepada kebenaran dan menerimanya dari siapa saja tanpa keberatan sedikit pun. Ia bahkan meminta rakyatnya untuk menunjukkan kekurangannya, membantu orang yang memiliki kebutuhan dengan kedua tangannya, mengobati sendiri unta zakat, tidur di bawah pohon tanpa penjagaan, tidak menyukai fenomena-fenomena kebanggaan dan kesombongan, dan sering kali membawa ember di punggungnya untuk mendidik dirinya seraya berkata, “Sesungguhnya nafsuku mendorongku ujub, maka aku ingin merendahkannya.”

Ilmu; Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersaksikan keilmuan dan pemahaman Umar Radhiyallahu Anhu yang tidak beliau lakukan kepada selainnya. Sebagaimana dalam sabda beliau,

Ketika aku tidur bermimpi minum susu sehingga aku melihat kesegaran mengalir di kukuku -atau kuku-kukuku-, kemudian aku berikan kepada Umar.”

Maka para sahabat berkata, “Apa makna demikian itu, ya Rasulullah?” Beliau berkata, “Ilmu.”

Sedangkan tentang ketepatan Umar dalam perkataan yang benar dan mengetahui kebenaran, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lidah Umar dan hatinya.”

Dan, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu menyifati ilmu Umar Radhiyallahu Anhu seraya mengatakan, “Seandainya ilmu Umar diletakkan di piringan timbangan yang satu, dan ilmu orang-orang yang hidup di bumi diletakkan di piringan timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar mengungguli ilmu mereka. Sungguh mereka (para sahabat) berpendapat bahwa dia pergi dengan 90 % ilmu.”

Kemudian di antara ilham yang dimiliki Umar Radhiyallahu Anhu adalah, bahwa beberapa kali wahyu Al-Qur’an turun sesuai dengan pendapat dan ijtihadnya. Itu merupakan keistimewaan yang hanya dimilikinya, dan tidak pada sahabat yang lainnya. Sebagian ulama menghitung kesesuaian pendapat dan ijtihad Umar dengan wahyu Al-Qur’an tersebut, maka mereka mendapatkan sebanyak 15 kesesuaian.

d. Keislamannya

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diangkat Allah Ta’ala sebagai Rasul-Nya yang terakhir untuk menyampaikan Islam kepada manusia, maka Umar termasuk orang yang paling sengit dalam memusuhi Islam dan dikenal dengan keras tabiatnya, di mana kaum muslimin yang lemah menerima darinya berbagai bentuk gangguan dan siksaan. Maka, ketika Allah menghendaki memberinya hidayah, Allah memperkenankan doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuknya. Di mana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa,

Ya Allah, jayakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang lebih Engkau cintai: Abu Jahal atau Umar bin Al-Khathab. Maka salah satu dari keduanya yang lebih dicintai Allah adalah Umar bin Al-Khathab.” Umar menyatakan keislamannya pada tahun ke-6 dari kenabian. Dan, keislamannya ini memiliki pengaruh besar bagi kaum Muslimin. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Kami selalu sangat mulia sejak Umar masuk Islam.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya keislaman Umar adalah penaklukkan, hijrahnya kemenangan, dan kepemimpinannya rahmat.”

Sesungguhnya Umar Radhiyallahu Anhu melakukan peranan besar dalam dakwah dan jihad; berada di sisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai pendukung dan penopangnya serta hadir bersamanya dalam seluruh peperangan, yang di dalamnya dia termasuk orang yang disifati dengan kekuatan dan keberanian. Dan, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, maka beliau ridha kepada Umar dan memberinya kabar gembira dengan surga untuknya.

Selanjutnya, ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah wafat dan Abu Bakar menjadi khalifah, maka Umar berada di sisinya untuk membantu dalam memudahkan urusan kaum muslimin, di mana Abu Bakar selalu bermusyawarah dengan Umar dalam masalah-masalah yang disampaikan kepadanya, dan Umar menjadi pembantu dan penasihat terbaik.”

e. Kekhilafahannya

Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu menghadapi kematiannya, dia mengangkat Umar sebagai khalifah setelah bermusyawarah dengan para sahabat senior dan persetujuan mereka dalam hal itu.

Umar Radhiyallahu Anhu melaksanakan tugas dalam kekhilafahan selama 10 tahun dan 6 bulan, kurang lebih, dan mampu merealisasikan hal-hal yang besar dalam masa tersebut, yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya dalam ruang yang singkat ini; karena membicarakan seluruh keberhasilan Umar Radhiyallahu Anhu selama masa kepemimpinannya membutuhkan kajian tersendiri.

Secara umum, bahwa Umar Radhiyallahu Anhu selama dalam masa kekhilafahannya telah menampakkan politik yang bagus, keteguhan prinsip, kecemerlangan perencanaan; meletakkan berbagai sistem ekonomi dan manajemen yang penting; menggambarkan garis-garis penaklukan dan pengaturan daerah-daerah yang ditaklukkan; berjaga untuk kemaslahatan rakyat; menegakkan keadilan di setiap daerah dan terhadap semua manusia; memperluas permusyawaratan; melakukan koreksi terhadap para pejabat negara dan mencegah mereka dari menzhalimi rakyat; mengalahkan dua imperium besar dunia: Persia dan Romawi, menaklukkan Mesir, beberapa bagian wilayah Afrika dan lain-lain; berkembangnya Kufah, Basrah, dan Fusthath pada masanya; membagi negara ke dalam beberapa wilayah dan pengangkatan di setiap wilayah seorang gubernur, dan sering kali mengangkat bersama gubernur seorang qadhi (hakim), orang yang bertanggung jawab terhadap baitulmal dan petugas kharaj (pajak bumi).

f. Kesyahidannya

Sesungguhnya kesyahidan Umar Radhiyallahu Anhu dengan cara terbaik dan termulia dalam pengangkatan nilai kehidupan untuk menjadi kehidupan yang hakiki, dan detik-detik kesyahidannya merupakan detik-detik terbaik eksistensinya di atas bumi ini. Sebab dia meninggal sebagai syahid, sedangkan dia merupakan penduduk bumi terbaik dalam waktunya. Ia syahid ketika dalam keadaan suci berwudhu dan mengimami kaum Muslimin dalam shalat, ibadah yang paling dicintai Allah, dan disaksikan malaikat, di tempat paling suci di muka bumi ini; di mihrab Rasulullah; di salah satu taman di antara taman-taman Surga (raudhah). Di mana kesyahidan Umar berada di tangan seorang Majusi yang bergolak dalam hatinya api kedengkian terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Umar Radhiyallahu Anhu saat menjelang kesyahidannya sangat memedulikan beberapa hal yang menunjukkan keagungan pribadinya, dan memiliki beberapa makna penting. Di antara yang menjadi perhatiannya adalah sebagai berikut:

  1. Umar Radhiyallahu Anhu dibunuh ketika sedang shalat. Tapi, demikian itu tidak menyibukkannya dari shalat. Bahkan dia menggapai tangan Abdurrahman bin Auf, lalu diajukannya untuk mengimami shalat manusia. Maka Abdurrahman shalat mengimami mereka dengan shalat yang ringan, sedangkan Umar dalam keadaan pingsan. Di mana dia masih dalam kondisi pingsan hingga matahari kekuning-kuningan. Dan ketika siuman, dia memandang wajah para sahabatnya, lalu berkata, “Apakah manusia telah shalat?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Tiada Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Kemudian dia berwudhu dan shalat, sedangkan lukanya mengucurkan darah.
  2. Umar memperhatikan pembunuhnya dan motivasinya; seraya berkata kepada Ibnu Abbas, “Lihatlah orang yang membunuhku.” Maka Ibnu Abbas berkeliling sesaat, kemudian datang seraya berkata, “Budaknya Mughirah.” Ia berkata, “Si pekerja itu?” Ibnu Abbas menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Semoga Allah memerangi dia. Sungguh aku telah menyuruh kebaikan kepadanya. Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku Islam!”
  3. Peduli dalam menghitung hutangnya dan membebankan kepada putranya, Abdullah untuk membayarkannya.
  4. Menginginkan untuk dimakamkan di samping kedua sahabatnya. Untuk itu, dia berkata kepada putranya, Abdullah, “Pergilah kepada Aisyah, Ummil Mukminin. Katakanlah kepadanya, ‘Umar mengucapkan salam kepadamu.’ Dan janganlah kamu katakan, ‘Amiril Mukminin.’ Sebab aku pada hari ini bukan sebagai pemimpin bagi orang-orang mukmin. Dan katakanlah kepadanya, ‘Umar bin Al-Khathab meminta izin untuk dimakamkan bersama dua sahabatnya.’ Ketika dia mengetahui persetujuan Aisyah, dia sangat gembira sekali. Tapi, dia khawatir bila Aisyah setuju karena malu kepadanya. Karena itu, dia berkata, “Jika aku telah sampai ajal, maka usunglah aku, kemudian sampaikan salam kepada Aisyah dan katakan kepadanya, ‘Umar bin Al-Khathab meminta izin.’ Jika dia mengizinkan untukku, maka masukanlah aku. Dan jika dia menolak, kembalikanlah aku ke pemakaman kaum Muslimin.”
  5. Peduli dalam penentuan khalifah setelahnya, di mana dia menjadikan perkara ini di tangan enam orang sahabat terbaik.
  6. Mewasiatkan khalifah setelahnya tentang rakyat, baik yang Muslim maupun yang dzimmi, yang di perkotaan maupun di pedusunan.

Masa Umar Radhiyallahu Anhu

Umar Radhiyallahu Anhu menghabiskan separuh hidupnya dalam jahiliyah; menyembah patung dan meninggalkan Allah Ta’ala, dan menghabiskan paruh yang kedua dalam Islam; menyembah Allah semata. Dan di antara yang penting ini adalah mengenai garis-garis besar sistem yang berlaku dalam masa di mana Umar hidup di dalamnya, agar pembaca memahami apa yang diberikan Umar dalam wujud pendapat dan ijtihadnya dalam berbagai bidang kehidupan dalam sejarah yang dilaluinya, dan agar jelas peranan Islam dalam pembentukan kepribadian Umar dan pola pikirnya.

Barangkali sangat berguna bila kita memulai -sebelum merincikan- dengan menyebutkan secara singkat kondisi masa tersebut, dan bagaimana sistem umum yang berlaku bagi bangsa Arab dalam masa jahiliyah dan pengaruh Islam terhadap mereka. Penyebutan kondisi ini berdasarkan perkataan Mughirah bin Syu’bah dan Ja’far bin Abi Thalib, ketika keduanya menjelaskan kondisi bangsa Arab dalam masa jahiliyah dan tujuan kedatangan risalah Islam. Mughirah menyampaikan kepada raja Persia, Yazdajir, dalam rangka menyanggah apa yang disebutkan Yazdajir tentang keburukan kondisi bangsa Arab sebelum Islam,

“Apa yang kamu sebutkan tentang buruknya kondisi (mereka sebelum Islam), maka tidaklah seburuk kondisi kami. Sebab kelaparan kami tidaklah menyerupai kelaparan. Di mana kami memakan kelelawar, kumbang, kalajengking, ular, dan kami menganggap yang demikian itu makanan kami. Sedangkan tempat tinggal kami adalah di mana saja di permukaan bumi. Dan, kami tidak memakai pakaian melainkan apa yang kami pintal dari kapas dan bulu kambing. Agama kami adalah saling membunuh dan menyerang satu sama lain. Dan sungguh seseorang di antara kami akan mengubur putrinya dalam keadaan hidup karena tidak suka bila putrinya memakan sebagian makanannya. Jadi, kondisi kami sebelum hari ini adalah apa yang telah aku sebutkan kepadamu itu.”

Dan, Ja’far bin Abi Thalib berkata di depan An-Najasyi, “Wahai Sang Raja! Kami dulu kaum jahiliyah: menyembah patung, memakan bangkai, mendatangi hal-hal yang keji, memutuskan kekerabatan, berbuat buruk terhadap tetangga, dan orang yang kuat di antara kami memakan orang yang lemah. Kami dahulu seperti itu, hingga Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kelompok kami. Kami mengenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya, dan kehormatannya. Ia menyeru kami kepada Allah agar kami mentauhidkan dan menyembah-Nya seraya meninggalkan apa yang telah kami dan bapak-bapak kami sembah, seperti batu dan patung. Dan dia memerintahkan kami untuk jujur dalam pembicaraan, menyampaikan amanah, menyambungkan kekerabatan, baik dengan tetangga, meninggalkan hal-hal yang haram dan pertumpahan darah; melarang kami dari hal-hal yang keji, berkata palsu, memakan harta anak yatim, menuduh wanita yang baik-baik; menyuruh kami agar menyembah Allah semata tanpa menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan memerintahkan kami shalat, zakat, dan puasa.”

Setelah penyebutan secara global, maka memungkinkan untuk merincikan sisi-sisi kehidupan terpenting dalam masa tersebut, seperti berikut ini:

a. Akidah yang Berlaku

Kemusyrikan merupakan agama umum bagi bangsa Arab dan menjadi akidah yang berlaku dalam masa jahiliyah. Mayoritas bangsa Arab menyembah berhala dan meminta pertolongannya ketika dalam kesulitan. Mereka pergi dan mendekatkan diri kepadanya dengan berbagai bentuk korban (pendekatan), dan mengkhususkannya dengan sesuatu dari makanan dan minuman mereka.

Di samping paganisme tersebut, juga terdapat agama-agama yang lain, seperti Yahudi di daerah Yaman dan di daerah Hijaz, terutama di Wadi Al-Qura, Khaibar, Taima, dan Yatsrib; dan Nasrani di Najran. Sebagaimana bangsa Arab yang tinggal di sekitar negara Romawi juga memeluk Nasrani. Sedangkan Majusi tersebar dalam kalangan bangsa Arab yang berdekatan dengan Persia yang beragama Majusi. Juga dipeluk oleh sebagian bangsa Yaman pada masa imperialisme Persia.

Yahudi dan Nasrani tertimpa kemerosotan, penyimpangan, penyelewengan dan kelemahan yang menghilangkan ruh dan eksistensi mereka, sehingga mudharatnya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Sedangkan agama-agama yang selebihnya tidak berbeda dari paganisme dan penyembahan berhala.

Agama-agama tersebut masih ada hingga Islam datang dengan akidah tauhid. Lalu dia mengikis paganisme, dan menghancurkan eksistensi Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

b. Kehidupan Politik

Ketika Islam datang, negara-negara Arab berada di antara dua imperium terbesar ketika itu: imperium Persia di Timur dan imperium Romawi di Barat. Dan bangsa Arab tidak memiliki pusat pemerintahan yang menyatukan mereka dan mengatur seluruh sisi kehidupan mereka. Setiap suku mencerminkan kesatuan politik yang independen. Suku-suku bangsa Arab ketika itu saling bermusuhan, dan hidup dengan cara melakukan perampasan dan penghadangan di tengah jalan. Di antara mereka terjadi perang yang berlarut-larut lama hanya karena hal yang sangat remeh.

Di bagian Timur laut jazirah Arab, bangsa Persia menopang terbentuknya kerajaan Al-Hirah dari sebagian suku Arab yang bertetangga dengan imperium Persia. Dan dalam hal yang senada, bangsa Romawi mendukung pembentukan kerajaan Al-Ghasasanah di bagian barat laut jazirah Arab. Tujuan pembentukan dua kerajaan ini adalah untuk melayani kepentingan dua imperium tersebut, terutama untuk keamanan dari serangan suku-suku badui, dan untuk melindungi masing-masing kedua imperium dari serangan mendadak dari pihak imperium yang lain.

Adapun Yaman ketika datangnya Islam, maka dia berada di bawah kekuasaan Persia. Di mana pada mulanya bangsa Persia datang untuk mengeluarkan kaum Habsyi (Etiopia) dari Yaman atas permintaan Saif bin Dzi Yazan, salah satu keturunan raja-raja Himyar. Tapi setelah diusirnya kaum Habsyi, bangsa Persia masih tetap di Yaman, karena mereka nilai sebagai wilayah Persia, dan para penguasa mereka selalu bergantian di Yaman hingga yang terakhir di antara mereka yang bernama Badzan memeluk Islam. Dengan keislaman Badzan, maka berakhirlah kekuasaan Persia di negeri Yaman.

Ketika Islam datang, ia berupaya menyatukan bangsa Arab di bawah bendera tauhid, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membentuk negara Islam di Madinah, yang wilayahnya semakin melebar sedikit demi sedikit. Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, jazirah Arab telah tunduk terhadap Islam dan kekuasaan negara Islam terbentang hingga seluruh kawasan jazirah Arab.

Dan, setelah wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar sebagai khalifah menghadapi berbagai fitnah yang terjadi di negeri Arab setelah wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka dia memerangi orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, orang-orang yang Murtad, dan para pemboikot zakat. Kemudian mengerahkan mujahidin untuk menaklukkan negeri Persia dan negeri Romawi, dan mampu merealisasikan sebagian kemenangan dalam menguasai sebagian wilayah kedua imperium tersebut.

Kemudian ketika Umar Radhiyallahu Anhu sebagai khalifah, pilar negara Islam telah kuat dan kondisi dalam negeri sangat kondusif, maka pasukan Islam bergerak untuk merealisasikan penaklukkan wilayah Persia dan Romawi. Dan dalam masa Umar inilah, Persia takluk pada negara Islam dan hukumnya. Juga dapat ditaklukkannya wilayah romawi di Syam, lalu ditaklukkannya Mesir, sebagian wilayah di Afrika Utara, dan lain-lain.

c. Kehidupan Ekonomi

Aktivitas ekonomi yang dilakukan bangsa Arab -sebelum Islam- amat sangat sederhana dan terbatas. Di mana aktivitas ekonomi mayoritas penduduk jazirah Arab adalah menggembala dan beternak binatang. Hingga orang-orang yang beraktivitas dalam bidang pertanian dan bidang perdagangan pun tidak bisa terlepas dari peternakan. Sebab petani membutuhkan hewan untuk aktivitas di pertaniannya, dan pedagang juga menggunakan hewan dalam mengangkut barang dagangannya, bahkan sering kali dijadikan sebagai barang dagangan yang diperjual-belikan.

Sedangkan aktivitas ekonomi selebihnya sangat aktif di sebagian daerah dan bagi komunitas tertentu, dan tidak pada komunitas yang lain. Pada umumnya, aktivitas tersebut memiliki ciri kesederhanaan dan dalam tingkat permulaan. Berikut ini penjelasan singkat tentang beberapa aktivitas ekonomi tersebut:

Perdagangan; Mayoritas aktivitas perdagangan bangsa Arab adalah di perkotaan, dan mereka memiliki pasar musiman untuk perdagangan berbagai jenis barang kebutuhan. Pasar musiman ini didatangi oleh orang yang ingin berdagang dan melakukan jual-beli. Sebagaimana orang-orang yang haji juga datang ke Makkah untuk memanfaatkan diadakannya pasar tersebut ketika menjelang musim haji, di mana mereka datang ke pasar untuk menjual barang yang mereka miliki dan membeli sesuatu yang mereka butuh kan.

Sesungguhnya bangsa Quraisy memiliki ciri khas dalam hal perdagangan. Perdagangan merupakan aktivitas ekonomi utama bagi mereka. Itu disebabkan karena Makkah merupakan bumi yang tandus, tiada air, dan tiada tanaman; Sedangkan penduduknya memiliki kehormatan dalam pandangan bangsa Arab, sehingga mereka tidak memperlakukan kafilah mereka dengan buruk. Di samping letak geografisnya yang menghubungkan antara daerah-daerah penting dalam perekonomian, yaitu Syam (Yordania, Palestina, dan Libya), Yaman, dan Habasyah (Ethiopia).

Perhatian bangsa Quraisy terhadap perdagangan sampai pada taraf mereka melakukan dua kali perjalanan perdagangan dalam setahun, yaitu perjalanan musim dingin ke Yaman dan perjalanan ke Syam ketika musim kemarau. Hingga kaum Quraisy menjadi kaya disebabkan perdagangannya, dan lahirlah kelompok pedagang kaya dan hidup dalam kemewahan. Sedangkan kelompok masyarakat yang lain hidup dalam kondisi kemiskinan yang menyedihkan.

Pertanian; Terdapat aktivitas pertanian di sebagian daerah yang subuh di jazirah Arab, seperti Yaman, Thaif, daerah utara, dan sebagian lahan pertanian di Hijaz dan pertengahan jazirah.

Di antara daerah pertanian yang penting adalah Madinah Al-Munawwarah dan sekitarnya. Pertanian adalah aktivitas yang umum bagi penduduknya disebabkan kesuburan tanahnya, dan banyak airnya. Kurma dan gandum merupakan dua hasil pertanian terpenting di Madinah. Itu di samping perhatian penduduk Madinah terhadap pertanian gandum dan sebagian buah-buahan. Tapi sarana mereka dalam melakukan aktivitas pertanian masih konvensional dan sangat sederhana.

Tampaknya, bahwa hasil pertanian mereka tidak merealisasikan kecukupan mereka; di mana mereka mengimpor sebagian kebutuhan pokok mereka dari Syam. Ini berlangsung hingga setelah lahirnya Islam. Sebab terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Madinah pernah dilalui masa paceklik dan kesempitan ekonomi, sehingga manusia hanya mengonsumsi dua hal: kurma dan air. Bahkan sering kali mereka memakan daun-daunan, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta keluarganya pernah dalam sebulan dan dua bula mengalami tidak memiliki makanan kecuali kurma dan air.

Industri; Kegiatan industri merupakan kegiatan ekonomi paling lemah di negeri Arab dan paling sedikit peranannya. Di mana bangsa Arab jauh dari aktivitas ini dan enggan melakukannya. Mayoritas kegiatan industri adalah sebagai profesi sederhana yang pada umumnya dilakukan oleh para budak dan orang-orang Yahudi. Di antara profesi ini yang sangat menonjol adalah tukang besi, tukang kayu, pertenunan, pembuatan senjata, dan lain-lain.

Dari sela-sela kajian ini akan tampak jelas pengaruh Islam dalam kehidupan ekonomi.

d. Kehidupan Moral dan Sosial

Bangsa Arab dalam masa Jahiliyah memiliki akar budaya dalam sebagian akhlak yang rusak dan hal-hal mungkar yang rendahan, seperti minum khamar, berjudi, makan riba, berzina, memutuskan kekerabatan, dan lain-lain. Meskipun demikian, dalam diri mereka juga terdapat beberapa akhlak yang bagus dan sifat-sifat terpuji yang membuat orang kagum. Di antara sifat-sifat tersebut adalah, murah hati, menepati janji, ‘izzah (harga diri), menolak kezhaliman, santun, sabar, keberanian, dan lain-lain.

Dalam masalah sosial, bangsa Arab dalam masa Jahiliyah terdiri dalam beberapa tingkatan, yang sebagiannya di atas sebagian yang lain. Dalam hal ini terdapat tingkatan dan keluarga yang melihat diri mereka memiliki kekuatan atas yang lainnya, sehingga mereka merasa angkuh terhadap manusia dan tidak mau bersama mereka dalam banyak tradisi. Juga terdapat tingkatan masyarakat yang rendah, dan tingkatan orang-orang jelata dan awam. Perbedaan tingkatan seperti itu merupakan hal yang biasa dalam masyarakat Arab.

Secara umum, kondisi sosial bangsa Arab pada masa jahiliyah berada dalam jurang kenistaan kelemahan dan kepicikan. Sebab kebodohan meretas ke permukaan, khurafat melekat dalam kehidupan. Manusia laksana hewan, wanita diperjual-belikan dan diwarisi seperti barang atau hewan, khamar dan perjudian menjadi tradisi masyarakat yang bertaburan, dan perzinaan menjadi adat kebiasaan.

Ketika Islam datang, maka ia membina akhlak bangsa Arab, menjadikan akhlak mulia sebagai amal terbaik, dan melarang dari akhlak yang hina. Dan tentang urgensinya akhlak dalam kehidupan manusia, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Dan, sungguh Islam memiliki pengaruh sangat besar terhadap akhlak bangsa Arab, di mana tersebar dalam komunitas mereka akhlak yang utama dan tersembunyi akhlak yang hina.

Pada sisi lain, Islam memperbaiki berbagai bidang sosial yang buruk. Di antara bukti hal itu adalah penetapan Islam bahwa sesungguhnya “Tiada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam, dan tiada keutamaan bagi orang ‘Ajam atas orang Arab. Tiada keutamaan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tiada keutamaan bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan takwa.”

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Kehidupan Umar dan Masanya

Sesungguhnya pembicaraan tentang kehidupan Umar dan masanya lebih luas untuk dikaji dalam satu disertasi, terlebih dalam sub kajian dalam pasal pengantar seperti...

Meninggalnya Rasulullah dan Sikap Saqifah Bani Sa’idah

Meninggalnya Rasulullah Sesungguhnya ruh yang suci, bersih, dan jernih mampu menangkap sebagian hal yang tersembunyi di balik tirai ghaib dengan...

Penaklukan Irak

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Penaklukan Irak Tidak berselang lama setelah selesai perang terhadap orang-orang yang murtad dan...

Artikel Terkait

Rezeki

Kewajiban Mencari Harta Halal Setiap orang tentu ingin kehidupan di dunia berjalan normal. Setidaknya ia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya...

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...