Indonesia Statistics

Indonesia
78,572
Confirmed
Updated on 15/07/2020 1:14 am
Indonesia
37,636
Recovered
Updated on 15/07/2020 1:14 am
Indonesia
3,710
Deaths
Updated on 15/07/2020 1:14 am

Indonesia Statistics

Indonesia
78,572
Confirmed
Updated on 15/07/2020 1:14 am
Indonesia
37,636
Recovered
Updated on 15/07/2020 1:14 am
Indonesia
3,710
Deaths
Updated on 15/07/2020 1:14 am

Penaklukan Irak

Dr. Zakir Naik Jelaskan Mengapa Daging Babi Haram Pada Dokter Jepang

Seorang gadis asal Jepang bernama Mamoko Suzuki yang berprofesi sebagai dokter bertanya kepada Dr. Zakir Naik mengenai alasan dibalik pengharaman daging babi dan meminta...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Konfusianisme

Seorang pemuda Korea yang bekerja pada biro perjalanan bertanya kepada Dr. Zakir Naik. Nama pemuda Korea itu adalah Kim. Sebagai seorang penganut Konfusianisme, dia...

Apakah Al-Qur’an Melarang Penggunaan Senjata Nuklir? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada saat Dr. Zakir Naik berceramah di Jepang tanggal 8 November 2015 yang lalu, ada sebuah pertanyaan unik yang diajukan oleh seorang guru asal...

Apakah Kisah Isra’ Mi’raj Hanya Dongeng Belaka? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo pada bulan Oktober 2015, seorang wanita Jepang ateis bernama Yoko dengan berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu...

Dr. Zakir Naik Mendapat 2 Pertanyaan dari Pria Mualaf

Seorang pria muallaf yang baru saja masuk Islam bertanya kepada Dr. Zakir Naik ketika beliau berceramah di Tokyo pada tanggal 7 Oktober 2015. Pria...

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Penaklukan Irak

Tidak berselang lama setelah selesai perang terhadap orang-orang yang murtad dan ketenangan mulai merambah semenanjung Arab yang sebelumnya menjadi medan pertempuran ini, maka Ash-Shiddiq kemudian berusaha melaksanakan rencana penaklukan yang telah dicanangkan oleh Rasulullah.

Pasukan Ash-Shiddiq untuk penaklukan Irak terdiri dari dua pasukan:

1. Pasukan pertama dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid, pada saat itu sedang berada di Yamamah. Maka Ash-Shiddiq mengirim surat kepadanya untuk memberikan perintah kepadanya agar menyerang Irak dari arah Barat Daya. Ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Berjalanlah kamu hingga masuk Irak dan mulailah dengan Faraj Al-Hindi yaitu daerah Ablah, dan Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid agar masuk Irak dari bagian atas, bersosialisasi dengan masyarakat dan mengajak mereka ke jalan Allah. Apabila mereka berkenan maka masuk Islam, dan apabila tidak maka membayar jizyah. Dan apabila mereka menolak itu semua maka diperangi. Abu Bakar memberikan perintah agar tidak memaksa orang untuk berjalan bersamanya dan agar tidak meminta bantuan kepada orang yang Murtad meskipun sudah masuk Islam lagi. Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid agar mengajak dengan tanpa paksaan kepada orang yang dilewatinya. Dan Ash-Shiddiq menyiapkan pasukan untuk memberikan bantuan kepada Khalid.

2. Pasukan kedua di bawah pimpinan Iyadh bin Ghanam, pada saat itu, ia sedang berada di wilayah antara An-Nabaj dan Hijaz. Ash-Shiddiq mengirim surat kepadanya agar Irak dari arah Timur Laut, mulai dari wilayah Al-Mushayyikh. Ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Berjalanlah kamu hingga Al-Mushayyikh dan mulailah dari sana. Kemudian masuklah ke Irak dari bagian atasnya hingga kau bertemu dengan Khalid. Dan perintahnya ditambah lagi dengan mengatakan, “Izinkanlah orang yang ingin kembali, kamu berdua jangan melakukan penaklukan dengan orang-orang yang berangkat karena terpaksa.” Maksudnya Abu Bakar melarang mereka berdua agar tidak memaksa seseorang untuk melakukan peperangan bersama mereka berdua. Barang siapa yang maju diperbolehkan demikian pula yang mengundurkan diri.

Ash-Shiddiq mengirim pesan kepada Khalid dan Iyadh, agar mereka berdua segera berlomba-lomba untuk cepat sampai di Hirah. Orang yang paling cepat sampai ke Hirah, maka dia akan menjadi pemimpin bagi sahabatnya yang lain. Abu Bakar mengatakan, “Apabila kalian berdua telah berkumpul di Hirah dan telah kalian cerai beraikan persenjataan Persia, dan kalian amankan daerah tersebut hingga kaum Muslimin dapat datang ke sana, maka salah satu dari kalian menjadi pelindung bagi kaum Muslimin dan bagi sahabatnya di Hirah. Dan yang lainnya menyerbu ke musuh Allah dan musuh kalian semua, yaitu ke Persia, ke rumah, dan markas kebanggaan mereka, Madain.

3. Sedangkan Al-Mutsanna bin Haritsah mendatangi Abu Bakar dan mendorong Abu Bakar untuk memerangi Persia. Al-Mutsanna berkata kepada Abu Bakar, “Utuslah aku kepada kaumku.” Maka Abu Bakar mengabulkan permintaan tersebut, sehingga Al-Mutsanna pulang dan pergi berjihad di Irak. Kemudian dia juga mengutus saudaranya yang bernama Mas’ud bin Haritsah untuk menemui Abu Bakar agar membantunya. Maka Abu Bakar menyampaikan pesan lewat Mas’ud bin Haritsah untuk Mutsanna, “Sesungguhnya aku telah mengutus Khalid bin Al-Walid kepadamu untuk menuju ke tanah Irak, maka sambutlah ia dengan orang-orang yang bersamamu, kemudian bantulah ia, dan tolonglah ia. Jangan kamu lawan perintahnya, jangan kamu menyalahi pendapatnya. Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang disebut Tuhan dalam firman-Nya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (Al-Fath: 29) Dia menjadi Amir bagi kalian, apabila dia menentukan sesuatu terhadapmu, maka tetaplah kamu dalam ketentuan tersebut.”

Di antara kaum Al-Mutsanna terdapat seorang lelaki bernama Madz’ur bin Addi, dia keluar dari Al-Mutsanna dan mengirim pesan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seseorang dari Bani Ajl, yang ahli menunggang kuda dan sangat tangguh, bersamaku banyak orang yang puluhannya saja lebih baik dari seratus lelaki. Saya juga mengetahui seluk beluk negeri ini, berani dalam peperangan dan berpengalaman, maka angkatlah aku menjadi pemimpin As-Sawad, niscaya aku akan memberikannya untukmu, insya Allah.”

Al-Mutsanna bin Haritsah menyampaikan pesan kepada Ash-Shiddiq mengenai Madz’ur bin Addi, ia mengatakan, “Sesungguhnya aku memberitahukan kepada Khalifah Rasulullah, bahwa seseorang dari kaumku bernama Madz’ur bin Addi, salah seorang Bani Ajl dengan sejumlah pasukan telah berselisih kepadamu, agar aku mengetahui apa pendapatmu mengenai hal ini.” Maka Ash-Shiddiq membalas Madz’ur bin Addi dengan mengatakan, “Tulisanmu telah sampai kepadaku, dan aku memahami apa yang kamu sampaikan tentang dirimu dan kelompokmu, yang merupakan sebaik-baik kelompok. Aku berpendapat sebaiknya kamu bergabung dengan Khalid bin Al-Walid, sehingga kamu bersamanya, dan tinggallah bersamanya di Irak serta tampil bersamanya.

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirim pesan kepada Al-Mutsanna bin Haritsah, “Sesungguhnya sahabatmu, yang berasal dari Bani Ajl menulis kepadaku untuk meminta sesuatu, dan aku mengirimkan pesan kepadanya agar tetap bersama Khalid bin Al-Walid, hingga aku melihat pendapatku yang lain. Dan ini adalah pesanku kepadamu, aku perintahkan agar kamu selalu di Irak hingga Khalid bin Al-Walid keluar darinya. Apabila Khalid keluar dari Irak maka tetaplah kamu dalam posisimu. Sesungguhnya kamu adalah orang yang mempunyai kelebihan dan pantas dengan segala keutamaan.” Dari semua hal di atas, maka kita dapat mengambil pelajaran di antaranya adalah:

1. Khalid diutus ke Irak pada bulan Rajab, dan pendapat yang lain mengatakan pada bulan Muharram tahun dua belas.

2. Kemampuan Ash-Shiddiq dalam mengatur strategi:

Sesungguhnya perintah-perintah yang diberikan oleh Ash-Shiddiq kepada para pemimpin pasukannya, seperti Khalid dan Iyadh menunjukkan kemampuan strategi yang dimiliki oleh Ash-Shiddiq. Dia telah memberikan sejumlah maklumat tentang taktik dan strategi militer. Ash-Shiddiq menentukan wilayah tertentu terhadap setiap pemimpin pasukannya sebagai titik tolak untuk masuk ke Irak. Di sini seakan-akan Abu Bakar melakukan monitoring kepemimpinan dari Hijaz. Dibentangkan peta Irak di depannya dengan segala jalurnya, maka Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid untuk masuk Irak dari bawah di arah Barat Daya yaitu wilayah Al-Ablah. Dan memerintahkan pemimpin pasukan kedua yaitu Iyadh untuk masuk Irak dari atas di arah Timur Laut yaitu wilayah Al-Mushayyikh, dan memerintahkan kedua pemimpin pasukan ini untuk bertemu di tengah Irak. Di samping itu, khalifah Ash-Shiddiq juga tidak lupa untuk memberikan pesan kepada mereka berdua agar tidak memaksa orang untuk bergabung dengan pasukannya dan tidak memaksa orang untuk tetap tinggal bersama dalam perang. Perekrutan pasukan perang, menurutnya, bukanlah dengan paksaan, melainkan dengan sukarela dan bebas memilih.

3. Merebut Al-Hirah sebagai tempat strategis;

Khalifah Ash-Shiddiq bermaksud untuk menguasai Al-Hirah karena mempunyai letak strategis dalam militer. Al-Hirah terletak tiga mil di Selatan Kufah, sedangkan dari Najef berjarak satu jam berkuda menuju Tenggara Najef. Orang yang memperhatikan peta secara spontan akan melihat pentingnya tempat ini. Al-Hirah merupakan titik pertemuan jalan-jalan dari seluruh arah. Dari Timur, Al-Hirah bertemu dengan Madain melewati sungai Eufrat. Dari Utara, Al-Hirah bertemu dengan Hait, dan juga terhubung dengan Al-Anbar dengan melewati jembatan Al-Anbar. Sedangkan dari Barat, Al-Hirah bertemu dengan Syam, sebagaimana juga terhubung dengan Al-Ablah di wilayah Bashrah di Irak. Dan juga terhubung dengan Kaskur, As-Sawad, dan An-Nu’maniyah di sungai Dajlah. Dari sini jelaslah pentingnya menguasai tempat yang sangat strategis ini.

Ash-Shiddiq benar ketika menjadikan Al-Hirah ini sebagai sasaran dua pasukannya, yaitu pasukan Khalid dan pasukan Iyadh. Al-Hirah merupakan jantung Irak dan tempat penting yang terdekat dengan Madain, ibukota Imperium Persia. Dan Persia menyadari hal tersebut, maka ia selalu mengirim pasukan untuk mengembalikan tempat ini ke dalam kekuasaannya. Karena orang yang mampu menguasai Al-Hirah, dia akan mampu menguasai seluruh wilayah yang berada di Barat sungai Eufrat. Selain hal ini, bagi kekuatan Islam, tempat ini juga sangat penting dalam menghadapi pertempuran melawan pasukan Romawi di Syam.

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk bisa sampai ke Al-Hirah dalam penaklukan-penaklukan, dalam istilah strategi militer modern dikenal dengan gerakan mencengkram atau gerakan mengepung dengan banyak kelompok pasukan. Hal ini menegaskan bahwa proses penaklukan Irak dan bergabungnya banyak pasukan di Semenanjung Arab untuk berjihad, bukanlah sekadar kebetulan atau mengalir begitu saja. Orang yang memperhatikan akan melihat kecerdasan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam strategi perang; dimulai dengan mengambil keputusan untuk mengatur dan mengarahkan pasukan, menentukan tugas dan tujuan-tujuannya, membangun kerja sama antar mereka, dan menjaga keseimbangan dalam bertindak, namun Abu Bakar tetap memberikan kebebasan kepada para pemimpin pasukan untuk mengambil kebijakan militer dalam mengatur teknis pertempuran dengan cara yang mereka anggap sesuai.

4. Hilangnya rasa egoisme bagi Al-Mutsanna bin Haritsah.

Di antara peristiwa yang terjadi dalam jihad di Irak adalah apa yang terjadi pada Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani. Ia adalah seorang pemimpin pasukan yang memerangi musuh di Irak dengan kaumnya sendiri. Ketika Abu Bakar mengetahui hal tersebut, maka sang Khalifah memberikan kabar gembira dengan apa yang ada padanya dan memberikan kekuasaan terhadap orang yang berada di sisinya. Hal itu terjadi sebelum kedatangan Khalid. Ketika Ash-Shiddiq mempunyai maksud untuk menyerang Persia, maka Ash-Shiddiq berpendapat bahwa Khalid lebih sesuai mengemban misi ini, maka Ash-Shiddiq mengutus Khalid, dan mengirim pesan kepada Al-Mutsanna yang berisi perintah untuk bergabung dengan Khalid dan menaatinya. Maka dengan serta merta, Al-Mutsanna pun segera mematuhi dan menyusul Khalid dengan semua pasukannya. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat mulia bagi Al-Mutsanna. Banyaknya pasukan, dan keberadaannya yang lebih dahulu dalam memimpin pasukan di Irak dari pada Khalid, tidak membuatnya menjadi gengsi dan lupa diri. Semua itu tidak membuat Al-Mutsanna merasa bahwa ia lebih berhak memimpin dari pada Khalid.

5. Kehati-hatian Ash-Shiddiq dalam urusan jihad di jalan Allah.

Disebutkan dalam pesan Abu Bakar kepada Khalid dan Iyadh bin Ganam, agar mereka menjauhi minta pertolongan kepada orang-orang yang pernah Murtad dan orang yang tetap dalam Islam setelah Rasulullah. Dan jangan sampai salah satu dari orang yang pernah Murtad bertempur bersama kalian, hingga aku menemukan pendapatku, dan tidak ada lagi orang yang murtad. Dan akhirnya seiring dengan perjalanan waktu orang-orang melihat hal tersebut, ketika keimanan mereka sudah teguh, sebagaimana yang akan dijelaskan insya Allah. Sikap Abu Bakar yang seperti ini karena dilandasi sikap kehati-hatian dalam urusan jihad di jalan Allah. Agar orang-orang yang tidak ikhlas yang hanya terobsesi dunia tidak turut serta dalam jihad ini, yang hanya akan menjadi penyebab gagalnya perjuangan. Ini adalah pelajaran penting dari Abu Bakar yang digali dari pendidikan Rasulullah, yaitu dengan membersihkan barisan Islam dari cela semacam ini, menyatukan tujuan sehingga murni karena Allah, sehingga bisa selamat dari bahaya yang bisa saja terjadi karena beragamnya tujuan. Abu Bakar tetap mengupayakan prinsip mulia ini, meskipun pada saat itu, kekuatan Islam membutuhkan banyak pasukan. Hal ini menunjukkan keyakinan Abu Bakar bahwa yang terpenting adalah tujuan yang mulia dan keikhlasan, bukannya banyaknya jumlah.

6. Berlaku lemah lembut kepada manusia dan berpesan untuk para petani Irak.

Dalam pesan Ash-Shiddiq kepada Khalid adalah, “Berlemah lembutlah kepada penduduk Persia dan terhadap orang-orang yang berada dalam kekuasaanmu.” Perkataan ini menunjukkan kepada kita bahwa tujuan jihad dalam Islam di luar daerah Islam adalah jihad dakwah, hal ini dimaksudkan untuk menyeru manusia agar masuk ke dalam Islam. Ketika dakwah tidak mungkin dilakukan karena terhalang oleh pemerintahannya, maka pemerintahan ini harus ditundukkan agar rakyatnya dapat masuk Islam. Tujuan ini sangat jelas dalam setiap pertempuran yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka menyeru musuh-musuh mereka untuk masuk Islam sehingga mereka mendapatkan apa yang ada pada kaum Muslimin baik suka maupun duka. Kemudian apabila mereka enggan, maka mereka harus tunduk dalam pemerintahan Islam dan bersedia membayar jizyah sebagai ganti perlindungan yang diberikan oleh pemerintah Islam kepada mereka. Namun apabila mereka tetap enggan maka mereka harus diperangi, hingga tampaklah kalimat Allah yang menang. Ash-Shiddiq memberikan wasiat kepada para pemimpin pasukannya terhadap para petani Irak dan penduduk As-Sawad, dengan harapan mereka mendapatkan petunjuk dan mereka merupakan sumber kekayaan. Negara tidak akan berdiri tanpanya. Pertanian merupakan sumber kekayaan dan berhubungan langsung dengan kehidupan manusia.

7. Pasukan ini tidak akan terkalahkan apabila di dalamnya terdapat orang seperti ini.

Ketika Khalid meminta bantuan kepada Abu Bakar ketika dalam perjalanannya menuju ke Irak, maka Abu Bakar mengirimkan bantuan kepadanya dengan mengirim Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi. Maka dikatakan kepadanya, “Apakah kamu akan membantu orang yang pasukannya menjadi tercerai berai oleh sebab seorang lelaki?” Maka dia mengatakan, “Pasukan ini tidak akan terkalahkan apabila di dalamnya terdapat orang seperti ini.” Hal ini diperkirakan oleh Abu Bakar yang akan semakin jelas dalam peristiwa-peristiwa Irak setelah ini. Abu Bakar adalah orang yang paling tahu tentang karakter seseorang dan kapasitasnya yang bermacam-macam.

Peperangan Khalid bin Al-Walid di Irak

Sampailah Khalid di Irak bersama dengan dua ribu pasukan yang sebelumnya memerangi orang-orang yang Murtad dan kemudian disusul oleh delapan ribu pasukan dari kabilah Rabi’ah. Khalid mengirim pesan kepada tiga pemimpin di Irak yang disertai oleh pasukan yang siap bertempur; mereka adalah Madz’ur bin Addi Al-Ajaly, Sulma bin Al-Qayyin At-Tamimi, dan Harmalah bin Muraithah At-Tamimi. Mereka semua bersedia dan menggabungkan pasukannya yang jumlahnya ditambah dengan pasukan Al-Mutsanna mencapai delapan ribu pasukan, maka pasukan kaum Muslimin menjadi delapan belas ribu pasukan. Mereka bersepakat bahwa tempat yang menjadi arena berkumpulnya pasukan adalah Al-Ablah. Sebelum berjalan masuk ke Irak, Khalid mengirim surat peringatan kepada Hurmuz, yang merupakan penguasa Al-Ablah. Khalid mengatakan, “Masuk Islamlah, niscaya kamu akan selamat, atau kamu mengakui atas dirimu dan kaummu sebagai ahlu dzimmah dan membayar jizyah, apabila tidak, maka janganlah kamu menyalahkan kecuali terhadap dirimu sendiri. Sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa kaum yang suka mati, sebagaimana kamu suka hidup.”

Khalid mengambil cara ini yang merupakan bentuk perang psikologi, agar Hurmuz dan pasukannya merasa takut dan gentar, serta menjadi lemah dan kendor. Ketika Khalid mendekati musuh, maka dia membagi pasukan menjadi tiga kelompok. Khalid memerintahkan setiap kelompok untuk mengambil jalan, dan tidak melalui jalan yang sama. Dalam dunia militer, hal ini berfungsi untuk keamanan dari pencegatan. Al-Mutsanna menjadi kelompok pertama yang maju, kemudian disusul oleh kelompok yang di dalamnya terdapat Addi bin Hatim Ath-Tha’i, kemudian Khalid keluar setelah mereka berdua dan berjanji bertemu di Al-Hidhir untuk mempersiapkan diri dan mengisi tenaga untuk melawan musuh mereka.

a. Perang Dzatu As-Salasil

Hurmuz mendengar perjalanan Khalid dan ia mengetahui bahwa kaum Muslimin akan bertemu di Al-Hidhir. Maka Hurmuz mendahului mereka untuk menuju ke Al-Hidhir, yang dipimpin langsung oleh dua panglima yang bernama Qabadz dan Anu Syujjan. Ketika Khalid mengetahui bahwa mereka bermaksud menuju Al-Hidhir, maka Khalid menuju Kazhimah, namun Hurmuz mendahuluinya. Maka Hurmuz mendapatkan air dan memilih tempat yang sesuai untuk pasukannya. Dan datanglah Khalid dan turun di tempat yang tidak ada airnya. Maka, Khalid mengatakan kepada para sahabatnya, “Turunkan barang-barang kalian dan bersabarlah atas air, sesungguhnya air akan menjadi milik di antara dua kelompok yang paling sabar dan dua pasukan yang paling mulia.”

Kaum Muslimin meletakkan barang-barangnya dan kuda berdiri berhenti. Pasukan pejalan kaki maju dan menyerang orang-orang kafir. Allah memberikan karunia kepada kaum Muslimin dengan datang awan yang kemudian turun hujan di belakang barisan kaum Muslimin, sehingga kaum Muslimin dapat meminumnya untuk kekuatan. Hal ini adalah salah satu contoh dari beberapa contoh yang menunjukkan kebersamaan Allah kepada para kekasihnya yang beriman dengan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada mereka. Kaum Muslimin menghadapi Hurmuz, yang sudah terkenal dengan kelicikannya, hingga menjadi peribahasa tentang keburukan.

Hurmuz melakukan tipu daya kepada Khalid. Hurmuz sudah bersepakat dengan pelindungnya untuk menantang Khalid duel satu lawan satu, kemudian setelah Khalid nanti sendirian, maka mereka beramai-ramai menyerang Khalid.

Muncullah Hurmuz di antara dua pasukan. Ia menantang Khalid untuk bertanding satu lawan satu, maka Khalid pun melayaninya. Keduanya bertemu dan terjadilah saling serang. Dan ketika Khalid sudah menguasai Hurmuz, maka pelindung Hurmuz keluar dan memegang Khalid serta mengelilingi dan bersiap menyerangnya. Namun hal tersebut tidak menghalangi Khalid untuk membunuh Hurmuz.

Melihat hal tersebut, sang pahlawan Qa’qa’ bin Amr menjadi sadar sehingga ia kemudian membawa pasukan berkuda untuk menyerang pelindung Hurmuz dan pada saat itu Khalid sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan mereka.

Pasukan kaum Muslimin terus saja menyerbu dan akhirnya kalahlah pasukan Persia.

Inilah peristiwa pertama yang menunjukkan kebenaran perkiraan Abu Bakar ketika mengatakan tentang Qa’qa ini, “Pasukan ini tidak akan terkalahkan apabila di dalamnya terdapat orang seperti ini.” Sedangkan Khalid sendiri tidak kalah kehebatannya. Khalid bertanding melawan pemimpin pasukan Persia dan pelindungnya yang berada di sekelilingnya. Namun mereka tidak mampu menyingkirkan Khalid dari Hurmuz, hingga Khalid terus tegar menghadapi mereka, sampai Qa’qa’ dan orang yang bersamanya datang dan menumpas mereka semua.

Pada pertempuran ini, pasukan Persia mengikatkan dirinya dengan yang lain menggunakan rantai agar tidak lari, namun hal tersebut tidak berfungsi apa-apa melawan singa-singa jantan pasukan kaum Muslimin. Oleh sebab itu perang ini disebut dengan perang Dzatu As-Salasil.

Kaum Muslimin mendapatkan ghanimah dari pasukan Persia sebanyak muatan seribu unta. Khalid mengutus pasukan untuk menaklukan daerah sekitar Al-Hirah yang berupa benteng-benteng, sehingga mendapatkan harga ghanimah yang banyak. Khalid tidak mengusik kaum petani yang tidak memeranginya, bahkan Khalid memperlakukannya dengan baik, sebagaimana yang dipesankan oleh Ash-Shiddiq. Khalid tetap memberikan tanah yang telah digarapnya kepada mereka dan membantunya untuk tetap dapat memetik hasil kerjanya.

Barang siapa yang masuk Islam maka diberikan ketentuan untuk membayar zakat, dan barang siapa yang tetap pada agamanya maka disuruh untuk membayar jizyah, dan besar jizyah ini jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan upeti yang ditarik oleh para raja Persia. Khalid tidak mengambil tanah dari para pemiliknya yang merupakan orang-orang Persia, namun hanya mengaturnya dan membuatnya adil bagi para pekerja, sehingga mereka merasa ada unsur baru yang adil dan lebih manusiawi yang menyertai penaklukan ini.

Khalid mengirimkan seperlima ghanimah dan harta kepada Ash-Shiddiq dan sisanya untuk para pejuang. Dan di antara barang yang dikirim kepada Ash-Shiddiq adalah peci Hurmuz, namun Ash-Shiddiq menghadiahkannya kepada Khalid, sebagai balasan atas jerih payahnya. Peci Hurmuz ini nilainya mencapai seratus ribu dan dipenuhi dengan mutiara. Bangsa Persia meninggikan pecinya sesuai dengan tingkatannya. Barang siapa yang sempurna kemuliaannya maka harga pecinya mencapai seratus ribu. Dan Hurmuz termasuk orang yang sempurna kemuliaannya bagi bangsa Persia.

b. Perang Al-Madzar (Ats-Tsani)

Hurmuz mengirim berita kepada Kisra tentang surat Khalid kepadanya, maka Kisra bantuan pasukan yang dipimpin oleh Qarin. Namun Hurmuz menganggap remeh pasukan kaum Muslimin. Hurmuz segera menyerang kaum Muslimin sebelum datangnya Qarin, maka celakalah ia dan celaka pula pasukannya. Sisa pasukan yang kalah perang lari dan bertemu dengan pasukan Qarin. Mereka saling mencela dan menggerutu dan memberanikan diri untuk bertempur melawan kaum Muslimin. Mereka bersiaga di tempat yang dikenal dengan Al-Madzar.

Di sisi lain, Khalid telah mengutus Al-Mutsanna bin Haritsah dan saudaranya yang bernama Al-Mu’anna untuk mengejar kaum yang lari tersebut. Mereka berdua menaklukkan sebagian benteng pertahanan. Kemudian mereka mengetahui tentang kedatangan pasukan Persia, maka keduanya menyampaikan berita ini kepada Khalid. Dan Khalid menyampaikan berita kepada Abu Bakar bahwa dia dan pasukannya telah menuju ke pertempuran ini. Khalid berjalan dan sudah siap untuk perang, maka bertemulah pasukan kaum Muslimin dengan mereka di Al-Madzar, dan terjadilah pertempuran yang sengit.

Pasukan Persia ini telah dibuat murka oleh pertempuran sebelumnya, maka pemimpinnya yang bernama Qarin keluar dan menantang untuk tanding satu lawan satu. Khalid bermaksud melayaninya, namun kedahuluan Ma’qal bin Al-A’masy bin An-Nabbasy, sehingga ia berhasil membunuh Qarin. Qarin telah melindungi Qabadz dan Anu Syujjan; keduanya adalah pemimpin pasukan yang turut serta dalam pertempuran pertama dan lari dari pertempuran, maka mereka berdua dihadang oleh dua pahlawan kaum Muslimin. Qabadz dibunuh oleh Addi bin Hatim Ath-Tha’i, dan Anu Syujjan dibunuh oleh Ashim bin Amr At-Tamimi. Pertempuran berkecamuk hebat di antara dua kelompok. Namun pasukan Persia kalah setelah terbunuhnya pemimpinnya. Dan mereka yang terbunuh dalam perang itu sebanyak tiga puluh ribu orang, sedangkan sisanya menuju ke kapal untuk melarikan diri, sehingga kaum Muslimin tidak dapat mengejarnya. Khalid tinggal di Al-Madzar dan menyerahkan rampasan Salb kepada yang berhak, dan membagi harta fai’. Sebagian seperlima diberikan kepada orang-orang yang bertempur dan sebagian dari seperlima yang lain dikirimkan ke Madinah.

c. Perang Al-Waljah

Berita petaka kaum Persia di Al-Madzar sampai kepada Kisra, maka dengan segera Kisra mengutus Al-Andarzaghar untuk memimpin pasukan yang sangat besar dan menggabungkannya dengan pasukan yang lain yang dipimpin oleh Bahman Zadzaweih. Al-Andarzaghar bergerak dari Madain melewati Kaskar dan dari sana menuju ke Al-Waljah. Sedangkan Bahman Zadzaweih menempuh wilayah As-Sawad. Ia bermaksud mengepung pasukan kaum Muslimin antara dia dan Al-Andarzaghar. Dalam perjalanannya, ia mampu mengepung sejumlah orang pemimpin distrik.

Berkumpullah kekuatan Persia di Al-Waljah. Ketika Al-Andarzaghar merasa bahwa pasukannya sangat banyak sekali, maka ia memutuskan untuk menyerang Khalid. Ketika berita bergabungnya pasukan Persia ini dan berkumpulnya mereka di Al-Waljah sampai kepada Khalid dan pada waktu itu ia sedang berada di Ats-Tsani (tempat dekat Bashrah, yang artinya tikungan sungai dan gunung) maka Khalid berpikir, bahwa sebaiknya kaum Muslimin menyerang pasukan yang sangat besar ini dari tiga arah hingga menjadi tercerai berai. Serangan yang mendadak ini akan membuat mereka terkejut. Oleh karena itu, Khalid segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan rencana penyerangan. Dan untuk melindungi barisan belakangnya, Khalid memerintahkan Suwaid bin Muqrin untuk tetap berada di Al-Hafair. Khalid bergerak bersama pasukannya menuju ke Al-Waljah. Setelah melakukan gerakan pengamatan yang cukup terhadap wilayah tersebut, ternyata medan tempurnya berupa dataran yang luas yang bisa untuk bergerak bebas. Maka sebagaimana rencananya, Khalid menyerang pasukan Persia dari tiga arah. Dua kelompok pasukan kaum Muslimin ditugaskan Khalid untuk menyerang pasukan Persia dari belakang dan dari kedua sisinya.

Terjadilah peperangan yang sangat sengit antara pasukan Persia dan kaum Muslimin. Sedangkan Khalid menyerang dengan sangat sengit dari arah depan. Tidak berselang lama dalam posisi yang sesuai, hancurlah pertahanan belakang pasukan Persia sehingga mereka mendapatkan kekalahan telak.

Al-Andarzaghar melarikan diri bersama sebagian punggawanya, namun mereka akhirnya mati kehausan.

Khalid berdiri berkhutbah di depan orang-orang. Khalid memberikan motivasi dan sikap dengan mengatakan, “Tidakkah kamu mengetahui makanan-makanan yang ada di sini? Demi Allah, andai jihad di jalan Allah dan berdakwah kepada Islam tidak diwajibkan terhadap kami dan hanya tersisa motif kehidupan saja, niscaya pendapat yang ada adalah agar kami berperang untuk wilayah ini hingga kami lebih berhak atasnya dan kami hilangkan rasa lapar dan kemiskinan.” Kemudian Khalid membagi harta ghanimah menjadi lima bagian; empat per limanya dibagi mereka dan seperlimanya dikirimkan kepada Ash-Shiddiq. Dan para tawanan ditawan, sedangkan para petani membayar jizyah.

Dalam khutbah Khalid bin Al-Walid kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa bangsa Arab di jaman Jahiliyah, terlebih mereka bukanlah orang-orang yang mempunyai motif akhirat, mereka bukanlah orang yang mendapat keberuntungan di dunia, karena mereka selalu tercerai berai dan berselisih. Khalid mengatakan, “Kami adalah para pencari akhirat. Kami mempunyai tujuan mulia yang akan kami tempuh dan perjuangkan. Andai kami tidak mempunyai tujuan ini dan kami tidak berjuang karenanya, maka sesungguhnya secara logika kami akan bertempur untuk memperbaiki kondisi kehidupan kami.”

Ketika Khalid menyampaikan ungkapan ini, bukan berarti Khalid mempunyai sikap ganda beserta dengan tujuan mulia perjuangan Islam yang disebutnya tadi. Khalid menyebut hal tersebut hanya sebagai sesuatu yang biasa dilakukan, andai ia tidak mempunyai tujuan mulia yang disebutkan tadi. Seolah-olah ia mengatakan, “Apabila kami menyerang mereka karena tujuan duniawi ini, maka apakah kami tidak menyerang mereka karena tujuan akhirat dan mencari ridha Allah?”

Perkataan ini menghilangkan keraguan, memperkuat tekad, menghidupkan hati, dan mempunyai daya motivasi yang tinggi. Setelah mendengar perkataan ini, maka jiwa-jiwa yang beriman akan melesat untuk berjuang di jalan Allah dengan segala kekuatan dan kemampuannya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa pada pertempuran Al-Waljah ini, Khalid bertempur melawan seorang pasukan Persia yang sepadan dengan seribu lelaki, dan Khalid berhasil membunuhnya. Setelah berhasil membunuhnya, Khalid memegang jasad laki-laki tersebut dan berdoa atas kematiannya.

d. Pertempuran Ullais dan Penaklukan Amghisyia

Dalam pertempuran ini, sebagian kaum Nasrani Arab bergabung dengan orang-orang ajam. Mereka menjadi penolong Persia untuk melawan kaum Muslimin. Kaum Nasrani ini dipimpin oleh Abdul Aswad Al-Ajali dan Persia dipimpin oleh Jaban. Bahman Zadzawaih memberikan perintah kepadanya agar tidak menghadapi kaum Muslimin kecuali dengan serangan mendadak. Setelah Khalid mengetahui berkumpulnya kaum Nasrani Arab dan bangsa Arab dari wilayah Al-Hirah, maka Khalid bermaksud untuk menyerangnya. Ia bertujuan ke sana untuk memeranginya. Pada saat itu, Khalid tidak mengetahui dengan bergabungnya pasukan Persia dengan sekumpulan orang Arab ini. Ketika berhadapan dengan pasukan kaum Muslimin, maka Jaban langsung menyuruh pasukannya untuk menyerang kaum Muslimin.

Mereka berpura-pura tidak menganggap keberadaan Khalid dan pasukannya, tidak mengindahkannya, dan membiarkan mereka untuk santai dan makan-makan, namun Khalid tidak membiarkan mereka berlaku seperti itu, sehingga segera pecahlah pertempuran dengan sengit. Pasukan musuh semakin beringas dan kuat dengan bantuan yang diberikan oleh Bahman Zadzaweih dalam jumlah yang besar. Namun kaum Muslimin bersabar dalam pertempuran yang dahsyat ini. Khalid mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya aku bersumpah kepadamu, apabila Engkau berikan pundak mereka kepada kami, niscaya kami tidak akan menyisakan salah satu dari mereka yang kami kuasai, hingga aku alirkan sungai mereka dengan darah mereka.” Kemudian Allah memberikan karunia kepada kaum Muslimin dan memberikan pundak-pundak mereka kepada kaum Muslimin. Maka Khalid memberikan perintah kepada penyerunya agar menyerukan kepada orang-orang, “Tawanan, tawanan. Janganlah kalian bunuh kecuali yang membangkang.”

Kuda-kuda dihadapkan secara bergelombang dengan digiring bersamaan dengan para tawanan perang yang jumlahnya sangat banyak. Di sisi lain, ditugaskan juga seorang yang bertugas membunuh mereka para tawanan perang yang membangkang. Dan menceburkan mayatnya ke sungai. Hal itu dilakukan siang dan malam bahkan dilanjutkan di hari berikutnya hingga sungai di Ullays terasa penuh oleh mayat mereka.

Al-Qa’qa’ berkata kepadanya, “Andai kamu bunuh penduduk bumi, kamu tidak akan dapat mengalirkan darahnya. Sesungguhnya darah tidak akan lebih dari sekadar dituang ketika sudah tidak mencair dan bumi dicegah dari mengeringkan darah. Maka alirilah darah tersebut dengan air, niscaya kamu akan bisa melaksanakan sumpahmu.”

Karena saking banyaknya mayat yang ada di dalamnya dan darah yang mengalir di dalamnya, maka sungai tersebut dikenal dengan Sungai Darah.

Ketika pasukan musuh kalah, maka Khalid berdiri di depan jamuan makan dan berkata, “Aku telah memberikannya kepada kalian, maka ini untuk kalian.” Dia juga mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah ketika disajikan makanan kepadanya, maka ia memberikannya. Kaum Muslimin duduk untuk makan malam dan orang-orang yang tidak mengenal wilayah dan jenis makanan tersebut mengatakan, “Apakah Ar-Riqaq putih ini!” dan orang-orang yang sudah mengetahuinya menjawab dan mengatakan dengan senda gurau, “Apakah kamu mendengar roti kehidupan?” Mereka menjawab, “Ya.” Dan orang yang mengetahui mengatakan, “Ini dia. Ia disebut Ar-Riqaq. Dan orang Arab menyebutnya Al-Qara.”

Setelah Khalid selesai dari Ullays, maka ia segera bangkit dan mendatangi Amghisyia. Penduduk Amghisyia telah pergi darinya, membawa barang-barangnya dengan tergesa-gesa. Mereka tercerai berai di pelosok negeri dan menyuruh untuk menghancurkan kota tersebut dan apa yang ada di dalamnya. Diperoleh dari kota tersebut banyak sekali melebihi dari kota lain. Anak panah Persia mencapai seribu lima ratus dirham, selain harta rampasan lain.

Ketika bagian seperlima dan berita kemenangan sampai kepada Ash-Shiddiq dan apa yang dilakukan oleh Khalid dan kaum Muslimin, maka Ash-Shiddiq mengatakan, “Wahai kaum Quraisy (Ash-Shiddiq bermaksud memberikan kabar berita yang sampai kepadanya), singa kalian telah meloncati singa yang lain, maka ia memenangkan dan mendapatkan sepotong daging. Para perempuan tidak mampu untuk melahirkan orang seperti Khalid.” Khalid mengirim berita ini dibawa oleh orang yang bernama Jandal dari Bani Ajl. Dan hal ini merupakan bukti yang jelas. Jandal menyampaikan kepada Abu Bakar mengenai berita tentang penaklukan Ullays, perolehan fai’, perolehan tawanan, dan perolehan yang didapat dari pembagian ghanimah dan dari orang-orang. Ketika Jandal menghadap Abu Bakar, dan Abu Bakar melihat ketegasan dan kemantapan beritanya, ia mengatakan, “Siapa namamu?” Jandal menjawab, “Jandal.” Abu Bakar mengatakan, “Hebat sekali Jandal; jiwa penjaga menguatkan jiwa penjaga. Dan pulang kembali dengan kaki-kakinya.” Kemudian Abu Bakar memberikan kepadanya seorang budak perempuan dari tawanan tersebut dan akhirnya Jandal mempunyai anak dari perempuan tersebut.

Perkataan Ash-Shiddiq terhadap Khalid, “Singa kalian telah meloncati singa yang lain, maka ia memenangkan dan mendapatkan sepotong daging. Para perempuan tidak mampu untuk melahirkan orang seperti Khalid.” Merupakan ungkapan penghargaan kepada Khalid dan pengakuan atas kebaikan dan keutamaan mereka dengan setinggi-tingginya, serta mendorong orang-orang yang masih berkemauan lemah agar meningkatkan kerja kerasnya dan berusaha untuk mencapai kemuliaan. Perkataan ini bersumber dari Abu Bakar dan dialah orang yang paling tahu terhadap orang-orang. Ia telah memberikan persaksian dan penghormatan yang merupakan sebaik-baik persaksian dan penghormatan di dalam sejarah. Abu Bakar adalah khalifah kaum Muslimin, ia melihat Khalid, tidak ada orang yang menandinginya dalam kegeniusan dan keberaniannya. Tidak ada yang menyamai dalam kepahlawanan dan kecerdasannya. Dan cukuplah kesaksian untuk Khalid ini diberikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.

e. Penaklukan Al-Hirah

Marzaban bersiap diri untuk Al-Hirah. Ia mengetahui apa yang diperbuat Khalid di Amghisyia. Maka ia yakin, Khalid pasti akan mendatanginya. Oleh karena itu, Marzaban mempersiapkan diri untuk menghadapi hal tersebut. Marzaban mengirim pasukan yang dipimpin oleh anaknya, kemudian ia juga keluar di belakangnya. Marzaban menyuruh anaknya untuk membendung sungai Eufrat agar kapal-kapal kaum Muslimin menjadi terhalang dan terkejut. Marzaban mengirim para petani dan memberitahukan kepada mereka untuk membendung sungai, hingga air meluap. Kemudian, apa yang diperbuat Khalid?

Khalid segera bangkit dengan berkuda bermaksud mengejar putra Marzaban, namun dia hanya menemukan tentara putra Marzaban yang masih tertinggal, sehingga Khalid pun membuat mereka terkejut dan berhasil mengalahkan mereka. Kemudian Khalid bergegas sebelum berita ini sampai ke Marzaban, hingga Khalid bertemu dengan sekelompok pasukan putra Marzaban yang lain yang berjaga di depan sungai Eufrat, maka Khalid pun menghabisi mereka. Kemudian Khalid meminta pasukannya untuk menuju ke Al-Hirah.

Akhirnya menjadi tahulah Al-Marzaban mengenai kematian anaknya dan kematian Azdasyir. Maka hal ini membuatnya terkejut dan takut, sehingga ia melarikan diri menyeberangi sungai Eufrat dengan tanpa pertempuran. Khalid menempatkan pasukannya di Al-Hirah. Sedangkan penduduk-penduduknya menjaga diri. Dan menjadi sempurnalah rencana Khalid untuk mengepung istana Al-Hirah dengan cara seperti ini:

  1. Dhirar bin Al-Azwar mengepung istana Al-Abyadh, yang di dalamnya terdapat Iyas bin Qubaishah Ath-Tha’i.
  2. Dhirar bin Khathab mengepung istana Al-Adasiyyin, yang di dalamnya terdapat Addi bin Addi Al-Ibadi.
  3. Dhirar bin Muqrin mengepung istana Al-Adasiyyin, yang di dalamnya terdapat Ibnu Akkal.
  4. Al-Mutsanna bin Haritsah mengepung istana Ibnu Buqailah, yang di dalamnya terdapat Amr bin Abdul Masih.

Khalid memerintahkan para punggawanya untuk menyeru kaum agar masuk Islam. Apabila mereka bersedia masuk Islam, maka diterima. Sedangkan apabila enggan, maka ditangguhkan hingga satu hari dan memerintahkan mereka agar tidak membantu musuh, namun justru harus memerangi mereka. Dan mereka tidak melarang kaum Muslimin untuk memerangi musuhnya. Namun kaum ini tidak mengindahkan dan malah bermaksud untuk melempari kaum Muslimin dengan batu dari beberapa sisi benteng, maka kaum Muslimin menyerangnya dengan anak panah dan membalas serangan mereka, sehingga dapat menaklukkan mereka dari rumah ke rumah. Kemudian para pendeta mengatakan, “Wahai penduduk istana, tidak ada orang yang membunuh kami selain kalian.” Maka penduduk istana mengatakan, “Wahai orang Arab, kami menerima satu dari tiga hal, maka hentikanlah serangan ini.”

Kemudian para pemimpin istana keluar dan disambut oleh Khalid. Mereka berdamai dengan Khalid dengan janji membayar jizyah. Mereka memberikan seratus sembilan puluh ribu. Kemudian Khalid mengirimkan kabar berita kemenangan, dan hadiah-hadiah kepada Abu Bakar, maka Abu Bakar menerima hadiah dan dianggapnya sebagai jizyah penduduk Al-Hirah, karena untuk menjaga diri dari apa yang tidak diizinkan oleh agama dan memutus kebiasaan orang-orang ajam yang menjajah dengan merampas harta kekayaan penduduknya.

Khalid menulis untuk penduduk Al-Hirah, “Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah apa yang dijanjikan oleh Khalid bin Al-Walid kepada Addi dan Amr bin Addi, Amr bin Abdul Masih, Iyas bin Qubaishah dan Hirai bin Akkal (mereka adalah para pemimpin penduduk Al-Hirah) dan penduduk Al-Hirah pun menerima hal ini. Khalid melakukan perjanjian dengan mereka agar mereka memberikan seratus sembilan puluh ribu dirham yang diterima setiap tahun, sebagai bayaran jizyah dari tangan mereka di dunia, baik para pendeta dan pastor mereka. Kecuali orang-orang yang tidak mampu, tidak mempunyai harta, meninggalkan dunia, dan berkelana meninggalkan keduniawian. Dan orang-orang yang tidak punya yang tidak kuat membayar. Namun apabila mereka menyalahi janji dengan perbuatan atau perkataan, maka mereka tidak mendapatkan jaminan lagi. Perjanjian ini ditulis pada bulan Rabi’ul Awal tahun 12 H.”

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Khalid memberikan salah satu di antara tiga pilihan; kalian masuk agama kami dan kami akan bersama dalam suka dan duka kalian, atau membayar jizyah, atau menentang, maka sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa kaum yang mereka lebih suka menjemput kematian dari pada kehidupan.” Maka mereka mengatakan, “Kami memberikan jizyah kepadamu.” Maka Khalid berkata, “Celaka kalian, sesungguhnya kekafiran itu menyesatkan. Sungguh bodohlah orang Arab yang melakukannya.”

Dalam perkataan Khalid ini menjadi jelaslah nilai-nilai keimanan yang tertanam dalam pasukan pembebasan Irak. Pasukan ini bergerak demi tujuan mulia, yaitu mengajak manusia agar masuk Islam dan menyampaikan petunjuk kepada manusia, bukannya untuk ekspansi kerajaan, menancapkan kekuasaan, dan mencari kenikmatan dunia; sebagaimana yang dijelaskan oleh Khalid mengenai faktor keberhasilan kaum Muslimin dalam perang mereka, yaitu keinginan mereka untuk menjadi syahid dan mencari keridhaan Allah di akhirat. Sebagaimana juga, teks di depan menjelaskan keinginan para sahabat untuk menerapkan sunnah Rasul dalam hal rasa suka untuk menunjukkan manusia.

Hal ini ditunjukkan oleh sikap Khalid ketika ia mencela orang-orang Al-Hirah yang memilih tetap dalam kekafirannya, padahal ketika mereka tetap kafir dan membayar jizyah dapat memberikan maslahat kepada kaum Muslimin dari sisi dana. Namun Khalid adalah orang yang baginya kehidupan dunia bukanlah segalanya. Ia lebih memilih apa yang ada di sisi Allah di akhirat. Rasulullah telah mengajarkan dasar yang mulia ini dalam sabdanya, “Sesungguhnya ketika Allah memberikan petunjuk terhadap satu lelaki disebabkan olehmu, itu lebih baik bagimu dari pada banyaknya hewan ternak (harta yang melimpah).”

Sedangkan dalam penerimaan Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap hadiah penduduk Al-Hirah yang diberikan secara suka rela dan tidak dipaksa, kemudian Abu Bakar menganggapnya sebagai jizyah, merupakan sikap yang adil dan menjaga diri serta khawatir menzhalimi ahli dzimmah atau membebaninya terhadap hal yang tidak perlu, hal ini merupakan pelajaran penting dalam menegakkan keadilan di antara manusia.

Syaikh Thanthawi membandingkan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa dan penaklukan yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan perbandingan yang baik yang tercermin dalam syair berikut ini,

Ketika menjadi milik kami, maka keadilan terjaga dari kami.
Sedangkan ketika menjadi milik kalian, maka darah menjadi dialirkan.
Cukuplah bagi kalian perbedaan ini antara kita.
Sesungguhnya setiap wadah dengan apa yang ada di dalamnya, menjadi basah.

  • Hirah sebagai daerah pertahanan pasukan Islam

Daerah Hirah dapat dibuka oleh kaum Muslimin melalui pertempuran. Berpijak dari Hirah inilah, kaum Muslimin kemudian dapat melanjutkan misinya membuka daerah-daerah Persia. Karena secara geografi dan budaya, Hirah terletak di antara Irak dan Persia, maka panglima perang umum pasukan Islam menjadikan Hirah sebagai pangkalan utama memberikan komando dan markas induk koordinasi pasukan-pasukan Islam menerima instruksi dari pimpinan pusat untuk menyerang, bertahan, mengirim bantuan, dan pengaturan-pengaturan teknis di lapangan. Demikian pula, Hirah ditetapkan sebagai pusat pertahanan umum bagi pengelolaan wilayah dan politik yang mengontrol wilayah yang sudah dikuasai Islam.

Khalid menyebar para petugasnya ke wilayah-wilayah tersebut untuk memungut Al-Kharraj (pajak) dan Jizyah (upeti) di samping mengirim para komandan pasukan ke pantai atau pelabuhan untuk menjaga stabilitas keamanan Hirah. Khalid akan terjun langsung ke lapangan sepanjang apa yang diinginkan dapat diperoleh dalam upaya menciptakan stabilitas keamanan dan politik di wilayahnya.

Berita tentang Khalid ini kemudian cepat menyebar kepada para kaum cerdik dan pandai dan tokoh masyarakat. Sehingga mereka menemui Khalid untuk berdamai dengannya sampai tidak ada satu perkampungan pun di Irak, mulai dari pusat sampai daerah pinggiran, kecuali tunduk setia kepada Islam dengan menjadi maula kaum Muslimin atau membuat kesepakatan damai dengan kaum Muslimin.

Di antara para petugas yang diutus Khalid adalah:

  1. Abdullah bin Watsimah An-Nashari di Falalij.
  2. Jarir bin Abdillah Al-Bajali di Banqiya.
  3. Busyair bin Al-Khushashiyah di Nahrain.
  4. Suwaid bin Muqarrin Al-Muzanni di Tustur.
  5. Uthth bin Abu Uthth di Ruzistan.

Adapun komandan pasukan yang dikirim Khalid antara lain:

  1. Dhirar bin Al-Azwar Al-Asadi.
  2. Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani.
  3. Dhirar bin Al-Khathab Al-Fahri.
  4. Dhirar bin Muqarrin Al-Muzanni.
  5. Al-Qa’qa’ bin ‘Amr At-Tamimi.
  6. Busrbin Abi Raham Al-Jahni.
  7. Utaibah bin An-Nahas.
  • Surat-surat yang dikirim Khalid kepada pemimpin dan masyarakat Persia

Khalid tengah mengumpulkan segenap keperluannya untuk memasuki Persia di pelataran kerajaan Persia setelah Khalid melihat suasana di Irak sudah normal dan stabilitas keamanan sudah kondusif. Hal itu ditandai dengan menyurutnya peran Persia dari Arab di wilayah antara Hirah dan Dajlah.

Menyurutnya peran Persia di wilayah-wilayah ini, karena pada waktu itu timbul perselisihan hebat di antara penduduk Persia mengenai siapakah yang berhak memimpin Persia pasca meninggalnya raja mereka, Azdasyir. Khalid melihat peluang emas ini, maka dia segera menyiapkan pasukannya dan menulis surat untuk dikirimkan kepada para pembesar kerajaan Persia, isinya:

“Dari Khalid bin Al-Walid;
kepada: para pembesar kerajaan Persia.

Amma ba’du,

Sesungguhnya segala puji milik Allah yang telah menghalalkan peraturan-peraturan kalian, menghinakan tipu daya kalian, memecah belah persatuan kalian, melemahkan kekuatan kalian, merampas harta benda kalian, dan menurunkan derajat kemuliaan kalian. Jika suratku ini telah kalian terima, aku menyeru kepada kalian supaya memeluk Islam, maka kalian akan selamat; atau kalian memilih mempertahankan keyakinan kalian, maka kalian menjadi dzimmi kepada kami dan kalian harus membayar upeti kepada kami. Jika tidak, maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku akan memastikan untuk datang kepada kalian membawa suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana mereka mencintai kehidupan, dan mereka mencintai akhirat sebagaimana mereka mencintai dunia.”

Khalid juga menulis surat dan mengirimkannya kepada tokoh-tokoh pemuka masyarakat Persia, isinya:

“Dari Khalid bin Al-Walid;
kepada: tokoh-tokoh pemuka masyarakat Persia.

Segala puji milik Allah yang telah membuyarkan pelayanan kalian, memecah belah persatuan kalian, melemahkan kekuatan kalian, merampas harta benda kalian, dan menurunkan derajat kemuliaan kalian. Jika suratku ini telah kalian terima, aku menyeru kepada kalian supaya memeluk Islam, maka kalian akan selamat; atau kalian memilih mempertahankan keyakinan kalian, maka kalian menjadi dzimmi kepada kami dan kalian harus membayar Jizyah kepada kami. Jika tidak, maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku akan memastikan untuk datang kepada kalian membawa suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana mereka mencintai kehidupan dan mereka mencintai akhirat sebagaimana mereka mencintai dunia.”

Dengan dikuasainya daerah Hirah oleh kaum Muslimin, maka sebagian program Khalifah Abu Bakar untuk membuka serta menundukkan Irak sudah terealisasi. Program membuka Irak ini sebagai langkah awal untuk menyerang Persia di ‘lumbung perak.’ Untuk misi tersebut, maka Abu Bakar menunjuk Khalid, dan Khalid melaksanakan misi tersebut dengan sangat cemerlang.

Khalid tiba di Hirah dan dapat menguasainya dalam waktu singkat. Dia memulai menjalankan tugas ekspedisinya bertempur melawan musuh-musuh Islam di Hirah pada bulan Muharram tahun ke dua belas hijriyah dalam pertempuran yang hebat dan dahsyat. Pertempuran berakhir dan Hirah dapat dikuasai pada bulan Rabi’ul Awwal pada tahun itu juga.

  • Keramat Khalid bin Al-Walid ketika menaklukkan Hirah

Imam Ath-Thabari telah menceritakan dengan sanadnya sendiri, pada waktu itu Khalid sedang bertamu ke rumah Ibnu Buqailah. Ibnu Buqailah kemudian melayani Khalid dengan menyuguhkan hidangan dan menaruhkan racun yang ditaruh di pinggangnya ke suguhan tersebut. Tatkala Khalid mengonsumsi suguhannya itu, dengan penuh kesadaran, Khalid mencium aroma racun di hidangan yang disuguhkan oleh Ibnu Buqailah, maka Khalid berkata kepada Ibnu Buqailah, “Aroma apakah ini wahai Amru?”

Ibnu Buqailah menjawab, “Ini adalah racun ganas demi amanat Tuhan.”

Khalid bertanya, “Mengapa kamu berbuat kriminal menaruhkan racun ke hidangan ini?”

Ibnu Buqailah menjawab, “Aku sedang takut. Aku berharap kalian tidak sebagaimana yang aku harapkan (kalian mati sebab mengonsumsi suguhanku ini). Aku sadar, perbuatanku ini telah mengantarkan diriku menemui kematian, sementara kematian lebih membuatku senang daripada kalian memasukkan sesuatu yang aku benci di kaumku dan penduduk desaku.”

Khalid berkata, “Sesungguhnya racun itu tidak akan membunuh jiwa seseorang kecuali orang itu telah sampai pada ajalnya.” Kemudian Khalid berdoa, “Dengan menyebut nama Allah sebaik-baik nama, Tuhan bumi dan Tuhan langit –Yang bersama nama-Nya racun tidak dapat menimbulkan mudharat- Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” Orang-orang Islam yang pada waktu itu sedang mendampingi Khalid melarang dan menghalangi Khalid dari mengonsumsi suguhan itu, namun Khalid sudah lebih dahulu mengonsumsinya daripada usaha mereka untuk mencegahnya.

Ibnu Buqailah berkata, “Demi Tuhan, wahai kalian masyarakat Arab, sesungguhnya kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan sepanjang ada di antara kalian pengawal generasi seperti dia.”

Ibnu Buqailah kemudian menemui penduduk Hirah dan berkata, “Aku belum pernah melihat hari seperti sekarang ini, ia lebih terang sambutannya.” Kemudian dia mengundang kaumnya dan mereka meminta berdamai kepada Khalid.

Sanad tentang kisah ini telah dirilis oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dan dia tidak menganggapnya dha’if.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan sanad tentang kisah ini, dia berkata, “Kisah ini telah diriwayatkan oleh Abu Ya’la, sedang Ibnu Sa’ad meriwayatkannya dengan dua jalur,” dan dia tidak menganggapnya dha’if.

Ibnu Taimiyah juga telah menyebutkan sanad tentang kisah keramat ini dari keramat-keramat Khalid dan dia tidak menganggapnya dha’if.

Akan tetapi, sebagian penulis kontemporer mengingkari kabar ini. Mereka menganggap bahwa kabar ini adalah bagian dari rangkaian hayalan sebagian perawi seputar sosok pribadi Khalid.

Sungguh, ditinjau dari sanad, riwayat ini adalah shahih. Imam Ath-Thabari, Ibnu Sa’ad, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Ibnu Taimiyah telah mengoreksi kisah berikut sanad ini dan mereka tidak menganggapnya dha’if. Padahal, mereka lebih menguasai dan lebih berkredibilitas mengenai sejarah Islam daripada para penulis kontemporer.

Sesungguhnya Khalid ketika hendak mengonsumsi suguhan yang sudah diberi racun itu dalam puncak keyakinan dan keimanan bahwa hanya Allah yang menciptakan segala sesuatu dan menetapkan padanya kekhususan-kekhususannya. Allah Mahakuasa menghilangkan fungsi kekhususan-kekhususan ini jika Dia menghendaki karena suatu hikmah yang luhur dan tujuan yang agung.

Allah menghilangkan fungsi kekhususan api tatkala Ibrahim AS dilemparkan ke dalamnya dengan menjadikan api terasa dingin bagi Ibrahim AS dan selamatlah dia.

Kasus semacam itu juga terjadi diselain nabi-nabi Allah, misalnya apa yang dialami oleh Abu Muslim Al-Khaulani. Tatkala Abu Muslim Al-Khaulani menolak mengakui kenabian Al-Aswad Al-‘Unsi Al-Kadzdzab pasca wafatnya Rasulullah, maka Al-Aswad Al-Ansi melemparkan Abu Muslim Al-Khaulani ke dalam kobaran api. Namun mereka menemukan Abu Muslim di dalam kobaran ini sedang mendirikan shalat dan api tidak menjadi mudharat baginya.

Begitu pula dengan Khalid tatkala mengonsumsi suguhan yang sudah ditaburi racun, maka tidak tergiur seukuran biji dzarrah sekalipun dalam kalbunya dari keinginan menyombongkan diri, supaya dirinya terkenal atau karena suatu jabatan. Mengingat tidak ada niat karena sesuatu dari semua itu, maka dia mengetahui bahwa Allah akan membebaskan dirinya dari racun itu; karena sesungguhnya dia tidak mempunyai daya, upaya maupun kekuatan untuk menghilangkan fungsi racun berbahaya ini. Sungguh, ini merupakan uji coba di mana tidak seorang Muslim pun dituntut untuk mempraktikkan uji coba ini. Karena jarang sekali ditemukan seseorang yang keimanan dan kepercayaan dirinya kepada Allah mencapai tingkatan sebagaimana tingkatan yang telah dicapai oleh Khalid.

f. Penaklukkan Kota Anbar (Perang Dzat Al-‘Uyun)

Setelah urusan di Hirah berjalan lancar, Hirah aman dan terkendali, maka Khalid mengamanatkan urusan di Hirah kepada Al-Qa’qa’ bin ‘Amr At-Tamimi. Khalid kemudian membawa pasukannya melanjutkan perjalanan untuk mendukung misi pasukan ‘Iyadh bin Ghanam yang dikirim Khalifah Abu Bakar untuk membuka Irak dari arah utara.

Iyadh bin Ghanam bertemu dengan Khalid. Ketika Khalid tiba di Anbar, dia menemukan musuh berlindung dari balik benteng yang dikelilingi oleh parit yang gali sebagai basis pertahanan dan mengawasi kaum Muslimin dari atas benteng. Karena serangan kaum Muslimin tertahan oleh parit dan benteng yang dibuat oleh penduduk Anbar, maka Khalid memerintahkan pasukannya supaya mengarahkan panah ke mata prajurit Anbar yang mengintai dari atas benteng. Begitu pertempuran meletus, maka panah pasukan Islam mengenai mata prajurit pengintai Anbar seribu mata sekali memanah. Karena itulah, pertempuran ini kemudian diberi nama Dzat Al-‘Uyun.

Khalid mengambil langkah cerdas yang brilian untuk dapat menembus benteng pertahanan prajurit Anbar yang dikelilingi parit. Dia memerintahkan pasukannya mengumpulkan unta yang banyak lalu menyembelih unta-unta itu dan melemparkannya ke parit sampai membentuk jalan. Pasukan Islam dapat melewati parit dengan jembatan unta-unta yang disembelih menyerbu benteng sampai pasukan Islam bertemu dengan prajurit Anbar, kemudian musuh menarik diri berlindung ke dalam benteng. Akibatnya Syaeroz, panglima perang prajurit Persia, terpaksa menerima perjanjian damai dengan beberapa syarat, di antaranya: Khalid harus keluar dari Anbar bersama beberapa pasukan berkuda yang mengawalnya. Khalid menerima persyaratan Syaeroz ini dengan syarat dia tidak membawa barang dagangan atau harta benda sedikit pun.

Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belajar menulis dan membaca dari orang-orang Anbar yang kapasitasnya adalah Arab, karena hanya mereka yang dapat membaca dan menulis arab dari orang-orang Arab karena belajar dari orang-orang Arab sebelumnya, dan mereka itu adalah Bani Iyad. Dahulu, mereka tinggal di Anbar pada zaman Bekhathnasher tatkala dia membolehkan Irak bagi Arab. Mereka menyanyikan nasyid kepada Khalid mengutip perkataan sebagian warga Iyad yang menyanjung kaumnya,

Bangkitlah wahai Iyad, sesungguhnya mereka adalah bagian dari manusia
Yang kuat dan sedang berjuang sampai kurus badan
Mereka adalah kaum pemilik hamparan Irak jika
Mereka berjalan dengan papan dan pena secara bersamaan.

g. ‘Ain At-Tamar

Khalid meninggalkan Anbar dan mempercayakan pengelolaannya kepada Az-Zabriqan bin Badar, sedang Khalid melanjutkan perjalanannya ke ‘Ain At-Tamar. Di sana, Khalid menemukan Uqqah bin Abu Uqqah membawa prajurit dalam jumlah besar, gabungan dari prajurit kabilah Namir, Taghlib, dan Iyad beserta orang-orang yang bersekutu dengan mereka di samping didukung oleh prajurit Persia di bawah komandan Mihran. Uqqah meminta kepada Mihran supaya membiarkan dirinya bertempur dengan Khalid, Uqqah berkata kepada Mihran, “Sesungguhnya Arab (dia dan pasukannya) itu lebih mengetahui cara menumpas Arab (Khalid dan pasukannya). Biarkan kami dan Khalid bertempur.”

Mihran menjawab, “Jumlah mereka di bawah kalian dan berhati-hatilah dengan mereka. Jika kalian membutuhkan kami, maka kami akan datang membantu kalian.”

Tatkala prajurit dari orang-orang non-Arab (Persia) mencela pemimpin mereka, Mihran, atas sikapnya ini, membiarkan Uqqah bertempur dengan Khalid tanpa melibatkan mereka, maka Mihran berkata, “Biarkan mereka (Uqqah dan pasukannya). Apabila mereka dapat mengalahkan Khalid, maka kemenangannya adalah kemenangan kita juga. Akan tetapi, jika mereka dapat dikalahkan Khalid, maka kita akan menyerang Khalid beserta pasukannya yang sudah lemah, sedangkan kita masih kuat.”

Pasukan dari orang-orang non-Arab (Persia) kemudian mengakui keutamaan pikiran untuk mengalahkan Khalid dan pasukannya. Khalid membawa pasukannya berjalan sampai bertemu dengan Uqqah dan pasukannya. Ketika kedua pasukan saling berhadap-hadapan, maka Khalid memberikan pengarahan kepada pasukan sayap yang mengawalnya, dia berkata, “Kalian tetap berjalan mendampingiku di tempat kalian mengamankan keadaan, karena sesungguhnya aku akan membawa Uqqah.” Khalid memerintahkan pasukan pengawalnya agar senantiasa di belakang Khalid mengikuti Khalid berjalan ke arah pasukan Uqqah dan langsung menyergap dan menawan Uqqah pada saat Uqqah sedang membariskan pasukannya. Setelah itu, Khalid membawa Uqqah mundur teratur kembali ke pasukannya sambil mendekap dan menawan Uqqah. Akibatnya, pasukan Uqqah porak-poranda tanpa terjadi pertempuran, banyak dari mereka yang tertawan. Selanjutnya, Khalid mengarahkan langkahnya menuju benteng.

Tatkala Mihran menerima berita bahwa Uqqah tertawan dan pasukannya berhamburan melarikan diri, maka Mihran turun dari benteng , dia melarikan diri meninggalkan benteng, sedangkan beberapa kelompok orang-orang Nasrani badui kembali ke benteng. Ketika mereka menemukan pintu benteng dalam keadaan terbuka, maka mereka masuk dan berlindung di dalamnya. Setelah itu, Khalid datang melakukan pengepungan dan mengurung mereka dengan pengamanan sangat ketat, sehingga para penghuni benteng akhirnya terpaksa turun menyerah dan mematuhi hukum Khalid. Khalid memerintahkan menghajar Uqqah beserta pasukannya yang tertawan dan orang-orang yang tunduk kepada perintah Uqqah seluruhnya. Khalid mengambil segala sesuatu yang ada di dalam benteng sebagai ghanimah, termasuk di antaranya empat puluh anak yang sedang belajar Injil di dalam gereja. Ketika menemukan pintu gereja tertutup, maka Khalid mendobraknya, kemudian mendistribusikan anak-anak ini kepada para petinggi negara dan orang-orang kaya dari kaum Muslimin. Di antara anak-anak ini adalah Himran yang menjadi maula Utsman bin Affan, dia termasuk lima anak yang diterima Utsman; kemudian Sirin, ayah Muhammad bin Sirin, dia diambil oleh Malik bin Anas, lima anak berikutnya diserahkan Khalid kepada Khalifah Abu Bakar.

Setelah itu, Khalifah Abu Bakar mengutus Al-Walid bin Uqbah beserta pasukannya supaya mendukung perjuangan Iyadh dan pasukannya yang sedang terkepung di Daumatul Jandal. Tatkala Al-Walid datang dan bertemu Iyadh, Al-Walid menemukan Iyadh beserta pasukannya ada di sebuah wilayah di Irak sedang dikepung oleh suatu kaum. Karena musuh memblokade jalan-jalan, maka Al-Walid dan Iyadh beserta pasukannya akhirnya terkepung juga. Iyadh berkata kepada Al-Walid, “Sesungguhnya terkadang gagasan itu lebih utama daripada pasukan dalam jumlah besar. Menurutmu, kita harus mengambil langkah bagaimana supaya keluar dari kepungan ini?” Al-Walid bin Uqbah menjawab, “Tulislah surat kepada Khalid supaya mengirim bantuan pasukan yang dipimpinnya.” Iyadh kemudian menulis surat kepada Khalid bin Al-Walid meminta bantuan dukungan pasukan. Karena surat itu diterima Khalid ketika sedang menghadapi pertempuran Ain At-Tamar, maka Khalid membalasnya, “Dari Khalid kepada Iyadh. Aku akan datang membebaskanmu. Untuk sementara, bertahanlah! Akan datang kepadamu rombongan kendaraan unta membawa penuh makanan berjalan siang-malam dan kumpulan dari batalion-batalion yang diikuti oleh kumpulan batalion-batalion.”

h. Daumatul Jandal

Khalid bersama pasukannya meninggalkan ‘Ain At-Tamar setelah menyerahkan pengelolaannya kepada ‘Uwaim bin Al-Kahil Al-Aslami. Berita kedatangan Khalid didengar oleh penduduk Daumatul Jandal, sehingga mereka mencari pertolongan kepada sekutu-sekutu mereka dari beberapa kabilah di Hara`, Kalb, Ghassan, dan Tannukh.

Kekuatan penduduk Daumatul Jandal terletak di dua pemimpin mereka, yaitu: Ukaidir bin Abdil Malik dan Al-Judi bin Rabi’ah. Namun keduanya mengalami perselisihan, Ukaidir berkata, “Aku adalah manusia yang paling tahu tentang Khalid; tidak ada tempat aman bagi seseorang dari cengkeramannya; tidak ada yang lebih tangkas dan sigap dalam pertempuran melebihi dirinya; dan kaum tidak akan melihat wajah Khalid selamanya, baik kaum itu berjumlah sedikit maupun banyak, kecuali akan porak-poranda menghadapinya. Maka dengarkanlah oleh kalian! Kalian taatlah kepadaku dan berdamailah dengan mereka (Khalid dan pasukannya).”

Namun kubu Al-Judi menolaknya. Al-Judi berkata, “Aku tidak gentar bertempur dengan Khalid, terserah kalian!”

Ini adalah kesaksian musuh terhadap Khalid dan kesaksian yang benar adalah kesaksian yang sudah diberikan oleh musuh-musuh Islam.

Sebelumnya, Khalid pernah menawan Ukaidir, yaitu tatkala Rasulullah mengutus Khalid menemui Ukaidir dalam perang Tabuk. Khalid membawa Ukaidir kemudian menghadapkannya kepada Rasulullah, namun beliau mengampuninya dan menetapkan baginya sebuah perjanjian. Akan tetapi, dalam perjalanannya, perjanjian ini akhirnya dikhianati oleh Ukaidir sendiri. Sungguh, rasa takut masih membayang-bayangi jiwa Ukaidir sejak pertama kali dirinya ditawan oleh Khalid di samping popularitas Khalid di medan pertempuran, baik bertempur dengan orang-orang Arab maupun non-Arab.

Ukaidir akhirnya keluar meninggalkan kaumnya karena ingin berdamai dan menemui Khalid. Berita keluarnya Ukaidir ini, ketika di dalam perjalanan menuju Daumatul Jandal, telah didengar oleh Khalid, maka Khalid mengirim ‘Ashim bin ‘Amr untuk menemui dan menjemputnya. Setelah Ukaidir bertemu dengan ‘Ashim, Ukaidir berkata, “Sesungguhnya aku hanya ingin menghadap panglima Khalid.” Setelah Ukaidir bertemu Khalid, mengingat pengkhianatannya pada masa lalu, maka Khalid menetapkan hukum atas Ukaidir dengan hukuman dibunuh. Demikian inilah, Allah akhirnya membunuh Ukaidir sebab pengkhianatannya membatalkan perjanjian secara sepihak yang dibuatnya dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Wallam. Sungguh, kewaspadaan tidak dapat menyelamatkan seseorang dari takdir Tuhan.

Khalid memasuki Daumatul Jandal dan membelah kekuatan prajurit Daumatul Jandal dan orang-orang yang bersekutu dengan mereka dari Bahra`, Kalb, dan Tannukh menjadi dua kelompok, kelompok pertama menghadapi pasukan di bawah panglima Khalid sendiri, sedang kelompok kedua di bawah panglima perang Iyadh bin Ghanam.

Al-Judi bin Rabi’ah membawa prajuritnya menghadapi Khalid, sedang Ibnu Al-Hadarajan dan Ibnu Al-Aiham, masing-masing membawa prajuritnya menghadapi Iyadh. Kedua belah pihak bertemu dan pertempuran pun meletus. Khalid berhasil membuat Al-Judi dan prajuritnya porak-poranda, sedangkan Iyadh menghadapi kesulitan Ibnu Al-Hadarajan serta orang-orang yang bergabung bersamanya, karena kelompok-kelompok musuh yang bercerai-berai melarikan diri berlindung ke dalam benteng, akibat orang-orang yang ada di dalam benteng berteriak kepada yang lain supaya masuk ke dalam benteng, kemudian musuh menutup pintu benteng dan membiarkan pasukan Islam di tempat terbuka di bawah benteng. Upaya Khalid menundukkan orang-orang yang bersembunyi di dalam benteng tertahan sampai dia menjebol pintu masuk benteng dan banyak pejuang Islam yang berguguran karenanya.

Akhirnya, Daumatul Jandal dapat dikuasai oleh kaum Muslimin dan pasukan Islam menguasai tempat strategis yang tidak ada duanya. Daumatul Jandal terletak di pertemuan jalan-jalan menuju tiga arah, yaitu: jalan ke arah Selatan menuju Semenanjung Arabia; jalan ke arah Utara laut menuju Irak; dan jalan ke arah Barat laut menuju Syam. Sehingga tidak salah apabila kota ini menjadi target dan menyita perhatian serius dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pengiriman pasukan-pasukannya bertempur di Irak dan menguasai di Tukhum Syam. Hal itu merupakan ‘illat mengapa Iyadh langkahnya selalu dihadang oleh hambatan pengepungan sampai datang Khalid membantu memuluskan misinya. Seandainya Daumatul Jandal tidak ditundukkan oleh kaum Muslimin, sudah barang tentu keberadaan pasukan Islam di Irak akan senantiasa diselimuti oleh gangguan-gangguan berbahaya.

Dengan dukungan Khalid serta pasukannya, akhirnya Iyadh dapat menguasai Daumatul Jandal. Apabila pertempuran-pertempuran yang dihadapi Khalid di wilayah bagian selatan Irak menjadi contoh nyata, betapa sigap dan tangkasnya Khalid melakukan serangan kilat, betapa cerdasnya Khalid memanfaatkan peluang dan kesempatan, dan betapa besar aura ketakutan musuh-musuh Islam menghadapi manuver-manuver Khalid; maka keteguhan Iyadh bertahan pada masa yang lama menghadapi kepungan musuh dari segala tempat merupakan dalil atas betapa pasukan umat Islam dapat menikmati proses tersebut dengan sabar, bersabar menghadapi masa sulit, tidak patah semangat, dan berkeyakinan mantap bahwa pada akhirnya Allah akan menurunkan pertolongan-Nya.

Iyadh termasuk kelompok sahabat terkemuka dari golongan Muhajirin dan tokoh masyarakat Quraisy. Dia adalah sosok yang toleran dan dermawan. Para Khalifah merasa tsiqqah kepada diri Iyadh, karena itu mereka mengangkat Iyadh menjadi wali di suatu daerah setelah itu. Dia merupakan salah satu komandan dalam perang Yarmuk dan menjadi ujung tombak pasukan di bawah panglima perang Abu Ubaidah. Setelah itu, dia berhasil membuka Al-Jazirah secara penuh, yaitu daerah-daerah yang terletak di antara Syam dan Irak. Tatkala Abu Ubaidah menjelang usia uzur, dia mempercayakan pengelolaan Syam kepada Iyadh. Pada masa khalifah Umar, Iyadh ditugaskan mengurus daerah Syam sampai Umar menarik kembali Iyadh untuk dikirim melakukan penaklukan-penaklukan ke beberapa daerah.

i. Perang Hushaid

Khalid memerintahkan Al-Aqra’ bin Habis supaya kembali ke Anbar, sementara Khalid sendiri akan tinggal di Daumatul Jandal. Keberadaan Khalid di Daumatul Jandal ini memicu munculnya gerakan orang-orang non-Arab melawan Khalid dan timbulnya prasangka-prasangka mereka terhadap Khalid sebagaimana orang-orang Arab di daerah Al-Jazirah berprasangka; dan mereka mempunyai kesempatan membangun kekuatan. Orang-orang Arab ini menulis surat dan mengirimkannya kepada orang-orang non-Arab supaya mereka bergabung dengan orang-orang Arab Al-Jazirah melawan Khalid untuk balas dendam atas penangkapan Uqqah yang tidak dapat mereka lupakan begitu saja.

Zarmahar kemudian keluar dari Baghdad bersama Rauzabah, keduanya bergerak menuju Anbar dan saling berjanji di Hushaid dan Khanafis. Berita kedatangan mereka di dengar oleh Az-Zabarqan bin Badar yang pada waktu ada di Anbar, sehingga Az-Zabarqan segera meminta bantuan kepada Al-Qa’qa’ bin ‘Amr At-Tamimi, perwakilan Khalid di Hirah, untuk menghadapi mereka. Al-Qa’qa’ bin ‘Amr kemudian mengirim bantuan dua pasukan, pasukan pertama di bawah pimpinan A’bad bin Fadaki As-Sa’di (Abu Laila) berangkat menuju Hushaid, dan pasukan kedua di bawah Urwah bin Al-Ja’ad Al-Bariqi langsung berangkat ke Khanafis.

Tatkala Khalid mengetahui beberapa kabilah sedang bersatu membangun kekuatan dan mereka berkoalisi dengan kekuatan Rauzabah di Hushaid, maka Khalid menunjuk Al-Qa’qa’ sebagai amir manusia di Hushaid dan menunjuk Iyadh bin Ghanam menduduki jabatan yang ditinggalkan Al-Qa’qa’ di Hirah. Ketika Rauzabah mendengar Al-Qa’qa’ bersama pasukannya sedang berjalan menuju ke arahnya, maka Rauzabah meminta bantuan kepada Zarmahar, sehingga Zarmahar kemudian bergabung dengan Rauzabah. Pasukan Islam bertemu dengan gabungan prajurit-prajurit Persia. Pertempuran meletus dengan dahsyat dan umat Islam berhasil membunuh mereka dalam jumlah besar, Zarmahar dan Rauzabah sendiri ikut terbunuh, dan kaum Muslimin memperoleh ghanimah dalam jumlah banyak dan besar.

Mengenai pertempuran ini, Al-Qa’qa’ bin ‘Amr melukiskan dalam sajaknya,
Bukankah Zarmahar dan Rauzabah telah mengumumkan nama-nama sekutunya
Supaya membentuk kekuatan non-Arab di bawah komando Zarmahar
Besok, pagi-pagi sekali kita memanen perkumpulan mereka
Di Hindiyah kita memotong ubun-ubun kuda yang digunakan mereka berkelakar

j. Perang Mushayyakh

Setelah Khalid menerima berita bahwa kaum Muslimin di Hushaid sedang terancam, maka dia mengundang para komandan pasukannya pada suatu malam untuk berkumpul di daerah Mushayyakh dekat Hauran. Setelah orang-orang Khalid menempati pos-pos mereka, pada malam waktu itu juga, mereka menunggu beberapa kabilah yang menjadi target penyerangan terlelap tidur, begitu pula sekutu-sekutu yang menginap di kabilah-kabilah itu. Setelah mereka terlelap tidur, Khalid dan orang-orangnya melakukan serangan secara mendadak dan serentak dari tiga arah sehingga mereka, musuh Islam, menderita kerugian yang besar.

Berbekal dari penyerangan ini, Khalid mengetahui bahwa beberapa kabilah tengah berkumpul di Tsani, sebuah tempat dekat Ruqqah dan Zumail, di perkampungan Bakar untuk menyerang kaum Muslimin. Maka Khalid segera mengarahkan kekuatannya untuk menyerang mereka di Tsani dari beberapa arah, sehingga perkumpulan musuh menjadi buyar dan aliansi mereka centang-perenang. Khalid juga menyerang orang-orang yang menggalang kekuatan di Zumail untuk menyerang umat Islam, sehingga musuh menderita kerugian yang luar biasa.

‘Addi bin Hatim berkata, “Kami mengakhiri pengejaran ini setelah menangkap seseorang yang konon bersama Harqush bin An-Nu’man An-Numari. Ketika Harqush bin An-Nu’man ditangkap, dia sedang dikelilingi oleh keluarganya dari anak-anak laki-laki, anak-anak perempuan, dan istrinya. Sebuah guji berisi khamr ditaruh di depan Harqush yang didampingi oleh keluarganya dan mereka mengatakan, “Apakah seseorang dapat meminum khamr pada saat ini, sementara bala tentara Khalid berkumpul di depanku untuk membunuhku!?” Khalid berkata kepada mereka, “Kalian minumlah dan ucapkanlah selamat tinggal! Karena aku tidak melihat kalian dapat meminum khamr lagi setelah ini.” Mereka kemudian meminum khamr itu dan Harqush berkata,

Ketahuilah, sebaiknya kalian minum sebelum siang
Jauh dari kesombongan kaum dengan endapan penutup
Sebelum kematian kita, sebab takdir, datang
Kala itu, umur kita tidak bisa kurang atau bertambah.

Khalid yang pad waktu sedang berada di kumpulan pasukan berkuda segera menyergap Harqush dan memukul kepalanya. Harqush akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan kepala bersandar di gucinya, anak-anak perempuannya kami tawan dan anak-anak laki-lakinya kami bunuh.”

Dalam pertempuran ini, dua orang yang sudah memeluk Islam ikut mati terbunuh, padahal mereka sudah mengantongi surat jaminan keamanan dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pasukan Islam membunuh mereka berdua karena tidak mengetahui bahwa keduanya telah memeluk Islam. Tatkala berita kematian dua orang ini sampai di telinga Abu Bakar, maka Abu Bakar menyayangkan hal tersebut. Abu Bakar kemudian mengirim pesan supaya kaum Muslimin merawat anak-anak kedua orang ini. Mengenai terbunuhnya kedua orang ini, Abu Bakar memberikan maklumat, “Seperti itulah konsekuensi orang-orang yang memilih bertempat tinggal di Dar Al-Harb,” maksudnya, risiko yang harus diterima oleh mereka berdua akibat memilih hidup bersebelah dengan orang-orang Musyrik.

k. Perang Firadh

Setelah Khalid berhasil mengibarkan bendera Islam di wilayah Irak dan kabilah-kabilah Arab tunduk kepadanya, maka dia bermaksud menuju Firadh dan mengamankannya, karena Firadh adalah Tukhum Syam, Irak, dan Al-Jazirah. Khalid berusaha mensterilkan dan menguasai Firadh supaya perjalanannya ke Persia lewat dataran Afrika aman dari gangguan.

Tatkala kaum Muslimin mengumpulkan kekuatan untuk menyerang Firadh, maka Imperium Romawi marah dan mengobarkan perang. Romawi meminta dukungan orang-orang yang loyal dengannya dari prajurit-prajurit Persia bersenjata lengkap. Mereka berkemas sangat cepat, karena mereka semua sedang marah kepada kaum Muslimin yang sudah menghinakan mereka dan memecah keraguan mereka. Sebagaimana Romawi juga meminta bantuan dukungan prajurit kepada orang-orang Arab dari kabilah Taghlib, Iyad, dan Namir. Orang-orang Arab dari kabilah Taghlib, Iyad, dan Namir pun memberikan dukungan karena mereka belum bisa melupakan kisah penyergapan pemimpin mereka yang paling mulia, Uqqah.

Karena itu, maka terkumpullah kekuatan raksasa gabungan dari pasukan Imperium Romawi, Imperium Persia, dan Arab melawan kaum Muslimin.

Tatkala pasukan gabungan sampai di sungai Eufrat, mereka berseru kepada kaum Muslimin, “Kalian menyeberang menemui kami di sini atau kami yang menyeberang menemui kalian?”

Maka Khalid menjawab, “Bahkan kalianlah yang menyeberang kemari.”

Mereka berseru, “Jika demikian, menyingkirlah kalian supaya kami dapat menyeberang ke situ.”

Khalid menjawab, “Kami tidak akan menyingkir. Namun kalian menyeberanglah di bawah kami.”

Peristiwa itu terjadi pada pertengahan bulan Dzul Qa’dah tahun dua belas hijriyah.

Melihat kenyataan demikian ini, maka prajurit Romawi dan Persia melakukan musyawarah dan satu sama lain saling berkata, “Kalian harus melaporkan ini kepada raja kalian. Sesungguhnya laki-laki ini (Khalid) berperang demi agama, dia berakal cerdas, cerdik, dan berpengalaman. Demi Tuhan, dia akan mendapatkan pertolongan dan kita pasti akan terhinakan.”

Setelah itu, karena mereka tidak mengambil manfaat dengan hal itu, maka musuh menyeberangi sungai lebih rendah daripada Khalid. Tatkala mereka telah menyeberang semua, maka prajurit Romawi berkata, “Kalian berilah yang terbaik sampai kita mengetahui, sekarang mana yang baik atau buruk, dari mana datangnya?”

Mereka berperang dengan gigih sehingga pertempuran berjalan sengit dan memakan waktu yang lama. Setelah Allah menurunkan pertolongan-Nya dan pasukan musuh porak-poranda, Khalid berkata kepada pasukan Islam, “Kalian desak terus mereka dan jangan beri kesempatan mereka untuk bersenang-senang (istirahat)!”

Khalid kemudian mengarahkan sekelompok pasukan berkudanya menggiring sekelompok musuh dengan panah. Apabila musuh telah terkumpul, maka pasukan Islam akan mudah melumpuhkan mereka. Dalam pertempuran ini, pasukan musuh yang mati terbunuh jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Sesudah pertempuran berakhir, Khalid tinggal di Firadh selama sepuluh hari. Setelah itu, dia mendapat perintah dari Khalifah upaya kembali ke Hirah.

Seperti inilah, untuk pertama kalinya kaum Muslimin menghadapi pasukan gabungan dari prajurit Persia sebagai simbol Imperium Timur yang besar, prajurit Romawi sebagai simbol Imperium Barat yang besar, dan aliansi Arab yang mendukung dua kekuatan raksasa ini. Meskipun demikian, pasukan Islam memperoleh kemenangan telak atas mereka dengan kemenangan telak. Tidak dapat dipungkiri bahwa pertempuran ini termasuk pertempuran bersejarah yang melegenda –walaupun tidak seperti terkenalnya pertempuran-pertempuran besar lainnya-, karena pertempuran ini telah menghancurkan mental orang-orang kafir lintas sektor dan warna perkembangannya.

Perang ini dianggap pertempuran terakhir yang dipimpin oleh Saifullah Al-Maslul, Khalid bin Al-Walid di Irak. Setelah pertempuran ini, hancurlah bayang-bayang duri penghalang Imperium Persia, mereka tidak mempunyai kekuatan perang seperti yang dikhawatirkan Islam pasca meletusnya pertempuran ini.

Di antara ungkapan yang dilukiskan Al-Qa`qa` setelah ‘Amr dalam pertempuran ini adalah,
Kami bertempur di Firadh menghadapi prajurit gabungan dari Romawi
Dan Persia yang didukung prajurit besar sepanjang As-Salam
Kami membutuhkan waktu lama melawan gabungan mereka ini
Sehingga kami butuh istirahat menghadapi kumpulan prajurit bani Ruzam
Perlawanan prajurit As-Salam tidak kunjung dipadamkan sampai
Kami melihat kaum itu seperti kambing di tempat-tempat gembala yang dibungkam

Hajinya Khalid, Perintah Khalifah Abu Bakar Kembali ke Syam dan Menyerahkan Kepemimpinan Pasukan di Irak Kepada Al-Mustanna

a. Khalid Menunaikan Haji dan Khalifah Abu Bakar Memerintahkannya Kembali ke Syam

Khalid tinggal di Firadh selama sepuluh hari, kemudian dia menerima izin membawa pasukannya ke Hirah pada tanggal 5 Dzul Qa’dah tahun 12 hijriyah. Dia memerintahkan ‘Ashim bin ‘Amr berjalan di barisan depan dan memerintahkan Syajarah bin Al-A’azz berjalan di pasukan garis belakang, sedang Khalid berjalan di pasukan garis belakang. Setelah itu, Khalid berangkat dalam rombongan bersama teman-temannya menuju ke Masjidil Haram.

Khalid menempuh perjalanan menuju ke Makkah dengan mengambil jalan yang belum pernah ditempuhnya sama sekali, sehingga dia mengalami hal-hal yang tidak dialami oleh orang lain. Dia tidak berjalan di jalan, namun melewati semak belukar untuk sampai ke Makkah dan menunaikan haji pada tahun dua belas hijriyah.

Setelah menyelesaikan amalan-amalan haji, Khalid segera kembali dan langsung bergabung dengan pasukannya di garis belakang sebelum mereka tiba di Hirah. Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui peristiwa hajinya Khalid ini kecuali sesudah orang-orang yang berhaji di Makkah pulang ke rumah mereka masing-masing. Setelah mengetahui hal tersebut, maka Abu Bakar melayangkan surat teguran kepada Khalid karena meninggalkan pasukannya, kemudian memerintahkan Khalid supaya pergi ke Syam.

Dalam surat teguran itu, Khalifah Abu Bakar memberi maklumat kepada Khalid sebagai berikut:

“Hendaknya kamu berjalan sampai bertemu dengan kumpulan pasukan Islam di Yarmuk. Sesungguhnya mereka di sana telah terbelah (karena ditekan musuh), maka kalian (kamu beserta pasukanmu) belahlah mereka (musuh Islam); kamu jangan mengulangi lagi berbuat seperti yang sudah kamu lakukan (pergi berhaji dan meninggalkan pasukanmu). Sesungguhnya tidak ada orang yang mampu membelah prajurit musuh seperti kamu atas pertolongan Allah, dan tidak ada yang mampu memporak-porandakan kekuatan musuh sebagaimana kamu. Maka kamu dukunglah Abu Sulaiman (dan pasukannya di Yarmuk) dengan niat dan strategi, kamu sempurnakan misinya, semoga Allah menyempurnakan kamu. Jangan sekali-kali timbul ‘ujub di dirimu, karena ‘ujub itu akan merugikan dan menghinakan kamu. Kamu harus menunjukkan (semua itu) dengan perbuatan, sesungguhnya hanya Allahlah Pemilik anugerah dan Dia Mahakuasa memberi balasan.”

Maklumat mulia yang dikirim Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bijaksana ini memberikan gambaran sejauh mana semangat Abu Bakar memotivasi para panglima perangnya supaya memperoleh kesuksesan. Sesungguhnya sang khalifah senantiasa memberikan sugesti dengan pengarahan-pengarahan dan nasihat-nasihat yang mengantarkan mereka menggapai kemenangan dan melakukan pemberdayaan dengan karunia Allah.

Di antara maklumat Khalifah Abu Bakar itu adalah:

  • Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan perintah kepada Saifullah Al-Maslul, Khalid bin Al-Walid, supaya meninggalkan Irak menuju Syam dengan harapan Allah membuka daerah ini lewat tangan Khalid.
  • Dia memberikan nasihat kepada Khalid supaya tidak mengulangi perbuatannya melaksanakan haji tanpa seizin khalifah.
  • Senantiasa memerintahkan supaya berlaku lurus, bertaqarrub, dan gigih berjuang dengan niat ikhlas karena Allah semata.
  • Mengingatkan Khalid dari berbuat ‘ujub terhadap kemampuan dirinya, merasa sombong atau arogan, karena itu dapat merusak amal yang sudah dikerjakan dan amal akan tertolak di sisi-Nya. Sebagaimana khalifah memperingatkan Khalid bahwa realisasi dan kesungguhan ikhlas kepada Allah ini adalah dengan perbuatan. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Memberi, karena hidayah itu ada di Tangan-Nya.

Semua ini telah terlihat nyata dalam pertempuran-pertempuran di Irak sebagai aplikasi pasukan-pasukan Islam mempraktikkan dasar-dasar peperangan, baik ketika melakukan serangan, bertahan maupun ketika diserang oleh musuh. Begitu pula ketika menggalang kekuatan, membangun mental secara berkelanjutan, mengumpulkan informasi, merancang strategi berikut pelaksanaan dengan penuh kekuatan, berlaku cermat dan waspada yang tidak ada bandingannya. Khalid tidak berangkat ke Syam untuk menghadapi Romawi kecuali setelah mendapatkan banyak wawasan dan pengalaman pada saat membuka daerah-daerah di Irak.

Orang yang ditunjuk Khalid mengelola pasukan-pasukan Islam di Irak pasca kepergian Khalid menunaikan haji adalah Al-Mutsanna karena dia berpengalaman luas terkait tanah Irak di samping mempunyai kepiawaian luar biasa dalam pertempuran melawan prajurit Persia.

Ketika ditelaah secara seksama, maka strategi-strategi yang diterapkan Khalid dalam menghadapi pertempuran-pertempuran di Irak adalah (1) bersandar kepada Allah, dan (2) mengumpulkan informasi-informasi secara detail yang menunjukkan atas pergerakan komunikasi dan kejadian-kejadian yang dia temukan di medan pertempuran. Yang jelas, semua komunikasi ini telah ditangkap dan pengaturannya telah dilaksanakan orang kepercayaan Khalid, komandan satu-satunya, yaitu Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani. Bukan saja karena prestasi dan kemampuan Al-Mutsanna yang piawai mengatur strategi, namun juga karena dia telah berinteraksi dalam kehidupan masyarakat di Irak.

Sesungguhnya Al-Mutsanna telah tumbuh di Bani Syaiban dari kabilah Bakar bin Wa`il, yaitu mereka yang tinggal di Tukhum Irak dan sungai Eufrat yang membentang dari utara ke wilayah Hyat. Dengan hukum adat serta pengalaman berinteraksi, ia menjadi lihai menjadi telik sandi (informan) Al-Mutsanna. Oleh karena itu, kita tidak menemukan suatu pergerakan pun bagi prajurit dari prajurit-prajurit Persia kecuali berita pergerakan itu dapat diakses oleh Khalid melalui Al-Mutsanna pada waktu yang tepat. Tidak ada orang keluar atau masuk di lingkungan Persia kecuali Al-Mutsanna mengetahuinya pada saat kejadian.

Adapun maklumat yang ditulis Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Khalid adalah:

“Tinggalkanlah Irak dan pilih salah satu orangmu menjadi pemimpin di Irak yang menurut kamu terbaik di antara mereka. Setelah itu, berangkatlah sambil menyeleksi orang-orang kuat dari saudara-saudara kita yang datang bersamamu dari Yamamah, kamu dampingi mereka di jalan dan kamu prioritaskan mereka yang berasal dari Hijaz. Kamu datanglah ke Syam dan bergabunglah dengan pasukan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Apabila kalian telah bertemu, maka kamu amir (panglima perang) pasukan. Wassalamu’alaika warahmatullah.”

Khalid bersiap-siap melakukan perjalanan ke Syam dan dia membagi pasukan menjadi dua kelompok, kelompok pertama ikut dia menuju ke Syam dan kelompok kedua tetap bersama Al-Mutsanna. Akan tetapi, karena Khalid mengelompokkan seluruh sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam kelompoknya, maka Al-Mutsanna memprotesnya. Al-Mutsanna berkata kepada Khalid, “Demi Allah, ini tidak dapat ditegakkan kecuali mengikut instruksi sesuai perintah Abu Bakar seluruhnya dalam hal membawa separuh sahabat dan meninggalkan separuhnya lagi. Demi Allah, aku tidak berharap mendapatkan kemenangan kecuali bersama para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun kamu telah menelanjangi aku dengan membawa mereka semua!”

Surat maklumat Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq perihal rekrutmen pasukan yang akan dibawa ke Syam telah diterima Khalid sebelum Khalid melakukan musafir. Surat itu menginstruksikan kepada Khalid kriteria siapa saja yang direkrut dari pasukan yang akan dia bawa dan siapa saja yang dia tinggalkan untuk mendampingi Al-Mutsanna. Khalifah Abu Bakar berkata, “Kamu jangan mengambil orang mulia (sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seluruhnya) kecuali kamu sisakan separuhnya tinggal di sana. Jika Allah memberi kemenangan kepadamu, maka kembalikan mereka ke Irak dan kamu dampingi mereka, setelah itu kamu laksanakan tugas kamu.”

Khalid tidak henti-hentinya melobi Al-Mutsanna dan Khalid mengganti pasukannya dari sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan para pejuang dari tokoh-tokoh kaumnya dari orang-orang kuat dan dari orang-orang yang dikenal mempunyai keberanian, kesabaran, dan sangat militan. Dengan begitu, akhirnya Al-Mutsanna menerimanya.

Khalid mengumpulkan pasukannya kemudian bertolak ke Syam dengan melintasi dataran padang gurun gersang yang menyeramkan. Di sana tidak ada kehidupan dan tidak ada tanaman, ia seolah dataran gurun Tih. Seorang penunjuk jalan berkata, “Bagaimana aku berjalan, apakah mungkin kita menempuh jalan menyelinap dari belakang kumpulan prajurit Romawi? Jika mereka menemukan saya, sudah barang tentu mereka akan menahan aku dan kaum Muslimin tidak dapat menolong diriku!”

Mereka berkata kepadanya, “Kami tidak mengetahui kecuali hanya ada satu jalan aman, yaitu melintasi gurun yang tidak pernah dilintasi oleh manusia. Demi Allah, seorang pengendara kendaraan, ketika berjalan sendirian melintasi padang gurun itu, sesuatu yang ditakutkan adalah keselamatan dirinya! Sesungguhnya kamu tidak akan kuat menempuh perjalanan itu dengan unta dan bekal, karena perjalanan menelan waktu lima malam dan air tidak dapat ditemukan.”

Khalid berkata, “Sesungguhnya tidak ada pilihan jalan kecuali melintasi padang gurun itu supaya  kita dapat keluar dari pengawasan patroli prajurit Romawi.”

Khalid kemudian berketetapan untuk menempuh jalan melintasi padang gurun meskipun penuh risiko dan sangat berbahaya, karena sedikit manusia beruntung dapat melewati hamparan padang gurun ini. Rafi’ bin Umair memberikan saran kepada Khalid agar memperbanyak bekal air sekiranya cukup untuk melewati hamparan gurun itu. Maka Khalid memerintahkan para pasukannya supaya menyimpan air sebagai bekal di perut unta-unta yang sedang kehausan, kemudian mengikat ujung-ujungnya supaya unta-unta itu tidak memamah biak dan menguras air tersebut.

Khalid berkata kepada orang-orangnya, “Seorang Muslim tidak selayaknya menyita perhatiannya dengan sesuatu yang akan terjadi bersama pertolongan Allah kepadanya.”

Khalid bersama pasukannya berangkat dengan penunjuk jalan Rafi’ bin Umair melintasi padang gurun. Perjalanan ini memiliki beberapa perbedaan dengan perjalanan pada umumnya, yaitu: (1) medan jalan sulit dilewati manusia, (2) air jarang sekali dapat ditemukan, (3) perjalanan tidak mempunyai tanda-tanda arah, dan (4) jarang penduduk yang dapat ditemui. Terlebih ketika menempuh jalan yang membentang antara daerah Quraqir dan Suwa, walaupun bagian ini adalah jarak paling pendek.

Khalid menjelaskan kepada orang-orangnya cara-cara hemat dan efektif menempuh perjalanan seperti ini atas selainnya adalah dengan berjalan cepat, melakukan perjalanan pada malam hari, tepat memenuhi target rute dan berlaku sigap.

Rafi’ meminta Khalid agar menyiapkan dua puluh unta besar dan Khalid pun melakukannya. Rafi’ tidak memberi minum unta-unta ini untuk beberapa hari sampai kehausan, kemudian membawanya ke air dan mengisi perut unta-unta ini dengan air sampai penuh, lalu mengikat ujungnya dan memotong penutup mulutnya, supaya unta-unta ini tidak memamah biak. Setelah itu, Rafi’ berkata kepada Khalid, “Berjalanlah kamu sekarang membawa kuda-kuda dan bekal makanan. Ketika tiba di suatu tempat, maka kamu sembelihlah sebagian dari unta-unta itu dan manusia dapat minum dari bekal yang sudah mereka siapkan.”

Pasukan Khalid berjalan dari Qurarir sebagai akhir perkampungan di Irak yang terletak di batas gurun menghampar menuju Suwa sebagai awal perkampungan di Syam. Jarak antara Qurarir dan Suwa adalah lima malam perjalanan, karena mereka beristirahat pada waktu siang dan berjalan pada waktu malam.

Dalam menempuh perjalanan ini, Khalid bertumpu kepada Rafi’ bin Umair sebagai penunjuk jalan setelah Khalid merasa yakin dengan Rafi’ atas kebenaran nasihatnya di samping memilih Muhriz Al-Maharibi sebagai penunjuk arah karena kecerdasannya dalam ilmu perbintangan. Karena itulah, maka perjalanan ditempuh pada waktu malam dan petang (pagi dan sore) dengan menghindari berjalan ketika sinar matahari sudah menyengat dan siang hari untuk menempuh dua marhalah dalam satu hari. Khalid tidak membiarkan seorang pun dari pasukannya berjalan kaki, mengingatnya jauh dan sulitnya medan, namun Khalid menyediakan kendaraan unta untuk mereka demi menjaga stamina badan mereka.

Khalid berjalan menempuh perjalanan berbahaya ini. Setiap kali beristirahat di suatu tempat, maka dia menyembelih beberapa unta yang paling tidak efektif lalu mengambil air yang ada di perut kecil unta itu untuk memberi minum kuda, sedang manusia minum dari bekal air yang mereka bawa.

Ketika memasuki hari kelima dan bekal air sudah habis, maka Khalid khawatir saudara-saudaranya akan binasa karena kehausan. Khalid bertanya kepada Rafi’, “Ide apakah yang kamu miliki (untuk mengatasi masalah air ini)?”

Rafi’ kemudian meminta mereka mencari tanaman berduri yang tumbuh di daerah sekitar situ, namun mereka tidak dapat menemukannya kecuali sebagian kecil dari batang tanaman itu. Maka Rafi’ kemudian memerintahkan mereka supaya menggali tanah di bawahnya. Ketika digali dan terlihat oleh mereka sumber mata air, maka mereka meminumnya sampai badan mereka merasa segar kembali. Setelah kejadian ini, di perjalanan Khalid bertemu dengan beberapa orang Arab yang tinggal di beberapa rumah. Sebagian orang Arab berkata kepada Khalid tentang perjalanan ini, “Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu besok pagi tiba di pohon Fulan, maka kamu bersama rombonganmu akan binasa.”

Mendengar penuturan semacam ini, maka Khalid bersama pasukannya segera meluncur menggebrak kendaraan mereka dengan kecepatan luar biasa. Pada keesokan harinya, dia bersama pasukannya berhasil tiba di sana dan Khalid berkata, “Ketika pagi, maka kaum akan bersyukur masih diberi kehidupan dan Dia melepasnya sebagai teladan.” Ini adalah perkataan pertama yang diucapkan oleh Khalid bin Al-Walid dalam perjalanan tersebut.

Seseorang yang turut menempuh perjalanan ini bersama Khalid berkata,

Milik Allahlah mutiara jiwa Rafi’ yang memberi petunjuk berjalan ke mana
Dia telah menerangi jalan antara Quraqir dan Suwa
Butuh waktu lima malam, jika tidak menempuhnya menangis
Belum ada manusia melintas sebelumnya tanpa dapat ditepis
.”

Kisah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang berpengalaman tidak akan ciut nyalinya oleh bahaya-bahaya yang menghadang. Dia akan berupaya mencari jalan untuk memperoleh air untuk menundukkan ganasnya padang gurun supaya tujuan dapat dicapai. Pada hari kelima, Khalid beserta pasukannya sampai di Suwa, dan itu merupakan awal Tukhum Syam, jauh dari pengawasan Imperium Persia di jalan-jalan utama menuju ke arah Irak. Perjalanan Khalid melintasi padang gurun yang menelan waktu lima hari adalah sebuah perjalanan spektakuler dan penuh bahaya yang dapat diperhitungkan menghadang di depan. Namun semua itu dapat diatasi oleh sebuah keinginan, keimanan, dan keteguhan sang panglima perang.

Ketika Khalid tiba di Adakka, sebuah daerah pemukiman pertama di perbatasan Syam, maka dia menyerang penduduknya dan mengepungnya. Dia baru membebaskan mereka setelah mereka bersedia berdamai dengannya.

Setelah itu, Khalid memasuki Tadmar. Pada awalnya, penduduk Tadmar menolaknya berdamai dan mereka berlindung di benteng. Namun pada akhirnya, mereka meminta keamanan kepada Khalid dan Khalid pun berdamai dengan mereka.

Khalid melanjutkan perjalanan dan tiba di Qaryatain. Di sini, dia menyerang penduduknya dan memperoleh kemenangan atas mereka. Setelah itu, dia mengincar daerah Hawarin, ketika dia tiba di tempat yang dikenal dengan nama Tsaniyah, dia mengibarkan benderanya di sana. Karena pada masa Rasulullah Tsaniyah ini diberi nama ‘Uqab, maka Khalid kemudian memberi nama tempat ini dengan nama Tsaniyah ‘Uqab. Tatkala Khalid melewati ‘Udzra`, maka warganya memperbolehkannya dan Khalid mendapatkan ghanimah harta kekayaan yang banyak milik kabilah Ghassan.

Selanjutnya, Khalid mengambil perjalanan lewat tenggara Damaskus sampai tiba di terusan Bushra. Daerah ini adalah kota pertama yang dapat dibuka oleh Khalid dari wilayah Syam, dan segala puji hanya milik Allah semata. Khalid mengirim seperlima ghanimah yang diperoleh kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq melalui Bilal bin Al-Harits Al-Muzanni. Setelah itu, Khalid, Abu Ubaidah, Martsad, dan Syurahbil berjalan menuju ‘Amr bin Al-‘Ash –yang diserang oleh prajurit Romawi di daerah ‘Araba dari daerah Mu’wir-, maka meletuslah perang Ajnadin.

Demikian inilah, Khalid bin Al-Walid telah berhasil tiba di Syam untuk mendukung pasukan Islam setelah berpetualang dan menundukkan medan yang sangat sulit dalam sejarah perjalanan umat manusia. Jenderal Mahmud Syeit mengomentari perjalanan Khalid ini, dia berkata, “Khalid menyeberangi padang gurun lewat jalan berbahaya adalah langkah berani yang mengejutkan semua pihak dan tidak ada duanya dalam sejarah militer. Aku tidak mengetahui ada perjalanan sebanding dengan itu. Aku tidak yakin bahwa Hanibal menyeberangi gunung Alb dan begitu pula Napoleon yang dikabarkan menyeberangi Alb! Karena keberuntungan tidak berpihak kepada Napoleon ketika menyeberangi padang gurun Sinai. Begitu pula keberuntungan tidak berpihak kepada pasukan Inggris, karena mereka tidak mampu menyeberangi pada gurun Sinai pada Perang Dunia Pertama. Perjalanan mereka semua mungkin dapat dianggap berbeda dengan perjalanan Khalid yang spektakuler. Karena melewati pegunungan lebih banyak dijumpai kemudahan daripada menyeberangi padang gurun; air mudah dijumpai di pegunungan, namun tidak begitu ketika di padang gurun, air sulit dijumpai; karena gurun Sinai banyak dijumpai sumber mata air dan tempat-tempat peristirahatan, namun hal itu tidak mudah dijumpai dalam perjalanan yang ditempuh Khalid ketika menyeberangi padang gurun. Maka dari itu, keberhasilan Khalid melewati padang gurun sangat mengejutkan Imperium Romawi, karena prajurit Romawi sama sekali tidak akan mampu melakukan perjalanan seperti itu.”

Semua itu menjadi salah satu faktor yang membuat pasukan keamanan kota-kota dan tempat-tempat yang kebetulan berpapasan dengan Khalid dalam perjalanannya antara Irak dan Syam menyerah kepada kekuatan Khalid beserta pasukannya, baik setelah bertempur kecil maupun tanpa terjadi pertempuran. Karena tidak mungkin terjadi untuk selamanya mereka mampu menghadapi kekuatan pasukan kaum Muslimin yang perkasa yang datang ke arah mereka jika keberadaan kaum Muslimin seperti itu pada waktu itu.

Perjalanan Khalid yang spektakuler ini telah menjadi inspirasi bagi para panglima perang sepanjang sejarah dan sepanjang zaman perjuangan. Sampai-sampai seorang jenderal berkebangsaan Jerman, pengarang buku Al-Ummat Al-Musallahah, komandan perang di garis depan Turki-Jerman di sela-sela Perang Dunia Pertama berkata, “Dia (Khalid) adalah guruku dalam seni berperang.”

b. Berita Al-Mutsanna bin Haritsah di Irak Pasca Kepergian Khalid

Al-Mutsanna adalah laki-laki pemberani, supel, cerdas, berdedikasi tinggi, dapat dipercaya memegang amanat dan berpikir positif. Akidahnya tertanam sangat dalam, keimanannya terpatri sangat kuat dan kepercayaannya kepada Allah tidak terbantahkan. Dia adalah sosok pemimpin yang berpola pikir jauh ke depan demi kemaslahatan umat mengalahkan kemaslahatan dirinya sendiri. Dia peduli dan loyal terhadap nasib saudara-saudaranya, baik dalam keadaan lapang maupun ketika sedang terhimpit. Dia mempunyai program-program yang tepat dan cepat, berkeinginan kuat dan konsisten memikul tanggung jawab secara penuh, baik dalam situasi maupun kondisi berbahaya, karena dia percaya diri dan percaya dengan kekuatannya yang tidak ada batasannya. Kaum Muslimin mencintai dirinya dan dia pun mencintai mereka, melebihi cinta Al-Mutsanna kepada dirinya sendiri. Dia adalah sosok pribadi yang kuat yang melaksanakan tugas. Kepribadian Al-Mutsanna adalah seperti diungkapkan oleh Umar bin Al-Khathab, “Dia memerintah dirinya sendiri.”

Sikap dan sifat Al-Mutsanna ketika menyambut tanggung jawab pertempuran luar biasa; dia melesat menyerang ujung tombak prajurit musuh dengan sigap dan gesit; dia terdepan ketika melakukan serangan dan orang terakhir yang meninggalkan medan pertempuran. Dia memahami daerah-daerah di Irak, orang paling berani membuka konfrontasi melawan prajurit Persia, sangat cepat gerakannya dan sangat luas strateginya. Dia adalah manusia pertama yang berani melawan Imperium Persia setelah Islam. Ketika kaum Muslimin bertempur melawan prajurit Persia dalam pertempuran-pertempuran di Irak, maka Al-Mutsanna memperoleh yang tidak dapat diperoleh siapa pun. Dialah yang mengangkat mental-mental pasukan Islam dan menjatuhkan mental-mental prajurit Persia.

Al-Mutsanna mengomentari kekuatan mental prajurit Persia, dia berkata, “Aku pernah bertempur melawan orang-orang Arab dan non-Arab, baik pada masa Jahiliyah maupun setelah Islam. Demi Allah, pada masa Jahiliyah, aku menghadapi seratus orang dari non-Arab itu jauh lebih berat daripada menghadapi seribu orang dari Arab. Namun sekarang, aku menghadapi seratus orang dari Arab itu lebih berat daripada menghadapi seribu orang dari non-Arab. Sungguh, Allah telah menghilangkan kehebatan non-Arab dan melemahkan tipu daya mereka. Karena itu, kalian jangan sekali-kali merasa gentar melihat seberapa besar kumpulan prajurit yang kalian lihat, jumlah tentara yang disiagakan, kekuatan yang dapat mereka pecahkan, dan seberapa panjang pasukan pemanahnya. Sesungguhnya mereka itu, jika panglima perang mereka terbunuh atau mereka kehilangan komandan mereka, maka mereka itu seperti binatang ternak, ke arah manapun kalian menghadapkan mereka, maka mereka akan mengikutinya.”

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjuk Al-Mutsanna di Irak sangat tepat dan itu menunjukkan bahwa Abu Bakar telah mengetahui prestasi-prestasi orang-orangnya dan menempatkan mereka sesuai pos-pos mereka. Tatkala Khalid beserta pasukannya sedang berjalan akan meninggalkan Irak menuju ke Syam, maka Al-Mutsanna keluar bersama Khalid untuk melepas keberangkatannya. Ketika tiba detik-detik perpisahan, Khalid berkata kepada Al-Mutsanna, “Kamu –semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu- kembalilah dan jangan patah semangat.” Al-Mutsanna kemudian menerima tongkat kepemimpinan atas wilayah Irak dari Khalid.

Seiring perjalanan waktu, ketika Kisra mengetahui bahwa Khalid telah pergi meninggalkan Irak, maka Kisra segera menyusun kekuatan mengumpulkan puluhan ribu prajurit di bawah pimpinan Hormuz Jadzawyah. Kisra menulis surat kepada Al-Mutsanna berisi ancaman dan intimidasi, Kisra berkata, “Sesungguhnya aku akan mengirim kepada kalian prajurit yang terdiri dari orang-orang liar dari Persia. Mereka adalah para penggembala ayam dan babi, dan aku tidak akan melibas kamu kecuali dengan mereka ini.”

Al-Mutsanna membalas surat Kisra dengan pandai dan cerdas, dia belum lupa bagaimana keberanian dirinya membendung serangan orang-orang Majusi ini. Dia menulis surat sebagai jawaban atas surat yang dilayangkan Kisra kepadanya, Al-Mutsanna berkata, “Sesungguhnya kamu hanya satu dari dua orang, yaitu: kamu adalah seorang pengecut dan itu buruk bagimu dan baik bagi kami; atau kamu adalah seorang pembohong, maka kebohongan dari orang-orang yang berbuat bohong yang paling agung sanksinya dan celaannya di sisi Allah dan menurut manusia adalah para raja. Adapun menurut hemat kami, sesungguhnya kalian itu hanya membutuhkan cecunguk-cecunguk itu karena terdesak, maka segala puji milik Allah yang telah menganulir tipu daya kalian kepada para penggembala ayam dan para penggembala babi.”

Penduduk Persia merasa terkejut mendengar surat balasan Al-Mutsanna ini, mereka kemudian mencela raja mereka atas surat yang dikirimkannya dan mereka menganggap bahwa pendapat raja mereka itu adalah keji.

Menyikapi hal itu, Al-Mutsanna kemudian membawa pasukannya dari Hirah menuju Babilonia. Tatkala Al-Mutsanna beserta pasukannya bertemu prajurit Persia di suatu tempat di pinggir sungai Sharah pertama, maka dua kelompok pasukan saling menyerang dan pertempuran meletus dengan dahsyat dan sengit. Pihak Persia meluncurkan pasukan gajah di antara barisan-barisan pasukan berkuda kaum Muslimin untuk memecah pasukan berkuda Islam. Akibatnya, panglima perang kaum Muslimin, Al-Mutsanna, mendatangi Hormuz dan melawannya lalu membunuhnya. Al-Mutsanna memerintahkan pasukannya untuk tegar menghadapi pola serangan mereka ini.

Tidak lama berselang, prajurit Persia menjadi porak-poranda, kaum Muslimin dapat membunuh mereka dengan cepat dan mendapatkan ghanimah dalam jumlah yang besar. Sebagian pasukan Persia melarikan diri tunggang-langgang menyelamatkan diri sampai ke kota-kota dalam keadaan seburuk-buruk kondisi dan mereka menemukan raja mereka telah mati.

Dalam pertempuran kali ini, keterpurukan kembali dialami oleh Persia, karena Al-Mutsanna telah berhasil mengusir musuh-musuh Allah sampai ke pintu-pintu beberapa kota. Setelah itu, Al-Mutsanna mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar memberitahukan atas kemenangannya melawan serangan prajurit Persia sekaligus minta izin membina orang-orang Murtad yang kembali bertaubat. Mengingat surat balasan sudah lama belum juga datang dan Khalifah Abu Bakar belum juga mengirim balasan karena kesibukannya mengurus pasukannya di Syam dan apa-apa yang terjadi di dalamnya dari pertempuran-pertempuran, maka Al-Mutsanna memutuskan untuk datang sendiri ke Madinah menemui khalifah.

Setelah Al-Mutsanna menyerahkan mandat untuk mengurus Irak kepada Busyair bin Al-Khashashiyah dan daerah Masalih kepada Said bin Murrah Al-‘Ijli, maka Al-Mutsanna berangkat ke Madinah. Setibanya di Madinah, Al-Mutsanna menemukan Khalifah Abu Bakar sedang sakit berbaring di tempat tidur yang meskipun sudah berangsur-angsur sembuh, namun dia berharap mati pada hari itu. Meskipun kondisi Abu Bakar demikian, Abu Bakar menyambut kedatangan Al-Mutsanna, mendengar permasalahannya dan menyambut baik gagasan yang dia sampaikan kepadanya. Abu Bakar kemudian memanggil Umar bin Al-Khathab. Setelah Umar datang, Abu Bakar berkata kepada Umar, “Wahai Umar, dengarkanlah apa yang akan aku katakan kepadamu, kemudian laksanakanlah! Sesungguhnya aku berharap, aku mati pada hari ini. Apabila aku telah mati, maka kamu jangan menunggu waktu sore sampai manusia mendelegasikan bersama Al-Mutsanna,  dan kalian jangan sekali-kali tersibukkan oleh musibah walau sebesar apa pun musibah itu terkait urusan agama kalian dan pesan Tuhan kalian. Sungguh, telah diperlihatkan kepadaku tempat wafatnya Rasulullah dan apa-apa yang sudah aku lakukan, dan manusia tidak menemukan kebenaran sebagaimana dia (Al-Mutsanna).

Apabila Allah membuka daerah-daerah melalui para komandan-komandan perang di Syam, maka tarik kembali pasukan Khalid ke Irak; karena sesungguhnya mereka adalah penduduk Irak dan mereka saja yang dapat menguasai Irak. Mereka adalah orang-orang yang ganas dengan mereka (prajurit Persia) dan paling berani melawan mereka (prajurit Persia).”

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

Berita sebelumyaKehidupan Umar dan Masanya
Berita berikutnyaGaya Hidup Islami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Penaklukan Irak

Strategi Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Penaklukan Irak Tidak berselang lama setelah selesai perang terhadap orang-orang yang murtad dan...

Musailamah Al-Kadzdzab dan Bani Hanifah

Mengenal Musailamah Dia adalah Musailamah bin Tsumamah bin Kabir bin Hubaib Al-Hanafi Abu Syamah. Dia adalah seorang yang mengaku...

Keislaman Abu Bakar Ash-Shiddiq, Dakwahnya, Ujian yang Dialaminya dan Hijrahnya yang Pertama

Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq Keislaman Abu Bakar ash-Shiddiq adalah hasil dari sebuah perjalanan imaniyah yang panjang dalam usaha mencari...

Artikel Terkait

Rezeki

Kewajiban Mencari Harta Halal Setiap orang tentu ingin kehidupan di dunia berjalan normal. Setidaknya ia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya...

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...