Indonesia Statistics

Indonesia
76,981
Confirmed
Updated on 14/07/2020 4:08 am
Indonesia
36,689
Recovered
Updated on 14/07/2020 4:08 am
Indonesia
3,656
Deaths
Updated on 14/07/2020 4:08 am

Indonesia Statistics

Indonesia
76,981
Confirmed
Updated on 14/07/2020 4:08 am
Indonesia
36,689
Recovered
Updated on 14/07/2020 4:08 am
Indonesia
3,656
Deaths
Updated on 14/07/2020 4:08 am

Serangan Massal Terhadap Kaum Murtad

Apakah Kisah Isra’ Mi’raj Hanya Dongeng Belaka? Dr. Zakir Naik Menjawab

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo pada bulan Oktober 2015, seorang wanita Jepang ateis bernama Yoko dengan berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu...

Kenapa Allah Tidak Membuat Semua Manusia Menjadi Muslim? Dr. Zakir Naik Menjawab

Melanjutkan pertanyaan Yoko kepada Dr. Zakir Naik yang telah ditulis pada artikel sebelumnya (baca: Apakah Perjalanan Isra' Mi'raj Adalah Kisah Bohong?), wanita Jepang ateis...

Dr. Zakir Naik Menjelaskan Cara Agar Umat Manusia Hidup Harmonis

Pada ceramah Dr. Zakir Naik di Tokyo Jepang tanggal 8 Oktober 2015, saat sesi tanya-jawab, ada seorang pengusaha Korea yang baru mengetahui tentang Islam....

Dr. Zakir Naik Jelaskan Mengapa Daging Babi Haram Pada Dokter Jepang

Seorang gadis asal Jepang bernama Mamoko Suzuki yang berprofesi sebagai dokter bertanya kepada Dr. Zakir Naik mengenai alasan dibalik pengharaman daging babi dan meminta...

Pandangan Dr. Zakir Naik Tentang Konfusianisme

Seorang pemuda Korea yang bekerja pada biro perjalanan bertanya kepada Dr. Zakir Naik. Nama pemuda Korea itu adalah Kim. Sebagai seorang penganut Konfusianisme, dia...

Banyak macam sarana dan cara yang digunakan untuk melawan dan menghadapi kaum murtad. Kaum muslimin yang masih berpegang teguh pada Islam memiliki peranan besar dalam menghadapi kaum murtad. Sebagian di antara mereka ada yang menghadapi kaum murtad dengan cara memberi nasihat, memberikan peringatan akan bahaya kemurtadan dengan melenyapkan segala kepercayaan yang pernah mereka yakini.

Langkah pertama mereka adalah dengan ucapan (dialog). Dengan mengajak berdialog selama beberapa waktu bukan berarti menunjukkan sikap yang lemah. Akan tetapi sebaliknya, dengan berdialog itu menunjukkan sikap paling tegas. Karena dari dialog itu akan dilanjutkan dengan berbagai sikap konsisten sebagai konsekuensi dari dialog itu. Meskipun terkadang sebuah konsistensi bisa menghantarkan seseorang pada kematian untuk meraih mati syahid, demi membuktikan konsekuensi ucapan yang pernah dikatakan.

Dalam setiap kabilah yang terdapat kemurtadan, di sana ada sikap tegas dari orang-orang yang memiliki kecenderungan pada kebenaran, orang-orang yang selalu membela dan hidup dalam kebenaran. Sikap tegas ini yang memandang bahwa apa yang dilakukan kaum murtad itu adalah sebuah kesalahan. Oleh karena itu, mereka segera berdiri menghadang gelombang pemurtadan dengan memperingatkan kaum mereka tentang nasib buruk yang menanti kaum murtad. Akan tetapi, tiada yang dilakukan kaum murtad itu melainkan berdiri menghadapi orang-orang yang menyeru pada Islam dengan mencemooh dan mengejek. Kemudian kaum murtad itu melanjutkan dengan pengusiran, bahkan tak jarang melakukan pembunuhan.

Sebagian kaum murtad itu ada yang berhasil dikembalikan pada Islam dengan dialog, seperti Adi bin Hatim beserta kaumnya, Al-Jarud beserta penduduk Bahrain. Insya Allah Anda akan dapat mengetahui secara detail tentang peristiwa ini. Setelah sebagian kaum muslimin mengalami kegagalan dalam memberikan nasihat kepada kaumnya yang murtad, mereka berusaha untuk mengumpulkan orang-orang yang masih berpegang teguh pada Islam. Mereka mencoba mengambil sikap yang terbaik dalam menghadapi kaum murtad. Berbagai sikap telah diambil, dari perkataan hingga pada perbuatan telah dijalankan.

Hal ini seperti yang telah dilakukan kaum muslimin dari Bani Sulaim. Mereka telah memperingatkan kaum murtad, sehingga kemudian kaumnya terbagi menjadi dua kelompok: muslim dan murtad.

Kaum muslimin yang masih berpegang teguh pada Islam bersatu, dan mereka bergelut melawan kaum murtad. Para pemuda Yaman secara rahasia telah merencanakan untuk membunuh Al-Aswad Al-Unsi –penjelasan lebih detailnya akan dijelaskan nanti– setelah tindakan keras mereka terhadap Al-Aswad Al-Unsi tidak berhasil. Demikian pula Mas’ud atau Masruq bin Ibnu ‘Abis Al-Kindi, ia telah menasihati Al-Asy’ats bin Qais dan menyerunya agar tidak murtad.

Telah terjadi dialog yang lama di antara mereka berdua dan terjadi perdebatan keras. Demikianlah, beberapa kebijakan sikap yang diambil telah menjadi media kembalinya kaum murtad pada Islam, dan juga telah memudahkan tugas pasukan Pemerintah Islam yang datang untuk membinasakan kaum murtad.

Kebijakan politik Abu Bakar Ash-Shiddiq telah memutuskan untuk membinasakan kaum murtad, menanamkan keimanan yang kuat dan memantapkan Islam pada seluruh kabilah, para pemimpin, dan masing-masing individu yang berada di segala penjuru jazirah Arab.

Selain itu, juga telah diambil beberapa tahapan penting dan pokok dalam mengatasi fitnah kemurtadan umat ini. Ada sebagian penulis yang telah melakukan kesalahan pada saat menyebutkan fitnah kemurtadan umat ini, baik yang mengeneralisasi kemurtadan, kurang akurat, tidak objektif, hipotesis buruk dan pandangan yang bersifat parsial.

Fakta-fakta utama seputar fitnah kemurtadan umat ini tidak terjadi pada seluruh umat Islam secara geografis. Akan tetapi pemurtadan itu terjadi pada para pemimpin, kabilah, individu, dan kelompok. Sementara pada setiap masing-masing daerah yang terjadi pemurtadan, di sana masih ada orang-orang yang masih tetap berpegang teguh pada Islam.

DR. Mahdi Rizqullah Ahmad telah melakukan penelitian mendalam dan menjawab pertanyaan yang pernah diajukan kepadanya: apakah pemurtadan yang terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar itu menyeluruh pada semua kabilah Arab, masing-masing individu dan para pemimpin yang telah masuk Islam? Atau pemurtadan itu terjadi hanya pada sebagian kabilah, sebagian pemimpin, dan sebagian orang pada daerah-daerah yang berbeda? Setelah melakukan riset, DR. Mahdi mengatakan: Fakta pertama yang menjadi kesimpulan dari berbagai sumber-sumber yang menerangkan hal itu adalah, bahwa saya tidak menemukan data yang menunjukkan bahwa seluruh kabilah, para pemimpin, dan seluruh umat melakukan pemurtadan, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sekelompok orang yang telah kami jadikan referensi. Akan tetapi, saya menemukan bahwa negara Islam masih mengandalkan pertahanan kuat dari kelompok-kelompok, para kabilah, dan individu-individu yang masih berpegang teguh pada Islam, di mana mereka tersebar di seluruh penjuru kepulauan. Mereka yang menjadi sandaran kuat bagi Islam dan negara dalam menumpas gerakan pemurtadan yang terjadi pada sebagian kaum mereka.

Konfrontasi Resmi Negara

Upaya Membuat Frustasi dari Internal

Rasulullah pernah menggunakan cara ini. Beliau mengutus beberapa utusan kepada kabilah-kabilah yang mengaku sebagai nabi untuk menyatukan orang-orang yang masih berpegang teguh pada Islam sehingga membentuk kelompok yang bisa memerangi pemurtadan. Abu Bakar pun mengikuti metode yang pernah digunakan Nabi. Ia berusaha mencegah dan membasmi sebisa mungkin terhadap kerusakan yang ditimbulkan orang-orang yang murtad. Ia juga melakukan pengaderan untuk menentang kemurtadan, meninggalkan dan menghindarkan orang-orang dari kemurtadan.

Abu Bakar telah mampu menyatukan orang-orang yang masih tetap berpegang teguh pada Islam dan menjadikan mereka sebagai aset untuk pasukan perang negara. Kaum muslimin ini dianggap sebagai kelompok yang melawan orang-orang murtad setelah pasukan Usamah kembali. Abu Bakar telah melayangkan surat kepada para pimpinan kaum murtad dan orang-orang yang masih berpegang teguh pada Islam untuk merealisasikan beberapa target seperti memanfaatkan waktu hingga pasukan Usamah kembali. Ia juga mengirim surat kepada orang-orang yang dulu pernah dikirimi surat oleh Rasulullah, yaitu mereka yang berada di Yaman dan di negeri lain, agar mereka mengerahkan segala kemampuan untuk mengajak orang-orang yang masih berpegang teguh pada Islam, menyatukan mereka di daerah-daerah yang telah ditentukan hingga datang perintah dari Khalifah Abu Bakar.

Semua ini adalah rangkaian awal yang menjadi rencana pasukan Islam yang akan datang. Sebagian orang-orang yang teguh dalam Islam telah melakukan perjanjian untuk memberikan pertolongan untuk bisa mencapai kota yang dituju, dan mereka disertai para sahabat-sahabatnya, seperti Adi bin Hatim Ath-Tha’i dan Az-Zabruqan bin Badar At-Tamimi. Orang-orang yang masih teguh dalam Islam ini berhasil menggagalkan gerakan Qais bin Maksyuh Al-Muradi dan beberapa kelompok kabilah di Tihamah, daerah Sarah dan Najran. Adapun hasil yang dapat direalisasikan dengan cara ini adalah:

  1. Abu Bakar berhasil merealisasikan rencananya dalam upaya kaderisasi, ajakan, memberikan pertolongan kepada kaum muslimin, dan menghancurkan kekuatan orang-orang murtad. Semua ini sebagai pendahuluan untuk mengambil langkah berikutnya ketika segala fasilitas terpenuhi, yaitu sarana pasukan perang.
  2. Cara yang diambil Abu Bakar ini telah merealisasikan tujuan-tujuan pendidikan, mempersiapkan orang-orang yang masih berpegang teguh pada Islam untuk menjadi pemimpin gerakan Islam nantinya, semisal Adi bin Hatim Ath-Tha’i, salah seorang pemimpin pasukan yang menaklukkan Irak.
  3. Membentuk kekuatan Islam yang dikonsentrasikan di pusat-pusat yang telah ditentukan Abu Bakar, sehingga mereka nantinya bisa bergabung dengan pasukan perang yang akan datang.
  4. Eksekusi terhadap beberapa daerah yang dihuni orang-orang murtad, meskipun masih sebatas daerah yang sempit sebagaimana yang terjadi di selatan kepulauan Arab.

Pengiriman Pasukan Perang

Setelah Usamah sampai tujuan, setelah dua bulan atau 40 hari lamanya melakukan perjalanan dan istirahat, akhirnya Abu Bakar berangkat bersama para sahabat Nabi menuju ke daerah Dzil Qishshah, daerah yang berjarak perjalanan sehari semalam dari Madinah. Keberangkatan Abu Bakar dan para sahabat itu untuk memerangi orang-orang yang murtad dan para pembangkang. Abu Bakar juga menolak usulan para sahabat Nabi agar ia mengutus orang lain untuk memimpin pasukan, sementara ia dipersilahkan kembali ke Madinah untuk mengurusi urusan umat. Akan tetapi Abu Bakar tetap menolak, meskipun para sahabat sudah mendesaknya.

Di antara riwayat yang menjelaskan semua ini adalah sebagaimana dikatakan Aisyah, “Ayahku berangkat dengan pedang terhunus dan mengendarai kendaraannya hingga sampai di lembah Dzil Qishshah. Kemudian datanglah Ali bin Abu Thalib memegang tali kendali kendaraan ayahku. Ali pun berkata, “Ke mana engkau akan pergi, wahai khalifah Rasulullah? Aku katakan kepadamu sebagaimana sabda Rasulullah pada saat perang Uhud, ‘Sarungkan pedangmu dan jangan engkau membuat diri kami bersedih karenamu. Demi Allah, jika kami bersamamu nanti kalah, maka selamanya tidak akan ada aturan Islam setelahmu.’” Kemudian Abu Bakar kembali. Abu Bakar telah membagi pasukan Islam menjadi sebelas panji perang atau detasemen, dan setiap panji perang dipimpin oleh seorang pemimpin. Abu Bakar memerintahkan setiap pemimpin pasukan agar waspada terhadap penduduk Muslim yang berada di daerah-daerah yang dilintasi. Kesebelas pasukan itu adalah:

  1. Pasukan Khalid bin Al-Walid, menuju Bani Asad, Tamim, dan Yamamah.
  2. Pasukan Ikrimah bin Abu Jahal, menemui Musailamah di Bani Hanifah, Aman, Mahrah, Hadramaut, dan Yaman.
  3. Pasukan Surahbil bin Hasanah, menuju Yamamah mengikuti jejak Usamah, kemudian ke Hadramaut.
  4. Pasukan Thuraifah bin Hajir, menuju Bani Salim di Hawazin.
  5. Pasukan Amr bin Al-Ash, menuju Qadha’ah.
  6. Pasukan Khalid bin Said bin Al-‘Ash, menuju pinggir kota Syam.
  7. Pasukan Al-Ala’ bin Al-Hadhar, menuju Bahrain.
  8. Pasukan Hudzaifah bin Muhsin Al-Ghalfa’i, menuju Oman.
  9. Pasukan Urfajah bin Hartsimah, menuju ke Mahrah.
  10. Pasukan Muhajir bin Abu Umayyah, menuju Yaman, Shan’a kemudian Hadhramaut.
  11. Pasukan Suwaid bin Muqrin, menuju Tahamh Yaman.

Demikianlah, kampung Dzil Qashshah menjadi pusat bertolak atau pangkalan pergerakan pasukan perang yang akan bergerak ke daerah-daerah kaum murtad untuk melaksanakan eksekusi. Rencana Abu Bakar ini didasari kecerdasan tiada duanya dan pengalaman geografis yang mendetail.

Di sela-sela pembagian prioritas dan penentuan posisi, tampak jelas bahwa Abu Bakar adalah sosok pakar dalam bidang geografi, berpengalaman dalam berperang, bersosial kemasyarakatan dan mengetahui jalur-jalur transportasi di kepulauan Arab. Bagi Abu Bakar, seolah-olah kepulauan Arab bagaikan gambar-gambar tiga dimensi yang tampak jelas di depan matanya dalam sebuah laboratorium dengan peralatan-peralatan yang canggih.

Orang yang turut mengikuti perjalanan para pasukan perang, memperhatikan tujuan mereka, persatuan mereka setelah bercerai-berai, dan persatuan mereka kembali setelah bercerai-berai, tentu ia akan dapat melihat sebuah penguasaan yang bagus, luar biasa, ideal untuk diterapkan bagi seluruh penjuru kepulauan, disertai kedetailan informasi dan terjalinnya berkomunikasi dengan pasukan perannya.

Pada setiap saatnya, Abu Bakar selalu mengetahui di mana posisi pasukan perangnya, mengetahui kondisi mereka dengan detail, pergerakan mereka, apa yang telah terealisasikan dan apa yang harus mereka lakukan di hari esok. Pengiriman surat dilakukan dalam setiap saat dengan cepat, sehingga berita-berita dari berbagai blok dapat segera sampai ke kesekretariatan di Madinah, sampai pada Abu Bakar. Sementara Abu Bakar selalu menjalin hubungan dengan pasukan perangnya. Tampak para utusan militer yang lalu-lalang antara blok-blok pasukan yang berada di medan perang dengan kesekretariatan komando di Madinah, semisal Abu Khaitsmah An-Najjari Al-Anshari, Salamah bin Salamah, Abu Barzah Al-Aslami dan Salamah bin Waqas.

Pasukan perang yang dikirim Abu Bakar sangat berpegang teguh pada perintah, mereka adalah salah satu komponen penting dalam suatu negara. Ketika pasukan perang telah mengombinasikan kemampuan memimpin dan kehebatan mengatur strategi, terlebih jika ditambah dengan pengalaman dalam berperang, tentu semua ini akan mempermudah tugas-tugas kemiliteran dalam pergerakan pasukan perang dan melancarkan perang yang hampir melampaui daerah-daerah di semenanjung Arab pada masa Rasulullah.

Kekuatan militer negara pada masa Khalifah Abu Bakar mengalahkan segala kekuatan militer lainnya yang berada di kepulauan Arab. Adapun panglima perang dalam pasukan ini adalah Saifullah Al-Maslul, Khalid bin Al-Walid, sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa dalam memerangi orang-orang yang murtad dan berhasil dalam memimpin berbagai penaklukkan-penaklukkan Islam.

Pembagian pasukan ini sesuai dengan perencanaan yang strategis dan memiliki makna penting, karena kaum murtad masih terpisah-pisah, semua berada di negeri masing-masing. Meskipun kaum murtad berjumlah besar, tapi mereka tidak mampu untuk menggalang persatuan karena tempat mereka yang berjauhan, ini yang pertama. Waktu tidak memungkinkan mereka untuk menggalang persatuan. Oleh karena itu, pemurtadan mereka dapat diatasi tidak lebih dari masa tiga bulan saja. Kedua, kaum murtad tidak mengetahui bahaya kaum muslimin bagi mereka, di mana kekuatan kaum muslimin mampu untuk memusnahkan seluruh kaum murtad dalam beberapa bulan saja. Oleh karena itu, Abu Bakar bermaksud melakukan serangan yang mengejutkan kaum murtad guna memusnahkan senjata dan melemahkan kekuatan mereka, sebelum mereka bersatu menegakkan kebatilan mereka.

Abu Bakar berusaha mengatasi mereka sebelum fitnah yang mereka timbulkan menjadi lebih gawat. Ia tidak memberikan kesempatan kepada para pemimpin kaum murtad untuk menyebarkan fitnah kemurtadan dan membiarkan lisan mereka melukai persatuan umat Islam. Semua ini sesuai dengan sebuah kata mutiara,

Sungguh, jangan engkau memotong ekor ular dan melepaskannya jika engkau cerdas, maka peganglah kepalanya tentu ekor akan mengikutinya

Abu Bakar menyadari besarnya volume kemurtadan dan bahayanya. Ia juga menyadari bahwa jika tidak segera bertindak, api kemurtadan akan menjalar dan membakar segalanya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam bait syair,

Aku melihat di bawah abu bara api yang menganga dan hampir saja apinya menyala-nyala

Abu Bakar adalah seorang politikus mahir dan militer yang berpengalaman. Ia memprediksi segala hal dan merencanakan strategi langsung.

Para panglima perang yang telah diangkat oleh Abu Bakar beserta tentara pasukannya mulai berangkat mengibarkan bendera tauhid disertai dengan doa-doa yang tulus ikhlas dari hati yang mengagungkan Allah, yang disirami makna-makna iman dan lisan mereka tidak lepas dari dzikir Allah. Maka Allah mengabulkan doa-doa suci ini, Allah menurunkan kepada mereka pertolongan-Nya. Dengan mereka Allah menegakkan kalimat-Nya dan melindungi agama-Nya sampai jazirah Arab tunduk kepada Islam hanya dalam beberapa bulan.

Abu Bakar mengirimkan surat ke seluruh kabilah Arab yang murtad dan memberontak. Ia menyerukan mereka untuk kembali kepada agama Islam dan mempraktikkannya dengan sempurna sebagaimana datang dari Allah. Kemudian ia memperingatkan mereka dari akibat buruk di dunia dan akhirat, jika mereka tetap dalam kondisi mereka. Ia sangat keras dan tegas memperingatkan mereka. Ini adalah sesuai dengan penyelewengan mereka yang keras dan keras kepala mereka berpegang teguh pada kebatilan. Maka, hal ini menuntut keharusan menggunakan peringatan keras yang diteruskan dengan tindakan berani dan tegas untuk menumpas tirani yang bersarang pada pikiran pemimpin-pemimpin kabilah dan fanatisme buta yang menguasai pikiran para pengikut mereka.

Isi surat yang Dikirim Oleh Abu Bakar kepada Orang-orang Murtad dan Pesannya kepada Para Panglima Perang

Setelah persiapan tentara Islam dirasa cukup dengan diangkatnya para panglima perang, maka Abu Bakar mengirimkan surat umum dan menyebarkannya seluas mungkin kepada orang-orang yang teguh dalam Islam dan juga orang-orang murtad. Ini dilakukan sebelum tentara Islam bergerak melawan orang-orang murtad. Ini dilakukan sebelum tentara Islam bergerak melawan orang-orang murtad. Abu Bakar mengirimkan utusan ke kabilah-kabilah membawa suratnya dan memerintahkan agar dibacakan di depan kaum mereka. Dan siapa saja yang tahu tentang isi surat itu agar menyampaikannya kepada orang-orang yang belum tahu.

Surat ini ditujukan untuk semua lapisan masyarakat awam dan khusus, baik yang masih tetap memeluk Islam maupun yang sudah murtad. Isi surat itu adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim. Dari Abu Bakar, khalifah Rasulullah kepada semua orang yang sampai kepadanya suratku ini, baik orang awam ataupun orang khusus, orang yang tetap memeluk Islam atau pun yang sudah murtad. Keselamatan atas orang yang mengikuti hidayah, dan tidak kembali setelah mendapat hidayah kepada jalan sesat dan buta. Sesungguhnya aku memuji Allah dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Kami mengakui apa yang dibawanya, kami mengkafirkan orang yang membangkangnya dan kami juga memeranginya.

Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran kepada semua makhluk-Nya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, penyeru ke jalan Allah dengan izin-Nya, sebagai lampu penerang dan memberi peringatan kepada yang hidup dan menegakkan kalimat kebenaran atas orang-orang kafir. Maka Allah menunjukkan jalan kebenaran kepada orang yang menaatinya, dan dengan izin Allah Rasulullah telah memerangi orang-orang yang tidak mengikutinya, sampai mereka kembali kepada agama Islam baik secara rela atau terpaksa. Kemudian Allah memanggil Rasul-Nya, setelah beliau melaksanakan semua perintah-Nya dan menasihati umatnya. Dan Allah telah menjelaskan itu semua kepada Rasul dan umatnya dalam kitab suci yang diturunkan.

Allah berfirman,

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Az-Zumar: 30).

Allah berfirman,

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (Al-Anbiya`: 36).

Allah berfirman kepada orang-orang beriman,

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia meninggal atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144).

Barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya beliau telah meninggal, dan barang siapa menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, maka Allah selalu mengawasinya, Allah Maha Hidup, berdiri sendiri, tidak mati, dan tidak pernah tidur atau mengantuk, menjaga urusan-Nya, membalas musuh-Nya lewat golongan-Nya.

Sesungguhnya aku berwasiat agar kalian bertakwa kepada Allah, bagi kalian adalah dari Allah dan apa yang dibawa nabi kalian. Dan agar kalian mengikuti petunjuk-Nya, berpegang teguh dengan agama-Nya. Sesungguhnya setiap orang yang tidak ditunjukkan Allah adalah sesat, setiap orang yang tidak diselamatkan Allah adalah tercoba, setiap orang yang tidak ditolong Allah adalah terhina. Barang siapa ditunjukkan Allah, maka ia memperoleh petunjuk dan barang siapa disesatkan Allah, maka ia adalah sesat.

Allah berfirman,

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Al-Kahfi: 17).

Allah tidak menerima amalannya di dunia sampai ia taqarrub kepada-Nya, Allah tidak menerima di akhirat amal wajib dan sunnahnya.

Aku mendapat laporan tentang keluarnya sebagian kalian dari agamanya setelah ia mengaku Islam dan mengamalkan ajarannya karena menipu Allah, karena kebodohan atau memenuhi ajakan setan.

Allah berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim.” (Al-Kahfi: 50).

Allah berfirman,

Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Aku telah mengutus si Fulan kepada kalian bersama tentara pasukan dari kaum muhajirin dan Anshar serta Tabiin. Aku memerintahnya untuk tidak memerangi seorang pun atau membunuhnya sampai ia menyerunya kepada seruan Allah. Maka barang siapa memenuhi seruan itu, mengakuinya, beramal saleh, maka ia diterima dan dibantu. Dan barang siapa membangkang, maka aku memerintahkan untuk memeranginya dan jangan menyisakan satu pun dari mereka yang tertangkap, lalu membakar mereka, dan membunuhi satu persatu, merampas wanita dan anak-anak mereka. Dan tidak bisa diterima dari mereka kecuali tunduk kepada Islam.

Barang siapa mengikuti maka baginya kebaikan. Barang siapa meninggalkan, maka ia tidak akan bisa melemahkan Allah. Aku telah memerintah utusanku untuk membacakan suratku kepada setiap perkumpulan kalian. Tanda seruan adalah adzan, jika orang-orang Islam adzan, lalu mereka juga adzan maka berhentilah menyerang mereka, jika mereka tidak adzan maka segera menyerang mereka, jika mereka adzan maka tanyalah apa kewajiban mereka, jika mereka membangkang seranglah mereka. Jika mereka mengakui maka mereka bisa diterima dan perlakukanlah mereka dengan baik.” Kita lihat dari isi surat Abu Bakar ini mengandung dua hal penting:

  • Prinsip menyeru orang-orang murtad untuk kembali kepada Islam.
  • Akibat buruk bagi orang yang bersikeras dalam kemurtadan.

Isi surat ini juga menekankan beberapa hakikat penting sebagai berikut:

  • Surat ini ditujukan kepada semua kalangan baik umum maupun khusus, agar semua mendengarkan seruan Allah.
  • Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, maka barang siapa mengakuinya berarti ia seorang yang beriman. Barang siapa mengingkarinya berarti ia telah kafir dan harus diperangi.
  • Muhammad adalah seorang manusia, yang akan mengalami hukum Allah, “Sesungguhnya kamu akan mati.” Seorang mukmin tidaklah menyembah Muhammad Saw., akan tetapi ia menyembah Allah Yang Maha hidup dan kekal yang tidak mati selamanya, maka dari itu tidak ada kata maaf lagi bagi orang yang murtad.
  • Keluar dari agama Islam adalah sebuah kebodohan terhadap hakikat kebenaran dan memenuhi ajakan setan. Ini berarti ia telah menjadikan lawan sebagai kawan dan ini adalah kezhaliman besar atas diri manusia yang lurus. Dan ini akan menggiringnya pada api neraka secara sukarela.
  • Generasi pilihan terbaik dari umat Islam adalah kaum Muhajirin dan Anshar serta pengikut mereka yang bangkit untuk memerangi kaum murtad demi membela agama dan menjaganya dari penistaan.
  • Orang yang kembali kepada barisan orang Islam, berhenti memerangi kaum muslimin dan menjalankan amal sesuai yang diajarkan agama, maka ia termasuk golongan masyarakat Muslim yang punya hak dan kewajiban sama.
  • Orang yang enggan kembali ke dalam barisan kaum muslimin, dan bersikeras dalam kemurtadannya, maka ia adalah pejuang lawan yang harus diperangi, dibunuh, dibakar, dirampas istri-istri dan anak-anaknya.
  • Tanda yang menyelamatkan kaum murtad dari serangan kaum muslim adalah kalau mereka mengumandangkan suara adzan. Jika tidak terdengar suara adzan saat tiba waktu shalat, maka perang adalah sebagai alternatifnya. Dan agar supaya Khalifah tidak membiarkan para panglima dan tentara bertindak tanpa ada kedisiplinan, maka Khalifah menuliskan surat kepada semua panglima yang isinya sama yaitu mengajak mereka semua untuk mematuhi apa yang tertera dalam surat itu. Redaksi dari isi surat itu adalah sebagai berikut:

“Ini adalah Ikrar setia dari Abu Bakar khalifah Rasulullah kepada si Fulan yang diutus untuk memerangi orang yang keluar dari Islam. Ia berikrar agar panglima bertakwa kepada Allah semampunya dalam semua perintah-Nya, dalam kondisi sendirian atau terang-terangan. Dan agar ia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah, memerangi orang-orang yang menyeleweng dari-Nya, yang keluar dari Islam menuju kepada angan-angan setan, setelah mereka diserukan untuk kembali kepada Islam. Jika mereka memenuhi seruan itu, hendaklah ia berhenti memerangi mereka, jika mereka tidak memenuhi seruan, maka seranglah mereka sampai mereka mengakui Islam lagi. Kabarilah mereka tentang apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka. Ambillah apa yang menjadi kewajiban mereka dan berikanlah apa yang menjadi hak mereka. Jangan menunggu mereka, jangan mengembalikan kaum muslim dari berperang melawan musuh-musuh mereka. Barang siapa menaati perintah Allah dan mengakuinya, maka itu bisa diterima dan hendaklah membantunya untuk berbuat kebaikan. Orang yang kafir kepada Allah bisa diterima pengakuannya atas apa yang datang dari Allah, jika ia memenuhi seruan dakwah, maka tidak ada jalan baginya, dan Allah yang akan memperhitungkannya setelah ia menyembunyikan kekafirannya. Barang siapa tidak memenuhi seruan dakwah, maka hendaklah dibunuh di mana pun ia berada. Tidak bisa diterima sesuatu pun darinya kecuali Islam. Barang siapa memenuhi dan mengakui, maka bisa diterima dan hendaklah mengajarinya, dan barang siapa enggan, maka hendaklah memeranginya. Jika Allah menolongnya dengan berhasil membunuh mereka dengan senjata dan api, lalu ia membagi harta rampasan mereka selain yang seperlima, maka hendaklah ia memberitahu kami. Dan hendaklah ia mencegah para pasukannya untuk tergesa-gesa dan berbuat kerusakan, hendaklah ia memasuki mereka sampai ia mengenal mereka semua apakah ada mata-mata yang menyusup, agar supaya kaum muslim tidak diserang lagi dari pihak mereka. Dan hendaklah ia bersikap layak kepada kaum muslim, pelan-pelan dalam berjalan atau diam dan mengawasi mereka, janganlah saling tergesa-gesa dan berwasiatlah kepada kaum muslim dengan ucapan lembut dan sikap baik.”

Dalam ikrar setia Abu Bakar yang menghimbau kepada para panglimanya untuk berdisiplin, menunjukkan konsistensi Abu Bakar dalam memberikan arahan kepada para panglimanya dalam memerangi kemurtadan melalui arahan tertulis yang isinya sama, jelas, dan terang sehingga tiada lagi kesamaran untuk memerangi kaum murtad sebelum diserukan dakwah Islam kepada mereka, menghentikan perang jika mereka mengikuti seruan dakwah, memperbaiki mereka, melarang melanjutkan perang setelah mereka mengakui Islam. Kemudian setelah itu strategi berubah dari perang kepada mengajari dan menyadarkan mereka terhadap prinsip-prinsip Islam, hak-hak, dan kewajiban mereka.

Abu Bakar memperingatkan para panglimanya untuk tidak berdamai atau menghentikan pasukan perang memerangi kaum murtad selagi mereka belum kembali ke jalan Allah.

Para tentara Islam pun konsisten dalam melaksanakan tugas khalifah berdasarkan prinsip berdakwah dulu sebelum berperang, menghentikan perang jika ada penerimaan dakwah, sebab tujuan utama adalah mengembalikan kaum murtad kepada Islam dan mewujudkan persatuan dalam barisan tentara Islam yang ditugaskan untuk menumpas kemurtadan.

Abu Bakar menghabiskan masa pemerintahannya bersama para panglima perang, ia meminta mereka agar perilaku tentara itu sendiri merupakan sarana dakwah terbaik dalam tugas ini dan hendaknya sesuai dengan tujuan yang satu yaitu membela agama Islam. Sikap Abu Bakar yang selalu mengikut jejak Rasulullah, telah mengajarkan pada dirinya teknik kepemimpinan. Kesuksesan seorang panglima dalam memimpin tergantung pada sejauh mana kesuksesannya dalam jiwa ketentaraannya. Abu Bakar adalah seorang tentara terbaik dalam pasukan Islam, tulus dalam loyalitasnya kepada Rasulullah, melaksanakan apa saja yang diperintahkannya, rela berkorban di jalannya, sama sekali saja ia tidak pernah lari dari pertempuran. Dan bisa kita lihat pula bagaimana strategi-strategi kepemimpinannya yang bagus, wasiat-wasiatnya kepada para panglima yang berdimensi jauh, strategi umum yang ia rencanakan kepada mereka saat mereka bergerak memukul kekuatan musuh. Wasiat pertama Abu Bakar kepada para panglima perang terfokus pada poin-poin berikut:

  • Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dalam kondisi sendiri atau bersama orang lain. Ini adalah suatu kebenaran dalam politik yang mapan. Karena seorang panglima jika ia bertakwa kepada Allah, maka Allah akan bersamanya, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl: 128)
  • Bersungguh-sungguh dan niat ikhlas karena Allah. Ini adalah perilaku orang-orang yang tertolong dan beruntung, sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)
  • Tidak ada pilihan bagi kaum murtad kecuali kembali kepada Islam atau mati, karena tidak ada kata damai dalam hal akidah.
  • Pembagian harta rampasan di antara para tentara dengan menyisakannya untuk kas baitul mal yaitu seperlimanya.
  • Tidak tergesa-gesa dalam menangani permasalahan yang mereka hadapi supaya terhindar dari mengambil solusi yang tidak bagus.
  • Berhati-hati jangan sampai ada orang asing yang menyusup ke dalam barisan Islam, agar tidak ada mata-mata musuh yang masuk.
  • Bersikap lembut kepada tentara dan mengawasi mereka ketika berjalan atau diam, dan hendaknya tidak saling menyepelekan satu sama lain.
  • Hendaklah berwasiat kepada para tentara dengan kebaikan dalam kebersamaan.

Dari telaah ini mungkin kita bisa mengambil kesimpulan tentang strategi umum yang direncanakan Abu Bakar, setelah mengangkat para panglima perang:

  1. Strategi ini menjamin kerja sama kuat antar para tentara, di mana tidak ada satu pun tentara yang bergerak dan terpisah di bawah komando yang independen. Meski terpisah oleh jarak yang jauh tetapi tetap satu pasukan, mungkin akan saling bertemu lalu berpisah, kemudian berpisah untuk bertemu. Itu semua terjadi sementara posisi khalifah mengatur gerakan pertempuran dan peperangan berada di Madinah.
  2. Abu Bakar mempersiapkan kekuatan yang menjaga Madinah, ibukota negara khilafah. Dia memerintahkan para sahabat nabi yang senior agar tetap berada di Madinah sebagai penasihat dan pengarah dalam politik negara.
  3. Abu Bakar menyadari bahwa ada tentara Islam yang berada di wilayah-wilayah yang mengalami gerakan kemurtadan dan pemberontakan. Ia konsisten agar mereka tidak akan mengalami penindasan dari orang-orang murtad. Untuk itulah ia memerintahkan para panglima untuk bersiap ketika melewati wilayah mereka, dan membiarkan sebagian tertinggal di belakang guna melindungi negeri mereka.
  4. Abu Bakar mempraktikkan prinsip perang tipu muslihat terhadap kaum murtad, sehingga seakan para tentara berniat melakukan sesuatu, padahal hakikatnya bertujuan lain, ini demi kewaspadaan dan supaya strateginya tidak terungkap musuh. Demikianlah kelihatan jelas dalam kepemimpinan Abu Bakar pengalaman politik, praktik lapangan, pengetahuan yang dalam, dan pertolongan Allah.

Menumpas Fitnah Al-Aswad Al-‘Unsi, Thulaihah Al-Asadi dan Terbunuhnya Malik bin Nuwairah

Menumpas Al-Aswad Al-’Unsi dan Kemurtadan Kedua di Yaman

Namanya adalah Abhalah bin Ka’ab dan dijuluki, Dzil Khimar karena dia selalu memakai kain penutup. Dia dijuluki Al-Aswad Al-’Unsi karena wajahnya yang hitam. Kekuatan Al-Asad terletak pada badannya, keberaniannya yang besar, dan kepiawaiannya dalam perdukunan, sihir, dan pidato. Dia adalah seorang dukun dan peramal yang bisa memamerkan keajaiban di depan kaumnya, menarik hati para pendengar ucapannya, dan juga menggunakan harta untuk menarik massa.

a- Al-Aswad Al-’Unsi pada masa Rasulullah

Ketika berita sakit Rasulullah setelah selesai dari haji Wada’ mulai tersebar, Al-Aswad Al-’Unsi mengaku sebagai nabi. Menurut riwayat, ia menjuluki dirinya sebagai Rahman Al-Yaman, sebagaimana julukan Musailamah Rahman Al-Yamamah. Al-Aswad mengaku nabi meski tidak mengingkari kenabian Muhammad Saw. ia mengaku bahwa ada dua malaikat yang mendatanginya membawa wahyu, mereka berdua adalah Sahiq dan Syaqiq atau Syariq.

Sebelum namanya muncul ke permukaan, ia menyembunyikan dirinya sambil mengumpulkan orang-orang yang sependapat di sekelilingnya, sampai akhirnya orang-orang kaget dengan kemunculannya.

Orang pertama yang mengikutinya adalah warga kabilahnya, yaitu kabilah ‘Uns. Lalu ia menyurati pemimpin-pemimpin kabilah Madhij yang kemudian diikuti oleh orang-orang awam dari kabilah tersebut dan sebagian pemimpin mereka yang haus akan jabatan pemimpin. Ia selalu mengorbankan fanatisme kabilah, karena ia berasal dari kabilah ‘Uns yang merupakan keturunan kabilah Madhij. Ia pernah disurati oleh anak keturunan Al-Harits bin Ka’ab dari penduduk Najran dan mereka pada waktu itu adalah pemeluk agama Islam. Mereka meminta Al-Aswad agar datang ke negeri mereka Setelah ia datang malah mereka mengikutinya, sebab keislaman mereka adalah karena terpaksa dan bukan sukarela.

Kemudian Al-Aswad diikuti oleh orang-orang dari Zabid, Aud, Masliyah, dan Hakam bani Said Al-Asyirah. Dan ia menetap di Najran beberapa waktu dan posisinya semakin bertambah kuat setelah Amr bin Ma’di Kariba Az-Zabidi dan Qais bin Maksyuh Al-Muradi ikut bergabung dengannya.

Ia berhasil mengusir Farwah bin Musaik dari Murad, Amr bin Hazm dari Najran, lalu timbul keinginannya untuk menguasai kota Sana’a. Dia keluar ke sana dengan membawa 600 atau 700 orang pasukan berkuda sebagian besar dari kabilah Al-Harits dan ‘Uns.

Al-Aswad kemudian bertemu dan berperang dengan penduduk Sana’a, di antara mereka adalah Syahr bin Badzan Al-Farisi, yang telah masuk Islam bersama ayahnya. Mereka bertemu di sebuah wilayah di luar kota Sana’a di sebuah tempat yang bernama Syaub. Dua kubu saling bertempur dan terbunuhlah Syahr bin Badzan, dan penduduk menderita kekalahan melawan pasukan Al-Aswad Al-’Unsi. Sana’a akhirnya jatuh dalam kekuasaan Al-Aswad. Kemudian ia singgah di istana Ghamdan dua puluh lima hari setelah kemunculannya.

Al-Aswad adalah seorang yang kejam dalam menyiksa orang-orang yang teguh dalam agama Islam, ia pernah membawa salah seorang muslim yang bernama An-Nu’man lalu ia menyiksanya dengan memotong anggota badannya satu persatu. Oleh karena kekejamannya itulah orang-orang Islam di wilayah yang berada di bawah kekuasaannya menyembunyikan keislamannya.

Adapun orang-orang muslim di luar wilayah kekuasaannya, mereka berusaha merapatkan barisan. Farwah bin Musaik Al-Muradi berlindung di sebuah tempat yang bernama Ahsiyah, yang diikuti oleh beberapa orang Islam. Ia mengirim surat kepada Rasulullah mengabarkan tentang berita Al-Aswad. Ia adalah orang yang pertama kali mengabari Rasulullah tentang kemunculan Al-Aswad. Kemudian Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal bergabung di Hadhramaut di dekat As-Sakasik dan As-Sukun.

Rasulullah mengirimkan suratnya kepada orang-orang yang teguh dalam Islamnya untuk melawan Al-Aswad dan menumpasnya baik dengan konfrontasi langsung atau secara sembunyi. Rasulullah mengirimkan suratnya kepada pemimpin-pemimpin kabilah Himyar dan Hamdan, agar mereka bekerja sama dan bersatu untuk membantu orang-orang Islam melawan Al-Aswad. Kemudian Rasulullah mengutus Wabar bin Yakhnas kepada Fairuz Ad-Dailami dan Jusyaisy Ad-Dailami dan Dadzaweh Al-Isthakhri.

Mengutus Jarir Al-Bajali kepada Dzu Al-Kula’ dan Dzu Zhulaim dari kabilah Himyar dan mengutus Al-Aqra’ bin Abdullah Al-Himyari kepada Dzi Zaud dan Dzi Maran dari kabilah Hamdan. Juga mengirim surat kepada penduduk Najran dan sekitarnya. Rasulullah juga mengutus Al-Harits bin Abdullah Al-Juhani ke Yaman sebelum beliau meninggal.

Al-Harits mendengar berita meninggalnya Rasulullah ketika masih berada di Yaman. Sumber-sumber sejarah tidak menjelaskan di tempat mana ia diutus oleh Rasulullah. Barangkali ia diutus kepada Mu’adz bin Jabal karena ia menerima surat dari Rasulullah yang memerintahkannya mengirim bantuan untuk melawan dan menumpas Al-Aswad. Abu Musa Al-Asy’ari dan Tahir bin Halah juga menerima surat dari Rasulullah yang berisi perintah untuk melawan Al-Aswad secara terang-terangan atau sembunyi. Surat dan utusan bantuan yang dikirimkan oleh Rasulullah berpengaruh besar bagi orang-orang Islam, mereka ini selalu dalam kondisi bersatu baik ketika Rasulullah hidup maupun setelah meninggal, tiada satu pun dari mereka yang keluar dari Islam atau ragu-ragu dalam Islamnya.

Para pemimpin Himyar dan Hamdan mengirim bantuan kepada orang-orang Islam, sementara di waktu yang sama penduduk Najran berkumpul dalam satu tempat untuk menghadapi pasukan Al-Aswad. Saat itulah Al-Aswad mulai yakin bahwa dirinya akan binasa.

Korespondensi antara orang-orang Hamdan, orang-orang Himyar dengan Mu’adz bin Jabal dan pemimpin-pemimpin Yaman terus berlanjut. Dan kemungkinan korespondensi ini terjadi pula antara orang-orang Islam dengan Farwah bin Musaik, karena ia berperan penting dalam tewasnya Al-Aswad. Akan tetapi orang yang pertama kali melawan Al-Aswad adalah Amir bin Sahl Al-Hamdani.

Demikianlah seluruh kekuatan Islam di Yaman bergabung untuk menumpas Al-Aswad Al-’Unsi. Dan tampak bahwa mereka sepakat untuk membunuhnya, karena mereka menyadari bahwa dengan terbunuhnya Al-Aswad, maka tidak akan ada lagi yang mengikutinya, sehingga akan mudah menumpas mereka semua. Maka dari itu, mereka sepakat atas rencana bahwa mereka tidak akan bertindak kecuali setelah ada kesepakatan bersama dari dalam.

Orang-orang dari kabilah Fairuz dan Dadzaweh mengambil kesepakatan bersama Qais bin Maksyuh Al-Muradi -sebelumnya ia adalah panglima pasukan Al-Aswad- untuk membunuh Al-Aswad karena sebelumnya pernah terjadi perbedaan pendapat antara keduanya dan takut masing-masing berniat saling membunuh. Kemudian istri Al-Aswad yang bernama Azad Al-Farisiyah, mantan istri Syahr bin Badzan dan keponakan Fairuz Al-Farisi, yang dirampas oleh Al-Aswad setelah berhasil membunuh suaminya Syahr ikut bergabung dengan barisan pasukan Islam, dan bergegas untuk menyelamatkan agamanya dari cengkraman kuku jahiliyah. Maka Azad bersama beberapa orang Islam yang anti Al-Aswad merencanakan pembunuhan terhadap Al-Aswad dengan membuka jalan bagi mereka untuk membunuhnya di kamar tidurnya.

Ketika Al-Aswad telah terbunuh, kepalanya dilemparkan di depan para pengikutnya, sehingga mereka kaget dan ketakutan lalu mereka berhamburan melarikan diri.

Berita kematian Al-Aswad datang kepada nabi dari langit pada malam terbunuhnya Al-Aswad. Beliau menyampaikan kabar gembira kepada kaum muslimin dalam sabdanya, “Malam ini Al-’Unsi telah terbunuh. Ia dibunuh oleh seorang lelaki yang penuh berkah dari keluarga yang penuh berkah.” Rasulullah ditanya, “Siapakah orang itu?” Rasulullah menjawab, “Dia adalah Fairuz.

Rencana pembunuhan Al-Aswad Al-’Unsi ini telah dijelaskan secara rinci oleh DR. Shalah Al-Khalidi dalam bukunya yang berjudul Shuwar min Jihad Ash-Shahabah: Amaliat Jihadiyah Khashsah Tunaffidzuha Majmu’ah Khashah min Ash-Shahabah. Kekuasaan kota Sana’a terbagi antara Fairuz, Dadzaweh, dan Qais bin Maksyuh sampai datangnya Mu’adz bin Jabal dan akhirnya mereka merelakan Mu’adz bin Jabal sebagai pemimpin mereka. Tetapi selang tiga hari mereka menegakkan syariat Islam di Sana’a, tiba-tiba terdengar berita meninggalnya Rasulullah. Berita terbunuhnya Al-Aswad telah keluar dari Sana’a dan sampai kepada Abu Bakar setelah mempersiapkan tentara Usamah. Ini adalah awal kemenangan yang dialami oleh Abu Bakar di Madinah.

b- Abu Bakar Mengangkat Fairuz Ad-Dailami Sebagai Walikota Sana’a

Abu Bakar tidak mengangkat Qais sebagai wali kota karena sebelumnya ia adalah pengikut Al-Aswad -yang fanatik terhadap kabilah Madhij atau ingin memperoleh jabatan- sedangkan prinsip yang dianut oleh Abu Bakar adalah ia tidak akan meminta bantuan dari orang yang murtad. Abu Bakar juga mengangkat Dadzaweh, Jusyaisy, dan Qais bin Maksyuh sebagai pembantu Fairuz. Qais bin Maksyuh tidak rela dengan pengangkatannya sebagai pembantu dan berubah pikiran untuk membunuh ketiga pimpinan itu. Ia berhasil membunuh Dadzaweh baik dengan tangannya sendiri atau bantuan orang lain. Fairuz menyadari niat jahat Qais, maka ia segera melarikan diri ke kabilah pamannya di Khaulan.

Qais pun mulai terpancing oleh fanatisme kesukuan dan ia mulai berusaha mengumpulkan pemimpin-pemimpin kabilah untuk melawan pemimpin Islam, dengan dalih bahwa mereka telah merebut kekuasaan Sana’a, dan mereka harus dibunuh dan sisanya diusir dari kota. Akan tetapi, para pemimpin kabilah itu bersikap netral tidak berpihak pada Qais atau berpihak pada pemimpin Islam. Mereka berkata kepada Qais, “Kamu adalah sahabat mereka dan mereka adalah sahabat kamu.” Setelah Qais putus asa membujuk mereka, ia kembali menyurati pengikut Al-Aswad, baik yang masih ragu-ragu antara berpihak kepada Sana’a dan Najran atau yang berpihak kepada Luhaj. Ia meminta agar mereka bertemu dan bersatu untuk mengusir pemimpin Islam dari Sana’a.

Penduduk Sana’a baru menyadari rencana ini setelah mereka terkepung oleh pengikut Al-Aswad. Qais pun bersikeras untuk bersiap mengumpulkan mereka dan mengusir mereka dari Sana’a.

Ketika Fairuz Ad-Dailami sampai di Khaulan, ia menulis surat kepada Abu Bakar mengabarkan apa yang dilakukan oleh Qais. Maka Abu Bakar segera mengirimkan surat kepada para pemimpin yang pernah disurati oleh Rasulullah. Isi surat itu adalah sangat jelas dan terang, “Bantulah mereka dari serangan orang-orang yang melawan dan kepunglah mereka, dengarkanlah perintah Fairuz, bersungguh-sungguhlah, sesungguhnya aku telah mengangkatnya sebagai pemimpin.” Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam strateginya ini ingin mencapai dua tujuan:

  • Ia menjadikan ini sebagai strategi perang di mana pasukan Usamah bin Zaid telah keluar menuju negeri Syam. Khalifah Abu Bakar menunggu kedatangannya sampai ia mampu membendung gelombang kemurtadan di Yamamah, Bahrain, Oman, dan Tamim. Ini adalah gelombang yang lebih besar dibanding gelombang kemurtadan di Yaman yang cukup diatasi dengan mengirim surat dan utusan.
  • Tujuan lain dari strategi ini adalah memberikan kesempatan kepada orang yang teguh dalam Islam untuk menunjukkan konsistensinya dalam Islam, dan agar ia bertambah kuat dan berpegang teguh dalam agamanya, selagi ia adalah penanggung jawab dan pemegang amanat ikrar Islam terhadap orang-orang di sekitarnya. Apalagi, orang-orang yang dikirimi surat oleh Abu Bakar adalah mereka yang pernah dikirimi surat oleh Rasulullah. Dan mereka tetap teguh dan melaksanakan apa yang diperintahkan. Fairuz melakukan kontak dengan para pemimpin kabilah, untuk meminta bantuan dan pertolongan. Di antara mereka adalah Bani Uqail bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah. Lalu ia mengutus kepada kabilah Akk untuk tujuan yang sama. Abu Bakar telah mengutus kepada Thahir bin Abu Halah dan Masruq Al-Akky. Ada perjanjian antara kabilah Akk dan kabilah Asy’ari untuk membantu orang-orang Islam, maka keluarlah masing-masing dari kabilahnya dan bersatu untuk menghalangi terlaksananya rencana Qais mengusir orang-orang Islam, maka keluarlah masing-masing dari kabilahnya dan bersatu untuk menghalangi terlaksananya rencana Qais mengusir orang-orang Islam dan mengeluarkan mereka dari Yaman. Lalu mereka menyelamatkan orang-orang Islam dan bergabung lagi untuk bergerak menuju Sana’a dan berperang melawan Qais, sampai ia mundur dan terpaksa meninggalkan Sana’a. Dan kembali lagi seperti pengikut Al-Aswad yang bolak-balik antara Najran, Sana’a, dan Luhaj. Akan tetapi kemudian ia bergabung dengan Amr bin Ma’di Kariba Az-Zabidi. Dengan demikian, kondisi Sana’a kembali untuk yang kedua kalinya tenang dan stabil dengan adanya utusan-utusan dan surat khalifah.

c- Abu Bakar Menjalankan Politik Penggembosan Dari Dalam

Dalam istilah sejarah wan dikatakan, “Orang yang murtad ditumpangi oleh orang yang tidak murtad dan teguh dalam Islam.” Kemurtadan yang terjadi di Tihamah di negeri Yaman dapat ditumpas tanpa membutuhkan upaya besar dari khalifah. Penumpasan ini cukup ditangani oleh anak negeri sendiri seperti Masruq Al-Akki yang memerangi orang-orang murtad dari kaumnya kabilah Akk. Di antara yang menumpas orang-orang murtad di Tihamah adalah Thahir bin Abu Halah yang merupakan wali kota yang diangkat oleh Rasulullah untuk memimpin sebagian wilayah di Tihamah, yaitu tempat tinggal Kabilah Akk dan Asy’ari. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Ukasyah bin Tsaur untuk bermukim di Tihama dan mengumpulkan penduduknya sampai datang lagi perintahnya. Adapun di Bujailah, Abu Bakar telah mengembalikan Jarir bin Abdullah dan memerintahnya mempersiapkan warganya yang teguh dalam Islam untuk memerangi orang-orang murtad, mendatangi Khats’am dan memerangi mereka yang murtad. Maka keluarlah Jarir melaksanakan perintah Abu bakar sampai akhirnya orang-orang murtad tidak bisa bertahan lagi kecuali beberapa orang yang terus dikejar dan dibunuh.

Sebagian warga kabilah Bani Al-Harits bin Ka’ab di Najran telah mengikuti Al-Aswad Al-’Unsi. Setelah Rasulullah meninggal, mereka masih tetap ragu-ragu, maka keluarlah Masruq Al-Akki menuju ke sana untuk memerangi mereka. Ia mengajak mereka kembali kepada Islam, dan mereka pun masuk Islam tanpa ada perlawanan. Kemudian Masruq bermukim di sana untuk mengatur urusan-urusan sampai tibalah Muhajir bin Abu Umayyah. Dan Najran pun akhirnya telah terkendali dengan baik. Politik penggembosan dari dalam ini telah berhasil, lalu Abu Bakar segera mengirim pasukan setelah kembalinya pasukan Usamah.

d- Pasukan Ikrimah

Setelah Ikrimah ikut berpartisipasi dalam menumpas kemurtadan penduduk negeri Oman, ia bergerak menuju Mahrah atas perintah Abu Bakar. Ia membawa 700 pasukan berkuda selain yang dikumpulkan dari kabilah-kabilah Oman. Ketika memasuki Mahrah, Ikrimah mendapati kota ini menjadi rebutan antara dua pemimpin, yaitu Syakhrait yang bermarkas di bukit pantai, jumlah pasukan, dan alat perangnya lebih kecil. Dan satunya lagi adalah Al-Musbih, ia mempunyai pengaruh di wilayah dataran tinggi dan jumlah pasukannya lebih besar. Kemudian Ikrimah menyerukan keduanya teguh dalam Islam, maka Syakhrait pun memenuhi seruan Ikrimah. Tapi, Al-Musbih yang sombong dengan kekuatan besarnya enggan memenuhi ajakan Ikrimah. Maka Ikrimah bersama Syakhrait pun memerangi Al-Musbih sampai ia kalah dan banyak pengikutnya yang terbunuh. Kemudian Ikrimah tinggal di sana menyatukan dan mengatur urusan mereka, sampai akhirnya mereka dibaiat masuk Islam dan mereka pun merasa aman dan stabil.

Ikrimah telah menerima surat dari Abu Bakar yang berisi perintah untuk bergabung dengan Al-Muhajir bin Abu Umayyah yang datang dari Sana’a agar mereka berdua bergerak menuju Kindah. Kemudian Ikrimah keluar dari Mahrah sampai ia singgah di Abyan sambil menunggu kedatangan Al-Muhajir. Dalam persinggahannya di Abyan, Ikrimah menyatukan kabilah Nukha` dan Himyar dan mengajak mereka untuk teguh dalam Islam. Kedatangan Ikrimah di Abyan menimbulkan pengaruh terhadap sisa-sisa pengikut Al-Aswad, terutama Qais bin Al-Maksyuh dan Amr bin Ma’di Karib.

Setelah pelariannya dari Sana’a Qais terus bolak-balik antara Sana’a dan Najran, sementara Amr bin Ma’di Kariba menghimpun kelompok pengikut Al-Aswad yang ia namakan kelompok Luhaj, karena tujuan mereka adalah ke Luhaj. Ketika datang Ikrimah, Qais dan Amr bersatu untuk memerangi utusan Abu Bakar ini. Akan tetapi tiba-tiba timbul perselisihan antara keduanya dan terjadi saling ejek dan akhirnya mereka berseteru. Maka, ketika datang Al-Muhajir bin Umayyah, Amr segera menyerahkan diri dan diikuti oleh Qais. Lalu Al-Muhajir mengikat keduanya dan mengirimkannya kepada Abu Bakar. Setelah Abu Bakar menyalahkan keduanya dan masing-masing meminta maaf atas perbuatannya, maka ia pun melepaskannya. Kemudian keduanya kembali setelah bertaubat dan berbuat baik. Demikianlah, kedatangan Ikrimah dari arah Timur memberikan pengaruh besar dalam menumpas sisa-sisa orang murtad yang berada di Luhaj, baik dengan memerangi mereka atau ketakutan mereka melihat pasukan yang datang, sementara dari arah Utara mereka menghadapi pasukan di bawah pimpinan Al-Muhajir.

e- Pasukan Al-Muhajir bin Abu Umayyah Menumpas Kemurtadan di Hadhramaut dan Kindah

Pasukan terakhir dari sebelas pasukan yang bergerak dari Madinah adalah pasukan di bawah komando Al-Muhajir bin Abu Umayyah. Ia membawa tentara dari kaum Muhajirin dan Anshar. Ketika melewati Makkah, Khalid bin Usaid -Saudara Attab bin Usaid, wali kota Makkah- ikut bergabung. Kemudian ia melewati Thaif dan bergabung bersamanya Abdurrahman bin Abu Al-Ash dan pengikutnya, Jarir bin Abdullah Al-Bajali dari Najran, Ukasyah bin Tsaur dari Tihamah, Farwah bin Musaik Al-Muradi dari ujung Madhij. Ia juga melewati Bani Al-Harits bin Ka’ab lalu mendapati Masruq Al-Akki yang juga bergabung dengannya.

Di Najran, Al-Muhajir membagi dua pasukannya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, bertugas menumpas sisa-sisa pengikut Al-Aswad yang tersebar di antara Najran dan Sana’a. Kelompok ini dipimpin langsung oleh Al-Muhajir. Kelompok kedua dipimpin saudaranya, Abdullah, kelompok ini bertugas membersihkan wilayah Tihamah di Yaman dari sisa-sisa orang Murtad.

Ketika Al-Muhajir menetap di Sana’a, ia mengirimkan surat laporan kepada Abu Bakar tentang apa yang dilakukannya di sana dan selalu menanti surat balasan dari Abu Bakar. Pada saat yang sama, Mu’adz bin Jabal dan pegawai-pegawai di Yaman yang diangkat oleh Rasulullah -selain Ziyad bin Labid- mengirimkan surat kepada Abu Bakar meminta izin untuk kembali ke Madinah. Maka datanglah surat jawaban dari Abu Bakar yang memberikan mereka pilihan untuk tetap di sana atau kembali dan agar yang kembali mengangkat wakilnya sebagai pengganti, dan akhirnya mereka semua kembali ke Madinah. Adapun Al-Muhajir, ia mendapat surat perintah lagi untuk bergerak menemui Ikrimah dan menuju ke Hadhramaut guna membantu Ziyad bin Labid. Juga perintah untuk mengizinkan pasukannya yang ikut berperang dalam perjalanan antara Makkah dan Yaman untuk kembali, kecuali kalau mereka memilih untuk berjihad.

Ziyad bin Labid Al-Anshari adalah pegawai Rasulullah untuk wilayah Kindah di Hadhramaut, Abu Bakar pun mengesahkan kembali tugasnya ini. Ziyad adalah seorang yang tegas dan kuat. Karena ketegasan dan kekuatannya inilah Haritsah bin Suraqah membangkangnya. Inti kisah ini seperti yang disebutkan Al-Kula’i bahwasanya Ziyad pernah salah memberikan seekor unta milik pemuda dari Kindah. Ketika orang yang punya unta ingin mengganti dengan lainnya, Ziyad tidak menerimanya. Maka pemuda itu meminta bantuan dari pemimpinnya yaitu Haritsah bin Suraqah. Ketika Ibnu Suraqah meminta ganti unta itu, Ziyad bersikeras dengan sikapnya. Ibnu Suraqah marah lalu melepaskan unta itu dengan paksa, maka timbul perselisihan antara pengikut Ziyad dan pengikut Ibnu Suraqah dan terjadilah pertempuran antara dua kubu, Ibnu Suraqah pun mengalami kekalahan, dan terbunuhlah empat pemimpin Kindah. Ziyad menawan beberapa orang dari kelompok Ibnu Suraqah. Tawanan ini dalam perjalanannya ke Madinah meminta bantuan kepada Al-Asy’ats bin Qais, lalu ia memenuhi permintaan itu karena fanatisme kesukuan. Kelompok Al-Asy’ats semakin bertambah banyak dan mereka mengepung orang-orang Islam. Maka Ziyad meminta bantuan Al-Muhajir dan Ikrimah yang telah bergabung di Ma`rib.

Al-Muhajir segera bergerak meninggalkan Ikrimah dan menuju tentaranya dan membawa pasukan berkuda menyusul Ziyad dan membantunya. Akhirnya ia mampu melepaskan kepungan, sehingga orang-orang Kindah lari menuju benteng mereka bernama Nujair. Benteng ini hanya memiliki tiga pintu. Ziyad masuk lewat pintu pertama, Al-Muhajir lewat pintu kedua sedangkan pintu ketiga masih di bawah kontrol Kindah, sampai tibalah Ikrimah dan memasukinya lalu mengepung mereka dari segala penjuru.

Kemudian Al-Muhajir mengirimkan orang-orang ke kabilah-kabilah Kindah yang tersebar di bukit dan pegunungan, menyerukan mereka kepada agama Islam dan barang siapa yang membangkang akan diperangi. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari mereka kecuali yang terkepung di dalam benteng.

Jumlah tentara Ziyad dan Al-Muhajir lebih dari 5.000 personel berasal dari orang-orang Muhajirin dan Anshar. Adapun yang lain berasal dari beberapa kabilah selain keduanya.

Keduanya terus mengepung orang-orang yang berada di dalam benteng sampai mereka mengeluh kepada para pemimpin mereka dan marah karena kelaparan. Mereka lebih memilih mati di bawah pedang. Para pemimpin kabilah sepakat agar Al-Asy’ats bin Qais meminta jaminan keamanan dan tunduk kepada perintah orang-orang Islam. Setelah Al-Asy’ats ditugaskan untuk bernegosiasi dengan orang-orang Islam, ia tidak berhasil karena riwayat-riwayat menyebutkan bahwa ia tidak meminta jaminan keamanan bagi orang yang berada di dalam benteng, atau ia tidak bersikeras memintanya dan hanya meminta untuk tujuh atau sepuluh orang saja dan syarat negosiasi itu adalah dibukanya benteng Nujair.

Dari peristiwa ini banyak orang-orang Kindah yang dibunuh, bahkan korban dari mereka mencapai 700 orang, sehingga bisa dikatakan bahwa peristiwa yang mereka alami ini mirip sekali dengan peristiwa yang dialami oleh orang-orang Yahudi dari bani Quraidhah.

Maka selesailah penumpasan terhadap kemurtadan orang-orang Kindah. Ikrimah kembali dengan membawa tawanan dan seperlima harta rampasan. Di antara mereka yang ditawan adalah Al-Asy’ats bin Qais yang telah dibenci oleh kaumnya terutama oleh kaum wanita, karena ia adalah sebab dari terhinanya mereka dan ia pula yang waktu berdamai dengan orang-orang Islam memulainya dengan menyebut dirinya. Kaum wanita menjulukinya sebagai seorang pengkhianat. Ketika Al-Asy’ats sampa di depan Khalifah Abu Bakar, ia menanyainya, “Apa yang akan dilakukan padamu setelah kamu berbuat apa yang kamu tahu sendiri?” Al-Asy’ats menjawab, “Kamu akan memberiku, melepaskanku dari tali besi, mengawinkan aku dengan saudara perempuanmu, sesungguhnya aku telah kembali dan masuk Islam.” Abu Bakar, “Aku akan melakukan itu, maka kawinkanlah Al-Asy’ats dengan Ummu Fatwah binti Quhafah.” Kemudian Al-Asy’ats tinggal di Madinah sampai ditaklukkannya negeri Irak. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Al-Asy’ats takut jatuh di tangan orang Islam, ia berkata kepada Abu Bakar, “Apakah kamu mengira aku akan berbuat baik, lalu kamu melepaskan tawananku, kamu maafkan kesalahanku, kamu menerima Islamku, kamu berbuat kepadaku sebagaimana kamu berbuat kepada orang semisalku, kamu kembalikan istriku -sebelumnya ia telah melamar Ummu Farwah ketika menemui Rasulullah untuk pertama kalinya dan menangguhkannya sampai ia menemui beliau lagi untuk yang kedua kalinya, akan tetapi Rasulullah telah meninggal sebelum ia menemui beliau lagi, maka Al-Asy’ats melakukan apa yang ia perbuat dan takut Ummu Farwah tidak dikembalikan kepadanya- kamu akan mendapatiku sebagai orang terbaik di kaumku dalam agama Allah. Maka ia pun dimaafkan dan dikembalikan istrinya. Dan Abu Bakar berkata, “Pergilah kamu, semoga aku nanti mendengar berita yang baik tentangmu, menyendirilah dari kaummu.” Lalu mereka pergi dan Abu Bakar membagi seperlima harta rampasan.

g. Faidah dan Pelajaran yang Dapat Kita Petik

  • Wanita di antara Merusak dan Membangun

Dalam peperangan melawan kemurtadan di Yaman terlihat dua potret yang berbeda tentang wanita. Potret seorang wanita suci yang berjuang membela Islam, memerangi kekejian, memerangi hawa nafsu dan setan dari golongan manusia dan jin. Wanita ini adalah tercermin dalam diri seorang Azad dari Persia istri Syahr bin Badzan dan keponakan Fairuz Al-Farisi. Ia teguh membela Islam dengan tekad yang kuat, merencanakan bersama orang-orang Islam untuk membunuh Al-Aswad Al-’Unsi, pembohong dari Yaman.

Seorang Muslim dalam setiap masa akan selalu menghargai konsisten Azad dalam agamanya, dan akan mengesampingkan apa yang dituduhkan oleh DR. Muhammad Husain Haikal tentang Azad. Ketika membicarakan tentang sikap Azad terhadap pembohong Yaman, Haikal berusaha mengambil tindakan Azad kepada sifat fanatisme. Dalam membicarakan tentang Al-Aswad, Haikal mengatakan, “Ketika Al-Aswad semakin kuat dan banyak membunuh orang, ia mulai meremehkan Qais dan Fairuz dan melihat keduanya serta semua orang-orang Persia sebagai orang yang pandai menipu daya. Istri Al-Aswad yang asli dari Persia tidak menerima penghinaan suaminya terhadap orang Persia, lalu timbullah sifat fanatisme kebangsaannya dan ia mulai merasakan dendam kepada Al-Aswad, pembunuh suaminya, seorang pemuda dari bangsa Persia yang ia cintai dari dalam lubuk hatinya. Azad dengan tabiat kewanitaannya mampu menyembunyikan kebenciannya terhadap Al-Aswad dan pura-pura menjadi istrinya sambil berusaha sekuat tenaga untuk mendarmabaktikan kesetiaannya kepada sang suami tercinta yang terbunuh.

Gaya bahasa Haikal ini merupakan penghinaan terhadap seorang Azad berkebangsaan Persia yang beriman, seakan ia menuduhnya berkhianat kepada Al-Aswad berkebangsaan Arab, demi fanatisme kebangsaannya dan seakan Azad menyembunyikan sesuatu dari apa yang kelihatan dari sikapnya. Ini adalah penafsiran yang tidak pada tempatnya atas kejadian sebenarnya.

Azad seorang muslimah dan shalehah, suaminya yang Muslim telah dibunuh oleh Al-Aswad, lalu ia mengawininya dengan paksa. Azad telah menggambarkan Al-Aswad dalam ucapannya, “Demi Allah, tidaklah Allah menciptakan makhluk yang paling aku benci dari Al-Aswad. Ia tidak pernah memberikan hak Allah dan tidak pernah berhenti dari apa yang dilarang-Nya.”

Azad adalah wanita yang dijadikan oleh Allah sebagai perantara kebinasaan Al-Aswad, atas jasanyalah Fairuz dan kawan-kawannya berhasil membunuhnya. Yang mendorong Azad melakukan ini semua adalah karena kecintaannya kepada agama, akidah, dan Islamnya dan kebenciannya terhadap Al-Aswad sang pembohong yang ingin menghilangkan agama Islam dari negeri Yaman.

Inilah potret cemerlang dari apa yang dilakukan oleh seorang wanita muslimah di Yaman dalam berjihad menegakkan agamanya.

Adapun potret buram dan gelap dari seorang wanita adalah tercermin dalam diri wanita Yaman dari kaum Yahudi atau pengikutnya di Hadhramaut. Wanita-wanita yang gembira ria mendengar Rasulullah meninggal, sehingga mereka merayakannya dengan berpesta pora di malam hari bersama orang-orang fasik lalu mengajak mereka berbuat keji. Pada malam itu, setan ikut menari-nari bersama mereka merayakan kemurtadan orang-orang dari agama Islam sambil menyerukan untuk memberontak dan memerangi orang-orang Islam.

Wanita-wanita ini telah rindu kembali dengan suasana Jahiliah yang penuh dengan kemungkaran, mereka mengerubungi kemungkaran seperti lalat yang mengerubungi timbunan sampah. Mereka terbiasa dengan perilaku keji dalam kehidupan jahiliahnya.

Ketika Islam datang, mereka merasa terhalangi oleh kesucian agama Islam, seakan mereka merasa dalam penjara sempit yang pengap. Maka dari itu, setelah mereka mendengar berita Rasulullah meninggal, mereka memperlihatkan kegembiraan dengan melukis hiasan di tangan, menabuh gendang dan menyanyi riang. Mereka telah mewujudkan apa yang mereka dambakan, yaitu kekuasaan baru. Mayoritas mereka ini adalah dari para tokoh penduduk dan sebagian orang Yahudi. Kedua kelompok ini, yaitu para tokoh penduduk dari Arab dan Yahudi mempunyai kepentingan untuk menjatuhkan prinsip-prinsip dan eksistensi agama Islam. Gerakan ini dalam sejarah dikenal dengan gerakan wanita-wanita penghibur, jumlah mereka ada dua puluhan lebih yang tersebar di kampung-kampung Hadhramaut. Yang paling tenar adalah Hirr binti Yamin dari keturunan Yahudi yang menjadi panutan dalam perzinahan, sampai dikatakan dalam pepatah, “Lebih berzina dari Hirr.”

Sejarah mencatat bahwa orang-orang bejat saling bergiliran untuk berzina dengannya pada masa Jahiliah. Wanita-wanita penghibur ini tidak dibiarkan begitu saja berbuat kerusakan dalam masyarakat semaunya, berita tentang mereka telah sampai kepada Abu Bakar, seorang lelaki dari Yaman mengirimkan surat kepadanya yang berisi bait-bait syair ini,

Sampaikan kepada Abu Bakar jika kamu mendatanginya
Bahwa wanita-wanita penghibur berbuat semaunya
Mereka bergembira mendengar meninggalnya Nabi
Mereka melukisi tangannya dengan serbuk pacar
Potonglah tangan-tangan mereka dengan pedang
Laksana kilat yang menyambar di atas mega awan.

Maka Abu Bakar mengirimkan surat kepada pegawainya di sana yaitu Al-Muhajir bin Abu Umayyah, yang isinya sangat keras dan tegas, “Jika datang kepadamu suratku ini, maka bergeraklah menuju wanita-wanita itu dengan kuda dan untamu sampai kamu memotong tangan-tangan mereka. Jika ada yang membela mereka, maka debatlah dengan hujjah dan beritahu kepadanya akan dosa besar dan permusuhan di dalamnya. Jika ia kembali, maka terimalah. Jika ia enggan, maka lawanlah, sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk orang-orang yang berkhianat.”

Setelah membaca surat ini, Al-Muhajir segera mengumpulkan kuda dan unta lalu bergerak menuju wanita-wanita itu, tetapi terhalangi oleh orang-orang dari Kindah. Ia pun menyeru mereka, tapi mereka malah memilih untuk berperang. Maka Al-Muhajir memerangi dan berhasil mengalahkan mereka. Kemudian ia menangkap wanita-wanita itu dan memotong tangan-tangan mereka, sehingga kebanyakan mereka terbunuh dan sisanya melarikan diri ke Kufah.

Mereka telah mendapat balasan setimpal dalam pengadilan Islam yang adil, karena pegawai Abu Bakar di sana telah menerapkan hukum hudud bagi orang yang berbuat onar dan kerusakan.

Khalifah mendapatkan laporan berita tentang dua wanita dari Hadhramaut yang bernyanyi mengejek Rasulullah dan orang-orang Islam. Al-Muhajir, wali kota di sana, telah menghukum mereka dengan memotong tangan mereka dan mencabut gigi depan mereka. Tapi, Abu Bakar tidak ridha dengan hukuman ini dan menganggapnya sebagai hukuman ringan. Kemudian ia mengirimkan surat kepada Al-Muhajir yang isinya, “Aku mendengar apa yang kamu lakukan terhadap wanita yang bersiul-siul memaki Rasulullah, kalau saja kamu tidak lebih dulu menghukumnya, niscaya aku perintahkan kamu untuk membunuhnya, karena hukuman bagi penghina Nabi tidak seperti hukuman biasa. Barang siapa berbuat demikian dan ia adalah seorang Muslim, maka ia telah murtad, atau jika ia seorang kafir yang berdamai, maka ia telah menjadi kafir yang melawan dan pengkhianat.

Dalam surat lainnya Abu Bakar berkata, “Aku mendengar bahwa kamu telah memotong tangan wanita yang bernyanyi memaki orang-orang Islam dan kamu mencabut gigi depannya. Jika ia adalah mengaku Islam, maka ajarlah. Jika ia seorang Dzimmi, maka itu lebih besar dari syirik. Kalau aku lebih dahulu tahu hal seperti ini, kamu akan merasakan sesuatu yang tidak baik. Janganlah menyiksa orang, karena itu adalah perbuatan dosa dan menjauhkan, kecuali pada hukuman Qishas.

  • Orator-orator Keimanan

Sebagian penduduk Yaman memiliki jiwa besar dalam keteguhannya pada jalan kebenaran, dakwah Islam dan dalam memperingatkan kaumnya dari bahaya kemurtadan. Di antara mereka adalah Marran bin Dzi Umair Al-Hamadani, salah seorang raja Yaman yang masuk Islam. Ketika orang-orang di sana mulai murtad dari agama Islam dan mereka berbicara menghina Islam, maka Marran berdiri dan berpidato di depan mereka, “Wahai warga Hamdan, sesungguhnya kalian tidak pernah memerangi Rasulullah dan Rasulullah tidak pula memerangi kalian. Dengan demikian kalian telah beruntung dan mengalami keselamatan. Rasulullah tidak pernah melaknat kalian, yang laknatnya akan menimpa kalian semua dari awal sampai akhir kalian. Kalian telah didahului oleh suatu kaum dalam memeluk Islam, dan kalian telah mendahului kaum lainnya. Jika kalian berpegang teguh, kalian akan menyusul orang yang mendahului kalian. Jika kalian menyiakannya kalian akan disusul oleh orang yang kalian dahului.” Maka mereka pun menerima ajakannya itu. Kemudian ia membacakan syair meratapi meninggalnya Rasulullah,

Kesedihanku atas rasul panjang sekali
Ini dariku bagi rasul adalah sedikit sekali
Bumi dan langit menangisinya
Beliau juga ditangisi pembantunya malaikat Jibril

Abdullah bin Malik Al-Arhabi, salah seorang sahabat nabi yang pernah berhijrah dan punya keutamaan dalam agamanya, berdiri dan dikerumuni oleh orang-orang Hamdan, lalu ia berpidato, “Wahai warga Hamdan, sesungguhnya kalian tidak menyembah Muhammad, tetapi kalian adalah menyembah Tuhan Muhammad, Dialah Yang Maha hidup dan tidak mati. Hanya saja kalian menaati Rasul-Nya karena ketaatan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya Rasulullah telah menyelamatkan kalian dari api neraka. Dan Allah tidak akan mengumpulkan sahabat-sahabat Rasul dalam kesesatan.” Kemudian ia berpidato panjang dan melantunkan bait-bait syair,

Tuhannya telah memanggilnya
Dan beliau pun memenuhinya
Wahai sebaik-baik orang dari bumi Ghauri
Wahai sebaik-baik penolong

Syurahbil bin As-Simth dan anaknya berdiri berpidato di depan warga bani Mu’awiyah dari Kindah, ketika mereka sepakat untuk tidak membayar zakat. Keduanya berkata di depan mereka, “Sesungguhnya keburukan bagi orang yang merdeka yang berpindah-pindah, orang-orang terhormat teguh menjauhi syubhat, mereka tidak mau berpindah-pindah takut ketahuan aibnya. Terus bagaimana berpindah dari sesuatu yang baik dan bagus serta benar kepada sesuatu yang buruk dan jelek? Ya Allah, kami tidak mendukung kaum kami berbuat seperti itu.” Kemudian ia berpindah tempat dan turun bersama Zaid disertai oleh Umru` Al-Qais bin ‘Abis dan keduanya berkata kepadanya, “Singgahlah kamu di kaum itu, karena orang-orang dari Sakasik dan Sakun telah bergabung bersama mereka dan juga beberapa orang dari Hadhramaut. Jika kamu tidak melakukan itu, kami khawatir orang-orang akan terpecah dan meninggalkan kita.” Kemudian ia menuruti permintaan mereka singgah di kaum itu, lalu mereka berkumpul dan memasuki kaum dan mendapati mereka sedang duduk di sekeliling api. Selanjutnya mereka menyerang Bani Amr dan Bani Mu’awiyah, yang memiliki jumlah banyak dan kekuatan dari lima penjuru. Mereka berhasil mengalahkan empat raja dari Kindah dan saudara perempuan mereka Al-Amarradah dan membunuhi mereka. Maka orang-orang pun lari, bagi mereka yang kuasa melarikan diri. Dan kembalilah Ziyad bin Labid  dengan membawa rampasan harta benda dan para tawanan. Demikianlah teladan dari orang-orang beriman yang memiliki sikap baik yang menunjukkan kedalaman iman mereka dan loyalitas mereka terhadap Islam, sehingga mereka bisa dikatakan sebagai orator-orator iman.

  • Karamah Para Wali

Ketika Al-Aswad Al-’Unsi menguasai negeri Yaman dan mengaku sebagai nabi, ia memanggil Abu Muslim Al-Khaulani dan menanyainya, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Abu Muslim menjawab, “Aku tidak mendengar.” Al-Aswad, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” Abu Muslim, “Ya.” Abu Muslim mengulang-ulang jawabannya itu, setiap kali ditanya, ia menjawab seperti jawaban pertama. Kemudian Al-Aswad memerintahkan agar Abu Muslim dilemparkan ke dalam bara api besar, akan tetapi ia tidak apa-apa. Pengikut Al-Aswad menyarankan agar Abu Muslim diasingkan agar tidak mempengaruhi pengikut-pengikut Al-Aswad. Kemudian Abu Muslim diperintahkan untuk meninggalkan Yaman, dan ia pun pergi menuju kota Madinah dan saat itu Rasulullah telah meninggal. Sesampainya di Madinah Abu Muslim menambatkan kendaraannya di pintu masjid, lalu ia masuk dan shalat di dekat tiang masjid. Umar bin Al-Khathab melihatnya dan bangkit menemuinya lalu bertanya, “Dari mana asal kamu?” Ia menjawab, “Dari Yaman.” Umar, “Apa kabarnya orang yang telah dibakar dalam api oleh pembohong Al-Aswad?” Abu Muslim, “Itu adalah Abdullah bin Tsaub.” Umar, “Demi Allah, apakah orang itu adalah kamu?” Abu Muslim, “Ya.” Kemudian Umar memeluknya dan menangis lalu membawanya duduk di depan Abu Bakar yang kemudian berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikan aku sampai Allah memperlihatkan kepadaku pada umat Muhammad seorang yang diperlakukan seperti apa yang terjadi pada nabi Ibrahim, kekasih Allah.”

Inilah karamah hamba Allah yang shaleh, yang menaati perintah Allah, mencintai dan membenci karena Allah serta tawakkal kepada Allah dalam segala hal. Maka dari itu, Allah menolongnya dalam ucapan, perbuatan, dan menganugerahkan keamanan, ketenangan, dan karamah. Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62-64)

  • Pemberian Maaf Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar adalah seorang yang memiliki pandangan jauh, pemikiran cerdas, dan mengerti akibat dari sesuatu hal. Maka dari itu, ia menggunakan ketegasan pada tempatnya, memberi maaf jika memang keperluan menuntut itu. Ia konsisten dalam menyatukan kabilah-kabilah yang terpecah-belah di bawah bendera Islam.

Di antara politiknya yang bijaksana adalah ia memaafkan para pemimpin kabilah yang keras setelah mereka kembali ke jalan yang benar. Ketika ia berhasil menundukkan kabilah-kabilah Yaman yang murtad, memperlihatkan kepada mereka kekuasaan dan kekuatan serta tekad bulat negara Islam, sehingga kabilah-kabilah itu mengakui pemerintah Islam dan mematuhi khalifah Rasulullah, maka Abu Bakar melihat bahwa untuk menjinakkan hati mereka, ia tidak menggunakan kekuatan dalam berinteraksi dengan para pemimpin kabilah. Tapi cara yang digunakan adalah cara lembut dan halus. Ia mencabut hukuman mereka, menghaluskan ucapan dengan mereka, menggunakan pengaruh pemimpin-pemimpin itu untuk kemaslahatan Islam dan orang Islam. Ia pun memaafkan kesalahan mereka dan berbuat baik kepada mereka.

Tindakan Abu Bakar ini diterapkan kepada Qais bin Yaghuts Al-Muradi dan Amr bin Ma’di Kariba, keduanya adalah pemimpin Arab yang keras dan pemberani. Abu Bakar tidak ingin kehilangan mereka dan berusaha mengajak mereka untuk tulus masuk Islam serta menyelamatkannya dari keraguan antara Islam dan Murtad. Abu Bakar berkata kepada Amr, “Apakah tidak hina kamu setiap hari menderita kekalahan atau dijadikan tawanan. Jika kamu menolong agama ini niscaya kamu akan diangkat oleh Allah.” Amr, “Tidak apa-apa, aku akan melakukannya dan tidak akan kembali lagi. Kemudian Abu Bakar melepaskannya dan Amr pun sama sekali tidak pernah murtad setelah itu, bahkan ia masuk Islam dan menjalankan Islam sebaik-baiknya. Ia ditolong oleh Allah dan mempunyai jasa besar dalam ekspansi Islam selanjutnya. Adapun Qais, ia menyesali perbuatannya dan Abu Bakar pun memaafkannya. Pemberian maaf Abu Bakar kepada dua orang ini menimbulkan pengaruh yang dalam dan besar. Dengan ini Abu Bakar berhasil menyatukan hati orang-orang dan mereka kembali kepada Islam setelah murtad, baik karena takut atau ambisi. Abu Bakar juga memaafkan Al-Asy’ats bin Qais. Dengan demikian Abu Bakar berhasil menarik simpati mereka yang nantinya mereka akan menjadi penolong Islam dan kekuatan orang Islam yang berjasa besar.

  • Wasiat Abu Bakar kepada Ikrimah dan Perhitungannya Kepada Mu’adz

Abu Bakar ketika mengutus Ikrimah bin Abu Jahal kepada Musailamah dan diikuti oleh Syurahbil bin Hasanah, Ikrimah terburu-buru sehingga orang-orang dari Bani Hanifah berhasil menemuinya dan mengalahkannya. Maka Ikrimah menulis surat kepada Abu Bakar melaporkan apa yang terjadi pada dirinya. Lalu Abu Bakar menulis surat balasan yang isinya, “Wahai Ikrimah, aku tidak akan melihat kamu dan kamu tidak akan melihat aku dalam kondisi demikian. Janganlah kamu kembali, sehingga orang-orang akan terhina, lanjutkan bergerak ke arah tujuanmu sampai kamu bisa membantu Hudzaifah dan Arfajah, berperanglah bersama keduanya melawan penduduk Oman dan Mahrah. Jika keduanya sibuk, maka lanjutkanlah kamu berjalan dan kamu arahkan tentaramu bebas dari orang yang kalian lewati, sampai kalian semua bertemu dengan Al-Muhajir bin Abu Umayyah di Yaman dan Hadhramaut.”

Kita melihat bahwa Abu Bakar ketika mengirimkan pasukan untuk memerangi orang-orang murtad, ia mengirimkan kepada Musailamah dua tentara yang masing-masing dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah. Hal ini membuktikan pengalaman dan kejelian Abu Bakar terhadap kekuatan musuh dan kemampuan mereka bertahan. Ketika Ikrimah tergesa-gesa memerangi Musailamah, tentaranya menjadi kalang kabut, lalu Abu Bakar mengirimkan surat yang isinya, “Aku tidak akan melihat kamu dan kamu tidak akan melihat aku dalam kondisi demikian. Janganlah kamu kembali, sehingga orang-orang akan terhina.” Ini juga membuktikan pengalaman perang Abu Bakar, karena semangat perang berpengaruh besar dalam menentukan hasil pertempuran. Apabila pasukan yang pernah kalah ini maju dan bertemu dengan pasukan yang siap bertempur melawan musuh, maka semangat personel pasukan ini akan lemah dan takut, apalagi jika pasukan yang pernah kalah mendengar kekuatan besar pasukan musuh.

Dimensi kemiliteran Abu Bakar adalah sangat jelas, yaitu dengan mengirimkan Ikrimah dan pasukannya ke wilayah-wilayah lain yang akhirnya membuahkan hasil yang cemerlang, sehingga semangat Ikrimah dan pasukannya kembali naik lagi. Ketika Mu’adz kembali dari Yaman menuju ke Madinah, Abu Bakar menyambutnya dan sudah menjadi kebiasaannya ia mengawasi para pegawainya dan melakukan koreksi setelah mereka selesai dari tugasnya. Abu Bakar berkata kepada Mu’adz, “Angkatlah perhitunganmu.” Mu’adz berkata, “Apakah ada dua perhitungan, perhitungan dari Allah dan perhitungan dari kalian? Demi Allah, aku tidak akan lagi menerima tugas dari kalian untuk selamanya.”

  • Unifikasi Yaman dan Kejelasan Islam di Mata Penduduk Yaman dan Ketaatan Mereka Terhadap Khalifah

Setelah selesai perang melawan kemurtadan, negeri Yaman mulai bersatu di bawah kepemimpinan pusat yang beribukota di Madinah Al-Munawwarah. Yaman dibagi menjadi beberapa wilayah administratif, yaitu Sana’a, Janad, dan Hadhramaut. Fanatisme kesukuan sudah tidak lagi menjadi prinsip mendasar dalam kepemimpinan dan kekuasaan. Kesukuan hanya menjadi kesatuan militer dan bukan politik. Standar kepemimpinan yang dipakai adalah standar keimanan, takwa, ikhlas, dan amal shaleh.

Yaman sudah terbebas dari sisa-sisa kemusyrikan dan fenomenanya -syirik dalam keyakinan, ucapan, perbuatan, dalam melakukan sesuatu atau meninggalkannya- penduduk Yaman telah menyadari bahwa kenabian adalah lebih tinggi dari sekadar diakui oleh seorang pengaku nabi yang main-main dan digunakan sebagai jalan menuju tujuan dan kepentingan tertentu. Mereka juga yakin bahwa iman tidak akan bertemu dengan ambisi-ambisi, Islam tidak akan cocok dengan kejahiliyahan. Mereka mengerti itu semua dan membuktikannya dengan tumpahan darah, rasa sakit, dan penyesalan.

Telah banyak korban terbunuh dari kedua belah pihak dan mereka telah belajar banyak dari peristiwa ini, orang yang murtad telah kembali lagi kepada Islam mengharap penghapusan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Mereka pun diizinkan untuk berjihad pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al-Khathab. Kepemimpinan Islam Yaman telah tampak dalam ekspansi-ekspansi Islam, setelah terdidik dan terlebur dalam pengalaman peristiwa kemurtadan. Orang-orang Yaman teguh dalam agama Islam seperti Jarir bin Abdullah Al-Bajali, Dzu Al-Kula’ Al-Himyari, Mas’ud bin Al-Akki, Jarir bin Abdullah Al-Himyari dan lain-lain. Kepemimpinan mereka ini memiliki peran penting dalam ekspansi Islam dan pembangunan peradaban kota-kota baru di Kufah, Bashrah, Irak, Fusthath di Mesir. Muncul juga tokoh-tokoh dari Yaman yang diangkat sebagai Hakim dan wali kota baik di Yaman dan luar Yaman, seperti Hasyk Abdul Hamid, Sa’id bin Abdullah Al-A’raj, Syarahbil bin As-Simth Al-Kindi dan lainnya.

Penduduk Yaman bergabung dengan negara Islam dan kepemimpinannya baik kepemimpinan secara langsung atau kepemimpinan umum atau khalifah di Madinah. Maka dari itu, ketika mereka dipanggil oleh khalifah untuk berjihad, mereka segera mematuhi dengan sukarela dan senang hati untuk berjihad, sebagaimana akan dijelaskan nanti secara detail. Mereka telah terdidik oleh peristiwa kemurtadan dengan pendidikan yang cukup, yang menjadikan mereka terhubung dengan kepemimpinan yang mereka yakini. Dengan demikian, ketenangan dan kestabilan sangat dominan di Yaman. Dan penduduk Yaman pun menjadi penolong terbaik bagi Islam dan orang Islam.

Menumpas Fitnah Thulaihah Al-Asadi

Thulaihah Al-Asadi adalah orang ketiga yang mengaku sebagai nabi yang muncul pada masa akhir Rasulullah hidup. Nama lengkapnya adalah Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal bin Nadhlah Al-Asadi. Ia telah mendatangi Rasulullah bersama kaumnya Asad pada tahun wufud tahun 9 Hijriyah. Ketika sampai di Madinah mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah lalu mereka berkata, “Kami mendatangimu untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan kamu adalah hamba dan Rasul-Nya. Kamu tidak diutus kepada kami dan orang-orang di belakang kami.” Maka turunlah firman Allah,

“Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 17)

Setelah mereka pulang, Thulaihah murtad dan mengaku sebagai nabi dan membuat pasukan militer di Sumaira`, sebuah wilayah di negeri mereka. Ia diikuti oleh orang-orang awam yang mulai menemukannya.

Awal mula kisahnya -dan menjadi sebab kesesatan orang-orang yang mengikutinya- adalah ketika ia keluar bersama sebagian kaumnya dalam perjalanan, mereka kehabisan air dan merasa kehausan. Ia berkata, “Naikilah kuda, dan berjalanlah bermil-mil, niscaya kalian akan dapati air.” Mereka melakukan apa yang dikatakan olehnya, dan mereka pun menemukan air. Berawal dari kisah inilah orang-orang terpengaruh dengan perkataan Thulaihah.

Di antara leluconnya, Thulaihah bangkit dari sujud ketika shalat dan beranggapan bahwa wahyu dari langit mendatanginya. Di antara sajak-sajaknya yang dia akui sebagai wahyu adalah, “Demi, burung dara, burung merpati, burung hantu yang berpuasa. Dan telah berpuasa sebelum kalian bertahun-tahun. Sungguh kerajaan kami akan melampaui Irak dan Syam.”

Thulaihah semakin berbangga diri dan merasa kekuatannya semakin kokoh. Maka Rasulullah mengutus Dharar bin Al-Azwar Al-Asadi untuk memeranginya setelah mendengar kisahnya. Tetapi, Dharar tidak mampu melawannya, karena kekuatan Thulaihah yang semakin besar, terutama setelah ia mendapat dukungan dari dua sekutu, yaitu kabilah Asad dan Ghathfan.

Penulis Da `irah Al-Ma’arif Al-Islamiyah mengatakan, “Diriwayatkan bahwa Thulaihah pandai bersyair secara spontan dan berpidato panjang di medan pertempuran. Tampaknya ia adalah seorang teladan bagi pemimpin kabilah zaman jahiliyah. Terkumpul dalam dirinya sifat-sifat tukang peramal, penyair, orator, dan pejuang.

Dari cuplikan nash dalam Ensiklopedi Islam itu tercium aroma pujian tersembunyi terhadap Thulaihah dari penulisnya. Menurutnya Thulaihah adalah seorang pemimpin kabilah yang ideal, pandai bersyair, dan berpidato. Dua hal ini adalah yang terpenting dan dicari-cari oleh orang Arab pada masa itu. Sudah tidak asing lagi mengenai paham yang dianut oleh buku ini yang sering menyudutkan Islam, baik penulisnya tahu bahwa Thulaihah telah kembali dan masuk Islam dan berbuat baik atau tidak tahu.

Ketika Rasulullah meninggal, urusan Thulaihah belum sempat terselesaikan. Kemudian Abu Bakar diangkat sebagai khalifah dan segera mengibarkan bendera perang untuk pasukan dan para komando guna menumpas orang-orang murtad, termasuk Thulaihah. Abu Bakar mengirimkan pasukan di bawah komando Khalid bin Al-Walid. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar mengangkat Khalid sebagai komando untuk memerangi orang-orang murtad, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah dan saudara keluarga adalah Khalid bin Al-Walid. Dia adalah pedang Allah yang dihunus oleh Allah atas orang-orang kafir dan munafik.” Ketika Khalid bergerak dari Dzi Al-Qishshah dan dilepas oleh Abu Bakar, ia berjanji akan menemui Thulaihah dari arah Khaibar dengan para pemimpin yang bersamanya. Khalid dan pasukannya melakukan ini untuk menakut-nakuti orang-orang Arab di sana. Abu Bakar memerintahkan Khalid untuk menemui Thulaihah Al-Asadi, kemudian Bani Tamim. Thualaihah bin Khuwailid mendapat dukungan dari bani Asad dan Ghathfan, lalu ikut bergabung dengan mereka Bani Abs dan Dzabyan. Thulaihah juga memanggil Bani Jadila dan Ghauth dari kampung Thai` untuk membantunya. Mereka pun mengirimkan bantuan dengan cepat menyusul pasukan mereka yang telah bergabung.

Abu Bakar sebelumnya telah mengirimkan Adi bin Hatim dan berpesan kepadanya, “Susulilah kaummu, jangan sampai mereka bergabung dengan pasukan Thulaihah yang akan menyebabkan kehancuran mereka.” Maka Adi bergegas menuju kaumnya dari Bani Thai` lalu memerintahkan mereka untuk membaiat Abu Bakar dan kembali ke jalan Allah. Namun kaum Adi malah berkata, “Kami tidak akan membaiat anak unta kecil, yakni Abu Bakar.” Adi berkata, “Demi Allah pasukannya akan mendatangi kalian dan akan terus memerangi kalian sampai kalian tahu bahwa ia adalah bapak unta besar.”

Adi terus membujuk mereka sampai mereka lunak. Maka datanglah pasukan Khalid dengan barisan terdepan dari kaum Anshar di antaranya, Tsabit bin Qais bin Syammasy. Lalu Khalid mengirim Tsabit bin Arqam dan Ukasyah bin Muhsan untuk mengintai pasukan musuh. Keduanya disambut oleh Hiyal, keponakan Thulaihah, dan mereka berdua berhasil membunuh Hiyal. Berita ini sampai ke telinga Thulaihah, lalu ia keluar bersama saudaranya, Salamah. Kemudian keduanya menemui Tsabit dan Ukasyah untuk bertarung, hingga Thulaihah berhasil membunuh Ukasyah, sementara Salamah berhasil membunuh Tsabit bin Aqram. Khalid dan orang-orang yang bersamanya tiba dan mendapati keduanya telah terbunuh, sehingga orang-orang Islam merasa berat melihat musibah ini. Kemudian Khalid bergegas ke Bani Thai` dan ditemui oleh Adi bin Hatim dan ia berkata, “Berilah aku waktu tiga hari, mereka telah memberiku waktu sampai mereka mengutus kepadaku orang yang akan bergegas ke Thulaihah sampai mereka kembali. Mereka takut jika mereka mengikutimu, Thulaihah akan membunuh orang yang pergi menemuinya, ini lebih kamu senangi dari pada mempercepat mereka ke api neraka.” Setelah tiga hari berlalu, Adi datang dengan membawa 500 orang dari mereka yang telah kembali ke jalan yang benar. Lalu mereka bergabung dengan pasukan Khalid yang kemudian bergerak menuju Bani Jadila. Adi berkata kepada Khalid, “Wahai Khalid, berilah aku beberapa waktu sampai aku mendatangi mereka, semoga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Allah menyelamatkan Al-Ghauts. Maka Adi mendatangi mereka dan terus berada di sana sampai mereka mengikutinya, kembali kepada Islam dan menyusul orang-orang Islam, di antara mereka ada 1000 orang berkendaraan. Adi adalah sebaik-baik orang yang terlahir dan menjadi berkah besar bagi kaumnya.

Pertempuran Buzakhah dan Menumpas Bani Asad

Khalid bergerak maju sampai ia singgah di Ba`ja` dan Salma, kemudian mengumpulkan pasukannya di sana. Lalu ia berjumpa dengan Thulaihah Al-Asadi di suatu tempat yang dinamakan Buzakhah. Warga kabilah-kabilah menunggu siapa yang menang dan siapa yang kalah. Thulaihah datang dan diikuti oleh Uyainah bin Hishn dengan 700 orang dari kaum bani Fazarah, orang-orang berbaris sementara Thulaihah duduk dengan berjubah sambil menanti wahyu datang seperti yang dianggapnya. Uyainah lantas berperang dan terus bertempur, dan setiap kali bosan dengan berperang ia menemui Thulaihah dan bertanya, “Apakah Jibril telah mendatangimu?” Thulaihah menjawab, “Belum,” kemudian Uyainah kembali bertempur dan kembali lagi menemui Thulaihah dan mendapatkan jawaban yang sama. Sampai akhirnya untuk yang ketiga kali ia bertanya, “Apakah Jibril telah mendatangimu?” Thulaihah, “Ya.” Uyainah, “Apa yang ia katakan kepadamu.” Thulaihah, “Ia mengatakan kepadaku bahwa kamu punya batu besar seperti batunya dan kamu punya ucapan yang tidak akan kamu lupakan.” Uyainah, “Aku menyangka Allah telah tahu bahwa kamu akan mendapat ucapan yang tidak kamu lupakan,” Lalu ia berkata, “Wahai bani Fazarah, bubarlah dan mundurlah, maka orang-orang mundur dari Thulaihah.

Ketika orang-orang Islam mendatanginya, ia menaiki kuda yang telah dipersiapkan dan menaikkan istrinya, Nawwar di atas unta, kemudian ia mundur ke arah Syam dan kelompoknya terpecah belah. Dan Allah telah membunuh kelompok yang bersama mereka. Abu Bakar menuliskan surat kepada Khalid ketika mendengar bahwa Khalid berhasil mengalahkan pasukan Thulaihah dan barisannya. Isi surat itu adalah, “Hendaklah apa yang diberikan oleh Allah kepadamu menambah kebaikanmu dan bertakwalah kepada-Nya dalam urusanmu. Sesungguhnya Allah bersama orang yang bertakwa dan berbuat baik. Bersungguh-sungguhlah dalam urusanmu, jangan lembek, jangan biarkan orang musyrik yang membunuh orang Muslim kecuali kamu siksa.” Khalid singgah di Buzakhah selama sebulan untuk melaksanakan wasiat Abu Bakar. Ia bolak-balik mencari-cari mereka selama sebulan untuk membalas dendam orang-orang Islam yang dibunuh di depan mereka, ketika mereka telah murtad. Maka di antara mereka ada yang dibakar, dilempari dengan bebatuan, dilempar dari atas gunung. Ini semua dilakukan agar menjadi pelajaran bagi orang-orang Arab yang murtad.

Delegasi Bani Asad dan Ghathfan Menemui Abu Bakar dan Hukuman Bagi Mereka

Ketika delegasi Buzakha -kabilah Asad dan Ghathfan- menemui Abu Bakar untuk meminta perdamaian, Abu Bakar memberikan dua pilihan, perang yang akan membuat mereka terusir atau strategi yang akan membuat mereka terhina. Maka mereka berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, adapun perang, kami telah mengetahuinya, lalu apakah strategi itu?” Abu Bakar menjawab, “Akan diambil dari kalian senjata dan binatang ternak, kalian membiarkan orang-orang mengikuti ekor unta sampai Allah memperlihatkan kepada khalifah nabi-Nya dan orang-orang mukmin sesuatu yang bisa membuat mereka memaklumi kalian, kalian membayar diyat atas orang yang kalian lukai dari kami, kami tidak membayar diyat atas orang yang kami lukai dari kalian, kalian bersaksi bahwa yang terbunuh dari kami adalah di Surga dan yang terbunuh dari kalian di Neraka. Kalian membayar diyat atas orang yang terbunuh dari kalian. Kemudian Umar berkata, “Adapun perkataanmu, “Kalian membayar diyat atas orang yang terbunuh dari kami,” sesungguhnya yang terbunuh dari kami adalah atas perintah Allah, tidak ada diyat bagi mereka.” Maka Umar tidak mau menerima, dan berkata untuk yang kedua kalinya, “Alangkah baiknya apa yang kamu lihat.”

Kisah Ummu Ziml

Sekelompok orang sesat dari pengikut Thulaihah yang berasal dari kabilah Bani Ghathfan berkumpul di tempat seorang wanita yang dijuluki sebagai Ummu Ziml, yang namanya adalah Salma binti Malik bin Hudzaifah, mereka berkumpul di tempat yang bernama Dhafar. Wanita ini merupakan pemimpin Arab seperti ibunya Ummu Qirfah. Ibunya adalah wanita panutan dalam kehormatan karena memiliki banyak anak, kekuatan kabilah, dan keluarga ketika orang-orang berkumpul di tempatnya, ia mengajak mereka memerangi Khalid, dan mereka juga didukung oleh kabilah-kabilah lainnya dari bani Sulaim, Thai`, Hawazin, dan Asad, sehingga mereka membentuk pasukan besar.

Wanita ini semakin kuat dan ketika ia mendengar Khalid bergerak menuju ke mereka dan ingin berperang dengan sengitnya, sementara ia mengendarai untuk ibunya yang dikatakan bahwasanya siapa yang bisa membunuh untanya, maka baginya hadiah seratus unta, karena kehebatan untanya. Akhirnya dalam peperangan tersebut Khalid berhasil mengalahkan mereka dan menusuk unta serta membunuhnya, lalu ia mengirimkan berita kemenangan tersebut kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Pelajaran, Ibrah, dan Faidah

Perkataan Abu Bakar kepada Adi bin Hatim, “Susullah kaummu, jangan sampai mereka menemui Thulaihah sehingga akan menjadikan kebinasaan mereka,” mengandung makna keyakinan Abu Bakar yang sangat kuat akan pertolongan Allah. Ia telah memprediksi hasil pertempuran melawan Thai` sebelum memulai perang. Dalam perintah Abu Bakar kepada Khalid untuk mulai memerangi kabilah Thai` meski lokasinya jauh dari berkumpulnya Thulaihah merupakan strategi perang yang berhasil. Strategi ini untuk menghalangi bergabungnya Thai` dengan Thulaihah dan memaksa mereka yang bergabung dengan Thulaihah agar segera meninggalkannya demi membela kabilah mereka sendiri. Strategi Abu Bakar yang memperlihatkan pasukan keluar ke arah Khaibar menemui Khalid di negeri Thai` merupakan strategi jitu untuk menakut-nakuti kabilah Thai` dan kabilah-kabilah di sekitarnya.

Strategi Abu Bakar juga tampak ketika memilih orang untuk melaksanakan tugas ini. Ia memilih Khalid bin Al-Walid sebagai panglima perang yang tidak pernah kalah. Dalam surat Abu Bakar kepada Khalid setelah selesai perang Buzakhah terdapat beberapa faedah di antaranya; Doa untuk Khalid dan pujian baik terhadapnya, perintah untuk bertakwa kepada Allah yang akan melindunginya dari terjerumus dalam kesalahan dan mengikuti hawa nafsu. Abu Bakar memerintahnya untuk bersungguh-sungguh dan tegas dalam menghadapi musuh, sebab mereka masih dalam kesewenang-wenangannya. Ini menunjukkan jiwa besar Abu Bakar dan pikirannya yang cerdas, banyak kabilah yang masih ragu dan bingung antara benar dan salah, lurus dan sesat, baik dan buruk, iman dan kafir sehingga memerlukan pengajaran dan peringatan sampai kesewenang-wenangan mereka hilang.

Sikap yang diambil Abu Bakar menuntut kekuatan, ketegasan, dan kecepatan yang tinggi. Kekuatan Abu Bakar selalu ditempatkan pada tempatnya. Demikian pula kelembutannya ditempatkan pada tempatnya. Sikap Abu Bakar yang menolak para tentara yang menyerah atau menolak berdamai dengan mereka kecuali dengan perang yang mengusir atau strategi yang menghinakan, menunjukkan kekuatan Islam dan kehebatan negara Islam. Syarat-syarat Abu Bakar dalam perdamaian sangat ketat dan yang paling ketat bagi mereka adalah menyita persenjataan dan kuda-kuda mereka. Syarat ini hanya sementara sampai mereka benar-benar bertaubat dan tunduk dengan negara Islam. Hal seperti ini memang diharuskan sebagai jaminan mereka untuk tidak kembali lagi memberontak.

Nasihat Adi bin Hatim Kepada Kaumnya dan Perang Syaraf dengan Mereka

Adi bin Hatim menemui kaumnya Thai` dan mengajak mereka kembali kepada Islam. Tapi mereka malah berkata, “Kami tidak akan membaiat bapak unta kecil untuk selamanya.” Adi berkata, “Telah datang kepada kalian satu kaum yang akan merampas istri kalian dan kalian akan menyebutnya dengan bapak unta besar. Maka urusan kalian akan ada ditangan mereka.” Kaum Thai` berkata, “Sambutlah pasukannya, kami akan mempertahankan diri kami sampai kami mengeluarkan orang yang menyusul di Buzakha, jika kami menyalahi Thulaihah dan mereka berada dalam kekuasaannya, ia akan membunuhi atau menggadaikan mereka.” Kemudian Adi menyambut Khalid di Sunj dan berkata kepadanya, “Wahai Khalid, berilah aku waktu tiga hari untuk mengumpulkan 500 tentara yang akan memukul musuhmu, itu lebih baik dari pada kamu mempercepat mereka ke neraka dan kamu sibuk dengan mereka.” Maka, Khalid mempersilahkan Adi melakukan itu, kemudian Adi kembali kepada Khalid dengan orang-orang yang kembali kepada agama Islam.

Inilah sikap di mana Adi mampu membujuk dua kabilahnya Bani Al-Ghauts dan Jadila untuk melepaskan diri dari pasukan Thulaihah dan bergabung dengan pasukan Khalid. Ini adalah perubahan penting dalam laporan hasil pertempuran Buzakhah yang menentukan. Ini adalah jiwa besar yang dicatat bagi Adi selain sikapnya yang pertama ketika mendatangi Abu Bakar membawa harta zakat kaumnya, sementara orang-orang Islam pada waktu itu sangat membutuhkan harta.

Keislaman Adi dari awal adalah keislaman seorang yang tahu dan paham, Islam yang berdasarkan argumen dan pilihan. Ia yakin akan kemenangan Islam dan orang-orang Islam pada akhirnya, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah pada hari di mana ia masuk Islam. Keimanannya yang kuat berpengaruh besar dalam membujuk kaumnya untuk kembali dari mendukung musuh-musuh Islam. Kaum Adi menerima ajakannya tanpa menunggu sampai mereka melihat siapa yang akan menang, bahkan sebanyak 500 orang telah bergabung kepada pasukan Islam. Ini menunjukkan pengaruh besar pada diri Adi bin Hatim terhadap kaumnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Kaum Adi meminta Khalid untuk memerangi Qais karena Bani Asad adalah sekutu mereka, maka Khalid berkata kepada mereka, “Demi Allah, Qais tidaklah selemah dua kekuatan, bertahanlah kalian di dua kabilah yang kalian sukai.” Adi berkata, “Seandainya keluarga kecilku, kemudian kaum kecilku meninggalkan agama ini, niscaya aku akan memerangi mereka. Aku tidak mau memerangi bani Asad karena sekutu mereka, tidak, demi Allah, aku tidak akan melakukannya.” Khalid berkata kepadanya, “Memerangi dua kelompok itu adalah tidak menyalahi pendapat orang-orangmu, bergeraklah menuju salah satu kelompok itu dan pergilah bersama mereka kepada kaum yang lebih semangat untuk berperang.”

Keingkaran Adi kepada kaumnya adalah bukti kekuatan iman dan keluasan ilmunya, di mana ia mendukung para penolong Allah meskipun mereka jauh dari garis keturunan, ia melepaskan diri dari musuh-musuh Allah meski mereka adalah kerabatnya sendiri. Pengalaman perang Khalid juga kelihatan jelas ketika ia memerintahkan Adi untuk tidak menyalahi kaumnya dalam keengganan mereka menghadapi sekutu-sekutu mereka dari bani Asad, juga untuk mengarahkan mereka ke arah peperangan yang membuat mereka akan lebih semangat dalam bertempur.

Peran Adi dalam mengajak kabilahnya bergabung dengan pasukan Islam adalah sangat besar. Bergabungnya kabilah Thai` dengan pasukan Khalid adalah pukulan telak bagi pasukan musuh, karena Thai` adalah kabilah paling kuat di jazirah Arab, diperhitungkan dan ditakuti oleh kabilah-kabilah lainnya, banyak kabilah yang mendekatinya dan ingin bersekutu dengannya. Dua pasukan itu bertemu setelah semangat pasukan musuh melemah, dan Allah mencatat kemenangan bagi pasukan Islam. Kemudian pasukan Islam segera membunuh, menawan, dan menghabisi pasukan musuh. Pemimpin mereka Thulaihah melarikan diri mengendarai kudanya. Tidak ada yang selamat dalam perang ini kecuali yang menyerahkan diri atau melarikan diri. Setelah kejadian ini kekuatan orang-orang murtad dari kabilah-kabilah Arab semakin melemah, sehingga pasukan Islam tidak lagi perlu bersusah payah menghadapi gerombolan-gerombolan murtad di tempat lainnya.

Sebab-sebab kekalahan Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi

Ada beberapa hal yang menyebabkan kekalahan Thulaihah Al-Asadi, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Orang-orang Islam berperang didorong oleh akidah yang kuat dan keyakinan akan pertolongan Allah serta berharap memperoleh mati syahid. Kecintaan terhadap mati di jalan Allah merupakan senjata maknawi yang ampuh. Khalid selalu mengirimkan pesan kepada orang-orang murtad dengan kalimat sederhana ini, “Sungguh aku telah mendatangi kalian dengan kaum yang cinta mati, sebagaimana kalian cinta hidup.” Musuh sendiri sudah tahu lewat perlakuan mereka dengan para pasukan Islam dalam pertempuran yang mereka alami bahwa orang-orang Islam benar-benar menerapkan prinsip ini. Thulaihah bertanya kepada kaumnya dengan penuh rasa kaget dan muak ketika mereka kalah dalam pertempuran Buzakhah melawan pasukan Khalid, “Celakalah kalian semua, apa yang membuat kalian kalah?” Seorang pengikutnya berkata, “Aku kabari kalian bahwa tidak ada seorang dari kita kecuali ingin lawannya mati terlebih dahulu, dan kami menjumpai suatu kaum semuanya ingin mati lebih dahulu dari pada lawannya.”
  • Bergabungnya kabilah Thai` dengan pasukan Islam berpengaruh besar dalam memperkuat pasukan Islam dan melemahkan pasukan musuh. Demikian pula, terbunuhnya dua sahabat nabi Ukasyah bin Muhsan dan Tsabit bin Aqram telah menyulut amarah orang-orang Islam dan mendorong mereka untuk memerangi musuh. Dan juga politik Abu Bakar berpengaruh terhadap Thai` untuk tidak bekerja sama dengan sekutu-sekutunya dan tetap berada di tempat asalnya. Abu Bakar mengelabuhi orang-orang bahwasanya ia mengalihkan gerak pasukan menuju Khaibar dari tujuan aslinya yang telah ditentukan dari awal. Pemberian kesempatan kepada Thai` untuk memerangi Qais sesuai kemauan sendiri juga mendukung mereka untuk bersungguh-sungguh dan berdiri sendiri dalam berperang, sebab kalau saja Khalid memerintahkan untuk memerangi sekutu-sekutu mereka dari bani Asad sebagaimana diinginkan Adi bin Hatim, tentunya Thai` akan tidak bersungguh-sungguh dalam berperang. Dan masih banyak sebab-sebab lainnya.
  • Hasil Dari Pertempuran Buzakhah

Hasil dari Perang Buzakhah adalah dihancurkannya kekuatan orang-orang kuat yang mengaku sebagai nabi dan dikembalikannya orang-orang Arab dalam pangkuan agama Islam. Orang-orang dari kabilah Bani Amir setelah kalah dalam pertempuran Buzakhah berkata, “Kami masuk ke dalam agama yang sebelumnya kami telah keluar darinya,” Khalid membaiat mereka masuk Islam seperti ia membaiat kepada orang-orang Buzakhah dari kabilah Asad, Ghathfan, Thai` sebelumnya. Tidak ada seorang pun dari kabilah Asad, Ghathfan, Hawazin, Salim, dan Thai` yang diterima kecuali mereka mendatangkan orang-orang yang pernah membakar dan menyiksa orang-orang Islam ketika mereka masih dalam keadaan murtad. Mereka pun di datangkan di depan Khalid kemudian ia menghabisi orang-orang yang menghina Islam dengan membakar mereka, menimpakan mereka dengan bebatuan, melemparkan mereka dari atas gunung dan menceburkan mereka ke dalam sumur. Khalid mengirim Baqrah bin Hubairah dan para tawanan serta mengirimkan surat kepada Abu Bakar yang isinya, “Sesungguhnya kabilah Bani Amir telah maju setelah berpaling dan masuk Islam setelah mencari kelengahan. Aku tidak menerima seorang yang berperang atau berdamai denganku sampai mereka mendatangkan kepadaku orang yang pernah menyiksa orang-orang Islam lalu aku membunuhi mereka semua. Dan aku utus kepadamu Baqrah dan kawan-kawannya.”

Di antara tawanan itu adalah Uyainah bin Hishn, lalu Khalid memerintahkan untuk menguatkan ikatannya sebagai bentuk siksaan atasnya dan mengirimkannya ke Madinah dalam keadaan kedua tangan di atas tengkuknya sebagai penghinaan terhadapnya dan untuk menakut-nakuti lainnya. Ketika ia memasuki Madinah anak-anak kecil menyambutnya dengan ejekan dan memukulinya sambil berkata, “Wahai musuh Allah, kamu telah murtad dari agama Islam.” Uyainah menjawab, “Demi Allah, sama sekali aku tidak beriman.” Kemudian ia didatangkan di depan khalifah Rasulullah, ia tidak percaya melihat keramahan khalifah. Lalu ia dilepaskan dari talinya dan diminta bertaubat. Dan Uyainah pun menyatakan taubat nashuha dan meminta maaf atas perbuatannya, kemudian masuk Islam dan baik dalam beragama.

Thulaihah terus berjalan sampai ia singgah di kabilah Kalb dan akhirnya masuk Islam. Ia masih bermukim di Kalb sampai meninggalnya Abu Bakar. Kisah keislaman Thulaihah di sana adalah ketika ia mendengar bahwa Asad, Ghathfan, dan Amir telah masuk Islam, lalu ia keluar menuju Makkah untuk melaksanakan Umrah pada masa pemerintahan Abu Bakar, ia melewati pinggiran Madinah lalu dilaporkan kepada Abu Bakar, “Ini adalah Thulaihah,” Abu Bakar berkata, “Apa yang akan aku lakukan dengannya, biarkanlah dia, Allah telah menunjukkannya kepada Islam.”

Dalam riwayat Ibnu Katsir disebutkan bahwa Thulaihah kembali kepada Islam dan pergi ke Makkah untuk menjalankan Umrah pada masa Abu Bakar, ia malu untuk bertatap muka dengannya selama hidupnya. Abu Bakar melarang orang-orang yang pernah murtad untuk ikut serta dalam ekspansinya ke negeri Irak dan Syam. Barangkali ini sebagai kewaspadaan untuk umat Islam, karena orang yang pernah tersesat dan memusuhi orang-orang Islam kemungkinan ia kembali kepada Islam karena menyerah menghadapi kekuatan besar orang-orang Islam.

Abu Bakar adalah pemimpin yang mengatur arah garis jalannya umat, ucapan, dan perbuatannya menjadi panutan bagi umat. Maka dari itu, ia sangat waspada dan berhati-hati demi kemaslahatan umat meskipun itu berhubungan dengan beberapa individu.

Ini adalah pelajaran berharga yang patut dianut oleh umat untuk tidak terlalu percaya kepada orang yang pernah ingkar agama kemudian ia kembali menaati agama.

Memberikan kepercayaan penuh kepada orang-orang seperti itu dan menyerahkan kepadanya tugas-tugas kepemimpinan terkadang bisa menyeret umat ke dalam musibah besar, dan dapat menghantarkan kepada masalah yang berbahaya. Tapi, waspada terhadap orang-orang seperti itu bukan berarti meragukan agama mereka dan bukan berarti menarik kepercayaan dari mereka secara keseluruhan.

Inilah ciri-ciri kebijakan politik Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam perlakuannya terhadap orang-orang seperti itu. Thulaihah telah kembali kepada Islam dan taat dalam beragama, ia mendatangi Umar untuk membaiatnya ketika diangkat menjadi khalifah. Umar berkata kepadanya, “Apakah kamu yang membunuh Ukasyah dan Tsabit, demi Allah aku tidak menyukaimu selamanya.” Thulaihah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kamu perhatian dengan dua orang itu yang telah dimuliakan oleh Allah lewat dua tanganku ini, dan Allah tidak menghinakanku lewat dua tangan mereka.” Kemudian Umar membaiatnya dan berkata, “Wahai penipu, apa yang tersisa dari perdukunanmu?” Ia menjawab, “Satu tiupan atau dua tiupan dengan peniup api.” Kemudian Thulaihah kembali ke rumah di kampungnya dan tinggal di sana sampai ia keluar ke Irak. Thulaihah benar-benar kembali kepada agama Islam dan ini sudah tidak diragukan lagi. Ia melantunkan syairnya yang berisi penyesalan atas perbuatannya di masa lalu,

Aku menyesal telah membunuh Tsabit
Dan Ukasyah Al-Ghunmi lalu Ibnu Ma’bid
Musibah lebih besar lagi dari keduanya
Aku keluar dari Islam dengan sengaja
Aku tinggalkan negeriku karena banyak peristiwa
Aku terlantar padahal sebelumnya aku tak terusir
Apakah Abu Bakar Ash-Shiddiq menerima aku kembali
Dan serahkan tanganku atas apa yang aku lakukan
Aku setelah tersesat bersaksi sebenar-benarnya
Bahwa aku bukan lagi pengingkar agama
Bahwa Tuhan manusia adalah Tuhanku
Bahwa aku adalah hina bahwa agama yang benarAdalah agama yang dibawa Muhammad.

Kisah Fuja`ah

Nama lengkapnya adalah Iyas bin Abdullah bin Abdu Yalail bin Umair bin Khufaf dari kabilah bani Salim, sebagaimana disebukan oleh Ibnu Ishaq. Abu Bakar Ash-Shiddiq membakar Fuja`ah di Baqi’ di Madinah. Sebabnya adalah ia mendatanginya di Madinah mengaku Islam lalu memintanya mempersiapkan tentara untuk memerangi orang-orang murtad. Kemudian Abu Bakar mempersiapkan untuknya pasukan.

Ketika ia berjalan bersama pasukannya, ia tidak melewati seorang muslim atau murtad kecuali membunuhnya dan merampas hartanya. Ketika Abu Bakar mendengar berita ini, ia segera mengirim pasukan di belakangnya untuk mengembalikan Fuja`ah. Setelah berhasil mengembalikannya, Abu Bakar mengirimkan ke Baqi` lalu tangannya diikat di tengkuknya dan dilemparkannya ke dalam api lalu dibakar. Yang berhasil menangkap Fuja`ah adalah Thuraifah bin Hajiz. Hal ini memperlihatkan kepada kita bagaimana peran orang Islam dari Bani Salim dalam memerangi orang-orang murtad dan berbuat kerusakan di muka bumi. Hukuman ini dijatuhkan karena pengkhianatan Fuja`ah atau karena ia juga pernah membakar orang-orang Islam sekali atau beberapa kali.

Balasan Hassan Terhadap Orang yang Berkata, “Kami Tidak Menaati Anak Unta Kecil” yang Ia Maksud Adalah Abu Bakar

Unta besar tidaklah melainkan seperti unta kecil seperti yang kau lihat
Unta kecil baginya bukanlah kecacatan
Sungguh kami, dan tidak berhaji orang haji ke Baitullah
Adalah dua rombongan Makkah, wahai kaum Anshar
Rombonganku adalah tengkorak-tengkorak dengan semua pedang
Tukang potong memukul punggung sendi unta
Sampai kalian memanggilnya seratus unta
Unta betinanya dilindungi oleh unta jantan yang kuat

Sajah dan Bani Tamim Serta Terbunuhnya Malik bin Nuwairah Al-Yarbu’i

Orang-orang dari kabilah Bani Tamim saling berbeda pendapat pada hari-hari terjadinya kemurtadan, di antara mereka ada yang murtad dan enggan membayar zakat, ada yang tetap mengirimkan harta zakat kepada Abu Bakar, dan ada juga yang menunggu sampai melihat perkembangan lebih lanjut.

Ketika mereka dalam kondisi seperti ini, datanglah seorang wanita yang bernama Sajah binti Al-Harits bin Suwaid bin Uqfan At-Taghlabiyah dari jazirah Arab. Ia adalah penganut agama Nasrani dari Arab. Ia mengaku sebagai nabi dan memiliki pasukan dari kaumnya serta pengikutnya. Sajah dan pasukannya bermaksud melakukan penyerangan terhadap Abu Bakar. Ketika ia mulai bergerak dan melewati kampung Bani Tamim, ia mengajak penduduk kampung itu untuk bergabung sampai akhirnya mayoritas dari mereka mengikutinya. Di antara yang mengikuti mereka adalah Malik bin Nuwairah At-Tamimi, Utharid bin Hajib dan beberapa pembesar kabilah bani Tamim. Sebagian dari mereka ada yang tidak mengikuti Sajah, lalu mereka sepakat untuk berdamai dan tidak ada perang antara mereka sesama kabilah bani Tamim.

Tapi, Malik bin Nuwairah ketika melepas kepergian Sajah, ia memujinya dan menghasutnya untuk menyerang suku Bani Yarbu’. Kemudian orang-orang sepakat untuk berperang, mereka bertanya, “Dengan siapa kita memulai?” Sajah berkata kepada mereka, “Siapkanlah kendaraan, bersiaplah untuk merampas, seranglah suku Rabab yang tidak ada benteng penutupnya.” Kemudian Bani Tamim berhasil membujuk mereka untuk pergi ke Yamamah untuk merebutnya dari kekuasaan Musailamah bin Habib Al-Kadzab. Kaum Sajah menyegani Musailamah dan kaumnya, mereka berkata, “Sesungguhnya Musailamah semakin kuat dan besar,” maka Sajah pun berkata, “Hendaklah kalian menuju Yamamah, tabuhlah genderang perang, ini adalah perang yang tegas, jangan sampai kalian nanti terhina.” Lalu mereka bertekad untuk memerangi Musailamah.

Ketika Musailamah mendengar Sajah telah bergerak, ia khawatir dengan negerinya karena ia sedang sibuk memerangi Tsumamah bin Atsal yang dibantu oleh Ikrimah bin Abu Jahal dengan tentara Islam, dan mereka telah tiba di sebagian wilayah negerinya menunggu kedatangan Khalid.

Maka, Musailamah mengirimkan surat kepada Sajah meminta jaminan keamanan dan akan memberinya separuh tanah milik orang Quraisy, jika ia membatalkan serangan. Musailamah juga menyurati bahwa beberapa orang dari kaumnya akan menemuinya. Mereka yang berjumlah empat puluh orang datang dengan kendaraan dan berkumpul dengan Sajah di perkemahan. Mereka menawarkan kepada Sajah separuh tanah yang dijanjikan dan ia pun menerima tawaran itu. Musailamah berkata, “Allah mendengarkan orang yang mau mendengar dan memberinya makanan baik bagi yang tamak. Dan Dia senantiasa mengumpulkan semua yang menggembirakan.” Musailamah juga berkata, “Apakah kamu mau aku mengawinimu lalu aku dan kaummu bersamamu dan kaummu memakan orang-orang Arab bersama-sama?” Sajah, “Ya,”

Kemudian Sajah bermukim di sana selama tiga hari lalu kembali kepada kaumnya. Para pengikutnya bertanya, “Apakah Musailamah memberi sesuatu sebagai mahar?” Sajah, “Ia tidak memberiku mahar sedikit pun.” Mereka berkata, “Ini adalah hal yang buruk, karena orang sepertimu dikawini tanpa ada mahar.” Lalu Sajah mengirimkan utusan untuk meminta mahar darinya. Musailamah berkata, “Kirimkan kepadaku mu’adzinmu.” Sajah mengutus kepadanya Syabts bin Rab’i Ar-Rayahi. Musailamah berkata kepadanya, “Umumkan pada kaummu bahwa Musailamah bin Habib adalah utusan Allah, ia telah menghapus dua shalat yang diperintahkan oleh Muhammad –yakni shalat shubuh dan shalat isya`- ini adalah maharnya.”

Kemudian Sajah kembali ke negerinya ketika ia mendengar berita bahwa Khalid telah mendekat di bumi Yamamah, maka ia lari kembali ke Jazirah setelah menerima separuh tanah dari Musailamah. Sajah menetap di kaumnya Bani Taghlab sampai pada masa pemerintahan Mu’awiyah yang kemudian mengusir mereka semua dari sana pada tahun Jama’ah.

Malik bin Nuwairah sebelumnya telah berhubungan dengan Sajah ketika tiba dari bumi Jazirah. Ketika Sajah berhubungan dengan Musailamah dan pergi ke negerinya, Malik menyesal atas apa yang ia lakukan dan menyalahkan dirinya sendiri ketika ia singgah di sebuah tempat yang bernama Buthah. Khalid beserta tentaranya tanpa mengajak kaum Anshar menuju Buthah menemui Malik. Pasukan Khalid berkata, “Sesungguhnya kami telah melaksanakan apa yang diperintahkan Abu Bakar.” Khalid berkata kepada mereka, “Ini adalah hal yang harus dilakukan dan kesempatan yang harus digunakan, tidak ada surat untukku tentang hal ini. Aku adalah komandan dan kepadaku berita-berita dikembalikan. Aku tidak memaksa kalian untuk berjalan, aku bertekad menuju Buthah.”

Khalid berjalan selama dua hari disusul oleh utusan kaum Anshar yang memintanya untuk menunggu mereka dan akhirnya mereka menyusulnya. Ketika sampai di Buthah dan di sana sudah menunggu Malik bin Nuwairah, Khalid mengirimkan pasukan kecil ke Buthah menyerukan kepada orang-orang. Mereka disambut oleh para pemimpin Bani Tamim dengan patuh dan taat. Mereka menyerahkan harta zakat kecuali Malik bin Nuwairah yang masih ragu-ragu dan tidak mengikuti orang-orang. Maka datanglah kepadanya pasukan kecil dan berhasil menawannya bersama para pengikutnya. Dalam perang kecil ini terdapat perbedaan, Abu Qatadah—Al-Harits bin Rab’i Al-Anshari menyaksikan bahwa mereka mendirikan shalat. Yang lainnya berkata, “Mereka tidak adzan dan tidak pula shalat.”

Diriwayatkan bahwa para tawanan tetap dalam ikatan mereka pada malam yang sangat dingin, maka mu’adzin Khalid menyerukan agar para tawanan dihangatkan. Maka orang-orang menyangka Khalid ingin membunuh, lalu mereka membunuh tawanan itu. Dharar bin Al-Azwar membunuh Malik bin Nuwairah. Ketika Khalid mendengar berita ini, ia keluar dan mereka telah selesai membunuhi tawanan, lalu ia berkata, “Apabila Allah menghendaki sesuatu, niscaya akan mengenainya.”

Diriwayatkan pula bahwa Khalid memanggil Malik bin Nuwairah dan mengecam sikapnya yang mengikuti Sajah dan enggan membayar zakat. Ia berkata, “Bukankah zakat adalah sepadannya shalat?” Malik menjawab, “Pemimpin kalian juga mengira begitu.” Khalid, “Apakah ia pemimpin kami dan bukan pemimpinmu?” Wahai Dharar, tebaslah batang lehernya.”

Kemudian Dharar menebas lehernya. Abu Qatadah berbicara dengan Khalid tentang apa yang ia lakukan terhadap Malik dan keduanya saling berdebat. Sampai akhirnya Abu Qatadah pergi dan mengadukannya kepada Abu Bakar. Kemudian Umar berbicara dengan Abu Qatadah tentang Khalid, lalu Umar berkata kepada Abu Bakar, “Turunkan Khalid dari jabatannya, karena pada pedangnya telah ada kebodohan.” Abu Bakar berkata, “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang telah dihunus oleh Allah atas orang-orang kafir.” Mutammim bin Nuwairah mendatangi Abu Bakar mengadukan perbuatan Khalid, sementara Umar membantunya dan Mutammim melantunkan syair ratapan kepada saudaranya di depan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar membayar diyat dari hartanya kepada Mutammim atas terbunuhnya saudaranya.

Pelajaran, Ibrah, dan Faidah

a. Orang-orang Bani Tamim yang Teguh dalam Islam

Tidak semua orang Bani Tamim murtad dari agama Islam, baik seluruh kabilah, individu maupun pemimpinnya sebagaimana digambarkan oleh sebagian sejarah wan kontemporer. Pada hakikatnya, disebabkan karena kuatnya Islam dan keteguhan sebagian suku, individu dan pemimpin bani Tamim dalam Islam, Malik bin Nuwairah berhasil membujuk Sajah untuk memerangi mereka sebelum memerangi Abu Bakar. Ketika Sajah menghadapi orang-orang Islam Bani Tamim, ia mengalami kekalahan telak dan setelah itu ia mengurungkan niatnya untuk menyerang Madinah, lalu ia menuju ke Yamamah. Banyak riwayat yang menegaskan hakikat yang telah kami sebutkan, bahkan setelah meneliti riwayat-riwayat itu jelas bahwa orang-orang Bani Tamim yang teguh dalam Islam lebih banyak dari pada mereka yang murtad atau masih ragu-ragu.

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa suku Rabab dari kabilah bani Tamim berperan utama dalam menghadapi orang-orang murtad, sehingga mereka layak diperangi oleh Sajah dan kelompoknya. Sebagian riwayat juga menyebutkan peperangan besar yang terjadi antara suku Rabab dan Sajah berakhir dengan perdamaian ketika Sajah gagal menundukkan orang-orang Islam Bani Tamim. Riwayat ini juga menyebutkan penyesalan Qais bin Al-’Ashim mengikuti orang-orang murtad, Qais mengirimkan harta zakat kaumnya ke Madinah. Dengan demikian kekalahan telah menimpa Sajah dan kelompoknya.

b. Khalid dan Terbunuhnya Malik bin Nuwairah

Ada banyak perbedaan pendapat tentang terbunuhnya Malik bin Nuwairah, apakah ia terbunuh secara zhalim atau memang layak dibunuh, yakni apakah ia dibunuh dalam keadaan kafir atau Muslim? DR. Ali Al-‘Utum telah meneliti kasus ini dalam bukunya Harakah Ar-Riddah, Syaikh Muhammad Ath-Thahir bin Asyur membahas permasalahan ini dalam bukunya Naqd ilmi li Kitab Al-Islam wa Ushul Al-Hukm, Syaikh Muhammad Zahid Al-Kautsari dan masih banyak peneliti lainnya. Dalam tema ini, saya memilih apa yang diteliti oleh DR. Ali Al-’Utum, karena ia meneliti kasus ini secara ilmiah, berbeda dari lainnya, ia sangat perhatian sekali dengan peristiwa kemurtadan yang belum pernah saya temui –menurut bacaan saya— pada peneliti kontemporer lainnya. Al-’Utum dalam penelitiannya ini keluar dengan membawa kesimpulan yang saya setuju dengannya, bahwa yang membuat Malik bin Nuwairah terbunuh adalah keangkuhan dan keraguannya, sifat-sifat jahiliyah masih kuat bersemayam dalam dirinya.

Kalau memang tidak demikian, ia tidak akan mengulur-ulur waktu untuk menaati pemimpin Islam setelah Rasulullah, atau membayar hak baitul mal yang berupa zakat. Menurut persepsi saya, Malik adalah seorang yang haus kepemimpinan dan pada waktu yang sama ia ingin menyaingi kerabatnya dari pemimpin Bani Tamim yang tunduk pada negara Islam dan melakukan kewajiban mereka.

Baik perbuatan dan perkataan Malik bin Nuwairah menguatkan persepsi ini, kemurtadannya, dukungannya terhadap Sajah, pembagian unta-unta zakat kepada kaumnya, bahkan keengganannya pengikut Malik membayar zakat kepada Abu Bakar dan ketidakmauannya mendengarkan nasihat kerabatnya, itu semua telah menyalahkan Malik dan menjadikannya sebagai seorang yang lebih dekat kepada kafir dari pada kepada Islam. Kalau saja tidak ada alasan untuk menyalahkan Malik bin Nuwairah kecuali keengganannya membayar zakat, maka itu sudah cukup untuk memvonisnya bersalah. Keengganannya ini dikuatkan oleh para ulama terdahulu. Dalam buku Thabaqat Fuhul Asy-Syu’ara` karya Ibnu Sallam disebutkan, “Yang telah disepakati bersama bahwa Khalid berdebat dengan Malik dan memintanya untuk kembali, Malik tetap menjalankan shalat, akan tetapi enggan membayar zakat. Dalam buku Syarah Imam Nawawi ala Shahih Muslim disebutkan tentang orang-orang murtad, “Di antara mereka ini ada yang membolehkan zakat dan tidak menolaknya, akan tetapi pemimpin mereka yang menghalangi mereka untuk membayarnya, dan malah mengambilnya dari tangan mereka, seperti yang terjadi pada Bani Yarbu’, mereka telah mengumpulkan zakat mereka dan ingin mengirimkannya kepada Abu Bakar, tapi Malik bin Nuwairah melarangnya dan malah membagi-bagikannya sesama mereka sendiri.

c. Perkawinan Khalid dengan Ummu Tamim

Nama lengkap Ummu Tamim adalah Laila binti Sinan Al-Minhal, istri Malik bin Nuwairah. Perkawinan ini menimbulkan perdebatan sengit. Orang yang dalam hatinya menyimpan maksud tertentu menuduh Khalid dengan berbagai macam tuduhan yang tidak benar, jika dihadapkan pada penelitian ilmiah yang netral

Inti sari kisah ini adalah bahwa ada orang yang menuduh Khalid mengawini Ummu Tamim setelah ia jatuh dalam tangannya, karena Khalid tidak kuat melihat kecantikannya dan keinginan sebelumnya untuk mendapatkannya. Dengan demikian, perkawinannya adalah tidak sah. Pendapat ini adalah dibuat-buat dan tidak perlu dianggap, karena tidak ada sumber-sumber sejarah valid yang menyinggung hal ini. Bahkan sumber-sumber itu menyebutkan sebaliknya secara terang.

Al-Mawardi menyebutkan bahwa yang membuat Khalid membunuh Malik adalah keengganannya membayar zakat, sehingga dia boleh dibunuh dan telah batal akad pernikahan Malik dengan Ummu Tamim. Khalid menghukumi wanita-wanita murtad yang ikut berperang dengan dirampas bukan dibunuh, sebagaimana disebutkan Imam Syarkhasi.

Ketika Ummu Tamim telah menjadi rampasan, maka Khalid memilih untuk menikahinya dan setelah halal keduanya tinggal bersama serumah. Syaikh Ahmad Syakir mengomentari permasalahan ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya Khalid mengambilnya beserta anaknya sebagai miliknya karena ia adalah wanita rampasan dalam perang. Wanita rampasan dalam perang tidak ada iddahnya, hanya saja diharamkan secara pasti untuk mendekatinya, jika ia hamil dan sebelum melahirkan anaknya. Jika tidak hamil maka ia menunggu sampai haid satu kali kemudian boleh digauli. Ini adalah perbuatan yang dibolehkan syariat. Tetapi para musuh Islam dan mereka yang menolak Islam melihat masalah ini sebagai kesempatan untuk menyerang Islam. Mereka menganggap Malik adalah seorang Muslim dan Khalid membunuhnya demi mendapat istrinya.

Dalam perkawinannya ini Khalid dituduh menyalahi tradisi orang-orang Arab, sampai Abbas Al-Aqqad berkata, “Khalid membunuh Malik bin Nuwairah dan mengumpuli istrinya di medan perang, ia menyalahi tradisi Arab pada masa Jahiliyah dan Islam. Ia juga menyalahi tradisi orang-orang Islam dan aturan Syariat. Pendapat Al-Aqqad ini adalah tidak benar. Apa yang dilakukan oleh Khalid sebenarnya juga banyak terjadi dalam kehidupan orang-orang Arab sebelum Islam setelah mereka menang dalam peperangan melawan musuh, mereka mengawini wanita-wanita rampasan dan mereka bangga melakukan itu sehingga banyak di kalangan mereka lahir anak-anak wanita rampasan. Hatim Ath-Thai menggambarkan hal ini dalam bait-bait syairnya,

Mereka tidak mengawinkan putri-putri mereka dengan sukarela
Tapi kami meminangnya dengan pedang kami secara paksa
Orang melihat kami dari anak wanita rampasan
Jika para pejuang bertemu ia menusuk dari kiri dan kanan
Ia ambil bendera-bendera penusuk dengan tangannya
Ia datang dengan warna putih dan balik dengan warna merah

Adapun dilihat dari pandangan syariat, Khalid telah melakukan sesuatu yang dibolehkan dan pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik darinya. Jika ia melangsungkan perkawinan dalam keadaan perang atau usai perang, maka Rasulullah juga telah mengawini Juwairah binti Al-Harits dari Bani Mushtaliq setelah Perang Muraisi’. Juwairah termasuk di antara wanita rampasan dalam perang itu, kemudian Rasulullah mengawininya. Ia adalah wanita yang memiliki watak baik dan berkah bagi kaumnya. Sebab dengan perkawinan ini Rasulullah membebaskan seratus orang tawanan, karena mereka telah mengikat tali perbesanan dengan Rasulullah. Dan berkah dari perkawinan ini pula ayahnya Al-Harits bin Dharar masuk Islam.

Rasulullah juga mengawini Shafiyyah binti Huyai bin Akhthab dari bangsa Yahudi setelah usai Perang Khaibar dan mengumpulinya di Khaibar. Jika itu terjadi pada Rasulullah sebagai suri teladan baik, maka tidak bisa disalahkan atau dicela.

Pembelaan DR. Muhammad Husain Haikal terhadap Khalid mengikuti metode pembelaan yang tidak bisa diterima, sebab kita juga tidak boleh menyepelekan kesalahan-kesalahan Khalid. Khalid dan lainnya adalah tunduk dalam hukum syariat yang berada di atas dan tidak ada satu pun yang melampauinya. Mengkultuskan individu sama sekali tidak sama dengan mendistorsi metode. Haikal berkata, “Mengawini seorang wanita dengan menyalahi tradisi-tradisi orang Arab, bahkan mengumpulinya sebelum ia suci, jika ini terjadi dari seorang penakluk yang berperang, maka itu sudah menjadi haknya untuk memperoleh wanita-wanita rampasan yang menjadi bagiannya. Kejumudan dalam menerapkan syariat seharusnya tidak terjadi pada orang-orang besar semisal Khalid, terutama jika itu akan membahayakan negara atau menghadapkannya pada mara bahaya.”

Syaikh Ahmad Syakir menjawab permasalahan ini dengan mengatakan, “Yang paling aku khawatirkan dari pengarang artikel ini adalah ia terpengaruh dengan bacaannya tentang kisah Napoleon dan lainnya dari raja-raja Eropa dalam kekejian dan keburukannya, atau terpengaruh oleh tulisan-tulisan orang Barat tentang permintaan maaf dari mereka untuk mengurangi kesalahan-kesalahan mereka yang punya kebesaran dan kesuksesan menaklukkan bangsa-bangsa, sampai mereka beranggapan bahwa orang-orang Islam pertama adalah semisal mereka. Al-Aqqad mengatakan, “Kejumudan dalam menerapkan syariat seharusnya tidak terjadi pada orang-orang besar semisal Khalid,” ini adalah ucapan yang merusak agama dan akhlak.

d. Dukungan Abu Bakar Bagi Para Pemimpin yang Berada di Lapangan

Sebagian orang dari tentara Khalid telah menyaksikan bahwa orang-orang mengumandangkan adzan, ketika mereka mendengar adzan orang-orang Islam. Dengan demikian mereka telah mencegah pertumpahan darah, dan mereka tidak boleh dibunuh. Di antara mereka ini adalah Abu Qatadah, ia kaget dan semakin bertambah kagetnya ketika melihat Khalid telah mengawini istri Malik bin Nuwairah, lalu ia meninggalkan Khalid dan datang menemui Abu Bakar untuk mengadukan Khalid yang berbeda pendapat dengannya. Maka Abu Bakar melihat pisahnya Abu Qatadah sebagai kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan olehnya atau lainnya.

Karena ini akan menyebabkan kegagalan, sementara tentara pasukan masih berada di bumi musuh. Abu Bakar marah kepada Abu Qatadah dan mengembalikannya kepada Khalid. Kemudian Abu Qatadah pun dengan rela kembali bergabung di bawah komando Khalid. Tindakan Abu Bakar ini merupakan siasat perang yang sangat cerdik.

Abu Bakar Ash-Shiddiq melakukan penyidikan tentang terbunuhnya Malik bin Nuwairah dan penyidikan itu menghasilkan kesimpulan bahwasanya Khalid bebas dari tuduhan pembunuhan terhadap Malik bin Nuwairah. Dalam hal ini, Abu Bakar lebih tahu tentang hakikat permasalahan dan ia lebih berpandangan jauh dari pada sahabat lainnya, karena ia adalah seorang khalifah yang semua berita sampai kepadanya dan juga imannya lebih tinggi dari iman mereka semua.

Dalam perlakuannya terhadap Khalid, ia mengikuti sunnah Rasulullah, di mana Rasul tidak memecat Khalid dari jabatannya ketika ia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Rasul memaafkan, jika ia meminta maaf. Rasul juga bersabda, “Janganlah kalian menyakiti Khalid, ia adalah pedang Allah yang dihunus atas orang-orang kafir.”

Di antara kesempurnaan Abu Bakar adalah ia mengangkat Khalid sebagai panglima dan pembantunya, karena Khalid adalah seorang yang berwatak keras sehingga yang harus dibarengi dengan sikap lembut. Watak lembut saja akan merusaknya, demikian pula watak keras saja juga akan merusaknya. Abu Bakar selalu bermusyawarah dengan Umar dan menjadikan Khalid sebagai wakil. Ini adalah di antara kesempurnaan Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah. Oleh karena itu, ia sangat keras dalam memerangi orang-orang murtad yang melebihi kekerasan Umar. Allah telah menjadikan sifat keras pada dirinya yang tidak pernah terlihat sebelumnya.

Adapun Umar, ia memang memiliki sifat keras dari bawaan aslinya, sehingga di antara kesempurnaan Umar -pada masa pemerintahannya- ia menyeimbanginya dengan sifat lembut dengan mengangkat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’ad bin Abu Waqqash, Abu Ubaid Ats-Tsaqafi, Nu’man bin Muqrin, Said bin Amir, dan semisal mereka sebagai pembantunya. Mereka ini adalah orang-orang shaleh, ahli zuhud, ahli ibadah yang lebih baik dari pada Khalid bin Al-Walid dan semisalnya. Allah telah menjadikan dalam diri Umar sikap lemah lembut –setelah menjabat khalifah- yang tidak pernah terlihat sebelumnya, sebagai penyempurnaan terhadap dirinya untuk menjadi Amirul Mukminin. Ibnu Taimiyah menyebutkan kata-kata indah tentang hal ini, “Demikianlah, Abu Bakar, khalifah Rasulullah terus menugaskan Khalid dalam perang menumpas orang-orang murtad, menaklukkan Irak dan Syam. Pernah terjadi kesalahan-kesalahan kecil dari Khalid karena penafsiran atau hawa nafsu, dan Abu Bakar pun tidak memecatnya bahkan cuma mencelanya, karena maslahat menuntut Khalid tetap menjadi panglima, karena selain Khalid tidak ada yang bisa menggantinya. Sebab penguasa utama jika wataknya condong kepada sifat lembut, maka wakilnya harus harus lebih condong kepada sifat keras agar terjadi keseimbangan. Maka dari itu, Abu Bakar memilih Khalid sebagai wakilnya, sementara Umar bin Al-Khathab lebih memilih untuk melengserkan Khalid dan memilih Abu Ubaidah sebagai wakilnya. Sebab Khalid berwatak keras seperti Umar, sementara Abu Ubaidah adalah berwatak lembut seperti Abu Bakar. Maka maslahat menuntut keduanya untuk memilih siapa wakilnya agar terjadi keseimbangan dalam mengatur negara, sehingga akan benar-benar menjadi khalifah Rasulullah sehingga memiliki sifat seimbang, Rasulullah bersabda, “Aku adalah nabi rahmat, aku adalah nabi peperangan.”

Kemurtadan Penduduk Oman dan Bahrain

a. Kemurtadan Penduduk Oman

Penduduk Oman telah mengikuti dakwah Islam. Rasulullah mengutus Amr bin Al-’Ash kepada mereka. Setelah Rasulullah meninggal di antara mereka ada seorang yang pintar dan dijuluki Dzu At-Taj, namanya Laqith bin Malik Al-Azdi. Di zaman Jahiliyah, ia menyamai Al-Julandai raja Oman. Ia mengaku sebagai nabi dan diikuti oleh orang-orang bodoh penduduk Oman dan berhasil menguasai Oman. Sementara itu di Oman sendiri masih ada Jaifar dan Abbad putra Julandai. Kemudian Dzu At-Taj mengasingkan keduanya ke arah pegunungan dan laut. Maka Jaifar mengirimkan surat kepada Abu Bakar melaporkan berita dan meminta bantuan tentara. Abu Bakar mengutus dua panglima, Hudzaifah bin Muhshan Al-Ghalfani dari Himyar dan Arfajah ke Mahrah. Abu Bakar memerintahkan keduanya untuk berkumpul, bermufakat, dan memulai dari Oman di bawah komando panglima Hudzaifah. Jika mereka bergerak menuju negeri Mahrah maka panglimanya adalah Arfajah. Abu Bakar mengirimkan Ikrimah bin Abu Jahal untuk membantu mereka dan memerintahkan Arfajah dan Hudzaifah untuk mengikuti pendapat Ikrimah setelah selesai berjalan ke Oman atau setelah tinggal di Oman. Lalu mereka berjalan, ketika keduanya sudah mendekati Oman, mereka menyurati Jaifar dan menyampaikan kepada Laqith bin Malik kedatangan tentara. Kemudian Laqith keluar bersama pasukannya dan berkumpul di tempat yang dinamakan Daba, kota negeri itu dan pasar utamanya. Ia membawa wanita dan harta di belakang mereka untuk memperkuat mereka berperang. Jaifar dan Abbad berkumpul di tempat yang bernama Shuhar dan mengirimkan bantuan ke panglima-panglima Abu Bakar. Kemudian dua pasukan bertemu di sana dan terjadilah pertempuran sengit, orang-orang Islam mendapat cobaan berat dan hampir kalah. Maka Allah mengirimkan bantuan pada saat yang tepat dari bani Najiyah dan Abdul Qais bersama panglima-panglima.

Ketika mereka telah sampai di sana maka kemenangan ada di pihak orang Islam dan orang-orang musyrik melarikan diri. Orang-orang Islam mengejar mereka dan berhasil membunuh 10.000 pasukan, merampas wanita, harta, dan pasar seisinya, lalu mengirimkan seperlima harta rampasannya kepada Abu Bakar yang dibawa oleh salah seorang panglima yaitu Arfajah. Sebab dari kemenangan besar ini adalah bersatunya kelompok Islam di Oman bersama pemimpinnya Jaifar dan saudaranya Abbad melawan Dzu At-Taj Laqith bin Malik Al-Azdi, juga keteguhan mereka di tempat-tempat yang terbentengi sampai mereka terbantu oleh tentara Islam. Demikian juga sikap kaum bani Judzaid, bani Najiyah, dan bani Abdul Qais yang teguh dalam Islam dan ikut bergabung dalam pertempuran pada saat yang tepat, sangat berpengaruh terhadap kemenangan orang-orang Islam.

b. Kemurtadan Penduduk Bahrain

Penduduk Bahrain masuk Islam setelah Rasulullah mengutus Al-’Ala` bin Al-Hadhrami kepada raja dan penguasa Bahrain, Al-Mundzir bin Sawi Al-Abdi. Ia masuk Islam bersama kaumnya dan menegakkan agama Islam dan keadilan di Bahrain. Jawaban Al-Mundzir bin Sawi adalah, “Sungguh aku telah melihat apa yang ada ditanganku, maka aku mendapatinya untuk dunia bukan akhirat. Dan aku telah melihat agama kalian, maka aku mendapatinya untuk akhirat dan dunia. Apa yang mencegahku untuk menerima agama yang di dalamnya terdapat cita-cita kehidupan dan mati dalam ketenangan. Kemarin aku heran dengan orang yang menerima agama ini dan hari ini aku heran dengan orang yang menolaknya. Dan penghormatan kepada apa yang dibawanya adalah penghormatan besar.”

Ketika Rasulullah meninggal dan setelah Al-Mundzir bin Sawi Al-Abdi meninggal selang beberapa saat kemudian, penduduk Bahrain murtad dan mereka mengangkat Al-Mundzir bin An-Nu’man yang angkuh sebagai raja.

Di mana Bumi Bahrain? Bumi Bahrain adalah tanah kecil dan sempit di seberang pantai Hajar dan Teluk Arabia. Wilayahnya memanjang dari Quthaif sampai Oman dan gurun sahara di pinggirannya, hampir bergandengan dengan perairan Teluk. Bahrain bergandengan dengan Yamamah di bagian atasnya, tidak terpisahkan kecuali oleh rangkaian perbukitan yang rendah dan mudah dilewati. Bahrain mencakup wilayah-wilayah di teluk Arabia dan bagian Timur dari Kerajaan Arab Saudi, negara Kuwait tidak termasuk dalam bumi Bahrain.

Penduduk Bahrain yang teguh dalam Islam memainkan peran penting dalam memadamkan api fitnah kemurtadan ini. Misalnya Al-Jarud bin Al-Mu’alla yang mempunyai peran berbeda dari lainnya, ia telah berguru kepada Rasulullah dan mendalami ilmu agama, kemudian kembali kepada kaumnya menyerukan dakwah Islam. Semua penduduk Bahrain menerima dakwahnya kecuali beberapa orang saja sampai Rasulullah meninggal. Suku Abdul Qais berkata, “Seandainya Muhammad adalah nabi, beliau tidak akan meninggal,” kemudian mereka murtad dari Islam. Berita ini sampai kepada Al-Jarud, lalu ia pergi ke sana dan berpidato di depan mereka, “Wahai warga suku Abdul Qais, aku bertanya kepada kalian tentang sesuatu hal, kabarilah aku jika kalian mengetahuinya, jangan menjawabku jika kalian tidak tahu.” Abdul Qais, “Tanyalah apa maumu.” Al-Jarud, “Kalian tahu bahwa Allah telah mengutus nabi-nabi pada masa lalu?” Abdul Qais, “Ya,” Al-Jarud, “Apakah kalian mengetahuinya atau melihatnya?” Abdul Qais, “Kami mengetahuinya.” Al-Jarud, “Apa yang dilakukan para nabi itu?” Abdul Qais, “Mereka telah meninggal.” Al-Jarud, “Sesungguhnya Muhammad Saw. telah meninggal sebagaimana nabi-nabi terdahulu meninggal, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Abdul Qais, “Kami juga bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan kamu adalah pemimpin kami, kamu yang terbaik dari kami.” Mereka pun teguh dalam Islam.

Inilah sikap Al-Jarud bin Al-Mu’alla yang istimewa, Allah telah meneguhkan keislaman kaum Abdul Qais dengan perantaraan Al-Jarud. Allah mengilhaminya dengan membuat perumpamaan terhadap nabi-nabi terdahulu, di mana akhir dari kisah para nabi itu adalah meninggal dunia. Demikian pula yang telah terjadi pada Rasulullah. Kaumnya pun menerima pendapatnya dan sirna keraguan dari dalam diri mereka.

Ini menunjukkan keistimewaan Al-Jarud dalam mendalami ilmu agama dan pengaruhnya dalam meluruskan akidah dan akhlak, terutama ketika terjadi fitnah. Kampung Juwatsa tetap teguh dalam agama Islam dan termasuk kampung pertama yang melaksanakan shalat Jum’at pada waktu terjadinya kemurtadan, sebagaimana tersebut dalam buku Shahih Al-Bukhari dari riwayat Ibnu Abbas; orang-orang murtad mengepung mereka, mempersempit gerak mereka, melarang pangan mereka, sampai mereka menderita kelaparan hingga Allah melepaskan mereka dari musibah ini. Salah seorang dari mereka yang bernama Abdullah bin Hadzaf dari suku bani Bakr bin Kilab melantunkan bait syair ketika mengalami kelaparan,

Apa kalian tidak mengirim utusan mengabari Abu Bakar
Dan pemuda-pemuda semuanya di kota Madinah
Apa kalian kaum terhormat yang duduk-duduk saja
Sementara kami di Juwatsa dikepung
Seakan darah mereka ada di setiap penjuru
Sinar matahari menyilaukan orang yang melihatnya
Kami tawakkal kepada Yang Maha Pengasih
Sungguh kami temukan kemenangan bagi mereka yang tawakkal

Inikah sikap teguh dalam kebenaran yang ditampakkan oleh orang-orang Islam yang dikepung oleh musuh-musuh mereka di Juwatsa. Mereka tetap bertahan meskipun hampir binasa karena kelaparan. Pada bait-bait syair Abdullah bin Hadzaf ini membuktikan dalamnya iman mereka yang terkepung oleh musuh dan kuatnya tawakkal mereka kepada Allah serta keyakinan mereka akan pertolongan-Nya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirimkan tentara ke Bahrain di bawah komando Al-’Ala` bin Al-Hadhrami. Ketika tentara pasukan mendekat di Bahrain, bergabunglah Tsumamah bin Utsal dengan membawa jumlah besar dari kaumnya bani Suhaim. Orang-orang Islam bangkit di penjuru Bahrain, Al-Jarud bin Al-Mu’alla mengirimkan bantuan pasukan dari kaumnya kepada Al-’Ala` sehingga pasukan Islam bertambah banyak untuk memerangi orang-orang murtad dan menolong orang-orang beriman. Di antara orang yang membantu Al-’Ala` menumpas fitnah kemurtadan di Bahrain adalah Qais bin Al-’Ashim Al-Minqari, Afif bin Al-Mundzir dan Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani.

Karamah Al-‘Ala` bin Al-Hadhrami

Al-’Ala` adalah seorang sahabat nabi yang alim dan ahli ibadah serta doanya selalu dikabulkan. Pada peperangan ini kebetulan ia singgah di suatu tempat, sebelum orang-orang menetap di tempat itu, unta yang membawa bekal tentara, kemah, dan minuman mereka lari dan lepas, sehingga yang tersisa hanya pakaian mereka. Ini terjadi pada malam hari, mereka tidak bisa menemukan satu pun dari unta yang lari. Orang-orang dirundung duka dan sedih yang tiada tara, sampai sebagian mereka saling berwasiat kepada sebagian lainnya karena sudah yakin akan kelaparan dan meninggal dunia.

Al-’Ala` menyuruh memanggil orang-orang untuk berkumpul. Setelah mereka berkumpul Al-’Ala` berkata, “Wahai manusia, bukankah kalian ini orang Islam? Bukankah kalian berada di jalan Allah? Bukankah kalian penolong Allah?” Mereka menjawab, “Benar.” Al-’Ala`, “Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan menelantarkan orang-orang seperti kalian.” Lalu dikumandangkan adzan shalat shubuh ketika fajar terbit dan orang-orang pun melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat Al-’Ala` dan orang-orang duduk bersimpuh dan berdoa mengangkat tangan sampai matahari terbit. Orang-orang melihat ke arah matahari yang sesekali bersinar mengilat. Al-’Ala` terus bersungguh-sungguh dalam berdoa dan mengulang-ulanginya. Ketika sampai yang ketiga kalinya tiba-tiba Allah mendatangkan di samping mereka kolam air besar, lalu orang-orang berjalan menuju kolam tersebut untuk minum dan mandi di dalamnya. Belum sampai matahari siang meninggi tiba-tiba unta-unta mereka dengan barang bawaannya datang dari berbagai penjuru. Tidak ada satu pun dari mereka yang kehilangan barang mereka walaupun hanya satu tali. Kemudian mereka menggiring unta-unta tersebut minum sampai puas. Kejadian yang dialami mereka ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada pasukan perang ini.

Kekalahan Orang-orang Murtad

Ketika Al-’Ala` mendekati pasukan musuh, orang murtad –mereka telah berkumpul dalam jumlah yang sangat besar-. Melihat itu ia dan pasukannya lantas turun dan berhenti di tempat yang saling berdekatan. Ketika pasukan Islam memasuki malam hari, tiba-tiba Al-’Ala` mendengar suara keras dari arah pasukan murtad. Al-’Ala` berkata, “Siapa orang yang akan mencari tahu kabar berita mereka?” maka Abdullah bin Hadzaf bangkit dan menelusup ke pasukan musuh dan mendapati mereka sedang mabuk dan tidak sadar. Lalu ia kembali mengabari Al-’Ala`. Dengan seketika Al-’Ala` menaiki kendaraan bersama pasukan menyerang musuh dan membunuhi mereka satu persatu, dan sedikit dari mereka yang berhasil melarikan diri. Al-’Ala` menguasai semua harta benda, dan barang bawaan mereka. Harta rampasan yang kaum muslimin dapatkan adalah harta rampasan yang sangat besar.

Al-Hutham bin Dhubai’ah saudara Bani Qais bin Tsa’labah, pemimpin mereka sedang tertidur lalu bangun dan terkejut melihat pasukan Islam menyerbu mereka. Ia segera bergegas menaiki kudanya, akan tetapi pelana kudanya terputus dan ia berteriak, “Siapa yang bisa memperbaiki pelana kudaku?” maka datanglah seorang dari pasukan Islam pada malam itu dan berkata, “Aku akan memperbaikinya untukmu, angkat kakimu.” Ketika kakinya diangkat, ia menebasnya dengan pedangnya.” Al-Hutham berkata, “Bunuhlah aku.” Ia berkata, “Aku tidak mau,” maka Al-Hutham jatuh tersungkur dan tiap kali ada orang yang lewat diminta untuk membunuhnya dan tidak ada yang mau, sampai Qais bin Al-’Ashim lewat di depannya lalu Al-Hutham berkata, “Aku adalah Al-Hutham, bunuhlah aku,” lalu ia membunuhnya.

Ketika Qais mendapati kakinya telah terputus, ia menyesal telah membunuhnya dan berkata, “Alangkah buruknya aku, seandainya aku tahu kondisinya aku tidak akan melakukannya.” Kemudian orang-orang Islam mengejar pasukan yang kalah, membunuhi mereka dalam tiap kesempatan dan jalan. Mereka yang selamat dan berhasil lari pergi menuju Darin dengan menaiki perahu.

Kemudian Al-’Ala` mulai membagi harta rampasan dan setelah selesai, ia berkata di depan orang-orang Islam, “Pergilah kalian bersama kami ke Darin untuk memerangi musuh-musuh di sana.” Mereka pun setuju, lalu ia dan pasukannya berjalan ke arah pantai untuk menaiki perahu. Al-’Ala` melihat jarak yang ditempuh sangat jauh untuk bisa mengejar musuh. Maka ia menerobos laut dengan menunggang kudanya sambil membaca doa, “Wahai Allah, yang Maha Penyayang, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha mulia, Yang Maha Esa, Yang menjadi tempat bergantung, Yang Maha Hidup, Yang Maha berdiri sendiri, Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia, Tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Tuhan kami.” Kemudian ia memerintahkan pasukannya untuk membaca doa itu dan menerobos lautan. Mereka melakukan itu dan menyeberangi perairan teluk dengan izin Allah dalam bentuk pasir yang padat di atasnya ada air yang tidak menggenangi kaki unta dan kuda.

Perjalanan perahu memakan waktu sehari semalam, akan tetapi ia menempuhnya pulang-pergi hanya dalam sehari. Al-’Ala` tidak memberikan kesempatan kepada musuh sedikit pun kecuali tali kuda ketika menerobos lautan dan Al-’Ala` berhasil menemukannya lagi. Kemudian Al-’Ala` berhasil menemukannya lagi. Kemudian Al-’Ala` membagi harta rampasan, ia memberikan bagian kepada tentara berkuda 6.000 dan tentara infanteri 2.000, lalu ia mengirimkan laporan kepada Abu Bakar. Abu Bakar membalas mengirimkan ucapan terima kasih atas apa yang telah dilakukannya. Seorang dari pasukan Islam yang bernama Afif bin Al-Mundzir melantunkan bait syair ketika menyeberangi lautan,

Apa kamu tidak melihat Allah telah menundukkan lautan
Menurunkan atas orang-orang kafir salah satu peristiwa besar
Kami berdoa supaya bisa membelah lautan
Allah mendatangkan yang lebih aneh dari belahan pelaut terdahulu

Peristiwa luar biasa yang dialami oleh pasukan Islam dan karamah yang dimiliki oleh Al-’Ala` ini disaksikan oleh seorang pendeta dari penduduk Hajar, dan itu pulalah ia masuk Islam. Pendeta itu ditanya, “Apa yang mendorongmu untuk masuk Islam?” Ia menjawab, “Aku takut kalau aku tidak masuk Islam, Allah akan mengutukku, sebab aku telah melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Aku telah mendengar dari awang-awang di waktu sahur sebuah doa.” Mereka bertanya, “Apakah doa itu?” Ia menjawab, “Ya Allah, Engkau adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tiada Tuhan selain Engkau, Maha Pencipta tiada sesuatu pun sebelum Engkau, Maha Kekal selamanya, tidak lupa dan tidak mati, Yang menciptakan apa yang dilihat dan apa yang tidak dilihat, setiap hari Engkau dalam urusan, Engkau mengajarkan ilmu kepada segala sesuatu.” Ia lalu berkata, “Maka aku tahu bahwa mereka tidak dibantu oleh para malaikat kecuali mereka dalam perintah Allah.” Setelah masuk Islam ia pun menjalankan ajaran agama Islam dengan baik dan para sahabat berguru kepadanya.”

Setelah kekalahan orang-orang murtad, Al-’Ala` kembali ke Bahrain. Islam telah berhasil memukul telak musuh-musuhnya, sehingga agama Islam dan orang Islam meraih kemuliaan, sementara kemusyrikan dan orang-orang musyrik tertimpa kehinaan.

Kalau tidak ada intervensi dari negara asing terhadap kepentingan orang-orang murtad, mereka tidak akan berani menghadapi orang-orang Islam dalam waktu yang lama. Orang-orang dari bangsa Persia telah mengirimkan bala bantuan sebanyak 9.000 personel. Jumlah orang-orang murtad Arab mencapai 3.000 personel, sementara jumlah orang-orang Islam hanya 4.000 personel.

Al-Mutsanna bin Haritsah mempunyai peran besar dalam memadamkan api fitnah kemurtadan di Bahrain, ia bersama pasukannya membantu pasukan Al-’Ala` Al-Hadhrami. Ia dan tentaranya berjalan dari Bahrain dari arah utara, menguasai Qathif dan Hajar sampai ke hulu sungai Tigris. Dalam perjalanannya ini, ia berhasil menumpas tentara Persia dan pegawai mereka yang membantu orang-orang murtad di Bahrain. Ia juga bergabung dengan Al-’Ala` dan orang-orang yang teguh dalam Islam memerangi orang-orang murtad di penjuru negeri. Dari sana Al-Mutsanna melanjutkan perjalanannya menyusuri pantai ke arah utara sampai ia singgah di kabilah-kabilah Arab yang berdomisili di kawasan delta sungai Eufrat dan Tigris. Ia berbicara edngan penduduk dan melakukan perjanjian damai dengan mereka.

Ketika Khalifah Abu Bakar bertanya tentang Al-Mutsanna, Qais bin Al-’Ashim Al-Manqari menjawab, “Ia adalah seorang yang dikenal, nasab keturunannya juga dikenal dan ia bukanlah orang hina. Ia adalah Al-Mutsanna bin Haritsah Asy-Syaibani.”

Abu Bakar mengeluarkan perintahnya kepada Al-Mutsanna bin Haritsah untuk melakukan dakwahnya kepada orang-orang Arab di Irak. Apa yang dilakukan oleh Al-Mutsanna sebelumnya merupakan langkah pertama dalam membebaskan negeri Irak. Adapun langkah menentukan adalah dengan diutusnya Khalid bin Al-Walid memimpin pasukan Islam ke Irak. Abu Bakar selalu menggunakan kesempatan, menggali kekuatan dan mengobarkan semangat agar perjuangan orang-orang Islam mencapai hasil tertinggi. Ia selalu menggali kekuatan terpendam dari orang-orang Islam dan mengarahkannya untuk menumpas tirani yang bersarang di kepala para pemimpin kafir.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Kehidupan Umar dan Masanya

Sesungguhnya pembicaraan tentang kehidupan Umar dan masanya lebih luas untuk dikaji dalam satu disertasi, terlebih dalam sub kajian dalam pasal pengantar seperti...

Pelajaran, Kesimpulan, dan Faidah dari Perang Menumpas Orang-orang Murtad

Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat, Sebab-sebabnya, Pengaruh Syariat Allah dan Sifat-sifat Mujahidin a. Terwujudnya Syarat-syarat Kejayaan Umat

Serangan Massal Terhadap Kaum Murtad

Banyak macam sarana dan cara yang digunakan untuk melawan dan menghadapi kaum murtad. Kaum muslimin yang masih berpegang teguh pada Islam memiliki peranan besar...

Artikel Terkait

Rezeki

Kewajiban Mencari Harta Halal Setiap orang tentu ingin kehidupan di dunia berjalan normal. Setidaknya ia bisa memenuhi kebutuhan dasarnya...

Bekerja

Mulia dengan Bekerja Dalam sebuah Hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah...

Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf

Pentingnya Sinergi Bank Syariah, Zakat, dan Wakaf Islam menjelaskan tentang instrumen-instrumen keuangan untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan...