Indonesia Statistics

Indonesia
76,981
Confirmed
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
36,689
Recovered
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
3,656
Deaths
Updated on 14/07/2020 3:07 am

Indonesia Statistics

Indonesia
76,981
Confirmed
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
36,689
Recovered
Updated on 14/07/2020 3:07 am
Indonesia
3,656
Deaths
Updated on 14/07/2020 3:07 am

Pasukan Usamah

Dr. Zakir Naik Jelaskan Mengapa Daging Babi Haram Pada Dokter Jepang

Seorang gadis asal Jepang bernama Mamoko Suzuki yang berprofesi sebagai dokter bertanya kepada Dr. Zakir Naik mengenai alasan dibalik pengharaman daging babi dan meminta...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Konfusianisme

Seorang pemuda Korea yang bekerja pada biro perjalanan bertanya kepada Dr. Zakir Naik. Nama pemuda Korea itu adalah Kim. Sebagai seorang penganut Konfusianisme, dia...

Dr. Zakir Naik Menjelaskan Cara Agar Umat Manusia Hidup Harmonis

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo Jepang tanggal 8 Oktober 2015, saat sesi tanya-jawab, ada seorang pengusaha Korea yang baru mengetahui tentang Islam....

Apakah Al-Qur’an Melarang Penggunaan Senjata Nuklir? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada saat Dr. Zakir Naik berceramah di Jepang tanggal 8 November 2015 yang lalu, ada sebuah pertanyaan unik yang diajukan oleh seorang guru asal...

Apakah Kisah Isra’ Mi’raj Hanya Dongeng Belaka? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo pada bulan Oktober 2015, seorang wanita Jepang ateis bernama Yoko dengan berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu...

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Rencana Pengiriman Misi Militer yang Dipimpin Oleh Usamah

Negara Romawi adalah salah satu dari dua Negara yang bertetangga dengan semenanjung Arab pada masa Nabi Muhammad. Negara Romawi menguasai wilayah-wilayah yang cukup luas di Utara jazirah Arab. Para amir atau pemimpin wilayah-wilayah tersebut ditunjuk dan diangkat oleh otoritas Negara Romawi dan mereka tunduk kepadanya.

Nabi Muhammad mengirimkan sejumlah juru dakwah dan delegasi ke wilayah-wilayah tersebut. Nabi Muhammad mengutus Dihyah Al-Kalbi untuk membawa surat kepada raja Romawi Hercules yang berisikan ajakan untuk masuk Islam. Akan tetapi sang raja menolak mentah-mentah karena didorong oleh keangkuhan dan merasa besar.

Langkah dan rencana yang digariskan Rasulullah untuk menggoyahkan wibawa Romawi dalam diri bangsa Arab sangat jelas arahnya. Dari itu, pasukan kaum muslimin pun memulai operasinya untuk menundukkan kawasan dan wilayah-wilayah tersebut.

Pada tahun kedelapan hijriah, Nabi Muhammad mengirimkan misi militer dan bertempur melawan kaum Nasrani Arab dan Romawi pada Perang Mu`tah. Pada pertempuran tersebut para panglima pasukan Islam gugur sebagai syahid secara berurutan, mulai dari Zaid bin Haritsah, kemudian Ja’far bin Abu Thalib, kemudian Abdullah bin Rawahah. Setelah itu, kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Saifullah Khalid bin Al-Walid. Kemudian pasukan kembali ke Madinah.

Pada tahun kesembilan hijriah, Rasulullah menjalankan misi militer dengan membawa pasukan yang cukup besar menuju ke Syam dan sampai ke Tabuk. Waktu itu, pasukan Islam tidak sampai bertempur dengan pasukan Romawi dan tidak pula dengan kabilah-kabilah Arab. Para pemimpin musuh waktu itu lebih memilih untuk melakukan perjanjian damai dengan membayar jizyah. Akhirnya pasukan Islam pun kembali pulang ke Madinah setelah dua puluh malam berada di Tabuk.

Pada tahun kesebelas hijriah, Nabi Muhammad memobilisasi kaum muslimin untuk berperang melawan pasukan Romawi di Balqa` dan Palestina. Waktu itu, para pembesar dan pemuka sahabat ikut dalam misi militer tersebut. Dalam misi tersebut, Nabi Muhammad menunjuk Usamah sebagai amir atau panglimanya. Al-Hafizh Ibnu Hajar menuturkan, “Ada keterangan yang menyebutkan bahwa penyiapan pasukan Usamah tersebut dilakukan pada hari Sabtu dua hari sebelum meninggalnya Nabi Muhammad. Sebenarnya dalam misi tersebut sudah direncanakan sebelum Nabi Muhammad jatuh sakit. Beliau mulai menyeru dan memobilisasi kaum muslimin untuk ikut dalam misi militer melawan pasukan Romawi pada akhir bulan Shafar. Beliau memanggil Usamah dan berkata kepadanya, “Pergilah kamu ke tempat terbunuhnya ayahmu, lalu seranglah mereka, karena sungguh aku mengangkatmu sebagai panglima atas pasukan ini.”

Lalu ada sebagian orang yang mengkritik dan mempertanyakan pengangkatan Usamah tersebut. Lalu Rasulullah pun menanggapi kritikan mereka, “Jika mereka mengkritik, mempertanyakan, dan mendiskreditkan kepemimpinan Usamah, maka sungguh sebelumnya kalian juga mengkritik dan mendiskreditkan kepemimpinan ayahnya. Sungguh demi Allah, ayahnya adalah orang yang layak dan kompeten untuk memegang kepemimpinan tersebut dan sesungguhnya ia adalah termasuk orang yang paling aku cintai, dan putranya ini adalah juga termasuk orang yang paling aku cintai setelah ayahnya.

Tidak lama setelah memulai penyiapan pasukan untuk misi militer yang dipimpin oleh Usamah tersebut, yaitu dua hari setelah itu Nabi Muhammad jatuh sakit dan semakin bertambah parah sakit beliau. Sementara itu, pasukan yang telah disiapkan tersebut belum bergerak dan masih berada di Al-Jurf (sebuah tempat yang terletak tiga mil dari Madinah di jalur menuju ke Syam). Ketika Rasulullah meninggal dunia, pasukan tersebut akhirnya kembali lagi ke Madinah.

Situasi dan kondisi waktu itu pun berubah bersamaan dengan meninggalnya Nabi Muhammad. Aisyah menggambarkan situasi waktu itu seperti berikut, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggal dunia, maka orang-orang Arab murtad dan kemunafikan mulai muncul ke permukaan. Sungguh aku telah tertimpa sesuatu yang seandainya itu menimpa gunung-gunung yang tinggi besar dan kokoh, niscaya gunung itu hancur. Para sahabat Nabi Muhammad waktu itu seolah-olah laksana seperti domba-domba di perkebunan pada malam yang hujan di tanah yang penuh dengan binatang buas.”

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq memegang tampuk kekhilafahan, maka pada hari ketiga dari meninggalnya Rasulullah, ia memerintahkan seorang laki-laki untuk menyampaikan pengumuman kepada masyarakat bahwa pengiriman misi militer pasukan Usamah dilanjutkan dan tidak ada satu pun personel pasukan Usamah yang tertinggal di Madinah melainkan ia harus segera berangkat menuju ke kamp militer di Al-Jurf.”

Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri di hadapan masyarakat Madinah, lalu memanjatkan puja-puji kepada Allah, lalu berkata, “Wahai kalian semua, sesungguhnya aku tidak lain adalah sama seperti kalian, dan aku tidak tahu barangkali kalian telah membebankan kepadaku apa yang sebelumnya Rasulullah kuasa memikulnya. Sesungguhnya Allah telah memilih Nabi Muhammad atas semua makhluk dan memelihara beliau dari berbagai bentuk kejelekan. Adapun saya tidak lain hanya orang yang mengikuti dan saya bukanlah orang yang membuat-buat dan mengada-adakan hal yang baru. Maka, jika aku lurus, maka ikuti aku, namun jika aku melenceng, maka luruskanlah aku.

Sesungguhnya Rasulullah telah meninggal dunia dan tidak mungkin akan ada satu orang pun dari umat ini yang menuntut beliau atas suatu penganiayaan dan pelanggaran apa pun bentuknya. Sementara aku adalah orang yang setan selalu mengelilingiku. Maka, ketika setan itu baru mendatangiku, maka jauhilah aku. Kalian datang dan pergi dalam ajal (jangka waktu yang telah ditetapkan) yang dirahasiakan dari kalian pengetahuannya, maka berupayalah kalian agar ajal tersebut tidak berakhir melainkan ketika kalian sedang mengerjakan amal shaleh, dan kalian tidak akan bisa melakukan hal itu melainkan atas izin dan taufiq Allah. Maka, berlomba-lombalah kalian dalam memanfaatkan jangka waktu kalian yang masih ada sebelum jangka waktu atau ajal kalian itu berakhir dan membawa kalian kepada keterputusan amal dan tidak lagi bisa beramal. Ada sejumlah kaum yang melupakan ajal mereka dan menjadikan amal-amal mereka untuk orang lain, maka aku peringatkan dan mewanti-wanti janganlah kalian sampai seperti mereka.

Bersungguh-sungguhlah kalian, bersungguh-sungguhlah kalian, cepat, cepat, karena sesungguhnya di belakang kalian ada sesuatu yang mengejar kalian dengan serius dan dengan langkah kaki yang cepat. Waspadalah kalian terhadap kematian, ambillah iktibar dan pelajaran dari leluhur, anak cucu dan saudara-saudara kalian, dan janganlah kalian merasa iri kepada orang-orang yang masih hidup melainkan atas sesuatu yang kalian merasa iri kepada orang-orang yang telah mati atas sesuatu tersebut.”

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berdiri menyampaikan pidato. Pertama-tama, ia memanjatkan puja-puji kepada Allah, kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah tidak berkenan menerima suatu amal melainkan amal yang dikerjakan dengan tulus ikhlas hanya karena-Nya, maka tujukan, murnikan, dan peruntukkanlah amal-amal kalian hanya untuk Allah. Sesungguhnya amal-amal yang kalian kerjakan dengan ikhlas dan murni hanya karena Allah tidak lain adalah simpanan kalian untuk waktu di mana kalian membutuhkannya. Ambillah iktibar dan pelajaran dari orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kalian.

Perhatikanlah orang-orang sebelum kalian, di mana mereka kemarin dan di mana mereka hari ini. Di manakah orang-orang kuat yang dikenal tangguh dan berjaya di medan-medan pertempuran? Masa telah meruntuhkan mereka dan mereka pun telah menjadi tulang belulang yang lapuk dan hancur.

Perempuan-perempuan buruk adalah untuk laki-laki yang buruk, dan laki-laki yang buruk adalah untuk perempuan yang buruk. Di manakah raja-raja yang telah mengolah, membangun, dan memakmurkan bumi? Mereka telah jauh sekali dan terlupakan dan menjadi seperti bukan apa-apa. Ketahuilah sesungguhnya Allah telah menetapkan atas mereka tuntutan pertanggung jawaban dan telah memutus dari mereka segala syahwat dan ambisi. Mereka telah berlalu, sedang amal-amal yang pernah mereka kerjakan adalah amal-amal mereka sementara dunia adalah dunia orang lain. Dan sesungguhnya Allah memperadakan kita sebagai makhluk setelah mereka, maka kita selamat, namun jika kita merosot, maka kita menjadi seperti mereka. Di manakah orang-orang yang elok dan berwajah menawan yang bangga dengan kondisi muda mereka? Mereka telah menjadi tanah, dan perbuatan-perbuatan teledor mereka menjadi sesalan atas mereka. Di manakah orang-orang yang membangun kota-kota dan mengelilinginya dengan tembok-tembok dan membuat berbagai hal yang menakjubkan di dalamnya? Mereka telah meninggalkan semua itu untuk orang-orang yang datang setelah mereka. Maka, itu lihatlah tempat-tempat tinggal mereka kosong dan tinggal puing-puing, sedang mereka berada dalam kegelapan-kegelapan lubang kubur, “Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?” Di manakah orang-orang yang kalian kenal dari leluhur dan saudara-saudara kalian? Ajal mereka telah berakhir dan habis, lalu mereka telah sampai kepada apa yang sebelumnya mereka kerjakan, dan mereka menegakkan untuk kesengsaraan atau kebahagiaan setelah kematian. Ketahuilah sesungguhnya tiada yang namanya istilah “nepotisme” dan “kolusi” bagi Allah terhadap siapa pun dari makhluk yang karenanya Dia memberinya kebaikan dan menjauhkannya dari kejelekan kecuali dengan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya.

Ketahuilah sesungguhnya kalian adalah para hamba yang terkuasai dan akan dibalasi, bahwa sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tiada dapat diraih melainkan dengan ketaatan kepada-Nya. Tiadakah sudah datang bagi salah seorang dari kalian waktunya Neraka dihindarkan darinya Neraka dan Surga tidak dijauhkan darinya.”

Dalam pidato ini terdapat sejumlah pelajaran dan ibrah, yang di antara adalah:

  • Penjelasan tentang karakteristik atau hakikat khalifah Rasulullah, bahwa ia bukanlah khalifah Allah tetapi khalifah Rasulullah., bahwa dirinya adalah manusia biasa yang tidak makshum yang tiada akan kuasa dan mampu memikul apa yang mampu dan kuasa dipikul oleh Rasulullah dengan kenabian dan kerasulan beliau.

Dari itu, dirinya dalam langkah politik dan kebijakannya adalah hanya sekadar mengikuti jejak langkah Rasulullah, bukan membuat-buat dan mengada-adakan hal yang baru. Yakni, bahwa ia mengikuti dan meniti jejak langkah Rasulullah dalam menjalankan pemerintahan dan hukum dengan adil dan baik.

  • Penjelasan tentang tugas dan kewajiban umat dalam mengawasi, mengontrol dan mengawal pemimpin, untuk membantu dan mendukungnya ketika ia mengambil langkah yang baik, shaleh, dan lurus serta menasihatinya ketika melenceng dan menyimpang, supaya ia tetap berada di rel yang benar sebagai orang yang mengikuti tuntutan Rasulullah bukan orang yang membuat-buat hal yang baru.
  • Penegasan bahwa Nabi Muhammad berlaku adil di antara umat tanpa pernah menzhalimi siapa pun. Dari itu, tiada akan mungkin ada satu orang pun yang pernah mendapatkan perlakuan zhalim dari Rasulullah, sehingga tidak ada nada satu orang pun yang menuntut beliau. Artinya adalah, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq akan mengikuti jalan yang sama seperti itu, menebarkan keadilan dan menjauhi kezhaliman.

Dari itu, umat harus membantu dan mendukung dirinya dalam upaya melaksanakan hal itu.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyatakan, bahwa jika ada seseorang melihat dirinya sedang marah, maka orang tersebut harus menjauhinya agar ia jangan sampai menyakiti seseorang, sehingga hal itu membuat dirinya telah keluar dari garis kebijakan dan politik yang telah ia tetapkan, yaitu mengikuti dan meniru Rasulullah.

Setan yang senantiasa berusaha mengelilingi Abu Bakar Ash-Shiddiq juga melakukan hal yang sama kepada semua manusia. Karena tiada satu orang pun melainkan Allah telah menetapkan untuknya seorang qarin dari bangsa malaikat dan seorang qarin dari bangsa jin.

Posisi setan dari manusia adalah laksana seperti posisi darah yang mengalir dalam tubuhnya. Rasulullah bersabda, “Tiada satu orang pun dari kalian melainkan telah ditetapkan untuknya seorang qarin dari bangsa jin dan seorang qarin dari bangsa malaikat.” Para sahabat berkata, “Termasuk Anda juga wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ya, termasuk aku, hanya saja Allah telah menolongku mengalahkan setan yang menjadi qarinku, lalu ia masuk Islam, sehingga ia tidak menyuruhku melakukan sesuatu melainkan kebaikan.”

Dalam sebuah hadits lain disebutkan, “Bahwasanya ada dua orang Anshar berpapasan dengan beliau yang waktu itu sedang berbincang-bincang dengan Shafiyyah pada waktu malam, lalu beliau berkata, “Tenanglah kalian, tidak ada apa-apa, ini adalah Shafiyyah binti Huyai.” Lalu mereka berdua berkata, “Subhanallah wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir pada manusia laksana seperti mengalirnya darah dalam tubuhnya, dan aku khawatir setan memunculkan suatu kejelekan dalam hati kamu berdua.

Maksud Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah, bahwasanya ia bukanlah makshum seperti Rasulullah, dan itu adalah memang benar adanya.

  • Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa konsisten untuk selalu menyampaikan nasihat kepada kaum muslimin, mengingatkan mereka kepada kematian dan keadaan para raja dan penguasa yang telah lalu, menyuruh mereka untuk beramal shaleh supaya mereka memiliki persiapan bertemu dengan Allah dan supaya mereka tetap istiqamah, lurus, dan persisten berada di jalan Allah dalam kehidupan mereka.

Di sini, kita bisa melihat bagaimana Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memanfaatkan dan memberdayakan kekuatan bahasa yang fasih dalam pidato-pidatonya dan perkataan-perkataannya kepada umat. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memang termasuk salah satu orator Rasulullah yang paling fasih.

Tentang hal ini, Al-’Aqqad menuturkan, adapun bahasa dan perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka itu termasuk ucapan yang paling kuat dan unggul dalam timbangan akhlak dan hikmah. Dalam berbagai ucapannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyebutkan banyak contoh, perumpamaan, tamsilan, dan ilustrasi-ilustrasi yang langka yang satu saja di antaranya sudah menunjukkan bakat dan talentanya, maka sedikit dari perumpamaan dan tamsilan-tamsilan itu sudah mencukupi dan bisa mewakili yang banyak, sebagaimana mencukupinya sebuah bulir sehingga tidak membutuhkan lagi keranjang yang penuh.

Maka, cukuplah Anda mengetahui tambang yang menjadi sumber perkataan dari jiwa dan pikirannya ketika Anda mendengar kalimat seperti perkataannya, “Ingatlah selalu kematian, maka kehidupan diberikan kepadamu.” atau, “Kejujuran yang paling jujur adalah amanat dan kebohongan yang paling bohong adalah khianat, sabar adalah separuh iman dan yakin adalah iman utuh.”

Itu adalah kalimat-kalimat yang terlihat jelas ketetapan dan keakuratannya, sebagaimana sangat terlihat jelas kebalaghan, kefasihan, dan keindahan ungkapannya. Kalimat-kalimat tersebut juga memberitahukan tentang sumber asal yang menghasilkan kalimat-kalimat tersebut, sehingga tidak membutuhkan untuk menunjukkan tanda-tanda sebagai orang terdidik sebagaimana yang banyak dilakukan oleh berbagai kalangan secara berlebihan.

Karena pemahaman yang mendalam, kuat, orisinil, dan tepat itulah inti yang dimaksudkan dari keterdidikan. Rasulullah memiliki kepiawaian dalam berorasi di samping kefasihan dalam berbicara.

Kejadian yang Berlangsung Antara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Para Sahabat Menyangkut Perealisasian Pengiriman Misi Militer Pasukan Usamah

Ada sebagian sahabat yang memberikan masukan dan usulan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq supaya tidak memberangkatkan misi militer pasukan tersebut. Mereka berkata, “Pasukan tersebut terdiri dari sebagian besar kaum muslimin, sementara orang-orang Arab sebagaimana yang Anda lihat banyak yang membelot. Maka dari itu, tidak seyogyanya Anda memecah-mecah jamaah kaum muslimin yang ada. Karena jika Anda tetap mengirimkan pasukan tersebut, maka kaum muslimin yang tersisa di Madinah tinggal sedikit.”

Dari kamp militer di Al-Jurf, Usamah pun mengirimkan Umar bin Al-Khathab untuk menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan meminta izin untuk membawa kembali pasukan. Ia berkata, “Pasukan ini terdiri dari sebagian besar kaum muslimin yang ada termasuk di dalamnya tokoh-tokoh Islam terkemuka. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan khalifah, tanah haram, dan kehormatan Rasulullah serta kaum muslimin yang lain dari serbuan orang-orang musyrik.”

Akan tetapi Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menyetujui usulan tersebut dan tetap pada pendiriannya untuk tetap melanjutkan misi militer yang ada menuju ke Syam walau bagaimana pun situasi dan kondisinya serta apa pun akibatnya. Usamah dan para staf militernya merasa tidak setuju dengan langkah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tetap bersikukuh pada pendapatnya tersebut. Mereka pun melakukan segenap upaya untuk meyakinkan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa usulan dan pemikiran mereka adalah benar dan tepat.

Ketika semakin banyak desakan dari berbagai pihak terhadap Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka ia pun mengambil langkah mengadakan pertemuan darurat dengan memanggil seluruh kaum Muhajirin dan Anshar guna mendiskusikan persoalan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, terjadilah diskusi dan perdebatan yang sangat lama dan cukup alot. Di antara sahabat yang paling keras menentang kebijakan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ingin tetap melanjutkan misi militer yang ada adalah Umar bin Al-Khathab. Dalam hal ini, Umar bin Al-Khathab mengemukakan salah satu alasannya, yaitu kekhawatirannya yang sangat besar atas keselamatan khalifah, tanah haram Rasulullah, dan Madinah secara keseluruhan dari ancaman serbuan orang-orang Arab pedalaman yang murtad dan musyrik.

Ketika banyak tokoh-tokoh sahabat yang menyatakan sikap tidak setuju terhadap pendirian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menyatakan kepadanya tentang berbagai bahaya serius yang mengancam Madinah jika khalifah tetap bersikukuh untuk memberangkatkan pasukan Usamah untuk menghadapi pasukan Romawi, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menginstruksikan untuk menutup dan mengakhiri pertemuan pertama tersebut.

Hal itu setelah ia mendengar pendapat, pandangan, dan masukan semua pihak, memberikan kesempatan penuh kepada semua pihak dan tokoh-tokoh terkemuka untuk mengutarakan pendapat dan pandangan masing-masing.

Kemudian setelah itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali mengadakan pertemuan massal dan terbuka di masjid. Dalam pertemuan tersebut, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta para sahabat untuk melupakan pemikiran dan ide membatalkan rencana tersebut yang telah ditetapkan Rasulullah sendiri sebelumnya. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan kepada mereka, bahwa ia tetap akan merealisasikan rencana tersebut, walau seandainya pun hal itu akan mengakibatkan Madinah diserbu oleh orang-orang Arab pedalaman yang murtad. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri menyampaikan pidato kepada para sahabat dan berkata, “Demi Dzat Yang jiwa Abu Bakar berada dalam genggaman-Nya, seandainya pun aku mengetahui bahwa binatang buas akan menerkamku, maka aku tetap akan meneruskan pemberangkatan misi militer pasukan Usamah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Rasulullah, dan seandainya pun di tempat ini hanya tinggal diriku saja yang ada, maka aku tetap akan meneruskan dan merealisasikan misi militer tersebut.”

Benar, langkah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tidak setuju dengan pendapat dan pandangan semua kaum muslimin waktu itu dan tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk memberangkatkan pasukan Usamah adalah langkah yang betul dan tepat. Karena pemberangkatan misi militer pasukan Usamah tersebut memuat perintah dari Rasulullah. Waktu dan kejadian-kejadian yang ada akhirnya membuktikan ketepatan dan kebenaran keputusan dan pendirian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ia bersikukuh untuk merealisasikannya tersebut.

Kaum Anshar pun meminta supaya pasukan tersebut dipimpin oleh seseorang yang lebih tua dari Usamah. Mereka mengutus Umar bin Al-Khathab untuk menyampaikan usulan mereka itu kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu Umar bin Al-Khathab pun menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata kepadanya, “Orang Anshar meminta supaya pasukan ini dipimpin oleh seseorang yang lebih tua dari Usamah.”

Mendengar hal itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun langsung terhenyak berdiri lalu memegang jenggot Umar bin Al-Khathab dan berkata kepadanya, “Celaka kamu wahai Umar! Rasulullah telah menunjuk dan mengangkat Usamah, dan Anda menyuruhku untuk mencopotnya?” Lalu Umar bin Al-Khathab pun kembali. Lalu orang-orang bertanya kepadanya, “Bagaimana hasilnya?” Lalu ia pun berkata, “Celaka kalian semua! Lihat apa yang aku dapatkan dari khalifah Rasulullah gara-gara kalian!”

Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq keluar untuk menemui mereka, lalu memberangkatkan dan mengantar mereka, sedang waktu itu ia berjalan kaki sementara Usamah naik kendaraan. Waktu itu, Abdurrahman bin Auf menuntun kendaraan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu Usamah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, sungguh Anda harus naik kendaraan, atau saya akan turun.” Lalu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sungguh, kamu jangan turun dan sungguh aku tidak akan naik kendaraan, aku ingin sesaat mengotori kedua kakiku dengan tanah dalam jihad di jalan Allah.”

Kemudian khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Usamah, “Aku ingin Umar tetap tinggal di Madinah bersamaku, apakah Anda mengizinkan?” Lalu Usamah pun menyetujui permintaan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut.

Kemudian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menghadap ke pasukan, lalu berkata, “Wahai pasukan semuanya, dengarlah, aku akan menyampaikan sepuluh pesan kepada kalian, dan ingatlah baik-baik pesanku ini. Janganlah kalian berlaku khianat, jangan kalian mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi, jangan kalian melanggar perjanjian, jangan kalian melakukan mutilasi terhadap musuh, jangan kalian membunuh anak kecil, orang-orang lanjut usia dan kaum perempuan. Jangan kalian memotong pohon kurma, jangan kalian membakarnya dan jangan pula kalian menebang pohon yang berbuah. Jangan kalian memotong kambing, lembu, dan tidak pula unta kecuali untuk kebutuhan makan. Kalian akan melewati sejumlah kaum yang beribadat di dalam biara-biara, janganlah kalian ganggu mereka, biarkan mereka melakukan apa yang mereka lakukan itu. Kalian nanti akan mendatangi kaum yang akan menyuguhkan kepada kalian periuk dan nampan-nampan yang berisikan berbagai macam makanan, maka jika kalian mau memakannya, jangan lupa untuk membaca basmalah. Nanti kalian juga akan bertemu dengan sejumlah kaum yang memiliki potongan rambut yang unik, yaitu mereka memotong bersih rambut kepala mereka bagian tengah dan membiarkan rambut di sekitarnya, maka serbu dan tundukkanlah mereka. Sekian, berangkatlah kalian semua dengan menyebut nama Allah.”

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berpesan kepada Usamah untuk melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah, seraya berkata, “Lakukanlah apa yang sebelumnya telah diperintahkan Rasulullah kepada dirimu. Mulailah dengan negeri Qudha’ah, kemudian lanjutkan ke Abil (sebuah daerah yang terletak di selatan Yordania sekarang). Jangan sekali-kali kamu teledor dalam menjalankan perintah Rasulullah.”

Usamah pun berangkat membawa pasukannya dan melaksanakan apa yang sebelumnya diperintahkan Rasulullah, yaitu menyerbu kabilah-kabilah Qudha’ah dan negeri Abil, hingga ia pun selamat, berhasil, sukses dan menang. Misi militer tersebut memakan waktu empat puluh hari mulai dari pemberangkatan sampai kembali pulang.

Berita meninggalnya Rasulullah dan serbuan pasukan Usamah di salah satu wilayah kekuasaan Romawi pun sampai kepada raja Romawi Hercules. Orang Romawi pun berkata, “Apa maunya orang-orang itu, pemimpin mereka meninggal dunia, namun kemudian mereka justru melakukan serbuan ke tanah kami.” Orang-orang Arab berkata, “Seandainya mereka (kaum muslimin) tidak memiliki kekuatan, tentu mereka tidak akan mengirimkan pasukan tersebut.” Akhirnya orang-orang Arab itu pun membatalkan banyak hal yang sebelumnya ingin mereka lancarkan.

Sejumlah Pelajaran, Ibrah, dan Faidah Terpenting dari Langkah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Pengiriman Pasukan Usamah

Keadaan berubah dan berganti, berbagai kesulitan dan musibah tidak sampai memalingkan orang-orang beriman dari urusan agama.

Betapa genting dan serius perubahan dan transisi yang ada! Betapa cepat perubahan dan transisi itu terjadi! Subhanallah Maha Suci Allah Yang membolak-balikkan keadaan sekehendak-Nya,

“Dia Maha Berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruj: 16).

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedang mereka lah yang akan ditanya.” (Al-Anbiya`: 23).

Sebelumnya, para delegasi dan utusan bangsa-bangsa Arab berduyun-duyun datang dalam jumlah yang begitu banyak dengan penuh ketundukan dan kepatuhan, sampai-sampai tahun kesembilan hijriah dikenal dengan sebutan ’Am al-Wufud (tahun delegasi). Kemudian keadaan dan situasi berubah begitu cepatnya, di mana muncul kekhawatiran kabilah-kabilah Arab akan datang menyerbu Madinah Munawwarah ibu kota Islam.

Bahkan kabilah-kabilah Arab itu memang benar-benar datang melakukan serbuan untuk menghancurkan -menurut persangkaan batil mereka- Islam dan kaum muslimin.

Semua kejadian dan perubahan itu bukanlah sesuatu yang aneh. Karena di antara sunnatullah atau ketentuan baku Allah yang berlaku pada umat dan bangsa-bangsa yang ada di dunia ini adalah bahwa roda perjalanan sejarah mereka tidak statis, konstan, dan tetap pada satu keadaan saja, tetapi berputar dan berjalan secara dinamis, fluktuatif, selalu berubah silih berganti, berputar naik dan turun (sunnah at-Tadawul, perputaran roda zaman). Hal ini telah diinformasikan oleh Dzat Yang membolak-balikkan dan memperputarkan perjalanan masa dan roda waktu,

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran);” (Ali Imran: 140).

Ar-Razi dalam tafsirnya menuturkan, maknanya adalah, bahwa masa-masa dunia adalah berputar silih berganti di antara manusia, kondisi senang dan susah selalu berputar silih berganti, kejayaan, dan keterpurukan berputar silih berganti di antara mereka. Hari ini, kebahagiaan dan kejayaan berada di tangan sebagian orang, sementara kesedihan dan keterpurukan dialami oleh musuhnya. Pada suatu hari nanti, keadaan tersebut berubah dan berganti menjadi sebaliknya.

Tiada suatu apa pun dari keadaan dan hal ihwal dunia yang konstan, statis, dan tetap, akan tetapi selalu bergerak dinamis, fluktuatif, berputar silih berganti.

Penggunaan bentuk fi’il mudhari’ dalam ayat di atas, “nudawiluha” adalah untuk memberikan pengertian at-Tajaddud dan al-Istimrar, yakni bahwa sunnah at-Tadawul selalu berjalan terus. Dalam hal ini, Al-Qadhi Abu As-Sa’ud menuturkan, bentuk fi’il mudhari’ yang mengandung pengertian at-Tajaddud (senantiasa terjadi dari waktu ke waktu) dan al-Istimraar (kontinuitas) tersebut untuk memberikan sebuah pengertian bahwa at-Tadawul (silih bergantinya keadaan) tersebut adalah sebuah sunnah atau ketentuan baku yang berlaku di antara umat dan bangsa-bangsa yang ada, baik yang lalu maupun yang kemudian. Ada ungkapan yang cukup terkenal berbunyi, “Al-Ayyam duwalun wa al-Harb sijalun” (masa kejayaan dan keterpurukan selalu berputar silih berganti, dan peperangan adalah terkadang menang dan terkadang kalah).

Seorang penyair bersenandung,

Maka, suatu hari adalah kemalangan bagi kami dan suatu hari yang lain adalah kemujuran dan keberuntungan bagi kami. Suatu hari kami bersedih dan suatu hari yang lain kami bergembira.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa mengajarkan kepada umat untuk sabar dan tabah jika mereka sedang mengalami kesulitan dan tertimpa musibah, karena kemenangan dan kesuksesan adalah beserta kesabaran dan kegigihan. Juga, jangan sampai mereka merasa putus asa dari rahmat Allah,

“Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56).

Hendaklah setiap Muslim selalu ingat dan sadar bahwa kesulitan betapa pun besarnya dan bahwa musibah betapa pun kerasnya, maka sesungguhnya di antara sunnatullah atau ketentuan baku Allah adalah,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6).

Dan sesungguhnya perkara seorang Muslim adalah menakjubkan di dunia ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits, “Sungguh menakjubkan perkara seorang Mukmin, sesungguhnya perkaranya semuanya adalah baik, dan itu tidak dimiliki melainkan oleh seorang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan dan kegembiraan, maka ia bersyukur, dan itu adalah baik baginya, dan jika ia tertimpa kemadharatan dan kesusahan, maka ia bersabar, dan itu adalah baik baginya.”

Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari pengiriman misi militer pasukan Usamah adalah, bahwa berbagai kesulitan dan musibah sebesar apa pun itu tidak akan bisa memalingkan orang-orang beriman dari urusan agama. Meninggalnya Rasulullah tidak sampai menjadikannya lupa terhadap urusan agama. Ia menginstruksikan untuk memberangkatkan pasukan Usamah dalam situasi dan kondisi yang sangat berat dan tidak menentu, hari-hari yang gelap karena tertutup mendung duka dan kesedihan yang mendalam bagi kaum muslimin. Akan tetapi apa yang dipelajari oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dari Rasulullah yaitu untuk senantiasa memperhatikan urusan agama, memenangkan dan memprioritaskannya di atas segalanya.

Hal ini berjalan terus hingga Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pergi meninggalkan dunia ini.

Perjalanan dakwah tidak terikat dengan siapa pun dan kewajiban mengikuti perintah Nabi Muhammad.

Dalam kisah pengiriman misi militer pasukan Usamah oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kita bisa menemukan bahwa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjelaskan dengan ucapan dan tindakan bahwa perjalanan dakwah belum dan tidak akan terhenti meski dengan kematian pemimpin makhluk dan imam para nabi dan rasul Muhammad Saw.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq membuktikan keberlanjutan perjalanan misi dakwah tersebut dengan segera merealisasikan pemberangkatan misi militer pasukan Usamah.

Pada hari ketiga dari meninggalnya Rasulullah, juru pengumuman menyampaikan pengumuman terbuka agar semua orang yang tergabung dalam pasukan Usamah agar segera bergerak pergi menuju ke kamp militer di Al-Jurf.

Sebelum itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pidato kenegaraan pertamanya sesaat setelah pembaiatan dirinya sebagai khalifah telah menegaskan tekadnya untuk terus mengerahkan segenap usaha, tenaga, kemampuan dan potensi demi untuk mengabdi kepada agama ini.

Dalam sebuah riwayat disebutkan perkataan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Maka, bertakwalah kepada Allah wahai kamu semua! Berpegang teguhlah kalian kepada agama kalian dan bertawakkalah kepada Tuhan kalian. Karena sesungguhnya agama Allah tetap tegak, sesungguhnya kalimat-Nya pasti sempurna dan berjaya, dan sesungguhnya Allah Penolong orang yang menolong agama-Nya dan Dia pasti memuliakan agama-Nya dan menjadikannya berjaya. Sungguh demi Allah, kami tidak peduli siapa pun dari makhluk-Nya yang memobilisasi kekuatan dan memprovokasi untuk menyerang kami. Sesungguhnya pedang-pedang Allah selalu terhunus dan kami belum lagi meletakkannya, dan sungguh kami akan berjihad dan berjuang melawan siapa pun yang menentang dan melawan kami, sebagaimana kami berjihad bersama-sama Rasulullah, maka siapa pun yang melakukan kezhaliman, maka sejatinya ia melakukan kezhaliman atas dirinya sendiri.”

Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah kebijakan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tetap merealisasikan rencana pengiriman misi militer pasukan Usamah adalah, bahwa semua kaum muslimin berkeharusan untuk mengikuti dan mematuhi perintah Nabi Muhammad baik di kala senang maupun susah.

Dari tindakan yang dilakukannya, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin menjelaskan bahwa dirinya betul-betul memegang teguh dan merealisasikan perintah-perintah Nabi Muhammad meski betapa pun banyak dan seriusnya ancaman dan bahaya yang ada. Sikap Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ini nampak jelas dalam kisah ini pada berbagai kesempatan, yang di antaranya adalah:

  • Ketika kaum muslimin meminta penghentian pengiriman misi militer pasukan Usamah, mengingat keadaan yang berubah serta situasi dan kondisi yang agak memburuk, tidak menentu, dan belum stabil, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memberikan jawaban dengan sebuah pernyataannya yang akan selalu dikenang, “Demi Dzat Yang jiwa Abu Bakar berada dalam genggaman-Nya, seandainya aku tahu bahwa binatang buas akan menerkamku, niscaya aku akan tetap merealisasikan pemberangkatan misi militer pasukan Usamah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Rasulullah, dan seandainya di negeri ini semuanya ikut pergi dan hanya tinggal diriku saja, niscaya aku akan tetap merealisasikan misi militer tersebut.”
  • Ketika Usamah meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk membawa kembali pasukannya dari Al-Jurf ke Madinah karena alasan mengkhawatirkan keselamatan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para penduduk Madinah, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun tidak mengizinkannya. Bahkan ia menyatakan tekad dan kekukuhannya untuk merealisasikan rencana dan keputusan Rasulullah tersebut dengan mengatakan, “Seandainya anjing-anjing dan serigala-serigala menyerang dan menerkamku, niscaya aku tetap tidak akan membatalkan sebuah ketetapan yang telah diambil oleh Rasulullah.”

Dengan sikapnya itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin memberikan sebuah potret implementasi firman Allah,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36).

  • Ketika ada permintaan kepadanya untuk mengangkat panglima lain yang lebih tua dari Usamah, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung memperlihatkan kemarahan yang besar kepada Umar bin Al-Khathab karena ia telah berani dan mau begitu saja disuruh orang-orang untuk menyampaikan usulan seperti itu kepadanya. Ia pun berkata kepada Umar bin Al-Khathab, “Celaka kamu wahai Umar! Rasulullah telah menunjuk dan mengangkat Usamah, dan Anda menyuruhku untuk mencopotnya?!”
  • Komitmen Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang begitu tinggi untuk mengikuti dan meniti jejak langkah Nabi Muhammad juga terepresentasikan dengan jelas dalam sikapnya ketika ia pergi untuk mengantar dan memberangkatkan pasukan Usamah dengan cara ia berjalan kaki sementara Usamah naik kendaraan.

Dalam hal ini, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meniru dan meneladani apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan Mu’adz bin Jabal ketika beliau mengirimnya dalam sebuah misi ke Yaman. Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, ia menyatakan, “Ketika Rasulullah mengutus dirinya dalam sebuah misi ke Yaman, beliau mengantar dirinya dan memberikan pesan kepadanya, sedang waktu itu dirinya naik kendaraan sementara Rasulullah berjalan kaki tepat di samping kendaraannya.”

Syaikh Ahmad Al-Banna memberikan komentar tentang hadits ini dan mengatakan, “Hal yang sama juga dipraktikkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Usamah bin Zaid, padahal waktu itu Usamah masih muda. Sebelum meninggal dunia, Rasulullah telah menunjuk dan mengangkat Usamah sebagai panglima pasukan yang akan dikirim untuk melakukan misi militer yang waktu itu belum diberangkatkan kecuali setelah meninggalnya Rasulullah ketika hendak diberangkatkan, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengantar panglima Usamah dengan berjalan kaki sementara Usamah naik kendaraan. Hal itu ia lakukan mengikuti dan meneladani apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah kepada Mu’adz.”

  • Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sangat konsisten dalam meniru dan mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad juga terepresentasikan dengan jelas ketika ia berdiri untuk berpidato yang berisikan sejumlah pesan kepada pasukan Usamah ketika ia hendak memberangkatkannya. Hal seperti ini juga dilakukan oleh Rasulullah ketika beliau mengantar dan hendak memberangkatkan pasukan. Tidak hanya itu saja, bahkan sebagian besar pesan yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada pasukan Usamah tersebut adalah diadopsi dan dikutip dari pesan-pesan Rasulullah kepada pasukan.

Dalam mengikuti, meniru, dan meneladani Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak hanya berhenti sebatas pada aspek perkataan dan ucapan saja, bahkan ia juga memerintahkan panglima pasukan Usamah untuk merealisasikan semua perintah Rasulullah dan mewanti-wanti agar jangan sampai bersikap teledor terhadap perintah beliau.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Usamah, “Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan dan diinstruksikan Rasulullah kepadamu sebelumnya. Mulailah dari negeri Qudha’ah, kemudian setelah itu lanjutkan ke negeri Abil, jangan sekali-kali kamu teledor terhadap perintah Rasulullah.”

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Usamah, “Berangkatlah wahai Usamah menuju ke arah yang telah diperintahkan kepadamu, kemudian seranglah sesuai dengan perintah dan instruksi Rasulullah kepadamu, yaitu dari arah Palestina dan terhadap penduduk Mu`tah.”

Dalam sebuah riwayat milik bin Al-Atsir disebutkan, “Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berpesan kepada Usamah agar melaksanakan sesuai dengan perintah dan instruksi Rasulullah.

Para sahabat akhirnya pun tunduk kepada pandangan Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut dan Allah melapangkan dada mereka sehingga menerimanya dengan senang hati, memegang teguh perintah Rasulullah dan mengerahkan segenap kemampuan dan potensi untuk mewujudkannya. Maka, Allah pun akhirnya menolong mereka, memenangkan mereka, memberi mereka harta ghanimah, memunculkan kewibawaan mereka dalam hati orang-orang sehingga membuat orang-orang takut dan segan, serta menyelamatkan mereka dari keburukan, tipu daya, dan konspirasi pihak-pihak musuh.

Thomas Arnold membicarakan tentang pengiriman misi militer pasukan Usamah tersebut dan mengatakan, “Setelah Rasulullah meninggal dunia, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirimkan pasukan yang sebelumnya memang telah dibentuk dan hendak dikirimkan oleh Rasulullah ke kawasan Masyarif Syam (wilayah-wilayah yang berada di sekitar Syam). Hal itu dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq meskipun banyak penolakan dan penentangan dari sebagian kaum muslimin disebabkan oleh situasi yang masih kacau dan tidak menentu di kawasan Arab ketika itu. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun membungkam penolakan dan protes mereka dengan pernyataannya, “Itu adalah sebuah ketetapan yang telah ditetapkan Rasulullah. Seandainya pun aku tahu banyak binatang buas akan menyerang dan menerkamku, niscaya aku akan tetap merealisasikan pengiriman misi militer pasukan Usamah sebagaimana perintah dan instruksi Rasulullah.”

Kemudian Thomas Arnold menuturkan, “Itu adalah rangkaian atau episode pertama dari rangkaian episode aksi-aksi dan misi-misi militer luar biasa menakjubkan yang dilakukan oleh bangsa Arab yang di dalamnya mereka menaklukkan Suriah, Persia, dan Afrika Utara, lalu menghancurkan negara Persia kuno dan melucuti imperial Romawi dari wilayah-wilayah kekuasaan terbaiknya.”

Demikianlah, kita melihat bahwa Allah mengaitkan kemenangan umat dan kejayaannya dengan prasyarat mengikuti Nabi Muhammad.

Maka, barang siapa mematuhi Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kemenangan, kejayaan, dan dominasi. Sebaliknya, barang siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kehinaan dan keterpurukan. Rahasia kehidupan umat terletak pada ketaatannya kepada Tuhannya dan mengikuti sunnah Nabinya.

Terjadinya perbedaan pendapat di antara kaum Mukminin dan mengembalikannya kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Di antara hal yang bisa kita petik dari kisah ini adalah, bahwa terkadang terjadi perselisihan dan perbedaan pandangan di antara kaum Mukminin yang tulus dan sungguh-sungguh keimanannya seputar berbagai persoalan.

Dalam kisah ini misalnya, terjadi perbedaan pendapat dan sudut pandang seputar perealisasian misi militer pasukan Usamah dalam situasi dan kondisi yang sulit seperti itu. Begitu juga, muncul beragam komentar dan penilaian seputar kepemimpinan Usamah tersebut. Namun perbedaan pendapat tersebut tidak sampai mendorong mereka kepada sikap saling benci, pertengkaran, saling tidak menyapa, saling menjauhi, saling memusuhi atau sampai mengakibatkan terjadinya friksi dan konflik kekerasan di antara mereka. Tidak ada satu orang pun yang tetap ngotot pada pendapatnya ketika pendapatnya itu telah jelas terbukti keliru dan batil.

Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengembalikan perselisihan dan perbedaan pendapat tersebut kepada apa yang telah pasti kebenarannya yaitu perintah dan instruksi Rasulullah untuk mengirimkan misi militer pasukan Usamah, serta menegaskan bahwa dirinya sekali-kali tidak akan teledor terhadap apa yang diperintahkan Rasulullah meski bagaimana pun perubahan keadaan, situasi, dan kondisi yang ada, maka ketika itu para sahabat yang lain pun langsung mematuhi keputusan dan ketetapan Nabi Muhammad tersebut setelah dijelaskan kepada mereka oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sebagaimana pula, pendapat mayoritas tidak diperhitungkan dan tidak ada artinya jika berseberangan dengan nash. Waktu itu, mayoritas sahabat berpendapat untuk menahan dan menunda lebih dulu pasukan Usamah. Mereka berkata kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Sesungguhnya orang-orang Arab banyak yang membelot terhadap Anda, dan Anda tentu tidak akan memecah-mecah jamaah kaum muslimin. Pasukan itu terdiri dari orang-orang yang bukan sembarang orang, tetapi mereka itu adalah para sahabat yang merupakan sebaik-baik manusia yang ada di muka bumi ini setelah para nabi dan rasul.” Akan tetapi, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menerima alasan dan argumentasi mereka itu, serta menegaskan kepada mereka bahwa perintah Rasulullah lebih agung, lebih mulia, lebih wajib, dan lebih mengikat daripada pendapat mereka semua.”

Hakikat ini tergambar jelas pada kejadian meninggalnya Rasulullah, di mana ketika itu banyak sahabat termasuk Umar bin Al-Khathab sendiri yang berpandangan bahwa Rasulullah belum mati, sementara hanya sedikit sahabat saja termasuk di antaranya yang utama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang masih sadar dan mengatakan bahwa Rasulullah memang telah meninggal dunia. Kita melihat bahwa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berpegangan kepada nash dan menegaskan kekeliruan orang yang mengatakan bahwa Rasulullah belum mati.

Al-Hafizh bin Hajar, menyangkut pandangan kebanyakan sahabat waktu itu bahwa Rasulullah belum mati, berkomentar seperti berikut, dari kejadian tersebut bisa diambil sebuah kesimpulan, bahwa dalam ijtihad, terkadang bisa saja terjadi bahwa pendapat yang didukung oleh kelompok yang lebih sedikit adalah yang benar, sementara pendapat yang didukung oleh kelompok mayoritas adalah keliru. Maka dari itu, pentarjihan tidak harus dengan berdasarkan pada sisi kemayoritasan.

Kesimpulannya adalah, bahwa di antara hal yang bisa kita petik dari kisah perealisasian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap misi militer pasukan Usamah adalah, bahwa dukungan banyak pihak kepada suatu pendapat tidak menjamin kalau itu menunjukkan bahwa pendapat tersebut benar dan tepat.

Di antaranya lagi adalah, ketundukan dan kepatuhan kaum Mukminin kepada kebenaran ketika kebenaran itu sudah terbuka jelas bagi mereka. Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengingatkan mereka bahwa Nabi Muhammad sebelumnya telah memerintahkan dan menginstruksikan untuk merealisasikan misi militer pasukan Usamah dan beliau sendiri yang langsung menunjuk dan mengangkat Usamah sebagai amir atau panglima pasukan tersebut, maka mereka semua pun langsung tunduk patuh kepada perintah Nabi mereka, Muhammad Saw.

Menjadikan dakwah dibarengi dengan amal dan posisi generasi muda dalam pengabdian kepada Islam.

Ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap bersikukuh untuk mempertahankan Usamah sebagai amir atau panglima pasukan tersebut sebagai bentuk komitmen dirinya dalam memegang teguh apa yang diputuskan oleh Rasulullah, maka ia tidak hanya sebatas melakukan hal itu saja, tetapi ia juga memberikan sebuah pengakuan dan legitimasi praktis secara langsung terhadap kepemimpinan Usamah tersebut. Hal tersebut terlihat jelas pada dua hal seperti berikut:

  • Langkah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memilih berjalan kaki mengiringi Usamah yang waktu itu naik kendaraan. Waktu itu, Usamah adalah pemuda yang baru berusia dua puluh atau delapan belas tahun, sementara Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sudah berusia lebih dari enam puluh tahun.

Waktu itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap bersikeras untuk tetap berjalan kaki dan memaksa Usamah untuk tetap naik kendaraan ketika Usamah menyatakan kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq antara khalifah naik kendaraan atau dirinya yang turun dari kendaraan. Namun Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap berjalan kaki di bawah sementara Usamah tetap naik kendaraan.

Dengan langkah dan sikapnya itu yang tetap memilih untuk berjalan kaki, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin memberikan sebuah ajakan secara tidak langsung kepada semua pasukan yang ada untuk mengakui dan menerima kepemimpinan Usamah tersebut dengan penuh lapang dada tanpa ada sedikit perasaan kecewa dan tidak senang. Dalam sikapnya tersebut, seakan-akan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada para pasukan, “Lihat dan perhatikanlah wahai kaum muslimin, aku Abu Bakar Ash-Shiddiq sekalipun aku adalah khalifah Rasulullah, namun aku tidak sungkan untuk berjalan kaki di samping Usamah yang naik kendaraan, sebagai bentuk pengakuan, legitimasi, dan penghargaan kepada kepemimpinannya yang ditunjuk dan diangkat langsung oleh Rasul kita yang mulia, imam kita yang teragung dan pemimpin kita yang luhur, Muhammad Saw., maka bagaimana kalian masih berani dan lancang mengkritik kepemimpinan Usamah?”

  • Waktu itu, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berkeinginan agar Umar bin Al-Khathab tidak ikut dalam pasukan tersebut dan tetap tinggal di Madinah bersamanya mengingat ia sangat membutuhkan Umar bin Al-Khathab. Akan tetapi, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq waktu itu tidak lantas ingin mewujudkan keinginannya itu dengan menggunakan perintah, tetapi tetap ia lakukan dengan meminta izin kepada Usamah agar Umar bin Al-Khathab diizinkan tetap tinggal di Madinah bersama dirinya, jika memang Usamah melihat hal itu tepat.

Dengan sikapnya ini, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah memberikan sebuah potret atau gambaran implementatif dan praktis yang lain terhadap pengakuan, penghormatan, dan penghargaannya kepada kepemimpinan Usamah. Hal ini tidak diragukan lagi tentu memiliki efek yang sangat kuat dalam mengajak para pasukan untuk mengakui, menerima, dan tunduk kepada kepemimpinan Usamah.

Apa yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan sangat serius tersebut, yaitu menjadikan dakwahnya dibarengi dengan praktik nyata, adalah memang yang diperintahkan oleh Islam. Allah mengecam keras orang-orang yang memerintahkan orang lain berbuat kebajikan, namun mereka sendiri justru melupakan diri mereka sendiri. Allah berfirman,

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu sendiri melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (Al-Baqarah: 44).

Di antara hal yang nampak sangat jelas dalam kisah ini adalah kedudukan pemuda yang cukup besar dalam pengabdian kepada Islam. Rasulullah mengangkat dan menunjuk seorang pemuda bernama Usamah bin Zaid sebagai seorang amir atau panglima pasukan yang disiapkan untuk melawan sebuah kekuatan terbesar pada waktu itu, yaitu Romawi. Saat itu, usia Usamah baru dua puluh tahun atau delapan belas tahun. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun tetap mengukuhkan Usamah pada posisinya tersebut meskipun banyak pihak yang mengkritik hal tersebut.

Berkat karunia Allah, sang panglima muda itu pun kembali dari misi yang dimandatkan kepadanya itu dengan kemenangan yang gemilang.

Hal ini memberikan sebuah arahan dan bimbingan kepada para pemuda dalam memahami dan menyadari posisi dan kedudukan mereka dalam pengabdian kepada Islam. Seandainya kita melihat kembali sejarah perjalanan dakwah Islam pada periode Makkah dan Madinah, kita pasti akan bisa menemukan dengan mudah banyak contoh dan bukti yang menunjukkan peranan dan kontribusi kaum muda Islam dalam pengabdian kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah, pengelolaan urusan-urusan negara, berkontribusi dan terlibat aktif dalam jihad di jalan Allah dan dakwah.

Potret gemilang etika jihad dalam Islam.

Di antara faedah yang terkandung dalam kisah pengiriman misi militer pasukan Usamah oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah bahwa kisah tersebut mempersembahkan kepada kita sebuah potret gemilang jihad Islam. Potret tersebut terepresentasikan pada wasiat atau pesan dan arahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada pasukan Usamah yang ia sampaikan ketika hendak melepas dan memberangkatkan mereka.

Dalam wasiat, pesan, dan arahan tersebut, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak lain mengikuti dan meniru Sunnah Nabi Muhammad. Ketika melepas dan memberangkatkan pasukan, Rasulullah biasa memberikan sejumlah pesan dan arahan kepada mereka.

Dari paragraf-paragraf pesan dan wasiat yang telah disebutkan di atas, bisa diketahui dengan jelas tujuan dari perang-perang yang dilakukan oleh kaum muslimin, yaitu dakwah kepada Islam. Maka, jika suatu masyarakat atau bangsa melihat pasukan yang memiliki komitmen terhadap wasiat dan pesan-pesan seperti itu, maka mereka pasti akan tertarik untuk masuk ke dalam agama Allah secara suka rela dan atas inisiatif sendiri. Karena mereka melihat dan menyaksikan,

  • Sebuah pasukan yang tidak akan berkhianat dan curang, tetapi menjaga penuh amanat, menepati janji, tidak mencuri hak milik orang lain atau menguasainya tanpa hak dan dengan cara-cara yang tidak benar.
  • Sebuah pasukan yang tidak akan melakukan tindakan-tindakan kejam dan biadab semisal mutilasi, tetapi jika membunuh, maka ia (pasukan itu) membunuh dengan cara yang baik, sebagaimana ia juga pandai untuk memaafkan. Ia sangat menghormati dan menyayangi anak-anak kecil, menghormati dan memuliakan orang-orang lanjut usia, menjaga, melindungi, dan memuliakan kaum perempuan.
  • Sebuah pasukan yang tidak akan merusak dan menghancurkan kekayaan dan sumber daya alam negeri-negeri yang ditaklukkan, tetapi sebaliknya, menjaga dan melindungi pohon-pohon kurma, tidak membakarnya, tidak menebang pepohonan yang berbuah, tidak menghancurkan tanaman-tanaman, ladang, dan kebun-kebun.
  • Jika pasukan itu adalah pasukan yang menjaga dan memelihara sumber daya manusia, tidak menipu, tidak curang, tidak khianat, tidak mencuri dan merampas hak orang lain, tidak akan memutilasi korban terbunuh, tidak akan membunuh anak-anak, orang-orang lanjut usia dan kaum perempuan, menjaga dan memelihara sumber daya alam dan kekayaan pertanian, tidak memotong pohon-pohon kurma atau menebang pohon-pohon berbuah, maka pada waktu yang sama ia adalah pasukan yang menjaga, melindungi, dan memelihara kekayaan ternak, tidak memotong kambing, domba, lembu, atau unta kecuali untuk tujuan dikonsumsi saja.

Apakah ada pasukan-pasukan seperti itu? Atau bahkan apakah ada sebuah pasukan yang melaksanakan satu saja dari hal-hal tersebut atau menjaga dan memelihara satu saja dari hal-hal tersebut? Ataukah justru sebaliknya, membuat negeri-negeri yang mereka perangi berubah menjadi negeri yang hancur dan luluh lantak? Fakta dan bukti nyata telah menunjukkan apa yang dilakukan oleh agresi komunis atheis terhadap negeri Afghanistan, apa yang dilakukan oleh Serbia di negeri Bosnia dan juga di Kosovo, apa yang dilakukan oleh India di Kashmir terhadap kaum muslimin, begitu juga yang terjadi di Chechnya, dan juga di Palestina oleh Zionis Israel. Betapa besar perbedaan antara hidayah dan tuntunan Allah dengan kesesatan orang-orang Atheis.

  • Sebuah pasukan yang sangat menghormati akidah, keyakinan dan agama-agama terdahulu, menjaga dan melindungi orang-orang yang beribadat dalam biara-biara mereka tanpa sedikit pun mengganggu mereka.

Semua itu adalah dakwah praktis yang membuktikan toleransi dan keadilan Islam. Adapun orang-orang yang menebarkan kerusakan di muka bumi, menentang dan memerangi kebenaran, maka balasan mereka adalah diperangi supaya bisa menjadi pelajaran bagi yang lainnya.

Apa yang termuat dalam wasiat dan pesan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut bukan hanya kata-kata yang diucapkan belaka, tetapi dipraktikkan dan diimplementasikan oleh kaum muslimin pada periode kekhilafahannya dan pada masa-masa setelahnya. Hal itu akan kita lihat dalam gerakan futuhat (ekspansi) pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq insya Allah.

Dampak pasukan Usamah bagi martabat dan kewibawaan Daulah Islamiyah.

Pasukan Usamah pun kembali dengan membawa kemenangan dan kesuksesan setelah berhasil menyiutkan nyali orang Romawi, hingga raja Hercules ketika di Himsh (Homs) setelah mengumpulkan para jenderalnya, berkata kepada mereka, “Sebelumnya aku telah memperingatkan kalian akan hal ini, akan tetapi kalian tidak mau mempedulikannya!! Lihatlah, bagaimana bangsa Arab datang dengan menempuh perjalanan sebulan, lalu langsung menyerbu kalian, kemudian langsung keluar lagi saat itu juga tanpa terluka.”

Saudaranya pun mengusulkan kepadanya untuk mengirim pasukan garnisun atau pasukan penjaga perbatasan di Al-Balqa`.  Lalu ia pun melakukannya dan menunjuk salah satu sahabatnya untuk memimpinnya. Ia pun tetap tinggal di sana hingga para pasukan Islam datang ke Syam pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab.

Kemudian semua orang Romawi pun merasa terheran-heran dan berkata, “Apa maunya orang-orang itu (kaum muslimin), pemimpin mereka mati, kemudian mereka melakukan penyerbuan ke tanah kami?!”

Kabilah-kabilah Arab di Utara pun merasakan ketakutan, ketercekaman, dan kecemasan terhadap kekuasaan, kebesaran, dominasi, dan hegemoni Daulah Islamiyah.

Ketika pasukan Usamah yang sukses meraih kemenangan gemilang itu sampai di Madinah, maka Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq pun langsung keluar menyambut kedatangan mereka bersama sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar. Mereka semua keluar dengan penuh riang gembira menyambut pasukan Usamah tersebut. Penduduk Madinah pun menyambut kedatangan mereka dengan penuh kekaguman, kebahagiaan, salut, penghormatan, dan penghargaan.

Usamah pun masuk Madinah dan langsung menuju ke masjid Rasulullah dan melaksanakan shalat sebagai bentuk ungkapan syukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada dirinya dan kaum muslimin. Misi militer yang dipimpin Usamah tersebut memiliki kesan dan pengaruh yang besar bagi kehidupan kaum muslimin, juga terhadap kehidupan orang-orang Arab musyrik yang sebelumnya mereka berpikir untuk melakukan penyerbuan kepada kaum muslimin. Juga, terhadap kehidupan bangsa Romawi yang negeri kaum muslimin membentang hingga berbatasan dengan wilayah mereka.

Dengan reputasi dan popularitasnya, pasukan Usamah melakukan apa yang tidak mereka lakukan dengan kekuatan dan jumlahnya. Dengan reputasinya itu, pasukan Usamah berhasil membuat orang yang sebelumnya ingin maju menjadi mundur teratur dan mengurungkan niatnya,  orang-orang yang sebelumnya bersatu dan berkumpul menjadi bubar, orang-orang yang hampir ingin melakukan penyerbuan kepada kaum muslimin menjadi berubah pikirannya dan beralih untuk membuat perjanjian gencatan senjata dengan kaum muslimin. Kewibawaan telah melakukan aksinya sebelum manusia melakukan dan sebelum senjata bergerak.

Sungguh, pengiriman pasukan Usamah tersebut merupakan sebuah nikmat bagi kaum muslimin, karena front gerakan kemurtadan di Utara berubah menjadi front gerakan yang paling lemah. Barangkali di antara dampak hal ini adalah, bahwa front tersebut pada masa futuhat, untuk mengalahkannya adalah lebih ringan dan mudah bagi kaum muslimin daripada mengalahkan front musuh yang ada di Irak. Semua itu semakin memperkuat dan mempertegas bahwa dalam situasi-situasi krisis, di antara pihak-pihak yang berupaya mencari solusi, Abu Bakar Ash-Shiddiq-lah yang paling tajam pandangannya dan paling dalam pemahamannya.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat

Pasukan Usamah

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Merealisasikan Rencana Pengiriman Misi Militer yang Dipimpin Oleh Usamah Negara Romawi adalah salah satu dari dua...

Hijrah Abu Bakar Ash-Shiddiq ke Madinah Bersama Rasulullah

Kaum kafir Quraisy begitu keras dalam melancarkan teror, intimidasi, dan penindasan terhadap kaum muslimin. Maka, di antara mereka ada yang hijrah ke tanah Habasyah...

Artikel Terkait

Rezeki

Kewajiban Mencari Harta Halal Setiap orang tentu ingin kehidupan di dunia berjalan normal. Setidaknya ia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya...

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...